hello world!
Januari 24, 2023

Ni Ribu, Tanah Liat dari Negari

//Ia tokoh arja paling popular di zamannya. Namanya dikenang banyak orang segenerasi. Arja telah meninggikan jiwanya untuk menjadi pragina seutuhnya.//

Negari, desa agraris di bilangan kecamatan Sukawati ini tak jauh dari desa dunia Ubud. Jalan mulus beraspal hot-mic. Huma yang kiat menyempit terhias tebaran hijau pala wija tak henti diseka deru mobil. Dalam hamparan padi tengah menguning sawahnya berangsur-angsur dirangsek galery, bengkel, dan toko kerajinan. Patung, ukiran, batu padas, dan bahan bangunan, terpajang rapi di pinggir jalan. Bertebaran warung telekomunikasi disanding toko furniture antik mengkilat.

Di sini setiap petak tanah berarti investasi. Sepotong takikan kayu terjual jadi cendra mata. Pariwisata terang akan mengikis perlahan kultur agraris. Kendati peristiwa bom Kuta membuat para turis terhenyak, pengunjung pulau dewata seret. Namun, generasi Negari seakan tak jemu menanti. Berharap pariwisata tetap jadi peluang untuk membalik hidup. Justru itu, menakik batu padas, mengukir sepotong eben tak mesti dihentikan.

Di Negari sawah kini tak jadi drama menarik. Di mana dulu cikal-bakal drama tari Arja lahir dari tradisi sekaa manyi (kelompok pengetam padi). Hanya orang tua dengan kulit hampir liat saban berjongkok di pematang. Menyemai padi, menyiangi rumput, sembari menunggu berkah Dewi Sri. Bajak dan lenguh sapi tergantikan traktor.

Tapi, di Negari, di abad e-mail kini, tiada lebih liat tinimbang Ni Ketut Ribu. Pragina Arja kesohor pujaan penonton. Daa yang tak pernah menyentuh nikmat “peraduan”. Seorang abdi seni yang menganggap Arja sebagai panggilan hidup, sekaligus “agama” tempat di mana jiwanya ditentramkan. Ia dipilih dan terpilih karena masyarakat Desa Negari memang menghendaki.

Generasi Negari nyaris lupa, dalam kultur agraris nan liat itulah generasi Ni Ketut Ribu dilahirkan. Juga mesti diingat berkat jasa Ni Ketut Ribu-lah nama Negari jadi arum di seantero Bali. Kini di pengujung usia 70 tahun, Ribu sang pragina tetap liat. Bagai kayu eben sulit ditakik, namun penuh tuah ketika ia menjadi patung, diukir seniman Bali berjari lentik.

Justru itulah Ni Ribu tak pernah lupa pada alir hidup. Sadar ia lahir dari bau tanah huma, hingga suatu saat desa mencokoknya, dipaksa ikut menari arja. Sungguh perjalanan hidup tak pernah terkirakan. Merasa tak punya bakat seni, Ribu seperti berjalan di titian lapuk. Ia pasrah pada kehendak Hyang Kuasa. “Hidup ini cuma wayang, lakon ditentunkan Sang Maha Dalang,” guman Ni Ribu pendek.

Ditemui di rumahnya yang lengang di lingkungan Banjar Negari, Ribu nyaris sosok terlupakan. Di bale khusus, tepat di depan dapur ia tengah sibuk merangkai saji. Bersandal jepit, baju kaos “doplang” warna hitam Ribu terlihat asyk dengan janur. Susah dibayangkan, bahwa dulu di atas panggung, ia pernah tampil memukau, sempurna sebagai sosok prabu berwibawa – atau terkadang angkuh, memerankan raja takabur, yang cuma mengandalkan otot dan keris.

Namun tidak begitu kini, Ribu wanita bersahaja, perawakan ganggas, bersorot mata tajam bak burung elang - tinggi mendekati 170 cm, kulit legam berminyak - hampir tanpa keriput. Jalannya masih tegak dihias rambut panjang mengombak.Terlihat sabar dan tenang – karena merasa hidupnya kini tanpa beban.

Kendati ia senang bergurau, Ribu bukanlah sosok seniman cekatan diajak ngobrol. Baginya diam lebih punya makna tinimbang bicara ngalor-ngidul. Berbincang dengannya perlu “tipu cerdik”. Ia susah berilustrasi, karena mungkin ia tak suka pamer. Tak merasa enak bila dipuji. Lalu ia bertutur apa adanya, terang dan singkat, tanpa basa-basi. Berbeda ketika berada di tengah panggung, ia aktor menentukan jalan cerita. Tukang ilustrasi piawai dengan tragik menyentak. Tajam dramatik, kadang menguras air mata, atau malah hanyut dalam puncak ketegangan. Itulah sosok Ribu dipangung, penuh aura mimpi kaum ningrat Panji Jawa, dengan slogan : rakyat disayang, raja bijak terpuji. Di situ panggung bagi Ni Ribu jadi wilayah inisiasi - tempat karakter dan jiwa dimatangkan.

Setinggi-tinggi burung terbang akhirnya hinggap ke sarang juga. Cerita kadang jadi begitu kelam, bak lakon Panji Pakang Raras, terlunta di belantara hidup terik. “Bila dulu, di tahun 1950-1953 sekolah saya cuma sekaa manyi, di mana saya belajar menembang sembari bermain Arja, itu cuma kegiatan sampingan mengusir lelah di tengah penat sengatan matahari. Saya berhutang padanya. Tradisi inilah yang mengantar saya jalan tinggi melambung, walau kadang terseok, gontai dihempas zaman. Saya tak pernah merasa lelah. Tapi saya sabar bertahan. Karena saya sadar betul, tanpa itu saya mungkin akan jadi lain, mungkin memilih kawin dan beranak pianak, sudah itu hidup dianggap selesai. Tapi Tuhan, Batara di Pura Puseh “menculik” saya jadi pemain Arja”, tutur wanita yang akrab dipanggil We Gek ini tersedu.

Di tahun 1930-an di Negari memang sudah ada sekaa Arja Muani (kelompk penari Arja laki-laki), namun entah kenapa, sekaa ini berngasur-angsur surut, lalu bubar. Tahun 1950-an desa berkeinginan membangun sekaa Arja kembali - dengan maksud sekaa ini bisa menggali dana buat perbaikan pura desa. Karena bibit Arja sudah ada dalam tempek-tempek sekaa manyi. Arja pun mudah dibangun. Pengajarnya tokoh tua Arja Negari, yang ketika itu diantara ada masih hidup. Saat itu pakem Arja masih sangat kuna- bahkan sedikit mendekati gambuh. Berkat semangat panglingsir desa, Arja Negari kembali hidup, kini penari tak semua laki-laki, bahkan sebagai besar wanita. Namun Ribu belum dilibatkan. Di samping dianggap tidak punya bakat, tidak bisa menari, juga dinilai kurang cantik.

Waktu seperti menunggu perawan belia Ni Ribu. Tahun 1953 sekaa Arja Negari pun nyaris bubar. Salah satu tokohnya, pemeran prabu yang andal keburu kawin. Jalan hampir buntu. Tak ada tokoh dianggap bisa menggantikan peran itu. Saat mana sangkepan (pertemuan) digelar, seorang warga banjar menyeruak, ia kepingin supaya Arja Negari tetap hidup. Usulnya, bagaiman kalau Ni Ketut Ribu menggatikan tokoh yang keburu kawin itu. Peserta sangkepan terhenyak, membayangkan Ribu kurang cantik, tak bisa menyamai tokoh sebelumnya. Tidak ada rotan, akar pun berguna. Dengan pertimbangan sedikit berat, sangkepan akhirnya menyetujui Ribu - ia hendak dinobatkan sebagai pengganti prabu yang undur diri karena kawin.

Dirayu beberapa kali Ribu belia menyatakan pamit, menolak karena merasa tak punya bakat seni. Desa mengambil keputasan nyaris fatal, Ribu hendak diusir. Ia dianggap berani melawan keputusan gumi. Ribu menangis, menelungkup di pangkuan ibunda Ni Made Tatas. Sang ayah, I Wayan Silur tak henti membujuk, membesarkan hatinya. “Kamu harus ngiring kehendak desa Ribu. Tanpa Arja pembangunan pura desa akan terhenti”, bujuk sang ayah sembari menahan rasa haru. Ribu tak menjawab, ia menangis dan menangis terus. Nasihat sang ayah akhirnya cukup membesarkan hati Ribu.

Sore, menjelang surya tenggelam, Ribu dipapah menuju pura puseh, di sana pemangku sudah siap. Ribu diupacari, dan mulai saat itu ia syah menjadi anggota sekaa Arja Desa Negari. Entah kenapa, usai muspa, setelah mendapat percikan air suci tiba-tiba hatinya seperti dirasuk sesuatu, perasaan jadi lain. Ribu tercerap dalam hening, rasa takutnya sirna. Malam itu juga Ribu diajak ke Bale Banjar, belajar Arja diantara teman yang piawai. Ribu sedikit canggung, karena ia memang tidak bisa menari. Dua belas hari merupakan waktu sangat pendek bagi Ribu berlatih Arja. Ia hanya mendapat agem dasar semata. Sementara vokal, luk gregel-nya cukup membesarkan hati berkat bimbingan guru tembang Anak Agung Tegug. Dalam waktu 12 hari pula Ribu “ditangkeb”, resmi jadi pragina Arja. Malam pertama menari banyak orang meneteskan air mata. Memandang dengan rasa kasihan - canggung, apakah belia Ribu dapat menguasai panggung?

Membayangkan Ribu di atas panggung hanya menyisakan rasa tersentak. Sungguh di luar dugaan, memang. Sejak awal Ribu disangsikan banyak orang, dianggap tak punya bakat dan tidak cantik. Ajaib, begitu mengenakan mahkota, nyaluk gelungan, Ribu hadir dengan kharisma memukau. Ia betul-betul Panji penyetrum panggung, decak kagun, tepuk tangan bercampur isak tangis. Penonton benar-benar tersulap. Ribu akhirnya benar-benar terpilih. Sesuatu tak terbayangkan sebelumnya - mulanya tidak ada niat, kini jadi panggilan hidup utuh.

Begitulah daa lingsir ini mengawali panggilan hidup sebagai pragina Arja. Sekaa Arja Negari jadi kian laris manis – sampai-sampai sebutan Arja Negari terlupakan, terkubur popularitas Ribu. Dan orang hanya mengenang dan menyebutnya sebagai “Arja Ribu”. Tiga tahun berjalan, pembangunan pura desa usai berkat jerih payah sekaa Arja Negari. Nama Ribu makin dikenal, jauh meretas halaman kampung. Tiba-tiba tersiar seruan: bagi yang tidak bisa baca tulis dilarang ke luar daerah, terutama ke Denpasar.

Sadar dirinya buta huruf, ia mulai rajin ikut khursus PBH (pemberantasan buta huruf). Guru baca tulis ketika itu bernama I Gusti Made Puguh. Pasih baca tulis, tahun 1956, Ribu bergabung dengan Arja Bon Bali. Di sini ia bertemu dengan tokoh Arja kawakan, sekelas Bapa Keredek dari Singapadu, Bapa Ketut Jenek dan Bapa Rinda dari Blabatuh, dan Bapa Sadeg dari Batuan. Dari tokoh inilah Ribu memperdalam seni peran. Walau tak pernah belajar secara langsung, Ribu tetap hormat, dia-lah guru yang mengantarkannya melambung tinggi. Guru dari murid yang kini juga sudah uzur termakan waktu.

Pertengahan tahun 1958, Ribu dipanggil Bapa Ridet, diminta membatu RRI Denpasar, mengasuh siaran kesenian Bali. Beberapa kali ia minta tempo. Jadwal pementasan Arja Bon Bali begitu padat. Ribu cuma bisa mengisi siaran pagi hari. Malam hari ia harus pentas ke desa-desa jauh, menepati jadwal pengupah yang kerap antre. Demikian tiap pagi Ribu harus mengayuh sepeda gayung dari Negari ke RRI Denpasar, di bilangan Jalan Melati. Kendati hanya sebagai tenaga honor, panggilan itu ia tepati sampai kini. Walau kini tak lagi mengayuh sepeda, ia masih kuat mengendarai sepeda motor.

Sebagai seniman alam, Ribu sukar didikte. Justru itu, saban bergabung dengan pragina Arja generasi kini dadanya sering dibuat sesak. Begitulah, wanita yang lahir tahun 1933 ini susah diajak mengapal dialog. Saat menyibak kalanngan (ruang pentas) ia betul-betul berangkat dari “kosong”. Hanya satu yang diingat: alur cerita. Dialog, pilihan tembang dan agem muncul begitu saja manakala berhadapan dengan lawan main. “Disuruh mengapal dialog saya bisa mati kutu”, kelakar Ribu sembari mengipas-ngipas badan.

Di usia senja kini Ribu memang tetap tanah liat. Perjalanan panjang sebagai pragina membuat dia tidak merasa tua. Ia tetap segar, ibarat puisi cinta bertembang sinom - mendayu sembari memancing kasmaran. “Tua cuma milik mereka yang kering kreativitas. Mati suri, dan layu”, sindir Ribu elok.

Tak Tergetar Melihat Lelaki.

Ribu bukan Srikandi yang benci lelaki. Tapi bukan pula sosok yang hendak meniru sumpah Bhisma, berpantang tidak kawin. Semenjak menjalani upacara pasakapan di pura puseh, dan menyatakan kesanggupan total ngayah sebagai pragina arja, Ribu tetap perawan yang dingin terhadap laki-laki. Memandang laki-laki tak lebih dari seorang ayah. Seingatnya, sejak nyaluk gelungan Arja, Ribu tak menaruh perasaan khusus pada laki-laki. Justru itu Ribu tak punya niat untuk menikah. Banyak gosip berkembang, bahwa keputusan tidak kawin diambil semata ingin menjaga kecantikan dan kebugaran tubuh sebagai pragina. Ribu tak terkejut, “Beh ento bas lebihan, wah itu berlebihan”, tangkis Ribu sembari geleng kepala. Yang pasti, tentu hanya Ribu yang tahu.

Sebagai pragina muda, terkenal, Ribu pasti tak hanya punya ribuan penggemar. Tapi puluhan orang coba mengajukan bujuk rayu. Mengejar-ngejar ke mana Ribu menari. Sayang, cinta bertepuk sebelah tangan. Banyak lelaki dibuat kecewa. Hati Ribu seperti batu, sukar dilelehkan rayuan dan bujuk cinta. Ia cuma menyatakan: tidak. Saudara dan teman -temannya sering coba meluluhkan hati Ribu, supaya ia membalik keputusan untuk berkeluarga. Tekad anak ke 4 dari delapan bersaudara tetap tak goyah. Tetap kukuh pada pendirian.

Kendati mengaku ia tak pernah mengucapkan sumpah untuk tidak kawin. Alasanya terang, Ribu hanya tak pernah tergetar berhadapan dengan lelaki. Setampan dan sebaik apapun orangnya. Ribu tetap tak tertarik, hatinya beku bak balok es. Karena itu ia lebih memilih menyayangi keponakan-keponakannya. Kelak padanya ia menggantungkan harap. Menyendiri tak perlu jadi momok. Ia akan punya arti bila hati memang mau sendiri. “Selebihnya, terserah sang waktu,” ujar Ribu polos.

Wayan Westa

Pekerja Kebudayaan

Catatan:

Tulisan ini dimuat di Majalah Sarad edisi 48, tahun 2004

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz
chevron-leftchevron-right