//Jauh sebelum kapitalisme menguasai tanah Bali, sang wiku, Ida Pedanda Made Sidemen telah berhitung prinsip, membalik arus kesadaran, dari fenomena fisik geografis (karang-sawah) ke fenomena psikis jagad diri (karang awak)//
Senyap dan lengang. Itulah kesan pertama memasuki Geria Taman Sari, Sanur. Tak terlihat balai megah berukir, pun tak tampak mrajan mentereng didapuk prada emas. Hanya loji tua nyaris tak terawat - di mana ratusan rontal kini tersimpan. Ruangan loji sedikit pengap, buram dan gelap - sinar matahari tak cukup menembusnya. Sang penghuni, Ida Pedanda Made Sidemen, pendeta dan pengarang besar Bali abad ke- 21 telah berpulang, meninggalkan geria ini 20 tahun silam. Namun sejarah tetap mengenangnya. Sang pelaku utuh karma kanda dan jnana kanda ini ibarat fajar zaman - guru jagat tak terlupakan – sosok yang sanggup menyatupadukan kerja, pengetahuan, dan bakti jadi ketunggalan total - utuh menyeluruh jadi puja kehadapan Sang Mahakerja.
Datang ke geria ini setelah 20 tahun sang pendeta berpulang, terasa ada semangat tetap bisa diteladani kini – kendati sayup dan lamat, toh jejak sang pendeta masih bisa disentuh. Saat memasuki halaman mrajan yang tak seberapa luas itu - kesederhanaan tiba-tiba menyajikan sesuatu yang indah. Orang lalu dibuat tercenung, betapa di pengujung zaman kini, peradaban masa lalu itu kian menjauh, silam dan nyaris tak terjamah. Di sini “teks” hidup jadi lebih otentik tinimbang aksara dalam keropak. Karena jejak tulisan saat dituturkan ulang sungguh mudah membias. Bahkan tak jarang jadi kultus. Dan teks otentik itu kini telah menjadi milik masa silam. Mungkin juga milik dunia lain. Ia tak lagi menjadi teks hidup. Sementara ratusan teks yang kini terpejam beku di ruang loji tak mudah lagi dibaca. Ibarat mumi yang dingin. Hanya orang yang mengantongi “sim peradaban aksara” bisa “berdialog” dengannya. Agak tragis, memang. Walau, diam-diam teks yang tak bicara itu, telah melahirkan puluhan sarjana. Maklum begitulah kecenderungan teks tua mengalir kini, yang cuma jadi kajian akademis, kering dan nyaris terasa hambar.
Tercenung di halaman merajan, sembari memandang patung Ida Pedanda Made tengah duduk bersila – menatap dingin tanpa ekspresi. Orang segera diyakinkan bahwa, betapa kesederhanaan tidak mudah diwujudkan dalam kata-kata. Dan Ida Pedanda Made jelas tidak mewujudkan kesederhanaan itu dengan kata-kata. Patung Ida Pedanda Made karya sang murid, Ida Bagus Alit Pidada yang kini disucikan di pamerajan Geria Taman, seperti tak hendak menghapus ingatan zaman – bahwa Ida Pedanda sejatinya adalah seorang yogi, wiku yang senantiasa merealiasikan dirinya dengan kerja. Hanya dengan kerja kaki Tuhan kuasa disentuh. Kemandirian menjadi kunci hidup paling hakiki. Kemandirian mendorong orang menemu maharddhika.
Ada jejak tak bisa dilupakan saban memasuki merajan Geria Taman. Di tempat inilah Ida Pedanda Made menghabiskan hari tuanya – sebelum akhirnya dewa kematian menjemput. Amben di belakang bale piyasan tempat sehari-hari sang wiku beristirahat masih teronggok utuh. Ukurannya kira-kira 2 x 1,5 meter, beratap genting, terserung gedek nyaris lapuk. Di amben inilah Ida Pedanda saban hari berbaring, berbantalkan kayu gelondongan – tanpa baju, tak hirau hari hujan dan panas. Subuh, sebelum kokok ayam pertama bertalu menyapa pagi, Ida Pendada kerap terbangun, tidur terasa dicukupkan. Kesenyapan tiba-tiba pecah, manakala sang pendeta membangunkan abdinya I Tekek – lalu bersama-sama mengalunkan bait-bait Kakawin Ramayana. Sesekali dengan cermat Ida Pedanda memperbaiki terjemahan I Tekek yang salah. “Inilah kegemaran saban subuh dilakukan Ida Pedanda”, terang Ida Bagus Dupem, cicit angkat sang wiku yang kini merawat seluruh tinggalan “rohani” di Geria Taman.
Sayang, di pagi buta, dalam usia 126 tahun, tepatnya tanggal 10 September 1984, tepat di purnama kapat, suara parau yang kerap memecah sunyi subuh itu tidak terdengar lagi. Pagi betul-betul jadi senyap, bait-bait Kakawin Ramayana tak terdengar dilantunkan kembali. Dewa ajal telah menjemput pendeta tua ini. Hanya sang abdi bernama I Tekek duduk merunduk di samping jenazah. Di pagi indah itu, saat bunga-bunga mekar, Ida Pedanda berpulang buat selamanya. Kesedihan menggelayut di bubungan merajan. Deburan ombak di Pantai Sanur masih nyaring terdengar- seperti menyambut roh Ida Pedanda. Pokok naga sari yang tumbuh dekat sumur merajan tiba-tiba meluruh. Teringat hari-hari saat sang pendeta masih bugar - sang kawi wiku (pendeta pengarang) kerap datang memetiknya, menyuntingkannya di telinga sesaat usai memuja Siwa Raditya, sang mahaenergi.
Namun di pagi itu pokok bunga naga sari seperti gelisah, tak sabar menunggu datangnya seorang taruna. Sayang sang taruna tak pernah kembali lagi. Sang pujaan keburu menghadap dewa keindahan, kekasihnya yang abadi. Sejarah hidup Ida Pedanda Made Sidemen pun ditutup dipengujung pagi. Ia pergi setelah mempersiapkan seluruh sarana upakara kematiannya.

Tentu banyak orang merasa kehilangan manakala Ida Pedanda pamit dari dunia ini. Menghadapi tokoh ini tak ubahnya menyelam di samudera luas. Sosok yang dalam hidupnya terakumulasi sejumlah peran dan kwalitas. Seorang wiku, pengarang, ahli arsitektur tradisional Bali, dan ahli pembuat tapel, walatanda. Justru itu tak berlebihan bila Ir. Robi Sularto, arsitek senior yang dikenal dekat dengan beliau memuji Ida Pendanda sebagai ilmuwan terakhir abad tradisional. Seorang pandita yang telah memecahkan arsitektur tradisional Bali secara komperehensif, seorang ilmuwan Timur yang komplit”. Sementara Antropolog Universitas Udayana, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus (almarhum) menyatakan, “Dia mengingatkan saya kepada ahli pikir India abad ke- 8, Sankara, yang melaksanakan agama melalui ilmu pengetahuan. Dia adalah ilmuwan Bali terbesar yang saya kenal. Orang suci yang mengabdikan segenap kemampuannya bagi kebajikan masyarakat”.
Dilahirkan dari keluarga Brahmana pada hari Selasa Wage, Wuku Dungulan, Saka 1800 atau 1878 M di Geria Taman Sari, Sanur. Semasih welaka, saat mana belum didiksa, disucikan jadi pendeta, Ida Pedanda Made bernama Ida Ketut Aseman. Menginjak taruna ia menyunting Ida Ayu Rai dari Geria Sindu, Sanur. Sayang bahtera rumah tangga tidak bisa diteruskan, karena sang istri menolak menjalani hidup sebagai wiku, di mana dalam usia muda harus menjalani upacara diksa. Pedanda Made pun memberi kebebasan Ida Ayu Rai. Bahtera rumah tangga tak bisa dipertahankan. Ida Ketut Aseman mengambil sikap berpisah. Dari perkawinan ini beliau melahirkan seorang putri bernama Ida Ayu Pidin. Selang bebarapa lama, Ida Ketut Aseman menyunting istri kedua, setelah madiksa bernama Pedanda Istri Made, dari Geria Puseh, Sanur. Dari perkawinan kedua ini lahir seorang putri bernama Ida Ayu Siti.
Merasa diri sebagai orang yang menambah padatnya penduduk (pangresek jagat), tidak berguna miskin dan malas, yang hanya bisa bicara, bagai suara burung di pagi hari. Menginjak usia 27 tahun Ida Ketut Aseman pergi meninggalkan orangtua (maninggalin yayah bibi). Bersama kekasih hati, mengembara menyusuri desa-desa. Kegelapan seakan menyelimuti hati, akhirnya Ida Aseman menetapkan pikiran: hendak berguru menghadap sang nabe di Geria Mandara, Sidemen, Karangasem.
Bersama istri yang setia, Ida Ketut Aseman kukuh menentukan sikap. Ia hendak mengembara ke peradaban batin. Pilihan itu dinyatakan pada sang istri dengan penuh kesungguhan: “idep beliné mangkin makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awaké tandurin, guna dusu né kanggo ring désa-désa . Keinginan kakanda kini, coba melepas keterikatan dunia, tiada punya tanah sawah, hendaknya badan ini ditanami, dengan keterampilan hidup, sebagaimana panggilan orang-orang desa itu.” Inilah kunci kemandirian Ida Pedanda Made. Bahwa titik pusat kreatifitas, tidaklah terletak pada hal-hal fisik. Semestinya sumber diri itulah sepatutnya diberdayakan, dibor guna melahirkan generasi mandiri. Dari “tanah” yang terhampar di pusat diri ini seyogyanya diri ditanami kecerdasan dan keterampilan. Hanya dengan semangat seperti itu orang bisa mandiri, merdeka dalam menentukan diri sendiri.
Tak terpeleset, memang. Nyatanya, penghayatan pada “guna dusun” itu mengantarkan Ida Ketut Aseman tak cuma menjadi seorang pendeta besar. Namun sekaligus juga seorang petani yang saban hari memuja ibu bumi dengan tambah, menerjemahkan puja dengan kerja. Lalu kian hari tumbuh menjadi seorang arsitek yang paham filosofi rancang bangun, pasih dalam ilmu mengukur tanah, menguasai keterampilan hidup begitu luas: menakik tapel, mengukir arca pralingga, membuat kulkul [kentongan], pemulas warna, sekaligus pengarang besar yang dihormati - perancang candi bahasa ternama. Atas pilihan hidup itu, ratusan teks keagamaan disalin ulang, puluhan karya satra diciptakan.
Sebagai ahli sastra - sebagaimana tersurat dalam cacatan otobiografis geguritan Salampah Laku, terang dicatatkan bahwa, Ida Ketut Aseman pertama kali belajar sastra dari Ida Bagus Jelantik di Geria Somawati. Begini antara lain Ida Pedanda menuliskan semangatnya: Sun anut solahing guru, sang wonten ring Somawati, juru kawi Bali kuna, pratama guru mangaji, maguru lagu len tembang, nama Ida Bagus Jelantik [Saya mengikuti jejak guru, berumah di Somawati, pengarang Bali Kuna, pertama belajar pada guru, mendalami lagu dan tembang, Ida Bagus Jelantik nama beliau. Namun bersama-sama dengan I Gusti Made Agung, Raja Badung yang gugur dalam perang puputan, Ida Aseman juga belajar sastra pada seorang pendeta dari Geria Sindu, Sanur. Sudah tentu pembelajaran bertahun-tahun di Geria Sidemen dan Budakeling, Karangasem merupakan pembelajaran panjang - kelak membentuk prototipe-nya sebagai pendeta besar.
Sementara keterampilan menakik tapel beliau pelajari dari seorang guru di Puri Gerenceng, Denpasar. Bakat beliau dibidang sastra diterima dari garis ayah. Sementara bakat arsitektur diterimanya dari garis ibu. Maka jadilah Ida Pedanda Sidemen pengabdi hidup di jalan kerja dan pengetahuan. Melakoni hidup di jalur kreatifitas religius disebut sebagai bhasma sesa dan gandha sesa. Bhasma sesa adalah jalan pengetahuan mengikuti jejak Bhagawan Byasa. Sedangkan gandha sesa, merupakan kreatifitas kearsitekturan, guna gina Bali mengikuti jejak Bhagawan Wiswakarma. Inilah ketunggalan kerja yang komplit, utuh menyeluruh. Suatu sikap dan pilihan di mana kelak membentuk diri jadi kreatif dan inovatif - mandiri dan merdeka. Pendeknya, pilihan itu ditransformasikan ke bidang kehidupan lebih luas. Di situ ilmu tak jadi keramat, ia teraplikasi penuh dalam hidup sehari-hari.
Memasuki usia paro baya beliau mengaku baru berguru dua kali. Dan sang calon pendeta berkeinginan kembali ke Mandaragiri (makasudnya Geria Mandara, Sidemen) menghadap sang guru - untuk berguru buat ketigakalinya. Mangungsi Mandari Giri, puput maguru ping telu, malih amari wara, ngusap suku sang resi, gawe ayu dadi jejek sang pandita [Menuju Mandara Giri, setelah tiga kali berguru, kembali memohon pensucian, mengusap kaki sang rsi, jalan mulia menjadi pendeta].
Demikianlah, di pagi buta, Ida Ketut Aseman berangkat di pagi hari ditemani sang istri menyusuri pantai selatan Pulau Bali. Setiba di Mandara, sang pandita guru menerima Ida Aseman sebagai murid paling bungsu. Seterusnya melewati proses diksa (disucikan) Ida Ketut Aseman berganti nama menjadi Ida Pedanda Made Sidemen.
Dua puluh tahun Ida Pedanda Made Sidemen telah berpulang. Namun di tengah-tengah dunia yang tengah sakit ini ada hal penting senantiasa perlu dicamkan dari sikap hidup Ida Pedanda Made. Dalam arus zaman yang kian memadat, jauh sebelum kapitalisme menguasai tanah Bali, bukankah sang wiku telah berhitung prinsip? Membalik arus kesadaran, dari fenomena fisik geografis (karang-sawah) ke fenomena psikis jagad diri (karang awake tandurin). Bahwa badan manusia Bali-lah sesungguhnya tanah yang paling menentukan masa depan Bali. Untuk itu pilihan pencerdasan, pembelajaran diri, mengasah “guna dusun” dalam konteks modern menjadi komitmen penting strategi Bali masa depan. Sebab, badan inilah benteng terakhir manakala gelombang globalisasi merambah “tanah” dan “natah” Bali.
Iya, pendeta yang memilih jalan sunyi sejak usia muda itu memang telah pergi meninggalkan jazadnya, tapi ajarannya, pesan-pesanya masih bisa kita simak dalam guratan-guratan lontar yang bertumpuk, pesan itu mesti dialirkan, ke kanal-kanal baru, ke telaga-telaga jiwa peradaban batin Bali. Ketika kanal peradaban mulai keruh, saat agama, upacara, ilmu tak kuasa memberi nyala hidup kembali, yang silam tak mesti ditinggalkan, yang lampau harus hadir dengan kesegaran baru. Yang silam harus hadir mengisi nutrisi jiwa yang baru, maka senantiasa peradaban batin itu menyala, bagai gni sakunang, nyala yang menyejukkan. ***
Catatan: Pendeta ini lebar 10 -9-1984
I Wayan Westa,
penulis, pekerja kebudayaan

