hello world!
Januari 24, 2023

Tuhan, dan Kritik Teologis Ala Pan Bungkling

//Tuhan bagi manusia Bali adalah sesuatu yang menubuh, sangat dekat dengan hidup sehari-hari, maka Tuhan dipuja lewat sarana yang paling dekat pada hidup//

Tiada paling jahil tinimbang Pan Bungkling dalam urusan kesangsian ber-Tuhan. Dalam teks geguritan berbahasa Bali, sosok antagonis ini digambarkan sebagai kritikus tanpa tedeng aling-aling. Menyangsikan aturan agama, meledek upakara, mencetang petuah suci sang pendeta. Saban hari kerjanya cuma beradu argumen, mengunjungi orang pintar, berdebat filsafat, mengkritik cerdik pandai yang sok tahu urusan Tuhan. Karena keberanian itu ia sering kena marah. Bungkling dicaci sebagai anjing hina, yang kerjanya hanya menggongong.

Namun di balik “kepandiran” Pan Bungkling, sosok nakal ini bukanlah seorang ateis, yang mengumandangkan slogan “Tuhan telah mati” sebagaimana kotbah tokoh filsafat Barat, Nietzche pengarang Zarathustra. Sebaliknya Bungkling kerap mengkritik uraian-urain berbelit pendeta mata duitan, yang pura-pura tahu perihal surga dan neraka. Yang menganggap hidup ini lurus selurus-lurusnya, tanpa belokan dan tikunagan.

Suatu hari Bungkling menghadap Ida Gede Gangga Sura, pandeta ternama, ahli upacara termasyur. Dari keahlian ini sang pendeta mendatangkan rezeki berlimpah, maklum selain sebagai pendeta, Ida Gangga Sura juga penjual banten, plus pendarma wacana andal. Sang pendeta dikenal sangat terpelajar, paham rumus-rumus suci, terampil berdebat. Karena itu, Pan Bungkling hendak datang mengolok-olok, sekaligus mengujinya. Sembari menyembah taksim, ia datang menghadap Ida Gede Gangga Sura, mengabarkan sang ibu kandung meninggal kemarin sore. Bungkling datang ke geria hendak membeli sesajen pabersihan (pensucian) buat jenazah sang ibu. Dengan biaya hanya dua belas ribu, pendeta ahli upakara menyanggupi. “Di geria semua urusan jadi gampang, di sini banyak ahli banten, “ jawab Ida Gede Gangga Sura pendek.

Begitu sesajen usai , Bungkling mengamati teliti, semua detail banten diperhatikan. Bungkling merunduk, mendekat kehadapan Sang Pendeta, yang saat itu tengah sibuk di pamerajan. Tak lupa menghatur sembah, Bungkling bersapa hormat, “Hormat tuanku pendeta utama, saya telah melihat sesajen itu, hamba agak bingung, betapa beraneka sarana tergelar di atas talam, ada cermin, baja, minyak, bunga melur, umbi gadung. Itu saya tahu, ini memang sesajen penyucian, namun saya belum mengerti, apa gunanya semua itu sang pendeta?” tanya Pan Bungkling polos.

“Pertanyaanmu ada-ada saja Bungkling, bawalah uangmu ke sini, jangan berdebat," anjur sang pendeta dengan nada berat.

Sang pendeta berlagak menjelaskan, “Beginilah maknanya, ini tradisi dari zaman dahulu, kelak bila menjelma kembali, bunga melur akan menjadi taring, umbi gadung akan menjadi kulit, cermin sebagai mata yang cerlang, baja sebagai gigi, agar kelak dalam penjelmaan nanti semua sempurna," terang Ida Gangga Sura yakin.

Bungkling tertawa terbahak-bahak, “Sekarang hamba mengerti, namun hamba heran, hamba pernah meliat orang mengubur sapi, tak disertai upacara apa-apa. Tapi hamba lihat, tak seekorpun mata anak sapi yang baru lahir itu bermata kabur? Bagimana dengan putra sang pendeta, kok sebelah matanya picek, mungkinkah cerminnya kabur, kulitnya juga kasar, apa mungkin umbi gadung yang dipakai belum dikelupas? Sodokan Pang Bungkling ini menyebabkan Ida Gede Gangga Sura marah, meledak tak ubahnya magma gunung. Bungkling diusir dengan kasar. Sembari tetap ketawa, Bungkling melengos keluar tanpa pamit.

Selebihnya silakan pembaca budiman mengapresiasi kritik ini, dan tidak hanya kini, kritik model ini sudah muncul sejak zaman dulu. Bisa dipastikan, dulu kritik semacam ini hanya keluar dari bibir seorang pendeta, tidak manusia sampah seperti saya. Dan Geguritan Bungkling ditulis oleh seorang kawi dalang, bernama Ki Dalang Tangsub, nama bekennya Rangdi Langit [bang akasa]. Selain Geguritan Bungkling ada juga Geguritan Bongkling, bisa jadi yang ini karya seorang pendeta.

Di balik pertanyaan kritis, pengarang Bungkling sebenarnya hendak meluruskan, menjewer tokoh panutan yang merasa tahu jalan kesejatian, kendatipun sesungguhnya tak seorangpun bisa memberi kepastian, tak seorangpun paham kebenaran final. Bahwa kita semua adalah para pencari. Karena sesesungguhnya manusia yang sadar itu adalah para pemburu makna. Makna dan penghargaan pada hidup itu membuat orang selalu bisa bersyukur, menjauh dari keangkuhan-keangkuhan tidak perlu.

Apakah laku yang dijalani Ida Gangga Sura dalam Geguritan Pan Bungkling merupakan jalan tunggal? Jawabnya, jelas tidak. Karena jalan dan cara tak lebih dari sekadar bagaimana manusia mendekatkan diri pada Sang Penentu Hidup. Semua jalan menyadari kehadiran Sang Maha Urip syah adanya. Namun dalam tautan keragaman Hindu Bali – ketunggalan jalan, sama artinya dengan tidak ada pilihan. Karena itu tetua Bali sangat menghargai yang namanya keragaman, termasuk dalam urusan ber-Tuhan dan beragama. "Ngungsi pucak gunung marginin saha idep, menuju puncak gunung pilih dari mana kita suka," ini isyarat yang diberikan para tetua Bali. Nun jauh, Bagawadgita menunjukkan upaya yang sama. “Jalan manapun engkau tempuh, semua akan sampai kepada-Ku."

Orang Bali udik tentu belum pernah membaca kitab Bagawad Gita. Kendati demikian, praktiknya telah dilakoni sebelum kitab ini jadi bacaan wajib kalangan terpelajar. Pertanyaan kemudian, seperti apa visi Ketuhanan manusia Bali? Bagi masyarakat yang tak akrab dengan teks, dan bagi mereka yang tak pernah mengenyam pendidikan ala sekolahan, Tuhan tentu jadi lebih khusus dalam pemahaman dan penghayatan mereka. Umumnya mereka tidak mengenal Tuhan sebagaimana dibayangkan para yogin. Juga tak mengenal Tuhan sebagaimana digambarkan kitab-kitab Weda dan Upanisad. Lalu apakah dengan begitu mereka tidak ber-Tuhan? Sekali lagi jawabnya: Tidak. Jangan lupa, bahwa tradisi rontal-rontal Bali menggambarkan Tuhan dengan aneka atribut, aneka fungsi, lengkap dengan aneka pemujan. Tuhan di-nyasa-kan didalam aneka medium, bahkan di dalam tubuh kita sendiri. Sekelompok aksara suci yang disurat pendeta saat upacara pawintenan adalah laku me-nyasa-kan Tuhan di dalam tubuh. Begitu juga banten, selain sebagai medium menyalur energi magis, sebagai bahasa, banten adalah wujud persembahan.

Tuhan bagi manusia Bali kerap disebut Widhi, Suwung, Embang, Maha Urip, dan Kawi. Sebutan ini jelas bukan nama-nama Tuhan pijaman ala India, melainkan nama Tuhan asli Bali. Jadi menarik dicermati dari laku “ber-Tuhan” manusia Bali bukanlah prihal konsepnya yang tinggi dan abstrak. Melainkan dalam ukuran penghayatan, orang Bali adalah pemuja yang tulus, polos dan sederhana. Dalam kultur hidup orang Bali, beragama bukan berarti memiliki semata pengetahuan agama. Namun bagimana melakonkan agama dalam hidup, tidak melulu tekstual, teoritis apalagi. Untuk itu dalam urusan dekat dengan Tuhan merupakan urusan pribadi. Seorang sulinggih belum tentu mendapat “kredit” besar di mata Tuhan tinimbang seorang petani lugu. Petani polos yang pikiranya tidak pernah berpaling pada yang lain, kecuali memuja bumi dengan tambah, cangkul. Tak pernah mengeluh dalam kondisi panas dan hujan.

Justru itulah di Bali orang menemukan beragam penghayatan ber-Tuhan demikian kompleks, luas dan jelimet. Tapi sejatinya manusia Bali tergolong pemuja yang rendah hati, terbuka pada sesuatu yang memberi keselamatan, ketenteraman, dan kemudahan hidup. Maka tak perlu disalahkan, jika orang Bali juga “menyembah” di pohon besar, di jurang yang keramat, di batu besar, dan di tempat-tempat yang dianggap memiliki tuah. Sesungguhnya mereka bukan pemuja berhala, mereka mengakui, menghormati semua ciptaan. Mereka suka merendahkan egonya serendah rumput, karena dengan begitu ia seakan-akan menyembah kaki-Nya.

Saban ada rerainan orang Bali menghaturkan sesaji di tungku jalikan tempat memasak, gentong tempat air, pada alat-alat dapur, alat-alat pertanian, dan sebagainya. Di sini Tuhan bagi manusia Bali adalah sesuatu yang menubuh, sangat dekat dengan hidup sehari-hari, sebab lewat alat-alat itu ia memperoleh kemurahan hidup-- maka itu Tuhan dipuja lewat sarana yang paling dekat pada hidup. Karena aspeknya bertalian dengan hal-hal yang bisa dibayangkan, nyata, berwujud dan menubuh, aspek ini dalam lontar-lontar Bali kemudian disebut sebagai Saguna Brahma - Tuhan yang bisa dibayangkan, dirasakan, sekaligus dekat dengan keseharian.

Tak demikian halnya dengan kaum terpelajar, pandita bijak yang dekat dengan teks, di sini Tuhan dihayati sebagai sesuatu yang tak berwujud. Karena para pandita memiliki abstraksi tinggi, maka Tuhan dibayanngkan sebagai Nirguna Brhama, Tuhan yang tak dapat didifinisikan, apalagi dipikirkan. Justru itu Tuhan tak dicari dengan sarana upacara semata, tapi dicari lewat retret khusus, yakni entah namanya meditasi, upawasa, yoga samadi, dll.

Teks-teks yang menjelaskan penjelajahan Tuhan menuju asfek nirguna brahman di Bali lumayan beragam. Mulai dari kitab tertua Bhuwana Kosa, Ganapati Tatwa, Wrhaspati Tattwa, Jñānasiddhanta, Tutur Kalepasan, Jñāna Tatwa, dan sebagainya. Teks ini menjadi acuan penting bagi kaum yang suntuk memasuki peradaban aksara. Boleh dibilang teks ini merupakan kitab “upanisad” ala Bali. Para pandita menyebutnya sebagai tutur kalepasan atau tutur kapatian. Karena yang dijelaskan dalam teks ini semata bagimana cara mati yang benar, cara meniada dengan sungguh.

Pendeknya susastra di Bali cuma memaparkan dua hal penting, yakni bagimana hidup dengan benar, dan bagimana cara mati dengan benar. Teks-teks tentang dua jalan ini, alih-alih teks yang menunjuk pada pembebasan (kelepasan) sungguhlah melimpah. Para penekun agama di jalan teks, amat sering memperdebatkannya, menulisnya secara berulang. Meyakini semua aporisme itu sebagai kebenaran tak dapat digugat.

Dan Pan Bungkling adalah sosok yang amat garang mengkritik aporisme itu. Siapa saja yang suka membaca Geguritan Pan Bungkling akan mendapat gambaran, lompatan-lompatan pernyataan yang menyangsikan setiap argumen yang saling berkelindan. Pengarang Geguritan Pan Bungkling sebenarnya tengah melakukan otokritik bagi mereka yang terpenjara teks. Seorang pejalan rohani sesungguhnya adalah mereka yang telah melampaui teks. Ia yang telah menjadikan dirinya sendiri sebagai teks. Itulah sastra paraga, sastra yang menubuh, di mana seluruh pikirannya, kata-katanya, tindakannya adalah teks yang menyalakan kesadaran para pencari nyala hidup- sudipa ring kulem. Sekaligus tidak kering pemaknaan, gersang penghayatan, dan kerontang dalam laku sehari-hari. Dia itulah patirtan jagat, tempat orang-orang menemukan kesejukan batin. Dia pula guru-loka, guru bagi dunia saat zaman terombang-ambing kehilangan panutan.

Tabik

IWayan Westa

Pekerja Kebudayaan

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz
chevron-leftchevron-right