//Tuhan bagi manusia Bali adalah sesuatu yang menubuh, sangat dekat dengan hidup sehari-hari, maka Tuhan dipuja lewat sarana yang paling dekat pada hidup//
Tiada paling jahil tinimbang Pan Bungkling dalam urusan kesangsian ber-Tuhan. Dalam teks geguritan berbahasa Bali, sosok antagonis ini digambarkan sebagai kritikus tanpa tedeng aling-aling. Menyangsikan aturan agama, meledek upakara, mencetang petuah suci sang pendeta. Saban hari kerjanya cuma beradu argumen, mengunjungi orang pintar, berdebat filsafat, mengkritik cerdik pandai yang sok tahu urusan Tuhan. Karena keberanian itu ia sering kena marah. Bungkling dicaci sebagai anjing hina, yang kerjanya hanya menggongong.
Namun di balik “kepandiran” Pan Bungkling, sosok nakal ini bukanlah seorang ateis, yang mengumandangkan slogan “Tuhan telah mati” sebagaimana kotbah tokoh filsafat Barat, Nietzche pengarang Zarathustra. Sebaliknya Bungkling kerap mengkritik uraian-urain berbelit pendeta mata duitan, yang pura-pura tahu perihal surga dan neraka. Yang menganggap hidup ini lurus selurus-lurusnya, tanpa belokan dan tikunagan.
Suatu hari Bungkling menghadap Ida Gede Gangga Sura, pandeta ternama, ahli upacara termasyur. Dari keahlian ini sang pendeta mendatangkan rezeki berlimpah, maklum selain sebagai pendeta, Ida Gangga Sura juga penjual banten, plus pendarma wacana andal. Sang pendeta dikenal sangat terpelajar, paham rumus-rumus suci, terampil berdebat. Karena itu, Pan Bungkling hendak datang mengolok-olok, sekaligus mengujinya. Sembari menyembah taksim, ia datang menghadap Ida Gede Gangga Sura, mengabarkan sang ibu kandung meninggal kemarin sore. Bungkling datang ke geria hendak membeli sesajen pabersihan (pensucian) buat jenazah sang ibu. Dengan biaya hanya dua belas ribu, pendeta ahli upakara menyanggupi. “Di geria semua urusan jadi gampang, di sini banyak ahli banten, “ jawab Ida Gede Gangga Sura pendek.
Begitu sesajen usai , Bungkling mengamati teliti, semua detail banten diperhatikan. Bungkling merunduk, mendekat kehadapan Sang Pendeta, yang saat itu tengah sibuk di pamerajan. Tak lupa menghatur sembah, Bungkling bersapa hormat, “Hormat tuanku pendeta utama, saya telah melihat sesajen itu, hamba agak bingung, betapa beraneka sarana tergelar di atas talam, ada cermin, baja, minyak, bunga melur, umbi gadung. Itu saya tahu, ini memang sesajen penyucian, namun saya belum mengerti, apa gunanya semua itu sang pendeta?” tanya Pan Bungkling polos.
“Pertanyaanmu ada-ada saja Bungkling, bawalah uangmu ke sini, jangan berdebat," anjur sang pendeta dengan nada berat.
Sang pendeta berlagak menjelaskan, “Beginilah maknanya, ini tradisi dari zaman dahulu, kelak bila menjelma kembali, bunga melur akan menjadi taring, umbi gadung akan menjadi kulit, cermin sebagai mata yang cerlang, baja sebagai gigi, agar kelak dalam penjelmaan nanti semua sempurna," terang Ida Gangga Sura yakin.

Bungkling tertawa terbahak-bahak, “Sekarang hamba mengerti, namun hamba heran, hamba pernah meliat orang mengubur sapi, tak disertai upacara apa-apa. Tapi hamba lihat, tak seekorpun mata anak sapi yang baru lahir itu bermata kabur? Bagimana dengan putra sang pendeta, kok sebelah matanya picek, mungkinkah cerminnya kabur, kulitnya juga kasar, apa mungkin umbi gadung yang dipakai belum dikelupas? Sodokan Pang Bungkling ini menyebabkan Ida Gede Gangga Sura marah, meledak tak ubahnya magma gunung. Bungkling diusir dengan kasar. Sembari tetap ketawa, Bungkling melengos keluar tanpa pamit.
Selebihnya silakan pembaca budiman mengapresiasi kritik ini, dan tidak hanya kini, kritik model ini sudah muncul sejak zaman dulu. Bisa dipastikan, dulu kritik semacam ini hanya keluar dari bibir seorang pendeta, tidak manusia sampah seperti saya. Dan Geguritan Bungkling ditulis oleh seorang kawi dalang, bernama Ki Dalang Tangsub, nama bekennya Rangdi Langit [bang akasa]. Selain Geguritan Bungkling ada juga Geguritan Bongkling, bisa jadi yang ini karya seorang pendeta.
Di balik pertanyaan kritis, pengarang Bungkling sebenarnya hendak meluruskan, menjewer tokoh panutan yang merasa tahu jalan kesejatian, kendatipun sesungguhnya tak seorangpun bisa memberi kepastian, tak seorangpun paham kebenaran final. Bahwa kita semua adalah para pencari. Karena sesesungguhnya manusia yang sadar itu adalah para pemburu makna. Makna dan penghargaan pada hidup itu membuat orang selalu bisa bersyukur, menjauh dari keangkuhan-keangkuhan tidak perlu.
Apakah laku yang dijalani Ida Gangga Sura dalam Geguritan Pan Bungkling merupakan jalan tunggal? Jawabnya, jelas tidak. Karena jalan dan cara tak lebih dari sekadar bagaimana manusia mendekatkan diri pada Sang Penentu Hidup. Semua jalan menyadari kehadiran Sang Maha Urip syah adanya. Namun dalam tautan keragaman Hindu Bali – ketunggalan jalan, sama artinya dengan tidak ada pilihan. Karena itu tetua Bali sangat menghargai yang namanya keragaman, termasuk dalam urusan ber-Tuhan dan beragama. "Ngungsi pucak gunung marginin saha idep, menuju puncak gunung pilih dari mana kita suka," ini isyarat yang diberikan para tetua Bali. Nun jauh, Bagawadgita menunjukkan upaya yang sama. “Jalan manapun engkau tempuh, semua akan sampai kepada-Ku."
Orang Bali udik tentu belum pernah membaca kitab Bagawad Gita. Kendati demikian, praktiknya telah dilakoni sebelum kitab ini jadi bacaan wajib kalangan terpelajar. Pertanyaan kemudian, seperti apa visi Ketuhanan manusia Bali? Bagi masyarakat yang tak akrab dengan teks, dan bagi mereka yang tak pernah mengenyam pendidikan ala sekolahan, Tuhan tentu jadi lebih khusus dalam pemahaman dan penghayatan mereka. Umumnya mereka tidak mengenal Tuhan sebagaimana dibayangkan para yogin. Juga tak mengenal Tuhan sebagaimana digambarkan kitab-kitab Weda dan Upanisad. Lalu apakah dengan begitu mereka tidak ber-Tuhan? Sekali lagi jawabnya: Tidak. Jangan lupa, bahwa tradisi rontal-rontal Bali menggambarkan Tuhan dengan aneka atribut, aneka fungsi, lengkap dengan aneka pemujan. Tuhan di-nyasa-kan didalam aneka medium, bahkan di dalam tubuh kita sendiri. Sekelompok aksara suci yang disurat pendeta saat upacara pawintenan adalah laku me-nyasa-kan Tuhan di dalam tubuh. Begitu juga banten, selain sebagai medium menyalur energi magis, sebagai bahasa, banten adalah wujud persembahan.

Tuhan bagi manusia Bali kerap disebut Widhi, Suwung, Embang, Maha Urip, dan Kawi. Sebutan ini jelas bukan nama-nama Tuhan pijaman ala India, melainkan nama Tuhan asli Bali. Jadi menarik dicermati dari laku “ber-Tuhan” manusia Bali bukanlah prihal konsepnya yang tinggi dan abstrak. Melainkan dalam ukuran penghayatan, orang Bali adalah pemuja yang tulus, polos dan sederhana. Dalam kultur hidup orang Bali, beragama bukan berarti memiliki semata pengetahuan agama. Namun bagimana melakonkan agama dalam hidup, tidak melulu tekstual, teoritis apalagi. Untuk itu dalam urusan dekat dengan Tuhan merupakan urusan pribadi. Seorang sulinggih belum tentu mendapat “kredit” besar di mata Tuhan tinimbang seorang petani lugu. Petani polos yang pikiranya tidak pernah berpaling pada yang lain, kecuali memuja bumi dengan tambah, cangkul. Tak pernah mengeluh dalam kondisi panas dan hujan.
Justru itulah di Bali orang menemukan beragam penghayatan ber-Tuhan demikian kompleks, luas dan jelimet. Tapi sejatinya manusia Bali tergolong pemuja yang rendah hati, terbuka pada sesuatu yang memberi keselamatan, ketenteraman, dan kemudahan hidup. Maka tak perlu disalahkan, jika orang Bali juga “menyembah” di pohon besar, di jurang yang keramat, di batu besar, dan di tempat-tempat yang dianggap memiliki tuah. Sesungguhnya mereka bukan pemuja berhala, mereka mengakui, menghormati semua ciptaan. Mereka suka merendahkan egonya serendah rumput, karena dengan begitu ia seakan-akan menyembah kaki-Nya.
Saban ada rerainan orang Bali menghaturkan sesaji di tungku jalikan tempat memasak, gentong tempat air, pada alat-alat dapur, alat-alat pertanian, dan sebagainya. Di sini Tuhan bagi manusia Bali adalah sesuatu yang menubuh, sangat dekat dengan hidup sehari-hari, sebab lewat alat-alat itu ia memperoleh kemurahan hidup-- maka itu Tuhan dipuja lewat sarana yang paling dekat pada hidup. Karena aspeknya bertalian dengan hal-hal yang bisa dibayangkan, nyata, berwujud dan menubuh, aspek ini dalam lontar-lontar Bali kemudian disebut sebagai Saguna Brahma - Tuhan yang bisa dibayangkan, dirasakan, sekaligus dekat dengan keseharian.
Tak demikian halnya dengan kaum terpelajar, pandita bijak yang dekat dengan teks, di sini Tuhan dihayati sebagai sesuatu yang tak berwujud. Karena para pandita memiliki abstraksi tinggi, maka Tuhan dibayanngkan sebagai Nirguna Brhama, Tuhan yang tak dapat didifinisikan, apalagi dipikirkan. Justru itu Tuhan tak dicari dengan sarana upacara semata, tapi dicari lewat retret khusus, yakni entah namanya meditasi, upawasa, yoga samadi, dll.

Teks-teks yang menjelaskan penjelajahan Tuhan menuju asfek nirguna brahman di Bali lumayan beragam. Mulai dari kitab tertua Bhuwana Kosa, Ganapati Tatwa, Wrhaspati Tattwa, Jñānasiddhanta, Tutur Kalepasan, Jñāna Tatwa, dan sebagainya. Teks ini menjadi acuan penting bagi kaum yang suntuk memasuki peradaban aksara. Boleh dibilang teks ini merupakan kitab “upanisad” ala Bali. Para pandita menyebutnya sebagai tutur kalepasan atau tutur kapatian. Karena yang dijelaskan dalam teks ini semata bagimana cara mati yang benar, cara meniada dengan sungguh.
Pendeknya susastra di Bali cuma memaparkan dua hal penting, yakni bagimana hidup dengan benar, dan bagimana cara mati dengan benar. Teks-teks tentang dua jalan ini, alih-alih teks yang menunjuk pada pembebasan (kelepasan) sungguhlah melimpah. Para penekun agama di jalan teks, amat sering memperdebatkannya, menulisnya secara berulang. Meyakini semua aporisme itu sebagai kebenaran tak dapat digugat.
Dan Pan Bungkling adalah sosok yang amat garang mengkritik aporisme itu. Siapa saja yang suka membaca Geguritan Pan Bungkling akan mendapat gambaran, lompatan-lompatan pernyataan yang menyangsikan setiap argumen yang saling berkelindan. Pengarang Geguritan Pan Bungkling sebenarnya tengah melakukan otokritik bagi mereka yang terpenjara teks. Seorang pejalan rohani sesungguhnya adalah mereka yang telah melampaui teks. Ia yang telah menjadikan dirinya sendiri sebagai teks. Itulah sastra paraga, sastra yang menubuh, di mana seluruh pikirannya, kata-katanya, tindakannya adalah teks yang menyalakan kesadaran para pencari nyala hidup- sudipa ring kulem. Sekaligus tidak kering pemaknaan, gersang penghayatan, dan kerontang dalam laku sehari-hari. Dia itulah patirtan jagat, tempat orang-orang menemukan kesejukan batin. Dia pula guru-loka, guru bagi dunia saat zaman terombang-ambing kehilangan panutan.
Tabik
IWayan Westa
Pekerja Kebudayaan
Jalur lalu lintas Selat-Muncan, Karangasem macet pada hari Minggu,3 September 2017. Tampak iring-ringan masyarakat adat Selat Baledan (dahulu bernama Kanyuruhan) memenuhi jalur lalu lintas. Jalan yang setiap harinya didominasi truk pasir dan sepeda motor kini harus menyerahkan jalur mereka pada pejalan kaki yang yang berjalan mengenakan pakaian adat.
Mendung menggantung, disertai gerimis kecil, membuat siang tidak sepanas hari sebelumnya. Warga mengenakan pakaian adat berjalan beriringan dengan aparat Pakraman Adat yang ditugaskan mundut Ida Batara untuk melakukan perjalanan penyucian.

Seluruh Batara yang dipuja di Pekraman Selat Baledan turut serta dalam upacara Batara Lunga, baik dari pura desa, pura Merajan Panti/ Dadia. Tidak hanya itu, sesuhunan dari desa kekuub juga turut Lunga. “Desa-desa kekuub yang turut serta dalam Betara Lunga adalah Sebudi, Sogra, Presana dan Tegeh. Hal ini karena dahulunya desa tersebut menjadi satu dengan desa Selat Baledan” kata Jro Mangku Wayan Gede Mustika memberikan penjelasan tentang Ida Betara yang ikut dalam Betara Lunga.
Betara Lunga sebenarnya mirip dengan upacara melasti yang umum dilakukan oleh masyarakat adat di Bali. Jika upacara Melasti biasanya dilaksanakan menjelang perayaan Hari Raya Nyepi (Tilem Kesange) maka di Pakraman Selat Baledan upacara ini dilaksanakan menjelang purnama ketiga. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan bahwa purnama ketiga merupakan purnama pertama dalam rangkaian sasih miik, bulan harum dimana berbagai upacara Dewa Yadnya akan dilaksanakan.
Upacara Betara Lunga yang diikuti oleh sebagian besar warga Pakraman mulai dari anak-anak, remaja, tua muda, bahkan beberapa warga di perantauan menyempatkan diri untuk hadir. Upacara yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun ini diselenggarakan di Toye Sah yang terletak di Pakraman Muncan yang berjarak sekitar 5,8 KM di barat Pakraman Selat Baledan.
Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki, dengan kesadarannya warga bergantian menghaturkan ayah untuk mundut Ida Batara. Pemandangan perumahan, sawah, sesekali gerimis menjadi lebat, menghiasi perjalanan, tidak ada wajah-wajah lelah yang tampak, mereka melangkah dengan suka cinta seolah sedang merayakan sebuah kemenangan.

Mendung dan udara dingin menjadi berkah yang mendukung perjalanan tersebut, seolah menjadi restu dari semesta sehingga perjalanan tidak akan seberat ketika dilakukan di tengah siang hari bolong yang panas.
Udara dingin yang membawa sedikit efek, rasa lapar yang menjadi semakin kentara ketika kalori dibakar. Beberapa orang mulai mengeluh rasa lapar yang datang meski perjalanan masih jauh dari lokasi yang dituju. Keluar dari wilayah jalan provinsi yang telah padat oleh rumah-rumah penduduk, pemandangan menjadi berubah ketika memasuki jalan desa yang semakin sempit, rimbun perdu bambu mengiringi lintasan menurun yang kemudian disambut oleh hamparan sawah dan sebuah area suci yang lapang, tempat lokasi prosesi penyucian akan dilaksanakan.

Prosesi penyucian yang berlangsung rutin setiap tahunnya menjelang purnama ketiga serta menjadi rangkaian Ngusabe Emping. Tiap tahunnya lokasi upacara dilaksanakan di Toya Sah, baru pada tahun ke lima (setiap lima tahun) Ida Batara Lunga ke Segara. Seperti yang disampaikan Jro Mangku Wayan Gede Mustika “Setiap tahun memang ke Toya Sah, setiap 5 tahun sekali baru ke Buitan (pantai di Desa Buitan, Kecamatan Manggis, Karangasem) kalau di awal Batara Lunga ke pantai malah setiap 10 tahun sekali”.
Setelah prosesi penyucian selesai, Ida Batara kembali melalui jalur yang sama. Batara Ulun Desa akan disetanakan di Pura Puseh, pura dimana upacara Ngusabe Emping akan berlangsung. Sementara Ida Batara sesuhunan Merajan-panti-Dadia akan kembali ke pura Merajan-panti-Dadia masing-masing.
//l.t./
4 september 2017.