oleh Putu Septa & Sanggar Nata Swara
Penampilan Putu Septa dan Sanggar Nata Swara membawakan komposisi berjutul "Kedok 3" di Wantilan Museum Purbakala "Gedong Arca" BPCB Bali sebagai rangkaian dari Pameran Video Imersif yang berlangsung 29 Nopember s/d 4 Desember 2022 di BPCB Bali.
Visual: Serangga Collective
Organized: RATA (Ruang Asah Tukad Abu)
tukang rekam: Arimbawa @tokek419 //ra
I Ni artchive 2022
#pameranimersif #sanggarnataswara #putusepta #rata #ruangasahtukadabu #iniartchive #iniartchive2022
Sebuah diskusi yang berlangsung setelah acara pemutaran film "Lakardowo Mencari Keadilan", sebuah film dokumenter panjang yang diproduksi oleh Paradoc film dan Ecoton yang membahas bagaimana pencemaran limbah B3 yang terjadi di sebuah Desa Lakardowo, Jawa Timur.
Diskusi dihadiri langsung oleh Mada Ariya (Pembuat film lakar dowo) dengan Penanggap Erick Est (pembuat film) sebagai penanggap.
Acara berlangsung Rabu, 24 April 2019 pada pukul 18.00 wita di Taman Baca Kesiman, Jl. Sedap Malam 234, Denpasar-Bali.
rec: I Ni artchive
Acara berlangsung pada Selasa, 23 April 2019, pukul 18.00 sampai dengan selesai. Bincang sore diselenggarakan di Taman Baca Kesiman, Jl. Sedap Malam 234, Denpasar-Bali.
Dipandu oleh Dwi S. Wibowo sebagai moderator dengan narasumber Seniman Perempuan Arahmaiani.
Bincang sore ketika itu membahas bagaimana proses kekaryaan dari Arahmaiani dan berbagi perspectif dan harapan.
rec: I Ni artchive
//Datanglah padanya dengan kesungguhan hati, akan menjadi kunci Anda mendapatkan sesuatu di sana. Jika pertanyaan Anda tidak berkualitas, atau sekadar bertanya, jangan harap sang wiku mau buka mulut//
Di Penatih, sebuah desa di bilangan Kecamatan Denpasar Timur, orang bisa lewat begitu saja. Tak ada keajaiban di sana, kecuali huma kian menyempit.Tak terdengar lagi lenguh sapi dipecut petani. Orang-orang sibuk untuk diri sendiri. Larut dalam hingar – bingar zaman. Suasana dukuh ibarat pergulatan yang tak pernah usai. Deru kendaraan, gemuruh lalulintas beradu dentingan hening genta. Di pagi buta, suara itu bagai menghadirkan fajar baru, bahwa hidup mesti disegarkan senantiasa.
Tengoklah di pagi lengang , di Geria Pinatih, seorang pendeta tua seperti hendak berlomba dengan waktu. - suntuk memuja surya – sang maha cahaya. Puja dan mantra terdengar sayup. Hidup dirasakan begitu singkat, layaknya kilatan petir. Dan kemudian, doa pun punya arti, sebagai penyangga hidup yang singkat . Ya, dialah sang pendeta tua Rsi Agung Pinatih. Seorang suci yang senantiasa mengaku diri bodoh dan dusun – belog tani ngun-ngun. Namun di balik itu semua , sang Rsi-lah sesungguhnya manusia Bali utuh. Seorang arsitek, pemahat, pencinta sastra, ahli wariga, petani, sekaligus wiku senior yang menjalani hidup dengan amat sederhana.
Sang wredha pandita subrata, pendeta tua yang teguh pada janji diri. Inilah pujian yang paling pantas buatnya. Kini memasuki usia 95 tahun, Rsi Agung masih sanggup melayani umat. Sudah 61 tahun ia meniti jalan sunyi itu , menjadi pelayan, membasuh dahaga umat sampai nun jauh menyusuri pelosok desa-desa sajebag Bali. Kadang menyeberang arungan (laut), menembus kabut pedalaman desa-desa Jawa. Orang tak akan pernah mendegar kata letih dari pendeta tua ini. Sang Rsi memang tidak membiarkan fisiknya lapuk begitu saja. Atau tunduk dimakan sang waktu begitu lalu. Hari-hari bagi sang Rsi adalah memuja dan bekerja. Hanya dengan inilah waktu dapat “ditundukkan”. Hanya dengan melayani hidup ditinggikan. Hanya dengan pengabdi hidup diringankan.
Lahir tahun 1906, dengan nama welaka I Gusti Ngurah. Tak ada keajaiban dan tanda istimewa pada hari lahiranya. Hanya masa sulit yang membelit. Bali tengah ditekuk kolonialisme. Ekspedisi Belanda membuat raja-raja Bali bersungut, tunduk hormat pada Sang Ratu Wilhelmina. Keris kesatria Bali yang elok itu tak berarti apa-apa dihadapan meriam dan intrik kolonial. Demikianlah sebuah zaman melintas, turut membesarkan bayi merah yang akrab dipanggil Ngurah Gde. Tak ia rasakan senyum ibu di pangkuan, dalam dekapan hangat gending-gending rare.
Memasuki usia 8 tahun buat pertama kali Ngurah Gde mengeyam pendidikan formal di sekolah rakyat. Tampaknya tak banyak prestasi pada setiap pelajarannya, Ngurah Gde kecil ternyata lebih memiliki kepekaan intuitif tinimbang rumus-rumus pelik. Selepas sekolah rakyat, Ngurah Gde lebih tergoda tapel barong, memulas, menakik kayu sebagai kegiatan walatanda (ketrampilan tangan). Kegiatan yang ditekuni nyaris sepanjang hidup. Tak ada pilihan kecuali harus dijalani. Bakat telah menuntunnya sedemikian jauh. Karena hidup memang tak hendak untuk dipilih. “Kita mesti menjalani,” tukas Rsi Agung rendah.
Tak pernah terbetik dibenak bahwa kelak ia akan menjadi pendeta. Tak pernah terpikirkan bahwa Siwa Upakarana (alat-alat pemujaan pendeta Siwa) yang tersimpan berabad-abad di mrajan-nya menjadikan arah hidupnya lain – terpanggil menjadi wiku. Konon Siwa upakarana itu warisan leluhurnya dari Jawa. Memang di tanah Jawa, di zaman raja-raja Jawa leluhurnya seorang wiku, Mpu Sedah namanya. Beberapa abad setelah mengungsi ke Bali generasinya tak melanjutkan tugas itu. Inilah alasannya kenapa Gusti Ngurah Gde kelak kembali melanjutkan tradisi leluhurnya, menyambung alir kependetaan yang putus.
“Dini di Penatih panyaman Bapa mula tusing taén buin nyemak sasana kawikon, kesahé rarud uling Jawa metu tan éling malih, ento mawinan keni kareredan. Jani Bapa buin ngingetang, sakasidan malajahang déwek tekén gumi. (Di sini di Penatih, keluarga Bapa memang tidak lagi ingat pada sasana kawikon, sepeninggal dari Jawa tidak sadar lagi, itu sebabnya surut. Kini kembali Bapa ingat, sebisanya membelajarkan diri kepada masyarakat,” papar Sang Wiku pelan.
Di Penatih, di lingkungan keluarga besarnya, Gusti Ngurah Gde tak pelak merupakan generasi pertama yang kembali menjalani hidup sebagai wiku. Justru setelah berabad-abad terputus. “Dini Bapa mula anak tiwas tusing ada apa, panyaman Bapa makejang babotoh, mamiyut. Bapa simalu ané ngarepang nyaluk sasananing kawikon dini, nuur pamargin kawitané nguni (Bapa di sini memang orang miskin, keluarga Bapa semuanya penjudi, tak karuan. Bapa yang pertama menjalankan sasana kawikon, menjadi sulinggih,”) kenang Rsi Agung datar.

Menyadari ini semua, memasuki usia 30 tahun, Gusti Ngurah Gde berketetapan hati menapak jalan sunyi itu. Bersiap-siap menjadi pendeta. Sadar bahwa jalan ini begitu berat, begitu terjal. Ini keputusan begitu berani, memang. Banyak sejawatnya mengurut dada. Orang boleh sangsi dan mencemoh kesanggupan itu. Bayangkan, dalam usia sebelia itu, pilihannya kukuh akan menjalani masa panjang - hidup sebagai seorang wiku. Sebuah pilihan yang tak boleh dianggap main-main. Demikianlah, seorang diri Gusti Ngurah Gde muda menghadap sang calon nabe (guru diksa) Ida Pedanda Gde Rai, di Geria Kutri, Gianyar.
Calon guru nabe, Ida Pedanda Gde Rai tampaknya bersambut. Tapi dengan satu syarat Ngurah Gde mesti digembleng dulu seorang guru waktra (guru pemblajaran). Bila lulus dari gemblengan itu hendaknya ia bisa didiksa menjadi sulinggih. Demikianlah, Ida Pedanda Rai memohon pada Ida Pendanda Made Sidemen, pendeta dan sastrawan besar Bali dari Geria Intaran , Sanur untuk mengajar calon sulinggih Gusti Ngurah Gde. Jalan lempang telah membentang di hadapannya. Masih terbayang jelas kejadian itu, di pagi-pagi buta, dari Penatih yang masih subur sawah hijau, Ngurah Gde berjalan dengan kaki telanjang menuju desa Sanur, anyuun pada, mengahadap guru waktra, Ida Pedanda Made Sidemen.
Demikianlah proses aguron-guron terjadi antara I Gusti Ngurah Gde dengan guru waktra, Ida Pedanda Made Sidemen. Ngurah Gde tak hanya memperoleh ilmu tentang kependetaan, tapi juga prihal guna dusun, yakni memperdalam asta kosala-kosali, membuat sukat, menakik tapel, pratima, dan sebagainya. Ida Pedanda Sidemen telah menjadikan Ngurah Gde seorang anak manusia yang mandiri merdeka, bahwa badan inilah sesungguh sawah. Ketergantungan pada yang lain akan membuat bandan ini kerontang, tandus. Tak mungkin bisa melahirkan kreatifitas. Apa lagi keunggulan batiniah. “Yaning mungguing guna gina wantah mula tumbuh saking dewek,” ingat Rsi Agung sembari terpejam.
“ Patitise masih apang melah, anut teken kadarman, eda pamerih, pastika nemuang rahayu”, imbuh Rsi Agung yakin. Memang tujuan itulah harus jelas, tanpa pamerih, dengan begitu kerahayuan ditemukan. Dengan keyakinan inilah di tahun 1940, Ngurah Gde kembali menghadap guru nabe Ida Pedanda Gede Rai di Geria Kutri. Menyatakan kesiapannya untuk hidup “bersunyi diri, menjadi sulinggih menjalankan amanat Rsi Sasana. Dan pada tahun yang sama Ngurah Gde resmi menjadi sulinggih dengan amari aran (berganti nama) Ida Rsi Agung Pinatih. Air mata menitik ketika Rsi Agung meninggalkan Geria Kutri. Inilah awal sang Rsi mengalami kehidupan baru. Kendati umurnya baru 34 tahun, sang Rsi telah melempangkan harapan-harapan baru bagi generasi mendatang. Rsi Agung kini tak lagi milik keluarga besar Pinatih, namun telah menjadi milik semua orang.
Enam puluh satu tahun jalan sunyi itu telah bersamanya. Jarak yang cukup panjang, memang. Banyak ketegangan dan onak dirasa. “Yaning pajalane ke suwung anak mula srebi, tuah galange padidi patut anggon suluh (Jalan menuju sepi memang lengang menakutkan, sinar diri itulah sepatutnya dipakai penerang),” papar sang Rsi sembari terpejam. Memang sebagaimana anggapan Rsi Agung bahwa yang paling sulit dilakukan adalah belajar menjadi bodoh. “Sengka malajahin belog ”. Karena kini amat banyak orang yang pura-pura pintar, atau ada juga pintar tapi jahat (pradnyan jahat). Bagi Rsi Agung, dua watak orang ini sama bahayanya. Dua-duanya memendam bisa dikepala. Benar memang, seekor ular cuma memendam racun di kepala. Tapi racun manusia jahat, menggenangi seluruh tubuhnya.
Kendati tokoh lingsir ini terdengar sayup, jarang dirujuk orang, namanya tak bisa dilepaskan dari pergerakan umat sejak awal. Pada tahun 23 – 11 – 1959, ia didudukan dalam keanggotaan Paruman Sulinggih Parisada Hindu Bali (nantinya menjadi Parisada Hindu Indonesia) yang beranggotakan 11 orang sulinggih. Memang begitu populis keanggotaan itu, tak hanya melibatkan para Pedanda, tapi juga para Mpu, Rsi, Dukuh, dan Bhagawan. Tugas para sulinggih ini adalah menyusun tafsir, menata kehidupan agama dan mengeluarkan bhisama bila mana perlu. Tercatat sampai tahun 1980-an Rsi Agung masih aktif di Paruman Sulinggih itu.
Barangkali tak banyak dicatat, dibidang penataan agama, Rsi Agung sejak awal telah melakukan perubahan secara nyata, yakni menyakut esensialisi yadnya. Misalnya, sejak tahun 1950-an, Rsi Agung sudah mendatangi 95 setra di seluruh Bali guna memimpin upacara “ngaben panerus”. Ngaben jenis ini tak perlu ada upacara di rumah. Semua cukup dan selesai dilakukan di setra. Tanpa upacara besar, tanpa usungan wadah megah, irit beaya dan waktu.
Menurut Rsi Agung, ngaben ini memang berbeda dengan Ngaben Tumandang Mantri atau Ngaben Nglanus, misalnya. Perombakan ini awalnya banyak dikritik orang. Tapi orang jadi mafum, bahwa dosa dan kesalahan tak bisa ditebus dengan ngaben gede, dengan bertruk-truk babanten. Semua berpulang ke esensi dan karma masing-masing. Inilah jasa besar Rsi Agung yang perlu diteruskan.
Rsi Agung Pinatih, boleh jadi sulinggih paling tua kini di Bali dan sangat dekat dengan kesederhanaan. Sungguh betapa sering sang rsi mewanti-wanti: “Eda nganistaang paican Widhi”. Jangan remehkan yang kecil dan hina dina, menilai sesuatu dari penampakan fisik semata. Inilah pesannya pada semua warga, pada kecenderungan yang berlaku kini, karena orang sering terpukau pada yang glamor dan megah. Pesan ini terdengar latah memang. Tapi, sepanjang hayat benar adanya. Landasan inilah yang kini pupus di benak orang. Menganggap hal kecil dan sederhana itu tanpa makna. Pada hal itulah sesungguhnya kemurnian.
Sejujurnya, menurut Rsi Agung tak pernah menyuruh orang berupacara sebagai satu-satunya solusi hidup. “Bapa tusing taén ngongkon anak maupacara, macaru apa luiré. Anak tusing kena baan, nyak nyen slamet anaké ané tundén, dilepete Bapa ngelah alané. Nah sajabaning nyén ia matakon indik upakara mai, ditu Bapa mapeseken (Bapa tak pernah menyuruh orang berupacara, macaru apa lagi. Karena tak bisa terkirakan, apakah bisa rahayu orang yang disuruh, bila katiben musibah, Bapa yang salah. Nah, terkecuali ia datang bertanya ke sini, saat itu Bapa mengingatkan),”
Dalam masa hidup yang panjang, 95 tahun, sosok Rsi Agung memang lebih dekat dengan kedalaman dan kebeningan Ibarat sumur berair jernih. Teks yang tak mudah kita jamah karena keluasan dan kedalamannya. Sang rsi tak akan menjawab bila tak ditanya. Dengan begitu ia jauh dari kesan menggurui, walau sesungguhnya dia-lah sang guru sejati.

“Tuah Abot Ngaba Bisa”
Banyak yang dapat diteladani dari pribadinya. Terutama kesederhanaanya. Secara fisik sulinggih yang satu ini tampak renta, memang. Tetapi ia masih kuat melakukan perjalanan jauh. Dari pagi hingga malam masih gesit melayani umat. Anehnya, Rsi Agung tetap dalam keadaan segar, tak sekali pun merasa letih. Sesekali ia masih suka menabuh gender, sembari menyanyikan bait-baik karya sastra.
Bila Anda kebetulan tangkil di geria-nya yang luas di Penatih, Anda pasti terkesima dengan ketenangannya. Tatapannya begitu teduh, lalu menyapa hangat. Bicara pelan, seperlunya, lalu diam. Orang kebanyakan pasti mengira pendeta ini tuli. Tapi tidak begitu nyatanya. Jika ingin menanyakan sesuatu Anda mesti pandai-pandai mebahasakannya. Datanglah padanya dengan kesungguhan hati, akan menjadi kunci Anda mendapatkan sesuatu di sana. Jika pertanyaan Anda tidak berkualitas, atau sekadar bertanya, jangan harap sang wiku mau buka mulut.
Orang mungkin tak bisa diteladani begitu saja dari kata-katanya. Mereka mesti dipahami dari apa yang mereka lalukan. Inilah sebentuk pertanggunjawaban pribadi Rsi Agung Pinatih. “Bapa mula tusing pati bisa ngraos, ulian jejeh kasengguh bisa. Anak tuah abot ngaba bisa (Bapa memang tidak bisa bicara, karena takut disebut pintar. Karena betapa berat membawa kepintaran,” papar Rsi Agung lemah.
Mungkin rasa rendah hati inilah kini hilang di benak banyak orang. Perang kepintaran sungguh jelas dipertontonkan. “Jadmane jadi demen macokrah, saling sikut tan gigisan, mrebutin raos puyung, saling paduegin (Orang kini senang bertengkar, saling cerca kelewat batas, berebut kata-kata kosong, saling minteri),”. Dan Rsi Agung juga berpesan: jangan habiskan usia untuk hal yang sia-sia.
Waktu akan mengalir terus, lima tahun lagi usia Rsi Agung akan genap satu abad, usia yang tidak semua orang dapat meraihnya. Semoga pengabdiannya menjadi doa bagi kita bersama. ***
Catatan:
Ida Rsi meninggal 23 Nomper 2003, dalam usia 97 tahun
I Wayan Westa
Penulis/Pekerja Kebudayaan
MUSIK13 merupakan acara musik berkala yang diselenggarakan oleh Ruang Asah Tukad Abu (RATA).
MUSIK13 diselenggarakan secara berkala setiap tanggal 13.
Pada MUSIK13 edisi Desember 2018 menampilkan:
1. Joseph Lamont
2.Wayang Sukuraga ft Matrix Collapse
3. Kelompok Burung Hitam
4. Kuncup Mekar
5. Rollfast Visual mapping oleh Ape Motion
Sound oleh Rockness Musik
Lokasi acara: Rumah Asah Tukad Abu Jl. Cekomaria, Denpasar-Bali
video: //ra
Leviathan Lamalera adalah pertunjukan teater multimedia baru (teks, gambar, animasi, video interaktif, skenografi) yang melibatkan pelaku dari berbagai disiplin ilmu berbeda.
Laviathan Lamalera merupakan salah satu bagian dari rangkaian Prehistoric Soul.
Prehistoric Soul yang dihadirkan oleh Jonas Sestrakresna adalah sebuah konsep pertunjukan seni yang merekonstruksi kehidupan prasejarah melalui multimedia dan berbagai disiplin ilmu, untuk mengingatkan masyarakat akan kebutuhan dasar untuk tidak mengeksploitasi alam.
Info Laviathan Lamalera: http://www.prehistoricsoul.net/category/leviathan-lamalera/
Video berikut merupakan pementasan Laviathan Lamalera pada acara TEDx Ubud di tahun 2018
Sebuah kolaborasi mural antara Animal Friends Jogja dengan Peanut Dog yang dilaksanakan pada 25-26 Januari 2022. Mural berlokasi di area Banjar Tegeh Sari, Denpasar, Bali.
Mural mengambil tema Kandang Batrai Kejam, sebagai sebuah sikap maraknya penggunaan kandang batrai untuk memproduksi kebutuhan protein ayam.
video:
Design Mural: Animal Friends Jogja
Mural: Peanut Dog
Musik Video: SATURN
Kamera: Tokek419 & //ra
Video Editing: //ra
PM Toh merupakan epitel panggung dari Agus Nur Amal, seorang penutur hikayat (pendongeng) tradisional aceh.
Hari itu PM Toh tampil menceritakan sebuah hikayat tentang tubuh. penampilan beliau merupakan rangkaian dari pameran photograpy Denny Arivin AL bertajuk “These Are The Archives of Life”.
Pertunjukan berlangsung pada
Senin, 12 November 2018
Maha Art Gallery
Jl. Merdeka, Denpasar-Bali.
Hidup adalah restoran yang sangat besar dengan sajian banyak menu. Ada yang bisa memilih menu yang diinginkan. Ada yang memang dipilihkan. Namun ada juga yang tidk punya pilihan.
Maka mari datang. Merasakan tiga menu masa depan yang disajikan oleh tiga perempuan. Sambil menerka-nerka dalam hati, “menu apa yang tersaji untuk saya?”
Pementasan Monolog “Menu Masa Depan”
oleh Komunitas Mahima X Guntur Corner
Jumat, 29 Juni 2018
Jl. Buluh Indah, Denpasar-Bali
Team Produksi:
Pimpro: Desi Nurani
Sutradara: Wulan Saraswati
Naskah: Putri Adityarini & Mirah Aryani
Pemain: Devy Gita, Ernawati & Putri Puspita
Artistik/poster: Virginia H.
Ilustrasi Musik: Akar Narwastu & Candra Puspita
Video Ilustrasi: Dea Chessa & Rina Wijayanti
Publikasi: Candra Puspita & Devy Gita
Logistik: Ernawati & Putri Puspita
Video: //ra
I Ni Ar(t)chive 2021
Tulisan pengantar diambil dari unggahan poster di akun Instagram @komunitasmahima
#dance #video #karangasem
Sebuah peristiwa di Daerah Seraya, Karangasem - Bali.
Berlangsung pada tanggal 10 Juli 2016
direkam: //ra
I Ni ar(t)chive 2021