//Jauh sebelum kapitalisme menguasai tanah Bali, sang wiku, Ida Pedanda Made Sidemen telah berhitung prinsip, membalik arus kesadaran, dari fenomena fisik geografis (karang-sawah) ke fenomena psikis jagad diri (karang awak)//
Senyap dan lengang. Itulah kesan pertama memasuki Geria Taman Sari, Sanur. Tak terlihat balai megah berukir, pun tak tampak mrajan mentereng didapuk prada emas. Hanya loji tua nyaris tak terawat - di mana ratusan rontal kini tersimpan. Ruangan loji sedikit pengap, buram dan gelap - sinar matahari tak cukup menembusnya. Sang penghuni, Ida Pedanda Made Sidemen, pendeta dan pengarang besar Bali abad ke- 21 telah berpulang, meninggalkan geria ini 20 tahun silam. Namun sejarah tetap mengenangnya. Sang pelaku utuh karma kanda dan jnana kanda ini ibarat fajar zaman - guru jagat tak terlupakan – sosok yang sanggup menyatupadukan kerja, pengetahuan, dan bakti jadi ketunggalan total - utuh menyeluruh jadi puja kehadapan Sang Mahakerja.
Datang ke geria ini setelah 20 tahun sang pendeta berpulang, terasa ada semangat tetap bisa diteladani kini – kendati sayup dan lamat, toh jejak sang pendeta masih bisa disentuh. Saat memasuki halaman mrajan yang tak seberapa luas itu - kesederhanaan tiba-tiba menyajikan sesuatu yang indah. Orang lalu dibuat tercenung, betapa di pengujung zaman kini, peradaban masa lalu itu kian menjauh, silam dan nyaris tak terjamah. Di sini “teks” hidup jadi lebih otentik tinimbang aksara dalam keropak. Karena jejak tulisan saat dituturkan ulang sungguh mudah membias. Bahkan tak jarang jadi kultus. Dan teks otentik itu kini telah menjadi milik masa silam. Mungkin juga milik dunia lain. Ia tak lagi menjadi teks hidup. Sementara ratusan teks yang kini terpejam beku di ruang loji tak mudah lagi dibaca. Ibarat mumi yang dingin. Hanya orang yang mengantongi “sim peradaban aksara” bisa “berdialog” dengannya. Agak tragis, memang. Walau, diam-diam teks yang tak bicara itu, telah melahirkan puluhan sarjana. Maklum begitulah kecenderungan teks tua mengalir kini, yang cuma jadi kajian akademis, kering dan nyaris terasa hambar.
Tercenung di halaman merajan, sembari memandang patung Ida Pedanda Made tengah duduk bersila – menatap dingin tanpa ekspresi. Orang segera diyakinkan bahwa, betapa kesederhanaan tidak mudah diwujudkan dalam kata-kata. Dan Ida Pedanda Made jelas tidak mewujudkan kesederhanaan itu dengan kata-kata. Patung Ida Pedanda Made karya sang murid, Ida Bagus Alit Pidada yang kini disucikan di pamerajan Geria Taman, seperti tak hendak menghapus ingatan zaman – bahwa Ida Pedanda sejatinya adalah seorang yogi, wiku yang senantiasa merealiasikan dirinya dengan kerja. Hanya dengan kerja kaki Tuhan kuasa disentuh. Kemandirian menjadi kunci hidup paling hakiki. Kemandirian mendorong orang menemu maharddhika.
Ada jejak tak bisa dilupakan saban memasuki merajan Geria Taman. Di tempat inilah Ida Pedanda Made menghabiskan hari tuanya – sebelum akhirnya dewa kematian menjemput. Amben di belakang bale piyasan tempat sehari-hari sang wiku beristirahat masih teronggok utuh. Ukurannya kira-kira 2 x 1,5 meter, beratap genting, terserung gedek nyaris lapuk. Di amben inilah Ida Pedanda saban hari berbaring, berbantalkan kayu gelondongan – tanpa baju, tak hirau hari hujan dan panas. Subuh, sebelum kokok ayam pertama bertalu menyapa pagi, Ida Pendada kerap terbangun, tidur terasa dicukupkan. Kesenyapan tiba-tiba pecah, manakala sang pendeta membangunkan abdinya I Tekek – lalu bersama-sama mengalunkan bait-bait Kakawin Ramayana. Sesekali dengan cermat Ida Pedanda memperbaiki terjemahan I Tekek yang salah. “Inilah kegemaran saban subuh dilakukan Ida Pedanda”, terang Ida Bagus Dupem, cicit angkat sang wiku yang kini merawat seluruh tinggalan “rohani” di Geria Taman.
Sayang, di pagi buta, dalam usia 126 tahun, tepatnya tanggal 10 September 1984, tepat di purnama kapat, suara parau yang kerap memecah sunyi subuh itu tidak terdengar lagi. Pagi betul-betul jadi senyap, bait-bait Kakawin Ramayana tak terdengar dilantunkan kembali. Dewa ajal telah menjemput pendeta tua ini. Hanya sang abdi bernama I Tekek duduk merunduk di samping jenazah. Di pagi indah itu, saat bunga-bunga mekar, Ida Pedanda berpulang buat selamanya. Kesedihan menggelayut di bubungan merajan. Deburan ombak di Pantai Sanur masih nyaring terdengar- seperti menyambut roh Ida Pedanda. Pokok naga sari yang tumbuh dekat sumur merajan tiba-tiba meluruh. Teringat hari-hari saat sang pendeta masih bugar - sang kawi wiku (pendeta pengarang) kerap datang memetiknya, menyuntingkannya di telinga sesaat usai memuja Siwa Raditya, sang mahaenergi.
Namun di pagi itu pokok bunga naga sari seperti gelisah, tak sabar menunggu datangnya seorang taruna. Sayang sang taruna tak pernah kembali lagi. Sang pujaan keburu menghadap dewa keindahan, kekasihnya yang abadi. Sejarah hidup Ida Pedanda Made Sidemen pun ditutup dipengujung pagi. Ia pergi setelah mempersiapkan seluruh sarana upakara kematiannya.

Tentu banyak orang merasa kehilangan manakala Ida Pedanda pamit dari dunia ini. Menghadapi tokoh ini tak ubahnya menyelam di samudera luas. Sosok yang dalam hidupnya terakumulasi sejumlah peran dan kwalitas. Seorang wiku, pengarang, ahli arsitektur tradisional Bali, dan ahli pembuat tapel, walatanda. Justru itu tak berlebihan bila Ir. Robi Sularto, arsitek senior yang dikenal dekat dengan beliau memuji Ida Pendanda sebagai ilmuwan terakhir abad tradisional. Seorang pandita yang telah memecahkan arsitektur tradisional Bali secara komperehensif, seorang ilmuwan Timur yang komplit”. Sementara Antropolog Universitas Udayana, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus (almarhum) menyatakan, “Dia mengingatkan saya kepada ahli pikir India abad ke- 8, Sankara, yang melaksanakan agama melalui ilmu pengetahuan. Dia adalah ilmuwan Bali terbesar yang saya kenal. Orang suci yang mengabdikan segenap kemampuannya bagi kebajikan masyarakat”.
Dilahirkan dari keluarga Brahmana pada hari Selasa Wage, Wuku Dungulan, Saka 1800 atau 1878 M di Geria Taman Sari, Sanur. Semasih welaka, saat mana belum didiksa, disucikan jadi pendeta, Ida Pedanda Made bernama Ida Ketut Aseman. Menginjak taruna ia menyunting Ida Ayu Rai dari Geria Sindu, Sanur. Sayang bahtera rumah tangga tidak bisa diteruskan, karena sang istri menolak menjalani hidup sebagai wiku, di mana dalam usia muda harus menjalani upacara diksa. Pedanda Made pun memberi kebebasan Ida Ayu Rai. Bahtera rumah tangga tak bisa dipertahankan. Ida Ketut Aseman mengambil sikap berpisah. Dari perkawinan ini beliau melahirkan seorang putri bernama Ida Ayu Pidin. Selang bebarapa lama, Ida Ketut Aseman menyunting istri kedua, setelah madiksa bernama Pedanda Istri Made, dari Geria Puseh, Sanur. Dari perkawinan kedua ini lahir seorang putri bernama Ida Ayu Siti.
Merasa diri sebagai orang yang menambah padatnya penduduk (pangresek jagat), tidak berguna miskin dan malas, yang hanya bisa bicara, bagai suara burung di pagi hari. Menginjak usia 27 tahun Ida Ketut Aseman pergi meninggalkan orangtua (maninggalin yayah bibi). Bersama kekasih hati, mengembara menyusuri desa-desa. Kegelapan seakan menyelimuti hati, akhirnya Ida Aseman menetapkan pikiran: hendak berguru menghadap sang nabe di Geria Mandara, Sidemen, Karangasem.
Bersama istri yang setia, Ida Ketut Aseman kukuh menentukan sikap. Ia hendak mengembara ke peradaban batin. Pilihan itu dinyatakan pada sang istri dengan penuh kesungguhan: “idep beliné mangkin makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awaké tandurin, guna dusu né kanggo ring désa-désa . Keinginan kakanda kini, coba melepas keterikatan dunia, tiada punya tanah sawah, hendaknya badan ini ditanami, dengan keterampilan hidup, sebagaimana panggilan orang-orang desa itu.” Inilah kunci kemandirian Ida Pedanda Made. Bahwa titik pusat kreatifitas, tidaklah terletak pada hal-hal fisik. Semestinya sumber diri itulah sepatutnya diberdayakan, dibor guna melahirkan generasi mandiri. Dari “tanah” yang terhampar di pusat diri ini seyogyanya diri ditanami kecerdasan dan keterampilan. Hanya dengan semangat seperti itu orang bisa mandiri, merdeka dalam menentukan diri sendiri.
Tak terpeleset, memang. Nyatanya, penghayatan pada “guna dusun” itu mengantarkan Ida Ketut Aseman tak cuma menjadi seorang pendeta besar. Namun sekaligus juga seorang petani yang saban hari memuja ibu bumi dengan tambah, menerjemahkan puja dengan kerja. Lalu kian hari tumbuh menjadi seorang arsitek yang paham filosofi rancang bangun, pasih dalam ilmu mengukur tanah, menguasai keterampilan hidup begitu luas: menakik tapel, mengukir arca pralingga, membuat kulkul [kentongan], pemulas warna, sekaligus pengarang besar yang dihormati - perancang candi bahasa ternama. Atas pilihan hidup itu, ratusan teks keagamaan disalin ulang, puluhan karya satra diciptakan.
Sebagai ahli sastra - sebagaimana tersurat dalam cacatan otobiografis geguritan Salampah Laku, terang dicatatkan bahwa, Ida Ketut Aseman pertama kali belajar sastra dari Ida Bagus Jelantik di Geria Somawati. Begini antara lain Ida Pedanda menuliskan semangatnya: Sun anut solahing guru, sang wonten ring Somawati, juru kawi Bali kuna, pratama guru mangaji, maguru lagu len tembang, nama Ida Bagus Jelantik [Saya mengikuti jejak guru, berumah di Somawati, pengarang Bali Kuna, pertama belajar pada guru, mendalami lagu dan tembang, Ida Bagus Jelantik nama beliau. Namun bersama-sama dengan I Gusti Made Agung, Raja Badung yang gugur dalam perang puputan, Ida Aseman juga belajar sastra pada seorang pendeta dari Geria Sindu, Sanur. Sudah tentu pembelajaran bertahun-tahun di Geria Sidemen dan Budakeling, Karangasem merupakan pembelajaran panjang - kelak membentuk prototipe-nya sebagai pendeta besar.
Sementara keterampilan menakik tapel beliau pelajari dari seorang guru di Puri Gerenceng, Denpasar. Bakat beliau dibidang sastra diterima dari garis ayah. Sementara bakat arsitektur diterimanya dari garis ibu. Maka jadilah Ida Pedanda Sidemen pengabdi hidup di jalan kerja dan pengetahuan. Melakoni hidup di jalur kreatifitas religius disebut sebagai bhasma sesa dan gandha sesa. Bhasma sesa adalah jalan pengetahuan mengikuti jejak Bhagawan Byasa. Sedangkan gandha sesa, merupakan kreatifitas kearsitekturan, guna gina Bali mengikuti jejak Bhagawan Wiswakarma. Inilah ketunggalan kerja yang komplit, utuh menyeluruh. Suatu sikap dan pilihan di mana kelak membentuk diri jadi kreatif dan inovatif - mandiri dan merdeka. Pendeknya, pilihan itu ditransformasikan ke bidang kehidupan lebih luas. Di situ ilmu tak jadi keramat, ia teraplikasi penuh dalam hidup sehari-hari.
Memasuki usia paro baya beliau mengaku baru berguru dua kali. Dan sang calon pendeta berkeinginan kembali ke Mandaragiri (makasudnya Geria Mandara, Sidemen) menghadap sang guru - untuk berguru buat ketigakalinya. Mangungsi Mandari Giri, puput maguru ping telu, malih amari wara, ngusap suku sang resi, gawe ayu dadi jejek sang pandita [Menuju Mandara Giri, setelah tiga kali berguru, kembali memohon pensucian, mengusap kaki sang rsi, jalan mulia menjadi pendeta].
Demikianlah, di pagi buta, Ida Ketut Aseman berangkat di pagi hari ditemani sang istri menyusuri pantai selatan Pulau Bali. Setiba di Mandara, sang pandita guru menerima Ida Aseman sebagai murid paling bungsu. Seterusnya melewati proses diksa (disucikan) Ida Ketut Aseman berganti nama menjadi Ida Pedanda Made Sidemen.
Dua puluh tahun Ida Pedanda Made Sidemen telah berpulang. Namun di tengah-tengah dunia yang tengah sakit ini ada hal penting senantiasa perlu dicamkan dari sikap hidup Ida Pedanda Made. Dalam arus zaman yang kian memadat, jauh sebelum kapitalisme menguasai tanah Bali, bukankah sang wiku telah berhitung prinsip? Membalik arus kesadaran, dari fenomena fisik geografis (karang-sawah) ke fenomena psikis jagad diri (karang awake tandurin). Bahwa badan manusia Bali-lah sesungguhnya tanah yang paling menentukan masa depan Bali. Untuk itu pilihan pencerdasan, pembelajaran diri, mengasah “guna dusun” dalam konteks modern menjadi komitmen penting strategi Bali masa depan. Sebab, badan inilah benteng terakhir manakala gelombang globalisasi merambah “tanah” dan “natah” Bali.
Iya, pendeta yang memilih jalan sunyi sejak usia muda itu memang telah pergi meninggalkan jazadnya, tapi ajarannya, pesan-pesanya masih bisa kita simak dalam guratan-guratan lontar yang bertumpuk, pesan itu mesti dialirkan, ke kanal-kanal baru, ke telaga-telaga jiwa peradaban batin Bali. Ketika kanal peradaban mulai keruh, saat agama, upacara, ilmu tak kuasa memberi nyala hidup kembali, yang silam tak mesti ditinggalkan, yang lampau harus hadir dengan kesegaran baru. Yang silam harus hadir mengisi nutrisi jiwa yang baru, maka senantiasa peradaban batin itu menyala, bagai gni sakunang, nyala yang menyejukkan. ***
Catatan: Pendeta ini lebar 10 -9-1984
I Wayan Westa,
penulis, pekerja kebudayaan
//Tuhan bagi manusia Bali adalah sesuatu yang menubuh, sangat dekat dengan hidup sehari-hari, maka Tuhan dipuja lewat sarana yang paling dekat pada hidup//
Tiada paling jahil tinimbang Pan Bungkling dalam urusan kesangsian ber-Tuhan. Dalam teks geguritan berbahasa Bali, sosok antagonis ini digambarkan sebagai kritikus tanpa tedeng aling-aling. Menyangsikan aturan agama, meledek upakara, mencetang petuah suci sang pendeta. Saban hari kerjanya cuma beradu argumen, mengunjungi orang pintar, berdebat filsafat, mengkritik cerdik pandai yang sok tahu urusan Tuhan. Karena keberanian itu ia sering kena marah. Bungkling dicaci sebagai anjing hina, yang kerjanya hanya menggongong.
Namun di balik “kepandiran” Pan Bungkling, sosok nakal ini bukanlah seorang ateis, yang mengumandangkan slogan “Tuhan telah mati” sebagaimana kotbah tokoh filsafat Barat, Nietzche pengarang Zarathustra. Sebaliknya Bungkling kerap mengkritik uraian-urain berbelit pendeta mata duitan, yang pura-pura tahu perihal surga dan neraka. Yang menganggap hidup ini lurus selurus-lurusnya, tanpa belokan dan tikunagan.
Suatu hari Bungkling menghadap Ida Gede Gangga Sura, pandeta ternama, ahli upacara termasyur. Dari keahlian ini sang pendeta mendatangkan rezeki berlimpah, maklum selain sebagai pendeta, Ida Gangga Sura juga penjual banten, plus pendarma wacana andal. Sang pendeta dikenal sangat terpelajar, paham rumus-rumus suci, terampil berdebat. Karena itu, Pan Bungkling hendak datang mengolok-olok, sekaligus mengujinya. Sembari menyembah taksim, ia datang menghadap Ida Gede Gangga Sura, mengabarkan sang ibu kandung meninggal kemarin sore. Bungkling datang ke geria hendak membeli sesajen pabersihan (pensucian) buat jenazah sang ibu. Dengan biaya hanya dua belas ribu, pendeta ahli upakara menyanggupi. “Di geria semua urusan jadi gampang, di sini banyak ahli banten, “ jawab Ida Gede Gangga Sura pendek.
Begitu sesajen usai , Bungkling mengamati teliti, semua detail banten diperhatikan. Bungkling merunduk, mendekat kehadapan Sang Pendeta, yang saat itu tengah sibuk di pamerajan. Tak lupa menghatur sembah, Bungkling bersapa hormat, “Hormat tuanku pendeta utama, saya telah melihat sesajen itu, hamba agak bingung, betapa beraneka sarana tergelar di atas talam, ada cermin, baja, minyak, bunga melur, umbi gadung. Itu saya tahu, ini memang sesajen penyucian, namun saya belum mengerti, apa gunanya semua itu sang pendeta?” tanya Pan Bungkling polos.
“Pertanyaanmu ada-ada saja Bungkling, bawalah uangmu ke sini, jangan berdebat," anjur sang pendeta dengan nada berat.
Sang pendeta berlagak menjelaskan, “Beginilah maknanya, ini tradisi dari zaman dahulu, kelak bila menjelma kembali, bunga melur akan menjadi taring, umbi gadung akan menjadi kulit, cermin sebagai mata yang cerlang, baja sebagai gigi, agar kelak dalam penjelmaan nanti semua sempurna," terang Ida Gangga Sura yakin.

Bungkling tertawa terbahak-bahak, “Sekarang hamba mengerti, namun hamba heran, hamba pernah meliat orang mengubur sapi, tak disertai upacara apa-apa. Tapi hamba lihat, tak seekorpun mata anak sapi yang baru lahir itu bermata kabur? Bagimana dengan putra sang pendeta, kok sebelah matanya picek, mungkinkah cerminnya kabur, kulitnya juga kasar, apa mungkin umbi gadung yang dipakai belum dikelupas? Sodokan Pang Bungkling ini menyebabkan Ida Gede Gangga Sura marah, meledak tak ubahnya magma gunung. Bungkling diusir dengan kasar. Sembari tetap ketawa, Bungkling melengos keluar tanpa pamit.
Selebihnya silakan pembaca budiman mengapresiasi kritik ini, dan tidak hanya kini, kritik model ini sudah muncul sejak zaman dulu. Bisa dipastikan, dulu kritik semacam ini hanya keluar dari bibir seorang pendeta, tidak manusia sampah seperti saya. Dan Geguritan Bungkling ditulis oleh seorang kawi dalang, bernama Ki Dalang Tangsub, nama bekennya Rangdi Langit [bang akasa]. Selain Geguritan Bungkling ada juga Geguritan Bongkling, bisa jadi yang ini karya seorang pendeta.
Di balik pertanyaan kritis, pengarang Bungkling sebenarnya hendak meluruskan, menjewer tokoh panutan yang merasa tahu jalan kesejatian, kendatipun sesungguhnya tak seorangpun bisa memberi kepastian, tak seorangpun paham kebenaran final. Bahwa kita semua adalah para pencari. Karena sesesungguhnya manusia yang sadar itu adalah para pemburu makna. Makna dan penghargaan pada hidup itu membuat orang selalu bisa bersyukur, menjauh dari keangkuhan-keangkuhan tidak perlu.
Apakah laku yang dijalani Ida Gangga Sura dalam Geguritan Pan Bungkling merupakan jalan tunggal? Jawabnya, jelas tidak. Karena jalan dan cara tak lebih dari sekadar bagaimana manusia mendekatkan diri pada Sang Penentu Hidup. Semua jalan menyadari kehadiran Sang Maha Urip syah adanya. Namun dalam tautan keragaman Hindu Bali – ketunggalan jalan, sama artinya dengan tidak ada pilihan. Karena itu tetua Bali sangat menghargai yang namanya keragaman, termasuk dalam urusan ber-Tuhan dan beragama. "Ngungsi pucak gunung marginin saha idep, menuju puncak gunung pilih dari mana kita suka," ini isyarat yang diberikan para tetua Bali. Nun jauh, Bagawadgita menunjukkan upaya yang sama. “Jalan manapun engkau tempuh, semua akan sampai kepada-Ku."
Orang Bali udik tentu belum pernah membaca kitab Bagawad Gita. Kendati demikian, praktiknya telah dilakoni sebelum kitab ini jadi bacaan wajib kalangan terpelajar. Pertanyaan kemudian, seperti apa visi Ketuhanan manusia Bali? Bagi masyarakat yang tak akrab dengan teks, dan bagi mereka yang tak pernah mengenyam pendidikan ala sekolahan, Tuhan tentu jadi lebih khusus dalam pemahaman dan penghayatan mereka. Umumnya mereka tidak mengenal Tuhan sebagaimana dibayangkan para yogin. Juga tak mengenal Tuhan sebagaimana digambarkan kitab-kitab Weda dan Upanisad. Lalu apakah dengan begitu mereka tidak ber-Tuhan? Sekali lagi jawabnya: Tidak. Jangan lupa, bahwa tradisi rontal-rontal Bali menggambarkan Tuhan dengan aneka atribut, aneka fungsi, lengkap dengan aneka pemujan. Tuhan di-nyasa-kan didalam aneka medium, bahkan di dalam tubuh kita sendiri. Sekelompok aksara suci yang disurat pendeta saat upacara pawintenan adalah laku me-nyasa-kan Tuhan di dalam tubuh. Begitu juga banten, selain sebagai medium menyalur energi magis, sebagai bahasa, banten adalah wujud persembahan.

Tuhan bagi manusia Bali kerap disebut Widhi, Suwung, Embang, Maha Urip, dan Kawi. Sebutan ini jelas bukan nama-nama Tuhan pijaman ala India, melainkan nama Tuhan asli Bali. Jadi menarik dicermati dari laku “ber-Tuhan” manusia Bali bukanlah prihal konsepnya yang tinggi dan abstrak. Melainkan dalam ukuran penghayatan, orang Bali adalah pemuja yang tulus, polos dan sederhana. Dalam kultur hidup orang Bali, beragama bukan berarti memiliki semata pengetahuan agama. Namun bagimana melakonkan agama dalam hidup, tidak melulu tekstual, teoritis apalagi. Untuk itu dalam urusan dekat dengan Tuhan merupakan urusan pribadi. Seorang sulinggih belum tentu mendapat “kredit” besar di mata Tuhan tinimbang seorang petani lugu. Petani polos yang pikiranya tidak pernah berpaling pada yang lain, kecuali memuja bumi dengan tambah, cangkul. Tak pernah mengeluh dalam kondisi panas dan hujan.
Justru itulah di Bali orang menemukan beragam penghayatan ber-Tuhan demikian kompleks, luas dan jelimet. Tapi sejatinya manusia Bali tergolong pemuja yang rendah hati, terbuka pada sesuatu yang memberi keselamatan, ketenteraman, dan kemudahan hidup. Maka tak perlu disalahkan, jika orang Bali juga “menyembah” di pohon besar, di jurang yang keramat, di batu besar, dan di tempat-tempat yang dianggap memiliki tuah. Sesungguhnya mereka bukan pemuja berhala, mereka mengakui, menghormati semua ciptaan. Mereka suka merendahkan egonya serendah rumput, karena dengan begitu ia seakan-akan menyembah kaki-Nya.
Saban ada rerainan orang Bali menghaturkan sesaji di tungku jalikan tempat memasak, gentong tempat air, pada alat-alat dapur, alat-alat pertanian, dan sebagainya. Di sini Tuhan bagi manusia Bali adalah sesuatu yang menubuh, sangat dekat dengan hidup sehari-hari, sebab lewat alat-alat itu ia memperoleh kemurahan hidup-- maka itu Tuhan dipuja lewat sarana yang paling dekat pada hidup. Karena aspeknya bertalian dengan hal-hal yang bisa dibayangkan, nyata, berwujud dan menubuh, aspek ini dalam lontar-lontar Bali kemudian disebut sebagai Saguna Brahma - Tuhan yang bisa dibayangkan, dirasakan, sekaligus dekat dengan keseharian.
Tak demikian halnya dengan kaum terpelajar, pandita bijak yang dekat dengan teks, di sini Tuhan dihayati sebagai sesuatu yang tak berwujud. Karena para pandita memiliki abstraksi tinggi, maka Tuhan dibayanngkan sebagai Nirguna Brhama, Tuhan yang tak dapat didifinisikan, apalagi dipikirkan. Justru itu Tuhan tak dicari dengan sarana upacara semata, tapi dicari lewat retret khusus, yakni entah namanya meditasi, upawasa, yoga samadi, dll.

Teks-teks yang menjelaskan penjelajahan Tuhan menuju asfek nirguna brahman di Bali lumayan beragam. Mulai dari kitab tertua Bhuwana Kosa, Ganapati Tatwa, Wrhaspati Tattwa, Jñānasiddhanta, Tutur Kalepasan, Jñāna Tatwa, dan sebagainya. Teks ini menjadi acuan penting bagi kaum yang suntuk memasuki peradaban aksara. Boleh dibilang teks ini merupakan kitab “upanisad” ala Bali. Para pandita menyebutnya sebagai tutur kalepasan atau tutur kapatian. Karena yang dijelaskan dalam teks ini semata bagimana cara mati yang benar, cara meniada dengan sungguh.
Pendeknya susastra di Bali cuma memaparkan dua hal penting, yakni bagimana hidup dengan benar, dan bagimana cara mati dengan benar. Teks-teks tentang dua jalan ini, alih-alih teks yang menunjuk pada pembebasan (kelepasan) sungguhlah melimpah. Para penekun agama di jalan teks, amat sering memperdebatkannya, menulisnya secara berulang. Meyakini semua aporisme itu sebagai kebenaran tak dapat digugat.
Dan Pan Bungkling adalah sosok yang amat garang mengkritik aporisme itu. Siapa saja yang suka membaca Geguritan Pan Bungkling akan mendapat gambaran, lompatan-lompatan pernyataan yang menyangsikan setiap argumen yang saling berkelindan. Pengarang Geguritan Pan Bungkling sebenarnya tengah melakukan otokritik bagi mereka yang terpenjara teks. Seorang pejalan rohani sesungguhnya adalah mereka yang telah melampaui teks. Ia yang telah menjadikan dirinya sendiri sebagai teks. Itulah sastra paraga, sastra yang menubuh, di mana seluruh pikirannya, kata-katanya, tindakannya adalah teks yang menyalakan kesadaran para pencari nyala hidup- sudipa ring kulem. Sekaligus tidak kering pemaknaan, gersang penghayatan, dan kerontang dalam laku sehari-hari. Dia itulah patirtan jagat, tempat orang-orang menemukan kesejukan batin. Dia pula guru-loka, guru bagi dunia saat zaman terombang-ambing kehilangan panutan.
Tabik
IWayan Westa
Pekerja Kebudayaan
Ada banyak orang yang paham kalau manusia mesti menanam kesabaran. Bahkan kesabaran harus dipupuk sejak dini agar tumbuh seperti beringin. Beringin kesabaran itu yang meneduhkan penanamnya dan orang yang mau berteduh di bawahnya nanti. Untuk memupuk kesabaran, para ahli sastra jaman dulu membikin cerita tentang Dharma Wangsa yang sangat sabar. Barangkali tokoh ini sedang meniru pertiwi yang sangat sabar juga, meski diperlakukan dengan kejam. Bumi dikeruk tanahnya, diambil batu-batu mulianya, disedot minyak-minyaknya, diinjak-injak badannya, tapi bumi tidak pernah marah.
Dharma Wangsa pun begitu. Meski kerajaannya dirampas, kehormatannya ditindas, istrinya ditelanjangi, dia tetap pada pendiriannya yang sabar. Tetapi kita musti mau mengakui bahwa Dharma Wangsa hanya tokoh ideal yang dihadirkan pengarang untuk menunjukkan, menerangkan, mencontohkan ciri-ciri manusia penyabar. Selebihnya, manusia cenderung kalah dari ketidaksabaran.
Salah satu alat ukur kesabaran yang dimiliki oleh orang Bali adalah upacara. Di dalam upacara apa pun, terkandung beberapa hal yang bisa dimanfaatkan untuk mengukur kesabaran. Bila kesabaran tidak cukup, kita sebut saja keuletan, dedikasi.
Apa cirinya bahwa kita kehilangan kesabaran saat berupacara? Pertama, kita abai kepada wariga. Padahal wariga memberi kesempatan untuk menunggu, sambil menyiapkan segala sesuatunya agar maksimal. Di titik ini, kita sudah kalah melawan ketidaksabaran. Ada banyak aturan tentang upacara menurut pustaka yang dilanggar, karena kita dituntut serba cepat. Kalau tidak cepat, bisa-bisa akan digilas oleh kepentingan lainnya di luar upacara.
Kepentingan yang dimaksud, berupa kepentingan untuk bertahan secara ekonomi semisal pekerjaan yang dituntut selesai dengan cepat. Perubahan pola kerja sangat mempengaruhi cara berupacara. Malah perubahan ini merupakan penyebab yang paling kentara. Sangat mudah mengidentifikasi kebiasaan kita yang berubah karena pola kerja berubah.
Selain ekonomi, teknologi dan industri juga andil dalam perubahan itu. Contohnya, kita tidak lagi berpikir kalau panampahan Galungan digeser maju sehari akan memberi masalah pada kualitas daging karena sudah dibantu lemari es. Masuknya daging ke lemari es, merupakan bukti kalau pola hidup dan upacara memang sudah berubah.
Kedua, tekhnik menyiapkan kelengkapan upacara yang berubah. Untuk kasus ini, kita ambil contoh cara memasak. Ada banyak cara untuk memasak kelengkapan upacara yang dikenal di Bali. Entah itu menggoreng, merebus [lablab], mengukus [ngukus], membakar [ngebek, panggang], dan seterusnya. Meskipun semuanya dimasak dengan api, alat bantunya yang berbeda-beda. Ada alat bantu berupa minyak, ada air, dan ada bara.
Bila orang-orang percaya bahwa leluhurnya adalah manusia cerdas dan bijak, perubahan cara masak ini tidak akan terjadi. Sebab, beda cara masak, beda penyebutan. Beda penyebutan, beda barang. Beda barang berarti beda simbol. Karena simbol berbeda, maka maknanya pun berbeda. Hal ini sekaligus membuktikan, kebanyakan dari kita memang sudah berubah. Barangkali di antara kita yang berubah ini, ada kaum-kaum yang memasukkan dirinya sebagai kelompok konservatif yang menolak perubahan. Kaum-kaum yang menurut pandangannya sendiri menjaga keajegan tata upacara ala Bali.
Memang terkesan menyedihkan. Namun inilah kenyataan yang mesti diterima dengan lapang dada. Di tingkat paling luar dari agama Hindu-Bali, yakni upacara, kita sudah banyak berubah. Meski begitu, kita tidak perlu larut dalam kesedihan. Yang terpenting sekarang adalah bahwa kita mesti menyadari kita perlu lebih bersabar. Kesabaran adalah Dharma. Bila tidak punya kesabaran, sama artinya tidak punya Dharma. Bila Dharma saja tidak punya, mana mungkin merayakan kemenangannya. [*]
IGA Darma Putra
09.07.2022
//Datanglah padanya dengan kesungguhan hati, akan menjadi kunci Anda mendapatkan sesuatu di sana. Jika pertanyaan Anda tidak berkualitas, atau sekadar bertanya, jangan harap sang wiku mau buka mulut//
Di Penatih, sebuah desa di bilangan Kecamatan Denpasar Timur, orang bisa lewat begitu saja. Tak ada keajaiban di sana, kecuali huma kian menyempit.Tak terdengar lagi lenguh sapi dipecut petani. Orang-orang sibuk untuk diri sendiri. Larut dalam hingar – bingar zaman. Suasana dukuh ibarat pergulatan yang tak pernah usai. Deru kendaraan, gemuruh lalulintas beradu dentingan hening genta. Di pagi buta, suara itu bagai menghadirkan fajar baru, bahwa hidup mesti disegarkan senantiasa.
Tengoklah di pagi lengang , di Geria Pinatih, seorang pendeta tua seperti hendak berlomba dengan waktu. - suntuk memuja surya – sang maha cahaya. Puja dan mantra terdengar sayup. Hidup dirasakan begitu singkat, layaknya kilatan petir. Dan kemudian, doa pun punya arti, sebagai penyangga hidup yang singkat . Ya, dialah sang pendeta tua Rsi Agung Pinatih. Seorang suci yang senantiasa mengaku diri bodoh dan dusun – belog tani ngun-ngun. Namun di balik itu semua , sang Rsi-lah sesungguhnya manusia Bali utuh. Seorang arsitek, pemahat, pencinta sastra, ahli wariga, petani, sekaligus wiku senior yang menjalani hidup dengan amat sederhana.
Sang wredha pandita subrata, pendeta tua yang teguh pada janji diri. Inilah pujian yang paling pantas buatnya. Kini memasuki usia 95 tahun, Rsi Agung masih sanggup melayani umat. Sudah 61 tahun ia meniti jalan sunyi itu , menjadi pelayan, membasuh dahaga umat sampai nun jauh menyusuri pelosok desa-desa sajebag Bali. Kadang menyeberang arungan (laut), menembus kabut pedalaman desa-desa Jawa. Orang tak akan pernah mendegar kata letih dari pendeta tua ini. Sang Rsi memang tidak membiarkan fisiknya lapuk begitu saja. Atau tunduk dimakan sang waktu begitu lalu. Hari-hari bagi sang Rsi adalah memuja dan bekerja. Hanya dengan inilah waktu dapat “ditundukkan”. Hanya dengan melayani hidup ditinggikan. Hanya dengan pengabdi hidup diringankan.
Lahir tahun 1906, dengan nama welaka I Gusti Ngurah. Tak ada keajaiban dan tanda istimewa pada hari lahiranya. Hanya masa sulit yang membelit. Bali tengah ditekuk kolonialisme. Ekspedisi Belanda membuat raja-raja Bali bersungut, tunduk hormat pada Sang Ratu Wilhelmina. Keris kesatria Bali yang elok itu tak berarti apa-apa dihadapan meriam dan intrik kolonial. Demikianlah sebuah zaman melintas, turut membesarkan bayi merah yang akrab dipanggil Ngurah Gde. Tak ia rasakan senyum ibu di pangkuan, dalam dekapan hangat gending-gending rare.
Memasuki usia 8 tahun buat pertama kali Ngurah Gde mengeyam pendidikan formal di sekolah rakyat. Tampaknya tak banyak prestasi pada setiap pelajarannya, Ngurah Gde kecil ternyata lebih memiliki kepekaan intuitif tinimbang rumus-rumus pelik. Selepas sekolah rakyat, Ngurah Gde lebih tergoda tapel barong, memulas, menakik kayu sebagai kegiatan walatanda (ketrampilan tangan). Kegiatan yang ditekuni nyaris sepanjang hidup. Tak ada pilihan kecuali harus dijalani. Bakat telah menuntunnya sedemikian jauh. Karena hidup memang tak hendak untuk dipilih. “Kita mesti menjalani,” tukas Rsi Agung rendah.
Tak pernah terbetik dibenak bahwa kelak ia akan menjadi pendeta. Tak pernah terpikirkan bahwa Siwa Upakarana (alat-alat pemujaan pendeta Siwa) yang tersimpan berabad-abad di mrajan-nya menjadikan arah hidupnya lain – terpanggil menjadi wiku. Konon Siwa upakarana itu warisan leluhurnya dari Jawa. Memang di tanah Jawa, di zaman raja-raja Jawa leluhurnya seorang wiku, Mpu Sedah namanya. Beberapa abad setelah mengungsi ke Bali generasinya tak melanjutkan tugas itu. Inilah alasannya kenapa Gusti Ngurah Gde kelak kembali melanjutkan tradisi leluhurnya, menyambung alir kependetaan yang putus.
“Dini di Penatih panyaman Bapa mula tusing taén buin nyemak sasana kawikon, kesahé rarud uling Jawa metu tan éling malih, ento mawinan keni kareredan. Jani Bapa buin ngingetang, sakasidan malajahang déwek tekén gumi. (Di sini di Penatih, keluarga Bapa memang tidak lagi ingat pada sasana kawikon, sepeninggal dari Jawa tidak sadar lagi, itu sebabnya surut. Kini kembali Bapa ingat, sebisanya membelajarkan diri kepada masyarakat,” papar Sang Wiku pelan.
Di Penatih, di lingkungan keluarga besarnya, Gusti Ngurah Gde tak pelak merupakan generasi pertama yang kembali menjalani hidup sebagai wiku. Justru setelah berabad-abad terputus. “Dini Bapa mula anak tiwas tusing ada apa, panyaman Bapa makejang babotoh, mamiyut. Bapa simalu ané ngarepang nyaluk sasananing kawikon dini, nuur pamargin kawitané nguni (Bapa di sini memang orang miskin, keluarga Bapa semuanya penjudi, tak karuan. Bapa yang pertama menjalankan sasana kawikon, menjadi sulinggih,”) kenang Rsi Agung datar.

Menyadari ini semua, memasuki usia 30 tahun, Gusti Ngurah Gde berketetapan hati menapak jalan sunyi itu. Bersiap-siap menjadi pendeta. Sadar bahwa jalan ini begitu berat, begitu terjal. Ini keputusan begitu berani, memang. Banyak sejawatnya mengurut dada. Orang boleh sangsi dan mencemoh kesanggupan itu. Bayangkan, dalam usia sebelia itu, pilihannya kukuh akan menjalani masa panjang - hidup sebagai seorang wiku. Sebuah pilihan yang tak boleh dianggap main-main. Demikianlah, seorang diri Gusti Ngurah Gde muda menghadap sang calon nabe (guru diksa) Ida Pedanda Gde Rai, di Geria Kutri, Gianyar.
Calon guru nabe, Ida Pedanda Gde Rai tampaknya bersambut. Tapi dengan satu syarat Ngurah Gde mesti digembleng dulu seorang guru waktra (guru pemblajaran). Bila lulus dari gemblengan itu hendaknya ia bisa didiksa menjadi sulinggih. Demikianlah, Ida Pedanda Rai memohon pada Ida Pendanda Made Sidemen, pendeta dan sastrawan besar Bali dari Geria Intaran , Sanur untuk mengajar calon sulinggih Gusti Ngurah Gde. Jalan lempang telah membentang di hadapannya. Masih terbayang jelas kejadian itu, di pagi-pagi buta, dari Penatih yang masih subur sawah hijau, Ngurah Gde berjalan dengan kaki telanjang menuju desa Sanur, anyuun pada, mengahadap guru waktra, Ida Pedanda Made Sidemen.
Demikianlah proses aguron-guron terjadi antara I Gusti Ngurah Gde dengan guru waktra, Ida Pedanda Made Sidemen. Ngurah Gde tak hanya memperoleh ilmu tentang kependetaan, tapi juga prihal guna dusun, yakni memperdalam asta kosala-kosali, membuat sukat, menakik tapel, pratima, dan sebagainya. Ida Pedanda Sidemen telah menjadikan Ngurah Gde seorang anak manusia yang mandiri merdeka, bahwa badan inilah sesungguh sawah. Ketergantungan pada yang lain akan membuat bandan ini kerontang, tandus. Tak mungkin bisa melahirkan kreatifitas. Apa lagi keunggulan batiniah. “Yaning mungguing guna gina wantah mula tumbuh saking dewek,” ingat Rsi Agung sembari terpejam.
“ Patitise masih apang melah, anut teken kadarman, eda pamerih, pastika nemuang rahayu”, imbuh Rsi Agung yakin. Memang tujuan itulah harus jelas, tanpa pamerih, dengan begitu kerahayuan ditemukan. Dengan keyakinan inilah di tahun 1940, Ngurah Gde kembali menghadap guru nabe Ida Pedanda Gede Rai di Geria Kutri. Menyatakan kesiapannya untuk hidup “bersunyi diri, menjadi sulinggih menjalankan amanat Rsi Sasana. Dan pada tahun yang sama Ngurah Gde resmi menjadi sulinggih dengan amari aran (berganti nama) Ida Rsi Agung Pinatih. Air mata menitik ketika Rsi Agung meninggalkan Geria Kutri. Inilah awal sang Rsi mengalami kehidupan baru. Kendati umurnya baru 34 tahun, sang Rsi telah melempangkan harapan-harapan baru bagi generasi mendatang. Rsi Agung kini tak lagi milik keluarga besar Pinatih, namun telah menjadi milik semua orang.
Enam puluh satu tahun jalan sunyi itu telah bersamanya. Jarak yang cukup panjang, memang. Banyak ketegangan dan onak dirasa. “Yaning pajalane ke suwung anak mula srebi, tuah galange padidi patut anggon suluh (Jalan menuju sepi memang lengang menakutkan, sinar diri itulah sepatutnya dipakai penerang),” papar sang Rsi sembari terpejam. Memang sebagaimana anggapan Rsi Agung bahwa yang paling sulit dilakukan adalah belajar menjadi bodoh. “Sengka malajahin belog ”. Karena kini amat banyak orang yang pura-pura pintar, atau ada juga pintar tapi jahat (pradnyan jahat). Bagi Rsi Agung, dua watak orang ini sama bahayanya. Dua-duanya memendam bisa dikepala. Benar memang, seekor ular cuma memendam racun di kepala. Tapi racun manusia jahat, menggenangi seluruh tubuhnya.
Kendati tokoh lingsir ini terdengar sayup, jarang dirujuk orang, namanya tak bisa dilepaskan dari pergerakan umat sejak awal. Pada tahun 23 – 11 – 1959, ia didudukan dalam keanggotaan Paruman Sulinggih Parisada Hindu Bali (nantinya menjadi Parisada Hindu Indonesia) yang beranggotakan 11 orang sulinggih. Memang begitu populis keanggotaan itu, tak hanya melibatkan para Pedanda, tapi juga para Mpu, Rsi, Dukuh, dan Bhagawan. Tugas para sulinggih ini adalah menyusun tafsir, menata kehidupan agama dan mengeluarkan bhisama bila mana perlu. Tercatat sampai tahun 1980-an Rsi Agung masih aktif di Paruman Sulinggih itu.
Barangkali tak banyak dicatat, dibidang penataan agama, Rsi Agung sejak awal telah melakukan perubahan secara nyata, yakni menyakut esensialisi yadnya. Misalnya, sejak tahun 1950-an, Rsi Agung sudah mendatangi 95 setra di seluruh Bali guna memimpin upacara “ngaben panerus”. Ngaben jenis ini tak perlu ada upacara di rumah. Semua cukup dan selesai dilakukan di setra. Tanpa upacara besar, tanpa usungan wadah megah, irit beaya dan waktu.
Menurut Rsi Agung, ngaben ini memang berbeda dengan Ngaben Tumandang Mantri atau Ngaben Nglanus, misalnya. Perombakan ini awalnya banyak dikritik orang. Tapi orang jadi mafum, bahwa dosa dan kesalahan tak bisa ditebus dengan ngaben gede, dengan bertruk-truk babanten. Semua berpulang ke esensi dan karma masing-masing. Inilah jasa besar Rsi Agung yang perlu diteruskan.
Rsi Agung Pinatih, boleh jadi sulinggih paling tua kini di Bali dan sangat dekat dengan kesederhanaan. Sungguh betapa sering sang rsi mewanti-wanti: “Eda nganistaang paican Widhi”. Jangan remehkan yang kecil dan hina dina, menilai sesuatu dari penampakan fisik semata. Inilah pesannya pada semua warga, pada kecenderungan yang berlaku kini, karena orang sering terpukau pada yang glamor dan megah. Pesan ini terdengar latah memang. Tapi, sepanjang hayat benar adanya. Landasan inilah yang kini pupus di benak orang. Menganggap hal kecil dan sederhana itu tanpa makna. Pada hal itulah sesungguhnya kemurnian.
Sejujurnya, menurut Rsi Agung tak pernah menyuruh orang berupacara sebagai satu-satunya solusi hidup. “Bapa tusing taén ngongkon anak maupacara, macaru apa luiré. Anak tusing kena baan, nyak nyen slamet anaké ané tundén, dilepete Bapa ngelah alané. Nah sajabaning nyén ia matakon indik upakara mai, ditu Bapa mapeseken (Bapa tak pernah menyuruh orang berupacara, macaru apa lagi. Karena tak bisa terkirakan, apakah bisa rahayu orang yang disuruh, bila katiben musibah, Bapa yang salah. Nah, terkecuali ia datang bertanya ke sini, saat itu Bapa mengingatkan),”
Dalam masa hidup yang panjang, 95 tahun, sosok Rsi Agung memang lebih dekat dengan kedalaman dan kebeningan Ibarat sumur berair jernih. Teks yang tak mudah kita jamah karena keluasan dan kedalamannya. Sang rsi tak akan menjawab bila tak ditanya. Dengan begitu ia jauh dari kesan menggurui, walau sesungguhnya dia-lah sang guru sejati.

“Tuah Abot Ngaba Bisa”
Banyak yang dapat diteladani dari pribadinya. Terutama kesederhanaanya. Secara fisik sulinggih yang satu ini tampak renta, memang. Tetapi ia masih kuat melakukan perjalanan jauh. Dari pagi hingga malam masih gesit melayani umat. Anehnya, Rsi Agung tetap dalam keadaan segar, tak sekali pun merasa letih. Sesekali ia masih suka menabuh gender, sembari menyanyikan bait-baik karya sastra.
Bila Anda kebetulan tangkil di geria-nya yang luas di Penatih, Anda pasti terkesima dengan ketenangannya. Tatapannya begitu teduh, lalu menyapa hangat. Bicara pelan, seperlunya, lalu diam. Orang kebanyakan pasti mengira pendeta ini tuli. Tapi tidak begitu nyatanya. Jika ingin menanyakan sesuatu Anda mesti pandai-pandai mebahasakannya. Datanglah padanya dengan kesungguhan hati, akan menjadi kunci Anda mendapatkan sesuatu di sana. Jika pertanyaan Anda tidak berkualitas, atau sekadar bertanya, jangan harap sang wiku mau buka mulut.
Orang mungkin tak bisa diteladani begitu saja dari kata-katanya. Mereka mesti dipahami dari apa yang mereka lalukan. Inilah sebentuk pertanggunjawaban pribadi Rsi Agung Pinatih. “Bapa mula tusing pati bisa ngraos, ulian jejeh kasengguh bisa. Anak tuah abot ngaba bisa (Bapa memang tidak bisa bicara, karena takut disebut pintar. Karena betapa berat membawa kepintaran,” papar Rsi Agung lemah.
Mungkin rasa rendah hati inilah kini hilang di benak banyak orang. Perang kepintaran sungguh jelas dipertontonkan. “Jadmane jadi demen macokrah, saling sikut tan gigisan, mrebutin raos puyung, saling paduegin (Orang kini senang bertengkar, saling cerca kelewat batas, berebut kata-kata kosong, saling minteri),”. Dan Rsi Agung juga berpesan: jangan habiskan usia untuk hal yang sia-sia.
Waktu akan mengalir terus, lima tahun lagi usia Rsi Agung akan genap satu abad, usia yang tidak semua orang dapat meraihnya. Semoga pengabdiannya menjadi doa bagi kita bersama. ***
Catatan:
Ida Rsi meninggal 23 Nomper 2003, dalam usia 97 tahun
I Wayan Westa
Penulis/Pekerja Kebudayaan
#dance #video #karangasem
Sebuah peristiwa di Daerah Seraya, Karangasem - Bali.
Berlangsung pada tanggal 10 Juli 2016
direkam: //ra
I Ni ar(t)chive 2021
Sebuah cerita pendek dari pergelaran pasar malam/tong edan yang juga menyediakan berbagai wahana hiburan yang terjangkau bagi masyarakat desa, mereka mendekatkan hiburan ke Desa-Desa yang ditujunya. video ini diambil ketika Komunitas MRF (muda ria fair) menggelar pasar malam dan hiburan di Desa Pekraman Selat Karangasem, maret-april 2017. video by: l.taji musik: syech brothers (killing time) produksi: @ini_timpal_kopi support: SAI (saichu Anwar Inisiative) I Solidarity.