hello world!
Juni 18, 2021

Sebuah tungku yang hangat ditengah suasana dingin yang sedang mendominasi pagi, api pun khusuk melalap kayu kering yang disuguhkan tidak peduli pada keramaian orang-orang yang berlalu-lalang mencari dan membeli kebutuhan dapur. Dua wanita yang sudah berumur berdiri dihadapan tungku, satu orang tampak mengaduk adonan tepung beras cair, seorang lagi sibuk memarut kelapa. Sebuah cetakan dari tanah liat sudah menunggu diatas tungku, menunggu adonan cair dituangkan kedalamnya.

Dua orang wanita tua yang sudah menjalani profesi sebagai pembuat Laklak, kudapan tradisional dari Bali yang berbahan dasar tepung beras dan dipanggang dalam cetakan.

Laklak menjadi salah satu kudapan yang sering kali dipakai sebagai buah tangan oleh ibu-ibu ketika kembali dari pasar. Menikmati Laklak bersama secangkir kopi dan cuaca dingin pedesaan menjadi menu sarapan sebelum memulai aktifitas.

Perasaan dag dig dug laksananya pergi kerumah pacar untuk kencan pertama muncul ketika memutuskan untuk pergi kepasar dan membeli Laklak. Kebiasaan masa kecil yang terakhir kali dilakukan 20 tahun lalu. Laklak seolah menjadi kudapan sarapan wajib ketika itu, terutama bagi  paman dan bibi yang baru pulang kampung dari perantauan. Mereka akan membeli 15 sampai 20 bungkus dibeli untuk seisi rumah yang memang akan ramai karena seluruh penghuni rumah pulang kampug dari rantau untuk mengikuti prosesi adat atau agama yang akan dihelat. Yang kemudian akan dinikmati bersama dilengkapi dengan obrolan ringan pagi hari.

Ketika kata Laklak saya sampaikan pada beberapa saudara, sebuah komentar yang hampir seragam muncul “rasanya sudah tidak seenak dulu”, komentar yang sedikit negatif. Penggunaan tepung beras pabrikan dianggap menjadi salah satu faktor berubahnya rasa Laklak.

Pada era tahun 90-an ada tiga penjual Laklak yang berjualan di pasar pekraman selat baledan dan ketiga-tiganya masih menggunakan tepung beras buatan sendiri dan proses pembakaran dengan menggunakan tungku, sehingga tampak jelas tiga buah tungku berbaris. Pemandangan yang sudah tidak lagi ditemuakan, kini dari tiga penjual Laklak hanya satu penjual yang masih bertahan menggunakan tungku kayu bakar sedangkan dua sisanya sudah menggunakan kompor gas.

Tidaak hanya kebiasaan cara membakar Laklak menggunakan cetakan tanah liat dengan pengapian dari tungku kayu bakar saja yang masih di pertahankan, penggunaan tepung beras yang digiling sendiri juga masih dipertahankan.

Ten, niki ngangge tepung baas meselip (tidak, ini pakai tepung dari beras yang digiling), menjelaskan ketika ditanya apakah mereka menggunakan tepung beras buatan pabrik atau tidak.

Cara penyajiannya masih bertahan, mereka masih menjual Laklak mesanten (Laklak yang disajikan dengan santan), Laklak megula disisi (Laklak yang disajikan dengan gula meras cair yang dibalurkan diatas kelapa parut) dan Laklak megula ketengah (Laklak dengan gula merah didalamnya sehingga bagian atas Laklak hanya ditaburi kelapa parut).

Pembeliannya pun masih dengan dua cara, membeli dengan satuan uang misalnya membeli Rp. 5000 rupiah atau Rp. 10.000 rupiah, atau membeli dengan satuan kelan (sistem paketan) yang 12 buah Laklak dengan harga Rp.3000/kelan. Satuan kelan ini biasanya dipilih ketika Laklak digunakan sabagai sarana membayar nazar/ kaul.

Setelah di coba rasa yang saya dapatkan masih sama, tidak ada yang berubah, mungkin karena lidah saya yang kurang peka atau memang sebenarnya tidak ada yang berubah ketika Laklak dibuat masih dengan cara lama, tepung dari beras yang digiling sendiri, cetakan tanah liat, dibakar dengan tungku kayu bakar dan kelapa yang diparut ketika hendak digunakan.

Ketika tepung yang digunakan adalah tepung beras buatan pabrik (yang juga biasa digunakan pada pembuatan kue lain), lalu dibakar dengan menggunakan kompor gas dan cetakan besi (yang membuat Laklak lebih cepat matang) maka rasa bisa jadi akan berubah. Hal itu lebih karena tepung beras pabrikan yang diproduksi secara massal dan digunakan pada berbagai jenis kudapan yang menggunakan bahan dasar yang sama membuat lidah sudah terlalu biasa dengan rasa dari tepug tersebut. Ini berbeda ketika tepung yang diigunakan dari beras yang digiling, karena setiap beras memilki rasa yang berbeda tergantung dari mana asalnya. Selain itu kehalusan tepung buatan pabrik dan tepung giling juga berbeda sehingga adonan yang tercipta pun akan berbeda dan itu akan mempengaruhi rasa dari Laklak yang diprodukasi.

Selain itu sensasi saat menikmati Laklak, akan berbeda rasanya ketika Laklak dinikmati di pagi hari bersama sanak saudara, ditemani dengan secangkir kopi dan obrolan penuh kerinduan (antar keluarga yang masih tinggal dikampung dengan yang merantau) jika dibandingkan dengan Laklak yang dinikmati sendiri dan hanya berteman kopi dan pagi.

Jadi yang berubah tidak hanya rasa Laklak hari ini, tetapi situasi kita menikmatinya, antusiasme menikmati Laklak dan kopi sambil  berbagi cerita dengan kerabat yang baru datang dari rantau bisa jadi adalah sepaket kenangan yang sebenarnya dirindukan. Dan ketika yang hadir hanya satu komponen saja maka rasa yang didapatkan tidak akan sama, sebuah kerinduan akan kenangan yang mungkin susah untuk diulang lagi.

Apresiasi layak diberikan kepada Bu Sari dan rekannya yang masih bertahan dari harga laklak seharga 500 rupiah satu kelan sampai hari ini 3000 rupiah dan membuat Laklak secara tradisional dan tidak tergoda untuk menggunakan metoda yang lebih praktis (tepung pabrikan, kompor gas dan cetakan logam), serta masih mempertahankan kudapan tradisional serbuan berbagai kudapan modern seperti roti dan lain lain. Belum lagi godaan perubahan citarasa untuk mengikuti selera pasar, yang bisa saja membuat beberapa tahun kedepan akan ada laklak rasa coklat, laklak rasa keju atau laklak rasa bluberi (padahal tidak ada produksi coklat, keju atau blueberi di Pekraman Selat).

Karena Laklak tidak hanya kudapan pagi hari, tapi lebih dari itu. Laklak, begitu juga kudapan lainnya seperti bubuh tuak, lempog, onde-onde dan jajanan tradisional lainnya menjadi sarana untuk merawat kenangan akan masa masa kecil dan kampung halaman. Jajanan tradisional ini menjadi jembatan nostalgia antara orang yang merantau jauh dari kampung asalnya dengan semua kenangan akan kampungnya.

Seelum laklak berubah seutuhnya atau bahkan punah, maka tidak ada salahnya membeli laklak, dan menikmatinya dengan secangkir kopi dan obrolan ringan tanpa campur tangan handphone pintar.

l.taji,

24/8/2017

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz
chevron-leftchevron-right