(Apresiasi Karya Eka Sutha berjudul "Dari Air")
Di daerah Kedampang, kecamatan Kuta Utara terdapat tempat yang menyerupai Sanur Creative Hub dimana tersedia ruang untuk pameran karya seni, diskusi dan pemutara film. Pada tanggal 26 April sampai 2 Mei 2021, Pasraman Air: Aji Toya mengadakan pameran seni dengan tema Air. Pasraman Air : Aji Toya merupakan sebuah ruang belajar bersama menanggapi permasalahan air di Bali. Bali sudah dilanda permasalahan air sejak pariwisata massal yang dimulai pada tahun 1970-an. Nusa dua dan Kuta Selatan yang relatif tandus dibangun hotel mewah dan lapangan golf yang mengambil dari dari badung Utara. Di saat musim kering, semua hotel dan resort mewah tetap mendapat volume air yang sama sedangkan rakyat kecil harus mengalami kesulitas. Masalah air di Bali amatlah kompleks.
Menurut pengamat lingkungan Bali I Made Sudarma(1), luas hutan kurang dari 35 % pulau Bali. Ini berarti daya lahan untuk meresap dan menampung air relatif rendah. Akan meningkatkan kelangkaan air saat musim kering dan banjir saat musim basah. Ditambah lagi, semakin beralih fungsinya sawah dan lahan hijau menjadi beton dan aspal akibat tata kelola ruang yang mengutamakan pembanguan gedung untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang semakin kencang serta menjamurnya spekulasi tanah dimana harga satu are tanah mencapai miliaran rupiah di Denpasar dan Badung Selatan.
Pada acara pameran seni tersebut ditampilkan lukisan mempesona karya Eka Suta berjudul Dari Air. Dilukis di atas kanvas berbentuk persegi dengan ukuran 50 cm dengan tinta akrilik. Warna latar lukisan berwarna warni yang dapat dianggap sebagai pelangi. Di depan warna warni , pada bagian atas tersebar gumpalan gumpalan awan yang menjulang ke langit. Menuju ke bagian bawah, terpampang topeng kayu, hamburger, manusia, air, dan bunga bunga.
Apa isi pesan dari lukisan Eka Suta ini? Kita akan mulai dari warna latar. Pelangi yang menjadi inspirasi warna latar lukisan terbentuk dari pembiasan cahaya matahari pada air. Cahaya matahari yang berwarna putih menyentuh butiran butiran air yang jauth ke tanah. Cahaya tersebut memantulkan warna merah, jingga, kuning, hijau, kuning, nila ,dan ungu. Pantulan tujuh warna inilah yang tertangkap oleh sel retina pada mata manusia saat lensa mata mengamatinya sehingga otak merekam hasil pengamatan sebagai pelangi.
Gumpalan awan terbentuk saat air dan kelembapan pada danau, sungai, hutan, padang rumput dan lautan yang luasnya paling kecil ribuan hektar menguap ke Langit. Udara panas dari matahari membuatnya menjadi ringan sehingga mendorong uap ini ke atas dan berkumpul membentuk awan. Saat awan terus naik ke atas, akan bersentuhan dengan udara dingin, lalu uap ini kembali menjadi butiran butiran air yang jatuh ke sebagai hujan karena gaya gravitasi bumi. Ini dinamakan siklus hidrologi dan amat vital bagi kelangsungan mahluk hidup di bumi. Pada Hutan Hujan Tropis yang amat luas seperti Sumatera, Borneo dan Papua, penguapan dari miliaran daun daun lebar kanopi pohon menggerakkan pembentukan awan secara mandiri dan langsung membasahi daratan. Ini berarti hutan hujan tropis mengelola sendiri ekosistemnya. Sebagian besar hujan yang jatuh berasal dari proses ini.
Di bawah atap langit berawan, terdapat topeng barong yang terbuat dari kayu dan hamburger yang mana keduanya berasal dari air. Mengapa demikian? Kayu yang menjadi bahan baku pembuatan topeng berasal dari tanaman yang harus dapat cukup air bersih dan tanah berhumus dimana mikro organisme memproses zat zat yang ada menjadi nutrisi. Air pada tanaman berkayu diperlukan untuk fotosintesis dan melarutkan nutrient yang diserap melalui akar. Tanpa dua hal itu , pohon akan mati sehingga kayu berkualitas ideal tidak terhasilkan. Kerajinan Bali dapat terganggu karenanya.
Makananan yang terdiri dari roti, sayur sayuran, dan daging berasal dari mahluk hidup. Seperti halnya pohon, gandum, selada, bawang, tomat dan merica butuh air dan tanah untuk tumbuh dan berkembang sebelum dipanen. Mengenai daging yang digunakan, seluruh hewan darat dan air tawar butuh air untuk menjaga kadar cairan dalam tubuh karena lebih dari 50% tubuh hewan tersusun atas air, sebagai pelarut zat makanan dan kadang jadi habitat kedua. Sapi yang diambil dagingnya membutuhkan tanaman hijau dimana hidup sehat dengan air cukup dan humus serta untuk minum.
Manusia disamping menggunakan air untuk hal yang sama dengan semua mahluk hidup, ia menggunakannya untuk industri pengolahan barang barang yang dikenakan tiap hari secara tak langsung dan langsung . yang tidak langsung berupa air untuk pembangkit listri tenaga uap dan surya yang menghasilkan listrik yang menjadi nyawa dan tulang punggung peradaban modern untuk hampir segala aktivitas. Yang digunakan secara langsung mencakup untuk rekreasi, olah raga, membersihkan diri, transportasi perahu , pembuatan minyak astiri dengan penyulingan dan lain sebagainya.
Bunga bunga cantik yang kita lihat di taman atau hidup liar di alam bergantung pada air dan humus untuk tumbuh mulai dari benih sampai dewasa. Tanah yang berhumus , air jernih dan suhu yang ideal akan mempertahankan usia bunga sebelum layu menjadi nutrisi tanah yang selanjutnya menghidupi lagi benih benih berikutnya. Kesimpulannya, semua aspek yang manusia butuhkan untuk hidup di bumi berasal dari air.
Doni Wijaya
2 Juli 2021
Sumber:
(Apresiasi Karya Wayan Naya Swantha berjudul "Kloni Non Organik")
Cuaca sore itu sejuk. Pemandangan asri sawah membentang lebar di sekelilingnya. Hembusan angin mengayunkan dahan pohon dan membuat rumput menari-nari. Aliran air selokan mengalir dengan lancar dan memantulkan warna berkilau saat diterpa cahaya surya menandakan air berwarna jernih. Warna warni dasar selokan terlihat jelas berkat kejernihan itu. Pemandangan ini disaksikan di desa Guwang bagian Selatan dimana Kulidan Kitchen and Space berdiri.
Bangunan ini dikelilingi sawah di tiga sisinya dan jalan raya di sebelah barat pintu gerbang. Momen dari cuaca yang bersahabat, dan air yang jernih mengalir ditambahkan dengan acara pameran seni bertema Supra Village pada tanggal 3 April 2021.
Acara Supra Village adalah pameran seni rupa yang menghubungkan seni dengan isu lingkungan dan pertanian. Berkat kerja sama Galang Kangin dan pengelola Kulidan Kitchen and Space pameran ini berlangsung dengan khidmat dan menyenangkan.
Komunitas seni Galang Kangin sebagai peserta pameran didirikan pada tahun 1996. Kekuatan Galang Kangin yang membuatnya mampu bertahan sampai sekarang adalah rasa solidaritas dan saling membantu anggotanya menghasilkan karya yang bermutu. Seniman dan yang bukan seniman dapat belajar dari komunitas ini bahwa menghasilkan karya yang bermutu harus dilandasi rasa solidaritas. Artinya ketika ada anggota seniman menghasilkan karya bernilai, dia akan memotivasi dan memafasilitasi sesama anggotanya menghasilkan hal serupa, bukan menjauh dari komunitas, menganggap dirinya paling hebat.
Para pelaku seni dan bidang lain yang peduli dengan isu sosial dan ekologi harus meminggirkan egonya dan bekerja sama menghasilkan karya yang bermutu dan dapat menyelesaikan masalah.
Di sore hari yang cerah, pembukaan pameran seni dibuka dengan pidato Bapak Nyoman Partha, SH menjabat sebagai anggota komisi VI DPR RI. Dalam pidato beliau, sejatinya pertanian dalam arti luas yaitu produksi makanan, serat dan kayu dari lahan dan laut adalah batangnya Bali.
Ironisnya saat ini yang jadi batang tersebut digantikan oleh pariwisata. Ketika ini terjadi batangnya rusak, dan merambat ke akar sampai pucuk daun dan buah. Batang adalah tempat produksi. Pariwisata sebagai bunga dan buah adalah hasil dari batang yang sejati ini. Seni dalam kaitannya dengan masalah ini harus menyuarakan suara hati yang mencerminkan keadaan sesungguhnya mulai dari kritik, perlawanan atas kekeliruan kebijakan dan pemberdayaan untuk mewujudkan ide alternative menyelesaikan masalah. Sekitar setengah jam berikutnya , Bapak Dr.Hardiman selaku curator seni menjadi pembicara.
Melewati pintu kaca berbingkai kayu di sebelah timur ruang pameran, sudah berkumpul orang orang di dalam. Mereka mengamati dan mengadakan dialog dengan sesame pengunjung bahkan seniman dan curator. Mengamati karya karya yang ada, terdapat sebuah karya tiga dimensi berbingkai kayu berukuran panjang 70 cm dengan lebar 65 cm. di tengah bingkai adalah jaring jaring yang disusun dengan kawat. Di atas jaring jaring itu , sampah sampah yang sering muncul di sawah diambil lalu disusun dengan perpaduan lem dan kawat sehingga kokoh. Karya ini dibuat oleh Wayan Naya Swantha dengan judul Kloni non Organik.
Karya Wayan Naya Swantha berjudul Kloni Non Organik
Wayan Naya Swantha menyuarakan kepada public bahwa sampah-sampah non organik amat rugikan petani. Lahan sawah dapat menjadi rusak karena hal ini. Tak jarang sawah menjadi tempat pembuangan sampah. Masyarakat sering melakukan ini karena dianggap paling praktis dan tanpa biaya.
Masalah sampah di Indonesia termasuk Bali kompleks. Tak dapat disangkal bahwa kebiasaan buang sampah sembarangan masih marak di masyarakat. Berita heboh pada tanggal 9 Maret 2021 dimana seseorang melempar botol minuman ke mulut kuda nil yang menyebabkan nyawa hewan itu terancam adalah gejalah dari parahnya kebiasaan buruk ini. Bahkan saat berjalan di areah persawahan Guwang, dapat ditemukan sandal, botol, gelas plastik dan barang barang non organic lainnya yang berserakan di sela sela antara pematang dan areal penanaman padi.
Dampak paling jelas dari kebiasaan buruk ini adalah tersumbatnya saluran irigasi sawah dan banjir disertai cemaran zat kimia non organic yang merusak sawah. Padi tidak mendapat cukup air dan berpotensi terencam air terpolusi. Pada kasus banjir, unsur hara pada lapisan atas tanah hanyut sehingga mengurangi nutrisi yang diperoleh tanaman padi bahkan mampu mematikan padi itu sendiri saat menjelang panen sehingga kerja yang dilakukan jadi sia sia dan harus kembali menanam bibit lagi dari awal. Kualitas gabah dan jerami yang dihasilkan amat rendah yang mengurangi nilai guna hasil sawah dan berdampak pada pendapatan petani. Dua hal ini berperan dalam menggangu produktivitas lahan, ekonomi petani dan keasrian.
Petani harus menguras waktu dan tenaganya untuk memungut sampah dari lahan yang dia garap , area antara garapan dan pematang serta saluran irigasi. Terkadang, air banjir yang tercemar berdampak buruk bagi kesehatan petani. Produktivitas kerja dan potensi dirinya mengolah sawah terhambat karena kebiasaan buruk masyarakat. Kebanyakan sampah non organik di sawah berasal dari selokan yang sebagian berakhir di antara saluran air masuk dan lahan garap. Rusaknya keasrian sawah memperkecil minat wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung karena nilai estetika nyaris tidak ada. Ini berpotensi mengurangi pendapatan ekonomi masyarakat Bali khusunya akibat kebiasaan buruk buang sampah sembarangan. Ini turut berperan dalam alih fungsi lahan karena petani merasa bebannya terlalu berat(1).
Sampah non organic padat dapat dipungut langsung oleh orang orang yang melihatnya sehingga dapat berkurang dari lahan untuk waktu yang amat singkat saat diadakan bersih bersih lingkungan. Hal ini tidak berlaku bagi limbah cair non organic. Sekitar Dua tahun lalu di Denpasar Selatan, di Banjar Pitik, kelurahan Pedungan, petani mengalami kesulitan yang lebih berat dibandingkan biasanya. Sampah non organic cair dari bercampur dengan air saluran irigani lalu mengaliri persawahan. Persawahan di situ berdekatan dengan usaha sablon rumah tangga yang tidak punya sistem pengolahan limbah cair sehingga membuangnya langsung ke selokan. Kesuburan padi terganggu karena limbah cair sisa sablon. Perubahan sawah jadi fungsi non pertanian di Pedungan berlangsung tanpa henti karena ini dimana petani enggan bercocok tanam selain daripada harga jual gabah, biaya biaya dari pembibitan, perawatan hingga penggilingan dikarenakan juga aliran sampah(2).
Dari membuang waktu petani, serta merusak kesuburan tanah dan keindahan bentang lahan, sampah non organic dapat melukai manusia secara fisik. Di kabupaten Bandung, pecahan kaca sering ditemukan di areal persawahan sampai ada petani mengalami luka robek yang dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani(3). Ini membuktikan bahwa kebiasaan buruk masyarakat Indonesia dapat membahayakan nyawa manusia meski tidak disadari.
Selain terus mendidik setiap orang agar buang sampah pada tempatnya, masyarakat harus diberi pendidikan untuk memilah sampah organic dan non organic beserta pemanfaatannya. Harus disosialisasi dampak negative dari buang sampah sembarangan dan memberikan dampak positif dari perilaku menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan yang berperan penting dalam menjaga kualitas pangan. Petugas pengangkut sampah harus sediakan dua ruang pada bak penampungan sampah yaitu organic dan non organic agar tidak tercampur sehingga akan jauh lebih menghemat waktu, biaya dan tenaga saat mengolahnya. Tiap kabupaten/kota harus ada unit pengolahan sampah tersebut. Ini dapat menambah pendapatan ekonomi warga dari barang barang yang dibuang menjadi bernilai guna.
Kreativitas warga akan diberdayakan untuk menyelesaikan masalah ini. Untuk limbah sablon dan limbah cair non organic dari industri skala rumah tangga dan usaha kecil menengah, pemerintah daerah wajib mensosialisasikan kepada tiap pelaku usaha mendirikan fasilitas untuk penampungan limbah cair di tiap tempat produksi yang terhubung dengan instalasi pengolahan untuk menjaga kualitas air dan kesehatan lingkungan. Dirikanlah pengolahan sampah dan limbah yang terpadu supaya kualitas pangan dan air terjaga buat manusia hidup di lingkungan yang layak.
Doni Wijaya
2 Juli 2021
Sumber:
#pasramanair #ajitoya
(Pengalman dari pameran Pasraman Air: Aji Toya)
Deru kendaraan ditengah siang yang kian menyengati dan angin yang berhembus kencang mengisi perjalanan menuju Kerobokan. Kendaraan kian memadati jalanan dengan uap panas yang kian menyengat, sementara himbauan dan angka update covid-19 terus saja memanjat naik.
Sebuah ruang besar yang lebih dengan lantai berwarna-warni. Struktur bangunan yang kaki dengan pintu dari besi. Kayu dihadirkan sebagai aksen yang kemudian tenggelam oleh warna-warni yang meleleh dari kaleng-kaleng, sekilas menarik perhatian lalu menjemukan.
Sebuah gerbang besi di tutup, lalu dibungkus dengan kain hitam. Dihadapan gerbang besi (yang dari luar) dikamuflase kain hitam, puluhan karya ditata, tepat disebelah kanan pintu masuk (kecil yang disisakan) dari Geo Open Space yang berlokasi di Jl. Kedampang, Kerobokan, Kuta Utara, Badung.
Ada karya lukis, gerabah, poster, bahkan dokumentasi mural hingga puisi dalam format poster dihadirkan dalam sebuah pameran seni rupa yang merupakan bagian dari acara Pasraman Air: Aji Toya, sebuah ruang belajar bersama yang dihadirkan selama seminggu dengan cara bergotong-royong melalui panggilan terbuka dalam bentuk urunan dan kemudian dimiliki secara bersama-sama.
Setiap harinya ada kelas-kelas belajar bersama dalam bentuk diskusi atau sharing session tentang air dan segala jalinan yang terkait dengan keberadaan air. Tema yang terus berubah di setiap sesi.
Karya-karya seni rupa yang ditampilkan merupakan hasil dari perupa yang submit lewat open call yang dilakukan secara terbuka dari pertengahan bulan Maret 2021 oleh tim Pasraman Air.
Dalam narasi yang kemudian di pajang dalam sebuah panel besar kayu dengan ukuran A0, menyinggung kalau karya-karya rupa yang kemudian hadir dan dipamerkan selama 7 hari, dari 26 April - 02 Mei 2021 merupakan hasil dari open call untuk merayakan perayaan hari air sedunia (International Water Day 2021) yang jatuh setiap 22 Maret.
Undangan tema berkaya pada perayaan hari ini cukup lugas, “Nilai Air, Air dan Kandungan Nilai Melampaui Label Harga”. Secara jelas, undangan tema tersebut tentu saja mempertanyakan bagaimana air dipandang hari ini, apakah air hanya dinilai seharga perusahaan air mineral menghargai air (dalam kemasan air mineral), atau seharga perusahaan air minum daerah yang menyalurkan air tak bisa diminum dengan tarif tiap kubik, dan kebocoran di sana-sini?
Secara tema, undangan tersebut sangat provokatif, membenturkan nilai dan harga. Nilai, ada kurs untuk mengkonversinya? Sehingga satu orang dengan orang yang lain bisa diukur dan dikomunikasikan dalam sebuah kesepakatan.
Jika bicara harga, hal tersebut berhasil melakukannya, sebotol 600 ml air mineral seharga Rp. 5000, tinggal konversi dengah kurs dolar atau harga rupiah terhadap mata uang asing.
Lalu kemudian apa yang dihadirkan secara visual dari karya-karya yang di pamerkan?
Kering, sebuah karya dari Gusti Dalem, bagaimana tanah teraleaniasi dari air, menjadi serangkaian aliran bulir tegas dari tanah yang kemudian mengering.
Hal tersebut mungkin saja hal yang mustahil terjadi di Bali, ketika air bisa dihadirkan dengan merogoh kocek untuk minum, atau di beberapa keluarga perkotaan bisa menyiram aspal, seolah aspal adalah makhluk hidup yang butuh air.
Tanah jauh lebih butuh air dari aspal, menyiram aspal dengan pembenaran “nanti air yang disiramkan akan diserap tanah” tentu berbeda dengan realita tanah produktif yang kekurangan air.

Aspal tidak akan pernah terbelah oleh kekeringan, namun tanah terbelah karena musim yang menjadi kering dan panjang, sering kali tersaji.
Ahhhh….
Kita beralih ke sosok perempuan yang dihadirkan dari telaga oleh tangan-tangan air, karya Dayu Sartika. Sebuah nilai dengan konteks yang begitu nyata, kehidupan tidak bisa menghadirkan air, namun air bisa menghadirkan kehidupan. Apa yang hendak diperdebatkan dari hal tersebut, ibu pertiwi, menjadikan pertiwi (merujuk ke tanah) pada ibu, namun pada kenyataannya kehidupan disusun dari kesabaran air.
Silahkan cari tahu persen cairan dalam tubuhmu, yang membaca tulisan ini (jangan manja), silahkan cari tahu sendiri, sebelum membawanya secara lebih besar untuk membuat pertanyaan siapa yang sebenarnya menghidupi kita, sebagai makhluk daratan?
Lalu petaualang bisa disajikan akan air kekinian, bagaimana narasi tradisional yang digelembungkan dan tanpa disadari menjadi bentuk nostalgia romantis bagaimana air dinilai oleh mereka yang hidup dari keberadaan air harus berbenturan dengan realita modern. Dimana air hanyalah sebuah komoditi, produk yang menghasilkan keuntungan bagi kaum pemodal, lewat simbolisasi warna-warni euphoria manipulatif keberhasilan memenuhi kebutuhan, padahal tak lebih dari pencapaian kesenangan. Benturan yang dihadirkan dari tobrokan simbul tradisi yang dipuja, dengan Burger, perwujudan manifestasi instan dari kerakusan untuk melahap semua dengan cepat dan terburu-buru, tanpa peduli bagaimana tradisi-budaya terlahir dari keberlangsungan jalinan turun-temurun antara manusia dengan ruang hidup yang menghidupi dan memungkinkan mereka beranak-pinak hingga hari ini. Benturan antara laku lokal Bali akan ruang dan kerakusan logika modal untuk menguasai dan memonopoli ruang.
Cerita secara rupa tidak kalah dihadirkan oleh Gus Arta, perupa asal Sidemen yang merubah sebuah bejana gerabah yang biasa digunakan sebagai sarana untuk tirta (air suci), dengan warna asli (tanah liat), menjadi media bercerita bagaimana air secara budaya dan realita.
Gambaran realita juga dihadirkan oleh karya Sukarya, dengan media kulit sapi dengan komposisi pahatan penuh ketelatenan dan tampilan bagaimana sebuah pohon menghidupi manusia, jangan lupa, tangki air tidak memiliki kesabaran dan kebersahajaan untuk menyerahkan dirinya hidup untuk membuka ruang dan menjaga air. Sebagai produk kekinian, tangki air terjebak pada keterbatasan ruang dan kekakuan bentuk, sementara sebuah pohon punya kesabaran yang hidup dan menghidupi untuk membuka ruang aliran, kemungkinan serapan dan menjaga untuk kemudian terkumpul dan dihadirkan dalam bentuk air permukaan bisa diakses secara luas oleh makhluk hidup yang butuh air (tidak hanya manusia).

Ada banyak hal menarik yang dihadirkan dari karya seni rupa yang kemudian diberhasil dipamerkan dalam “Pasraman Air: Aji Toya”. Bayangkan saja lebih dari 20-an karya, bukan hanya dari perupa Bali. Satu karya merupakan karya mural yang di buat di Surabaya oleh sebuah kolektif “Serikat Mural Surabaya”, dengan tema karya “Mata Air Su Dekat”. Sebuah karya, dengan penggambaran realita perkotaan. Menggambarkan bagaimana wacana iklan dengan realita. Iklan layanan masyarakat dengan program biaya berlimpah tentu bisa dengan mudah membiayai media broadcasting untuk mempublikasi segala keberhasilan instan program mereka, keberhasilan instan, karena belum tentu mereka akan melakukan pembacaan ulang dari apa yang kemudain telah dilakukan (dalam Bahasa NGO/LSM evaluasi program, walau pertanyaan yang lain apa NGO/LSM akan melalukan evaluasi tanpa anggaran untuk membiayai itu).
Ahhhh, bisa jadi karya tersebut adalah sebuah satir, mata air sudah dekat, mata air yang berhasil dikemas dalam ribuan bahkan (mungkin) juataan botol (dan gelas) kemasan yang bisa diteguk dengan mudah seolah itu adalah air dari mata air pegunungan (seperti apa yang dibisikkan iklan).
Padahal disaat yang sama air dalam realita yang hari ini bisa jadi adalah ruang pembuangan dalam nostalgia warna biru, hasil dari bagaimana kesegaran air diterjemahkan dalam warna.
Pennawati, seorang perupa perempuan muda dengan berani kemudian mengahdirkanya dalam karya. Merangkum serangkaian benda yang hanyut dalam air, berhasil dikumpulkan dan kemudain dikomposisi menjadi sebuah karya. Bukankah begitu kita memperlakukan air (permukaan) yang mengalir hari ini, bukan menjadi sumber untuk kebutuhan hidup akan air, seperti halnya seekor biawak yang bertahan hidup diantara himpitan perumahan. Seperti halnya sekeluarga tikus yang menjadi penjahat hanya karena untuk bertahan hidup. seperti halnya seekor ikan nyalian (ikan kecil dalam bahasa lokal) yang harus mencari sela diantara betonisasi sungai.
Ahhhhh, bicara air, bicara hal dasar. Sebuah tulisan tidak akan mampu untuk menggambarkan bagaimana apa yang berhasilkan dihadirkan dari Pasraman Air: Aji Toya.
Yang di hadirkan tentu saja hal yag sepele, bukan hal yang besar, megah, ideologis, artristik, atau segala lebel mewah menarik yang seksi lainnya.
Yang dihadirkan hanya hal-hal sepele, tentang air.
Dan kemudian para perupa berhasil dan berani mengekspresikan diri untuk mencoba menterjemahkan tema yang diberikan. Ekspresi yang kemudian dihadirkan untuk menvisualkan bagaimana tema “Nilai Air: Kandungan Nilai yang Melampaui Label Harga”.
Tulisan ini tentu tidak bisa menghadirkan setiap detail kekaryaan yang hadir, namun tulisan ini coba menghadirkan realita akan dunia kesenian. Dunia penuh kontradiksi dalam konteks Bali. Bagaimana penari yang menjadi pelaku seni dengan narasi eksotik adi luhung kesenian harus menghadapi perlakuan naik mobil truk ke lokasi pentas, dengan bayaran yang tentu saja tidak seberapa jika kemudian menghitung waktu proses, perjalan dan perlakuan untuk sampai di panggung pentas.

Hal yang begitu nyata bagaimana kesenian hadir di Bali, konteks seni yang tidak lepas dari realita yang terjadi.
Bagaiman karya-karya para seniman hadir untuk menghadirkan visualisasi dari pandangan realita akan situasi air dalam bentuk karya dan kemudian di pamerkan dalam kenyataan ruang hari ini.
Bukan di ruang eksklusif galeri atau museum yang begitu memuja kesenian dan menjauhkan akan realita yang ada.
Para seniman muda yang berpameran dengan keberanian dan kelapang dada untuk memperlakukan “anak” (Kara seni mereka) sebagai perwujudan yang terbuka dan bisa hadir dimanapun melampau pengagungan (pemenjaraan) seni dalam ruang-ruang eksklusif penuh perencanaan.
Karya-karya yang dipamerkan di Pasraman Air: Aji Toya bisa jadi adalah bentuk solidaritas akan sebuah tema yang dilemparkan, melampaui ruang dan penyelenggara acara.
Sebuah solidaritas yang menghadirkan bagaimana realita itu hadir hari ini.
Sebuah jajaran karya seni yang bersanding dengan bising gerinda yang harus dinyalakan oleh kaum buruh untuk bisa bekerja, memenuhi tuntutan pekerjaan yang harus mereka selesaikan, supaya upah bisa terbayar.
Disisi yang lain ruang belajar dalam bentuk diskusi akan keresahan menghadapi situasi berlangsung.
Pameran seni rupa yang menjadi antara, diantara realita bertahan hidup kaum buruh dengan lekat aroma keringat dan desing gerinda dan rasa ingin tahu untuk belajar akan air dalam nilainya hari ini.
Sebuah realita sederhana yang mungkin saja luput untuk ditelaah, bahwasanya setiap karya tidak bisa lepas dari ruang dimana karya dihadirkan.
Peristiwa pameran Pasraman Air: Aji Toya, menghadirkan sebuah fenomena menarik, dimana kemudian karya-karya seni rupa menjadi antara, jembatan akan keinginan untuk belajar dengan realita bertahan hidup. Menjadi antara mereka yang ingin mencari ilmu dan realita harus berpeluh untuk bisa bertahan menghadapi kenyataan hari ini.
Menjadi jembatan antara keinginan untuk pembacaan ulang anak muda pasca pandemi dengan realita bertahan hidup kaum pekerja dimasa pandemi.
Peristiwa yang hadir, dihadirkan begitu saja oleh ruang yang bisa diakses, yang bisa jadi diluar kuasa perupa dan panitia acara Pasraman Air: Aji Toya. Hadir begitu saja dalam bentuk realita hari ini, dan bisa jadi situasi sebenarnya, bahwasanya seni dan semua karya yang kemudian ditautkan pada kesenian tak bisa lepas dari ruang bagaimana kesenian itu dihadirkan.
Dan kemudian peristiwa bagaimana pameran seni rupa hadir diantara ruang belajar dan kaum buruh yang dengan peluh menyalakan kebisingan gerinda untuk memotong kayu untuk menghadirkan ruang-ruang ideal demi konstruksi desain yang ingin dihadirkan.
Tidak hanya itu, karya-karya seni rupa yang selama seminggu hadir dalam rangkaian “#pasramanair #ajitoya juga menghadirkan kenyataan, sebuah realita dimana beberapa bocah (yang mampu membayar) kemudian berkeliaran seenaknya, membuat pemuda yang kemudian (menjual waktunya) sebagai pekerja harus terengah-engah penuh keringat demi untuk mengawasi keamanan kaum bocah yang tentu saja tidak bisa diatur semudah anak TK atau SD Negeri di kondisikan. Sementara disaat yang bersamaan bocah dari kaum pekerja lari tanpa menyusahkan siapapun. Sebuah senyum bisa memperlambat laju dan menurunan volume teriakan. Seolah menjadi naluri alamiah untuk mempertahankan kehadiran dengan sebuah pertanyaan, “Siapa Aku?” (yang bisa jadi dalam bentuk liar merupakan sebuah pertanyaan sebual kemunculan dari frasa “de ngaden awak bise”)
Sebuah pameran yang cukup liar, bagaimana karya seni rupa hadir tidak hanya sebagai objek pamer, namun sebagi subjek untuk kemudian melihat bagaimana karya tersebut melihat ruang kehadirannya.
Pada akhirnya, peristiwa hanyalah sebuah kejadian, pengulangan bisa jadi hanya sebuah reka ulang, namun ini adalah peristiwa seni rupa. Sebuah pameran karya seni rupa dengan ruang yang bisa jadi tidak dalam bayangan perupanya. Namun yang hadir adalah peristiwa ketika pameran seni rupa terjebak diatara keintiman seru diskusi belajar dan suara gerinda kaum buruh.
Sebuah peristiwa yang tidak bisa diulang.
Peristiwa yang bisa jadi hadir karena keliaran dan keterbukaan si seniman untuk menghadirkankan karya di ruang-ruang yang tidak dalam bayangannya.
Semoga bisa berjumpa pada peristiwa-peristiwa yang tidak biasa selanjutnya.
Selamat untuk pelaku seni yang hadir di Pasraman Air: Aji Toya, kalian berhasil menghadirkan bahwasanya seni melampaui ruang, penyelenggara, isu dan nama besar sebuah acara.
Satu sloki sebagai rasa hormat untuk “Solidarity for Nobody”, jaga api seniman muda, ini waktu kalian.
l.taji
7/5/2021