hello world!
Juli 16, 2022

Selamat Hari Suci Pa-Agor- Rsi

Seloka Duka Ratnakara

Batin yang terbasuh kesadaran bisa mengubah kekejian menjadi seorang pencinta hidup begitu peka. Kisah Walmiki pengarang Ramayana misalnya; berawal dari perubahan besar yang terjadi dalam benak seorang begal keji. Mulanya ia bernama Ratnakara, pemuda sudra yang memiliki kebiasaan buruk; perampok, pembunuh keji, perampas milik orang.

Suatu hari di tengah hutan ia menghadang seorang Rsi yang tengah melakukan perjalanan suci atau dharma yatra. Rsi ini pun hendak dirampoknya, bila melawan sang Rsi hendak dibunuh.

Dengan suara lembut Rsi sang menyapa, “Sabar anak muda, Sebelum engkau merampas harta-benda miliku, mengambil jiwaku, aku hendak bertanya, siapakah kelak menanggung beban dosamu di kemudian hari ?”

“Ayah dan keluargaku” jawab Ratnakara geram sembari menghunus pedang.

“Apa alasannya Nak”

“Ayahku tidak melarang perbuatan jahat ini,” jawabnya

“Baik, harta-bendaku akan kuserahkan semua, tetapi pintaku padamu, cobalah bertanya pada ayahmu, pada ibumu dan juga pada istrimu, benarkah mereka akan menanggung segala dosa perbuatanmu itu? Pergilah menemui mereka sebentar. Jangan khawatir aku pasti menunggu kedatanganmu di sini.”

Ratnakara pergi menemui sang ayah, bertanya sebagaimana dikehendaki sang Rsi.

“Nak segala perbuatan dan dosamu tentu kau sendiri yang akan menaggung, baik sekarang atau di hari kemudian,” jawab sang ayah singkat.

Mendengar jawaban ayahnya begitu, Ratnakara tercengang, “Perbuatanmu; sebagai apa yang kau sebar dan kau tanam akan tumbuh dan berbuah sebagaimana engkau sebar dan tanam juga.”

Tidak puas dengan jawaban ayahnya, Ratnakara menemui sang ibu sembari menayakan hal serupa. Sang ibu menjawab, “Anaku, ibumu telah melahirkanmu. Sejak delapan bulan dalam kandungan ibu selalu was-was dan memohon pada Tuhan agar kau lahir dengan selamat. Sesudah kau lahir kupelihara kau baik-baik, kususui kau dengan kasih sayang, kuasuh kau hingga dewasa dengan segala kecintaanku. Kini kau telah dewasa, kadang-kadang kau memberikan ibumu makanan dan pakaian, tapi perbuatanmu sangatlah kecil dibandingkan dengan apa yang telah ibu perbuat untukmu. Dan kini kau datang menanyakan apakah ibu suka menanggung dosa yang kau perbuat. Bagaimana dengan pendapatmu sendiri Ratnakara, dosa itu tentu ditanggung mereka yang menjalani sendiri, bukan oleh orang lain. Sungguhpun orang lain itu kau beri sesuatu dari perbuatanmu,” kata ibunya dengan tenang.

Mendengar perkataan itu, hati Ratnakara makin sedih, seperti ada sesuatu yang mengguncang di kalbu. Dadanya terasa berat, bibirnya terasa kaku dan kering. Ratnakara lalu pergi menemui istrinya. “Istriku maukah engkau menanggung beban dosa-dosaku kelak?”

“Kakanda sejak kita menikah, kuserahkan badan dan jiwaku ini pada Kanda, kuabdikan diriku untuk Kanda. Kebebasanku telah hilang separuhnya, kuberikan buat Kanda, demikian juga kegembiraanku kubagi bersama Kanda sebagai suami. Tiap hari Dinda melakukan pekerjaan guna kesenangan dan kepuasan hati Kanda, belahan nyawa Dinda. Kini Kanda tanya, apakah Dinda turut menaggung dosa yang Kanda perbuat tiada sepengetahuan Dinda? Dinda rasa itu bukan tanggung jawab Dinda. Dinda tidak turut menanggung dosa itu karena Dinda tidak ikut serta dalam pekerjaan dosa itu,” jawab sang istri dengan sabar.

Dengan tubuh lunglai, muka pucat Ratnakara menemui sang Rsi ke tengah hutan. Ternyata orang suci yang hendak dirampok itu tetap berdiri berdiri di tempat. “Bagaimana Nak, apa kata ayahmu dan keluargamu yang lain?”

Ratnakara terdiam, tatapan matanya penuh kesedihan, lalu menyatakan ia tidak akan merampas harta milik orang suci yang setia pada janji itu. Mereka dipersilakan meneruskan perjalanan. Sejak kejadian itu Ratnakara sangat menyesali segala perbuatannya. Tiap kali teringat akan dosa-dosanya kerap kali ia menyendiri di tepi sungai atau di tengah hutan. Ratnakara sadar akan kesalahannya. Ia ingin menebus dosa-dosanya. Ia pun melakukan tapa amat keras, sampai-sampai seluruh tubuhnya dipenuhi tanah dipenuhi anai-anai. Narada seorang Dewa Rsi datang menemuinya. Atas kebesaran tapanya, ia lalu dipanggil Walmiki, artinya rumah anai-anai.

Suatu hari Ratnakara tengah menikmati semerbak harum bunga-bunga di hutan, ia melihat pemandangan sangat menarik hatinya. Sepasang burung krauncha, tengah asyk bercumbu, saling menyatakan gelora asmara. Sebentar-sebentar ekor burung krauncha mengibas-ibas mendekati si betina, paruhnya dogosok-gosokkan satu sama lain sembari hinggap di ranting. Sungguh mesra kelakuan dua burung ini, tampak begitu bahagia. Ratnakara sangat bahagia melihat dua burung tengah bercinta ini.

“Aduhai, alangkah bahagianya sepasang burung itu. Nyata bukan manusia saja yang dapat hidup bahagia, mahluk Tuhan sekecil burung krauncha dapat juga menikmati hidup bahagia. Sungguh agung karunia Sang Pencipta yang menitahkan sekalian alam”, kata Ratnakara dalam hati.

Selagi dijiwanya penuh rasa bahagia karena ikut menikmati kebahagiaan sepasang burung, mendadak ia dikejutkan peristiwa yang sangat melukai hatinya. Panah seorang pemburu melesat dari arah yang tidak diketahui Ratnakara, dan menembus tempat jantung seekor burung jantan. Seketika itu burung melayang ke bawah, tepat jatuh di atas pangkuan Ratnakara. Darah segar semburat di dedaunan kering.

Burung betina terkejut akan peristiwa naas itu, menjerit-jerit berterbangan kian kemari. Ratnakara mengalami derita jiwa amat berat. Mengalami pemandangan serupa itu, tubuh Ratnakara terasa menggigil, air matanya menitik. Ia kutuk perbuatan pemburu yang kejam itu, disumpahinya supaya tidak mengenal belas kasih sesama mahluk idup, serta tidak mendapatkan tempat tinggal selama hidup. Tiba-tiba Ratnakara sadar akan kutuk itu, perbuatan itu tidak boleh dilakukan.

Sejak saat itu Ratnakara menjadi seorang yang sangat berperasaan, hatinya begitu halus. Kerap ia menyanyikan lagu-lagu duka yang dirajut sendiri, mengharukan setiap orang yang mendengar. Lagu ini sebagai pernyataan bela sungkawa terhadap kesedihan yang diderita sepasang burung krauncha yang awalnya hidup bahagia.

“Hak apakah yang aku miliki untuk mengutuk pemburu itu? Mengapa aku terhasut menurutu emosi,” sesal Ratnakara pada diri sendiri.

Saban teringat peristiwa sedih itu, Ratnakara menyanyikan lagu mengharukan, hingga Dewa Rsi Narada kepincut mendengar nyanyian duka itu. Dan suatu hari saat Ratnakara mengidungkan lagu sedih sembari duduk di bawah pohon, Narada menemuinya. “Lagunya sangat mengharukan hati Ratnakara”, sapa Narada.

“ Siapakah Tuan yang tiba-tiba datang kemari ?”

“Aku Dewa Rsi Narada. Demi mendengar lagumu yang indah mengharukan itu, aku datang kemari. Bila kau berniat mengarang cerita hendaknya engkau suguhkan dengan lagu semerdu dan seindah itu, "pesan Narada.

“Tetapi Tuan, apakah di atas dunia ini ada seorang yang telah benar-benar hatinya suci luar dalam serta sungguh-sungguh mengenyampingkan kenafsuannya dan telah mengabdi pada kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan cinta?” tanya Ratnakara.

“Ada Ratnakara, Dialah Rama. Ia lahir dari dinasti Surya, yang pada saat ini memerintah Ayodya. Narada kemudian menuturkan kisahnya pada Walmiki. Kendati Narada sudah lama pergi dari asrama, Walmiki tidak bisa melupakan kisah Rama itu.

Kembali Walmiki tenggelam dalam pemernungan. Brahma datang sembari bersabda, "Tulislah kisah Rama itu Walmiki. Aku anugerahkan penglihatan tajam agar engkau dapat melihat semua peristiwa. Selama gunung-gunung tetap berdiri kokoh, sungai-sungai mengalir, selama itulah Ramayana tetap abadi di dunia." ***

I Wayan Westa

Pakubuan Kusa Agra

30.03.2022

 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz
chevron-leftchevron-right