Cokorda Gede Oka Geg, raja terakhir Kerajaan Klungkung. Begitu perang puputan usai ( 1908), ia beserta keluarga dibuang ke Lombok. Belanda lalu mengambilnya kembali untuk disekolahkan ke Jawa. Pada tanggal 1 -7-1929, oleh Gouverneur General van Nederland Indie ia diangkat menjadi Zelf bestuur der Landschap Klungkung dengan Ambts titel Dewa Agung.

Di samping sebagai raja, beliau dikenal sebagai seniman serba bisa. Penari gambuh yang andal. Ada sejumlah seniman di Klungkung dan Gianyar pernah ikut menari dengan sang raja. Sebut misalnya, Dadong Lemon, penari arja terkenal dari Tegal Linggah, Desa Bedulu, Gianyar. Mengaku dalam wawancara saya pernah menari dengan sang raja.

Ada banyak catatan sejarah tentang raja ini, baik dari sumber-sumber Belanda maupun sumber-sumber lokal. Saya tak hendak bercerita soal ini, maklum saya bukan orang sejarah. Tentang raja ini berserakan kabar lisan yang masih bisa kita simak, alih-alih bagaimana kebijakan raja menghadapi pandemi. Tentu cara sang raja tidak boleh dianggap ilmiah, dan tak lucu dipertentangkan dengan capain-capain sains hari ini.

Suatu hari di Geria Banjarangkan, saya mewawancari Ida Pedanda Putra Telaga, mantan Ketua Umum Parisada Indonesia, tahunnya saya lupa. Menurut Ida Pedanda, raja ini seperti dikaruniai banyak keajaiban. Saat karya Eka Dasa Rudra di Besakih, tahun 1963. Raja tengah muspa di Penataran Agung, tiba-tiba Gunung Agung mau meletus. Saat itu sang raja hanya bisa memohon pendek pada Bhatara Gunung Agung, "Mbok tiang kari muspa, sampunang mamargi mriki ( Mbok saya masih sembahyang, jangan lewat ke sini). Itu kata-kata raja yang didengar pengiringnya.

Apa yang terjadi kemudian? Letusan Gunung Agung memang tidak melewati Pura Besakih, dan raja tetap suntuk memuja di kaki Gunung Agung yang saat itu tengah memuntahkan lahar. Ini kabar lisan yang pernah saya dengar dari tetua di Klungkung. Termasuk kabar dari kakek dan ayah saya. Entah ini benar atau kabar burung, saya tidak tahu.

Kaba burung paling menarik, saat raja menuntaskan pademi kolera di sebelah timur Desa Satra. Sudah beberapa hari kematian menjemput masyarakat desa di sana. Tetua desa lalu menghadap raja di Puri Klungkung. Bendesa ini nyaris kena marah, karena terlambat melaporkan keadaan. Tindakan emergensi begitu cepat dilakukan sang raja. Jro Bendesa disuruh pulang duluan.

Tepat bajeg surya, sang raja sudah berdiri di depan Pura Prajapati desa bersangkutan, diiring seorang abdi sembari membawa pacanangan (tempat sirih). Lagi-lagi sang raja hanya memohon pendek di hadapan Palinggih Prajapati. "Mbok usanang pamitanga wadwan titiang, benjang i mbok jagi sungsut, ten wenten malih sane ngaturang canang tuh (Mbok hentikan, jangan lagi diambil rakyat saya, supaya besok mbok tidak bersedih, tidak ada lagi yang bisa menghaturkan canang kering)." Itulah permohonan pendek sang raja saat itu, entah itu jalan klenik atau jalan ilmiah, lagi-lagi saya tidak tahu. Grubug akhirnya menghilang.

Jalan selalu ada sesuai zamannya. Kita tahu konsep raja ala Jawa dan Bali adalah raja bagi semesta. Pengedali energi, raja bagi penguasa gaib, pengendali buta-buti, gamang, dan memedi. Siapa saja membaca sedikit karya-karya sejarah Prof C.C Berg, Soemarsaid Moertono, Slamet Muljana, akan memperoleh pandangan bagaimana kekuaatan mistis itu selalu melekat pada sang raja.

Selalu ada jalan memang, Kerajaan Airlangga misalnya; diselamatkan kesaktian Mpu Bharadah -- manakala kerajaan itu kolap termakan sihir Calonarang. Kita memang sedang menunggu keajaiban itu, seperti Airlangga menunggu Bharadah, pendiri "Universitas" Lemah Tulis itu.

Yang pasti Tuhan selalu hadir di tangan-tangan orang baik, di tangan pemimpin yang tetap merawat rasa olas asih. Di tangan dokter cerdas yang paham menuntaskan penyakit, di tangan politikus yang peduli pada penderitaan rakyat, di tangan terpelajar yang memberi arahan yang benar. Rahayu.

Wayan Westa

Pekerja Kebudayaan

//Jauh sebelum kapitalisme menguasai tanah Bali, sang wiku, Ida Pedanda Made Sidemen telah berhitung prinsip, membalik arus kesadaran, dari fenomena fisik geografis (karang-sawah) ke fenomena psikis jagad diri              (karang awak)//

Senyap dan lengang. Itulah kesan pertama memasuki Geria Taman Sari, Sanur. Tak terlihat balai megah berukir, pun tak tampak mrajan mentereng didapuk prada emas. Hanya loji tua nyaris tak terawat - di mana ratusan rontal kini tersimpan. Ruangan loji sedikit pengap, buram dan gelap - sinar matahari tak cukup menembusnya. Sang penghuni, Ida Pedanda Made Sidemen, pendeta dan pengarang besar Bali abad ke- 21 telah berpulang, meninggalkan geria ini 20 tahun silam. Namun sejarah tetap mengenangnya. Sang pelaku utuh karma kanda dan jnana kanda ini ibarat fajar zaman - guru jagat tak terlupakan – sosok yang sanggup menyatupadukan kerja, pengetahuan, dan bakti jadi ketunggalan total - utuh menyeluruh jadi puja kehadapan Sang Mahakerja.

Datang ke geria ini setelah 20 tahun sang pendeta berpulang, terasa ada semangat tetap bisa diteladani kini – kendati sayup dan lamat, toh jejak sang pendeta masih bisa disentuh. Saat memasuki halaman mrajan yang tak seberapa luas itu - kesederhanaan tiba-tiba menyajikan sesuatu yang indah. Orang lalu dibuat tercenung, betapa di pengujung zaman kini, peradaban masa lalu itu kian menjauh, silam dan nyaris tak terjamah. Di sini “teks” hidup jadi lebih otentik tinimbang aksara dalam keropak. Karena jejak tulisan saat dituturkan ulang sungguh mudah membias. Bahkan tak jarang jadi kultus. Dan teks otentik itu kini telah menjadi milik masa silam. Mungkin juga milik dunia lain. Ia tak lagi menjadi teks hidup. Sementara ratusan teks yang kini terpejam beku di ruang loji tak mudah lagi dibaca. Ibarat mumi yang dingin. Hanya orang yang mengantongi “sim peradaban aksara” bisa “berdialog” dengannya. Agak tragis, memang. Walau, diam-diam teks yang tak bicara itu, telah melahirkan puluhan sarjana. Maklum begitulah kecenderungan teks tua mengalir kini, yang cuma jadi kajian akademis, kering dan nyaris terasa hambar.

Tercenung di halaman merajan, sembari memandang patung Ida Pedanda Made tengah duduk bersila – menatap dingin tanpa ekspresi. Orang segera diyakinkan bahwa, betapa kesederhanaan tidak mudah diwujudkan dalam kata-kata. Dan Ida Pedanda Made jelas tidak mewujudkan kesederhanaan itu dengan kata-kata. Patung Ida Pedanda Made karya sang murid, Ida Bagus Alit Pidada yang kini disucikan di pamerajan Geria Taman, seperti tak hendak menghapus ingatan zaman – bahwa Ida Pedanda sejatinya adalah seorang yogi, wiku yang senantiasa merealiasikan dirinya dengan kerja. Hanya dengan kerja kaki Tuhan kuasa disentuh. Kemandirian menjadi kunci hidup paling hakiki. Kemandirian mendorong orang menemu maharddhika.

Ada jejak tak bisa dilupakan saban memasuki merajan Geria Taman. Di tempat inilah Ida Pedanda Made menghabiskan hari tuanya – sebelum akhirnya dewa kematian menjemput. Amben di belakang bale piyasan tempat sehari-hari sang wiku beristirahat masih teronggok utuh. Ukurannya kira-kira 2 x 1,5 meter, beratap genting, terserung gedek nyaris lapuk. Di amben inilah Ida Pedanda saban hari berbaring, berbantalkan kayu gelondongan – tanpa baju, tak hirau hari hujan dan panas. Subuh, sebelum kokok ayam pertama bertalu menyapa pagi, Ida Pendada kerap terbangun, tidur terasa dicukupkan. Kesenyapan tiba-tiba pecah, manakala sang pendeta membangunkan abdinya I Tekek – lalu bersama-sama mengalunkan bait-bait Kakawin Ramayana. Sesekali dengan cermat Ida Pedanda memperbaiki terjemahan I Tekek yang salah. “Inilah kegemaran saban subuh dilakukan Ida Pedanda”, terang Ida Bagus Dupem, cicit angkat sang wiku yang kini merawat seluruh tinggalan “rohani” di Geria Taman.

Sayang, di pagi buta, dalam usia 126 tahun, tepatnya tanggal 10 September 1984, tepat di purnama kapat, suara parau yang kerap memecah sunyi subuh itu tidak terdengar lagi. Pagi betul-betul jadi senyap, bait-bait Kakawin Ramayana tak terdengar dilantunkan kembali. Dewa ajal telah menjemput pendeta tua ini. Hanya sang abdi bernama I Tekek duduk merunduk di samping jenazah. Di pagi indah itu, saat bunga-bunga mekar, Ida Pedanda berpulang buat selamanya. Kesedihan menggelayut di bubungan merajan. Deburan ombak di Pantai Sanur masih nyaring terdengar- seperti menyambut roh Ida Pedanda. Pokok naga sari yang tumbuh dekat sumur merajan tiba-tiba meluruh. Teringat hari-hari saat sang pendeta masih bugar - sang kawi wiku (pendeta pengarang) kerap datang memetiknya, menyuntingkannya di telinga sesaat usai memuja Siwa Raditya, sang mahaenergi.

Namun di pagi itu pokok bunga naga sari seperti gelisah, tak sabar menunggu datangnya seorang taruna. Sayang sang taruna tak pernah kembali lagi. Sang pujaan keburu menghadap dewa keindahan, kekasihnya yang abadi. Sejarah hidup Ida Pedanda Made Sidemen pun ditutup dipengujung pagi. Ia pergi setelah mempersiapkan seluruh sarana upakara kematiannya.

Tentu banyak orang merasa kehilangan manakala Ida Pedanda pamit dari dunia ini. Menghadapi tokoh ini tak ubahnya menyelam di samudera luas. Sosok yang dalam hidupnya terakumulasi sejumlah peran dan kwalitas. Seorang wiku, pengarang, ahli arsitektur tradisional Bali, dan ahli pembuat tapel, walatanda. Justru itu tak berlebihan bila Ir. Robi Sularto, arsitek senior yang dikenal dekat dengan beliau memuji Ida Pendanda sebagai ilmuwan terakhir abad tradisional. Seorang pandita yang telah memecahkan arsitektur tradisional Bali secara komperehensif, seorang ilmuwan Timur yang komplit”. Sementara Antropolog Universitas Udayana, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus (almarhum) menyatakan, “Dia mengingatkan saya kepada ahli pikir India abad ke- 8, Sankara, yang melaksanakan agama melalui ilmu pengetahuan. Dia adalah ilmuwan Bali terbesar yang saya kenal. Orang suci yang mengabdikan segenap kemampuannya bagi kebajikan masyarakat”.

Dilahirkan dari keluarga Brahmana pada hari Selasa Wage, Wuku Dungulan, Saka 1800 atau 1878 M di Geria Taman Sari, Sanur. Semasih welaka, saat mana belum didiksa, disucikan jadi pendeta, Ida Pedanda Made bernama Ida Ketut Aseman. Menginjak taruna ia menyunting Ida Ayu Rai dari Geria Sindu, Sanur. Sayang bahtera rumah tangga tidak bisa diteruskan, karena sang istri menolak menjalani hidup sebagai wiku, di mana dalam usia muda harus menjalani upacara diksa. Pedanda Made pun memberi kebebasan Ida Ayu Rai. Bahtera rumah tangga tak bisa dipertahankan. Ida Ketut Aseman mengambil sikap berpisah. Dari perkawinan ini beliau melahirkan seorang putri bernama Ida Ayu Pidin. Selang bebarapa lama, Ida Ketut Aseman menyunting istri kedua, setelah madiksa bernama Pedanda Istri Made, dari Geria Puseh, Sanur. Dari perkawinan kedua ini lahir seorang putri bernama Ida Ayu Siti.

Merasa diri sebagai orang yang menambah padatnya penduduk (pangresek jagat), tidak berguna miskin dan malas, yang hanya bisa bicara, bagai suara burung di pagi hari. Menginjak usia 27 tahun Ida Ketut Aseman pergi meninggalkan orangtua (maninggalin yayah bibi). Bersama kekasih hati, mengembara menyusuri desa-desa. Kegelapan seakan menyelimuti hati, akhirnya Ida Aseman menetapkan pikiran: hendak berguru menghadap sang nabe di Geria Mandara, Sidemen, Karangasem.

Bersama istri yang setia, Ida Ketut Aseman kukuh menentukan sikap. Ia hendak mengembara ke peradaban batin. Pilihan itu dinyatakan pada sang istri dengan penuh kesungguhan: “idep beliné mangkin makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awaké tandurin, guna dusu né kanggo ring désa-désa . Keinginan kakanda kini, coba melepas keterikatan dunia, tiada punya tanah sawah, hendaknya badan ini ditanami, dengan keterampilan hidup, sebagaimana panggilan orang-orang desa itu.” Inilah kunci kemandirian Ida Pedanda Made. Bahwa titik pusat kreatifitas, tidaklah terletak pada hal-hal fisik. Semestinya sumber diri itulah sepatutnya diberdayakan, dibor guna melahirkan generasi mandiri. Dari “tanah” yang terhampar di pusat diri ini seyogyanya diri ditanami kecerdasan dan keterampilan. Hanya dengan semangat seperti itu orang bisa mandiri, merdeka dalam menentukan diri sendiri.

Tak terpeleset, memang. Nyatanya, penghayatan pada “guna dusun” itu mengantarkan Ida Ketut Aseman tak cuma menjadi seorang pendeta besar. Namun sekaligus juga seorang petani yang saban hari memuja ibu bumi dengan tambah, menerjemahkan puja dengan kerja. Lalu kian hari tumbuh menjadi seorang arsitek yang paham filosofi rancang bangun, pasih dalam ilmu mengukur tanah, menguasai keterampilan hidup begitu luas: menakik tapel, mengukir arca pralingga, membuat kulkul [kentongan], pemulas warna, sekaligus pengarang besar yang dihormati - perancang candi bahasa ternama. Atas pilihan hidup itu, ratusan teks keagamaan disalin ulang, puluhan karya satra diciptakan.

Sebagai ahli sastra - sebagaimana tersurat dalam cacatan otobiografis geguritan Salampah Laku, terang dicatatkan bahwa, Ida Ketut Aseman pertama kali belajar sastra dari Ida Bagus Jelantik di Geria Somawati. Begini antara lain Ida Pedanda menuliskan semangatnya: Sun anut solahing guru, sang wonten ring Somawati, juru kawi Bali kuna, pratama guru mangaji, maguru lagu len tembang, nama Ida Bagus Jelantik [Saya mengikuti jejak guru, berumah di Somawati, pengarang Bali Kuna, pertama belajar pada guru, mendalami lagu dan tembang, Ida Bagus Jelantik nama beliau. Namun bersama-sama dengan I Gusti Made Agung, Raja Badung yang gugur dalam perang puputan, Ida Aseman juga belajar sastra pada seorang pendeta dari Geria Sindu, Sanur. Sudah tentu pembelajaran bertahun-tahun di Geria Sidemen dan Budakeling, Karangasem merupakan pembelajaran panjang - kelak membentuk prototipe-nya sebagai pendeta besar.

Sementara keterampilan menakik tapel beliau pelajari dari seorang guru di Puri Gerenceng, Denpasar. Bakat beliau dibidang sastra diterima dari garis ayah. Sementara bakat arsitektur diterimanya dari garis ibu. Maka jadilah Ida Pedanda Sidemen pengabdi hidup di jalan kerja dan pengetahuan. Melakoni hidup di jalur kreatifitas religius disebut sebagai bhasma sesa dan gandha sesa. Bhasma sesa adalah jalan pengetahuan mengikuti jejak Bhagawan Byasa. Sedangkan gandha sesa, merupakan kreatifitas kearsitekturan, guna gina Bali mengikuti jejak Bhagawan Wiswakarma. Inilah ketunggalan kerja yang komplit, utuh menyeluruh. Suatu sikap dan pilihan di mana kelak membentuk diri jadi kreatif dan inovatif - mandiri dan merdeka. Pendeknya, pilihan itu ditransformasikan ke bidang kehidupan lebih luas. Di situ ilmu tak jadi keramat, ia teraplikasi penuh dalam hidup sehari-hari.

Memasuki usia paro baya beliau mengaku baru berguru dua kali. Dan sang calon pendeta berkeinginan kembali ke Mandaragiri (makasudnya Geria Mandara, Sidemen) menghadap sang guru - untuk berguru buat ketigakalinya. Mangungsi Mandari Giri, puput maguru ping telu, malih amari wara, ngusap suku sang resi, gawe ayu dadi jejek sang pandita [Menuju Mandara Giri, setelah tiga kali berguru, kembali memohon pensucian, mengusap kaki sang rsi, jalan mulia menjadi pendeta].

Demikianlah, di pagi buta, Ida Ketut Aseman berangkat di pagi hari ditemani sang istri menyusuri pantai selatan Pulau Bali. Setiba di Mandara, sang pandita guru menerima Ida Aseman sebagai murid paling bungsu. Seterusnya melewati proses diksa (disucikan) Ida Ketut Aseman berganti nama menjadi Ida Pedanda Made Sidemen.

Dua puluh tahun Ida Pedanda Made Sidemen telah berpulang. Namun di tengah-tengah dunia yang tengah sakit ini ada hal penting senantiasa perlu dicamkan dari sikap hidup Ida Pedanda Made. Dalam arus zaman yang kian memadat, jauh sebelum kapitalisme menguasai tanah Bali, bukankah sang wiku telah berhitung prinsip? Membalik arus kesadaran, dari fenomena fisik geografis (karang-sawah) ke fenomena psikis jagad diri (karang awake tandurin). Bahwa badan manusia Bali-lah sesungguhnya tanah yang paling menentukan masa depan Bali. Untuk itu pilihan pencerdasan, pembelajaran diri, mengasah “guna dusun” dalam konteks modern menjadi komitmen penting strategi Bali masa depan. Sebab, badan inilah benteng terakhir manakala gelombang globalisasi merambah “tanah” dan “natah” Bali.

Iya, pendeta yang memilih jalan sunyi sejak usia muda itu memang telah pergi meninggalkan jazadnya, tapi ajarannya, pesan-pesanya masih bisa kita simak dalam guratan-guratan lontar yang bertumpuk, pesan itu mesti dialirkan, ke kanal-kanal baru, ke telaga-telaga jiwa peradaban batin Bali. Ketika kanal peradaban mulai keruh, saat agama, upacara, ilmu tak kuasa memberi nyala hidup kembali, yang silam tak mesti ditinggalkan, yang lampau harus hadir dengan kesegaran baru. Yang silam harus hadir mengisi nutrisi jiwa yang baru, maka senantiasa peradaban batin itu menyala, bagai gni sakunang, nyala yang menyejukkan. ***

Catatan: Pendeta ini lebar 10 -9-1984

I Wayan Westa,

penulis, pekerja kebudayaan

Jauh dari kesan menonjokan diri. Polos dan sederhana. Bicaranya pelan, sedikit terbata, tampak hati-hati mengutarakan pendapat, sedikit dingin menghadapi pandangan berbeda. Dialah Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta MA, guru besar bahasa Sansekerta Fakultas Sastra Universitas Udayana. Usianya mengingjak 70 tahun saat saya melakukan wawancara di tahuh 2005.

Usia panjang plus kesehatan prima betul-betul jadi berkah, memang. Ini mungkin anugerah atas kesabaran dan kesederhanaannya. Walau bertahun-tahun menghuni Gedung MPR, menjadi wakil rakyat, Pak Tjok -- begitu ia kerap disapa para kolega dan mahasiswanya -- sama sekali tidak menunjukkan seorang agitator politik penuh nafsu. Sosoknya tetap seorang guru santun, agamawan, ahli Sansekerta, dan penulis buku yang rajin. Ada puluhan buku ia tulis, sejumlah terjemahan, serta ratusan makalah. Kitab Manu Smerti adalah buah terjemaham Pak Tjok bersama kolega Bapak Gede Puja.

Bila tidak ada aral melintang, pertengahan tahun ini pria yang pernah menjadi asisten dosen ahli Jawa Kuna, Prof Dr Poerbatjoroko di Universitas Gajah Mada periode 1958-1951 ini akan mengucapkan pidato purna tugas -- mengakhiri masa aktif sebagai guru besar Sansekerta yang langka itu.

Lahir di Puri Amertasari, Ubud, Gianyar, tanggal 24 Juli 1935, sang ayah bernama Tjokorda Gde Ngurah Sudharta, pegawai tata usaha di zaman punggawa Ubud, Tjokorda Gde Raka Sukawati. Sang ibu, Ni Gusti Putu Rai, seumur-umur cuma sebagai ibu rumah tangga, mengurus, mendidik dan membesarkan anak-anak.

Nasib bapak empat anak ini tiba-tiba jadi terlunta manakala sang ayah Tjokorda Ngurah Sudharta mengalami kebutaan total. Saat sang ibu mengandung anak pertama, sang ayah didera sakit mata. Seorang dukun mengobatinya dengan air kunyit warangan (kunir yang berwarna kemerah-merahan). Namun lacur, entah sengaja atau tidak air kunir obat mata itu tercampur larutan belerang. Begitu diteteskan di mata, kontan indra utama sang ayah hancur, perih tak tertanggungkan.

Nasib buruk tak bisa dihindari, maka jadilah sang ayah seorang buta seumur hidup. "Sejak awal ayah tak pernah mengenal rupa anak-anaknya. Beliau hanya mengenal suara kami, jeritan kami, dan rengekan kami." Tapi syukur kala itu ayah tergolong sangat terpelajar, wawasannya luas, teman-teman beliau sering menjulukinya sebagai kamus berjalan," kenang kakek dua cucu ini.

"Kami tumbuh besar dan dididik dari seorang ayah yang buta. Walaupun kami hidup di lingkungan puri, hidup kami tergolong pas-pasan. Saya tumbuh jadi anak bandel, hingga keluarga, saudara memanggil kami "Tjok Tengil", artinya: Tjokorda Bandel, " papar penulis sejumlah buku agama ini.

Menginjak usia tujuh tahun, belia Tjokorda Rai mulai mengenal pendidikan sekolah desa. Saat itu Ubud belumlah merupakan desa dunia, satu destinasi dimana para turis sejagat menyemut datang ke Ubud, melihat alam desa yang asri, kesenian dan kebudayaan yang memukau. Ketika itu yang ada di Ubud hanya sawah-sawah, jurang dan tebing yang indah, sungai-sungai berair jernih, pengembala bebek di pematang, kaki-kaki telanjang para petani. Gamelan, tarian, lukisan memang telah menjadi keseharian masyarakat Ubud kala itu, telah menjadi bagian utuh kehidupan masyarakat Ubud. Namun semua itu dilakukan semata-mata panggilan dewa-dewa saat odalan di Pura. "Itulah bagian terpenting persembahan kami, dalam aneka ragam upacara. Ini adalah ruang hidup kami, tempat kami belajar iklhas sembari merawat dan mengalirkan kebudayaan. Musik, tarian, lukisan, dan odalan selain sebagai persembahan, juga menjadi hiburan jiwa-jiwa kami, inilah yang menjadi nyala hidup kami di Ubud," urai Tjokorda Rai.

"Saya menyadari, dalam lingkungan seperti inilah kami bertumbuh, mengalir alami, hingga suatu saat mengantarkan saya meretas batas-batas dunia. Saya sekolah ke India, mengunjungi sejumah negara, menyadari, membaca kebudayaan mereka. Tapi, setinggi-tinggi kami meraih dunia, kami tetap orang Ubud, manusia Bali yang menyadari arti menjadi Bali -- anak-anak dari seorang ayah yang ditakdirkan buta. Kami merasa, betapa rindunya ayah melihat anak-anak, mungkin juga melihat cucu-cucunya."

Saat duduk di Sekolah Rakyat, Tjokorda Rai sangat gandrung menonton pertunjukkan wayang. Dari sinilah hidup lebih tinggi itu dimulai. Saban ada pertunjukan wayang ia senantiasa duduk di muka, melongok di depan kelir dengan perasaan tergugah. "Entah kenapa saya begitu tergila-gila wayang? Entah kenapa saya begitu keranjingan tokoh Anoman." Hingga saban nonton Anoman ia kerap merasakan dirinya sebagai Anoman, sebagaimana ia baca kemudian dalam epos besar Ramayana.

Demikianlah gara-gara dirasuk adegan Anoman, di masa kanak-kanak Rai Sudharta sering melakukan adegan-adegan yang berbahaya, naik ke pohon-pohon sembari melompat-lompat seperti Anoman. Kelakuan ini kerap membuat sang ibu marah-marah. "Sungguh sangat sering saya dijewer ibu, lalu esok hal yang sama saya ulangi juga, itulah kenapa kemudian saya dipanggi si tengil. Karena untuk urusan "kerangsukan" tokoh Anoman, saya melawan nasihat ibu. Sedih bila diingat," kenang Tjokorda Rai menerawang masa kanak-kanaknya.

Karena kelewat nakal, begitu naik kelas empat Sekolah Desa, Tjok Rai dipindah ke Singaraja, numpang di rumah keluarga dekat. Baru kemudian ketika naik kelas enam ia kembali ke Ubud. Sebagai anak sekolah Tjok Rai tidak menunjukkan bakat istimewa. Nilai raportnya biasa-biasa saja. Tamat Sekeloh Desa tahun 1945, Tjokorda Rai kembali ngendon ke Tanah Panji Sakti, Singaraja, guna melanjutkan ke sekolah menengah di SMP Baktiyasa. Secara kebetluan tempat tinggalnya sangat dekat dengan rumah pengarang Indonesia I Gusti Panji Tisna, dan tak jauh pula dengan "rumah lontar" Gedong Kirtya.

Saban senggang di usia masih tergolong remaja Tjokorda Rai tergelitik melancong ke Gedong Kirtya, saban ada waktu ia selalu ke sana, membaca majalah-majalah berbahasa Melayu -- hingga suatu hari kala sekolah SMA di Singaraja ia sempat mengabdikan tenaganya untuk mencatat nama-nama rontal yang terkumpul di Gedong Kirtya. Tanpa disadari dari sinilah hidup Tjokorda Rai mulai berkelok, ia tertarik membaca naskah-naskah lama, sembari sambil lalu belajar bahasa Kawi. Memang minat belajar bahasa Kawi mulai tumbuh saat sekolah di SMA di Singaraja tahun 1951. Dan anak muda ini lalu kian rajin bergumul di Gedong Kirtya, belajar pada guru-guru otodidak disitu-- membaca naskah-naskah lama secara pelan. Ia sadar bahwa di lontar-lontar itu tersimpan peradaban batin manusia Bali, sumber pengetahuan yang melimpah. Karenanya ia pun jadi kian tertarik, ada banyak hal yang perlu digali serius. Membacanya seperti menimba sumur yang tak pernah kering.

Kebetulan di saat SMA di Singaraja ia bertemu I Gusti Ketut Ranuh, guru bahasa Jawa Kuna yang amat telaten, dikagumi murid-murid karena pandai bercerita dengan pesan amat mendalam. Dari sang guru ini Tjokorda Rai muda banyak menimba ilmu, belajar tata bahasa Kawi dengan penuh gairah. Tapi diantara guru-guru yang ditemui di Singaraja, ia terkesan dengan penampilan Dr. R. Goris, ahli Sansekerta berkebangsaan Belanda. Goris-lah orang pertama yang mengajarkan Tjokorda Rai tentang dasar-dasar bahasa Sansekerta. Entah kenapa ia dibuat terkesima pada bahasa yang satu ini. "Mungkin karena kepintaran Goris mengajar," ungkapnya pada suatu hari. Minatnya kian menggelembung pada studi Sanssekerta ketika ia bertemu Prof. Dr. Raghu Vira, ahli Sansekerta asal India, yang saat itu tengah melakukan studi pada naskah-naskah Bali.

Raghu Wira-lah yang melecut Tjokorda Rai supaya mau studi ke India, memperdalam bahasa Sansekerta. Hingga saat ini ia masih terkenang kata-kata sang profesor itu, "Tjokorda, kau harus studi ke India, belajar Sansekerta, biar saya urus beasiswamu. Semua keperluan untuk berangkat belajar ke India saya yang menangani." Namun kala itu Tjokorda Rai sedikit ragu. Begitulah tamat SMA di Singaraja tahun 1954, ia mesti pulang dulu ke Ubud, mohon izin dan restu pada sang ayah.

Untungnya sang ayah sangat terbuka, yang kendati buta, paham zaman tengah bergerak, lalu membiarkan sang anak menuruti pilihannya. Terkenang nasihat singkat sang ayah, "Rai, Aji (ayah) tidak punya apa-apa buat bekalmu ke India. Berangkatlah bila memang ada yang membantu! Bekal Aji cuma satu: ingat itu ta-ju-din!"

Apa itu "ta-ju-din" Aji? Tanya Tjokorda Rai sedikit was-was.

"Camkan dalam hati, "perintah sang ayah.

"Ta-ju-din" itu artinya; taat, jujur, dan rajin. Kemana pun kau mengembara dengan bekal ini pasti berhasil. "Aji ingat kata-kata pendeta dari Sanur, Ida Pedanda Made Sidemen. "Bila engkau tidak punya tegal sawah, tegal dalam dirimu itulah hendaknya kau tanami ilmu pengetahuan. Pupuk dengan kerajinan dan amal," papar Tjokorda Rai Sudharta mengenang pesan sang ayah.

Kendati telah mendapat izin keluarga, pria yang pernah menjadi korespenden Majalah Panca (Yogyakarta) dan Majalah Damai (Denpasar) ini tetap ragu untuk berangkat. Ia sedikit pangling mengingat nilai bahasa Inggirsnya cuma enam. Ini jelas tak memenuhi syarat. Pengajara bahasa Inggrisnya saat itu adalah Ibu Gedong Bagoes Oka. Dengan perasaan malu dan hati tertekan ia coba menghadap Ibu Gedong.

"Ibu apakah saya boleh berangkat studi ke India? Ibu Gedong cuma menjawab pendek, "Berangkatlah."

Demikianlah di tahun 1954, dengan cuma mengantongi nilai bahasa Inggris enam Tjokorda Rai berangkat ke India. Di sana, di Internasional Academy of Indian Culture, di bawah bimbingan langsung Prof. Dr. Raghu Vira.

Tahun 1955- 1957 ia kuliah di Banares Hindu University sampai mendapat gelar BA. Kemudian pulang kembali ke Indonesia menjadi asisten dosen Prof Dr R. Ng. Poerbatjaraka di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, mengajar mata kuliah bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna.

Belum genap setahun menjadi asisten dosen, Pak Poerba menanyakan titel akademisnya.

"Tjokorda titelmu apa?"

"Cuma BA Pak," jawabnya lugu.

"Wah , BA itu artinya: belum apa-apa. Kamu balik lagi ke India," perintah Pak Poerba dengan wajah dingin.

Tahun 1958-1961, atas beasiswa negara, Tjokorda Rai Sudharta balik lagi ke India guna melanjutkan studi di Punjab University, New Delhi hingga memperoleh gelar MA. Karena belum dipanggil pulang ke Indonesia, ia bekerja sebagai Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar RI, New Delhi. Kala itu di KBRI, atas prakarsa Atase Kebudayaan RI bekerja sama denga Atase Kebudayaan negara- negara sahabat, Tjokorda Rai sempat meraih juara II lomba mengarang berbahasa Inggris, mengalahkan peserta dari Australia, Amerika dan negara-negara sahabat lainnya. "Beh nika uilian jengah maan nilai bahasa Inggri aji nem," kenang doktor Sansekerta jebolan Universitas Indonesia ini.

Memasuki pertengahan tahun 1962, setelah menyandang gelar MA, Tjokorda Rai kembali pulang ke Indonesia. Ia hendak memenuhi janji Prof. Dr. Poerbotjoroko yang saat itu masih mengajar Kesusastraan Jawa Kuna di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Pulang dari India, Tjokorda Rai langsung menghadap Pak Poerbo. Begitu menghadap, sang asisnten langsung dihardik, "Lho Tjokorda, ngapain balik ke sini, pulang saja ke Bali, di sana saya sudah bangun Fakultas Sastra. Engkau mengajar saja di sana," demikian Tjokorda Rai menirukan instruksi sang mentor Poerbotjoroko.

Dan sejak tahun 1962 Tjokorda Rai pun diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra Universitas Udayana, sebagai fakultas paling tua di Bali.

Setahun mengajar di Udayana, terhitung dari tahun 1963-1969 Tjokorda Rai kemudian diangkat menjadi Kepala Jawatan Agama Provinsi Bali, sementara dalam waktu yang sama menjadi dekan pertama Fakultas Agama dan Kebudayaan Institut Hindu Dharma (Unhi sekarang), Denpasar. Jabatan ini ditinggal karena di tahun 1967-1969 ia ditunjuk sebagai anggota Badan Pekerja MPRS. Setelah nantinya ditunjuk sebagai anggota DPRGR. Lantas di tahun 1971-1987 diangkat menjadi anggota DPR RI. Sempat keliling Eropa dan Asia melakukan survei perihal tanggapan agama-agama terhadap family planning (keluarga berencana) -- sebelum akhirnya mulai Oktober 1987 ia kembali mengajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Di tengah-tengah kesibukan mengajar dan menjadi anggota legislatif, Tjokorda Rai juga diikutkan sebagai anggota tim menerjemah kitab-kitab suci Hindu di Departemen Agama RI. Demikian, bersama almarhun Gde Puja SH, ia menerjemahkan kita Manu Smerti, Compendium Hukum Hindu. Di samping menulis sejumlah buku-buku Hindu atas "perintah" Prof. Dr Ida Bagus Mantra . Sementara di sela-sela waktu mengajar dan kesibukan yang seabreg itu Tjokorda Rai menerjemahkan The Call of The Upanisad -- yang belakangan diterbitkan Majalah Gumi Bali SARAD atas saran saya sendiri. Buku ini terbit dengan judul Panggilan Upanisad, Bertemu Tuhan Dalam Diri (2007).

Sebagai ilmuwan dan pendidik Tjokorta Rai Sudharta memang tidak sempat membidani pendirian majelis keagamaan di Bali, tapi dibalik kelahiran Parisada ia merupakan satu diantara tiga tokoh ikut menggodok ide-ide itu sebelum Parisada didirikan, 23 Februari 1959. "Jauh sebelum Parisada didirikan, kami bertiga (Dr. Ida Bagus Made Mantra, Ida Bagus Punyatmaja, Tjokorda Rai Sudharta) sering berkumpul di India, kebetulan sempat sama-sama sebagai mahasiswa di sana. Pertemuan itu kerap atas prakarsa Pak Mantra. Kami berdiskusi sampai larut, membahas masa depan Agama Hindu di Bali," kenang Tjokorda Rai.

Tiga serangkai ini sadar, ketiga Bali terintegrasi penuh ke pangkuan Republik, Hindu nyaris tak punya pengayom tunggal. Dulu urusan agama berada di bawah kebijakan raja, tetapi ketika raja-raja tidak lagi memiliki kekuatan politik, urusan agama jadi tak karuan. Maka diperlukan sebuah lembaga pengayom di luar kekuatan negara. "Nah atas pertimbangan inilah Parisada didirikan. Dengan demikan Hindu memiliki payung tunggal, yang khusus mengatur tata agama dan kepentingan lain. Ya saat itu kami cuma berpikir lokal, semata berniat mengayomi kepentingan Hindu Bali," urai Tjokorda Rai Sudharta.

Menjelang memasuki purnatugas sebagai guru besar Sansekerta, di rumahnya yang tua, rumah yang ditempati lebih dari 40 tahun, di Jalan Serma Gede nomor 14, Denpasar, sang guru masih rajin mengirim sejumlah artikel agama ke Majalah Warta Hindu Dharma, majalah yang sejak awal turut dirintisnya bersama Dr. Ida Bagus Mantra, Drs. Ida Bagus Punyatmaja MA. Saban pulang ke Puri Amertasari, Ubud, Tjokorda Rai masih suka membuka-buka lontar tinggalan leluhurnya. Saban bulan ia masih setia menjawab pertanyaan-pertanya seputar tatwa untuk pembaca Majalah Gumi Bali SARAD.

"Wah saya tidak bisa mengetik dengan komputer. Setiap ngetik saya minta tolong kepada pegawai penerbit Upada Sastra, biasanya saya menyerahkan tulis tangan begitu saja," aku Tjokorda Rai sembari menyatakan dirinya ketinggalan tehnologi. Kerap, memang Pak Tjok mengirimkan jawaban rubrik konsultasi Tatwa SARAD dalam naskah tulis tangan. Dalam lembar-lembar jawaban itu Pak Tjok tampak bersungguh-sungguh, kata demi kata dikoreksi dengan jeli, kadang begitu rinci. Bahkan hanya untuk salah ketik saja, Pak Tjok sering menelpun redaksi berkali-kali.

Untuk urusan keilmuan pada bidang yang ia sangat cintai: sastra Sansekerta dan Jawa Kuna Pak Tjok mengaku amat beruntung; begitu banyak kebajikan dan nasihat yang ia dapatkan untuk menentramkan batin. Untuk sekadar diketaui, atas prakarsa Bapak Ida Bagus Mantra, Tjkorda Rai Sudartha-lah salah satu tim penulis buku Upadeca.

Upadeca disajikan dengan gaya bertutur. Bahasanya bening mengalir, hadir dengan percakapan didaktis antara Rsi Dharmakerti dengan muridnya Sang Suyasa. Orang boleh menangkap Sang Suyasa sebagai murid zaman, yang rindu menghadap guru agung Rsi Dharmakerti, lalu dengan sujud berkata, “Oh Guru suci, hamba datang mohon pengajaran , sudi terangi hamba dari kegelapan”. Dan tulisan-tulisan didaktis yang mengalir di buku Upedesa itu adalah gaya bertutur dari Tjokorda Rai Sudharta.

I Wayan Westa

Pekerja Kebudayaan

Catatan: profil singkat ini saya tulis di bulan Januari 2005, manakala Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta belum berpulang dimuat di Majalah Gumi Bali SARAD.

 

//Datanglah padanya dengan kesungguhan hati, akan menjadi kunci Anda mendapatkan sesuatu di sana. Jika pertanyaan Anda tidak berkualitas, atau sekadar bertanya, jangan harap sang wiku mau buka mulut//

 

Di Penatih, sebuah desa di bilangan Kecamatan Denpasar Timur, orang  bisa  lewat begitu saja. Tak ada keajaiban di sana, kecuali huma kian menyempit.Tak terdengar lagi lenguh sapi dipecut petani. Orang-orang  sibuk untuk diri sendiri.  Larut  dalam hingar – bingar zaman.  Suasana  dukuh ibarat pergulatan yang tak pernah usai.  Deru kendaraan, gemuruh lalulintas  beradu dentingan hening genta. Di pagi buta, suara    itu bagai  menghadirkan fajar baru, bahwa hidup mesti disegarkan senantiasa.

Tengoklah  di pagi lengang , di Geria Pinatih,  seorang pendeta tua seperti hendak  berlomba  dengan waktu. - suntuk memuja surya – sang maha cahaya. Puja dan mantra terdengar sayup. Hidup dirasakan begitu singkat, layaknya kilatan petir. Dan kemudian, doa pun punya arti, sebagai penyangga hidup yang singkat .  Ya, dialah sang pendeta tua  Rsi Agung Pinatih.  Seorang suci  yang senantiasa mengaku diri bodoh  dan dusun – belog tani ngun-ngun.   Namun di balik itu  semua , sang Rsi-lah  sesungguhnya manusia Bali utuh. Seorang arsitek, pemahat, pencinta sastra, ahli wariga, petani,  sekaligus  wiku  senior yang menjalani hidup dengan amat sederhana.

Sang wredha pandita subrata, pendeta tua yang teguh pada janji diri. Inilah pujian yang paling pantas buatnya. Kini memasuki usia 95 tahun,  Rsi Agung masih  sanggup  melayani umat.  Sudah 61 tahun ia meniti jalan sunyi itu , menjadi pelayan, membasuh dahaga umat sampai  nun jauh menyusuri pelosok desa-desa  sajebag Bali. Kadang menyeberang arungan (laut), menembus kabut pedalaman desa-desa Jawa.  Orang  tak akan  pernah mendegar  kata letih dari pendeta tua ini. Sang Rsi memang tidak membiarkan fisiknya lapuk begitu saja. Atau tunduk dimakan sang waktu begitu lalu.  Hari-hari bagi sang Rsi adalah memuja dan bekerja. Hanya dengan inilah waktu dapat “ditundukkan”.  Hanya dengan melayani hidup ditinggikan. Hanya dengan pengabdi hidup diringankan.

Lahir  tahun 1906, dengan nama welaka I Gusti Ngurah. Tak ada keajaiban dan tanda istimewa pada hari lahiranya. Hanya masa sulit yang membelit. Bali tengah ditekuk kolonialisme. Ekspedisi Belanda membuat raja-raja Bali  bersungut,   tunduk hormat pada   Sang Ratu Wilhelmina. Keris  kesatria Bali yang elok itu tak berarti apa-apa dihadapan  meriam dan intrik kolonial. Demikianlah sebuah zaman melintas,  turut membesarkan  bayi merah yang akrab dipanggil  Ngurah Gde. Tak  ia  rasakan senyum ibu di pangkuan, dalam dekapan hangat  gending-gending rare.

Memasuki usia 8 tahun  buat pertama kali Ngurah Gde  mengeyam pendidikan formal  di sekolah rakyat. Tampaknya tak banyak prestasi pada setiap pelajarannya, Ngurah Gde kecil ternyata lebih memiliki kepekaan intuitif tinimbang rumus-rumus pelik. Selepas  sekolah rakyat,  Ngurah Gde  lebih tergoda tapel barong, memulas,  menakik kayu sebagai kegiatan walatanda (ketrampilan tangan). Kegiatan yang ditekuni nyaris sepanjang hidup. Tak ada pilihan kecuali harus dijalani.  Bakat telah menuntunnya sedemikian jauh. Karena hidup memang tak hendak untuk dipilih. “Kita mesti menjalani,” tukas Rsi Agung rendah.

Tak pernah terbetik dibenak bahwa kelak ia akan menjadi pendeta. Tak pernah terpikirkan bahwa Siwa Upakarana (alat-alat pemujaan pendeta Siwa) yang tersimpan berabad-abad di mrajan-nya  menjadikan arah hidupnya lain –  terpanggil menjadi wiku. Konon Siwa upakarana itu warisan  leluhurnya  dari  Jawa. Memang di tanah Jawa, di zaman raja-raja Jawa leluhurnya seorang wiku, Mpu Sedah namanya. Beberapa abad setelah mengungsi ke Bali generasinya tak  melanjutkan tugas itu. Inilah alasannya kenapa  Gusti Ngurah Gde kelak kembali melanjutkan tradisi leluhurnya, menyambung alir kependetaan yang putus.

“Dini di Penatih panyaman Bapa mula tusing taén buin nyemak sasana kawikon, kesahé rarud  uling  Jawa metu tan éling malih, ento mawinan keni kareredan. Jani Bapa buin  ngingetang, sakasidan malajahang déwek tekén gumi. (Di sini di Penatih, keluarga Bapa memang tidak lagi ingat pada sasana kawikon, sepeninggal dari Jawa tidak sadar lagi, itu sebabnya  surut. Kini kembali Bapa ingat, sebisanya membelajarkan diri kepada masyarakat,” papar Sang Wiku pelan.

Di Penatih, di lingkungan  keluarga besarnya, Gusti Ngurah Gde tak pelak merupakan generasi pertama yang kembali menjalani hidup sebagai wiku. Justru setelah berabad-abad terputus. “Dini Bapa mula anak tiwas tusing ada apa, panyaman Bapa makejang babotoh, mamiyut. Bapa simalu  ané ngarepang nyaluk  sasananing kawikon  dini, nuur pamargin kawitané nguni (Bapa di sini memang orang miskin,  keluarga Bapa semuanya penjudi, tak karuan. Bapa yang pertama menjalankan sasana kawikon, menjadi sulinggih,”) kenang Rsi Agung datar.

Menyadari ini  semua, memasuki usia  30 tahun, Gusti Ngurah Gde berketetapan hati menapak jalan sunyi itu. Bersiap-siap menjadi pendeta. Sadar bahwa jalan ini begitu berat, begitu terjal. Ini keputusan  begitu berani, memang.  Banyak sejawatnya mengurut dada. Orang boleh sangsi dan mencemoh kesanggupan itu.  Bayangkan, dalam usia sebelia itu, pilihannya kukuh akan menjalani masa panjang - hidup sebagai seorang wiku. Sebuah pilihan yang tak boleh dianggap main-main. Demikianlah, seorang diri Gusti Ngurah  Gde muda menghadap sang calon nabe (guru diksa) Ida Pedanda Gde Rai, di Geria Kutri, Gianyar.

Calon guru nabe, Ida Pedanda Gde Rai tampaknya bersambut.  Tapi dengan satu syarat Ngurah Gde mesti digembleng dulu  seorang guru waktra (guru pemblajaran). Bila  lulus dari gemblengan itu  hendaknya ia bisa didiksa menjadi  sulinggih. Demikianlah, Ida Pedanda Rai memohon pada Ida Pendanda Made Sidemen,  pendeta dan sastrawan besar Bali dari Geria Intaran , Sanur  untuk mengajar calon sulinggih Gusti Ngurah Gde.  Jalan lempang telah membentang di hadapannya.  Masih terbayang jelas kejadian itu,  di pagi-pagi buta, dari Penatih  yang masih subur sawah hijau, Ngurah Gde berjalan dengan kaki telanjang menuju desa Sanur, anyuun pada, mengahadap guru waktra, Ida Pedanda Made Sidemen.

Demikianlah proses aguron-guron terjadi antara  I  Gusti Ngurah Gde dengan  guru waktra, Ida Pedanda Made Sidemen.  Ngurah Gde tak hanya memperoleh ilmu tentang  kependetaan, tapi juga prihal  guna dusun, yakni memperdalam  asta kosala-kosali, membuat sukat, menakik tapel, pratima,  dan sebagainya. Ida Pedanda Sidemen  telah  menjadikan Ngurah Gde seorang anak manusia yang mandiri merdeka, bahwa badan inilah sesungguh sawah. Ketergantungan pada yang lain akan membuat bandan ini kerontang, tandus. Tak mungkin  bisa melahirkan kreatifitas. Apa lagi keunggulan batiniah. “Yaning mungguing guna gina wantah mula tumbuh saking dewek,” ingat Rsi Agung sembari terpejam.

“ Patitise  masih apang melah, anut teken kadarman,  eda pamerih, pastika nemuang rahayu”, imbuh Rsi Agung yakin. Memang tujuan itulah harus jelas, tanpa pamerih, dengan begitu kerahayuan  ditemukan. Dengan keyakinan inilah di tahun 1940, Ngurah Gde kembali menghadap guru nabe Ida Pedanda Gede Rai di Geria Kutri. Menyatakan kesiapannya untuk hidup “bersunyi diri, menjadi sulinggih menjalankan amanat Rsi Sasana. Dan pada tahun yang sama Ngurah Gde resmi menjadi sulinggih  dengan amari aran (berganti nama) Ida Rsi Agung Pinatih. Air mata menitik ketika Rsi Agung meninggalkan Geria Kutri. Inilah awal sang Rsi mengalami kehidupan baru. Kendati umurnya baru 34 tahun, sang Rsi telah melempangkan harapan-harapan baru bagi generasi mendatang. Rsi Agung  kini tak lagi  milik keluarga besar Pinatih, namun telah menjadi milik semua orang.

Enam puluh satu  tahun jalan sunyi itu telah bersamanya. Jarak yang cukup panjang, memang. Banyak ketegangan dan onak dirasa. “Yaning pajalane ke suwung anak mula srebi, tuah galange padidi patut anggon suluh (Jalan menuju sepi memang lengang menakutkan, sinar diri itulah sepatutnya dipakai penerang),” papar sang Rsi sembari terpejam. Memang sebagaimana anggapan Rsi Agung bahwa yang paling sulit dilakukan adalah belajar menjadi bodoh. “Sengka malajahin belog ”. Karena kini amat banyak orang yang pura-pura pintar, atau ada juga pintar tapi jahat (pradnyan jahat). Bagi Rsi Agung, dua watak orang ini sama bahayanya. Dua-duanya memendam bisa dikepala. Benar memang, seekor ular cuma memendam racun di kepala.  Tapi racun manusia jahat, menggenangi seluruh tubuhnya.

 

Kendati tokoh lingsir ini terdengar sayup, jarang dirujuk orang, namanya tak bisa dilepaskan dari pergerakan umat sejak awal. Pada tahun 23 – 11 – 1959, ia didudukan dalam keanggotaan Paruman Sulinggih Parisada Hindu Bali (nantinya menjadi Parisada Hindu Indonesia) yang beranggotakan 11 orang sulinggih. Memang begitu populis  keanggotaan itu, tak hanya melibatkan para Pedanda, tapi juga para Mpu, Rsi, Dukuh, dan Bhagawan. Tugas para sulinggih ini adalah menyusun tafsir, menata kehidupan agama dan mengeluarkan bhisama bila mana perlu. Tercatat sampai tahun 1980-an Rsi Agung masih aktif di Paruman Sulinggih itu.

Barangkali tak banyak dicatat, dibidang penataan agama, Rsi Agung sejak awal  telah melakukan perubahan secara nyata, yakni menyakut esensialisi yadnya. Misalnya, sejak tahun 1950-an, Rsi Agung sudah mendatangi 95 setra di seluruh Bali guna memimpin upacara “ngaben panerus”. Ngaben jenis ini tak perlu  ada upacara  di rumah. Semua cukup dan selesai  dilakukan di setra. Tanpa upacara besar, tanpa usungan wadah megah,  irit beaya dan waktu.

Menurut Rsi Agung, ngaben ini memang  berbeda dengan Ngaben Tumandang Mantri atau Ngaben Nglanus, misalnya. Perombakan ini awalnya banyak dikritik orang. Tapi orang jadi mafum, bahwa dosa dan kesalahan tak bisa ditebus dengan ngaben gede, dengan  bertruk-truk babanten.  Semua berpulang ke esensi dan karma masing-masing. Inilah jasa besar Rsi Agung yang perlu diteruskan.

Rsi Agung Pinatih, boleh jadi sulinggih  paling tua kini di Bali dan sangat dekat dengan kesederhanaan. Sungguh betapa sering sang rsi mewanti-wanti: “Eda nganistaang paican Widhi”. Jangan remehkan yang kecil dan hina dina, menilai sesuatu dari penampakan fisik semata. Inilah pesannya pada semua warga, pada kecenderungan yang berlaku kini, karena orang sering terpukau pada yang glamor dan megah. Pesan ini terdengar  latah memang.  Tapi, sepanjang hayat benar adanya.  Landasan inilah yang kini pupus di benak orang. Menganggap hal kecil dan sederhana itu  tanpa makna. Pada hal itulah sesungguhnya  kemurnian.

Sejujurnya, menurut Rsi Agung tak pernah menyuruh orang berupacara sebagai satu-satunya solusi hidup. “Bapa tusing taén ngongkon anak maupacara, macaru apa luiré. Anak tusing kena baan, nyak nyen slamet anaké ané tundén, dilepete Bapa ngelah alané. Nah sajabaning nyén ia matakon indik upakara mai, ditu Bapa mapeseken (Bapa tak pernah menyuruh orang berupacara, macaru apa lagi. Karena tak bisa terkirakan, apakah bisa rahayu orang yang disuruh, bila katiben musibah, Bapa yang salah. Nah, terkecuali ia datang bertanya ke sini, saat itu Bapa mengingatkan),”

Dalam masa hidup yang panjang, 95 tahun, sosok Rsi Agung memang lebih dekat dengan kedalaman dan kebeningan Ibarat sumur berair jernih.  Teks yang tak mudah kita jamah karena keluasan dan kedalamannya. Sang rsi tak akan menjawab bila tak ditanya. Dengan begitu ia jauh dari kesan menggurui, walau sesungguhnya dia-lah sang guru sejati.

“Tuah Abot Ngaba Bisa”

Banyak yang dapat diteladani dari pribadinya. Terutama kesederhanaanya. Secara fisik sulinggih yang satu ini tampak renta, memang. Tetapi ia masih kuat melakukan perjalanan jauh. Dari pagi hingga malam masih gesit melayani umat. Anehnya, Rsi Agung tetap dalam keadaan segar,  tak sekali pun merasa letih. Sesekali ia masih suka menabuh gender, sembari menyanyikan bait-baik karya sastra.

Bila Anda kebetulan tangkil di geria-nya yang luas di Penatih, Anda pasti terkesima dengan ketenangannya. Tatapannya begitu teduh, lalu menyapa hangat. Bicara pelan, seperlunya, lalu diam. Orang kebanyakan pasti mengira pendeta ini tuli. Tapi tidak begitu nyatanya. Jika ingin menanyakan sesuatu Anda mesti pandai-pandai mebahasakannya. Datanglah padanya dengan kesungguhan hati, akan menjadi kunci Anda mendapatkan sesuatu di sana. Jika pertanyaan Anda tidak berkualitas, atau sekadar bertanya, jangan harap sang wiku mau buka mulut.

Orang mungkin tak bisa diteladani begitu saja dari kata-katanya. Mereka mesti dipahami dari apa yang mereka lalukan. Inilah sebentuk  pertanggunjawaban pribadi Rsi Agung Pinatih. “Bapa mula tusing pati bisa ngraos, ulian jejeh kasengguh bisa. Anak  tuah  abot ngaba bisa (Bapa memang tidak bisa bicara, karena takut disebut pintar. Karena betapa berat membawa kepintaran,” papar Rsi Agung lemah.

Mungkin rasa rendah hati inilah kini hilang di benak  banyak orang.  Perang kepintaran sungguh jelas dipertontonkan. “Jadmane jadi demen macokrah, saling sikut tan gigisan, mrebutin raos puyung, saling paduegin  (Orang kini senang bertengkar, saling cerca kelewat batas, berebut kata-kata kosong, saling minteri),”. Dan Rsi Agung juga berpesan:  jangan habiskan usia untuk hal yang sia-sia.

Waktu akan mengalir terus,  lima tahun lagi usia Rsi Agung akan genap satu abad, usia yang tidak semua orang dapat meraihnya. Semoga  pengabdiannya  menjadi doa  bagi kita bersama. ***

 

Catatan:

Ida Rsi meninggal 23 Nomper 2003, dalam usia 97 tahun

 

I Wayan Westa

Penulis/Pekerja Kebudayaan

Barak itu mirip zal tahanan, berukuran 3 x 4 meter persegi. Itulah dapur Banjar Kerandan yang pengap. Di atas dua jalikan (tungku api) batako, terserak sisa-sisa obat nyamuk. Di bibir tungku api, tergeletak puluhan potongan bambu, berjajar sejumlah bakalan seruling. Siap dikerjakan bila ada pesanan. Zal ini menjadi bengkel Pekak Made Dana, sekaligus tempat istirahat sehari-hari. Dari tempat inilah suling-suling itu dilahirkan dalam suasana kesendirian. Kini juru suling kasub itu tengah dibekap radang asma dan terbatuk-batuk. Suaranya serak dan lemah. Bila letih ia segera menuju dipan, kepalanya teronggok begitu saja di bantal kayu, hanya beralaskan sebidang tikar pandan, diterangi lampu 30 watt.

Saat hujan turun dingin akan mengerayangi sekujur tubuh, menusuk tulang. Sudah 9 tahun ia membenamkan mimpi-mimpinya di ruangan ini, merenung sembari mengeja rasa batin. Ia seperti tak terusik suara gaduh, lalu lalang kendaraan. Krama Banjar Krandan memilih Pekak Dana sebagai tukang sapuh, dengan tugas melaporkan semua kerusakan fisik bale banjar. Karena itu ia diijinkan tinggal, menetap di bale banjar. Ternyata Dana senang pilihan itu. Tak pernah sekalipun ia mengeluh atau merasa kesepian. Justru ia merasa bebas bersama bambu-bambunya - menganyam nada, coba melantunkan tembang dangdang gula yang lirih. Tembang yang kerap membuat orang tersedu pilu.

Pekak Dana tak pernah membuka bengkelnya di rumah, memang. Malu menggangu keponakan-keponakannya. Bila kruang-kruing di rumah, nanti cucu tiang bisa ngedesem (cemberut). Ya jadinya serba tak enak. Lebih baik tiang ngalah. Tiang hormati, bahwa tiap orang punya kesukaan beda. Supaya tak merepotkan, justru tiang pilih bekerja di bale banjar. Maka saban ada yang datang hendak dibuatkan suling pasti datang ke banjar. “Dulu sebelum tinggal di sini, suling-suling itu tiang buat di tempat sepi, jauh dari keramainan. Ke mana –mana tiang selalu membawa pengutik (pisau tajam) dan sepotong bambu,” imbuh Pekak Dana polos.

Ternyata ia seorang buta huruf, tampaknya. Tapi dia-lah sebuah teks yang hidup. Darinya senantiasa berhembus nada batin nan lembut, suara yang selalu menyeka rongga hati. Agaknya menjadi sesuatu yang tak biasa – bahwa keindahan bisa lahir dari kekumuhan, kotor, renta, terkucil, serta sakit-sakitan. Tak banyak yang tergoda karena tanda-tanda fisik itu. Hanya segelintir dari mereka yang dibekali kepekaan intuitif menjadikan kehadirannya penuh arti. Walau kita tahu, keindahan tak pernah memburu arti - ia hanya memburu keabadian. Inilah alamat paling tepat ditujukan untuk Pekak Made Dana, sosok hampir terlupakan, pengabdi seni yang tulus, juru suling tiga zaman dari Banjar Kerandan, Desa Pamecutan, Denpasar- Barat.

Kendati namanya sedikit terdengar sayup, tapi pengabdiannya di jagat kesenian sudah demikian panjang dan berliku. Pekak Dana, begitu dia akrab dipanggil, tak pernah tahu kapan hari lahirnya. Ia seperti menafikan penanda waktu. Yang penting dia hadir dan meruang di dalam waktu. Tak pernah terbayang bagaimana wajah kedua orang tuanya. Sejak kecil ia ditakdirkan menjadi piatu, ditinggal ayah-ibu. Karena merasa diri ubuh (yatim piatu), Dana muda malu mendekati perempuan. Justru itulah sampai kini ia memilih tidak kawin , di samping seumur hidup tergoda suling. Walau dilahirkan sebagai juru suling piawai, Dana tak seperti lelaki lain, jago memikat wanita lewat alunan buluh perindu itu. Ia tak mengerti mengapa dirinya bisa begitu pemalu. “Minab sampun pedum tiang (mungkin sudah takdir saya),” urainya pendek sembari terbatuk.

Menurut penuturannya, sebagai juru suling, Dana mulanya berangkat dari sekadar merasakan, hanya merasakan. Kanal intuitifnya lebih suka menghayati tinimbang mengapal notasi nada. “Semuanya berangkat dan terukur dari rasa hati,” tuturnya pelan. Dan ia sendiri mengaku tidak bisa megambel. Walau beratahun-tahun ia aktif di sekaa gong Puri Pamecutan, gamelan milik Pura Tambangan , Badung. Seumur-umur Dana hanya tampil sebagai juru suling. Ya, cuma juru suling.

Tapi untuk tiupan suling, anak nomor dua pasangan I Made Lempung dan Ni Nyoman Ripig ini tak kuasa ditandingi, apa lagi diungguli. Almarhum I Mede Ebuh, juru suling terkenal dari Banjar Gelogor mengaku sempat belajar tehnik ngunjal angkihan padanya. Ebuh memuji Dana sebagai juru suling yang tipikal, tehniknya sukar dijiplak. Justru itu, Pekak Dana dengan rendah hati mengaku tak pernah mengajar siapa-siapa. Ia cuma sekadar ditanya, tak pernah jadi guru beneran. Pada sesama penabuh ia memang sering bertukar pikiran, menunjukkan beberapa tehnik, tetekep manis dan tetekep lebeng. Selebihnya ia mengaku tidak tahu apa- apa. Kecuali mengukur dengan kedalaman hati.

“Tiang memang senang magending dan tergoda suling sejak usia enam tahun,” akunya lurus. Dulu, sembari mengembala sapi-sapi ia suka membunyikan pepetan, terompet dari bulir batang padi. Di pematang sawah, terompet ini senantiasa ia tiup. Kadang sambil berteduh di bawah pohon turi. Tak jarang ia sampai terpulas , dan sapi-sapi itu melunta jauh, meninggalkan pembimbingnya. Pernah suatu hari ia susah mencari batang padi, karena di sawah baru saja usai panen, semua batang padi telah jadi jerami kering. Dana seperti gelisah hendak meniup pepetan. Ia terpaksa gantikan pepetan itu dengan lipatan daun pandan, diisi sompe daun kelapa (selepan) - maka jadilah terompet bersuara besar. Tapi suaranya tak senyaring terompet bulir padi.

Dari pepeten, Dana remaja lalu coba membuat suling. Begitu beberapa kali ia gagal, sembari terus mencoba. Suatu hari ia berhasil. Betapa riang hatinya. Suling itu dibawa serta ke mana pergi. Lalu saban ngangon (mengembala) ia tak lagi membunyikan pepetan. Suling bambu itulah yang senantiasa menghibur sapi-sapi tengah merumput. Karenanya, Dana sang yatim ini tak jarang mendapat juluklan : rere angon dari Banjar Kerandan. Tak aneh memang julukan itu. Begitulah gambaran rare angon dalam mitologi Siwaistis di Bali. Gembala yang senantiasa meniup seruling, setia menemani sapi merumput di padang luas.

Berkat suling-lah Dana memilih jalan hidup. Dan beberapa lama setelah memasuki masa remaja, ikut masuk anggota sekaa gamelan Puri Pamecutan. Dengan begitu ia memulai satu babakan hidup - di mana ia mencemplungkan diri di kanal kesenian. Di sini Dana muda tampil sebagai juru suling memukau, serta –merta dengan kedalaman rasa susah diukur dengan ketrampilan teknis semata. Ia dipuji sahabat-sahabatnya.

Karena punya kemampuan mengiringi berbagai macam tabuh dengan manis dan terukur. Gaya dan langgam tiupan sulingnya sering dicontek orang, tapi selalu gagal menyamai seorang Made Dana. Satu cara mudah dilakukan sekaa gamelan di Denpasar adalah, “merampok” Made Dana bergabung. Ini sebabnya ia menjadi sosok juru suling yang laris manis. Untuk itu, beberapa lama ia ikut menjadi juru suling pada Seka Gong Banjar Geladag, Desa Pedungan, Denpasar Selatan. Sekaa Gong Geladag, sejak lama telah memiliki pamor, memang. Masuk menjadi anggota sekaa ini berarti sebuah prestise, sekaligus suatu pengakuan. Dari sini Dana akhirnya melanglang seluruh Bali, tampil sebagai juru suling bon-bonan. Dalam waktu beberapa lama, Dalang Buduk pun dibuat kepincut - diminta mengiringi gamelan bebatelan saban sang dalang ngwayang.

Kini kurang lebih 67 tahum usianya, “rare angon” kembali rindu padang nan luas. Sayang, kini ia dipenjara usia kian menua, sakit-sakitan, dan ingatannya sedikit tergangu. Untunglah ada seniman tabuh I Wayan Sinti yang selalu datang menghibur, memberi sela mereguk kedalaman rasa – ia senantiasa diikutkan dalam pembinaan sekaa gamelan ke desa-desa.

Wayan Sinti sendiri tetap mengakui, juru suling yang tipikal ini tetaplah seorang guru. Kendati, Wayan Dana sendiri merasa disiksa oleh julukan seperti itu. Karena sekali lagi, menurut pengakuannya, sejujurnya ia tak pernah merasa menggurui siapa-siapa. Dan ia sendiri pun tak pernah berguru kepada siapa-siapa, kecuali pada dirinya sendiri. Terkadang betapa ia tak enak mengaku, bahwa di pusat batinnya, seperti ada “anakan” (mata air) yang tetap menggenang, di mana mata air itu selalu ingin merembes ke luar lewat alunan suling. Baginya, itulah guru utama - nada batin asali yang senantiasa menggoda – mengantarkan dirinya meretas zaman.

Dan sang kakek yang tak pernah menjamah perempuan ini menjadi satu perkecualian, bahwa peniup seruling boleh jadi merupakan tindakan pranayama, olah nafas, kapasitas inti dari sikap yoga. “Jika tak begitu mungkin dulu saya sudah meninggal, apalagi tiang terjangkit asma. (Yan ten kenten mirib dumum tiang sampun padem, napi malih tiang ngraksa sakit dekah),” paparnya pelan. Betul, memang. Dalam latihan meniup seruling, ngunjal angkihan jadi prasyarat paling berat, proses yang mesti dilewati. Memerlukan penguasan tehnik dan latihan serius. Bagaimana udara dari ruang perut bawah mengalir ke luar, lalu menghirup udara dari alam bebas, tanpa harus berhenti meniup suling. Orang Bali menamai tehnik ini sebagai "ngunjal angkihan".

Suling bagi Pekak Dana menjadi sejenis terapi nada. Saban pikirannya kalut, jiwanya goncang, truna lingsir ini pasti meniup seruling. Ibarat komputer yang harus "dideprag", susunanan memorinya pun kembali normal. Demikian pula suasana hati, bisa ditenangkan ulang lewat nada dan suara.

Susah memang membuktikan hal ini, namun Pekak Dana sendiri sudah melakoni “ibadah” itu lebih dari 40 tahun. Ia merasakan sekali faedahnya. Betapa suara atau nada yang murni merupakan musik semesta, suara muasal nan bening. “ Minab tan iwang penampen sang wikan, gumanti nada punika wantah pralingga Iswara , mungkin tak salah pemahaman para bijak, bahwa nada itu merupakan lingga Iswara,” papar Pekak Dana berterus terang, sembari tak lupa menyatakan, bahwa pemahaman itu juga didapat dari ngoping, mendengar dari orang lain.

Usia senja kini menjenguk juru suling piawai ini. Penyakit yang menggerogoti raganya seperti mempercepat jalannya waktu. Menjadi tua, sebagaimana hari-hari dijalani Made Dana sungguh tidak membahagiakan, memang. Ibarat menanti penjara panjang dengan rasa gelisah. Tampaknya ia tak sebahagia orang lain – tak punya teman hidup, seperti kebanyakan orang tua, lega dirawat menantu dan anak. Sebatang kara ia tertatih di lorong gelap, cuma suling jadi lentara penerang, menemani kisah hidup panjang melelahkan. Kendati ia buta huruf, untuk segenap cita rasa keindahan, tak salah, Made Dana-lah seonggok teks yang hidup – darinya dapat dibaca pengembaraan batin tanpa aksara.

Takut Kehilangan Gigi

Sudah dua bulan lelaki berkulit legam ini tak lagi meniup seruling. Juga belum bisa pergi jauh. Gusinya ngilu, dua gigi di rahang bawah mulai ocel. Sedikit saja gigi itu tersentuh lidah rasa perih terasa sampai ke otak. Gigi penting buat kesempurnaan tiupan seruling. Membantu hembusan angin keluar dari mulut tidak sempyar. Bagi Pekak Dana kehilangan gigi membuatnya takut. Dengan begitu, riwayatnya sebagai juru suling tenar tamat. Sesungguhnya gigi palsu bisa saja dibeli, namun untuk membeli gigi anyar, jelas beban. Di samping karena tidak punya beaya, ia malu dianggap beger.

Bila dalam kedaan normal, tidak sakit, Pekak Dana merupakan sosok yang rajin. Jam 5 pagi sudah terbangun dari zalnya di Bale Banjar Kerandan. Tugas pertamanya adalah bersih-bersih, menyapu halaman, menguras saluran air. Sampah-sampah ditempatkan pada sebuah gerobak, bila penuh, sampah diangkut ke tempat pembuangan. Ia bertanggung jawab atas semua barang milik banjar. Saban hari harus mengeceknya. Tiap ada kerusakan di bale banjar, Pekak Dana berkewajiban melapor kepada kelian banjar. Ini tugas sehari-hari yang dilakukan.

Di banjar ia tidak mendapat honor. Tugas sebagai juru sapuh (sapu) diambil sebagai pengganti leluputan sang keponakan, I Wayan Sudirta. Selain juru sapuh, Pekak Dana hampir tidak ada pekerjaan lainnya. Terkecuali sesekali diminta membuatkan suling. Untuk suling-susling itu tak pernah ia menjualnya. Berapa pun orang memberinya uang diterima penuh syukur. Tampaknya dia tetap suka melakukan itu. Untuk makan ia minta pada keponakan-keponakannya. Bila kebetulan ada uang nasi pun kadang dibeli. Merasa malu jika meminta terus. “Lek atine natakang lima dogen (malu rasanya bila meminta terus),” urainya merendah. **

Wayan Westa

Catatan: Pernah dimuat di Majalah SARAD, No 26 Mei 2002

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz