hello world!
Mei 18, 2021
Poster Pameran "Pasraman Air: Aji Toya"

Sebuah Pameran di Antara Ruang Belajar dan Bising Gerinda.

#pasramanair #ajitoya

(Pengalman dari pameran Pasraman Air: Aji Toya)

Deru kendaraan ditengah siang yang kian menyengati dan angin yang berhembus kencang mengisi perjalanan menuju Kerobokan. Kendaraan kian memadati jalanan dengan uap panas yang kian menyengat, sementara himbauan dan angka update covid-19 terus saja memanjat naik.

Sebuah ruang besar yang lebih dengan lantai berwarna-warni. Struktur bangunan yang kaki dengan pintu dari besi. Kayu dihadirkan sebagai aksen yang kemudian tenggelam oleh warna-warni yang meleleh dari kaleng-kaleng, sekilas menarik perhatian lalu menjemukan.

Sebuah gerbang besi di tutup, lalu dibungkus dengan kain hitam. Dihadapan gerbang besi (yang dari luar) dikamuflase kain hitam, puluhan karya ditata, tepat disebelah kanan pintu masuk (kecil yang disisakan) dari Geo Open Space yang berlokasi di Jl. Kedampang, Kerobokan, Kuta Utara, Badung.

Ada karya lukis, gerabah, poster, bahkan dokumentasi mural hingga puisi dalam format poster dihadirkan dalam sebuah pameran seni rupa yang merupakan bagian dari acara Pasraman Air: Aji Toya, sebuah ruang belajar bersama yang dihadirkan selama seminggu dengan cara bergotong-royong melalui panggilan terbuka dalam bentuk urunan dan kemudian dimiliki secara bersama-sama.

Setiap harinya ada kelas-kelas belajar bersama dalam bentuk diskusi atau sharing session tentang air dan segala jalinan yang terkait dengan keberadaan air. Tema yang terus berubah di setiap sesi.

Karya-karya seni rupa yang ditampilkan merupakan hasil dari perupa yang submit lewat open call yang dilakukan secara terbuka dari pertengahan bulan Maret 2021 oleh tim Pasraman Air.

Dalam narasi yang kemudian di pajang dalam sebuah panel besar kayu dengan ukuran A0, menyinggung kalau karya-karya rupa yang kemudian hadir dan dipamerkan selama 7 hari, dari 26 April - 02 Mei 2021 merupakan hasil dari open call untuk merayakan perayaan hari air sedunia (International Water Day 2021) yang jatuh setiap 22 Maret.

Undangan tema berkaya pada perayaan hari ini cukup lugas, “Nilai Air, Air dan Kandungan Nilai Melampaui Label Harga”. Secara jelas, undangan tema tersebut tentu saja mempertanyakan bagaimana air dipandang hari ini, apakah air hanya dinilai seharga perusahaan air mineral menghargai air (dalam kemasan air mineral), atau seharga perusahaan air minum daerah yang menyalurkan air tak bisa diminum dengan tarif tiap kubik, dan kebocoran di sana-sini?

Secara tema, undangan tersebut sangat provokatif, membenturkan nilai dan harga. Nilai, ada kurs untuk mengkonversinya? Sehingga satu orang dengan orang yang lain bisa diukur dan dikomunikasikan dalam sebuah kesepakatan.

Jika bicara harga, hal tersebut berhasil melakukannya, sebotol 600 ml air mineral seharga Rp. 5000, tinggal konversi dengah kurs dolar atau harga rupiah terhadap mata uang asing.

Lalu kemudian apa yang dihadirkan secara visual dari karya-karya yang di pamerkan?

Kering, sebuah karya dari Gusti Dalem, bagaimana tanah teraleaniasi dari air, menjadi serangkaian aliran bulir tegas dari tanah yang kemudian mengering.

Hal tersebut mungkin saja hal yang mustahil terjadi di Bali, ketika air bisa dihadirkan dengan merogoh kocek untuk minum, atau di beberapa keluarga perkotaan bisa menyiram aspal, seolah aspal adalah makhluk hidup yang butuh air.

Tanah jauh lebih butuh air dari aspal, menyiram aspal dengan pembenaran “nanti air yang disiramkan akan diserap tanah” tentu berbeda dengan realita tanah produktif yang kekurangan air.

Aspal tidak akan pernah terbelah oleh kekeringan, namun tanah terbelah karena musim yang menjadi kering dan panjang, sering kali tersaji.

Ahhhh….

Kita beralih ke sosok perempuan yang dihadirkan dari telaga oleh tangan-tangan air, karya Dayu Sartika. Sebuah nilai dengan konteks yang begitu nyata, kehidupan tidak bisa menghadirkan air, namun air bisa menghadirkan kehidupan. Apa yang hendak diperdebatkan dari hal tersebut, ibu pertiwi, menjadikan pertiwi (merujuk ke tanah) pada ibu, namun pada kenyataannya kehidupan disusun dari kesabaran air.

Silahkan cari tahu persen cairan dalam tubuhmu, yang membaca tulisan ini (jangan manja), silahkan cari tahu sendiri, sebelum membawanya secara lebih besar untuk membuat pertanyaan siapa yang sebenarnya menghidupi kita, sebagai makhluk daratan?

Lalu petaualang bisa disajikan akan air kekinian, bagaimana narasi tradisional yang digelembungkan dan tanpa disadari menjadi bentuk nostalgia romantis bagaimana air dinilai oleh mereka yang hidup dari keberadaan air harus berbenturan dengan realita modern. Dimana air hanyalah sebuah komoditi, produk yang menghasilkan keuntungan bagi kaum pemodal, lewat simbolisasi warna-warni euphoria manipulatif keberhasilan memenuhi kebutuhan, padahal tak lebih dari pencapaian kesenangan. Benturan yang dihadirkan dari tobrokan simbul tradisi yang dipuja, dengan Burger, perwujudan manifestasi instan dari kerakusan untuk melahap semua dengan cepat dan terburu-buru, tanpa peduli bagaimana tradisi-budaya terlahir dari keberlangsungan jalinan turun-temurun antara manusia dengan ruang hidup yang menghidupi dan memungkinkan mereka beranak-pinak hingga hari ini. Benturan antara laku lokal Bali akan ruang dan kerakusan logika modal untuk menguasai dan memonopoli ruang.

Cerita secara rupa tidak kalah dihadirkan oleh Gus Arta, perupa asal Sidemen yang merubah sebuah bejana gerabah yang biasa digunakan sebagai sarana untuk tirta (air suci), dengan warna asli (tanah liat), menjadi media bercerita bagaimana air secara budaya dan realita.

Gambaran realita juga dihadirkan oleh karya Sukarya, dengan media kulit sapi dengan komposisi pahatan penuh ketelatenan dan tampilan bagaimana sebuah pohon menghidupi manusia, jangan lupa, tangki air tidak memiliki kesabaran dan kebersahajaan untuk menyerahkan dirinya hidup untuk membuka ruang dan menjaga air. Sebagai produk kekinian, tangki air terjebak pada keterbatasan ruang dan kekakuan bentuk, sementara sebuah pohon punya kesabaran yang hidup dan menghidupi untuk membuka ruang aliran, kemungkinan serapan dan menjaga untuk kemudian terkumpul dan dihadirkan dalam bentuk air permukaan bisa diakses secara luas oleh makhluk hidup yang butuh air (tidak hanya manusia).

Ada banyak hal menarik yang dihadirkan dari karya seni rupa yang kemudian diberhasil dipamerkan dalam “Pasraman Air: Aji Toya”. Bayangkan saja lebih dari 20-an karya, bukan hanya dari perupa Bali. Satu karya merupakan karya mural yang di buat di Surabaya oleh sebuah kolektif “Serikat Mural Surabaya”, dengan tema karya “Mata Air Su Dekat”. Sebuah karya, dengan penggambaran realita perkotaan. Menggambarkan bagaimana wacana iklan dengan realita. Iklan layanan masyarakat dengan program biaya berlimpah tentu bisa dengan mudah membiayai media broadcasting untuk mempublikasi segala keberhasilan instan program mereka, keberhasilan instan, karena belum tentu mereka akan melakukan pembacaan ulang dari apa yang kemudain telah dilakukan (dalam Bahasa NGO/LSM evaluasi program, walau pertanyaan yang lain apa NGO/LSM akan melalukan evaluasi tanpa anggaran untuk membiayai itu).

Ahhhh, bisa jadi karya tersebut adalah sebuah satir, mata air sudah dekat, mata air yang berhasil dikemas dalam ribuan bahkan (mungkin) juataan botol (dan gelas) kemasan yang bisa diteguk dengan mudah seolah itu adalah air dari mata air pegunungan (seperti apa yang dibisikkan iklan).

Padahal disaat yang sama air dalam realita yang hari ini bisa jadi adalah ruang pembuangan dalam nostalgia warna biru, hasil dari bagaimana kesegaran air diterjemahkan dalam warna.

Pennawati, seorang perupa perempuan muda dengan berani kemudian mengahdirkanya dalam karya. Merangkum serangkaian benda yang hanyut dalam air, berhasil dikumpulkan dan kemudain dikomposisi menjadi sebuah karya. Bukankah begitu kita memperlakukan air (permukaan) yang mengalir hari ini, bukan menjadi sumber untuk kebutuhan hidup akan air, seperti halnya seekor biawak yang bertahan hidup diantara himpitan perumahan. Seperti halnya sekeluarga tikus yang menjadi penjahat hanya karena untuk bertahan hidup. seperti halnya seekor ikan nyalian (ikan kecil dalam bahasa lokal) yang harus mencari sela diantara betonisasi sungai.

Ahhhhh, bicara air, bicara hal dasar. Sebuah tulisan tidak akan mampu untuk menggambarkan bagaimana apa yang berhasilkan dihadirkan dari Pasraman Air: Aji Toya.

Yang di hadirkan tentu saja hal yag sepele, bukan hal yang besar, megah, ideologis, artristik, atau segala lebel mewah menarik yang seksi lainnya.

Yang dihadirkan hanya hal-hal sepele, tentang air.

Dan kemudian para perupa berhasil dan berani mengekspresikan diri untuk mencoba menterjemahkan tema yang diberikan. Ekspresi yang kemudian dihadirkan untuk menvisualkan bagaimana tema “Nilai Air: Kandungan Nilai yang Melampaui Label Harga”.

Tulisan ini tentu tidak bisa menghadirkan setiap detail kekaryaan yang hadir, namun tulisan ini coba menghadirkan realita akan dunia kesenian. Dunia penuh kontradiksi dalam konteks Bali. Bagaimana penari yang menjadi pelaku seni dengan narasi eksotik adi luhung kesenian harus menghadapi perlakuan naik mobil truk ke lokasi pentas, dengan bayaran yang tentu saja tidak seberapa jika kemudian menghitung waktu proses, perjalan dan perlakuan untuk sampai di panggung pentas.

Hal yang begitu nyata bagaimana kesenian hadir di Bali, konteks seni yang tidak lepas dari realita yang terjadi.

Bagaiman karya-karya para seniman hadir untuk menghadirkan visualisasi dari pandangan realita akan situasi air dalam bentuk karya dan kemudian di pamerkan dalam kenyataan ruang hari ini.

Bukan di ruang eksklusif galeri atau museum yang begitu memuja kesenian dan menjauhkan akan realita yang ada.

Para seniman muda yang berpameran dengan keberanian dan kelapang dada untuk memperlakukan “anak” (Kara seni mereka) sebagai perwujudan yang terbuka dan bisa hadir dimanapun melampau pengagungan (pemenjaraan) seni dalam ruang-ruang eksklusif penuh perencanaan.

Karya-karya yang dipamerkan di Pasraman Air: Aji Toya bisa jadi adalah bentuk solidaritas akan sebuah tema yang dilemparkan, melampaui ruang dan penyelenggara acara.

Sebuah solidaritas yang menghadirkan bagaimana realita itu hadir hari ini.

Sebuah jajaran karya seni yang bersanding dengan bising gerinda yang harus dinyalakan oleh kaum buruh untuk bisa bekerja, memenuhi tuntutan pekerjaan yang harus mereka selesaikan, supaya upah bisa terbayar.

Disisi yang lain ruang belajar dalam bentuk diskusi akan keresahan menghadapi situasi berlangsung.

Pameran seni rupa yang menjadi antara, diantara realita bertahan hidup kaum buruh dengan lekat aroma keringat dan desing gerinda dan rasa ingin tahu untuk belajar akan air dalam nilainya hari ini.

Sebuah realita sederhana yang mungkin saja luput untuk ditelaah, bahwasanya setiap karya tidak bisa lepas dari ruang dimana karya dihadirkan.

Peristiwa pameran Pasraman Air: Aji Toya, menghadirkan sebuah fenomena menarik, dimana kemudian karya-karya seni rupa menjadi antara, jembatan akan keinginan untuk belajar dengan realita bertahan hidup. Menjadi antara mereka yang ingin mencari ilmu dan realita harus berpeluh untuk bisa bertahan menghadapi kenyataan hari ini.

Menjadi jembatan antara keinginan untuk pembacaan ulang anak muda pasca pandemi dengan realita bertahan hidup kaum pekerja dimasa pandemi.

Peristiwa yang hadir, dihadirkan begitu saja oleh ruang yang bisa diakses, yang bisa jadi diluar kuasa perupa dan panitia acara Pasraman Air: Aji Toya. Hadir begitu saja dalam bentuk realita hari ini, dan bisa jadi situasi sebenarnya, bahwasanya seni dan semua karya yang kemudian ditautkan pada kesenian tak bisa lepas dari ruang bagaimana kesenian itu dihadirkan.

Dan kemudian peristiwa bagaimana pameran seni rupa hadir diantara ruang belajar dan kaum buruh yang dengan peluh menyalakan kebisingan gerinda untuk memotong kayu untuk menghadirkan ruang-ruang ideal demi konstruksi desain yang ingin dihadirkan.

Tidak hanya itu, karya-karya seni rupa yang selama seminggu hadir dalam rangkaian “#pasramanair #ajitoya juga menghadirkan kenyataan, sebuah realita dimana beberapa bocah (yang mampu membayar) kemudian berkeliaran seenaknya, membuat pemuda yang kemudian (menjual waktunya) sebagai pekerja harus terengah-engah penuh keringat demi untuk mengawasi keamanan kaum bocah yang tentu saja tidak bisa diatur semudah anak TK atau SD Negeri di kondisikan. Sementara disaat yang bersamaan bocah dari kaum pekerja lari tanpa menyusahkan siapapun. Sebuah senyum bisa memperlambat laju dan menurunan volume teriakan. Seolah menjadi naluri alamiah untuk mempertahankan kehadiran dengan sebuah pertanyaan, “Siapa Aku?” (yang bisa jadi dalam bentuk liar merupakan sebuah pertanyaan sebual kemunculan dari frasa “de ngaden awak bise”)

Sebuah pameran yang cukup liar, bagaimana karya seni rupa hadir tidak hanya sebagai objek pamer, namun sebagi subjek untuk kemudian melihat bagaimana karya tersebut melihat ruang kehadirannya.

Pada akhirnya, peristiwa hanyalah sebuah kejadian, pengulangan bisa jadi hanya sebuah reka ulang, namun ini adalah peristiwa seni rupa. Sebuah pameran karya seni rupa dengan ruang yang bisa jadi tidak dalam bayangan perupanya. Namun yang hadir adalah peristiwa ketika pameran seni rupa terjebak diatara keintiman seru diskusi belajar dan suara gerinda kaum buruh.

Sebuah peristiwa yang tidak bisa diulang.

Peristiwa yang bisa jadi hadir karena keliaran dan keterbukaan si seniman untuk menghadirkankan karya di ruang-ruang yang tidak dalam bayangannya.

Semoga bisa berjumpa pada peristiwa-peristiwa yang tidak biasa selanjutnya.

Selamat untuk pelaku seni yang hadir di Pasraman Air: Aji Toya, kalian berhasil menghadirkan bahwasanya seni melampaui ruang, penyelenggara, isu dan nama besar sebuah acara.

Satu sloki sebagai rasa hormat untuk “Solidarity for Nobody”, jaga api seniman muda, ini waktu kalian.

l.taji

7/5/2021

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz
chevron-leftchevron-right