hello world!
Juni 11, 2021

PLTU dan Rantai Penghidupan

(sebuah catatan perjalanan)

 “ini hanya di pinggir saja, nyari awan” kata seorang nelayan yang baru berhasil menambatkan perahunya di pantai, dibantu sepupunya yang kebetulan diajak ikut melaut dan anaknya yang menunggunya di pantai.

Satu kotak stereoform penuh berisi ikan tongkol (yang dalam bahasa local disebut awan). Beberapa ekor dimasukka kedalam plastic yang dibawa sang anak.

“mau ikan mas” nelayan itu menawarkan.

Sikap ramah yang tidak hilang meskipun ikan yang berhasil ditangkap tidak seberapa.

“ini paling sekitar 20 kilo” katanya menjelaskan tangkapan yang berhasil dibawa pulang “soalya hanya berani sampai dipinggir sini saja, dan ndak banyak yang mau narik” menjelaskan kenapa tangkapannya sedikit sambil mengangkat kotak stereoform dan menyerahkan pada sepupunya untuk dibawa ke pengepul, yang akan merubah tongkol itu jadi rupiah.

Bagi kebutuhan lauk, 20 kilo tongkol bisa berarti banyak, sayangnya 20 Kg tongkol bisa berubah menjadi sedikit setelah di uangkan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“sampan saya kecil, hanya satu mesin, tidak berani membawa jauh kedalam” kata nelayan sambil mengangkat merapikan pancing yang telah berhasil mengumpulkan tongkol sepanjang pagi.

Ukuran sampan dan kekuatan mesin menjadi syarat kelayakan sebuah sampan berani dikemudikan untuk memecah gelombang ketika harus melaut lebih ke tengah demi bisa mendapatkan tangkapan yang lebih banyak.

Memancing tongkol atau ikan marlin selain ngoncor akan dilakukan olah nelayan yang tidak mampu melaut jauh kedalam untuk mencari tuna. Namun sayangnya kini jumlah ikan-ikan tersebut menurun drastis, satu faktor yang ditengarai tentu saja keberadaan PLTU Celukan Bawang.

“Abdun,dipanggil-panggil Adun saya” kata nelayan yang masih menunggu sepupunya tiba dari menjual ikan tangkapannya.

“kalau ikan sih ada, hanya saja sedikit dan ndak mau narik” katanya melanjutkan.

Ikan yang sedikit itu pula yang harus diperebutkan oleh seluruuh nelayan yang tidak bisa melaut ketengah, entah oleh sarana dan prasarana yang mereka miliki atau oleh cuaca yang buruk.

Siapa yang beruntung, maka dia yang mendapat ikan, hal yang berbeda dengan sebelumnya ketika ikan begitu banyak di pinggir pantai hingga nelayan tidak perlu takut tidak akan kebagian ikan. Dan ketika jumlah nelayan yang melaut dan mencari satu jenis ikan yang sama makin banyak, berarti jumlah tangapan akan semakin sedikit.

Ketika jumlah tangkapan semakin sedikit dan tidak mencukupi kebutuhan kehidupan yang semakin bayak, maka melaut ke tengah dipilih untuk meningkatkan hasil tangkapan.

“kalau awan kan ikan diatas, masih ada yang mau narik, yang paling kentara hilangnya ikan dasar, sekarang sama sekali tidak ada” Abdun melanjutkan ceritanya sambil tangannya tidak berhenti mengelap bagian mesinnya, merawat mesin yang digunakannnya untuk menafkahi keluarganya.

Menurut Abdun, dahulu di pesisir Celukan Bawang ikan dasar jenis kerapu dan kakap masih bisa dengan mudah ditemukan dan ditangkap, ikan yang satu kilo bisa dijual dengan harga Rp. 30.000 ini dahulu menjadi sasarannya.  Ikan dasar ini dulu hidup pada karang-karang sepanjang pantai Celukan Bawang, kini ketika karang-karang tersebut rusak pasca keberadaan PLTU Celukan Bawang, tentu saja ikan-ikan dasar tidak lagi mau hidup disana.

Ketika ikan-ikan dasar seperti kerapu tidak lagi hidup disana maka Abdun harus mencari ikan lain untuk tetap bisa menafkahi keluarganya.

Sepupunya datang dengan kotak stereoform yang tadi dibawanya, menyerahkannya pada Abdun. Beberapa ikan tongkol kecil tidak mau diambil oleh pengepul, artinya menjadi jatah keluarganya di rumah.

“ternyata 27Kg, dapat jualan 420” kata Hassan sambil menghitung pendapatnya melaut dari jam 6 pagi hingga sekitar 11 siang. Pendapatan yang harus dipotong bensin dan dibagi dengan sepupunya, walau kata Abdun sepupunya tidak menuntut banyak dan mau menerima berapa saja yang diberikannya.

“ini mas ikan, untuk di bakar” kembali Abdun menawarkan. Nada dan senyum ramah sambil menyodorkan beberapa ekor ikan. Kesederhanaan nelayan yang tetap ingin berbagi meskipun hasil tangkapan tidak seberapa dan besok belum tentu ada ikan yang akan menarik umpannya.

Setelah kembali mendapat penolakan, Abdun memasukkan ikan tongkol yang ditolak pengepul kedalam satu kantong plastic, kemudian kembali memeriksa sampannya, memastikan tidak ada yang tertinggal, memastikan mesinnya telah dibungkus dengan kain dan plastic untuk melindungi dari paparan matahari yang terik. Lalu melangkah menuju anaknya yang sedari tadi menunggunya di atas sepeda motor.

“mari mas, nanti sore lagi mumpung ikannya mau narik” Abdun berpamitan, sebelum naik keatas motor dan meninggalkan pantai. Menutup pertemuan di hari menjelang siang dengan sebuah harapan yang  tetap dijaga dibalik rencanannya untuk kembali melaut sore nanti, kembali mencoba peruntungannya, memburu tongkol yang sedang muncul di perairan Celukan Bawang.

Abdun pergi meniggalkan pantai, dengan Rp.400.000 dan beberapa ekor ikan untuk lauk keluarganya. Ikan dan uang untuk mengepulkan asap dapur dan menggerakakn gerbong rumah tangganya.

Asap dan ikan yang menjauh

Tidak ada lagit biru yang kemudian dipantulkan air laut, yang ada hanya abu-abu, matahari terik, gerah tanpa pertanda akan turun hujan.  Perahu-perahu yang sedang berjemur di bawah langit muram, dan bocah-bocah yang tidak mau tunduk pada penjinakan tidur siang memilih membuat kail sederhana dan memancing ikan di air tawar yang terperangkap ketika sungai tak bisa bermuara ke lautan.

Sekitar 400 meter di arah barat, sebuah cerobong dengan strip merah-putih berdiri di samping kubah besar berwarna biru, begitu nasionalis dengan warna sacral NKRI (walau cerobong itu milik perusahaan China). Berbeda degan dapur Abdun yang menunggu hasil tangkapan untuk bisa mengepulkan asap, cerobong merah-putih tersebut tidak pernah berhenti berasap,  antraian kapal tongkang memuat batu bara telah siap untuk memastikan cerobong terus berasap setiap detik selama 24 jam sepanjang tahun. Hembusan asap yang diguakan untuk menjamin nyala lampu dari hotel berbintang lima sampai gubuk reot di setiap sudut pulau ini.

Seorang lelaki tua tampak mengutak-atik sebuah mesin berkarat yang tidak kalah tua. Sakban, demikian dia mengenalkan namanya. Bertelanjang dada, paparan sinar matahari bertahun-tahun tampak jelas terlihat dari warna kulitnya, sebuah kain merah mengikat celana traning berwarna biru gelap, memastika celana tetap berada diatas pinggulnya.

“sudah bisa menghasilkan mesin baru” Sakban menceritakan riwarat mesin berkarat yang sedang diotak-atiknya, kalimat yang mengawali perbincangan tengah hari.

Memulai hari jam 03.00 dan kembali sekitar 18.00, Sakban menghabiskan harinya di tengah lautan. Baginya tempat kerjanya adalah lautan, dia menempuh 5 jam perjalanan untuk sampai ke tempat kerjanya, lokasi dimana sekiranya tuna-tuna yang ingin ditangkapnya berada. 5 jam perjalanan tentu lebih dari waktu yang dibutuhkan untuk menempuh rute denpasar-pelabuhan gilimanuk, dan sejauh itu pula rute yang harus ditempuh oleh Sakban dan rekan-rekan nelayan lain untuk bisa menemukan lokasi tangkapan dan memulai pekerjaan mereka.

“Dari jam 3, 4,5 jam 8,kadang-kadang jam 9 baru sampai di lokasi mancing, kalau jam 8 itu sudah ngegas sekali mesinnya. Jadi ngatur waktu untuk menghemat bensin, jalan lebih malam, berangkat bisa pelan-pelan jalannya jadi bensin yang dihabiskan tidak teralu banyak. Jika berangkat siang, sampai ngabisin gas jadi boros bensinnya,” Sakban menceritakan bagaimana mensiasati bahan bakar agar tetap hemat.

Mensiasati bahan bakar menjadi hal penting,mengingat ikan tidak selalu akan memakan kumpan yang mereka lempar jadi mengurangi modal dibutuhkan sehingga lebih banyak keuntungan yang bisa mereka dapatkan.

Sakban menceritakan untuk sekali melaut mereka paling tidak harus menyediakan 250,000 untuk bahan bakar saja, sementara jika ditotal dengan kebutuhan pancing dan makan bisa melebihi angka 300.0000. jumlah yang tidak sedikit yang harus disiapkan setiap hari untuk bisa pergi melaut.

“kadang-kadang hanya cukup untuk beli bensin saja,kadang-kadang kurang lagi, memang seperti itu adanya, jika cuaca bagus,arus bagus dan ikan ada baru dapatnya lumayan” kata Sakban.

Menurut Sakban keberadaan rumpon ditengah yang mencapai ratusan membuat ikan-ikan tidak mau bergerak ke pinggir, padahal dahulunya Celukan Bawang merupakan daerah top bagi nelayan.

Ketika disinggung perihal keberadaan PLTU yang berada disebelahnya, Sakban yang merupakan warga Rt.8 Banjar Brombong Desa Celukan Bawang menceritakan pengalamannnya beberapa hari lalu. Asap  batu bara yang terbakar di kapal tongkang masuk ke pemukiman warga, aroma yang menusuk mengganggu pernafasannya sampai membuatnya mual.

Keberadaan asap tersebut membuat dia mengumpulkan warga dan langsung mendatangi PLTU dari pintu belakang untuk menyampaikan komplain, dan meminta agar kebarakan tersebut segera dipadamkan atau kapal tongkangnya segera dipindahkan. Sakban mengajak rekan-rekannya masuk ke PLTU lewat belakang karena menurutnya jika lewat pintu depan mereka harus menemui security dan melewati serangkaian prosedur.  .

“Jika lewat depan lambat soalnya security banyak, masih lapor sana lapor sini, keburu mati masyarakat jika mengikut itu’” kata Sakban.

Ini adalah kali pertama dia sebagai warga yang bertetangga dengan PLTU meakukan komplain, dan ini dipicu oleh asap akibat kebakaran batu bara yang masuk ke pemukiman, bahkan aroma terbakar sudah tercium dari tengah laut ketika dia dalam perjalanan pulang dari melaut. Aroma yang begitu menyengat yang ternyata sudah terjadi dari sejak pagi hari.

“Selama ini tidak pernah komplain, kalau asap-asap sedikit kan tidak sampai kesini. Kemarin karena sudah sampai nyebar kesini dari pagi katanya, untungnya cepat jika tidak begitu bisa sampai sakit. Saya sendiri sampai muntah-muntah, mual ini. ndak kuat menciumnya, bikin mual ingin muntah,” Sakban melanjutkan.

Sejak tahun 2015 PLTU Celukan Bawang telah menjadi tetangga, masyarakat hidup di bawah cerobong yang terus mengepul, diantara kapal tongkang yang hilir mudik mengangkut suplai batubara. Merasakan bagaimana ikan-ikan berkurang, jarak yang harus ditempuh untuk mendapatkan ikan bertambah, uang yang harus dikeluarkan untuk melaut semakin tinggi dan tentu saja tidak setiap hari mereka bisa membawa banyak ikan untuk bisa diuangkan dan mengepulkan asap dapur. Tidak seperti PLTU yang terus-menerus mendapat suplai bahan bakar dari batubara, dapur para nelayan tidak selalu mendapatkan ikan untuk mengepulkan asap dapur mereka.

“tadi pagi hanya dapat tongkol 20Kg, diambil 15.000 per kilo” kata Sakban menutup obrolan siang itu.

****

Rantai Penghidupan yang Rusak

“banyakan tadi tagi 27 Kg, sekarang paling sekitar 8 atau 9 kilo” Abdun mengomentari hasil tangkapan hore harinya.

Pantai celukan bawan telah gelap, Abdun baru kembali dari melaut, dia berangkat sekitar pukul 16.00 dan baru kembali sekitar 19.00 dengan perkiraan tangkapan 8 sampai 9 kilo ikan tongkol, jumlah tangkapan yang jauh lebih sedikit dari pada yang berhasil dia dapatkan pagi tadi, hasil tangkapan yang hanya cukup untuk membeli minyak supaya besok bisa kembali melaut.

Ikan yang kemudian langsung dibawa ke pengepul oleh sepupunya yang menemaninya melaut.

Beberapa perahu tampak dilaut, mencari-cari ikan yang lewat.

Sebuah warung menawarkan cahaya dan kehangatan segelas kopi bagi nelayan yang masih ada dipantai dan menunggu segala kemungkinan ikan yang bisa mereka temukan.

“sempat turun nyari awan (tongkol), dapat 3 kilo ekor dari tadi sore jam 4” kata Baidi yang datang menyusul dan duduk di sebuah dipan yang letakkan di depan warung.

Baidi memutuskan untuk melaut, ikut mencoba peruntungan mencari tongkol yang kebetulan hadir di pinggir Celukan Bawang. Sayang ia hanya bisa membawa pulang 3 Kg dan hanya dihargai Rp.35.000, jumlah yang lebih kecil dari modal bahan bakar yang harus dikeloarkan oleh Baidi untuk melaut yaitu sebesar Rp.40.000.

“paling tidak ada modal untuk beli bensin besok” kata Baidi menerima kenyataan seberapa hasil tangkapan hari ini.

Setelah hasil melaut sore tak cukup banyak berhasil menangkap ikan nelayan kembali ke pantai, berharap malam ini akan ada ikan-ikan kecil yang bisa mereka tangkap (dengan ngoncor).

Namun sayang, malam semakin larut, jala tak kunjung dilempar hingga akhirnya satu persatu perahu dengan lampu perangan menepi dan kemudian di dorong ke pasir. Tidak ada ikan kecil yang muncul, tertarik pada lampu, pada penerangan yang bergoyang-goyang diatas sampan, di atas permukaan air. Ngoncor tak berlangsung, nelayan satu persatu meninggalkan pantai.

Bagi para nelayan Celukan Bawang, perairan mereka sudah tidak lagi sama seperti dahulu, ikan tak lagi seakrab dahulu, laut tak lagi sepemurah dahulu, udara tak lagi sesegar dahulu, rejeki tidak lagi sebanyak dahulu, jarak kerja tak lagi sedekat dahulu, langit tak lagi sebiru dahulu bahkan laut, laut yang begitu dekat dengan mereka mungkin sudah tak sebiru dahulu.

Pantai telah gelap, demikian juga lautan, para pengoncor telah meninggalkan pantai dengan tangan hampa. Sementara di sisi sebelah barat, gemerlap PLTU begitu kentara dan mendominasi.

Lelaki dengan tubuh gempal yang masih duduk di amben warung, sudut pantai yang masih terang dan hidup malam itu. Akhmed yang kini telah berusia 46 tahun menceritakan kenangan masa kecilnya, masa kecil yang dia habiskan di pantai Celukan Bawang. Masa kecil ketika mamalia besar seperti paus dan lumba-lumba begitu sering datang dan mudah dilihat dari pantai Celukan Bawang.

Lumba-lumba bagi Akhmed akan membawa ikan-ikan lain, hal itu yan membuat dahulu ketika lumba-lumba datang ke Celukan Bawang, nelayan akan mengejar,mengikuti untuk bisa menemukan lokasi ikan untuk di tangkap.

“dahulu hanya bermodalkan cumi saja untuk umpan, ndak usah dapat banyak dapat 7 ekor saja sampan sudah penuh” Akhmad menceritakan pengalamannya berburu ikan tuna.

Dengan bermodalkan umpan cumi itulah Akhmed mengikuti lumba-lumba, karena menurutnya lumba-lumba akan menunjukkan dimana ikan tuna berada. Menurutnya kebanyakan lumba-lumba akan bergerak ke arah barat, sampai di di selatan Pulaki akan berhenti sejenak, kemudian kembali ke wilayah Celukan Bawang sebelum akhirnya berenang jauh ke arah barat daya.

“mengejarnya sampai ke barat, sampai ke gunung aling, dapat 7 ekor saja sudah banyak” Akhmed meneruskan ceritanya.

Menjelang ombak ke ulu, (purnama ke-8) lumba-lumba akan terlihat, namun sayang belakangan lumba-lumba mulai jarang kelihatan, ikan pembawa tanda keberadaan ikan seolah enggan mampir untuk memberi arah bagi nelayan Celukan Bawang dimana ikan-ikan tuna berada.

Tidak hanya lumba-lumba, mamalia besar seperti paus juga tidak pernah lagi menyambangi nelayan Celukan Bawang. Mamalia yang biasanya rajin mondar-mandir di pesisir Celukan Bawang dan menjadi pemandangan biasa bagi nelayan sekitar kini menjadi moment langka.

“dahulu seperti bom muncratan airnya” Akhmed menggambarkan ingatannya akan paus yang biasa dia lihat.

“besar-besar, ada seukuran rumah ini, lebih besar bahkan” rekan Akhmed menimpali.

Mamalia sebesar rumah ini dianggap pembawa kabar baik bagi para nelayan. Setelah kehadiran paus maka ikan-ikan akan menyusul, ikan-ikan yang nantinya bisa menjadi rejeki bagi para nelayan.

Secara sederhana, kehadirian paus yang tidak hanya sekedar lewat tetapi bisa berputar-putar sepanjang hari di sekitar Celukan Bawang bisa menunjukkan bagaimana keberadaan plankton di area itu. Keberadaan plankton yang merupakan makanan paus, tentu juga memancing ikan-ikan kecil pemakan lankton untuk mendekat mencari sumber makanan. Ikan-ikan kecil pemakan plangton akan memancing ikan pemangsa yang lebih besar untuk mendekati sumber makanannya (Ikan-ikan kecil). Demikian seterusnya, ikan pemangsa yang lebih besar akan terus berdatangan, ikan yang lebih besar yang kemudian menjadi buruan para nelayan.

Tanpa disadari sebuah rantai makanan terjalin di pantai Celukan Bawang, rantai makanan yang menarik nelayan masuk kedalamnnya, merubah rantai makanan saling mangsa menjadi ranti penghidupan yang saling menghidupi. Kondisi lingkungan Celukan Bawang (dahulu) memungkinkan plangton berkembang hingga memancing kehadiran mamalia paus untuk hadir dan menyambangi wilayah para nelayan. Kehadiran paus yang kemudian juga diikuti ikan kecil pemakan plankton lainnya, dan diikuti ikan pemangsa yang ukurannya lebih besar. Kehadirian rantai makanan yang kemudian membuat nelayan bisa lebih mudah untuk mencari penghidupan dan menghidupi keluarga mereka.

“Tidak tanggung-tanggung dapat ikan, 2 truck,3 truck, truck clod disel, musing kucing, musim awan (tongkol),” rekan Akhmed membagi kenangannya.

Jumlah tangkapan yang melimpah juga membuat nelayan sekitar sampai mengubur hasil tangkapan. Ikan-ikan sudah tidak lagi muat ditampung di ember-ember sehingga kemudian nelayan berinisiatif membuat lubang di pasir kemudian mengalasi pasir dengan terpal sebelum menuang ikan ke dalamnya.

“sampai capek ngurusin ikan dari jam 9 malam sampai jam 9 pagi” kata Akhmed.

Ikan-ikan yang tidak mungkin diberikan es atau garam karena membutuhkan modal yang tidak sedikit, sementara jika dijual bahkan dengan harga yang sangat murah (20Kg seharga 10.000), ikan-ikan tersebut tidak laku karena sudah terlalu banyak. Sebuah gambaran bagaimana hasil laut Celukan Bawang sebelum kehadirian PLTU.

Sayangnya kehadirian PLTU berbahan bakar batu bara merubah kondisi lingkungan Celukan Bawang, debu batu bara yang masuk ke perairan ketika ditiup angin, asap dari batu bara yang terbakar di tongkang atau dari pembakaran dalam PLTU yang dikeluarkan melalui cerobong tentu juga mempengaruhi intensitas matahari yang masuk ke area perairan Celukan Bawang.

Rantai makanan yang selama ini menjadi rantai penghidupan mereka telah rusak, seperti halnya karang-karang dan ekosistem yang ada diperairan wilayah tangkap mereka.

***

Malam lewat bersama kekecewaan,doa dan mimpi, pagi tiba membawa harapan merambat menuju siang membonceng kenyataan. Hari berganti, cuaca belum berbaik hati, laut masih belum bermurah hati, ikan tidak kunjung mendekati.

Baidi berusaha mengejar harapan pagi namun sayangnya keberuntungan belum berpihak padanya, dia hanya berhasil membawa beberapa ekor tongkol untuk kebutuhan lauk keluarganya.

Di beranda rumahnya Baidi duduk, menunggu sore untuk kembali mengadu keberuntungannya, menangkap tongkol diradius yang sekiranya aman untukknya melaut.

“karena ikan tidak lagi ke pinggir, maka mereka membuat rumpun di tengah” ujarnya ketika ditanyakan perkara pengaruh rumpon dan ikan yang tak lagi ke pinggir.

Sebagai ketua kelompok nelayan yang lahir dan tumbuh di Celukan Bawang, dia tentu tahu betul seperti apa perairan di wilayahnya memberikan kemakmuran bari warga. merasakan setiap perubahan dan perkembangan di wilyahnya membengaruhi hasil tangkapan kelompoknya.

“Dari dulu sebelum PLTU sudah ada rumpon, tetapi ikan tetap mau ke pinggir” kata Baidi melanjutkan.

Rumpon dibuat untuk memancing ikan mengerumuninya sehingga mudah untuk ditangkap, namun rumpon bukan sesuatu yang murah.  Pembuatan sebuah rumpon bisa menghabiskan 11-12 juta rupiah,  dan itu pun rumpon tidak akan secara otomatis dikerumuni ikan.

“nunggu dulu,sekitar satu bulan setelah tali ditumbuhi ridip yang putih-putih itu, ridip itu nantinya memancing ikan. Jika baru tidak mau,” Baidi menceritakan.

Biaya pembuatan yang tinggi membuat rumpon hanya bisa dimiliki oleh orang yang memiliki banyak uang untuk membuatnya dan tidak terjangkau bagi nelayan tradisional seperti Baidi dan kawan-kawan satu kelompoknya.

Memasang rumpon ditengah lautan bukan tanpa resiko, tidak jarang rumpon-rumpon yang dipasang kemudian hilang. Padatnya laju keluar masuk kapal tongkang tidak jarang juga menyeret rumpon bersamanya. Hal tersebut tentu merugikan pemilik rumpon.

“awalnya masyarakat disini tidak ada pimikiran akan memasang rumpon, tetapi melihat bagaimana rumpon yang dipasang di tengah bisa membawa tangkapan yang lebih banyak akhirnya masyrakat sini ikut,” Baidi menerangkan.

Lebih lanjut dia menyempaikan karena begitu banyak ikan yang datang ke pinggir hingga nelayan-nelayan tidak pernah merasa akan kekurangan ikan. Baru kemudian semenjak PLTU beroperasi, ikan-ikan tidak mau menepi. Setelah memperhatikan bagaimana tangkapan disekitar rumpon yang dipasang di tegah kemudian menyimpulkan bahwa ikan-ikan kini lebih banyak berada di tengah. Hal itu pula yang kemudian memicu kelompok nelayan yang dipinpinnya memutuskan membuat sebuah rumpon untuk diletakkan ditengah.

“jadi anggota kelompok juga ada empat untuk bekerja, mancing” menyampaikan alasan kenapa kemudian kelompok nelayannnya ikut memasang rumpon.

Meskipun keberadaan rumpon bisa memancing ikan berkerumun sehingga memperbesar peluang nelayan bisa menanngkapnya namun letak rumpon yang jauh ditengah tentu tetap menjadi kendala. Selain menyebabkan biaya bahan bakar yang dikeluarkan menjadi semakin besar, waktu yang dikeluarkan menuju rumpon juga menjadi semakin lama.

“bukannya tidak ada ikan, ada ikan tetapi sekarang menjauh, lain posisinya jika dibandingkan dulu” Baidi menjelaskan tanpa bermaksud menyalahkan keadaan.

Letaknya yang jauh membuat rumpon  tetap saja terlalu berisiko untuk diakses ketika cuaca buruk seperti sekarang ini, sehingga nelayan tidak memiliki pilihan selain melaut di pinggir mencari ikan-ikan yang kebetulan menepi. Resiko yang tidak dapat diduga dan tidak juga dapat dihindari mengintai setiap nelayan yang coba nekad memaksakan diri melaut ke tengah.

Jarak dan Resiko yang menungggu

Resiko yang pernah dan menjadi pengalaman berharga yang terus diingat Ivan hingga kini.

“padahal istriku sudah melarang, ndak usah turun kataya, namun aku jawab ndak apa sampai jam 10 aja,” Alvin memulai ceritanya.

Avin melanjutkan,  setelah di tengah laut dan keasikan menangkap ikan, tiba-tiba hujan datang diikuti angin kencang, kemudian gelombang tiba-tiba tinggi. Kombinasi yang kemudian membuat mesin sampannya mati.

Ketika peristiwa itu Ivan tidak peduli mau terdampar dimana saja,  dia hanya berharap bisa menemukan daratan, setelah sampai di daratan dimana pun itu dia yaki akan bisa pulang. Hal yang dipicu akibat semua yang  sekeliling hanya air laut dan tidak tahu harus kemana.

Dari jam 15.00 sore dia terombang ambing ditengah lautan, mesin mati membutanya harus kembali hanya menggunakan dayung, mendayung hingga akhirnya baru berhasil ketepian dan terdampar di pantai jam 03.00 pagi.

“habis semua tenagaku ketika itu” lanjut Ivan.

Pengalaman itu begitu membekas bagi Ivan dan keluarganya. Ivan tentu tidak bisa melupakan bagaimana perjuangannya untuk bertahan hidup demi bisa melihat keluarganya, bertahan menghadapi cuaca yang begitu ganas di tengah lautan sendirian dengan peralatan yang  tidak bekerja seperti seharusnya. Demikain juga keluarga yang menunggunya,  ketika seharusnya dia sudah pulang tetapi pada peristiwa itu tidak kunjunng pulang, tidak ada kabar dan tidak tahu harus mencari kemana atau menanyakan pada siapa. Begitu traumatiknya sampai-sampai sampan yang digunakan ketika peristiwa itu terjadi langsung dijual.

“istriku sudah menangis, ketika itu baru punya anak satu,baru berumur 2 bulan” Ivan memulai menceritakan bagaimana harunya ketika akhirnya bisa selamat terdampar di pesisir Celukan Bawang, yang baginya merupakan halaman bermainnnya.

Cuaca adalah factor yang tidak bisa diatur olah manusia, ketika jarak yang ditempuh untuk melaut semakin jauh dari daratan maka resiko seperti yang dihadapi Ivan bisa menimpa siapapun.

Kuantitas ikan menepi yang menurun semenjak keberadaan PLTU, ditambah lagi cuaca yang yang buruk membuat jarak tangkap yang bisa ditempuh oleh nelayan tradisional begitu terbatas. Mereka harus berpikir dua kali untuk  pergi jauh bermil-mil ke tengah menjauhi daratan demi mendapatkan ikan karena resiko yang menunggu mereka begitu tidak bisa diprediksi dan diluar kuasa mereka.

Dan sayangnya mereka tidak punya pilihan, para nelayan ini harus tetap melanjutkan hidup mereka dan keluarganya meski ikan tidak lagi menepi dan mudah ditangkap. Mereka harus mengambil resiko, melaut semakin jauh dari daratan dengan resiko yang semakin tidak bisa diprediksi demi ikan-ikan yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Ketika para nelayan terus berjuang untuk bisa terus mendapat ikan, sumber penghidupannya, PLTU Celukan Bawang yang ditengarai menjadi biang kerok penyebab perubahan lingkunan Celukan Bawang yang membuat ikan-ikan enggan menepi malah hendak memperbesar kapasitas produksinya. Ekspasi yang mereka rencanakan bahkan berkapasitas 2 x 330 megawatt atau hampir dua kali lipat dari PLTU Celukan Bawang I (yang sudah beroperasi) yang hanya 3x142 megawatt*.

Ekspansi PLTU Celukan Bawang berpotensi akan menyebabkan semakin banyak batu bara yang akan dibutuhkan sebagai bahan bakar. Artinya semakin banyak kapal tongkang yang akan datang dan mondar-mandir di perairan yang menjadi wilayah tangkap nelayan tradisional. Semakin banyak debu batu bara yang akan ditiup angin dan jatuh keperairan, terbawa arus dan mengendap di dasar perairan. Semakin banyak cerobong yang akan berdiri, semakin banyak asap yang akan dihembuskannya kelangit, yang kemudian menghalangi sinar matahari, terbang terbawa angin dan dihirip dalam setiap hembusan nafas.

Semakin enggan plangton tumbuh, semakin enggan paus dan lumba-lumba mampir, ikan-ikan kecil semakin menjauh, ikan pemangsa yang lebih besar apalagi. Semakin jauh pula para nelayan akan meninggalkan daratan untuk melaut, semakin besar resiko yang menunggu dan harus dihadapi sewaktu-waktu.

Hingga akhirnya setiap hari ketika para nelayan memutuskan melaut menjadi sebuah perjalanan menuju medan laga dengan segala resiko yang tidak terduga, bisa pulang dengan kemenangan, pulang dengan kekalahan atau bahkan tidak pulang sama sekali. Dan artinya para ibu, para istri dan anak-anak yang menunggu di rumah akan menunggu dengan rasa cemas dan was-was sambil terus menghirup asap yang dihembuskan cerobong asap PLTU.

-l.taji/8.2.19-

Cerita Pendek: dari Pesisir di Bawah CerobongCerita Pendek: dari Pesisir di Bawah Cerobong

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz
chevron-leftchevron-right