Indira Laksmi hadir sebagai pelopor fashion Bali yang memadukan sentuhan klasik, etnik, dan kontemporer. Sejak berdiri pada tahun 2016, Indira Laksmi berkomitmen untuk menghidupkan kembali tradisi, budaya, dan adat istiadat melalui karya yang tak lekang oleh waktu. Lebih dari sekedar momen spesial, melainkan warisan yang abadi.

Dengan pandangan bahwa kecantikan sejati adalah keiklasan, Indira Laksmi terus berkarya menghadirkan busana yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyentuh jiwa.

Pada tanggal 30 Agustus 2025, Indira Laksmi menggelar pameran dengan tajuk “From Sketch To Soul” yang berlokasi di studio Indira Laksmi dan Tegal Temu Space. From Sketch To Soul adalah sebuah pameran kreatif dan pertemuan intim yang mengajak tamu untuk melihat lebih dekat perjalanan di balik setiap karya Indira Laksmi.

Pameran ini tidak hanya menampilkan hasil akhir berupa busana, tetapi juga membuka proses dibaliknya, mulai dari sketsa awal, inspirasi, hingga detail pengerjaan yang penuh makna. Melalui instalasi visual, sesi interaktif, hingga perbincangan santai bersama desainer, para tamu diajak memahami bagaimana sebuah sketsa sederhana dapat berkembang menjadi sebuah cerita visual. Lebih dari sekedar pameran, From Sketch To Soul adalah perayaan atas proses, kreativitas, dan jiwa yang tertuang dalam setiap garis, kain, dan cerita.

Pameran dimulai dengan sesi registrasi oleh pengunjung pada pukul 15.30 WITA, kemudian dilanjutkan dengan opening by MC, opening speech by Gung Ama. Setelah itu dilanjutkan dengan house tour di studio Indira Laksmi yang dimulai dari ruang depan yang dihiasi benang menjuntai dan dua manekin yang distyling dengan wardrobe Idup Panak, kemudian tamu digiring ke ruang wardrobe yang terpajang kain-kain milik Indira. Setelahnya tamu diajak menuju ruang make up, terdapat dinding yang dihiasi dengan foto-foto klien menggunakan kain dan make up Indira Laksmi. Terdapat Sketch Wall Installation yaitu showcase semua sketsa koleksi Indira Laksmi, dinding galeri berisi deretan sketsa arsip yang dibingkai. Sebagai background foto.

Setelah house tour pengunjung diarahkan untuk menuju teras Indira Laksmi, area interaktif tempat tamu dapat menambahkan coretan, catatan kecil / inspirasi mereka. Tamu diarahkan untuk mewarnai sketsa dengan cat warna bebas yang telah disediakan.

Dalam pameran ini juga terdapat talk sesion bersama Ayu Suma, designer & conceptor dari Indira Laksmi dengan Idon Pande sebagai moderator. Dalam sesi ini Ayu Suma menyampaikan bahwa pameran ini adalah perayaan untuk proses mereka di Indira Laksmi. “membuat acara ‘From Sketch To Soul’ ini adalah perayaan untuk proses kami, jadi merayakan perjalanan kami. Dari proses ini kami menceritakan bahwa di Pameran proses tadi, Indira Laksmi ini tidak hanya menciptakan suatu karya yang indah tapi juga memikirkan bagaimana karya ini bisa menyentuh jiwa dan emosi dari klien yang akan memakainya.” Jelas Ayu Suma dalam talk sesion pameran.

Ayu Suma menyampaikan tantangan selama berkarya adalah dalam memadukan rasa antara desainer, klien, dan photographer yang memiliki karakteristik yang berbeda karena Indira Laksmi berhubungan erat dengan ketiga elemen tersebut. “Sebenernya proses berkarya itu, kesulitannya adalah dalam menyatukan rasa antara kami yang mendesain, dengan klien, dan si photographer. Karena jujur Indira Laksmi, hubungannya dengan tiga hal itu.” Terang Ayu Suma. Hal tersebut menjadi tantangan untuk menghasilkan sebuah karya yang sempurna.

Ayu Suma juga menyampaikan bahwa sebuah sketsa dikatakan sudah layak diwujudkan ketika semua sudah satu rasa antara proporsi tubuh klien, estetika, warna, hingga perpaduan motif. Ketika elemen tersebut sudah satu rasa, maka sebuah sketsa dapat dikatakan layak untuk diwujudkan.

Beberapa tamu yang hadir juga menyampaikan kesan mereka selama mengikuti house tour. Nazmi salah satu tamu yang hadir mengatakan “saya pertama kali melihat Indira Laksmi dari Instagram, saya dari Tabanan datang ingin melihat bagaimana proses kreatif dari Indira Laksmi. Satu benang memiliki filosofi yang mendalam bagi saya”.

“saya benar-benar merasakan aura yang dikeluarkan dari sejarah kain. Dalam artian Indira Laksmi benar-benar menggali sejarah dari leluhur kita, trus dijadikan sebuah kain. Selain menjaga, Indira Laksmi juga membentuk kain baru seperti Bapang, Jatayu. Tidak semua orang bisa mengekspresikannya menjadi sebuah rasa.” Ujar Maha Made, salah satu tamu yang mengikuti pameran ini.

“Yang paling saya rasakan itu pertama kali, bangga banget sama Indira Laksmi. Melihat perkembangannya sangat pesat, saya selalu merasa disini sudah seperti rumah.” Ucap Nindi, salah satu tamu dari pameran Indira Laksmi dalam talk sesion yang membagikan kesannya.

Bagian yang paling dinantikan oleh Ayu Suma adalah respon dari para tamu yang hadir dan mengikuti pameran ini terhadap karya-karya Indira Laksmi. “sebenarnya yang paling saya nantikan adalah respon kalian terhadap karya-karya kami di atas, yang kami kerjakan bersama-sama, responnya apakah berhasil atau bagaimana.” Ungkap Ayu Suma.

Setelah talk sesion, dalam sesi Story Behind the Sketch, menampilkan kisah pendek tentang inspirasi di balik beberapa karya dengan ditayangkannya video dokumenter Idup Panak. Setelahnya dilanjutkan dengan Art perfoming by kitapoleng, live Sketching by Ayu Suma, dan digital mapping by Almarira & Kokoksaja, closing permomance dari pameran ini adalah penampilan live acoustic by Gung Doni & Friend.

Melalui pameran ini Ayu Suma ingin memperlihatkan kepada tamu bagaimana proses dari Indira Laksmi, merasakan bagaimana Indira Laksmi berproses. Bukan hanya menghasilkan karya yang indah, tapi juga melewati proses yang panjang. Dari penggambaran sketsa sampai dengan proses fitting dengan klien. Banyak warna dan aksesoris yang dipadukan untuk membuat klien terlihat cantik nan menawan.

“Halo, Aku adalah interpretasi dari apa yang kalian inginkan, dari warna, dari karakter, dari emosi yang kalian inginkan, dan aku siap jadikan kenyataan.” –Ayu Suma, saat menjawab pertanyaan “jika sketsa bisa bicara, cerita apa yang ingin mereka sampaikan?” []

G.A. Made Widiadnyani

“The Brick” adalah sebuah karya inovasi unik yang menggabungkan fungsi teknologi modern dengan elemen seni tradisional. Karya ini berupa speaker tradisional yang terbuat dari bahan terakota (tanah liat). “The Brick” sendiri dipilih sebagai sebagai judul karya merujuk pada bentuk dan tekstur karya yang menyerupai bata, namun dihiasi dengan sentuhan estetika khas yang mencerminkan kreativitas tinggi.

Karya ini diciptakan oleh S. Devita Makkasang, seorang seniman yang dikenal karena kemampuannya menggabungkan konsep seni kontemporer dengan elemen tradisional. Dalam setiap karyanya, termasuk "The Brick," ia berhasil memadukan keindahan visual dan fungsi praktis melalui medium tanah liat.

Dalam proses penciptaan “The Brick”, S. Devita Makkasang melakukan periode eksplorasi terhadap tema keterhubungan antara manusia, bumi, dan suara. Hal ini mencerminkan tren seni kontemporer yang sering kali berfokus pada isu keberlanjutan, hubungan dengan alam, dan identitas budaya.

Speaker ini dibuat menggunakan bahan tanah liat, yang mencerminkan akar lokalitas dan elemen tradisional. Proses pembuatannya melibatkan beberapa tahap penting, seperti pengolahan tanah liat, pembentukan sesuai desain, hingga pembakaran pada suhu tinggi. Setiap detail, termasuk tekstur bata yang mendominasi, dikerjakan dengan cermat untuk memberikan karakter unik pada karya ini.

Suara dari Bumi

Tema "Suara dari Bumi" yang diusung karya ini bertujuan untuk menggambarkan keterhubungan manusia dengan elemen alam. Penggunaan bahan tanah liat merepresentasikan unsur bumi yang autentik, sementara bentuk speaker menjadi metafora untuk menyampaikan suara alam yang sering kali terlupakan dalam kehidupan modern.

Karya ini juga mencerminkan harmoni antara teknologi, seni, dan alam. Dengan mengolah bahan tradisional menjadi objek yang relevan secara teknologi, "The Brick" mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan modern dan warisan budaya.

"The Brick" dibuat di studio Pintu Saren Art Space tempat dimana sang seniman berproses membuat karya bersama dengan teman-teman seniman. Tempat di mana bahan tanah liat diolah dengan teknik terakota. Secara konseptual, karya ini sangat cocok untuk dipamerkan di galeri seni kontemporer, ruang budaya, atau pameran seni yang menyoroti isu keberlanjutan dan hubungan manusia dengan alam.

Melalui "The Brick," S. Devita Makkasang menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya harmoni antara teknologi, seni, dan alam. Karya ini mengingatkan kita bahwa meskipun teknologi terus berkembang, kita tidak boleh melupakan akar budaya dan hubungan kita dengan bumi. Speaker dari tanah liat ini menjadi simbol yang kuat akan kolaborasi antara tradisi dan inovasi, menciptakan sebuah karya seni yang tidak hanya indah secara visual tetapi juga bermakna secara filosofis.

"The Brick" adalah sebuah perwujudan seni yang menginspirasi, membuktikan bahwa teknologi dan seni tradisional dapat berkolaborasi untuk menciptakan sesuatu yang unik dan bermakna.

Curator Talk merupakan sebuah program dai rangkaian penyelenggaraan Art Bali pada akhir 2019 hingga awal 2020. Berlangsung di gedung ABBC Building yang berada di kawasan elit Nusa Dua, Badung, Bali-Indonesia.

Curator Talk menghadirkan dua sesi dipandu oleh Marlow Bandem.

Pada sesi pertama menghadirkan sosok Wilko Austermann, seorang kurator asal Jerman.

(anchor fm)

(spotify)

Pada sesi ke-2, merupakan sesi yang ditunggu dan menarik karena menghadirkan tema "Documenta Fifteen: Lumbung" dengan pembicara Ruang Rupa, sebuah kolektif asal ibu kota yang menjadi kurator gelaran Documenta Fifteen.

(anchor fm)

(spotify)

Acara berlangsung pada hari Minggu, 12 Januari 2020 pukul 17.30 wita.

 

rec: iniartchive

 

PM Toh merupakan epitel panggung dari Agus Nur Amal, seorang penutur hikayat (pendongeng) tradisional aceh.

Hari itu PM Toh tampil menceritakan sebuah hikayat tentang tubuh. penampilan beliau merupakan rangkaian dari pameran photograpy Denny Arivin AL bertajuk “These Are The Archives of Life”.

Pertunjukan berlangsung pada
Senin, 12 November 2018

Maha Art Gallery

Jl. Merdeka, Denpasar-Bali.

(Sebuah Pengantar Pameran "Get In Touch with Prasi")

Prasi identik dengan  bentuk seni gambar diatas daun rontal. Gambar dalam karya prasi dihadirkan dengan teknik menoreh diatas daun rontal dengan pisau khusus bernama pengrupak1. Selanjutnya torehan tersebut digosok dengan pigmen yang dihasilkan dari minyak biji buah tingkih (kemiri).  Prasi pada mulanya identik sebagai bentuk karya seni yang berada dalam irisan antara sastra dan seni rupa. Karena struktur gambar yang naratif dengan karakter ilustratif, tak jarang pula didalam gambar – gambar diatas daun rontal tersebut terdapat teks aksara yang berasal dari kakawin ,kidung dan bentuk karya sastra tradisional lainya di Bali. Namun ada pula prasi yang tanpa tulisan (aksara), seperti prasi Kidung Dampati Lalangon yang justru tanpa tulisan2.

Soal penggunaan tulisan dalam prasi klasik ini dikenal dalam dua pakem . Yang pertama adalah grantang basa yakni teks yang ditulis adalah teks asli dari naskah naskah kakawin atau teks lainya yang biasanya memakai bahasa jawa kuno. Teks tersebut dikomposisikan sade- mikian rupa dengan gambar sebagai ilustrasinya, kerap kali antara teks yang satu dengan teks yang lainya dihubung- kan dengan garis garis putus putus untuk mempermudah pembaca dalam membaca teks tersebut. Pakem yang kedua adalah gancaran. Tak seperti pakem grantang basa yang menempatkan teks pada permukaan lontar yang digambar pakem gancaran ini menempatkan keterangan nama nama tokoh dan cerita dibalik permukaan lontar yang digambar tersebut3.

Tradisi menggambar di atas daun rontal ini ternyata tak hanya tumbuh dalam tradisi masyarakat Bali. Persebaran tradisi ini terjadi di Asia Selatan  dan Asia Tenggara. Hal ini misalnya terlihat dalam sebuah pameran yang bertajuk “Turning Over ; Palm Leaf Work From South And South East Asia” yang berlangsung di San Francisco pada bulan Oktober 2019 – Januari 2020, menampilkan karya – karya gambar diatas daun lontar dari India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand dan Indonesia khususnya Bali4. Di Bali sendiri persebaran tradisi menggambar diatas daun rontal ini menyebar di beberapa daerah seperti Karangasem dan Buleleng serta daerah daerah lainya di Bali.Dalam perkembanganya hari ini berbagai inovasi terjadi dalam karya Prasi. Karakter naratif dan ilustratif menjadi bukan lagi satu satunya karakter yang ada pada karya prasi. Hadirnya gambar gambar tunggal dalam karya bermaterialkan daun rontal ini serta adanya perluasan tematik dan cara presentasinya membuat karya prasi terus bergerak dan berkembang. . Hal ini memperlihatkan betapa prasi sebagai karya terus bergerak melampaui konvensi-konvensi yang tak kunjung usai dan menyisakan banyak pertanyaan atau luput dari perbincangan selama ini. Inilah salah satu problematika dalam dinamika perkembangan prasi yang sesungguhnya menarik dan memantik perbincangan lebih jauh.

Salah satu komunitas perupa muda Bali yang intens menggali dan mengeksplorasi Prasi  dalam berkarya adalah komunitas Oprasi. Komunitas yang terbentuk tahun 2018 ini juga diniatkan sebagai wadah bersama dalam mengeksplorasi berbagai kemungkinan dalam pengembangan karya Prasi, mulai dari tematik, teknik dan berbagai kemungkinan cara presentasinya.Selain dalam eksplorasi kekaryaan, dalam komunitas Oprasi juga mulai tumbuh kesadaran untuk berupaya belajar bersama – sama menggali dari berbagai sumber ihwal eksistensi karya Prasi dalam kebudayaan Bali. Disamping itu komunitas ini juga memiliki kesadaran untuk mengajak publik yang lebih luas untuk lebih dekat dengan karya Prasi. Maka tercetuslah sebuah pameran yang bertajuk “ Get In Toch With Prasi” yang bermakna lebih dekat dengan Prasi. Pameran yang berlangsung di Ruang Antara Studio ini diformat dengan cara yang berbeda dengan berupaya membangun kedekatan atau keintiman antara para pengunjung dengan karya prasi. Para pengunjung yang hadir (dengan reservasi ataupun undangan) akan diajak berbincang secara lebih akrab dengan para perupa, mulai dari menjelaskan tentang karya mereka hingga berbagai teknik dengan mengajak para pengunjung mencoba membuat karya prasi. Disamping itu akan pula diundang sejumlah tokoh yang berkompeten pada dan intens dengan karya  Prasi untuk berbincang dan membagi perspektif mereka tentang prasi dalam peristiwa dialogis yang cair dan penuh keakraban. Atas dasar pemikiran inilah pameran ini dihadirkan.

Melihat karya yang dihadirkan dalam pameran ini memperlihatkan keanekaragaman gagasan para anggota dari komunitas Oprasi. Secara pilihan karakteristik cara ungkap gambar misalnya sebagian peserta memperlihatkan cara ungkap gambar yang naratif dan ilustratif serta secara tematik masih khusuk menghadirkan narasi yang diambil dari epos Mahabarata dan Ramayana dan teks yang digali dari khasanah susastra Bali lainya. Lihatlah karya Agung Mandala, Astangga Wahyu, Susila, Wahyu, menghadirkan karya yang naratif setiap fragmen fragmen cerita ditampilkan diatas permukaan helai demi helai daun rontal. Sedangkan Nana Partha Wijaya menghadirkan karya yang tidak menampilkan kisah epos Mahabarata Ramayana dengan karakteristik rupa wayang , namun dari cerita rakyat  yang berkembang di Bali Utara yakni cerita Jaya Prana dan Layon Sari dengan karakter gambar realistik.

Sedangkan Kadek Wira Dinata, Putu Dika Pratama, dan Made Wijana menghadirkan karya naratif namun perlakuan mereka atas penyajian satu penggalan fragmen tertentu bukan dalam helai demi helai daun rontal. Mereka menyusun helaian rontal tersebut menjadi serupa bidang gambar yang melebar lalu digambar sesuai dengan narasi yang dihadirkan dalam karya mereka. Perlakuan mereka atas daun rontal dalam menyajikan aspek naratif serupa lukisan yang tidak menghadirkan aspek sekuential layaknya komik atau cerita bergambar. Sedangkan Putu Yoga Satyadi Mahardika menginterpretasi Pawukon5 dalam karyanya.

Kehadiran gambar gambar tunggal terlihat pada karya Putu Dudik Ariawan dan Mizanul Haq. Sedangkan karya Ida Bagus Sindu Prasetya dan Ema Kusmilawati menghadirkan material campuran antara daun rontal dan plat tembaga yang dietsa pada karya Sindu, serta material campuran antara daun rontal dan plat kuningan yang dibuat dengan teknik suntikan. Sedangkan Wayan Trisnayana khusuk dalam kegelisahan mengeksplorasi warna dalam karya – karyanya. Karya Kadek Joning Prayoga menghadirkan cara perlakuan yang berbeda diatas daun rontal Ia tak cukup menoreh daun rontal tapi memotong pinggiran – pinggiran gambarnya.

Demikianlah sekelumit pembacaan yang kami hadirkan atas pameran komunitas Oprasi ini. Sebagai sebuah komunitas, Oprasi menarik untuk dilihat sebagai sebuah komunitas yang secara khusus suntuk atas pilihan media yang spesifik yakni prasi yang bisa terus dikembangkan secara masif.

Gurat Art Project

7 Juni 2021

Catatan

  1. Sejenis pisau khusus dengan ujung yang runcing secara spesifik juga dipakai dalam tradisi nyurat atau menulis aksara diatas daun rontal.
  2. Wawancara komunitas Oprasi dengan peneliti dan akademisi sastra Bali , Gede Gita Purnama
  3. Wawancara komunitas Oprasi dengan praktisi prasi Gusti Bagus Sudiasta dari desa Bungkulan Singaraja
  4. Sebuah pameran yang digelar oleh San Francisco Center For The Book. Empat orang anggota kelompok Oprasi mendapat kesempatan dalam mengikuti pameran tersebut yakni Putu Dudik Ariawan, Putu Nana Partha Wijaya, Ida Bagus Komang Sindu Prasetya dan Wayan Trisnayana
  5. Pawukon adalah sistem perhitungan mingguan dalam sistem astrologi dan penanggalan bali.

(Sebuah ingatan acara "Urban Street Art")

Gang kecil itu hanya bisa dilewati sebuah mobil. Tepat di depan sisi sebelah kanan gang itu berdiri posko bergambar sebuah ormas beken di Bali.

Gambar wanita di belakang tugu, tempat pemujaan yang berdiri sendiri, seolah hendak mengintip siapa yang hendak berlalu lalang di gang itu. Sebuah rumah kos tinggi menjulang yang membelakangi gang seolah tidak ingin melihat himpitan rumah kecil di bawahnya.

Sebuah mesin pengaduk semen menepi di sisi sebelah kiri gang. Di bawahnya ada anak tangga menempel pada dinding toko yang tak kunjung berhasil membangun ruangan di atas lantai pertama.

Hari itu – Sabtu, kendaraan masih berlalu lalang di jalan depan gang. Jalan itu menghubungkan tiga daerah utama Kota Denpasar: Kreneng (pasar, sekolah, unifersitas dan polisi), alun-alun (pusat Pemerintahan Kota Denpasar dan Kodam IX/Udayana) serta Renon (pusat Pemerintahan Provinsi Bali).

Jalan Letda Reta Gang XVIII, Banjar Yang Batu Kauh Dangin Puri Kelod adalah sudut kecil dari kota Denpasar. Dia menjadi tempat para perantau (terutama dari kalangan militer/ tentara Angkatan Darat) untuk menyewa sebuah kamar atau mengontrak sebuah rumah selama bertugas di Denpasar karena asrama dirasakan tidak cukup nyaman untuk ditinggali.

Tepat di simpang tiga Jalan Letda Reta menuju Jalan Yang Batu Kangin, sebuah baliho besar terpasang pada sebuah pohon perindang jalan yang masih bertahan setelah pohon lainnya habis oleh laju pembangunan. Sebuah baliho acara yang diselenggarakan oleh XVIII project dengan tajuk Urban Street Art, lengkap dengan deretan pengisi acara dan juga pihak yang membatu terselenggaranya acara tersebut.

Ada hal yang sedikit menggelitik ketika membaca baliho bertajuk Urban Street Art yang tanpa menggunakan kata sambung “and (dan)”. Ketika ditanyakan pada Ketut Jesna selaku penggagas acara tersebut, kenapa acara ini bertajuk URBAN STREET ART bukan URBAN dan STREET ART, sambil melengos dia hanya bilang, “Biarkan saja seperti itu.” Seolah ingin memberikan kebebasan pada yang melihat dan membaca untuk menterjemahkan tajuk acara tersebut.

Terkait kata Urban, tentu tidak bisa dipungkiri, wilayah Yang Batu khususnya dan Denpasar secara lebih luas telah menjadi daerah urban. Walau tradisi masih berlangsung di dalamnya tetapi perubahan fungsi lahan profesi telah berlangsung. Wilayah yang awalnya persawahan kini menjadi pemukiman kota sekaligus tempat bagi para perantau mengadu nasib dan berinteraksi sosial.

Dilema muncul pada dua kata terakhir. Apakah dua kata ini berdiri sendiri atau menjadi satu kesatuan, menjadi Street and Art atau menjadi Street Art saja? Melihat bagaimana daftar pengisi acara yang dipenuhi 21 street artist dan bagaimana geliat street art di Bali akhir-akhir ini, tentu cara paling mudah adalah menganggap ini sebagai sebuah acara street art sebagai bentuk seni urban.

Namun, sepertinya kesimpulan itu premature, ketika mendapati Street and Art merupakan kata yang berdiri sendiri.

Proses pengerjaan mural oleh salah satu seniman mural di Denpasar Urban Street Art.

Urban Art

Suara benturan biji gotri dalam kaleng ketika cat spray digunakan oleh para pembuat grafiti yang sedang membuat font nama dengan permainan bentuk dan komposisi warna. Sebagian di antaranya menggunakan masker untuk mengurangi aroma cat. Beberapa pembuat mural dengan tekun, menggoreskan kuas membuat garis sketsa dengan teliti.

Di sudut lain seorang artis mural khusuk dengan rol catnya.

Hari itu Gang XVIII menjadi hiruk pikuk dengan para penggiat seni jalanan (seni publik) yang hadir untuk berkarya. Mereka merias dinding muram gang dengan karya beraneka warna, aneka bentuk dan aneka isu.

Mulai dari menyoroti masalah sosial. Slinat merespon anak tangga yang menempel di dinding bangunan di depan gang dengan gambar seorang wanita bermasker dalam posisi duduk. Seolah wanita tersebut sedang duduk di anak tangga. Tampak kelelahan. Keterangannya “manusia-mausia kalah melawan dari gelap malam, fight for your right fight for your life fight for your rice”. Ada kalimat lain “manusia hanya melakukan yang belum selesai lalu mati”.

Kemuraman terlihat dari cat yang dibiarkan mengalir dan kalimat-kalimat yang termuat di dinding.

Di bawah anak tangga seorang anak perempuan membungkuk. Seolah menggendong tangga yang sedang diduduki oleh sang wanita. Di bawah kaki anak perempuan tersebut tertulis kalimat SAVE CHILDREN, isu yang masih menjadi fokus Peanut Dog.

Ketika gambar ini dilihat secara utuh, sebuah tampilan realita seolah tergambar jelas. Kita sedang memberikan beban pada anak-anak. Eksploitasi alam sedang masif terjadi akibat pembangunan yang hanya berfokus pada infrastruktur. Dia menimbulkan kerusakan lingkungan dan sosial yang nantinya harus dipikul oleh generasi selanjutnya, anak-anak.

Tidak hanya itu karya laki-laki dengan berbagai sosmed di sekitarnya seolah menjadi perilaku urban kekinian. Ketika interaksi berlangsung lebih aktif di dunia maya, hingga tidak lagi ada batas yang jelas antara dunia maya dan dunia nyata.

Karya grafiti yang menampilkan berbagai macam font, walau perlu sedikit usaha untuk membacanya, tetap saja menarik perhatian dan enak dipandang. Sosok “Ksatria Baja Hitam (Kotaro Minami)” muncul di salah satu bagian dinding sepanjang kurang lebih 60 meter. Sosok itu mengingatkan kembali pada sosok super hero yang dinanti anak-anak usia SD ditahun 1990-an. Masa ketika anak-anak dimanjakan tayangan film anak-anak. Mulai dari kartun Saint Saiya, Candy Candy, Sailor Moon, Doraemon sampai serial anak-anak seperti Ksatria Baja Hitam, Ultraman dan Power Rangers. Sebuah kondisi yang jauh berbeda dengan hari ini ketika televisi dipenuhi drama mulai dari Indonesia, India sampai Turki, debat politik yang membosankan dan tentu saja gosip.

Di sudut lain sebuah gambar wajah yang hanya menampilkan mata dan bagian atas kepala yang berambutkan bunga matahari. Sebuah kalimat “budayakan menanam”, seolah menjadi harapan dan doa yang ingin agar  warga kota untuk tetap menanam walau lahan sudah tidak lagi seberapa, karena menanam itu kunci.

Ada 18 seniman yang berkarya dalam Urban Street Art antara lain; SMRASHITWO, TOCKIBE, BGS4, BRUTALLMARK, MUTASEIGHT, NEDSONE, PEANUTDOG, JIKOLA, FATALART, 735ART, MASCT, REBELLINE, SLINAT, WAP, KINS, DICKO, POTLOT, MAJOUL dan TOCKIBE. Antusiasme terlihat dari sebagian besar berkaraya bersama pada saat acara. Bahkan beberapa seniman telah memuli proses berkarya pada hari senin sebelumnya.

Di ujung gang sebuah panggung kecil dan pendek, dengan backgroud dari seng bergambar seorang wajah lelaki tua. Panggung tersebut tidak hanya menjadi panggung hiburan mereka yang hadir, baik untuk berkarya maupun untuk menikmati acara, tetapi menjadi panggung bagi anak-anak sekitar sana menunjukkan talentanya.

Acara dibuka dengan penampilan tari puspanjali dan dilanjutkan dengan suguhan permainan gender dari Agus dan kawan-kawan. Sebuah tarian telek dibawakan oleh Indra dan Nanda, lengkap dengan topeng kertas buatan 735art, topeng yang dibuat khusus untuk penampilan mereka hari itu.

Hal ini menunjukkan bahwa keterbukaan pada seni tradisi yang cenderung kaku juga diperlukan. Bukan untuk melunturkan tradisi atau agar menarik anak-anak menggeluti seni tradisi, tetapi untuk menjaga seni itu hidup dan tumbuh sehingga perubahan yang terjadi pun hendaknya bisa masuk dan diterima.

Panggung untuk menguji mental, mempertontonkan apa yang mereka bisa mulai dari permainan instrumen gender sampai tari-tarian. Menariknya, kali ini anak-anak itu tampil membawakan kesenian tradisional tidak dengan kostum biasanya.

Sick and Suck, band gang XVIII juga tampil sebelum penampilan akustik dari penyanyi reggae Freddy Kayaman yang dilanjutkan dengan jam session dari pengunjung dan pemuda sekitar yang ingin menyumbangkan keterampilan bermain musik.

Belum cukup dengan itu, sebuah tanah lapang di sudut gang digunakan untuk memajang beberapa kreasi modifikasi dari komunitas motor Besi Tua Bali. Motor-motor custom yang tidak lazim dan dengan suara knalpot yang meraung-raung berjajar rapi seolah berada dalam festival otomotif.

Motor-motor yang telah dimodifikasi yang tentu saja harganya tidak murah ini bisa menjadi komponen STREET dalam tema acara. Motor-motor yang melintasi jalanan, yang dibangun dengan waktu yang tidak singkat dan biaya yang tidak murah, dengan ketelitian dan ketekunan merupakan bentuk baru seni urban, custom motor juga merupakan sebuah karya seni.

Hari kian malam. Anak-anak, remaja sampai ibu-ibu berbaur di dalam gang. Berbagai bentuk kesenian berkumpul dalam satu gang, berinteraksi dan berkarya, musik, grafiti, mural, gamelan, tarian, modifikasi motor dan pinstrip hadir dalam satu gang. Mereka menampilkan seni yang mereka geluti untuk mengembalikan semangat “ngayah” para seniman tradisi. Semangat yang mulai terkikis oleh industri (akibat bakat dan ketrampilan serta ongkos berkesenian yang telah dinominalkan membuat “ngayah” seolah menjadi sebuah kata yang naif).

URBAN STREET ART yang diselenggarakan di sebuah Gang kecil di Yang Batu Kauh, seolah ingin menunjukkan jika seni hari ini tidak hanya seni tradisi, seperti gamelan atau tari-tarian yang kini menjadi menu bagi para wisatawan yang datang ke Bali. Ada juga berbagai bentuk seni baru sebagai bentuk ekspresi yang berkembang sesuai dengan perkebangan zaman.

Hal ini seperti yang diungkapkan secara singkat oleh Jesna. Seni itu tidak harus kita bisa menari. Ini lho ada custom (motor) ada grafiti dan banyak seni lain,” katanya. Jesna menyentil pemahaman lama yang masih banyak dianut. Seolah seni masih berupa tarian, gamelan, ukir dan bentuk seni lain yang telah menjadi tradisi.

Acara yang dilaksanakan dengan semangat gotong royong dan solidaritas, mengumpulkan seniman dari berbagai bentuk seni dalam satu gang kecil, mengkritisi pemahaman seni yang terpatron pada seni tradisi dengan tradisi. Melepaskan diri dari jebakan bentuk seni tradisi dengan semangat seni tradisi “ngayah”, alih-alih terjebak pada bentuk (simbol), seniman-seniman yang tampil dan pihak yang ikut berpartisipasi dalam acara ini telah mempertahankan semangat “ngayah”( yang mengandung solidaritas, gotong royong, sukarela dan tanpa pamrih)  tanpa tekanan dari otoritas yang lebih tinggi (penguasa) seperti yang berlangsung pada masa kerajaan (mungkin sampai sekarang).

URBAN STREET ART, telah menunjukkan berbagai rupa seni hari ini (walau belum semua) serta memperlihatkan nilai tradisi masih ada meski di lingkungan URBAN (yang cenderung individual) dan tampil dalam wujud yang berbeda. Wujud yang mungkin saja menyentil pemahaman sempit akan seni. [i]

L. Taji

24 Juni 2017

Artikel pernah dipublikasi di:

https://balebengong.id/sentilan-dari-gang-kecil-di-kota-denpasar/

"Time Zone" sebuah karya seni pertunjukan (performance art) yang memadukan tari dan visual (video) mapping. Sebuah karya yang dibuat dan dipentaskan secara kolaboratif antara Komang Adi Pranata (dari Komunitas Manubada) berkolaborasi dengan GVNGARIK (visual mapping).

"Time Zene" di pentaskan pada pameran Time Zone Exhibition yang berlangsung pada:

tanggal: 4 Maret 2021

tempat: Ubud, Gianyar-Bali. '

video: //ra.

Sebuah pameran seni telah diselenggarakan oleh kawan-kawan "Street Conection" pada tanggal 11 Juni sampai 18 Juni 2021, bertempat di Parigata Alternative Space, jl. Farigata, no. 13, Dauh Peken - Tabanan.

Pameran yang berlangsung selama seminggu ini merupakan sebuah pameran kelompok yang diikuti oleh 32 seniman, masing-masing seniman membawa satu buah karya seni dengan kanvas sebagai media utama, dengan tujuan untuk membangun koneksi antara sesama seniman, komunitas dan individu. Selain itu pameran ini juga membuka donasi yang ditujukan kepada salah satu ruang belajar didaerah Mambang, Selemadeg Timur yaitu Ruang Baca Kreatifitas Mambang.

Pameran dibuka pada tanggal 11 Juni 2021 dengan agenda hari pertama yaitu; bincang santai bersama seniman, kemudian akustik yang diisi oleh Lentera, Pandu Sukma, Badik Tilu dan Lizen, dan teatrikal puisi yang diisi oleh Devy Gita. Acara dibuka mulai pukul 16.00 Wita sampai pukul 22.00 Wita. Selain bincang santai dan akustik, ada juga tattoo colabs oleh Gede Rian, Erik Surya dan Agus Wijaya. Tentu pengunjung dihari pertama sebagai pembukaan pameran ini membludak luar biasa ramainya.

Pameran masih berlanjut di hari-hari berikutnya, guna memaksimalkan acara pameran, beberapa kegiatan pun dilakukan seperti dihari ke-2 pameran yaitu 12 Juni 2021 diisi dengan workshop "Paint & Drawing on Textile" yang diisi oleh Setiadi Nolep. Workshop kali ini menggunakan limbah tekstil (pakaian layak pakai) sebagai media, yang direspon oleh peserta workshop dengan cat lukis yang telah disediakan oleh pengisi workshop. Ada yang menggunakan topi sebagai media, baju bahkan hingga sepatu.

Dan hari ke-4, Senin 14 Juni diadakan nonton bareng film "Indonesia Merdeka" dan diskusi yang diisi oleh Made Argawa sebagai moderator dan I Gede Kamajaya sebagai pemantik diskusi, dengan tema "Soekarno Pacsa Kolonialisme". Acara berlangsung sangat intim, ditemani gorengan dan kopi.

Di hari ke-5, Selasa 15 Juni agenda masih sama, yaitu diisi dengan nonton bareng film "KPK EndGame" garapan watchdoc. Film ini menjadi salah satu pilihan agenda pameran dengan tujuan mengangkat isu upaya pelemahan KPK oleh pemerintah.

Selanjutnya, di hari ke-6, Kamis 17 Juni diisi dengan bincang santai "Tiba-tiba Bicara Arsip", yaitu bincang-bincang seputaran upaya pengarsipan bersama I Ni Ar(t)chive, yaitu bagaimana upaya kita mengarsipkan/membuat dokumentasi suatu hal baik itu karya seni, musik dan yang lain dalam bentuk foto, video maupun tulisan.

Itulah beberapa kegiatan yang diisi selama pameran berlangsung, dan hari terakhir, yaitu penutupan pameran, Jumat 18 Juni diisi dengan agenda ; Music Perform oleh Mantra, Live Painting/Mural diisi oleh Himawari, Lost Mind, Mahaguna, Ari Kiss, Indra Tattoo, dan Possed to Die, serta Tatto Trade yang diisi oleh Gede Rian, Erik Surya, Agus Wijaya, Nanda Art Tattoo, dan Anggi Ayuning. Tatto Trade kali ini tidak berbayar dengan uang melainkan dibarter dengan sembako.

Selama berlangsungnya acara tentu banyak hal yang didapat, terutama antusias para seniman, dan kawan-kawan yang melibatkan diri ambil andil dalam acara ini. Harapan mulai muncul, semangat membangun koneksi antara yang satu dengan yang lain tentunya mulai terbangun, lalu kemudian bagaimana semangat gotong royong pun tumbuh bersama melalui acara ini.

Kusuma Putra

27 Juni 2021

(Apresiasi Karya Eka Sutha berjudul "Dari Air")

Di daerah Kedampang, kecamatan Kuta Utara terdapat tempat yang menyerupai Sanur Creative Hub dimana tersedia ruang untuk pameran karya seni, diskusi dan pemutara film. Pada tanggal 26 April sampai  2 Mei 2021, Pasraman Air: Aji Toya mengadakan pameran seni dengan tema Air. Pasraman Air : Aji Toya merupakan sebuah ruang belajar bersama menanggapi permasalahan air di Bali. Bali sudah dilanda permasalahan air sejak pariwisata massal yang dimulai pada tahun 1970-an. Nusa dua dan Kuta Selatan yang relatif tandus dibangun hotel mewah dan lapangan golf yang mengambil dari dari badung Utara. Di saat musim kering, semua hotel dan resort mewah tetap mendapat volume air yang sama sedangkan rakyat kecil harus mengalami kesulitas. Masalah air di Bali amatlah kompleks.

Menurut pengamat lingkungan Bali I Made Sudarma(1), luas hutan kurang dari 35 %  pulau Bali. Ini berarti daya lahan untuk meresap dan menampung air relatif rendah. Akan meningkatkan kelangkaan air saat musim kering dan banjir saat musim basah. Ditambah lagi, semakin beralih fungsinya sawah dan lahan hijau menjadi beton dan aspal akibat tata kelola ruang yang mengutamakan pembanguan gedung untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang semakin kencang serta menjamurnya spekulasi tanah dimana harga satu are tanah mencapai miliaran rupiah di Denpasar dan Badung Selatan.

Pada acara pameran seni tersebut ditampilkan lukisan mempesona karya Eka Suta berjudul Dari Air. Dilukis di atas kanvas berbentuk persegi dengan ukuran 50 cm dengan tinta akrilik. Warna latar lukisan berwarna warni yang dapat dianggap sebagai pelangi. Di depan warna warni , pada bagian atas tersebar gumpalan gumpalan awan yang menjulang ke langit. Menuju ke bagian bawah, terpampang topeng kayu, hamburger, manusia, air, dan bunga bunga.

Apa isi pesan dari lukisan Eka Suta ini? Kita akan mulai dari warna latar. Pelangi yang menjadi inspirasi warna latar lukisan terbentuk dari pembiasan cahaya matahari pada air. Cahaya matahari yang berwarna putih menyentuh butiran butiran air yang jauth ke tanah. Cahaya tersebut memantulkan warna merah, jingga, kuning, hijau, kuning, nila ,dan ungu. Pantulan tujuh warna inilah yang tertangkap oleh sel retina pada mata manusia saat lensa mata mengamatinya sehingga otak merekam hasil pengamatan sebagai pelangi.

Gumpalan awan terbentuk saat air dan kelembapan pada danau, sungai, hutan, padang rumput dan lautan yang luasnya paling kecil ribuan hektar menguap ke Langit. Udara panas dari matahari membuatnya menjadi ringan sehingga mendorong uap ini ke atas dan berkumpul membentuk awan. Saat awan terus naik ke atas, akan bersentuhan dengan udara dingin, lalu uap ini kembali menjadi butiran butiran air yang jatuh ke sebagai hujan karena gaya gravitasi bumi. Ini dinamakan siklus hidrologi dan amat vital bagi kelangsungan mahluk hidup di bumi. Pada Hutan Hujan Tropis yang amat luas seperti Sumatera, Borneo dan Papua, penguapan dari miliaran daun daun lebar kanopi pohon menggerakkan pembentukan awan secara mandiri dan langsung membasahi daratan. Ini berarti hutan hujan tropis mengelola sendiri ekosistemnya. Sebagian besar hujan yang jatuh berasal dari proses ini.

Di bawah atap langit berawan, terdapat topeng barong yang terbuat dari kayu dan hamburger yang mana keduanya berasal dari air. Mengapa demikian? Kayu yang menjadi bahan baku pembuatan topeng berasal dari tanaman yang harus dapat cukup air bersih dan tanah berhumus dimana mikro organisme memproses zat zat yang ada menjadi nutrisi. Air pada tanaman berkayu diperlukan untuk fotosintesis dan melarutkan nutrient yang diserap melalui akar. Tanpa dua hal itu , pohon akan mati sehingga kayu berkualitas ideal tidak terhasilkan. Kerajinan Bali dapat terganggu karenanya.

Makananan yang terdiri dari roti, sayur sayuran, dan daging berasal dari mahluk hidup. Seperti halnya pohon, gandum, selada, bawang, tomat dan merica butuh air dan tanah untuk tumbuh dan berkembang sebelum dipanen. Mengenai daging yang digunakan, seluruh hewan darat dan air tawar butuh air untuk menjaga kadar cairan dalam tubuh karena lebih dari 50% tubuh hewan tersusun atas air, sebagai pelarut zat makanan dan kadang jadi habitat kedua. Sapi yang diambil dagingnya membutuhkan tanaman hijau dimana hidup sehat dengan air cukup dan humus serta untuk minum.

Manusia disamping menggunakan air untuk hal yang sama dengan semua mahluk hidup, ia menggunakannya untuk industri pengolahan barang barang yang dikenakan tiap hari secara tak langsung dan langsung . yang tidak langsung berupa air untuk pembangkit listri tenaga uap dan surya yang menghasilkan listrik yang menjadi nyawa dan tulang punggung peradaban modern untuk hampir segala aktivitas. Yang digunakan secara langsung mencakup untuk rekreasi, olah raga, membersihkan diri, transportasi perahu , pembuatan minyak astiri dengan penyulingan dan lain sebagainya.

Bunga bunga cantik yang kita lihat di taman atau hidup liar di alam bergantung pada air dan humus untuk tumbuh mulai dari benih sampai dewasa. Tanah yang berhumus , air jernih dan suhu yang ideal akan mempertahankan usia bunga sebelum layu menjadi nutrisi tanah yang selanjutnya menghidupi lagi benih benih berikutnya.  Kesimpulannya, semua aspek yang manusia butuhkan untuk hidup di bumi berasal dari air.

Doni Wijaya

2 Juli 2021

 

 

Sumber:

  1. Bali Post. Wujudkan Kawasan Hijau 30 Persen, Bali Perlu Lakukan Hal Ini. 27 Oktober 2020.
    https://www.balipost.com/ Diakses tanggal 2 Juli 2021

(Apresiasi Karya Wayan Naya Swantha berjudul "Kloni Non Organik")

Cuaca sore itu sejuk. Pemandangan asri sawah membentang lebar di sekelilingnya. Hembusan angin mengayunkan dahan pohon dan membuat rumput menari-nari. Aliran air selokan mengalir dengan lancar dan memantulkan warna berkilau saat diterpa cahaya surya menandakan air berwarna jernih. Warna warni dasar selokan terlihat jelas berkat kejernihan itu. Pemandangan ini disaksikan di desa Guwang bagian Selatan dimana Kulidan Kitchen and Space berdiri.

Bangunan ini dikelilingi sawah di tiga sisinya dan jalan raya di sebelah barat pintu gerbang. Momen dari cuaca yang bersahabat, dan air yang jernih mengalir ditambahkan dengan acara pameran seni bertema Supra Village pada tanggal 3 April 2021.

Acara Supra Village adalah pameran seni rupa yang menghubungkan seni dengan isu lingkungan dan pertanian. Berkat kerja sama Galang Kangin dan pengelola Kulidan Kitchen and Space pameran ini berlangsung dengan khidmat dan menyenangkan.

Komunitas seni Galang Kangin sebagai peserta pameran didirikan pada tahun 1996. Kekuatan Galang Kangin yang membuatnya mampu bertahan sampai sekarang adalah rasa solidaritas dan saling membantu anggotanya menghasilkan karya yang bermutu. Seniman dan yang bukan seniman dapat belajar dari komunitas ini bahwa menghasilkan karya yang bermutu harus dilandasi rasa solidaritas. Artinya ketika ada anggota seniman menghasilkan karya bernilai, dia akan memotivasi dan memafasilitasi sesama anggotanya menghasilkan hal serupa, bukan menjauh dari komunitas, menganggap dirinya paling hebat.

Para pelaku seni dan bidang lain yang peduli dengan isu sosial dan ekologi harus meminggirkan egonya dan bekerja sama menghasilkan karya yang bermutu dan dapat menyelesaikan masalah.

Di sore hari yang cerah, pembukaan pameran seni dibuka dengan pidato  Bapak Nyoman Partha, SH  menjabat sebagai anggota komisi VI DPR RI. Dalam pidato beliau, sejatinya pertanian dalam arti luas yaitu produksi makanan, serat dan kayu dari lahan dan laut adalah batangnya Bali.

Ironisnya saat ini yang jadi batang tersebut digantikan oleh pariwisata. Ketika ini terjadi batangnya rusak, dan merambat ke akar sampai pucuk daun dan buah. Batang adalah tempat produksi. Pariwisata sebagai bunga dan buah adalah hasil dari batang yang sejati ini. Seni dalam kaitannya dengan masalah ini harus menyuarakan suara hati yang mencerminkan keadaan sesungguhnya mulai dari kritik, perlawanan atas kekeliruan kebijakan dan pemberdayaan untuk mewujudkan ide alternative menyelesaikan masalah.  Sekitar setengah jam berikutnya , Bapak Dr.Hardiman selaku curator seni menjadi pembicara.

Melewati pintu kaca berbingkai kayu di sebelah timur ruang pameran, sudah berkumpul orang orang di dalam. Mereka mengamati dan mengadakan dialog dengan sesame pengunjung bahkan seniman dan curator. Mengamati karya karya yang ada, terdapat sebuah karya tiga dimensi berbingkai kayu berukuran panjang 70 cm dengan lebar 65 cm. di tengah bingkai adalah jaring jaring yang disusun dengan kawat. Di atas jaring jaring itu , sampah sampah yang sering muncul di sawah diambil lalu disusun dengan perpaduan lem dan kawat sehingga kokoh. Karya ini dibuat oleh Wayan Naya Swantha dengan judul Kloni non Organik.

Karya Wayan Naya Swantha berjudul Kloni Non Organik

Wayan Naya Swantha menyuarakan kepada public bahwa sampah-sampah non organik amat rugikan petani. Lahan sawah dapat menjadi rusak karena hal ini. Tak jarang sawah menjadi tempat pembuangan sampah. Masyarakat sering melakukan ini karena dianggap paling praktis dan tanpa biaya.

Masalah sampah di Indonesia termasuk Bali kompleks. Tak dapat disangkal bahwa kebiasaan buang sampah sembarangan masih marak di masyarakat. Berita heboh pada tanggal 9 Maret 2021 dimana seseorang melempar botol minuman ke mulut kuda nil yang menyebabkan nyawa hewan itu terancam adalah gejalah dari parahnya kebiasaan buruk ini. Bahkan saat berjalan di areah persawahan Guwang, dapat ditemukan sandal, botol, gelas plastik dan barang barang non organic lainnya yang berserakan di sela sela antara pematang dan areal penanaman padi.

Dampak paling jelas dari kebiasaan buruk ini adalah tersumbatnya saluran irigasi sawah dan banjir disertai cemaran zat kimia non organic yang merusak sawah. Padi tidak mendapat cukup air dan berpotensi terencam air terpolusi. Pada kasus banjir, unsur hara pada lapisan atas tanah hanyut sehingga mengurangi nutrisi yang diperoleh tanaman padi bahkan mampu mematikan padi itu sendiri saat menjelang panen sehingga kerja yang dilakukan jadi sia sia dan harus kembali menanam bibit lagi dari awal. Kualitas gabah dan jerami yang dihasilkan amat rendah yang mengurangi nilai guna hasil sawah dan berdampak pada pendapatan petani. Dua hal ini berperan dalam menggangu produktivitas  lahan, ekonomi petani dan keasrian.

Petani harus menguras waktu dan tenaganya untuk memungut sampah dari lahan yang dia garap , area antara garapan dan pematang serta saluran irigasi. Terkadang, air banjir yang tercemar berdampak buruk bagi kesehatan petani. Produktivitas kerja dan potensi dirinya mengolah sawah terhambat karena kebiasaan buruk masyarakat. Kebanyakan sampah non organik di sawah berasal dari selokan yang sebagian berakhir di antara saluran air masuk dan lahan garap. Rusaknya keasrian sawah memperkecil minat wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung karena nilai estetika nyaris tidak ada. Ini berpotensi mengurangi pendapatan ekonomi masyarakat Bali khusunya akibat kebiasaan buruk buang sampah sembarangan. Ini turut berperan dalam alih fungsi lahan karena petani merasa bebannya terlalu berat(1).

Sampah non organic padat dapat dipungut langsung oleh orang orang yang melihatnya sehingga dapat berkurang dari lahan untuk waktu yang amat singkat saat diadakan bersih bersih lingkungan.  Hal ini tidak berlaku bagi limbah cair non organic. Sekitar Dua tahun lalu di Denpasar Selatan, di Banjar Pitik, kelurahan Pedungan, petani mengalami kesulitan yang lebih berat dibandingkan biasanya. Sampah non organic cair dari bercampur dengan air saluran irigani lalu mengaliri persawahan. Persawahan di situ berdekatan dengan usaha sablon rumah tangga yang tidak punya sistem pengolahan limbah cair sehingga membuangnya langsung ke selokan. Kesuburan padi terganggu karena limbah cair sisa sablon. Perubahan sawah jadi fungsi non pertanian di Pedungan berlangsung tanpa henti karena ini dimana petani enggan bercocok tanam selain daripada harga jual gabah, biaya biaya dari pembibitan, perawatan hingga  penggilingan dikarenakan juga aliran sampah(2).

Dari membuang waktu petani, serta merusak kesuburan tanah dan keindahan bentang lahan, sampah non organic dapat melukai manusia secara fisik. Di kabupaten Bandung, pecahan kaca sering ditemukan di areal persawahan sampai ada petani mengalami luka robek yang dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani(3). Ini membuktikan bahwa kebiasaan buruk masyarakat Indonesia dapat membahayakan nyawa manusia meski tidak disadari.

Selain terus mendidik setiap orang agar buang sampah pada tempatnya, masyarakat harus diberi pendidikan untuk memilah sampah organic dan non organic beserta pemanfaatannya. Harus disosialisasi dampak negative dari buang sampah sembarangan dan memberikan dampak positif dari perilaku menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan yang berperan penting dalam menjaga kualitas pangan.  Petugas pengangkut sampah harus sediakan dua ruang pada bak penampungan sampah yaitu organic dan non organic agar tidak tercampur sehingga akan jauh lebih menghemat waktu, biaya dan tenaga saat mengolahnya. Tiap kabupaten/kota harus ada unit pengolahan sampah tersebut.  Ini dapat menambah pendapatan ekonomi warga dari barang barang yang dibuang menjadi bernilai guna.

Kreativitas warga akan diberdayakan untuk menyelesaikan masalah ini.  Untuk limbah sablon dan limbah cair non organic dari industri skala rumah tangga dan usaha kecil menengah, pemerintah daerah  wajib mensosialisasikan kepada tiap pelaku usaha mendirikan fasilitas untuk penampungan limbah cair di tiap tempat produksi yang terhubung dengan instalasi pengolahan untuk menjaga kualitas air dan kesehatan lingkungan. Dirikanlah pengolahan sampah dan limbah yang terpadu supaya kualitas pangan dan air terjaga  buat manusia hidup di lingkungan yang layak.

Doni Wijaya

2 Juli 2021

Sumber:

  1. SAMPAH PLASTIK SAMPAI DILAHAN SAWAH, SALAH SIAPA?
    28 Desember 2020
    https://distan.bulelengkab.go.id
  2. Persawahan dipenuhi sampah plastik, petani mengekuh dewan kota turun tangan .
    30 agustus 2019.
    https://www.nusabali.com
  3. 20 Hektare Sawah di Soreang Kabupaten Bandung Tercemar Sampah.
    25 Maret 2017
    https://news.detik.com

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz