Apa yang pertama-tama perlu dicermati mana kala membahas cerpen-cerpen berbahasa Bali Bapak I Ketut Rida? Jawaban paling sederhana, dia adalah seorang guru. Pendidik anak-anak desa dengan kehidupan sangat sahaja. Guru yang lahir tanggal 11 September 1939 ini saya kenal sejak tahun 1970-an, saat mana beliau menjadi Kepala Sekolah di SD No. 1 Gunaksa, desa di mana saya dilahirkan. Sementara Bapak Ketut Rida lahir di Desa Sulang, Banjar Kanginan, bersebelahan dengan desa kelahiran kami.
Dialah Kepala Sekolah yang ikut membangun sekolah kami. Usai letusan Gunung Agung yang dahsyat di tahun 1963, sekolah kami poranda dilindas lahar. Setelah hampir 10 tahun tidak ada sekolah, di tahun 1972-1974 itu, saban sabtu kami para murid bergotong royong, mencari pasir dan batu di tepian Tukad Unda, tak jauh dari Desa Tangkas. Gedung-gedung dibangun undagi desa, para guru dan murid ikut melabur tembok. Saya masih ingat, Gubernur Sukarmen, dan Ida Bagus Made Mantra pernah singgah ke sekolah kami. Di titik ini nama Ketut Rida mesti kami catat sebagai guru pejuang.
Sebagai Kepala Sekolah, Bapak Ketut Rida terbilang guru yang disiplin, tak sedikit menenggarai beliau sangat galak. Saban Senin, usai upacara bendera Bapak Ketut Rida selalu membawa penggaris, memeriksa satu-satu para murid, dari tilu, kuku, rambut, dan gigi. Bila ada murid yang melanggar, tak segan-segan beliau menghukum kami. Di samping hukuman jewer telinga, hukuman paling berat adalah berdiri dengan satu kaki, sembari menghormat bendera, ini dilakukan saat matahari kian meninggi.

Saya mengenang Ketut Rida sebagai guru serba bisa, mengajar semua mata pelajaran; dari berhitung, ilmu alam sampai bahasa Bali. Tapi di antara kemampuannya itu, yang paling kentara; Bapak Ketut Rida adalah tukang cerita piawai. Suatu hari, jauh sebelum hari Siwa Ratri dilakukan secara massal. Bapak Ketut Rida bercerita Lubdaka pada kami. Menyimak cerita itu banyak teman-teman kami menangis. Bagaimana pun cerita itu dibawakan dengan amat menyayat dan menegangkan. Sementara itu, mungkin dengan maksud menyampaikan ajaran budi pakerti, Bapak Ketut Rida suka juga mendongengi kami cerita-cerita tantri. Mulai dari cerita I Pepaka, sampai cangak maketu.
Selepas sekolah dasar, saya makin jarang bertemu. Jika toh bertemu nama saya pasti tak diketahui. Sosok guru galak ini pun makin apus dalam ingatan saya. Hingga suatu hari di Gedung Baliologi, Denpasar saya menemukan setumpukan naskah kumpulan pemenang sayembara novel berbahasa Bali. Di antara jilidan naskah itu, saya temukan novel Sunari karya Bapak Ketut Rida. Novel ini adalah pemenang satu sayembara novel bahasa Bali di tahun 1980. Begitulah saya baca novel ini, sampai-sampai saya pernah menyajikannya dalam suatu seminar kampus. Bayangan Ketut Rida bangkit lagi di benak saya, mengenangnya sebagai sosok juru cerita yang piawai. Dan novel Sunari memiliki makna khusus dalam kenangan saya, bahasanya hidup, temanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, berkisah tentang tragik sepasang kekasih, si wanita hamil, dan si lelaki pergi tak mau bertanggung jawab. Hingga di ujung perjalanan hidup si lelaki diijinkan menebus dosa, meminta maaf, lalu menikahi sang kekasih penuh kesadaran.
Novel Sunari kami ajukan sebagai salah satu novel unggulan yang diterbitkan atas kerja sama Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB-LIPI) dengan The Ford Foundation dalam rangka Program Pemetaan Bahasa Nusantara, 1999. Inilah novel berbahasa Bali pertama yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, yang sekaligus mengantarkan Ketut Rida meraih penghargaan Sastera Rancage tahun 2000.
Tapi dalam perjalanan kreatif Ketut Rida tidak cuma menulis novel, dia juga menulis puisi dan cerpen. Begitulah hari ini, "Lawar Goak" kumpulan cerpen berbahasa Bali karya Ketut Rida menyajikan tidak hanya soal kehidupan desa, lebih dari itu ia seorang pencatat yang rajin. Cerita-cerita yang terkumpul dalam cerpen ini layaknya catatan seorang pewarta dari kampung sendiri. Segala yang dialami ia catat, lalu dijarit dengan cara berkisah. Ada kisah tentang keluarga petani[ Kandik Tikul, hal:11), kisah anak bertemu ibu [Sekar Jepun, hal 44], cerita tentang anak tiri [Katuminan, hal 55], cerita tentang pemabuk [Punyah, hal 66] dan lain sebagainya. Dalam cerpen bertajuk "Nglegar Prana" misalnya Ketut Rida berkisah tentang suka-duka seorang guru, jatuh cinta dengan gadis desa, lalu dipinang secara terus terang.
Ada enam belas cerpen yang terhimpun dalam buku ini. Keenam belas cerpen itu ditulis dengan gaya yang sama, datar, rapi, dengan alur dan tuturan nyaris seragam. Membaca cerpen-cerpen Ketut Rida seperti kita mendengar kabar dari penggak-penggak. Setting dan lingkungan yang dia tulis tak jauh-jauh dari tempat tinggal, diseputar lingkungan sendiri. Mulai dari kesibukan di pasar, hiruk-pikuk terminal, hingga panorama kehidupan desa. Cerita yang dibangun pun berkisah tentang orang-orang biasa, bahkan sangat biasa, kadang nyaris tanpa tegangan berarti. Klimak yang dia usahakan pun tak terasa sebagai klimak. Sungguh berbeda dengan klimak yang dia bangun dalam novel Sunari, yang di sana-sini dalam perkisahan itu Ketut Rida berhasil membangun tegangan berarti.
Memang di antara 16 cerpen yang terhimpun, cerpen Lawar Goak-lah yang paling berhasil membangun tegangan, kendati kesan dan pesannya amatlah buram, ritual mengiring lawar goak di tengah malam mungkin tidak santun didebat dengan akal sehat, kecuali ia dibiarkan sebagai keyakinan. Kesan yang sama kita temukan juga dalam cerpen Umah Tawah, di mana Ketut Rida mengemas sebuah cerita dari dunia gaib, di mana kisah seorang anak bertemu dengan dunia lain, dunia tak nyata dalam hidup manusia. Kisah ini sama dengan kabar tentang mereka yang pernah 'engkebang memedi'.
Kendati cerpen-cerpen dalam kumpulan buku ini dijarit dengan alur yang lurus. Namun ini bukanlah soal utama. Terbersit cerpen-cerpen yang ditulis Ketut Rida hanya menjadi media penyampai pesan. Setiap cerita punya amanat khusus. Setiap tokoh adalah penyuara kepatutan. Dalam cerita berjudul "Es Rujak" misalnya, Ketut Rida menyampaikan pesan tentang pentingnya memiliki kepedulian sosial, mendukung gerakan orang tua asuh guna menyukseskan wajib belajar sembilan tahun. Begitu pun cerpen Dagang Canang, bahwa luka-luka psikologis akibat ketegangan kelas sosial sebaiknya tak sampai mengeringkan makna kemanusiaan. Di situ, Ketut Rida dalam harus kesadaran batin selalu memberi jalan, berupaya merawat hubungan kemanusian, alih-alih menyangkut hubungan ayah dan anak yang menikah diluar status keluarga. Sebagai seorang guru, dan penatar P4 yang sukses, kerap Ketut Rida menyodorkan solusi sederhana di setiap konflik tokoh-tokoh cerpennya.
Dunia Ketut Rida adalah dunia harmoni. Cerpen-cerpennya kadang terlihat amat hitam putih, lurus dan bersih. Sebagaimana anggapan orang Bali, ia bercerita dengan dabdab, kadang terlalu santun. Semua disharmoni berada pada sisi antagonis. Semua harmoni berada di sisi protagonis. Di antara ketegangan bagian-bagian itu, Ketut Rida tak jarang merajukkan amanat, pesan yang dibagikan untuk pembaca. Simaklah cerpen Punyah dan Kulek Biu, di situ, lewat tokoh-tokohnya Ketut Rida berusaha hadir sebagai "guru naratif", memberi nasihat, menyajikan solusi, bahwa di setiap sisi hidup selain ada cela, orang juga menemukan solusi dan penyadaran.
Sebagai pengarang, Ketut Rida adalah pewarta yang baik, kerap mencatat peristiwa biasa menjadi cerita menarik. Dalam cerita "Ambengan Puun" misalnya, Ketut Rida dengan apik menceritakan peristiwa terbakarnya ilalang di suatu desa, sembari di sana-sini ia menyusupkan pesan mendidik, betapa penting setiap orang merawat lingkungan. Pesan-pesan seperti itu tiada jemu dikemas lewat tokoh-tokoh guru dalam cerita-ceritanya. Cerpen-cerpen Ketut Rida memang amat bersahaja, mudah dicerna, alurnya mudah ditebak. Namun cerpen-cerpen itu menyala karena amanatnya. Cerpen-cerpen itu memiliki bobot karena pesan didaktisnya. Lewat cerpen-cerpen itu Ketut Rida tetap berniat menyampaikan pesan-pesan pendidikan. Karena itu latar cerpen-cerpennya pun kebanyakan soal pendidikan, suasana sekolah, suka duka kehidupan para guru, dan lain sebagainya.
Ketut Rida tidak cuma sukses menceritakan peristiwa nyata, di sana sini ia juga piawai mengkemas peristiwa-peristiwa yang tak biasa, menjadi cerita cukup menegangkan. Cerpen berjudul "Meong Poleng" misalnya, menunjukkan kemampuan pengarang menjarit kisah dunia hitam dalam pandangan dunia orang Bali. Begitu pun cerita Umah Tawah, bercerita tentang seorang anak memasuki dunia gaib di bawah pohon Kesambi, hingga menemukan rumah yang tak sembarang orang bisa melihatnya. Memang cerita-cerita ini cukup menghibur, membangun ingatan perihal dunia lain orang Bali, soal gamang, memedi, tonya, dan lain sebaginya. Keterpelajaran, kemoderenan tak serta-merta bisa menghapus memori orang Bali tentang dunia gaib itu.
Keenam belas cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku Lawar Goak ini, sekaligus menunjukkan dunia Ketut Rida, yang di situ dengan sejumlah kode; baik itu kode sastra, kode budaya, dan kode bahasa menghadirkan dunia Bali dari pandangan orang Bali. Dan cerpen-cerpen ini sekaligus menunjukkan cakrawala pandang dunia Ketut Rida, dunia orang desa, dunia kaum terdidik yang menjadi guru. Ketut Rida pun tidak menunjukkan konflik yang berarti di setiap alur cerpennya. Cerpen-cerpennya mengalir dengan bahasa mudah dicerna. Rida tidak bercerita dengan bahasa Bali yang tinggi. Ia bercerita dengan bahasa Bali kepara, runtut, dan jelas. Siapa saja ingin belajar bahasa Bali baku, novel dan cerpen-cerpen Ketut Rida layak dibaca. Ia bertutur jernih, dengan fonologi, morfologi, dan sintaksis bahasa Bali jelas.
Bagi pengarang pemula, membaca karya-karya Ketut Rida memang menjadi keharusan. Di samping membaca karya-karya pengarang tua lainnya, seperti karya Made Sanggra, Jelantik Santha, Gusti Ketut Kaler (Waruju Lor), dan Gde Darna. Dalam amatan saya, lima pengarang lawas ini memiliki kecerdasan bahasa sangat standar. Darinya kita bisa menggali banyak kosa kota yang sampai saat ini mungkin belum dicatat dalam kamus bahasa Bali.
Mengumpulkan kembali karya-karya Ketut Rida dalam hidangan sebuah buku tentu memiliki makna strategis bagi pengembangan bahasa dan sastra Bali modern. Dengan cara ini pula kita mendokumentasikan, mencatat, mengharagai, menempatkan dunia kepengarangan Ketut Rida dalam posisi yang semestinya. Kita memang layak mencatat yang tua, untuk generasi kini, dan sejarah kesusatraan Bali modern ke depan.
Apapun pesan yang hendak disampaikan, Ketut Rida telah memberdayakan kemampuan bahasa Bali, mencatat soal-soal kekinian tentang Bali dari lingkungan paling dekat. Peristiwa yang tak begitu jauh dari psiko-historis orang Bali. Dan cerpen-cerpennya pun menjadi catatan sosiologis tentang kekinian masyarakat Bali, cerita-cerita di mana semua orang bisa mengalami. Inilah bentuk keakraban Ketut Rida. Ia tidak cuma mencatat perisitiwa, tapi mencatat dengan detail dinamika sosial itu, yang boleh jadi akan usang bila peristiwa itu ditulis sebagai berita biasa.(I)
I Wayan Westa
18 Nopember 2014.
Catatan;
Tulisan ini adalah makalah menyambut peluncuran kumpulan cerpen Ketut Rida berjudul: Lawar Goak.

