Jauh dari kesan menonjokan diri. Polos dan sederhana. Bicaranya pelan, sedikit terbata, tampak hati-hati mengutarakan pendapat, sedikit dingin menghadapi pandangan berbeda. Dialah Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta MA, guru besar bahasa Sansekerta Fakultas Sastra Universitas Udayana. Usianya mengingjak 70 tahun saat saya melakukan wawancara di tahuh 2005.

Usia panjang plus kesehatan prima betul-betul jadi berkah, memang. Ini mungkin anugerah atas kesabaran dan kesederhanaannya. Walau bertahun-tahun menghuni Gedung MPR, menjadi wakil rakyat, Pak Tjok -- begitu ia kerap disapa para kolega dan mahasiswanya -- sama sekali tidak menunjukkan seorang agitator politik penuh nafsu. Sosoknya tetap seorang guru santun, agamawan, ahli Sansekerta, dan penulis buku yang rajin. Ada puluhan buku ia tulis, sejumlah terjemahan, serta ratusan makalah. Kitab Manu Smerti adalah buah terjemaham Pak Tjok bersama kolega Bapak Gede Puja.

Bila tidak ada aral melintang, pertengahan tahun ini pria yang pernah menjadi asisten dosen ahli Jawa Kuna, Prof Dr Poerbatjoroko di Universitas Gajah Mada periode 1958-1951 ini akan mengucapkan pidato purna tugas -- mengakhiri masa aktif sebagai guru besar Sansekerta yang langka itu.

Lahir di Puri Amertasari, Ubud, Gianyar, tanggal 24 Juli 1935, sang ayah bernama Tjokorda Gde Ngurah Sudharta, pegawai tata usaha di zaman punggawa Ubud, Tjokorda Gde Raka Sukawati. Sang ibu, Ni Gusti Putu Rai, seumur-umur cuma sebagai ibu rumah tangga, mengurus, mendidik dan membesarkan anak-anak.

Nasib bapak empat anak ini tiba-tiba jadi terlunta manakala sang ayah Tjokorda Ngurah Sudharta mengalami kebutaan total. Saat sang ibu mengandung anak pertama, sang ayah didera sakit mata. Seorang dukun mengobatinya dengan air kunyit warangan (kunir yang berwarna kemerah-merahan). Namun lacur, entah sengaja atau tidak air kunir obat mata itu tercampur larutan belerang. Begitu diteteskan di mata, kontan indra utama sang ayah hancur, perih tak tertanggungkan.

Nasib buruk tak bisa dihindari, maka jadilah sang ayah seorang buta seumur hidup. "Sejak awal ayah tak pernah mengenal rupa anak-anaknya. Beliau hanya mengenal suara kami, jeritan kami, dan rengekan kami." Tapi syukur kala itu ayah tergolong sangat terpelajar, wawasannya luas, teman-teman beliau sering menjulukinya sebagai kamus berjalan," kenang kakek dua cucu ini.

"Kami tumbuh besar dan dididik dari seorang ayah yang buta. Walaupun kami hidup di lingkungan puri, hidup kami tergolong pas-pasan. Saya tumbuh jadi anak bandel, hingga keluarga, saudara memanggil kami "Tjok Tengil", artinya: Tjokorda Bandel, " papar penulis sejumlah buku agama ini.

Menginjak usia tujuh tahun, belia Tjokorda Rai mulai mengenal pendidikan sekolah desa. Saat itu Ubud belumlah merupakan desa dunia, satu destinasi dimana para turis sejagat menyemut datang ke Ubud, melihat alam desa yang asri, kesenian dan kebudayaan yang memukau. Ketika itu yang ada di Ubud hanya sawah-sawah, jurang dan tebing yang indah, sungai-sungai berair jernih, pengembala bebek di pematang, kaki-kaki telanjang para petani. Gamelan, tarian, lukisan memang telah menjadi keseharian masyarakat Ubud kala itu, telah menjadi bagian utuh kehidupan masyarakat Ubud. Namun semua itu dilakukan semata-mata panggilan dewa-dewa saat odalan di Pura. "Itulah bagian terpenting persembahan kami, dalam aneka ragam upacara. Ini adalah ruang hidup kami, tempat kami belajar iklhas sembari merawat dan mengalirkan kebudayaan. Musik, tarian, lukisan, dan odalan selain sebagai persembahan, juga menjadi hiburan jiwa-jiwa kami, inilah yang menjadi nyala hidup kami di Ubud," urai Tjokorda Rai.

"Saya menyadari, dalam lingkungan seperti inilah kami bertumbuh, mengalir alami, hingga suatu saat mengantarkan saya meretas batas-batas dunia. Saya sekolah ke India, mengunjungi sejumah negara, menyadari, membaca kebudayaan mereka. Tapi, setinggi-tinggi kami meraih dunia, kami tetap orang Ubud, manusia Bali yang menyadari arti menjadi Bali -- anak-anak dari seorang ayah yang ditakdirkan buta. Kami merasa, betapa rindunya ayah melihat anak-anak, mungkin juga melihat cucu-cucunya."

Saat duduk di Sekolah Rakyat, Tjokorda Rai sangat gandrung menonton pertunjukkan wayang. Dari sinilah hidup lebih tinggi itu dimulai. Saban ada pertunjukan wayang ia senantiasa duduk di muka, melongok di depan kelir dengan perasaan tergugah. "Entah kenapa saya begitu tergila-gila wayang? Entah kenapa saya begitu keranjingan tokoh Anoman." Hingga saban nonton Anoman ia kerap merasakan dirinya sebagai Anoman, sebagaimana ia baca kemudian dalam epos besar Ramayana.

Demikianlah gara-gara dirasuk adegan Anoman, di masa kanak-kanak Rai Sudharta sering melakukan adegan-adegan yang berbahaya, naik ke pohon-pohon sembari melompat-lompat seperti Anoman. Kelakuan ini kerap membuat sang ibu marah-marah. "Sungguh sangat sering saya dijewer ibu, lalu esok hal yang sama saya ulangi juga, itulah kenapa kemudian saya dipanggi si tengil. Karena untuk urusan "kerangsukan" tokoh Anoman, saya melawan nasihat ibu. Sedih bila diingat," kenang Tjokorda Rai menerawang masa kanak-kanaknya.

Karena kelewat nakal, begitu naik kelas empat Sekolah Desa, Tjok Rai dipindah ke Singaraja, numpang di rumah keluarga dekat. Baru kemudian ketika naik kelas enam ia kembali ke Ubud. Sebagai anak sekolah Tjok Rai tidak menunjukkan bakat istimewa. Nilai raportnya biasa-biasa saja. Tamat Sekeloh Desa tahun 1945, Tjokorda Rai kembali ngendon ke Tanah Panji Sakti, Singaraja, guna melanjutkan ke sekolah menengah di SMP Baktiyasa. Secara kebetluan tempat tinggalnya sangat dekat dengan rumah pengarang Indonesia I Gusti Panji Tisna, dan tak jauh pula dengan "rumah lontar" Gedong Kirtya.

Saban senggang di usia masih tergolong remaja Tjokorda Rai tergelitik melancong ke Gedong Kirtya, saban ada waktu ia selalu ke sana, membaca majalah-majalah berbahasa Melayu -- hingga suatu hari kala sekolah SMA di Singaraja ia sempat mengabdikan tenaganya untuk mencatat nama-nama rontal yang terkumpul di Gedong Kirtya. Tanpa disadari dari sinilah hidup Tjokorda Rai mulai berkelok, ia tertarik membaca naskah-naskah lama, sembari sambil lalu belajar bahasa Kawi. Memang minat belajar bahasa Kawi mulai tumbuh saat sekolah di SMA di Singaraja tahun 1951. Dan anak muda ini lalu kian rajin bergumul di Gedong Kirtya, belajar pada guru-guru otodidak disitu-- membaca naskah-naskah lama secara pelan. Ia sadar bahwa di lontar-lontar itu tersimpan peradaban batin manusia Bali, sumber pengetahuan yang melimpah. Karenanya ia pun jadi kian tertarik, ada banyak hal yang perlu digali serius. Membacanya seperti menimba sumur yang tak pernah kering.

Kebetulan di saat SMA di Singaraja ia bertemu I Gusti Ketut Ranuh, guru bahasa Jawa Kuna yang amat telaten, dikagumi murid-murid karena pandai bercerita dengan pesan amat mendalam. Dari sang guru ini Tjokorda Rai muda banyak menimba ilmu, belajar tata bahasa Kawi dengan penuh gairah. Tapi diantara guru-guru yang ditemui di Singaraja, ia terkesan dengan penampilan Dr. R. Goris, ahli Sansekerta berkebangsaan Belanda. Goris-lah orang pertama yang mengajarkan Tjokorda Rai tentang dasar-dasar bahasa Sansekerta. Entah kenapa ia dibuat terkesima pada bahasa yang satu ini. "Mungkin karena kepintaran Goris mengajar," ungkapnya pada suatu hari. Minatnya kian menggelembung pada studi Sanssekerta ketika ia bertemu Prof. Dr. Raghu Vira, ahli Sansekerta asal India, yang saat itu tengah melakukan studi pada naskah-naskah Bali.

Raghu Wira-lah yang melecut Tjokorda Rai supaya mau studi ke India, memperdalam bahasa Sansekerta. Hingga saat ini ia masih terkenang kata-kata sang profesor itu, "Tjokorda, kau harus studi ke India, belajar Sansekerta, biar saya urus beasiswamu. Semua keperluan untuk berangkat belajar ke India saya yang menangani." Namun kala itu Tjokorda Rai sedikit ragu. Begitulah tamat SMA di Singaraja tahun 1954, ia mesti pulang dulu ke Ubud, mohon izin dan restu pada sang ayah.

Untungnya sang ayah sangat terbuka, yang kendati buta, paham zaman tengah bergerak, lalu membiarkan sang anak menuruti pilihannya. Terkenang nasihat singkat sang ayah, "Rai, Aji (ayah) tidak punya apa-apa buat bekalmu ke India. Berangkatlah bila memang ada yang membantu! Bekal Aji cuma satu: ingat itu ta-ju-din!"

Apa itu "ta-ju-din" Aji? Tanya Tjokorda Rai sedikit was-was.

"Camkan dalam hati, "perintah sang ayah.

"Ta-ju-din" itu artinya; taat, jujur, dan rajin. Kemana pun kau mengembara dengan bekal ini pasti berhasil. "Aji ingat kata-kata pendeta dari Sanur, Ida Pedanda Made Sidemen. "Bila engkau tidak punya tegal sawah, tegal dalam dirimu itulah hendaknya kau tanami ilmu pengetahuan. Pupuk dengan kerajinan dan amal," papar Tjokorda Rai Sudharta mengenang pesan sang ayah.

Kendati telah mendapat izin keluarga, pria yang pernah menjadi korespenden Majalah Panca (Yogyakarta) dan Majalah Damai (Denpasar) ini tetap ragu untuk berangkat. Ia sedikit pangling mengingat nilai bahasa Inggirsnya cuma enam. Ini jelas tak memenuhi syarat. Pengajara bahasa Inggrisnya saat itu adalah Ibu Gedong Bagoes Oka. Dengan perasaan malu dan hati tertekan ia coba menghadap Ibu Gedong.

"Ibu apakah saya boleh berangkat studi ke India? Ibu Gedong cuma menjawab pendek, "Berangkatlah."

Demikianlah di tahun 1954, dengan cuma mengantongi nilai bahasa Inggris enam Tjokorda Rai berangkat ke India. Di sana, di Internasional Academy of Indian Culture, di bawah bimbingan langsung Prof. Dr. Raghu Vira.

Tahun 1955- 1957 ia kuliah di Banares Hindu University sampai mendapat gelar BA. Kemudian pulang kembali ke Indonesia menjadi asisten dosen Prof Dr R. Ng. Poerbatjaraka di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, mengajar mata kuliah bahasa Sansekerta dan Jawa Kuna.

Belum genap setahun menjadi asisten dosen, Pak Poerba menanyakan titel akademisnya.

"Tjokorda titelmu apa?"

"Cuma BA Pak," jawabnya lugu.

"Wah , BA itu artinya: belum apa-apa. Kamu balik lagi ke India," perintah Pak Poerba dengan wajah dingin.

Tahun 1958-1961, atas beasiswa negara, Tjokorda Rai Sudharta balik lagi ke India guna melanjutkan studi di Punjab University, New Delhi hingga memperoleh gelar MA. Karena belum dipanggil pulang ke Indonesia, ia bekerja sebagai Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar RI, New Delhi. Kala itu di KBRI, atas prakarsa Atase Kebudayaan RI bekerja sama denga Atase Kebudayaan negara- negara sahabat, Tjokorda Rai sempat meraih juara II lomba mengarang berbahasa Inggris, mengalahkan peserta dari Australia, Amerika dan negara-negara sahabat lainnya. "Beh nika uilian jengah maan nilai bahasa Inggri aji nem," kenang doktor Sansekerta jebolan Universitas Indonesia ini.

Memasuki pertengahan tahun 1962, setelah menyandang gelar MA, Tjokorda Rai kembali pulang ke Indonesia. Ia hendak memenuhi janji Prof. Dr. Poerbotjoroko yang saat itu masih mengajar Kesusastraan Jawa Kuna di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Pulang dari India, Tjokorda Rai langsung menghadap Pak Poerbo. Begitu menghadap, sang asisnten langsung dihardik, "Lho Tjokorda, ngapain balik ke sini, pulang saja ke Bali, di sana saya sudah bangun Fakultas Sastra. Engkau mengajar saja di sana," demikian Tjokorda Rai menirukan instruksi sang mentor Poerbotjoroko.

Dan sejak tahun 1962 Tjokorda Rai pun diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra Universitas Udayana, sebagai fakultas paling tua di Bali.

Setahun mengajar di Udayana, terhitung dari tahun 1963-1969 Tjokorda Rai kemudian diangkat menjadi Kepala Jawatan Agama Provinsi Bali, sementara dalam waktu yang sama menjadi dekan pertama Fakultas Agama dan Kebudayaan Institut Hindu Dharma (Unhi sekarang), Denpasar. Jabatan ini ditinggal karena di tahun 1967-1969 ia ditunjuk sebagai anggota Badan Pekerja MPRS. Setelah nantinya ditunjuk sebagai anggota DPRGR. Lantas di tahun 1971-1987 diangkat menjadi anggota DPR RI. Sempat keliling Eropa dan Asia melakukan survei perihal tanggapan agama-agama terhadap family planning (keluarga berencana) -- sebelum akhirnya mulai Oktober 1987 ia kembali mengajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Di tengah-tengah kesibukan mengajar dan menjadi anggota legislatif, Tjokorda Rai juga diikutkan sebagai anggota tim menerjemah kitab-kitab suci Hindu di Departemen Agama RI. Demikian, bersama almarhun Gde Puja SH, ia menerjemahkan kita Manu Smerti, Compendium Hukum Hindu. Di samping menulis sejumlah buku-buku Hindu atas "perintah" Prof. Dr Ida Bagus Mantra . Sementara di sela-sela waktu mengajar dan kesibukan yang seabreg itu Tjokorda Rai menerjemahkan The Call of The Upanisad -- yang belakangan diterbitkan Majalah Gumi Bali SARAD atas saran saya sendiri. Buku ini terbit dengan judul Panggilan Upanisad, Bertemu Tuhan Dalam Diri (2007).

Sebagai ilmuwan dan pendidik Tjokorta Rai Sudharta memang tidak sempat membidani pendirian majelis keagamaan di Bali, tapi dibalik kelahiran Parisada ia merupakan satu diantara tiga tokoh ikut menggodok ide-ide itu sebelum Parisada didirikan, 23 Februari 1959. "Jauh sebelum Parisada didirikan, kami bertiga (Dr. Ida Bagus Made Mantra, Ida Bagus Punyatmaja, Tjokorda Rai Sudharta) sering berkumpul di India, kebetulan sempat sama-sama sebagai mahasiswa di sana. Pertemuan itu kerap atas prakarsa Pak Mantra. Kami berdiskusi sampai larut, membahas masa depan Agama Hindu di Bali," kenang Tjokorda Rai.

Tiga serangkai ini sadar, ketiga Bali terintegrasi penuh ke pangkuan Republik, Hindu nyaris tak punya pengayom tunggal. Dulu urusan agama berada di bawah kebijakan raja, tetapi ketika raja-raja tidak lagi memiliki kekuatan politik, urusan agama jadi tak karuan. Maka diperlukan sebuah lembaga pengayom di luar kekuatan negara. "Nah atas pertimbangan inilah Parisada didirikan. Dengan demikan Hindu memiliki payung tunggal, yang khusus mengatur tata agama dan kepentingan lain. Ya saat itu kami cuma berpikir lokal, semata berniat mengayomi kepentingan Hindu Bali," urai Tjokorda Rai Sudharta.

Menjelang memasuki purnatugas sebagai guru besar Sansekerta, di rumahnya yang tua, rumah yang ditempati lebih dari 40 tahun, di Jalan Serma Gede nomor 14, Denpasar, sang guru masih rajin mengirim sejumlah artikel agama ke Majalah Warta Hindu Dharma, majalah yang sejak awal turut dirintisnya bersama Dr. Ida Bagus Mantra, Drs. Ida Bagus Punyatmaja MA. Saban pulang ke Puri Amertasari, Ubud, Tjokorda Rai masih suka membuka-buka lontar tinggalan leluhurnya. Saban bulan ia masih setia menjawab pertanyaan-pertanya seputar tatwa untuk pembaca Majalah Gumi Bali SARAD.

"Wah saya tidak bisa mengetik dengan komputer. Setiap ngetik saya minta tolong kepada pegawai penerbit Upada Sastra, biasanya saya menyerahkan tulis tangan begitu saja," aku Tjokorda Rai sembari menyatakan dirinya ketinggalan tehnologi. Kerap, memang Pak Tjok mengirimkan jawaban rubrik konsultasi Tatwa SARAD dalam naskah tulis tangan. Dalam lembar-lembar jawaban itu Pak Tjok tampak bersungguh-sungguh, kata demi kata dikoreksi dengan jeli, kadang begitu rinci. Bahkan hanya untuk salah ketik saja, Pak Tjok sering menelpun redaksi berkali-kali.

Untuk urusan keilmuan pada bidang yang ia sangat cintai: sastra Sansekerta dan Jawa Kuna Pak Tjok mengaku amat beruntung; begitu banyak kebajikan dan nasihat yang ia dapatkan untuk menentramkan batin. Untuk sekadar diketaui, atas prakarsa Bapak Ida Bagus Mantra, Tjkorda Rai Sudartha-lah salah satu tim penulis buku Upadeca.

Upadeca disajikan dengan gaya bertutur. Bahasanya bening mengalir, hadir dengan percakapan didaktis antara Rsi Dharmakerti dengan muridnya Sang Suyasa. Orang boleh menangkap Sang Suyasa sebagai murid zaman, yang rindu menghadap guru agung Rsi Dharmakerti, lalu dengan sujud berkata, “Oh Guru suci, hamba datang mohon pengajaran , sudi terangi hamba dari kegelapan”. Dan tulisan-tulisan didaktis yang mengalir di buku Upedesa itu adalah gaya bertutur dari Tjokorda Rai Sudharta.

I Wayan Westa

Pekerja Kebudayaan

Catatan: profil singkat ini saya tulis di bulan Januari 2005, manakala Prof. Dr. Tjokorda Rai Sudharta belum berpulang dimuat di Majalah Gumi Bali SARAD.

oleh Putu Septa & Sanggar Nata Swara

Penampilan Putu Septa dan Sanggar Nata Swara membawakan komposisi berjutul "Kedok 3" di Wantilan Museum Purbakala "Gedong Arca" BPCB Bali sebagai rangkaian dari Pameran Video Imersif yang berlangsung 29 Nopember s/d 4 Desember 2022 di BPCB Bali.

Visual: Serangga Collective

Organized: RATA (Ruang Asah Tukad Abu)

tukang rekam: Arimbawa @tokek419 //ra

I Ni artchive 2022

#pameranimersif #sanggarnataswara #putusepta #rata #ruangasahtukadabu #iniartchive #iniartchive2022

Ada banyak orang yang paham kalau manusia mesti menanam kesabaran. Bahkan kesabaran harus dipupuk sejak dini agar tumbuh seperti beringin. Beringin kesabaran itu yang meneduhkan penanamnya dan orang yang mau berteduh di bawahnya nanti. Untuk memupuk kesabaran, para ahli sastra jaman dulu membikin cerita tentang Dharma Wangsa yang sangat sabar. Barangkali tokoh ini sedang meniru pertiwi yang sangat sabar juga, meski diperlakukan dengan kejam. Bumi dikeruk tanahnya, diambil batu-batu mulianya, disedot minyak-minyaknya, diinjak-injak badannya, tapi bumi tidak pernah marah.

Dharma Wangsa pun begitu. Meski kerajaannya dirampas, kehormatannya ditindas, istrinya ditelanjangi, dia tetap pada pendiriannya yang sabar. Tetapi kita musti mau mengakui bahwa Dharma Wangsa hanya tokoh ideal yang dihadirkan pengarang untuk menunjukkan, menerangkan, mencontohkan ciri-ciri manusia penyabar. Selebihnya, manusia cenderung kalah dari ketidaksabaran.

Salah satu alat ukur kesabaran yang dimiliki oleh orang Bali adalah upacara. Di dalam upacara apa pun, terkandung beberapa hal yang bisa dimanfaatkan untuk mengukur kesabaran. Bila kesabaran tidak cukup, kita sebut saja keuletan, dedikasi.

Apa cirinya bahwa kita kehilangan kesabaran saat berupacara? Pertama, kita abai kepada wariga. Padahal wariga memberi kesempatan untuk menunggu, sambil menyiapkan segala sesuatunya agar maksimal. Di titik ini, kita sudah kalah melawan ketidaksabaran. Ada banyak aturan tentang upacara menurut pustaka yang dilanggar, karena kita dituntut serba cepat. Kalau tidak cepat, bisa-bisa akan digilas oleh kepentingan lainnya di luar upacara.

Kepentingan yang dimaksud, berupa kepentingan untuk bertahan secara ekonomi semisal pekerjaan yang dituntut selesai dengan cepat. Perubahan pola kerja sangat mempengaruhi cara berupacara. Malah perubahan ini merupakan penyebab yang paling kentara. Sangat mudah mengidentifikasi kebiasaan kita yang berubah karena pola kerja berubah.

Selain ekonomi, teknologi dan industri juga andil dalam perubahan itu. Contohnya, kita tidak lagi berpikir kalau panampahan Galungan digeser maju sehari akan memberi masalah pada kualitas daging karena sudah dibantu lemari es. Masuknya daging ke lemari es, merupakan bukti kalau pola hidup dan upacara memang sudah berubah.

Kedua, tekhnik menyiapkan kelengkapan upacara yang berubah. Untuk kasus ini, kita ambil contoh cara memasak. Ada banyak cara untuk memasak kelengkapan upacara yang dikenal di Bali. Entah itu menggoreng, merebus [lablab], mengukus [ngukus], membakar [ngebek, panggang], dan seterusnya. Meskipun semuanya dimasak dengan api, alat bantunya yang berbeda-beda. Ada alat bantu berupa minyak, ada air, dan ada bara.

Bila orang-orang percaya bahwa leluhurnya adalah manusia cerdas dan bijak, perubahan cara masak ini tidak akan terjadi. Sebab, beda cara masak, beda penyebutan. Beda penyebutan, beda barang. Beda barang berarti beda simbol. Karena simbol berbeda, maka maknanya pun berbeda. Hal ini sekaligus membuktikan, kebanyakan dari kita memang sudah berubah. Barangkali di antara kita yang berubah ini, ada kaum-kaum yang memasukkan dirinya sebagai kelompok konservatif yang menolak perubahan. Kaum-kaum yang menurut pandangannya sendiri menjaga keajegan tata upacara ala Bali.

Memang terkesan menyedihkan. Namun inilah kenyataan yang mesti diterima dengan lapang dada. Di tingkat paling luar dari agama Hindu-Bali, yakni upacara, kita sudah banyak berubah. Meski begitu, kita tidak perlu larut dalam kesedihan. Yang terpenting sekarang adalah bahwa kita mesti menyadari kita perlu lebih bersabar. Kesabaran adalah Dharma. Bila tidak punya kesabaran, sama artinya tidak punya Dharma. Bila Dharma saja tidak punya, mana mungkin merayakan kemenangannya. [*]

IGA Darma Putra

09.07.2022

 

Seloka Duka Ratnakara

Batin yang terbasuh kesadaran bisa mengubah kekejian menjadi seorang pencinta hidup begitu peka. Kisah Walmiki pengarang Ramayana misalnya; berawal dari perubahan besar yang terjadi dalam benak seorang begal keji. Mulanya ia bernama Ratnakara, pemuda sudra yang memiliki kebiasaan buruk; perampok, pembunuh keji, perampas milik orang.

Suatu hari di tengah hutan ia menghadang seorang Rsi yang tengah melakukan perjalanan suci atau dharma yatra. Rsi ini pun hendak dirampoknya, bila melawan sang Rsi hendak dibunuh.

Dengan suara lembut Rsi sang menyapa, “Sabar anak muda, Sebelum engkau merampas harta-benda miliku, mengambil jiwaku, aku hendak bertanya, siapakah kelak menanggung beban dosamu di kemudian hari ?”

“Ayah dan keluargaku” jawab Ratnakara geram sembari menghunus pedang.

“Apa alasannya Nak”

“Ayahku tidak melarang perbuatan jahat ini,” jawabnya

“Baik, harta-bendaku akan kuserahkan semua, tetapi pintaku padamu, cobalah bertanya pada ayahmu, pada ibumu dan juga pada istrimu, benarkah mereka akan menanggung segala dosa perbuatanmu itu? Pergilah menemui mereka sebentar. Jangan khawatir aku pasti menunggu kedatanganmu di sini.”

Ratnakara pergi menemui sang ayah, bertanya sebagaimana dikehendaki sang Rsi.

“Nak segala perbuatan dan dosamu tentu kau sendiri yang akan menaggung, baik sekarang atau di hari kemudian,” jawab sang ayah singkat.

Mendengar jawaban ayahnya begitu, Ratnakara tercengang, “Perbuatanmu; sebagai apa yang kau sebar dan kau tanam akan tumbuh dan berbuah sebagaimana engkau sebar dan tanam juga.”

Tidak puas dengan jawaban ayahnya, Ratnakara menemui sang ibu sembari menayakan hal serupa. Sang ibu menjawab, “Anaku, ibumu telah melahirkanmu. Sejak delapan bulan dalam kandungan ibu selalu was-was dan memohon pada Tuhan agar kau lahir dengan selamat. Sesudah kau lahir kupelihara kau baik-baik, kususui kau dengan kasih sayang, kuasuh kau hingga dewasa dengan segala kecintaanku. Kini kau telah dewasa, kadang-kadang kau memberikan ibumu makanan dan pakaian, tapi perbuatanmu sangatlah kecil dibandingkan dengan apa yang telah ibu perbuat untukmu. Dan kini kau datang menanyakan apakah ibu suka menanggung dosa yang kau perbuat. Bagaimana dengan pendapatmu sendiri Ratnakara, dosa itu tentu ditanggung mereka yang menjalani sendiri, bukan oleh orang lain. Sungguhpun orang lain itu kau beri sesuatu dari perbuatanmu,” kata ibunya dengan tenang.

Mendengar perkataan itu, hati Ratnakara makin sedih, seperti ada sesuatu yang mengguncang di kalbu. Dadanya terasa berat, bibirnya terasa kaku dan kering. Ratnakara lalu pergi menemui istrinya. “Istriku maukah engkau menanggung beban dosa-dosaku kelak?”

“Kakanda sejak kita menikah, kuserahkan badan dan jiwaku ini pada Kanda, kuabdikan diriku untuk Kanda. Kebebasanku telah hilang separuhnya, kuberikan buat Kanda, demikian juga kegembiraanku kubagi bersama Kanda sebagai suami. Tiap hari Dinda melakukan pekerjaan guna kesenangan dan kepuasan hati Kanda, belahan nyawa Dinda. Kini Kanda tanya, apakah Dinda turut menaggung dosa yang Kanda perbuat tiada sepengetahuan Dinda? Dinda rasa itu bukan tanggung jawab Dinda. Dinda tidak turut menanggung dosa itu karena Dinda tidak ikut serta dalam pekerjaan dosa itu,” jawab sang istri dengan sabar.

Dengan tubuh lunglai, muka pucat Ratnakara menemui sang Rsi ke tengah hutan. Ternyata orang suci yang hendak dirampok itu tetap berdiri berdiri di tempat. “Bagaimana Nak, apa kata ayahmu dan keluargamu yang lain?”

Ratnakara terdiam, tatapan matanya penuh kesedihan, lalu menyatakan ia tidak akan merampas harta milik orang suci yang setia pada janji itu. Mereka dipersilakan meneruskan perjalanan. Sejak kejadian itu Ratnakara sangat menyesali segala perbuatannya. Tiap kali teringat akan dosa-dosanya kerap kali ia menyendiri di tepi sungai atau di tengah hutan. Ratnakara sadar akan kesalahannya. Ia ingin menebus dosa-dosanya. Ia pun melakukan tapa amat keras, sampai-sampai seluruh tubuhnya dipenuhi tanah dipenuhi anai-anai. Narada seorang Dewa Rsi datang menemuinya. Atas kebesaran tapanya, ia lalu dipanggil Walmiki, artinya rumah anai-anai.

Suatu hari Ratnakara tengah menikmati semerbak harum bunga-bunga di hutan, ia melihat pemandangan sangat menarik hatinya. Sepasang burung krauncha, tengah asyk bercumbu, saling menyatakan gelora asmara. Sebentar-sebentar ekor burung krauncha mengibas-ibas mendekati si betina, paruhnya dogosok-gosokkan satu sama lain sembari hinggap di ranting. Sungguh mesra kelakuan dua burung ini, tampak begitu bahagia. Ratnakara sangat bahagia melihat dua burung tengah bercinta ini.

“Aduhai, alangkah bahagianya sepasang burung itu. Nyata bukan manusia saja yang dapat hidup bahagia, mahluk Tuhan sekecil burung krauncha dapat juga menikmati hidup bahagia. Sungguh agung karunia Sang Pencipta yang menitahkan sekalian alam”, kata Ratnakara dalam hati.

Selagi dijiwanya penuh rasa bahagia karena ikut menikmati kebahagiaan sepasang burung, mendadak ia dikejutkan peristiwa yang sangat melukai hatinya. Panah seorang pemburu melesat dari arah yang tidak diketahui Ratnakara, dan menembus tempat jantung seekor burung jantan. Seketika itu burung melayang ke bawah, tepat jatuh di atas pangkuan Ratnakara. Darah segar semburat di dedaunan kering.

Burung betina terkejut akan peristiwa naas itu, menjerit-jerit berterbangan kian kemari. Ratnakara mengalami derita jiwa amat berat. Mengalami pemandangan serupa itu, tubuh Ratnakara terasa menggigil, air matanya menitik. Ia kutuk perbuatan pemburu yang kejam itu, disumpahinya supaya tidak mengenal belas kasih sesama mahluk idup, serta tidak mendapatkan tempat tinggal selama hidup. Tiba-tiba Ratnakara sadar akan kutuk itu, perbuatan itu tidak boleh dilakukan.

Sejak saat itu Ratnakara menjadi seorang yang sangat berperasaan, hatinya begitu halus. Kerap ia menyanyikan lagu-lagu duka yang dirajut sendiri, mengharukan setiap orang yang mendengar. Lagu ini sebagai pernyataan bela sungkawa terhadap kesedihan yang diderita sepasang burung krauncha yang awalnya hidup bahagia.

“Hak apakah yang aku miliki untuk mengutuk pemburu itu? Mengapa aku terhasut menurutu emosi,” sesal Ratnakara pada diri sendiri.

Saban teringat peristiwa sedih itu, Ratnakara menyanyikan lagu mengharukan, hingga Dewa Rsi Narada kepincut mendengar nyanyian duka itu. Dan suatu hari saat Ratnakara mengidungkan lagu sedih sembari duduk di bawah pohon, Narada menemuinya. “Lagunya sangat mengharukan hati Ratnakara”, sapa Narada.

“ Siapakah Tuan yang tiba-tiba datang kemari ?”

“Aku Dewa Rsi Narada. Demi mendengar lagumu yang indah mengharukan itu, aku datang kemari. Bila kau berniat mengarang cerita hendaknya engkau suguhkan dengan lagu semerdu dan seindah itu, "pesan Narada.

“Tetapi Tuan, apakah di atas dunia ini ada seorang yang telah benar-benar hatinya suci luar dalam serta sungguh-sungguh mengenyampingkan kenafsuannya dan telah mengabdi pada kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan cinta?” tanya Ratnakara.

“Ada Ratnakara, Dialah Rama. Ia lahir dari dinasti Surya, yang pada saat ini memerintah Ayodya. Narada kemudian menuturkan kisahnya pada Walmiki. Kendati Narada sudah lama pergi dari asrama, Walmiki tidak bisa melupakan kisah Rama itu.

Kembali Walmiki tenggelam dalam pemernungan. Brahma datang sembari bersabda, "Tulislah kisah Rama itu Walmiki. Aku anugerahkan penglihatan tajam agar engkau dapat melihat semua peristiwa. Selama gunung-gunung tetap berdiri kokoh, sungai-sungai mengalir, selama itulah Ramayana tetap abadi di dunia." ***

I Wayan Westa

Pakubuan Kusa Agra

30.03.2022

 

Apa yang pertama-tama perlu dicermati mana kala membahas cerpen-cerpen berbahasa Bali Bapak I Ketut Rida? Jawaban paling sederhana, dia adalah seorang guru. Pendidik anak-anak desa dengan kehidupan sangat sahaja. Guru yang lahir tanggal 11 September 1939 ini saya kenal sejak tahun 1970-an, saat mana beliau menjadi Kepala Sekolah di SD No. 1 Gunaksa, desa di mana saya dilahirkan. Sementara Bapak Ketut Rida lahir di Desa Sulang, Banjar Kanginan, bersebelahan dengan desa kelahiran kami.

Dialah Kepala Sekolah yang ikut membangun sekolah kami. Usai letusan Gunung Agung yang dahsyat di tahun 1963, sekolah kami poranda dilindas lahar. Setelah hampir 10 tahun tidak ada sekolah, di tahun 1972-1974 itu, saban sabtu kami para murid bergotong royong, mencari pasir dan batu di tepian Tukad Unda, tak jauh dari Desa Tangkas. Gedung-gedung dibangun undagi desa, para guru dan murid ikut melabur tembok. Saya masih ingat, Gubernur Sukarmen, dan Ida Bagus Made Mantra pernah singgah ke sekolah kami. Di titik ini nama Ketut Rida mesti kami catat sebagai guru pejuang.

Sebagai Kepala Sekolah, Bapak Ketut Rida terbilang guru yang disiplin, tak sedikit menenggarai beliau sangat galak. Saban Senin, usai upacara bendera Bapak Ketut Rida selalu membawa penggaris, memeriksa satu-satu para murid, dari tilu, kuku, rambut, dan gigi. Bila ada murid yang melanggar, tak segan-segan beliau menghukum kami. Di samping hukuman jewer telinga, hukuman paling berat adalah berdiri dengan satu kaki, sembari menghormat bendera, ini dilakukan saat matahari kian meninggi.

Saya mengenang Ketut Rida sebagai guru serba bisa, mengajar semua mata pelajaran; dari berhitung, ilmu alam sampai bahasa Bali. Tapi di antara kemampuannya itu, yang paling kentara; Bapak Ketut Rida adalah tukang cerita piawai. Suatu hari, jauh sebelum hari Siwa Ratri dilakukan secara massal. Bapak Ketut Rida bercerita Lubdaka pada kami. Menyimak cerita itu banyak teman-teman kami menangis. Bagaimana pun cerita itu dibawakan dengan amat menyayat dan menegangkan. Sementara itu, mungkin dengan maksud menyampaikan ajaran budi pakerti, Bapak Ketut Rida suka juga mendongengi kami cerita-cerita tantri. Mulai dari cerita I Pepaka, sampai cangak maketu.

Selepas sekolah dasar, saya makin jarang bertemu. Jika toh bertemu nama saya pasti tak diketahui. Sosok guru galak ini pun makin apus dalam ingatan saya. Hingga suatu hari di Gedung Baliologi, Denpasar saya menemukan setumpukan naskah kumpulan pemenang sayembara novel berbahasa Bali. Di antara jilidan naskah itu, saya temukan novel Sunari karya Bapak Ketut Rida. Novel ini adalah pemenang satu sayembara novel bahasa Bali di tahun 1980. Begitulah saya baca novel ini, sampai-sampai saya pernah menyajikannya dalam suatu seminar kampus. Bayangan Ketut Rida bangkit lagi di benak saya, mengenangnya sebagai sosok juru cerita yang piawai. Dan novel Sunari memiliki makna khusus dalam kenangan saya, bahasanya hidup, temanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, berkisah tentang tragik sepasang kekasih, si wanita hamil, dan si lelaki pergi tak mau bertanggung jawab. Hingga di ujung perjalanan hidup si lelaki diijinkan menebus dosa, meminta maaf, lalu menikahi sang kekasih penuh kesadaran.

Novel Sunari kami ajukan sebagai salah satu novel unggulan yang diterbitkan atas kerja sama Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB-LIPI) dengan The Ford Foundation dalam rangka Program Pemetaan Bahasa Nusantara, 1999. Inilah novel berbahasa Bali pertama yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, yang sekaligus mengantarkan Ketut Rida meraih penghargaan Sastera Rancage tahun 2000.

Tapi dalam perjalanan kreatif Ketut Rida tidak cuma menulis novel, dia juga menulis puisi dan cerpen. Begitulah hari ini, "Lawar Goak" kumpulan cerpen berbahasa Bali karya Ketut Rida menyajikan tidak hanya soal kehidupan desa, lebih dari itu ia seorang pencatat yang rajin. Cerita-cerita yang terkumpul dalam cerpen ini layaknya catatan seorang pewarta dari kampung sendiri. Segala yang dialami ia catat, lalu dijarit dengan cara berkisah. Ada kisah tentang keluarga petani[ Kandik Tikul, hal:11), kisah anak bertemu ibu [Sekar Jepun, hal 44], cerita tentang anak tiri [Katuminan, hal 55], cerita tentang pemabuk [Punyah, hal 66] dan lain sebagainya. Dalam cerpen bertajuk "Nglegar Prana" misalnya Ketut Rida berkisah tentang suka-duka seorang guru, jatuh cinta dengan gadis desa, lalu dipinang secara terus terang.

Ada enam belas cerpen yang terhimpun dalam buku ini. Keenam belas cerpen itu ditulis dengan gaya yang sama, datar, rapi, dengan alur dan tuturan nyaris seragam. Membaca cerpen-cerpen Ketut Rida seperti kita mendengar kabar dari penggak-penggak. Setting dan lingkungan yang dia tulis tak jauh-jauh dari tempat tinggal, diseputar lingkungan sendiri. Mulai dari kesibukan di pasar, hiruk-pikuk terminal, hingga panorama kehidupan desa. Cerita yang dibangun pun berkisah tentang orang-orang biasa, bahkan sangat biasa, kadang nyaris tanpa tegangan berarti. Klimak yang dia usahakan pun tak terasa sebagai klimak. Sungguh berbeda dengan klimak yang dia bangun dalam novel Sunari, yang di sana-sini dalam perkisahan itu Ketut Rida berhasil membangun tegangan berarti.

Memang di antara 16 cerpen yang terhimpun, cerpen Lawar Goak-lah yang paling berhasil membangun tegangan, kendati kesan dan pesannya amatlah buram, ritual mengiring lawar goak di tengah malam mungkin tidak santun didebat dengan akal sehat, kecuali ia dibiarkan sebagai keyakinan. Kesan yang sama kita temukan juga dalam cerpen Umah Tawah, di mana Ketut Rida mengemas sebuah cerita dari dunia gaib, di mana kisah seorang anak bertemu dengan dunia lain, dunia tak nyata dalam hidup manusia. Kisah ini sama dengan kabar tentang mereka yang pernah 'engkebang memedi'.

Kendati cerpen-cerpen dalam kumpulan buku ini dijarit dengan alur yang lurus. Namun ini bukanlah soal utama. Terbersit cerpen-cerpen yang ditulis Ketut Rida hanya menjadi media penyampai pesan. Setiap cerita punya amanat khusus. Setiap tokoh adalah penyuara kepatutan. Dalam cerita berjudul "Es Rujak" misalnya, Ketut Rida menyampaikan pesan tentang pentingnya memiliki kepedulian sosial, mendukung gerakan orang tua asuh guna menyukseskan wajib belajar sembilan tahun. Begitu pun cerpen Dagang Canang, bahwa luka-luka psikologis akibat ketegangan kelas sosial sebaiknya tak sampai mengeringkan makna kemanusiaan. Di situ, Ketut Rida dalam harus kesadaran batin selalu memberi jalan, berupaya merawat hubungan kemanusian, alih-alih menyangkut hubungan ayah dan anak yang menikah diluar status keluarga. Sebagai seorang guru, dan penatar P4 yang sukses, kerap Ketut Rida menyodorkan solusi sederhana di setiap konflik tokoh-tokoh cerpennya.

Dunia Ketut Rida adalah dunia harmoni. Cerpen-cerpennya kadang terlihat amat hitam putih, lurus dan bersih. Sebagaimana anggapan orang Bali, ia bercerita dengan dabdab, kadang terlalu santun. Semua disharmoni berada pada sisi antagonis. Semua harmoni berada di sisi protagonis. Di antara ketegangan bagian-bagian itu, Ketut Rida tak jarang merajukkan amanat, pesan yang dibagikan untuk pembaca. Simaklah cerpen Punyah dan Kulek Biu, di situ, lewat tokoh-tokohnya Ketut Rida berusaha hadir sebagai "guru naratif", memberi nasihat, menyajikan solusi, bahwa di setiap sisi hidup selain ada cela, orang juga menemukan solusi dan penyadaran.

Sebagai pengarang, Ketut Rida adalah pewarta yang baik, kerap mencatat peristiwa biasa menjadi cerita menarik. Dalam cerita "Ambengan Puun" misalnya, Ketut Rida dengan apik menceritakan peristiwa terbakarnya ilalang di suatu desa, sembari di sana-sini ia menyusupkan pesan mendidik, betapa penting setiap orang merawat lingkungan. Pesan-pesan seperti itu tiada jemu dikemas lewat tokoh-tokoh guru dalam cerita-ceritanya. Cerpen-cerpen Ketut Rida memang amat bersahaja, mudah dicerna, alurnya mudah ditebak. Namun cerpen-cerpen itu menyala karena amanatnya. Cerpen-cerpen itu memiliki bobot karena pesan didaktisnya. Lewat cerpen-cerpen itu Ketut Rida tetap berniat menyampaikan pesan-pesan pendidikan. Karena itu latar cerpen-cerpennya pun kebanyakan soal pendidikan, suasana sekolah, suka duka kehidupan para guru, dan lain sebagainya.

Ketut Rida tidak cuma sukses menceritakan peristiwa nyata, di sana sini ia juga piawai mengkemas peristiwa-peristiwa yang tak biasa, menjadi cerita cukup menegangkan. Cerpen berjudul "Meong Poleng" misalnya, menunjukkan kemampuan pengarang menjarit kisah dunia hitam dalam pandangan dunia orang Bali. Begitu pun cerita Umah Tawah, bercerita tentang seorang anak memasuki dunia gaib di bawah pohon Kesambi, hingga menemukan rumah yang tak sembarang orang bisa melihatnya. Memang cerita-cerita ini cukup menghibur, membangun ingatan perihal dunia lain orang Bali, soal gamang, memedi, tonya, dan lain sebaginya. Keterpelajaran, kemoderenan tak serta-merta bisa menghapus memori orang Bali tentang dunia gaib itu.

Keenam belas cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku Lawar Goak ini, sekaligus menunjukkan dunia Ketut Rida, yang di situ dengan sejumlah kode; baik itu kode sastra, kode budaya, dan kode bahasa menghadirkan dunia Bali dari pandangan orang Bali. Dan cerpen-cerpen ini sekaligus menunjukkan cakrawala pandang dunia Ketut Rida, dunia orang desa, dunia kaum terdidik yang menjadi guru. Ketut Rida pun tidak menunjukkan konflik yang berarti di setiap alur cerpennya. Cerpen-cerpennya mengalir dengan bahasa mudah dicerna. Rida tidak bercerita dengan bahasa Bali yang tinggi. Ia bercerita dengan bahasa Bali kepara, runtut, dan jelas. Siapa saja ingin belajar bahasa Bali baku, novel dan cerpen-cerpen Ketut Rida layak dibaca. Ia bertutur jernih, dengan fonologi, morfologi, dan sintaksis bahasa Bali jelas.

Bagi pengarang pemula, membaca karya-karya Ketut Rida memang menjadi keharusan. Di samping membaca karya-karya pengarang tua lainnya, seperti karya Made Sanggra, Jelantik Santha, Gusti Ketut Kaler (Waruju Lor), dan Gde Darna. Dalam amatan saya, lima pengarang lawas ini memiliki kecerdasan bahasa sangat standar. Darinya kita bisa menggali banyak kosa kota yang sampai saat ini mungkin belum dicatat dalam kamus bahasa Bali.

Mengumpulkan kembali karya-karya Ketut Rida dalam hidangan sebuah buku tentu memiliki makna strategis bagi pengembangan bahasa dan sastra Bali modern. Dengan cara ini pula kita mendokumentasikan, mencatat, mengharagai, menempatkan dunia kepengarangan Ketut Rida dalam posisi yang semestinya. Kita memang layak mencatat yang tua, untuk generasi kini, dan sejarah kesusatraan Bali modern ke depan.

Apapun pesan yang hendak disampaikan, Ketut Rida telah memberdayakan kemampuan bahasa Bali, mencatat soal-soal kekinian tentang Bali dari lingkungan paling dekat. Peristiwa yang tak begitu jauh dari psiko-historis orang Bali. Dan cerpen-cerpennya pun menjadi catatan sosiologis tentang kekinian masyarakat Bali, cerita-cerita di mana semua orang bisa mengalami. Inilah bentuk keakraban Ketut Rida. Ia tidak cuma mencatat perisitiwa, tapi mencatat dengan detail dinamika sosial itu, yang boleh jadi akan usang bila peristiwa itu ditulis sebagai berita biasa.(I)

I Wayan Westa

18 Nopember 2014.

Catatan;

Tulisan ini adalah makalah menyambut peluncuran kumpulan cerpen Ketut Rida berjudul: Lawar Goak.

Rekaman diskusi di acara Solidaritas Senja 01 dengan tema "COALRUPTION: Tambang dalam Pusaran Korupsi"

menghadirkan pembicara:

Wayan "Gendo" Suardana (For Bali)

Ki Bagus Hadi Kusuma (JATAM)

Tata Mustasya (Greenpeace)

IGA Mas Rwa Jayantiari (Akademi Ilmu Hukum UNUD)

Moderator:

Arya Ganaris (ARAK Bali)

 

yang berlangsung pada:

Selasa,8 Oktober 2019
14.00-22.00
Taman Baca Kesiman
Jl. Sedap Malam 234 Denpasar. .

audio rec. & edit: @iniartchive

musik: Saturn

produksi 2022

Blue Is The Colour of Love

DarahRouge dikenal karena teater canggihnya yang mengangkat isu-isu kontemporer seperti pertunjukan “Menjahit Marat Sade” “cooking and Murder” “Bule”, “Transisi” dan pertunjukan terbarunya “Blou is The Colour of Love” yang akan ditampilkan di Bali, Bandung dan Jakarta pada bulan Juni 2018.

Disutradarai oleh seniman pertunjukan dan penyair yang bernama imang susu  dan dikembangkan bersaman actor bernama Karensa Dewantoro, “Blue Is The Colour Of Love” adalah dialog yang perlu kita perbincangkan tentang isu-isu budaya pernikahan di Indonesia, dating-app, dan dunia perkencanan.

Ini adalah sebuah pertunjukan yang memadukan cabaret sopan, sirkus dan teater absurd. Mengeksplorasi bagaimana orang-orang melukai diri mereka sendiri, serta cara masyarakat menyakiti orang lain: pernikahan terlalu rumit untuk diterjemahkan dan ditafsirkan oleh masyarakat tersebut.

Cinta itu sangat sederhana, tapi bisa dengan mudah berubah menjadi kebencian. Kita hidup di dunia yang mana tampaknya cinta adalah satu-satunya sumber dari segala bentuk kejahatan.

Ini adalah perjalanan rollercoaster lucu melalui cinta, penolakan dan pengampunan, serta memunculkan pertanyaan tentang arah masyarakat kita.

“Blue Is The Colour Of Love” sebelumya dan untuk pertama kalinya di Universitas Islam 45, Bekasi, pada tanggal 28 April 2018.

Kali ini (itu),pertunjukan “Blue Is The Colour Of Love” akan hadir pada:

selasa, 12 Juni 2018

20.00 wita

Taman Baca Kesiman

Jl. Sedap Malam 234, Denpasar-Bali.

Tulisan pengantar diambil dari unggahan poster di akun Instagram @tamanbacakesiman

Empat orang lelaki blingsatan di dalam air, dengan google dan snorkle yang terpasang dikepalanya tampak bergerak lihai, mengarahkan dan menggiring jala menjauhi titik awal mereka turun, bergerak ke arah barat sebelum akhirnya menikung ke tepian.

Perlahan dua orang lelaki tampak keluar dari air, mengangkat jala yang telah mreka tebarkan, diikuti dua orang yang berjalan mengiringinya. Satu tangan erat menggenggam jala, sedangkan tangan lainnya menggenggam perlengkapan snorkling. Mereka melangkah ketepian, melewati pantai penuh batu, menuju pohon yang telah menunggu dengan kerindangan yang disajikan lengkap dengan hembusan angin yang cukup membuat daun-daunnya bergoyang.

Sekilas jala yang dibawa para lelaki itu tidak tampak memuat seekor ikan pun, tetapi rasa puas yang terlihat dari ekspresi dan langkah mereka yang penuh semangat menarik untuk ditelisik lebih jauh.

Sebuah terpal biru telah menunggu dibawah kerindangan pohon dan disebelahnya sebuah baskom besar berisi air menunggu ditemani dua laki-laki tua dengan tubuh hitam liat.

Tanpa aba-aba, dua orang yang membawa jala langsung menggelar jala diatas terpal biru, terlihat jelas ikan-ikan sebesar kelingking seoarang bocah telah terjerat, melekat tidak bisa lepas, tidak bertenaga bahkan beberapa diantaranya sobek tak bernyawa.

Jari-jari tua yang sedari tadi menunggu jala tiba, tampak dengan cekatan melepaskan satu-persatu ikan-ikan yang melekat pada jala dan memasukkannya kedalam baskom yang berisi air yang telah memerah oleh darah dari sobekan luka-luka kecil si ikan kecil, sementara beberapa ikan lain berjatuhan di atas terpal biru, berjatuhan seperti daun kering yang tidak lagi diharapkan oleh sang ranting.

“Dari pada kita beli ikan, lebih baik ke laut nyari ikan, gratis” kata Made Jon, lelaki dengan postur gempal dan snorkling masih terpasang di dahinya.

“Sudah hampih satu bulan ini tidak ada tamu jadi tidak ada order” dia melanjutkan.

“Banyak wisatawan yang cancel karena status Gunung Agung, walau Amed tidak berpengaruh secara langsung, tetapi informasi yang beredar diluar Amed menakut-nakuti wsatawan yang ingin datang ke Amed” lanjutnya.

“Nyari ikan karena tidak ada kegiatan lain, sabar aja” Made Jon yang selama ini berprofesi sebagai freelance driver menjelaskan.

Peningkatan status Gunung Agung dari waspada menjadi awas ternyata berpengaruh juga pada kunjungan wisatawan ke wilayah Amed. Hal bisa terlihat dari jumlah wisatawan yanga ada dipantai. Area pantai yang biasanya penuh oleh wisatawan yang hendak menikmati Japanese wreck kini terlihat lengang. Hanya tampak beberapa turis asing yang masuk dalam aliran turis “I dont care” terhadap isu panas yang beredar. Suasana lengang yang akhirnya membuat para pelaku dunia wisata yang biasanya sibuk ikut berebut kue pariwisata, harus kembali ke halaman permaianan masa kecil mereka, pesisir.

Halaman rumah yang tentunya selama ini sudah tidak asing karena letaknya yang tinggal beberapa meter dari rumah mereka. Halaman rumah yang mereka tinggalkan karena kue pariwisata ternyata menawarkan hasil yang lebih menggiurkan dibandingkan mengarungi laut seperti yang dilakukan oleh orang tua mereka sebelumnya.

Beruntung, industri pariwisata ternyata tidak membuat mereka lupa akan pantai yang menjadi halaman bermain mereka. Ini terbukti mereka masih bisa melihat kapan saat yang tepat untuk menebar jala, menangkap ikan-ikan teri yang berenang bergerombol di tepian. Ingatan yang ternyata berguna ketika industri pariwisata kolaps akibat perubahan alam.

Sebuah ironi, ketika mereka kembali berpaling pada alam, mengingat kembali bahwa mereka bisa makan dari alam tepat ketika alam di utara, tepat ketika gunung yang menjulang di barat, gunung yang memberikan suasana eksotis sunset yang membuat para wisatawan datang, kini sedang bergejolak dan bersiap memuntahkan isi perutnya.

***

Seorang wanita datang menghampiri lelaki tua yang bertelanjang dada, kemudian menyerahkan sebuah mangkok dan kantung plastik kecil pada lelaki tersebut. Mangkok yang digunakan sebagai alat ukur, berapa jumlah ikan yang nantinya dimasukkan dalam satu kantong plastik, yang nantinya akan dihargai Rp. 5000,- untuk setiap mangkoknya.

Ikan-ikan kecil yang biasanya muncul di musim penghujan ini bisa menjadi pendapatan tambahan ketika pekerjaan utama yang menjadi bahan bakar asap dapur tetap bisa mengepul ternyata tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.

“Biasanya ikan teri ini muncul saat bulan-bulan hujan, tetapi sekarang hujan jarang turun” kata seorang lelaki paruh baya. Dia menjelaskan tentang pola ikan teri yang berenang ketepian laut.

“Sekarang bulan ikan sudah tidak bisa ditebak” lanjut lelaki tua yang bernama Pak Nyoman Sludir.

Lelaki yang dahulunya bekerja sebagai nelayan, mengarungi lautan hanya bermodalkan dua puncak gunung, puncak Gunung Agung dan puncak Gunung Rinjani.

“Sekarang anak saya hobi mancing, tetapi kerjanya hanya mengelola penginapan”. Pak Nyoman Sludir menceritakan kegemaran anaknya, sambil tangan liatnya sibuk menakar ikan yang ada didalam baskom dan memasukkannya kedalam kantung plastic. Ikan yang sudah dipesan oleh seorang chef lokal.

Pergeseran mata pencaharian terjadi dengan cepat, nelayan yang pada generasinya merupakan mata pencaharian utama yang dahulu digelutinya, kini hanya menjadi hobi bagi putranya. Banyaknya pilihan pekerjaan yang lebih aman, bersih dan menjanjikan penghasilan tetap membuat profesi nelayan seperti halnya petani menjadi tidak populer.

Profesi nelayan yang membuatnya melintasi Selat Lombok untuk mencari ikan, mengarungi lautan tanpa berbekal alat navigasi, tapi hanya bermodalkan citra dua titik tertinggi di masing-masing pulau yang menjadi penuntunnya untuk berangkat dan kembali pulang. Dua titik tertinggi yang masih berhubungan, Gunung Agung di pulau Bali dan Gunung Rinjani di pulau Lombok. Titik navigasi yang akan hilang ketika hujan datang bersama angin atau kabut dan membuat jarak pandang menjadi lebih terbatas.

Profesi yang tidak mudah, membutuhkan penyerahan diri pada alam.

“Kalau kabut datang lebih baik berhenti di tengah” Kata Pak Nyoman Sludir.

“Pernah tersesat di dalam kabut, tiba-tiba hujan lebat dan angin, tidak bisa melihat apa-apa. Sampai sekitar dekat nusa, bayangan Gunung Agung terlihat, dan itu yang saya pakai patokan untuk kembali” Nyoman Sludir melanjutkan.

Kehidupan sebagai nelayan yang bergantung pada alam yang tidak menentu menjadi pilihan terakhir ketika pekerjaan lain sudah tidak ada lagi. Pekerjaan yang lebih memberikan jaminan keselamatan dan keamanan pendapatan menjadi pilihan yang logis, mengingat bagaimana di era modern perhitungan logika untung dan rugi menjadi sesuatu yang utama, setiap usaha atau pekerjaan sebisa mungkin membawa keuntungan, walau keuntungan itu lebih berupa keuntungan keselamatan.

Hal itu juga yang ditawarkan oleh industri pariwisata, pekerjaan dengan hasil yang tinggi dengan tingkat resiko bahaya yang lebih rendah. Sayangnya industri ini juga memiliki kerentanan yang tidak kalah rendah. Bencana alam hanya salah satu faktor yang membuat industri ini lesu, faktor yang membuat mereka yang biasanya bisa bersembunyi dari matahari yang terik atau membuat tangan mereka sedikit lebih halus karena tidak lagi menarik jala yang berat yang akhirnya membuat mereka harus kembali melihat bahan makanan yang disediakan alam.

Melihat kembali permukaan air laut di pantai, melihat apakah ikan-ikan teri ini sedang bergerombol berenang di pesisir. Jika tanda dipermukaan tidak juga kunjung bisa dilihat, maka salah seorang harus masuk ke dalam untuk melihat apakah ada ikan teri yang bisa dijala dan dibawa pulang, agar pengeluaran bisa ditekan ketika pemasukan dari industri pariwisata tersendat.

Ketika industri pariwisata sebagai bangunan ekonomi dan hajat hidup buatan manusia, yang semakin memperpanjang dan menjauhkan hubungan manusia dengan alam tersendat, pada akhirnya manusia akan kembali pada cara awal mereka bertahan hidup, berhubungan langsung dan makan dari alam, dengan resiko dan pola yang tidak bisa diprediksi, atau dalam memprediksinya tidak semudah memprediksi rendahnya kunjungan wisatawan di musim sepi (low season) setiap tahunnya.

Ketika turis dengan banyak rupiah yang dijanjikan oleh industri pariwisata tidak bisa dijala, maka yang bisa dilakukan hanya kembali menjala ikan-ikan teri yang masih berenang di lautan.

l.taji//29 okt 2017

Sebuah tungku yang hangat ditengah suasana dingin yang sedang mendominasi pagi, api pun khusuk melalap kayu kering yang disuguhkan tidak peduli pada keramaian orang-orang yang berlalu-lalang mencari dan membeli kebutuhan dapur. Dua wanita yang sudah berumur berdiri dihadapan tungku, satu orang tampak mengaduk adonan tepung beras cair, seorang lagi sibuk memarut kelapa. Sebuah cetakan dari tanah liat sudah menunggu diatas tungku, menunggu adonan cair dituangkan kedalamnya.

Dua orang wanita tua yang sudah menjalani profesi sebagai pembuat Laklak, kudapan tradisional dari Bali yang berbahan dasar tepung beras dan dipanggang dalam cetakan.

Laklak menjadi salah satu kudapan yang sering kali dipakai sebagai buah tangan oleh ibu-ibu ketika kembali dari pasar. Menikmati Laklak bersama secangkir kopi dan cuaca dingin pedesaan menjadi menu sarapan sebelum memulai aktifitas.

Perasaan dag dig dug laksananya pergi kerumah pacar untuk kencan pertama muncul ketika memutuskan untuk pergi kepasar dan membeli Laklak. Kebiasaan masa kecil yang terakhir kali dilakukan 20 tahun lalu. Laklak seolah menjadi kudapan sarapan wajib ketika itu, terutama bagi  paman dan bibi yang baru pulang kampung dari perantauan. Mereka akan membeli 15 sampai 20 bungkus dibeli untuk seisi rumah yang memang akan ramai karena seluruh penghuni rumah pulang kampug dari rantau untuk mengikuti prosesi adat atau agama yang akan dihelat. Yang kemudian akan dinikmati bersama dilengkapi dengan obrolan ringan pagi hari.

Ketika kata Laklak saya sampaikan pada beberapa saudara, sebuah komentar yang hampir seragam muncul “rasanya sudah tidak seenak dulu”, komentar yang sedikit negatif. Penggunaan tepung beras pabrikan dianggap menjadi salah satu faktor berubahnya rasa Laklak.

Pada era tahun 90-an ada tiga penjual Laklak yang berjualan di pasar pekraman selat baledan dan ketiga-tiganya masih menggunakan tepung beras buatan sendiri dan proses pembakaran dengan menggunakan tungku, sehingga tampak jelas tiga buah tungku berbaris. Pemandangan yang sudah tidak lagi ditemuakan, kini dari tiga penjual Laklak hanya satu penjual yang masih bertahan menggunakan tungku kayu bakar sedangkan dua sisanya sudah menggunakan kompor gas.

Tidaak hanya kebiasaan cara membakar Laklak menggunakan cetakan tanah liat dengan pengapian dari tungku kayu bakar saja yang masih di pertahankan, penggunaan tepung beras yang digiling sendiri juga masih dipertahankan.

Ten, niki ngangge tepung baas meselip (tidak, ini pakai tepung dari beras yang digiling), menjelaskan ketika ditanya apakah mereka menggunakan tepung beras buatan pabrik atau tidak.

Cara penyajiannya masih bertahan, mereka masih menjual Laklak mesanten (Laklak yang disajikan dengan santan), Laklak megula disisi (Laklak yang disajikan dengan gula meras cair yang dibalurkan diatas kelapa parut) dan Laklak megula ketengah (Laklak dengan gula merah didalamnya sehingga bagian atas Laklak hanya ditaburi kelapa parut).

Pembeliannya pun masih dengan dua cara, membeli dengan satuan uang misalnya membeli Rp. 5000 rupiah atau Rp. 10.000 rupiah, atau membeli dengan satuan kelan (sistem paketan) yang 12 buah Laklak dengan harga Rp.3000/kelan. Satuan kelan ini biasanya dipilih ketika Laklak digunakan sabagai sarana membayar nazar/ kaul.

Setelah di coba rasa yang saya dapatkan masih sama, tidak ada yang berubah, mungkin karena lidah saya yang kurang peka atau memang sebenarnya tidak ada yang berubah ketika Laklak dibuat masih dengan cara lama, tepung dari beras yang digiling sendiri, cetakan tanah liat, dibakar dengan tungku kayu bakar dan kelapa yang diparut ketika hendak digunakan.

Ketika tepung yang digunakan adalah tepung beras buatan pabrik (yang juga biasa digunakan pada pembuatan kue lain), lalu dibakar dengan menggunakan kompor gas dan cetakan besi (yang membuat Laklak lebih cepat matang) maka rasa bisa jadi akan berubah. Hal itu lebih karena tepung beras pabrikan yang diproduksi secara massal dan digunakan pada berbagai jenis kudapan yang menggunakan bahan dasar yang sama membuat lidah sudah terlalu biasa dengan rasa dari tepug tersebut. Ini berbeda ketika tepung yang diigunakan dari beras yang digiling, karena setiap beras memilki rasa yang berbeda tergantung dari mana asalnya. Selain itu kehalusan tepung buatan pabrik dan tepung giling juga berbeda sehingga adonan yang tercipta pun akan berbeda dan itu akan mempengaruhi rasa dari Laklak yang diprodukasi.

Selain itu sensasi saat menikmati Laklak, akan berbeda rasanya ketika Laklak dinikmati di pagi hari bersama sanak saudara, ditemani dengan secangkir kopi dan obrolan penuh kerinduan (antar keluarga yang masih tinggal dikampung dengan yang merantau) jika dibandingkan dengan Laklak yang dinikmati sendiri dan hanya berteman kopi dan pagi.

Jadi yang berubah tidak hanya rasa Laklak hari ini, tetapi situasi kita menikmatinya, antusiasme menikmati Laklak dan kopi sambil  berbagi cerita dengan kerabat yang baru datang dari rantau bisa jadi adalah sepaket kenangan yang sebenarnya dirindukan. Dan ketika yang hadir hanya satu komponen saja maka rasa yang didapatkan tidak akan sama, sebuah kerinduan akan kenangan yang mungkin susah untuk diulang lagi.

Apresiasi layak diberikan kepada Bu Sari dan rekannya yang masih bertahan dari harga laklak seharga 500 rupiah satu kelan sampai hari ini 3000 rupiah dan membuat Laklak secara tradisional dan tidak tergoda untuk menggunakan metoda yang lebih praktis (tepung pabrikan, kompor gas dan cetakan logam), serta masih mempertahankan kudapan tradisional serbuan berbagai kudapan modern seperti roti dan lain lain. Belum lagi godaan perubahan citarasa untuk mengikuti selera pasar, yang bisa saja membuat beberapa tahun kedepan akan ada laklak rasa coklat, laklak rasa keju atau laklak rasa bluberi (padahal tidak ada produksi coklat, keju atau blueberi di Pekraman Selat).

Karena Laklak tidak hanya kudapan pagi hari, tapi lebih dari itu. Laklak, begitu juga kudapan lainnya seperti bubuh tuak, lempog, onde-onde dan jajanan tradisional lainnya menjadi sarana untuk merawat kenangan akan masa masa kecil dan kampung halaman. Jajanan tradisional ini menjadi jembatan nostalgia antara orang yang merantau jauh dari kampung asalnya dengan semua kenangan akan kampungnya.

Seelum laklak berubah seutuhnya atau bahkan punah, maka tidak ada salahnya membeli laklak, dan menikmatinya dengan secangkir kopi dan obrolan ringan tanpa campur tangan handphone pintar.

l.taji,

24/8/2017

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz