Jauh dari kesan menonjokan diri. Polos dan sederhana. Bicaranya pelan, sedikit terbata, tampak hati-hati mengutarakan pendapat, sedikit dingin menghadapi pandangan berbeda. Dialah Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta MA, guru besar bahasa Sansekerta Fakultas Sastra Universitas Udayana. Usianya mengingjak 70 tahun saat saya melakukan wawancara di tahuh 2005.
Usia panjang plus kesehatan prima betul-betul jadi berkah, memang. Ini mungkin anugerah atas kesabaran dan kesederhanaannya. Walau bertahun-tahun menghuni Gedung MPR, menjadi wakil rakyat, Pak Tjok -- begitu ia kerap disapa para kolega dan mahasiswanya -- sama sekali tidak menunjukkan seorang agitator politik penuh nafsu. Sosoknya tetap seorang guru santun, agamawan, ahli Sansekerta, dan penulis buku yang rajin. Ada puluhan buku ia tulis, sejumlah terjemahan, serta ratusan makalah. Kitab Manu Smerti adalah buah terjemaham Pak Tjok bersama kolega Bapak Gede Puja.
Bila tidak ada aral melintang, pertengahan tahun ini pria yang pernah menjadi asisten dosen ahli Jawa Kuna, Prof Dr Poerbatjoroko di Universitas Gajah Mada periode 1958-1951 ini akan mengucapkan pidato purna tugas -- mengakhiri masa aktif sebagai guru besar Sansekerta yang langka itu.
Lahir di Puri Amertasari, Ubud, Gianyar, tanggal 24 Juli 1935, sang ayah bernama Tjokorda Gde Ngurah Sudharta, pegawai tata usaha di zaman punggawa Ubud, Tjokorda Gde Raka Sukawati. Sang ibu, Ni Gusti Putu Rai, seumur-umur cuma sebagai ibu rumah tangga, mengurus, mendidik dan membesarkan anak-anak.
Nasib bapak empat anak ini tiba-tiba jadi terlunta manakala sang ayah Tjokorda Ngurah Sudharta mengalami kebutaan total. Saat sang ibu mengandung anak pertama, sang ayah didera sakit mata. Seorang dukun mengobatinya dengan air kunyit warangan (kunir yang berwarna kemerah-merahan). Namun lacur, entah sengaja atau tidak air kunir obat mata itu tercampur larutan belerang. Begitu diteteskan di mata, kontan indra utama sang ayah hancur, perih tak tertanggungkan.

Nasib buruk tak bisa dihindari, maka jadilah sang ayah seorang buta seumur hidup. "Sejak awal ayah tak pernah mengenal rupa anak-anaknya. Beliau hanya mengenal suara kami, jeritan kami, dan rengekan kami." Tapi syukur kala itu ayah tergolong sangat terpelajar, wawasannya luas, teman-teman beliau sering menjulukinya sebagai kamus berjalan," kenang kakek dua cucu ini.
"Kami tumbuh besar dan dididik dari seorang ayah yang buta. Walaupun kami hidup di lingkungan puri, hidup kami tergolong pas-pasan. Saya tumbuh jadi anak bandel, hingga keluarga, saudara memanggil kami "Tjok Tengil", artinya: Tjokorda Bandel, " papar penulis sejumlah buku agama ini.
Menginjak usia tujuh tahun, belia Tjokorda Rai mulai mengenal pendidikan sekolah desa. Saat itu Ubud belumlah merupakan desa dunia, satu destinasi dimana para turis sejagat menyemut datang ke Ubud, melihat alam desa yang asri, kesenian dan kebudayaan yang memukau. Ketika itu yang ada di Ubud hanya sawah-sawah, jurang dan tebing yang indah, sungai-sungai berair jernih, pengembala bebek di pematang, kaki-kaki telanjang para petani. Gamelan, tarian, lukisan memang telah menjadi keseharian masyarakat Ubud kala itu, telah menjadi bagian utuh kehidupan masyarakat Ubud. Namun semua itu dilakukan semata-mata panggilan dewa-dewa saat odalan di Pura. "Itulah bagian terpenting persembahan kami, dalam aneka ragam upacara. Ini adalah ruang hidup kami, tempat kami belajar iklhas sembari merawat dan mengalirkan kebudayaan. Musik, tarian, lukisan, dan odalan selain sebagai persembahan, juga menjadi hiburan jiwa-jiwa kami, inilah yang menjadi nyala hidup kami di Ubud," urai Tjokorda Rai.
"Saya menyadari, dalam lingkungan seperti inilah kami bertumbuh, mengalir alami, hingga suatu saat mengantarkan saya meretas batas-batas dunia. Saya sekolah ke India, mengunjungi sejumah negara, menyadari, membaca kebudayaan mereka. Tapi, setinggi-tinggi kami meraih dunia, kami tetap orang Ubud, manusia Bali yang menyadari arti menjadi Bali -- anak-anak dari seorang ayah yang ditakdirkan buta. Kami merasa, betapa rindunya ayah melihat anak-anak, mungkin juga melihat cucu-cucunya."
Saat duduk di Sekolah Rakyat, Tjokorda Rai sangat gandrung menonton pertunjukkan wayang. Dari sinilah hidup lebih tinggi itu dimulai. Saban ada pertunjukan wayang ia senantiasa duduk di muka, melongok di depan kelir dengan perasaan tergugah. "Entah kenapa saya begitu tergila-gila wayang? Entah kenapa saya begitu keranjingan tokoh Anoman." Hingga saban nonton Anoman ia kerap merasakan dirinya sebagai Anoman, sebagaimana ia baca kemudian dalam epos besar Ramayana.
Demikianlah gara-gara dirasuk adegan Anoman, di masa kanak-kanak Rai Sudharta sering melakukan adegan-adegan yang berbahaya, naik ke pohon-pohon sembari melompat-lompat seperti Anoman. Kelakuan ini kerap membuat sang ibu marah-marah. "Sungguh sangat sering saya dijewer ibu, lalu esok hal yang sama saya ulangi juga, itulah kenapa kemudian saya dipanggi si tengil. Karena untuk urusan "kerangsukan" tokoh Anoman, saya melawan nasihat ibu. Sedih bila diingat," kenang Tjokorda Rai menerawang masa kanak-kanaknya.
Karena kelewat nakal, begitu naik kelas empat Sekolah Desa, Tjok Rai dipindah ke Singaraja, numpang di rumah keluarga dekat. Baru kemudian ketika naik kelas enam ia kembali ke Ubud. Sebagai anak sekolah Tjok Rai tidak menunjukkan bakat istimewa. Nilai raportnya biasa-biasa saja. Tamat Sekeloh Desa tahun 1945, Tjokorda Rai kembali ngendon ke Tanah Panji Sakti, Singaraja, guna melanjutkan ke sekolah menengah di SMP Baktiyasa. Secara kebetluan tempat tinggalnya sangat dekat dengan rumah pengarang Indonesia I Gusti Panji Tisna, dan tak jauh pula dengan "rumah lontar" Gedong Kirtya.
Saban senggang di usia masih tergolong remaja Tjokorda Rai tergelitik melancong ke Gedong Kirtya, saban ada waktu ia selalu ke sana, membaca majalah-majalah berbahasa Melayu -- hingga suatu hari kala sekolah SMA di Singaraja ia sempat mengabdikan tenaganya untuk mencatat nama-nama rontal yang terkumpul di Gedong Kirtya. Tanpa disadari dari sinilah hidup Tjokorda Rai mulai berkelok, ia tertarik membaca naskah-naskah lama, sembari sambil lalu belajar bahasa Kawi. Memang minat belajar bahasa Kawi mulai tumbuh saat sekolah di SMA di Singaraja tahun 1951. Dan anak muda ini lalu kian rajin bergumul di Gedong Kirtya, belajar pada guru-guru otodidak disitu-- membaca naskah-naskah lama secara pelan. Ia sadar bahwa di lontar-lontar itu tersimpan peradaban batin manusia Bali, sumber pengetahuan yang melimpah. Karenanya ia pun jadi kian tertarik, ada banyak hal yang perlu digali serius. Membacanya seperti menimba sumur yang tak pernah kering.
Kebetulan di saat SMA di Singaraja ia bertemu I Gusti Ketut Ranuh, guru bahasa Jawa Kuna yang amat telaten, dikagumi murid-murid karena pandai bercerita dengan pesan amat mendalam. Dari sang guru ini Tjokorda Rai muda banyak menimba ilmu, belajar tata bahasa Kawi dengan penuh gairah. Tapi diantara guru-guru yang ditemui di Singaraja, ia terkesan dengan penampilan Dr. R. Goris, ahli Sansekerta berkebangsaan Belanda. Goris-lah orang pertama yang mengajarkan Tjokorda Rai tentang dasar-dasar bahasa Sansekerta. Entah kenapa ia dibuat terkesima pada bahasa yang satu ini. "Mungkin karena kepintaran Goris mengajar," ungkapnya pada suatu hari. Minatnya kian menggelembung pada studi Sanssekerta ketika ia bertemu Prof. Dr. Raghu Vira, ahli Sansekerta asal India, yang saat itu tengah melakukan studi pada naskah-naskah Bali.
Raghu Wira-lah yang melecut Tjokorda Rai supaya mau studi ke India, memperdalam bahasa Sansekerta. Hingga saat ini ia masih terkenang kata-kata sang profesor itu, "Tjokorda, kau harus studi ke India, belajar Sansekerta, biar saya urus beasiswamu. Semua keperluan untuk berangkat belajar ke India saya yang menangani." Namun kala itu Tjokorda Rai sedikit ragu. Begitulah tamat SMA di Singaraja tahun 1954, ia mesti pulang dulu ke Ubud, mohon izin dan restu pada sang ayah.
Untungnya sang ayah sangat terbuka, yang kendati buta, paham zaman tengah bergerak, lalu membiarkan sang anak menuruti pilihannya. Terkenang nasihat singkat sang ayah, "Rai, Aji (ayah) tidak punya apa-apa buat bekalmu ke India. Berangkatlah bila memang ada yang membantu! Bekal Aji cuma satu: ingat itu ta-ju-din!"
Apa itu "ta-ju-din" Aji? Tanya Tjokorda Rai sedikit was-was.
"Camkan dalam hati, "perintah sang ayah.
"Ta-ju-din" itu artinya; taat, jujur, dan rajin. Kemana pun kau mengembara dengan bekal ini pasti berhasil. "Aji ingat kata-kata pendeta dari Sanur, Ida Pedanda Made Sidemen. "Bila engkau tidak punya tegal sawah, tegal dalam dirimu itulah hendaknya kau tanami ilmu pengetahuan. Pupuk dengan kerajinan dan amal," papar Tjokorda Rai Sudharta mengenang pesan sang ayah.
Kendati telah mendapat izin keluarga, pria yang pernah menjadi korespenden Majalah Panca (Yogyakarta) dan Majalah Damai (Denpasar) ini tetap ragu untuk berangkat. Ia sedikit pangling mengingat nilai bahasa Inggirsnya cuma enam. Ini jelas tak memenuhi syarat. Pengajara bahasa Inggrisnya saat itu adalah Ibu Gedong Bagoes Oka. Dengan perasaan malu dan hati tertekan ia coba menghadap Ibu Gedong.
"Ibu apakah saya boleh berangkat studi ke India? Ibu Gedong cuma menjawab pendek, "Berangkatlah."
Demikianlah di tahun 1954, dengan cuma mengantongi nilai bahasa Inggris enam Tjokorda Rai berangkat ke India. Di sana, di Internasional Academy of Indian Culture, di bawah bimbingan langsung Prof. Dr. Raghu Vira.
Tahun 1955- 1957 ia kuliah di Banares Hindu University sampai mendapat gelar BA. Kemudian pulang kembali ke Indonesia menjadi asisten dosen Prof Dr R. Ng. Poerbatjaraka di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, mengajar mata kuliah bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna.
Belum genap setahun menjadi asisten dosen, Pak Poerba menanyakan titel akademisnya.
"Tjokorda titelmu apa?"
"Cuma BA Pak," jawabnya lugu.
"Wah , BA itu artinya: belum apa-apa. Kamu balik lagi ke India," perintah Pak Poerba dengan wajah dingin.
Tahun 1958-1961, atas beasiswa negara, Tjokorda Rai Sudharta balik lagi ke India guna melanjutkan studi di Punjab University, New Delhi hingga memperoleh gelar MA. Karena belum dipanggil pulang ke Indonesia, ia bekerja sebagai Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar RI, New Delhi. Kala itu di KBRI, atas prakarsa Atase Kebudayaan RI bekerja sama denga Atase Kebudayaan negara- negara sahabat, Tjokorda Rai sempat meraih juara II lomba mengarang berbahasa Inggris, mengalahkan peserta dari Australia, Amerika dan negara-negara sahabat lainnya. "Beh nika uilian jengah maan nilai bahasa Inggri aji nem," kenang doktor Sansekerta jebolan Universitas Indonesia ini.
Memasuki pertengahan tahun 1962, setelah menyandang gelar MA, Tjokorda Rai kembali pulang ke Indonesia. Ia hendak memenuhi janji Prof. Dr. Poerbotjoroko yang saat itu masih mengajar Kesusastraan Jawa Kuna di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Pulang dari India, Tjokorda Rai langsung menghadap Pak Poerbo. Begitu menghadap, sang asisnten langsung dihardik, "Lho Tjokorda, ngapain balik ke sini, pulang saja ke Bali, di sana saya sudah bangun Fakultas Sastra. Engkau mengajar saja di sana," demikian Tjokorda Rai menirukan instruksi sang mentor Poerbotjoroko.
Dan sejak tahun 1962 Tjokorda Rai pun diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra Universitas Udayana, sebagai fakultas paling tua di Bali.
Setahun mengajar di Udayana, terhitung dari tahun 1963-1969 Tjokorda Rai kemudian diangkat menjadi Kepala Jawatan Agama Provinsi Bali, sementara dalam waktu yang sama menjadi dekan pertama Fakultas Agama dan Kebudayaan Institut Hindu Dharma (Unhi sekarang), Denpasar. Jabatan ini ditinggal karena di tahun 1967-1969 ia ditunjuk sebagai anggota Badan Pekerja MPRS. Setelah nantinya ditunjuk sebagai anggota DPRGR. Lantas di tahun 1971-1987 diangkat menjadi anggota DPR RI. Sempat keliling Eropa dan Asia melakukan survei perihal tanggapan agama-agama terhadap family planning (keluarga berencana) -- sebelum akhirnya mulai Oktober 1987 ia kembali mengajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Di tengah-tengah kesibukan mengajar dan menjadi anggota legislatif, Tjokorda Rai juga diikutkan sebagai anggota tim menerjemah kitab-kitab suci Hindu di Departemen Agama RI. Demikian, bersama almarhun Gde Puja SH, ia menerjemahkan kita Manu Smerti, Compendium Hukum Hindu. Di samping menulis sejumlah buku-buku Hindu atas "perintah" Prof. Dr Ida Bagus Mantra . Sementara di sela-sela waktu mengajar dan kesibukan yang seabreg itu Tjokorda Rai menerjemahkan The Call of The Upanisad -- yang belakangan diterbitkan Majalah Gumi Bali SARAD atas saran saya sendiri. Buku ini terbit dengan judul Panggilan Upanisad, Bertemu Tuhan Dalam Diri (2007).
Sebagai ilmuwan dan pendidik Tjokorta Rai Sudharta memang tidak sempat membidani pendirian majelis keagamaan di Bali, tapi dibalik kelahiran Parisada ia merupakan satu diantara tiga tokoh ikut menggodok ide-ide itu sebelum Parisada didirikan, 23 Februari 1959. "Jauh sebelum Parisada didirikan, kami bertiga (Dr. Ida Bagus Made Mantra, Ida Bagus Punyatmaja, Tjokorda Rai Sudharta) sering berkumpul di India, kebetulan sempat sama-sama sebagai mahasiswa di sana. Pertemuan itu kerap atas prakarsa Pak Mantra. Kami berdiskusi sampai larut, membahas masa depan Agama Hindu di Bali," kenang Tjokorda Rai.
Tiga serangkai ini sadar, ketiga Bali terintegrasi penuh ke pangkuan Republik, Hindu nyaris tak punya pengayom tunggal. Dulu urusan agama berada di bawah kebijakan raja, tetapi ketika raja-raja tidak lagi memiliki kekuatan politik, urusan agama jadi tak karuan. Maka diperlukan sebuah lembaga pengayom di luar kekuatan negara. "Nah atas pertimbangan inilah Parisada didirikan. Dengan demikan Hindu memiliki payung tunggal, yang khusus mengatur tata agama dan kepentingan lain. Ya saat itu kami cuma berpikir lokal, semata berniat mengayomi kepentingan Hindu Bali," urai Tjokorda Rai Sudharta.
Menjelang memasuki purnatugas sebagai guru besar Sansekerta, di rumahnya yang tua, rumah yang ditempati lebih dari 40 tahun, di Jalan Serma Gede nomor 14, Denpasar, sang guru masih rajin mengirim sejumlah artikel agama ke Majalah Warta Hindu Dharma, majalah yang sejak awal turut dirintisnya bersama Dr. Ida Bagus Mantra, Drs. Ida Bagus Punyatmaja MA. Saban pulang ke Puri Amertasari, Ubud, Tjokorda Rai masih suka membuka-buka lontar tinggalan leluhurnya. Saban bulan ia masih setia menjawab pertanyaan-pertanya seputar tatwa untuk pembaca Majalah Gumi Bali SARAD.
"Wah saya tidak bisa mengetik dengan komputer. Setiap ngetik saya minta tolong kepada pegawai penerbit Upada Sastra, biasanya saya menyerahkan tulis tangan begitu saja," aku Tjokorda Rai sembari menyatakan dirinya ketinggalan tehnologi. Kerap, memang Pak Tjok mengirimkan jawaban rubrik konsultasi Tatwa SARAD dalam naskah tulis tangan. Dalam lembar-lembar jawaban itu Pak Tjok tampak bersungguh-sungguh, kata demi kata dikoreksi dengan jeli, kadang begitu rinci. Bahkan hanya untuk salah ketik saja, Pak Tjok sering menelpun redaksi berkali-kali.
Untuk urusan keilmuan pada bidang yang ia sangat cintai: sastra Sansekerta dan Jawa Kuna Pak Tjok mengaku amat beruntung; begitu banyak kebajikan dan nasihat yang ia dapatkan untuk menentramkan batin. Untuk sekadar diketaui, atas prakarsa Bapak Ida Bagus Mantra, Tjkorda Rai Sudartha-lah salah satu tim penulis buku Upadeca.
Upadeca disajikan dengan gaya bertutur. Bahasanya bening mengalir, hadir dengan percakapan didaktis antara Rsi Dharmakerti dengan muridnya Sang Suyasa. Orang boleh menangkap Sang Suyasa sebagai murid zaman, yang rindu menghadap guru agung Rsi Dharmakerti, lalu dengan sujud berkata, “Oh Guru suci, hamba datang mohon pengajaran , sudi terangi hamba dari kegelapan”. Dan tulisan-tulisan didaktis yang mengalir di buku Upedesa itu adalah gaya bertutur dari Tjokorda Rai Sudharta.
I Wayan Westa
Pekerja Kebudayaan
Catatan: profil singkat ini saya tulis di bulan Januari 2005, manakala Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta belum berpulang dimuat di Majalah Gumi Bali SARAD.

