Maṅkānugraha saṅ hyan Iśwara sinémbahakén ikaṅ anāma Lubdhaka/

atyantéki meṅen-meṅnya tékap iṅ paramawara paweh hyan Iśwara/

tuștāmbéknya -n amiśra dewa tuwi tan papahi lawan awak Jagatguru/

maṅgeh kāraṇa niṅ samaṅkana sakéng brata Śiwarajani ndtan kalen//

Begitulah anugerah Hyang Siwa diterima Lubdhaka/ ia amat gembira menerima berkah utama itu/ hatinya senang bisa menyatu dengan Siwa, sementara dewa sekalipun tak sepadan dengan Siwa/ semua itu didapat setelah ia dengan tekun melaksanakan brata Siwarajani//

Ada kisah yang selalu menyita perhatian kita saat Sasih Kapitu tiba, kisah yang menggetarkan atas seorang pemburu bernama Lubdhaka. Beradab-abad silam, Mpu Tanakung, seorang pujangga Jawa tersohor mengabadikan kisah ini sebagai jalan pembebasan [mukta-ṅ kleśa siluṅluṅanya muliheṅ nirāśraya juga. Berharap bebas dari segala penderitaan, bekal pulang menuju pembebasan]

Lepas dari misi dan ideologi Siwaistis Hindu Jawa—kisah ini tampak menyita permenungan demikian dalam, dan hingga hari ini mendapat perhatian besar sebagai malam peleburan papa, yang lazim disebut ‘malam Siwa’ atau Siwaratri. Dan pemeluk Hindu Bali menyambut hari suci ini dengan penuh gairah, amat semarak.

Mpu Tanakung-lah yang membentuk momen penting ini— setidaknya setelah Hindu Majapahit membangun tata kehidupan baru pada keyakinan rakyat Bali. Tanakung yang hidup sezaman dengan raja Sri Adisuraprabawa dari era Majapahit akhir menampilkan kisah ini begitu dramatis, didaktis, sekaligus memesona. Dengan medium bahasa Jawa Kuna, Tanakung seperti membangun telaga baru bagi zaman yang kian suram saat itu.

Sebagaimana diyakini para penganut Siwa, barang siapa yang dengan sadar menggelar Brata Siwaratri dengan ketangguhan puncak, segala kepapaan akan dilebur menunju pembebasan puncak. ...sapapa nika śirna denikaṅ brata ginawe akennya.

Untuk capaian puncak ini, Tanakung tidak menghadirkan tokoh yang tangguh dalam yoga. Sebaliknya ia menghadirkan seorang memburu yang nyaris tidak pernah berbuat kebaikan, yang kerjanya hanya membunuh dan membunuh, pemburu pemakan daging.

Demikianlah, tepat di hari keempat belas paruh bulan gelap sasih Kapitu, disertai hujan gerimis, pagi-pagi sekali Lubdhaka pergi berburu. Memakai baju biru kehitam-hitaman, membawa serta tombak, busur, dan panah Lubdhaka pergi seorang diri.

Perjalanan demikian jauh ke arah timur laut, dinaungi mendung dan gerimis pagi Sasih Kapitu. Melewati taman, dataran, kahyangan, pertapaan, bihara, yang sangat menawan hati. Tegalan luas di kaki gunung, beraneka tanaman di lerengnya. Air terjun memesona. Bangunan-bangunan tampak asri, atap pondoknya diliputi kabut dan gerimis. Asap mengepul, menari-nari di udara hendak menyatu dengan langit. Di bawah terlihat pohon beringin nan rimbun, seonggok balai berdinding tempat orang berunding.

Di sebelah barat ada dataran tinggi dengan huma luas, kebun-kebun subur dengan tanaman teratur rapi, dikitari pohon kelapa tengah disaput kabut. Burung kuntul terbang terkelap-kelip di tengah awan, seakan-akan hilang ditelan mendung karena tidak lagi tampak. Terlihat pertapaan para pendeta, pintu gerbangnya tinggi dan tembok pagarnya lurus. Pohon tanjung, cempaka, banah, nagasari tengah berbunga harum.

Di tengah-tengah kabut dan musim hujan Sasih Kapitu, Lubdhaka menyaksikan pemandangan menyesakkan. Bangunan tinggi tempat pemujaan rusak berat. Cabang penyangga berbentuk supit urang runtuh tak ada yang memperhatikan, temboknya rebah. Bangunan di halaman roboh, dan jalanan sepi. Atapnya berjatuhan tak dihiraukan orang, tiangnya condong tak karuan. Tampak ukiran di tembok bagai gadis perawan menatap langit, sungguh memilukan hati. Seperti menuturkan sakit hati karena lama tak ada pujangga menghampiri.

Lewat tokoh Lubdhaka, Mpu Tanakung seakan mengabarkan tanda-tanda zaman, "keruntuhan" sebuah keyakinan, merosotnya semangat ketuhanan. Pelukisan ini dengan mudah dapat kita simak dari penggambaran buram yang memilukan dari Kakawin Siwaratrikalpa.

Dengan wirama Ragakusuma misalnya; Tanakung menggambarkan sebuah Pura yang tak lagi dihiraukan. Sebuah persada puncaknya yang tinggi ditumbuhi rerumputan. Bagian tengahnya retak ditumbuhi pohon prih, rerimbunan pohon menaungi, semua palinggih rusak dibelit pohon-pohon melata. Begitu banyak bangunan suci hancur, saluran airnya tersumbat, taman-tamannya tidak lagi terawat.

Apa yang kita baca saat Mpu Tanakung menghadirkan tanda-tanda zaman seperti itu? Apakah ini gambaran awal dari senja kala Majapahit, di mana masyarakat tak lagi hirau pada dewa, tempat sucinya dibiarkan tak terawat, di sana-sini yang terlihat cuma balai-balai dan prasada yang rubuh, sepi tak ada pengunjung. Atau Tanakung tengah menangkap masyarakat Majapahit berangsur pindah keyakinan? Atau, apakah Tanakung ingin menggenapi kecemerlangan Mpu Tantular yang menulis Kakawin Sutasoma bernapaskan Buddha? Kita tidak tahu semua ini.

Jika benar Kakawin Siwaratrikalpa ditulis di masa akhir Majapahit, gambaran buram itu tampak benar adanya. Dan karenanya Tanakung berusaha menghidupkan kembali semangat keagaamaan itu dengan menulis kakawin sembari memuliakan kesucian Siwa sebagai maha pelebur kepapaan. Di tengah-tengah kekeringan zaman yang senja, Tanakung seakan menjajikan surga masa depan. Dan betul, sampai detik ini, di tempat ini, di Pura Lokanatha yang indah kita masih mengorek-ngorek titipannya, mendiskusikan sepenuh gairah.

Bahwa, dalam keyakinan Siwaistis, pembebasan itu akan ditemukan oleh siapa saja, bahkan oleh orang paling hina dina sekali pun. Bila Lubdhaka, orang yang paling papa akhirnya mendapat surga, yang tanpa sengaja melakukan brata Siwa di malam Siwa, ia pun akhirnya terbebas. Dewa-dewa menjemput rohnya saat kematian.

Bagi kita Tanakung telah melahirkan peradaban spiritual dengan magnitud besar, tradisi yang tak mudah lekang digerus zaman. Sekian abad setelah keruntuhan Majapahit, tradisi spiritual yang dilahirkannya hidup terus di benak para generasi. Namun tanda-tanda zaman yang digambarkan Tanakung setidaknya mesti dibaca kembali, demi membaca tanda-tanda hari ini-- karena toh betapa sering di zaman yang serba mudah, berlimpah, hidup dibuat sering lebih garing, dibekuk tamas kenikmatan-kenikmatan rendah. Dan manusia jadi lupa sang muasal.

Bila Tanakung menukilkan gambaran buram tentang tanda-tanda zaman yang rapuh, candi-candi roboh, tak ada mengunjung yang datang ke tempat suci, jalanan sunyi -- lalu apa yang mesti kita baca dari kesemarakan beragama di Bali? Pura-Pura kita megah, terawat dengan bagus, pamedek nyaris tak pernah sepi, busana kita amat bersih, wangi dan rapi, sembari menggengam ponsel tercanggih, lalu apakah ini tanda sebuah kebangkitan rohani? Sungguh sulit mengukur dengan parameter apapun, kecuali kita menjadi makin sadar dan bahagia, dan lagi-lagi, ini tak mudah dikur dengan hitungan statistik pula.

Tapi apapun itu, Tanakung tetap memberi harapan, malah sebagai pemuja Siwa ia memberi janji, bagi siapa pun yang melakukan brata Siwaratri dengan tekun, setidaknya ia mendapat 'pembersihan" jiwa, nun yang lebih utama tentulah pembebasan lahir batin. Karena di titik ini, Siwa seakan memberi pemenuhan, bahwa seorang papa pun akan terbebas dari segala belengu dunia. "tesam papani pasyanti Śiwaratri prajagarat," demikian disuratkan kitab Padmapurana.

Kitab Wrehaspatitattwa malah memberi realisasi amat terang bagaimana seorang papa bisa terbebas dari kepapaannya. Di situ dalam dialog Hyang Siwa pada Bhagawan Wrehaspati, realisasi itu dipaparkan begini: ....yan maturtur ikaṅ ātma ri jatinya, irika yaṅ alilang, sang ātma juga umidépa saka suka duka niṅ śarira. ..jika atma sadar tentang jati dirinya, di situ lenyap[segala kepapan], sang roh sadar akan suka-duka dibelengu tubuh.

Ada tiga brata inti wajib dilakukan dalam upacara Siwaratri. Tiga brata itu meliputi; Mona [diam, tidak berkata-kata], Upawasa [tidak makan minum], dan Jagra [tidak tidur dilakukan selama 36 jam, mulai dari pagi hari pada panglong ke-14 sampai pada senja hari panglong ke-15].

Sedangkan Mona dan Upawasa dilakukan selama 24 jam, mulai dari pagi hari panglong ke-14 hingga pagi hari panglong ke -15.

Bila pun ada tiga brata ini, dalam pandangan orang-orang suci, Jagra tetaplah menempati urutan paling utama. Sebab tanpa Jagra, dua brata lainnya tidak bisa dilakukan. Sampai pada titik ini, brata Siwaratri sesungguhnya adalah kepatuhan dan perjuangan melawan lupa. Siapa pun tengah dibelit lupa dipastikan dia berada dalam kondisi turu (tidur). Mereka yang senantisa tidur, atau tidak sadar, atau tan atutur. Dan bagi mereka yang tidak sadar, yang selalu tidur tidak mungkin terjadi kebangkitan kesadaran, alih-alih kebangkitan rohani. Kesucian [Siwa] tidak akan mendekat padanya.

 

Wayan Westa

Kusa Agra,

Tilem Kapitu,

20-1- 2015

Sekelebat pertanyaan tiba-tiba muncul mana kala halaman demi halaman terbitan berkala Prabhajñāna saya buka. Pertanyaan yang mengusik saya sejak mengenal khazanah teks-teks Bali yang melimpah -- yang bagi saya tak cukup umur untuk mendalami semua khaznah itu. Bagi saya, mempelajarinya sudah seperti menemukan "pelukatan" untuk diri sendiri -- menemukan nutrisi hidup.

Pertanyaannya kemudian, apa sumbangan Ilmu-Ilmu Bali untuk jawaban hari ini dan hari depan Bali ? Pertanyaan ini tentu tak mudah dijawab. Tak mudah dijawab karena hampir sebagian dari kita menanggung bebab akut, diblokir sejumlah kesenjangan -- baik itu kesenjangan aksara dan kesenjangan bahasa.

Kita bisa membayangkan, apa arti terbitan Prabhajñāna di depan generasi yang mengalami dua kesenjangan akut itu? Mereka pasti mengalami keterasingan, mengingat jarak kultural, jarak historis, dan jarak tradisi teks adalah juga beban bagi mereka. Bila kondisi ini tak dijembatani, tentu membuat siapa saja jauh dari akar kebudayaan. Menjadi generasi tanpa identitas, terombang-ambing karena tak memiliki pegangan nilai-nilai. Terhanyut di samudera luas modernitas, dan di situ setiap orang pasti butuh pegangan -- sekecil apapun pegangan itu. Pegangan itu adalah nilai-nilai -- di dalamnya ada keyakinan dan norma-norma. Sama seperti orang terhanyut di samudera lepas, ia butuh semacam pelampung kecil, supaya mereka tak mudah terhanyut atau tenggelam.

Sekiranya kita tak ingin terombang-ambing, tergerus gelombang modernitas dangkal, apakah kemudian semua dari kita harus menjadi ahli sastra, mendalami teks-teks kuna dengan seksama?

Tentu tidaklah demikian strateginya, dan karena di sini, ranah ini kemudian menjadi tanggung jawab sarjana sastra -- ia menjadi timba, menjadi jembatan untuk menghidangkan "masakan lezat" teks-teks sastra guna menjadi nutrisi penguat nilai serta mudah dicerna khalayak pembaca. Ini adalah tugas humaniora yang tak bisa ditunda -- karena ia menjadi semacam penjaga benteng kemanusian kita. Kita boleh menguasai apa saja, mendalami bidang-bidang keilmuan yang beragam dan luas. Namun kita tetap butuh humaniora, jika tidak, kita akan mengalami keterasingan dan de-moralisasi. Jiwa-jiwa kering tanpa nutrisi rohani, robot-robot tanpa perasa.

Sampai di sini, tugas sarjana sastra tak cuma melulu menyajikan teks-teks itu secara akademis -- justru ia bisa menjadi penghidang piawai di tengah-tengah pilihan bacaan yang prural dan beragam. Di tengah-tengah banjir bah kebudayaan nirkabel; medsos, instagram, tiktok, dll. Kita butuh sesuatu yang baru dan segar tanpa kehilangan nilai-nilai. Seperti halnya pujangga Rabindranath Tagore, menghidangkan Gitanjali dengan apik di zamannya, menyajikan teks-teks tua dari kabut mistis Upanisad -- di mana sesungguhnya; Gitanjali atau mungkin juga Tukang Kebun tak cuma karya sastra, tapi Upanisad yang dibahasakan secara baru, menyala dengan bahasa bersinar.

Itulah contoh kongkrit, bagaimana teks-teks kuna itu dinyalakan dengan bahasa yang baru. Spirit dan semangat yang baru. Dan mungkin di situ kita bisa membangun suatu adab yang baru. Inilah salah satu tugas dari sarjana sastra. Tentu di pundaknya ada tugas-tugas yang sama beratnya -- setidaknya ia harus terbebas dari dua kesenjangan akut, yakni: kesenjangan bahasa dan kesenjangan aksara.

Hal paling ditakuti tentu adalah tugas-tugas filologis, karena tugas ini di samping memerlukan kesuntukan dan ketelitian, ia juga memerlukan kecintaan.Punagi dari seorang filolog adalah kecintaannya pada teks. Tanpa pengkajian teks dengan baik, mustahil pranata, sejarah, dan kebudayaan masa silam bisa diselami dengan baik. Mustahil membangun makna-makna baru dari situ. Tak banyak thesis dan disertasi yang menekuni bidang ini secara komperehensif dan boleh jadi ini studi yang paling menantang, menakutkan, sekaligus mengasykkan.

Namun hari ini kita layak berbesar hati, sejumlah sarjana sastra dari Unit Lontar Universitas Udayana dengan energi sedikit bersuntuk , sangat percaya diri menghadirkan hasil kajiannya dalam terbitan berkala bertajuk Prabhajñāna. Setidaknya kajian-kajian ini menunjukkan kita peta-peta kognitif perihal kekayaan khasanah sastra Bali yang amat berlimpah itu.

Dan sebagai peta kebudayaan yang utuh, Bali terang memiliki unicum tersendiri, suatu pandangan kosmos tersendiri pula. Di pulau kecil ini, di samping keunikan alamnya, memiliki empat danau berudara dingin, Bali memiliki tradisi yang unik pula, memiliki bahasa, aksara, dan susastra yang berbeda dengan tradisi Nusantara lainnya, terkecuali dalam garis genetik kultur Hindu Jawa klasik. Bahkan agama dan keyakinan-keyakinannya yang masih hidup pun terbilang amat sangat khusus -- sebagaimana kemudian dinyatakan budayawan anumerta I Gusti Bagus Sugriwa, menyebutnya sebagai "Hindu Bali".

Sebagai orang non akademis, saya berusaha melihat kajian-kajian yang disajikan dalam terbitan Prabhajñāna dengan kaca mata orang awam, dari dua sisi yang saling berkelindan, yakni dari cara hidup yang benar dan cara mati yang benar. Orang-orang terpelajar dalam teks lebih memahaminya sebagai Dharma Kahuripan dan Dharma Kepatian, tugas untuk hidup dan tugas untuk mati.

Jadi dengan amat sederhana, bila kita kelompokkan teks-teks Bali itu, kategorinya cuma ada dua. Pertama, adalah teks-teks yang berkaitan dengan cara hidup yang benar. Kedua, adalah teks-teks yang bertemali dengan cara mati yang benar. Itulah "agama" bagi orang Bali -- agama yang berkaitan dengan proses mengada dan proses meniada. Dua sisi yang biasanya disambut dan dilepas dengan meriah.

Lihatlah upacara manusa yadnya dari lepas awon hingga upacara pernikahan, sungguh dirayakan dengan meriah. Perhatikan juga upacara pitra yadnya, kadang menjadi upacara pelepasan begitu bergemuruh.

Menyebut beberapa nama, tulisan-tulisan dengan kategori Dharma Kahuripan, dengan lumayan jelas bisa kita simak dari tulisan Dr. I Wayan Suardiana [ Aji Pangintar Pantun: Teks Panduan Bercocok Tanam Padi di Sawah serta Siklus Upacaranya]. Kajian I Wayan Cika & Putu Eka Guna Yasa [ Bentuk Berubah Nilai Etiket Tetap: Transformasi Teks "Kakawin Putra Sasana" dalam "Geguritan Putra Sasana"]. Tulisan Putu Ari Suprapta Pratama [ Bhama Kretih: Pengetahuan Tradisional Tentang Pekarangan]. Tulisan Pande Putu Abadi Jaya [Makna Simbolis dan Suluh Kehidupan dari Peralatan Pandai Besi dalam Khazanah Lontar di Bali], tulisan Sri Jumaidah & Putu Widhi Kurniawan [ Memaknai Lontar Kanda Empat Bhuta: sebagai media Pembelajaran Seorang Ibu]. Tulisan I Made Suastika [Pengobatan Tradisional Bali], tulisan I Putu Eka Guna Yasa [Brata Amrétasnātaka dalam Sarasamuccaya: Dimensi Waktu dalam Seksualitas sebagai Penentu Generasi Berkualitas] dll.

Dalam tulisan I Wayan Suardiana, akhirnya kita tahu, bahwa Bali memiliki banyak teks perihal bagaimana bersawah dan merawat sawah dengan kesantunan-kesantunan agraris. Ini menunjukkan betapa pentingnya devosi "karma kanda" sebagai doa dalam tindakan tentang bagaimana tanah, badan wadag ibu bumi dimuliakan dalam kerja, dirawat, ditanami supaya menghasilkan amreta bagi hidup. Petani yang merawat tanah tanpa keluh dipastikan dianugerahi kesabaran, seperti juga ibu bumi lambang kesabaran itu.

Dan teks-teks yang disebut Wayan Suardiana [ di halaman delapan buku ini], semisal Usadha Sawah, Tingkah Makarya ring Prathiwi, Pratingkahing Wwang Magaga Sawah, Tingkahing Angawe Sawah, dan lain-lainnya bisa dipastikan adalah seperangkap ilmu-ilmu Bali yang ditulis dari pengalaman kerja.Bukan ditulis di atas meja. Dan pengalaman-pengalaman itu menghasilkan tehnik-tehnik mengolah tanah dengan benar,sebagaimana pengalaman orang Bali sendiri. Apa yang kemudian disebut kreta masa dalam bercocok tanam ala Bali misalnya, terang terbaca sebagai salah satu cara mengendalikan hama, di samping hal khusus soal hama yang diterangkan Usadha Sawah.

Tentu masih banyak naskah-naskah yang berkaitan dengan Dharma Kahuripan-- yang layak kita bahas di sini. Misalnya soal Pengobatan Tradisional sebagaimana kajian yang dilakukan Bapak Made Suastika. Ternyata dunia teks Bali menyediakan beragam cara soal bagaimana menangani penyakit -- mulai dari diagnosis sampai pronogsis. Kita juga menemukan teks-teks pengobatan yang bersifat spesialis, sebutlah misalnya soal Usadha Netra, Usadha Edan, Usadha Taru Pramana, Tetenger Wong Beling, Usadha Kecacar, Usadha Cetik, dan sebagainya. Teks-teks ini memerlukan studi yang komperehensif dan harus ditangani secara spesialis juga. Sebagai warisan ilmu pengobatan tradisional, Usadha Bali masih menyediakan lapangan pengkajian yang luas, studi yang sangat menantang -- yang sebagian sudah dikerjakan oleh Dr. Med. Wolfgang Weck. Dengan mempergunakan 256 lontar, mewawancarai 43 narasumber, Weck akhirnya menerbitkan buku yang nyaris menjadi magnum opus dengan judul Hilkunde und Volkstum auf Bali [Pengetahuan tentang Penyembuhan dan Pekerti Rakyat Bali]. Baru kemudian setelah beberapa dekade, buku Usada Bali (1993) karya Prof. Dokter Ngurah Nala terbit. Walau demikian teks-teks Usadha masih memerlukan sentuhan para filolog, guna menemukan, menyibak belantara istilah, serta norma-norma etik yang ada di belakang teks. Sekali lagi ini menjadi tugas sarjana sastra Bali dan Jawa Kuna.

Wilayah teks-teks dalam kategori Dharma Kahuripan sesungguhnya amat luas, di samping tentang ilmu bangunan, Kosala-Kosali, kita juga menemukan perihal teks-teks etik dengan tajuk sasana. Apa yang dibahas I Wayan Cika bersama Putu Eka Guna Yasa perihal transformasi teks Kekawin Putra Sasana dalam Geguritan Putra Sesana menunjukkan pada kita, bahwa Bali memiliki cara-cara mengedukasi secara melekat, di mana pertama-tama tanggung jawab itu menjadi tanggung jawab orangtua.

Soal bagaimana mengkondisikan generasi berkualitas, orang-orang modern memiliki tahap pendidikan pralahir yang disebut prenatal education, yakni usaha pasangan suami istri "mendidik' janin di dalam kandungan. Namun lebih awal dari "pendidikan janin" dalam kandungan, teks Sarasamuccaya malah mengawali proses itu dari dimensi waktu, kapan hari yang tepat dan dibolehkan berhubungan seks -- sebagaima bahasan menarik yang diasajikan Putu Eka Guna Yasa berdasarkan brata amrétasnātaka. Ini adalah hal sangat penting dibahas dalam sejumlah lontar seksologi Bali. Sebutlah misalnya lontar Smarakrida Laksana, Pameda Smara, Cumbana Sasana, dan lain sebagainya, menjabarkan etiket ini secara panjang lebar.

Sesungguhnya teks-teks dalam kategori Dharma Kahuripan dibetangkan layaknya kurikulum, menuju jalan meniada dengan cara yang benar -- suatu kepulangan di mana sang jiwa mereguk santapan sangupati, bekal kepulangan yang disebut amrétajiwa. Suatu bahasan menarik perihal topik ini disajikan Ida Bagus Anom Wisnu Pujana. Teks Swacandha Mārana yang dibahas penulis memang membentangkan jalan, pertanda, dan kemenangan atas kematian. Dikatakan oleh penulis, seorang yogi yang mengetahui dan menerapkan marga tiga saat menjelang kematiannya, ia dapat memilih nadi mana yang dijadikan jalan atma untuk berpulang, lepas dari badan wadahnya. Apabila anawaha sebagai jalan, atma akan menuju alam dewata. Jika rasawaha sebagai jalan, maka atma akan menuju alam pitra. Dan jika pranawaha sebagai jalan, maka sang yogi akan mencapai moksa.

Sebenarnya ada dua teks yang boleh kita dudukan sebagai teks dalam kategori risalah mistis Dharma Kepatian dalam buku ini. Selain Swacandha Mārana ada teks Dharma Sunya yang didekati dengan cara pandang filsafat stoik oleh Ni Made Ari Dwijayanti. Suatu bahasan menarik tentang bagaimana cara pandang Yunani itu membingkai, memformulasikan teks-teks kelepasan ala Bali. Namun di sisi lain pasti ada persinggungan-persingungan kategoris, bagaimana mensepadankan dunia Bali dan dunia Atena soal kematian yang benar. Pertanyaan kemudian, apakah akar dan motif dua dunia itu memang sama? Untuk lebih jelasnya, silakan baca tulisan Ni Made Ari Dwijayanti.

Sampai di sini, kita boleh meraba jawaban dari pertanyaan, apa sumbangan ilmu-ilmu Bali untuk hari ini dan hari depan? Lamat-lamat saya seperti mendengar cibiran. Kita adalah orang "kaya" yang keburu merasa miskin. Padahal kita memiliki kotak warisan di mana jawaban-jawaban itu tertulis. Mempelajarinya, mengalaminya, lalu membadankannya bisa jadi membuat setiap orang selalu rindu kembali, lalu pulang membawa bekal amretajiwa. Pihala bagi yang jaya atas kematian, mrityunjaya.

I Wayan Westa

Pakubuan Kusa Agra

Sugian Jawa, 29 Desember 2022

Note:

Materi ini disajikan dalam acara Peluncuran dan Diskusi Buku Prabhajñana: Mosaik Kajian Pustaka Lontar Universitas Udayana, tanggal 29 Desember 2022.

Tertanda:

Tim Unit Lontar Universitas Udayana.

Ada banyak orang yang paham kalau manusia mesti menanam kesabaran. Bahkan kesabaran harus dipupuk sejak dini agar tumbuh seperti beringin. Beringin kesabaran itu yang meneduhkan penanamnya dan orang yang mau berteduh di bawahnya nanti. Untuk memupuk kesabaran, para ahli sastra jaman dulu membikin cerita tentang Dharma Wangsa yang sangat sabar. Barangkali tokoh ini sedang meniru pertiwi yang sangat sabar juga, meski diperlakukan dengan kejam. Bumi dikeruk tanahnya, diambil batu-batu mulianya, disedot minyak-minyaknya, diinjak-injak badannya, tapi bumi tidak pernah marah.

Dharma Wangsa pun begitu. Meski kerajaannya dirampas, kehormatannya ditindas, istrinya ditelanjangi, dia tetap pada pendiriannya yang sabar. Tetapi kita musti mau mengakui bahwa Dharma Wangsa hanya tokoh ideal yang dihadirkan pengarang untuk menunjukkan, menerangkan, mencontohkan ciri-ciri manusia penyabar. Selebihnya, manusia cenderung kalah dari ketidaksabaran.

Salah satu alat ukur kesabaran yang dimiliki oleh orang Bali adalah upacara. Di dalam upacara apa pun, terkandung beberapa hal yang bisa dimanfaatkan untuk mengukur kesabaran. Bila kesabaran tidak cukup, kita sebut saja keuletan, dedikasi.

Apa cirinya bahwa kita kehilangan kesabaran saat berupacara? Pertama, kita abai kepada wariga. Padahal wariga memberi kesempatan untuk menunggu, sambil menyiapkan segala sesuatunya agar maksimal. Di titik ini, kita sudah kalah melawan ketidaksabaran. Ada banyak aturan tentang upacara menurut pustaka yang dilanggar, karena kita dituntut serba cepat. Kalau tidak cepat, bisa-bisa akan digilas oleh kepentingan lainnya di luar upacara.

Kepentingan yang dimaksud, berupa kepentingan untuk bertahan secara ekonomi semisal pekerjaan yang dituntut selesai dengan cepat. Perubahan pola kerja sangat mempengaruhi cara berupacara. Malah perubahan ini merupakan penyebab yang paling kentara. Sangat mudah mengidentifikasi kebiasaan kita yang berubah karena pola kerja berubah.

Selain ekonomi, teknologi dan industri juga andil dalam perubahan itu. Contohnya, kita tidak lagi berpikir kalau panampahan Galungan digeser maju sehari akan memberi masalah pada kualitas daging karena sudah dibantu lemari es. Masuknya daging ke lemari es, merupakan bukti kalau pola hidup dan upacara memang sudah berubah.

Kedua, tekhnik menyiapkan kelengkapan upacara yang berubah. Untuk kasus ini, kita ambil contoh cara memasak. Ada banyak cara untuk memasak kelengkapan upacara yang dikenal di Bali. Entah itu menggoreng, merebus [lablab], mengukus [ngukus], membakar [ngebek, panggang], dan seterusnya. Meskipun semuanya dimasak dengan api, alat bantunya yang berbeda-beda. Ada alat bantu berupa minyak, ada air, dan ada bara.

Bila orang-orang percaya bahwa leluhurnya adalah manusia cerdas dan bijak, perubahan cara masak ini tidak akan terjadi. Sebab, beda cara masak, beda penyebutan. Beda penyebutan, beda barang. Beda barang berarti beda simbol. Karena simbol berbeda, maka maknanya pun berbeda. Hal ini sekaligus membuktikan, kebanyakan dari kita memang sudah berubah. Barangkali di antara kita yang berubah ini, ada kaum-kaum yang memasukkan dirinya sebagai kelompok konservatif yang menolak perubahan. Kaum-kaum yang menurut pandangannya sendiri menjaga keajegan tata upacara ala Bali.

Memang terkesan menyedihkan. Namun inilah kenyataan yang mesti diterima dengan lapang dada. Di tingkat paling luar dari agama Hindu-Bali, yakni upacara, kita sudah banyak berubah. Meski begitu, kita tidak perlu larut dalam kesedihan. Yang terpenting sekarang adalah bahwa kita mesti menyadari kita perlu lebih bersabar. Kesabaran adalah Dharma. Bila tidak punya kesabaran, sama artinya tidak punya Dharma. Bila Dharma saja tidak punya, mana mungkin merayakan kemenangannya. [*]

IGA Darma Putra

09.07.2022

 

Apa yang pertama-tama perlu dicermati mana kala membahas cerpen-cerpen berbahasa Bali Bapak I Ketut Rida? Jawaban paling sederhana, dia adalah seorang guru. Pendidik anak-anak desa dengan kehidupan sangat sahaja. Guru yang lahir tanggal 11 September 1939 ini saya kenal sejak tahun 1970-an, saat mana beliau menjadi Kepala Sekolah di SD No. 1 Gunaksa, desa di mana saya dilahirkan. Sementara Bapak Ketut Rida lahir di Desa Sulang, Banjar Kanginan, bersebelahan dengan desa kelahiran kami.

Dialah Kepala Sekolah yang ikut membangun sekolah kami. Usai letusan Gunung Agung yang dahsyat di tahun 1963, sekolah kami poranda dilindas lahar. Setelah hampir 10 tahun tidak ada sekolah, di tahun 1972-1974 itu, saban sabtu kami para murid bergotong royong, mencari pasir dan batu di tepian Tukad Unda, tak jauh dari Desa Tangkas. Gedung-gedung dibangun undagi desa, para guru dan murid ikut melabur tembok. Saya masih ingat, Gubernur Sukarmen, dan Ida Bagus Made Mantra pernah singgah ke sekolah kami. Di titik ini nama Ketut Rida mesti kami catat sebagai guru pejuang.

Sebagai Kepala Sekolah, Bapak Ketut Rida terbilang guru yang disiplin, tak sedikit menenggarai beliau sangat galak. Saban Senin, usai upacara bendera Bapak Ketut Rida selalu membawa penggaris, memeriksa satu-satu para murid, dari tilu, kuku, rambut, dan gigi. Bila ada murid yang melanggar, tak segan-segan beliau menghukum kami. Di samping hukuman jewer telinga, hukuman paling berat adalah berdiri dengan satu kaki, sembari menghormat bendera, ini dilakukan saat matahari kian meninggi.

Saya mengenang Ketut Rida sebagai guru serba bisa, mengajar semua mata pelajaran; dari berhitung, ilmu alam sampai bahasa Bali. Tapi di antara kemampuannya itu, yang paling kentara; Bapak Ketut Rida adalah tukang cerita piawai. Suatu hari, jauh sebelum hari Siwa Ratri dilakukan secara massal. Bapak Ketut Rida bercerita Lubdaka pada kami. Menyimak cerita itu banyak teman-teman kami menangis. Bagaimana pun cerita itu dibawakan dengan amat menyayat dan menegangkan. Sementara itu, mungkin dengan maksud menyampaikan ajaran budi pakerti, Bapak Ketut Rida suka juga mendongengi kami cerita-cerita tantri. Mulai dari cerita I Pepaka, sampai cangak maketu.

Selepas sekolah dasar, saya makin jarang bertemu. Jika toh bertemu nama saya pasti tak diketahui. Sosok guru galak ini pun makin apus dalam ingatan saya. Hingga suatu hari di Gedung Baliologi, Denpasar saya menemukan setumpukan naskah kumpulan pemenang sayembara novel berbahasa Bali. Di antara jilidan naskah itu, saya temukan novel Sunari karya Bapak Ketut Rida. Novel ini adalah pemenang satu sayembara novel bahasa Bali di tahun 1980. Begitulah saya baca novel ini, sampai-sampai saya pernah menyajikannya dalam suatu seminar kampus. Bayangan Ketut Rida bangkit lagi di benak saya, mengenangnya sebagai sosok juru cerita yang piawai. Dan novel Sunari memiliki makna khusus dalam kenangan saya, bahasanya hidup, temanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, berkisah tentang tragik sepasang kekasih, si wanita hamil, dan si lelaki pergi tak mau bertanggung jawab. Hingga di ujung perjalanan hidup si lelaki diijinkan menebus dosa, meminta maaf, lalu menikahi sang kekasih penuh kesadaran.

Novel Sunari kami ajukan sebagai salah satu novel unggulan yang diterbitkan atas kerja sama Puslitbang Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB-LIPI) dengan The Ford Foundation dalam rangka Program Pemetaan Bahasa Nusantara, 1999. Inilah novel berbahasa Bali pertama yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, yang sekaligus mengantarkan Ketut Rida meraih penghargaan Sastera Rancage tahun 2000.

Tapi dalam perjalanan kreatif Ketut Rida tidak cuma menulis novel, dia juga menulis puisi dan cerpen. Begitulah hari ini, "Lawar Goak" kumpulan cerpen berbahasa Bali karya Ketut Rida menyajikan tidak hanya soal kehidupan desa, lebih dari itu ia seorang pencatat yang rajin. Cerita-cerita yang terkumpul dalam cerpen ini layaknya catatan seorang pewarta dari kampung sendiri. Segala yang dialami ia catat, lalu dijarit dengan cara berkisah. Ada kisah tentang keluarga petani[ Kandik Tikul, hal:11), kisah anak bertemu ibu [Sekar Jepun, hal 44], cerita tentang anak tiri [Katuminan, hal 55], cerita tentang pemabuk [Punyah, hal 66] dan lain sebagainya. Dalam cerpen bertajuk "Nglegar Prana" misalnya Ketut Rida berkisah tentang suka-duka seorang guru, jatuh cinta dengan gadis desa, lalu dipinang secara terus terang.

Ada enam belas cerpen yang terhimpun dalam buku ini. Keenam belas cerpen itu ditulis dengan gaya yang sama, datar, rapi, dengan alur dan tuturan nyaris seragam. Membaca cerpen-cerpen Ketut Rida seperti kita mendengar kabar dari penggak-penggak. Setting dan lingkungan yang dia tulis tak jauh-jauh dari tempat tinggal, diseputar lingkungan sendiri. Mulai dari kesibukan di pasar, hiruk-pikuk terminal, hingga panorama kehidupan desa. Cerita yang dibangun pun berkisah tentang orang-orang biasa, bahkan sangat biasa, kadang nyaris tanpa tegangan berarti. Klimak yang dia usahakan pun tak terasa sebagai klimak. Sungguh berbeda dengan klimak yang dia bangun dalam novel Sunari, yang di sana-sini dalam perkisahan itu Ketut Rida berhasil membangun tegangan berarti.

Memang di antara 16 cerpen yang terhimpun, cerpen Lawar Goak-lah yang paling berhasil membangun tegangan, kendati kesan dan pesannya amatlah buram, ritual mengiring lawar goak di tengah malam mungkin tidak santun didebat dengan akal sehat, kecuali ia dibiarkan sebagai keyakinan. Kesan yang sama kita temukan juga dalam cerpen Umah Tawah, di mana Ketut Rida mengemas sebuah cerita dari dunia gaib, di mana kisah seorang anak bertemu dengan dunia lain, dunia tak nyata dalam hidup manusia. Kisah ini sama dengan kabar tentang mereka yang pernah 'engkebang memedi'.

Kendati cerpen-cerpen dalam kumpulan buku ini dijarit dengan alur yang lurus. Namun ini bukanlah soal utama. Terbersit cerpen-cerpen yang ditulis Ketut Rida hanya menjadi media penyampai pesan. Setiap cerita punya amanat khusus. Setiap tokoh adalah penyuara kepatutan. Dalam cerita berjudul "Es Rujak" misalnya, Ketut Rida menyampaikan pesan tentang pentingnya memiliki kepedulian sosial, mendukung gerakan orang tua asuh guna menyukseskan wajib belajar sembilan tahun. Begitu pun cerpen Dagang Canang, bahwa luka-luka psikologis akibat ketegangan kelas sosial sebaiknya tak sampai mengeringkan makna kemanusiaan. Di situ, Ketut Rida dalam harus kesadaran batin selalu memberi jalan, berupaya merawat hubungan kemanusian, alih-alih menyangkut hubungan ayah dan anak yang menikah diluar status keluarga. Sebagai seorang guru, dan penatar P4 yang sukses, kerap Ketut Rida menyodorkan solusi sederhana di setiap konflik tokoh-tokoh cerpennya.

Dunia Ketut Rida adalah dunia harmoni. Cerpen-cerpennya kadang terlihat amat hitam putih, lurus dan bersih. Sebagaimana anggapan orang Bali, ia bercerita dengan dabdab, kadang terlalu santun. Semua disharmoni berada pada sisi antagonis. Semua harmoni berada di sisi protagonis. Di antara ketegangan bagian-bagian itu, Ketut Rida tak jarang merajukkan amanat, pesan yang dibagikan untuk pembaca. Simaklah cerpen Punyah dan Kulek Biu, di situ, lewat tokoh-tokohnya Ketut Rida berusaha hadir sebagai "guru naratif", memberi nasihat, menyajikan solusi, bahwa di setiap sisi hidup selain ada cela, orang juga menemukan solusi dan penyadaran.

Sebagai pengarang, Ketut Rida adalah pewarta yang baik, kerap mencatat peristiwa biasa menjadi cerita menarik. Dalam cerita "Ambengan Puun" misalnya, Ketut Rida dengan apik menceritakan peristiwa terbakarnya ilalang di suatu desa, sembari di sana-sini ia menyusupkan pesan mendidik, betapa penting setiap orang merawat lingkungan. Pesan-pesan seperti itu tiada jemu dikemas lewat tokoh-tokoh guru dalam cerita-ceritanya. Cerpen-cerpen Ketut Rida memang amat bersahaja, mudah dicerna, alurnya mudah ditebak. Namun cerpen-cerpen itu menyala karena amanatnya. Cerpen-cerpen itu memiliki bobot karena pesan didaktisnya. Lewat cerpen-cerpen itu Ketut Rida tetap berniat menyampaikan pesan-pesan pendidikan. Karena itu latar cerpen-cerpennya pun kebanyakan soal pendidikan, suasana sekolah, suka duka kehidupan para guru, dan lain sebagainya.

Ketut Rida tidak cuma sukses menceritakan peristiwa nyata, di sana sini ia juga piawai mengkemas peristiwa-peristiwa yang tak biasa, menjadi cerita cukup menegangkan. Cerpen berjudul "Meong Poleng" misalnya, menunjukkan kemampuan pengarang menjarit kisah dunia hitam dalam pandangan dunia orang Bali. Begitu pun cerita Umah Tawah, bercerita tentang seorang anak memasuki dunia gaib di bawah pohon Kesambi, hingga menemukan rumah yang tak sembarang orang bisa melihatnya. Memang cerita-cerita ini cukup menghibur, membangun ingatan perihal dunia lain orang Bali, soal gamang, memedi, tonya, dan lain sebaginya. Keterpelajaran, kemoderenan tak serta-merta bisa menghapus memori orang Bali tentang dunia gaib itu.

Keenam belas cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku Lawar Goak ini, sekaligus menunjukkan dunia Ketut Rida, yang di situ dengan sejumlah kode; baik itu kode sastra, kode budaya, dan kode bahasa menghadirkan dunia Bali dari pandangan orang Bali. Dan cerpen-cerpen ini sekaligus menunjukkan cakrawala pandang dunia Ketut Rida, dunia orang desa, dunia kaum terdidik yang menjadi guru. Ketut Rida pun tidak menunjukkan konflik yang berarti di setiap alur cerpennya. Cerpen-cerpennya mengalir dengan bahasa mudah dicerna. Rida tidak bercerita dengan bahasa Bali yang tinggi. Ia bercerita dengan bahasa Bali kepara, runtut, dan jelas. Siapa saja ingin belajar bahasa Bali baku, novel dan cerpen-cerpen Ketut Rida layak dibaca. Ia bertutur jernih, dengan fonologi, morfologi, dan sintaksis bahasa Bali jelas.

Bagi pengarang pemula, membaca karya-karya Ketut Rida memang menjadi keharusan. Di samping membaca karya-karya pengarang tua lainnya, seperti karya Made Sanggra, Jelantik Santha, Gusti Ketut Kaler (Waruju Lor), dan Gde Darna. Dalam amatan saya, lima pengarang lawas ini memiliki kecerdasan bahasa sangat standar. Darinya kita bisa menggali banyak kosa kota yang sampai saat ini mungkin belum dicatat dalam kamus bahasa Bali.

Mengumpulkan kembali karya-karya Ketut Rida dalam hidangan sebuah buku tentu memiliki makna strategis bagi pengembangan bahasa dan sastra Bali modern. Dengan cara ini pula kita mendokumentasikan, mencatat, mengharagai, menempatkan dunia kepengarangan Ketut Rida dalam posisi yang semestinya. Kita memang layak mencatat yang tua, untuk generasi kini, dan sejarah kesusatraan Bali modern ke depan.

Apapun pesan yang hendak disampaikan, Ketut Rida telah memberdayakan kemampuan bahasa Bali, mencatat soal-soal kekinian tentang Bali dari lingkungan paling dekat. Peristiwa yang tak begitu jauh dari psiko-historis orang Bali. Dan cerpen-cerpennya pun menjadi catatan sosiologis tentang kekinian masyarakat Bali, cerita-cerita di mana semua orang bisa mengalami. Inilah bentuk keakraban Ketut Rida. Ia tidak cuma mencatat perisitiwa, tapi mencatat dengan detail dinamika sosial itu, yang boleh jadi akan usang bila peristiwa itu ditulis sebagai berita biasa.(I)

I Wayan Westa

18 Nopember 2014.

Catatan;

Tulisan ini adalah makalah menyambut peluncuran kumpulan cerpen Ketut Rida berjudul: Lawar Goak.

 

//Datanglah padanya dengan kesungguhan hati, akan menjadi kunci Anda mendapatkan sesuatu di sana. Jika pertanyaan Anda tidak berkualitas, atau sekadar bertanya, jangan harap sang wiku mau buka mulut//

 

Di Penatih, sebuah desa di bilangan Kecamatan Denpasar Timur, orang  bisa  lewat begitu saja. Tak ada keajaiban di sana, kecuali huma kian menyempit.Tak terdengar lagi lenguh sapi dipecut petani. Orang-orang  sibuk untuk diri sendiri.  Larut  dalam hingar – bingar zaman.  Suasana  dukuh ibarat pergulatan yang tak pernah usai.  Deru kendaraan, gemuruh lalulintas  beradu dentingan hening genta. Di pagi buta, suara    itu bagai  menghadirkan fajar baru, bahwa hidup mesti disegarkan senantiasa.

Tengoklah  di pagi lengang , di Geria Pinatih,  seorang pendeta tua seperti hendak  berlomba  dengan waktu. - suntuk memuja surya – sang maha cahaya. Puja dan mantra terdengar sayup. Hidup dirasakan begitu singkat, layaknya kilatan petir. Dan kemudian, doa pun punya arti, sebagai penyangga hidup yang singkat .  Ya, dialah sang pendeta tua  Rsi Agung Pinatih.  Seorang suci  yang senantiasa mengaku diri bodoh  dan dusun – belog tani ngun-ngun.   Namun di balik itu  semua , sang Rsi-lah  sesungguhnya manusia Bali utuh. Seorang arsitek, pemahat, pencinta sastra, ahli wariga, petani,  sekaligus  wiku  senior yang menjalani hidup dengan amat sederhana.

Sang wredha pandita subrata, pendeta tua yang teguh pada janji diri. Inilah pujian yang paling pantas buatnya. Kini memasuki usia 95 tahun,  Rsi Agung masih  sanggup  melayani umat.  Sudah 61 tahun ia meniti jalan sunyi itu , menjadi pelayan, membasuh dahaga umat sampai  nun jauh menyusuri pelosok desa-desa  sajebag Bali. Kadang menyeberang arungan (laut), menembus kabut pedalaman desa-desa Jawa.  Orang  tak akan  pernah mendegar  kata letih dari pendeta tua ini. Sang Rsi memang tidak membiarkan fisiknya lapuk begitu saja. Atau tunduk dimakan sang waktu begitu lalu.  Hari-hari bagi sang Rsi adalah memuja dan bekerja. Hanya dengan inilah waktu dapat “ditundukkan”.  Hanya dengan melayani hidup ditinggikan. Hanya dengan pengabdi hidup diringankan.

Lahir  tahun 1906, dengan nama welaka I Gusti Ngurah. Tak ada keajaiban dan tanda istimewa pada hari lahiranya. Hanya masa sulit yang membelit. Bali tengah ditekuk kolonialisme. Ekspedisi Belanda membuat raja-raja Bali  bersungut,   tunduk hormat pada   Sang Ratu Wilhelmina. Keris  kesatria Bali yang elok itu tak berarti apa-apa dihadapan  meriam dan intrik kolonial. Demikianlah sebuah zaman melintas,  turut membesarkan  bayi merah yang akrab dipanggil  Ngurah Gde. Tak  ia  rasakan senyum ibu di pangkuan, dalam dekapan hangat  gending-gending rare.

Memasuki usia 8 tahun  buat pertama kali Ngurah Gde  mengeyam pendidikan formal  di sekolah rakyat. Tampaknya tak banyak prestasi pada setiap pelajarannya, Ngurah Gde kecil ternyata lebih memiliki kepekaan intuitif tinimbang rumus-rumus pelik. Selepas  sekolah rakyat,  Ngurah Gde  lebih tergoda tapel barong, memulas,  menakik kayu sebagai kegiatan walatanda (ketrampilan tangan). Kegiatan yang ditekuni nyaris sepanjang hidup. Tak ada pilihan kecuali harus dijalani.  Bakat telah menuntunnya sedemikian jauh. Karena hidup memang tak hendak untuk dipilih. “Kita mesti menjalani,” tukas Rsi Agung rendah.

Tak pernah terbetik dibenak bahwa kelak ia akan menjadi pendeta. Tak pernah terpikirkan bahwa Siwa Upakarana (alat-alat pemujaan pendeta Siwa) yang tersimpan berabad-abad di mrajan-nya  menjadikan arah hidupnya lain –  terpanggil menjadi wiku. Konon Siwa upakarana itu warisan  leluhurnya  dari  Jawa. Memang di tanah Jawa, di zaman raja-raja Jawa leluhurnya seorang wiku, Mpu Sedah namanya. Beberapa abad setelah mengungsi ke Bali generasinya tak  melanjutkan tugas itu. Inilah alasannya kenapa  Gusti Ngurah Gde kelak kembali melanjutkan tradisi leluhurnya, menyambung alir kependetaan yang putus.

“Dini di Penatih panyaman Bapa mula tusing taén buin nyemak sasana kawikon, kesahé rarud  uling  Jawa metu tan éling malih, ento mawinan keni kareredan. Jani Bapa buin  ngingetang, sakasidan malajahang déwek tekén gumi. (Di sini di Penatih, keluarga Bapa memang tidak lagi ingat pada sasana kawikon, sepeninggal dari Jawa tidak sadar lagi, itu sebabnya  surut. Kini kembali Bapa ingat, sebisanya membelajarkan diri kepada masyarakat,” papar Sang Wiku pelan.

Di Penatih, di lingkungan  keluarga besarnya, Gusti Ngurah Gde tak pelak merupakan generasi pertama yang kembali menjalani hidup sebagai wiku. Justru setelah berabad-abad terputus. “Dini Bapa mula anak tiwas tusing ada apa, panyaman Bapa makejang babotoh, mamiyut. Bapa simalu  ané ngarepang nyaluk  sasananing kawikon  dini, nuur pamargin kawitané nguni (Bapa di sini memang orang miskin,  keluarga Bapa semuanya penjudi, tak karuan. Bapa yang pertama menjalankan sasana kawikon, menjadi sulinggih,”) kenang Rsi Agung datar.

Menyadari ini  semua, memasuki usia  30 tahun, Gusti Ngurah Gde berketetapan hati menapak jalan sunyi itu. Bersiap-siap menjadi pendeta. Sadar bahwa jalan ini begitu berat, begitu terjal. Ini keputusan  begitu berani, memang.  Banyak sejawatnya mengurut dada. Orang boleh sangsi dan mencemoh kesanggupan itu.  Bayangkan, dalam usia sebelia itu, pilihannya kukuh akan menjalani masa panjang - hidup sebagai seorang wiku. Sebuah pilihan yang tak boleh dianggap main-main. Demikianlah, seorang diri Gusti Ngurah  Gde muda menghadap sang calon nabe (guru diksa) Ida Pedanda Gde Rai, di Geria Kutri, Gianyar.

Calon guru nabe, Ida Pedanda Gde Rai tampaknya bersambut.  Tapi dengan satu syarat Ngurah Gde mesti digembleng dulu  seorang guru waktra (guru pemblajaran). Bila  lulus dari gemblengan itu  hendaknya ia bisa didiksa menjadi  sulinggih. Demikianlah, Ida Pedanda Rai memohon pada Ida Pendanda Made Sidemen,  pendeta dan sastrawan besar Bali dari Geria Intaran , Sanur  untuk mengajar calon sulinggih Gusti Ngurah Gde.  Jalan lempang telah membentang di hadapannya.  Masih terbayang jelas kejadian itu,  di pagi-pagi buta, dari Penatih  yang masih subur sawah hijau, Ngurah Gde berjalan dengan kaki telanjang menuju desa Sanur, anyuun pada, mengahadap guru waktra, Ida Pedanda Made Sidemen.

Demikianlah proses aguron-guron terjadi antara  I  Gusti Ngurah Gde dengan  guru waktra, Ida Pedanda Made Sidemen.  Ngurah Gde tak hanya memperoleh ilmu tentang  kependetaan, tapi juga prihal  guna dusun, yakni memperdalam  asta kosala-kosali, membuat sukat, menakik tapel, pratima,  dan sebagainya. Ida Pedanda Sidemen  telah  menjadikan Ngurah Gde seorang anak manusia yang mandiri merdeka, bahwa badan inilah sesungguh sawah. Ketergantungan pada yang lain akan membuat bandan ini kerontang, tandus. Tak mungkin  bisa melahirkan kreatifitas. Apa lagi keunggulan batiniah. “Yaning mungguing guna gina wantah mula tumbuh saking dewek,” ingat Rsi Agung sembari terpejam.

“ Patitise  masih apang melah, anut teken kadarman,  eda pamerih, pastika nemuang rahayu”, imbuh Rsi Agung yakin. Memang tujuan itulah harus jelas, tanpa pamerih, dengan begitu kerahayuan  ditemukan. Dengan keyakinan inilah di tahun 1940, Ngurah Gde kembali menghadap guru nabe Ida Pedanda Gede Rai di Geria Kutri. Menyatakan kesiapannya untuk hidup “bersunyi diri, menjadi sulinggih menjalankan amanat Rsi Sasana. Dan pada tahun yang sama Ngurah Gde resmi menjadi sulinggih  dengan amari aran (berganti nama) Ida Rsi Agung Pinatih. Air mata menitik ketika Rsi Agung meninggalkan Geria Kutri. Inilah awal sang Rsi mengalami kehidupan baru. Kendati umurnya baru 34 tahun, sang Rsi telah melempangkan harapan-harapan baru bagi generasi mendatang. Rsi Agung  kini tak lagi  milik keluarga besar Pinatih, namun telah menjadi milik semua orang.

Enam puluh satu  tahun jalan sunyi itu telah bersamanya. Jarak yang cukup panjang, memang. Banyak ketegangan dan onak dirasa. “Yaning pajalane ke suwung anak mula srebi, tuah galange padidi patut anggon suluh (Jalan menuju sepi memang lengang menakutkan, sinar diri itulah sepatutnya dipakai penerang),” papar sang Rsi sembari terpejam. Memang sebagaimana anggapan Rsi Agung bahwa yang paling sulit dilakukan adalah belajar menjadi bodoh. “Sengka malajahin belog ”. Karena kini amat banyak orang yang pura-pura pintar, atau ada juga pintar tapi jahat (pradnyan jahat). Bagi Rsi Agung, dua watak orang ini sama bahayanya. Dua-duanya memendam bisa dikepala. Benar memang, seekor ular cuma memendam racun di kepala.  Tapi racun manusia jahat, menggenangi seluruh tubuhnya.

 

Kendati tokoh lingsir ini terdengar sayup, jarang dirujuk orang, namanya tak bisa dilepaskan dari pergerakan umat sejak awal. Pada tahun 23 – 11 – 1959, ia didudukan dalam keanggotaan Paruman Sulinggih Parisada Hindu Bali (nantinya menjadi Parisada Hindu Indonesia) yang beranggotakan 11 orang sulinggih. Memang begitu populis  keanggotaan itu, tak hanya melibatkan para Pedanda, tapi juga para Mpu, Rsi, Dukuh, dan Bhagawan. Tugas para sulinggih ini adalah menyusun tafsir, menata kehidupan agama dan mengeluarkan bhisama bila mana perlu. Tercatat sampai tahun 1980-an Rsi Agung masih aktif di Paruman Sulinggih itu.

Barangkali tak banyak dicatat, dibidang penataan agama, Rsi Agung sejak awal  telah melakukan perubahan secara nyata, yakni menyakut esensialisi yadnya. Misalnya, sejak tahun 1950-an, Rsi Agung sudah mendatangi 95 setra di seluruh Bali guna memimpin upacara “ngaben panerus”. Ngaben jenis ini tak perlu  ada upacara  di rumah. Semua cukup dan selesai  dilakukan di setra. Tanpa upacara besar, tanpa usungan wadah megah,  irit beaya dan waktu.

Menurut Rsi Agung, ngaben ini memang  berbeda dengan Ngaben Tumandang Mantri atau Ngaben Nglanus, misalnya. Perombakan ini awalnya banyak dikritik orang. Tapi orang jadi mafum, bahwa dosa dan kesalahan tak bisa ditebus dengan ngaben gede, dengan  bertruk-truk babanten.  Semua berpulang ke esensi dan karma masing-masing. Inilah jasa besar Rsi Agung yang perlu diteruskan.

Rsi Agung Pinatih, boleh jadi sulinggih  paling tua kini di Bali dan sangat dekat dengan kesederhanaan. Sungguh betapa sering sang rsi mewanti-wanti: “Eda nganistaang paican Widhi”. Jangan remehkan yang kecil dan hina dina, menilai sesuatu dari penampakan fisik semata. Inilah pesannya pada semua warga, pada kecenderungan yang berlaku kini, karena orang sering terpukau pada yang glamor dan megah. Pesan ini terdengar  latah memang.  Tapi, sepanjang hayat benar adanya.  Landasan inilah yang kini pupus di benak orang. Menganggap hal kecil dan sederhana itu  tanpa makna. Pada hal itulah sesungguhnya  kemurnian.

Sejujurnya, menurut Rsi Agung tak pernah menyuruh orang berupacara sebagai satu-satunya solusi hidup. “Bapa tusing taén ngongkon anak maupacara, macaru apa luiré. Anak tusing kena baan, nyak nyen slamet anaké ané tundén, dilepete Bapa ngelah alané. Nah sajabaning nyén ia matakon indik upakara mai, ditu Bapa mapeseken (Bapa tak pernah menyuruh orang berupacara, macaru apa lagi. Karena tak bisa terkirakan, apakah bisa rahayu orang yang disuruh, bila katiben musibah, Bapa yang salah. Nah, terkecuali ia datang bertanya ke sini, saat itu Bapa mengingatkan),”

Dalam masa hidup yang panjang, 95 tahun, sosok Rsi Agung memang lebih dekat dengan kedalaman dan kebeningan Ibarat sumur berair jernih.  Teks yang tak mudah kita jamah karena keluasan dan kedalamannya. Sang rsi tak akan menjawab bila tak ditanya. Dengan begitu ia jauh dari kesan menggurui, walau sesungguhnya dia-lah sang guru sejati.

“Tuah Abot Ngaba Bisa”

Banyak yang dapat diteladani dari pribadinya. Terutama kesederhanaanya. Secara fisik sulinggih yang satu ini tampak renta, memang. Tetapi ia masih kuat melakukan perjalanan jauh. Dari pagi hingga malam masih gesit melayani umat. Anehnya, Rsi Agung tetap dalam keadaan segar,  tak sekali pun merasa letih. Sesekali ia masih suka menabuh gender, sembari menyanyikan bait-baik karya sastra.

Bila Anda kebetulan tangkil di geria-nya yang luas di Penatih, Anda pasti terkesima dengan ketenangannya. Tatapannya begitu teduh, lalu menyapa hangat. Bicara pelan, seperlunya, lalu diam. Orang kebanyakan pasti mengira pendeta ini tuli. Tapi tidak begitu nyatanya. Jika ingin menanyakan sesuatu Anda mesti pandai-pandai mebahasakannya. Datanglah padanya dengan kesungguhan hati, akan menjadi kunci Anda mendapatkan sesuatu di sana. Jika pertanyaan Anda tidak berkualitas, atau sekadar bertanya, jangan harap sang wiku mau buka mulut.

Orang mungkin tak bisa diteladani begitu saja dari kata-katanya. Mereka mesti dipahami dari apa yang mereka lalukan. Inilah sebentuk  pertanggunjawaban pribadi Rsi Agung Pinatih. “Bapa mula tusing pati bisa ngraos, ulian jejeh kasengguh bisa. Anak  tuah  abot ngaba bisa (Bapa memang tidak bisa bicara, karena takut disebut pintar. Karena betapa berat membawa kepintaran,” papar Rsi Agung lemah.

Mungkin rasa rendah hati inilah kini hilang di benak  banyak orang.  Perang kepintaran sungguh jelas dipertontonkan. “Jadmane jadi demen macokrah, saling sikut tan gigisan, mrebutin raos puyung, saling paduegin  (Orang kini senang bertengkar, saling cerca kelewat batas, berebut kata-kata kosong, saling minteri),”. Dan Rsi Agung juga berpesan:  jangan habiskan usia untuk hal yang sia-sia.

Waktu akan mengalir terus,  lima tahun lagi usia Rsi Agung akan genap satu abad, usia yang tidak semua orang dapat meraihnya. Semoga  pengabdiannya  menjadi doa  bagi kita bersama. ***

 

Catatan:

Ida Rsi meninggal 23 Nomper 2003, dalam usia 97 tahun

 

I Wayan Westa

Penulis/Pekerja Kebudayaan

Empat orang lelaki blingsatan di dalam air, dengan google dan snorkle yang terpasang dikepalanya tampak bergerak lihai, mengarahkan dan menggiring jala menjauhi titik awal mereka turun, bergerak ke arah barat sebelum akhirnya menikung ke tepian.

Perlahan dua orang lelaki tampak keluar dari air, mengangkat jala yang telah mreka tebarkan, diikuti dua orang yang berjalan mengiringinya. Satu tangan erat menggenggam jala, sedangkan tangan lainnya menggenggam perlengkapan snorkling. Mereka melangkah ketepian, melewati pantai penuh batu, menuju pohon yang telah menunggu dengan kerindangan yang disajikan lengkap dengan hembusan angin yang cukup membuat daun-daunnya bergoyang.

Sekilas jala yang dibawa para lelaki itu tidak tampak memuat seekor ikan pun, tetapi rasa puas yang terlihat dari ekspresi dan langkah mereka yang penuh semangat menarik untuk ditelisik lebih jauh.

Sebuah terpal biru telah menunggu dibawah kerindangan pohon dan disebelahnya sebuah baskom besar berisi air menunggu ditemani dua laki-laki tua dengan tubuh hitam liat.

Tanpa aba-aba, dua orang yang membawa jala langsung menggelar jala diatas terpal biru, terlihat jelas ikan-ikan sebesar kelingking seoarang bocah telah terjerat, melekat tidak bisa lepas, tidak bertenaga bahkan beberapa diantaranya sobek tak bernyawa.

Jari-jari tua yang sedari tadi menunggu jala tiba, tampak dengan cekatan melepaskan satu-persatu ikan-ikan yang melekat pada jala dan memasukkannya kedalam baskom yang berisi air yang telah memerah oleh darah dari sobekan luka-luka kecil si ikan kecil, sementara beberapa ikan lain berjatuhan di atas terpal biru, berjatuhan seperti daun kering yang tidak lagi diharapkan oleh sang ranting.

“Dari pada kita beli ikan, lebih baik ke laut nyari ikan, gratis” kata Made Jon, lelaki dengan postur gempal dan snorkling masih terpasang di dahinya.

“Sudah hampih satu bulan ini tidak ada tamu jadi tidak ada order” dia melanjutkan.

“Banyak wisatawan yang cancel karena status Gunung Agung, walau Amed tidak berpengaruh secara langsung, tetapi informasi yang beredar diluar Amed menakut-nakuti wsatawan yang ingin datang ke Amed” lanjutnya.

“Nyari ikan karena tidak ada kegiatan lain, sabar aja” Made Jon yang selama ini berprofesi sebagai freelance driver menjelaskan.

Peningkatan status Gunung Agung dari waspada menjadi awas ternyata berpengaruh juga pada kunjungan wisatawan ke wilayah Amed. Hal bisa terlihat dari jumlah wisatawan yanga ada dipantai. Area pantai yang biasanya penuh oleh wisatawan yang hendak menikmati Japanese wreck kini terlihat lengang. Hanya tampak beberapa turis asing yang masuk dalam aliran turis “I dont care” terhadap isu panas yang beredar. Suasana lengang yang akhirnya membuat para pelaku dunia wisata yang biasanya sibuk ikut berebut kue pariwisata, harus kembali ke halaman permaianan masa kecil mereka, pesisir.

Halaman rumah yang tentunya selama ini sudah tidak asing karena letaknya yang tinggal beberapa meter dari rumah mereka. Halaman rumah yang mereka tinggalkan karena kue pariwisata ternyata menawarkan hasil yang lebih menggiurkan dibandingkan mengarungi laut seperti yang dilakukan oleh orang tua mereka sebelumnya.

Beruntung, industri pariwisata ternyata tidak membuat mereka lupa akan pantai yang menjadi halaman bermain mereka. Ini terbukti mereka masih bisa melihat kapan saat yang tepat untuk menebar jala, menangkap ikan-ikan teri yang berenang bergerombol di tepian. Ingatan yang ternyata berguna ketika industri pariwisata kolaps akibat perubahan alam.

Sebuah ironi, ketika mereka kembali berpaling pada alam, mengingat kembali bahwa mereka bisa makan dari alam tepat ketika alam di utara, tepat ketika gunung yang menjulang di barat, gunung yang memberikan suasana eksotis sunset yang membuat para wisatawan datang, kini sedang bergejolak dan bersiap memuntahkan isi perutnya.

***

Seorang wanita datang menghampiri lelaki tua yang bertelanjang dada, kemudian menyerahkan sebuah mangkok dan kantung plastik kecil pada lelaki tersebut. Mangkok yang digunakan sebagai alat ukur, berapa jumlah ikan yang nantinya dimasukkan dalam satu kantong plastik, yang nantinya akan dihargai Rp. 5000,- untuk setiap mangkoknya.

Ikan-ikan kecil yang biasanya muncul di musim penghujan ini bisa menjadi pendapatan tambahan ketika pekerjaan utama yang menjadi bahan bakar asap dapur tetap bisa mengepul ternyata tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.

“Biasanya ikan teri ini muncul saat bulan-bulan hujan, tetapi sekarang hujan jarang turun” kata seorang lelaki paruh baya. Dia menjelaskan tentang pola ikan teri yang berenang ketepian laut.

“Sekarang bulan ikan sudah tidak bisa ditebak” lanjut lelaki tua yang bernama Pak Nyoman Sludir.

Lelaki yang dahulunya bekerja sebagai nelayan, mengarungi lautan hanya bermodalkan dua puncak gunung, puncak Gunung Agung dan puncak Gunung Rinjani.

“Sekarang anak saya hobi mancing, tetapi kerjanya hanya mengelola penginapan”. Pak Nyoman Sludir menceritakan kegemaran anaknya, sambil tangan liatnya sibuk menakar ikan yang ada didalam baskom dan memasukkannya kedalam kantung plastic. Ikan yang sudah dipesan oleh seorang chef lokal.

Pergeseran mata pencaharian terjadi dengan cepat, nelayan yang pada generasinya merupakan mata pencaharian utama yang dahulu digelutinya, kini hanya menjadi hobi bagi putranya. Banyaknya pilihan pekerjaan yang lebih aman, bersih dan menjanjikan penghasilan tetap membuat profesi nelayan seperti halnya petani menjadi tidak populer.

Profesi nelayan yang membuatnya melintasi Selat Lombok untuk mencari ikan, mengarungi lautan tanpa berbekal alat navigasi, tapi hanya bermodalkan citra dua titik tertinggi di masing-masing pulau yang menjadi penuntunnya untuk berangkat dan kembali pulang. Dua titik tertinggi yang masih berhubungan, Gunung Agung di pulau Bali dan Gunung Rinjani di pulau Lombok. Titik navigasi yang akan hilang ketika hujan datang bersama angin atau kabut dan membuat jarak pandang menjadi lebih terbatas.

Profesi yang tidak mudah, membutuhkan penyerahan diri pada alam.

“Kalau kabut datang lebih baik berhenti di tengah” Kata Pak Nyoman Sludir.

“Pernah tersesat di dalam kabut, tiba-tiba hujan lebat dan angin, tidak bisa melihat apa-apa. Sampai sekitar dekat nusa, bayangan Gunung Agung terlihat, dan itu yang saya pakai patokan untuk kembali” Nyoman Sludir melanjutkan.

Kehidupan sebagai nelayan yang bergantung pada alam yang tidak menentu menjadi pilihan terakhir ketika pekerjaan lain sudah tidak ada lagi. Pekerjaan yang lebih memberikan jaminan keselamatan dan keamanan pendapatan menjadi pilihan yang logis, mengingat bagaimana di era modern perhitungan logika untung dan rugi menjadi sesuatu yang utama, setiap usaha atau pekerjaan sebisa mungkin membawa keuntungan, walau keuntungan itu lebih berupa keuntungan keselamatan.

Hal itu juga yang ditawarkan oleh industri pariwisata, pekerjaan dengan hasil yang tinggi dengan tingkat resiko bahaya yang lebih rendah. Sayangnya industri ini juga memiliki kerentanan yang tidak kalah rendah. Bencana alam hanya salah satu faktor yang membuat industri ini lesu, faktor yang membuat mereka yang biasanya bisa bersembunyi dari matahari yang terik atau membuat tangan mereka sedikit lebih halus karena tidak lagi menarik jala yang berat yang akhirnya membuat mereka harus kembali melihat bahan makanan yang disediakan alam.

Melihat kembali permukaan air laut di pantai, melihat apakah ikan-ikan teri ini sedang bergerombol berenang di pesisir. Jika tanda dipermukaan tidak juga kunjung bisa dilihat, maka salah seorang harus masuk ke dalam untuk melihat apakah ada ikan teri yang bisa dijala dan dibawa pulang, agar pengeluaran bisa ditekan ketika pemasukan dari industri pariwisata tersendat.

Ketika industri pariwisata sebagai bangunan ekonomi dan hajat hidup buatan manusia, yang semakin memperpanjang dan menjauhkan hubungan manusia dengan alam tersendat, pada akhirnya manusia akan kembali pada cara awal mereka bertahan hidup, berhubungan langsung dan makan dari alam, dengan resiko dan pola yang tidak bisa diprediksi, atau dalam memprediksinya tidak semudah memprediksi rendahnya kunjungan wisatawan di musim sepi (low season) setiap tahunnya.

Ketika turis dengan banyak rupiah yang dijanjikan oleh industri pariwisata tidak bisa dijala, maka yang bisa dilakukan hanya kembali menjala ikan-ikan teri yang masih berenang di lautan.

l.taji//29 okt 2017

Sebuah tungku yang hangat ditengah suasana dingin yang sedang mendominasi pagi, api pun khusuk melalap kayu kering yang disuguhkan tidak peduli pada keramaian orang-orang yang berlalu-lalang mencari dan membeli kebutuhan dapur. Dua wanita yang sudah berumur berdiri dihadapan tungku, satu orang tampak mengaduk adonan tepung beras cair, seorang lagi sibuk memarut kelapa. Sebuah cetakan dari tanah liat sudah menunggu diatas tungku, menunggu adonan cair dituangkan kedalamnya.

Dua orang wanita tua yang sudah menjalani profesi sebagai pembuat Laklak, kudapan tradisional dari Bali yang berbahan dasar tepung beras dan dipanggang dalam cetakan.

Laklak menjadi salah satu kudapan yang sering kali dipakai sebagai buah tangan oleh ibu-ibu ketika kembali dari pasar. Menikmati Laklak bersama secangkir kopi dan cuaca dingin pedesaan menjadi menu sarapan sebelum memulai aktifitas.

Perasaan dag dig dug laksananya pergi kerumah pacar untuk kencan pertama muncul ketika memutuskan untuk pergi kepasar dan membeli Laklak. Kebiasaan masa kecil yang terakhir kali dilakukan 20 tahun lalu. Laklak seolah menjadi kudapan sarapan wajib ketika itu, terutama bagi  paman dan bibi yang baru pulang kampung dari perantauan. Mereka akan membeli 15 sampai 20 bungkus dibeli untuk seisi rumah yang memang akan ramai karena seluruh penghuni rumah pulang kampug dari rantau untuk mengikuti prosesi adat atau agama yang akan dihelat. Yang kemudian akan dinikmati bersama dilengkapi dengan obrolan ringan pagi hari.

Ketika kata Laklak saya sampaikan pada beberapa saudara, sebuah komentar yang hampir seragam muncul “rasanya sudah tidak seenak dulu”, komentar yang sedikit negatif. Penggunaan tepung beras pabrikan dianggap menjadi salah satu faktor berubahnya rasa Laklak.

Pada era tahun 90-an ada tiga penjual Laklak yang berjualan di pasar pekraman selat baledan dan ketiga-tiganya masih menggunakan tepung beras buatan sendiri dan proses pembakaran dengan menggunakan tungku, sehingga tampak jelas tiga buah tungku berbaris. Pemandangan yang sudah tidak lagi ditemuakan, kini dari tiga penjual Laklak hanya satu penjual yang masih bertahan menggunakan tungku kayu bakar sedangkan dua sisanya sudah menggunakan kompor gas.

Tidaak hanya kebiasaan cara membakar Laklak menggunakan cetakan tanah liat dengan pengapian dari tungku kayu bakar saja yang masih di pertahankan, penggunaan tepung beras yang digiling sendiri juga masih dipertahankan.

Ten, niki ngangge tepung baas meselip (tidak, ini pakai tepung dari beras yang digiling), menjelaskan ketika ditanya apakah mereka menggunakan tepung beras buatan pabrik atau tidak.

Cara penyajiannya masih bertahan, mereka masih menjual Laklak mesanten (Laklak yang disajikan dengan santan), Laklak megula disisi (Laklak yang disajikan dengan gula meras cair yang dibalurkan diatas kelapa parut) dan Laklak megula ketengah (Laklak dengan gula merah didalamnya sehingga bagian atas Laklak hanya ditaburi kelapa parut).

Pembeliannya pun masih dengan dua cara, membeli dengan satuan uang misalnya membeli Rp. 5000 rupiah atau Rp. 10.000 rupiah, atau membeli dengan satuan kelan (sistem paketan) yang 12 buah Laklak dengan harga Rp.3000/kelan. Satuan kelan ini biasanya dipilih ketika Laklak digunakan sabagai sarana membayar nazar/ kaul.

Setelah di coba rasa yang saya dapatkan masih sama, tidak ada yang berubah, mungkin karena lidah saya yang kurang peka atau memang sebenarnya tidak ada yang berubah ketika Laklak dibuat masih dengan cara lama, tepung dari beras yang digiling sendiri, cetakan tanah liat, dibakar dengan tungku kayu bakar dan kelapa yang diparut ketika hendak digunakan.

Ketika tepung yang digunakan adalah tepung beras buatan pabrik (yang juga biasa digunakan pada pembuatan kue lain), lalu dibakar dengan menggunakan kompor gas dan cetakan besi (yang membuat Laklak lebih cepat matang) maka rasa bisa jadi akan berubah. Hal itu lebih karena tepung beras pabrikan yang diproduksi secara massal dan digunakan pada berbagai jenis kudapan yang menggunakan bahan dasar yang sama membuat lidah sudah terlalu biasa dengan rasa dari tepug tersebut. Ini berbeda ketika tepung yang diigunakan dari beras yang digiling, karena setiap beras memilki rasa yang berbeda tergantung dari mana asalnya. Selain itu kehalusan tepung buatan pabrik dan tepung giling juga berbeda sehingga adonan yang tercipta pun akan berbeda dan itu akan mempengaruhi rasa dari Laklak yang diprodukasi.

Selain itu sensasi saat menikmati Laklak, akan berbeda rasanya ketika Laklak dinikmati di pagi hari bersama sanak saudara, ditemani dengan secangkir kopi dan obrolan penuh kerinduan (antar keluarga yang masih tinggal dikampung dengan yang merantau) jika dibandingkan dengan Laklak yang dinikmati sendiri dan hanya berteman kopi dan pagi.

Jadi yang berubah tidak hanya rasa Laklak hari ini, tetapi situasi kita menikmatinya, antusiasme menikmati Laklak dan kopi sambil  berbagi cerita dengan kerabat yang baru datang dari rantau bisa jadi adalah sepaket kenangan yang sebenarnya dirindukan. Dan ketika yang hadir hanya satu komponen saja maka rasa yang didapatkan tidak akan sama, sebuah kerinduan akan kenangan yang mungkin susah untuk diulang lagi.

Apresiasi layak diberikan kepada Bu Sari dan rekannya yang masih bertahan dari harga laklak seharga 500 rupiah satu kelan sampai hari ini 3000 rupiah dan membuat Laklak secara tradisional dan tidak tergoda untuk menggunakan metoda yang lebih praktis (tepung pabrikan, kompor gas dan cetakan logam), serta masih mempertahankan kudapan tradisional serbuan berbagai kudapan modern seperti roti dan lain lain. Belum lagi godaan perubahan citarasa untuk mengikuti selera pasar, yang bisa saja membuat beberapa tahun kedepan akan ada laklak rasa coklat, laklak rasa keju atau laklak rasa bluberi (padahal tidak ada produksi coklat, keju atau blueberi di Pekraman Selat).

Karena Laklak tidak hanya kudapan pagi hari, tapi lebih dari itu. Laklak, begitu juga kudapan lainnya seperti bubuh tuak, lempog, onde-onde dan jajanan tradisional lainnya menjadi sarana untuk merawat kenangan akan masa masa kecil dan kampung halaman. Jajanan tradisional ini menjadi jembatan nostalgia antara orang yang merantau jauh dari kampung asalnya dengan semua kenangan akan kampungnya.

Seelum laklak berubah seutuhnya atau bahkan punah, maka tidak ada salahnya membeli laklak, dan menikmatinya dengan secangkir kopi dan obrolan ringan tanpa campur tangan handphone pintar.

l.taji,

24/8/2017

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz