
Umbul-umbul, baliho acara, mempersilahkan siapapun untuk masuk lebih ke dalam, Satu-persatu orang berdatangan, merangkai perjumpaan ,sapaan saling dilempar sebelum bergerak mengisi sisi-sisi yang bisa diisi dan melanjutkan obrolan. Speaker,meja-kursi, dan yang hadir punya kebebasan untuk memilih lokasi yang nyaman untuk mengikuti acara,sebuah pesta. Pesta Baca.
Baca-membaca tentu bukan hal yang berat,sadar atau tidak semua melakukannya setiap hari. dari mengisi kebosanan ditengah kemacetan dengan membaca deretan huruf hingga kata yang dipajang oleh klan-iklan dipinggir jalan, nama-nama menu makanan yang disajikan warung, nama toko yang berbaris saling menghimpit dipinggir jalan, hingga membaca setiap pesan dan caption yang tertera dilayar telpon genggam. Mata seolah tak tahan untuk mengabaikan begitu saja barisan huruf-huruf yang dihadirkan,bahkan ketika satu hari membaca menjadi hal yang coba dilarang,tetap saja peristiwa itu berlangsung.
Gambaran diatas tentu hanya gambaran umum dari baca-membaca, sebuah aktivitas yang tidak membutuhkan sebuah festival dengan tiket mahal untuk bisa melakukannya. Sebuah kegiatan yang bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Jika begitu apa yang penting hingga membaca harus dimaknai menjadi sesuatu yang begitu skral,dirayakan hingga dijual.
Pemaknaan setiap orang akan membaca tentu berbeda-beda, seeorang mahasiswa bisa jadi memandang membaca sebagai sebuah jendela untuk mencari tahu,walau kebanyakan menyempitkannya menjadi sekedar memenuhi tuntutan tugas perkuliahan demikian juga dengan kaum pelajar. Beberapa orang yang lain mungkin menganggapnya sebagai sebuah rekreasi menghilangkan penat. Namun tentu ada yang punya pemaknaan lain, membaca bisa menjadi pendongkrak penampilan dalam pergaulan. Sehingga buku apa yang dibaca hingga menghadiri festival menjadi sebuah gengsi tersendiri.


Bukan festival ini pesta
Tapi ini bukan festival besar berskala internasional,ini hanya pesta. Pesta rakyat yang berlangsung selama 3 hari. Pesta yang bisa dihadiri oleh siapa saja,tanpa seleksi (tiket mencadi cara penseleksian). Dari yang hanya membaca pesan singkat atau sekedar membaca caption hingga yang secara serius membaca sebuah buku. Dari yang sekedar membaca buku kuliah (sebagai sebuah tuntutan) hingga yang membaca buku-buku sastra atau kajian hanya untuk mencari tahu. Dari yang membaca sebagai rekreasi hingga yang membaca sebaga sebuah kebutuhan. semua tentu bisa hadir dalam pesta. Semua berbaur dan berinteraksi dalam sebuah pesta,pesta baca.
Sebuah pesta yang berlangsung selama 3 hari, dari tanggal 30 april hingga 2 mei. Sebuah pesta tanpa seleksi,pesta yang digagas sebagai perayaan ulang tahun ke-5 Taman Baca Kesiman, sebuah perpustakaan publik yang berlokasi di jalan sedap malam 234, Kesiman-Denpasar. Sebuah pesta yang menjadi perayaan atas kebiasaan membaca yang tanpa disadari tak bisa lagi dibendung. Kebiasaan yang tidak hanya dimiliki kaum elit tetapi juga telah menjadi milik akar rumput. Kebiasaan yang selama lima tahun coba difasiliitas oleh Taman Baca Kesiman,dengan menyediakan buku-buku yang bisa diakses oleh publik yang hendak memeuhi dorongan diri untuk membaca.
Sebuah pesta yang digelar tepat di 3 barisan tanggal penting, 30 april merupakan tanggal kematian pramoedya ananta toer,maestro sastra indonesua yang bukunya telah dibaca dan menginspirasi banyak orang. 1 mei, perayaan hari buruh dan tentu saja 2 mei hari pendidikan nasional. Hari dimana pendidikan diakuai oleh negara sementara kesadaran litersi diabaikan.
Pesta yang dibuka dengan Sobyah Budaya oleh Soesilo Toer, adik dari pram dan koesalah toer. seorang doctor lulusan rusia dengan segudang pengalaman perjalanan hidup. Menjadi eksil hingga tahanan politik rezim ordebaru, serangkaian kepahitan yang ternyata membuat sosok tua ini menjadi begitu humoris dalam kesiriusannya. Sosok yang menyebut dirinya Penulis dan bukan pengarang. Sosok yang menjadikan KATA sebagai SENJATA dan menekankan bagaimana hidup haruslah memiliki fungsi.
Sosok yang mengalami kekerasan dari negara akibat kemampuan intelektual dan pandangan ideologinya ini hadir,membagikan kisahnya serta beberapa bukunya. Melemparkan humor hingga pandangan serius akan hidup, berbagi kisah bukan sebagai penulis besar apalagi mutivaor, hadir sebagai sosok manusia dengan segala peristiwa yang dialaminya, hadir utuh dengan pencapaian dan penyiksaan yang saling berkelit dan bagaimana bertahan untuk tetap hidup.
Pesta dihari pertama ditutup dengan pembukaan karya seni Istalasi “Kaos Keos” dari Agung Alit. Karya instalasi dari barisan kaos pergerakan yang selama ini bergentayangan dijalan-jalan tan tentu saja membuat kita gatal untuk membacanya.
Hari ke-2 dan ke-3, Pesta Baca berlanjut dengan serangkaian aktifitas, mulai dari mendongeng untuk anak-anak yang hadir dan atau diajak oleh orang tuannya untuk menghadiri pesta baca. Dongeng tentu menjadi media mengealkan sebuah cerita dan segala nilai yang termuat didalamnya pada anak-anak, mulai mengenalkan bagaimana membaca bisa menjadi jalan untuk mengetahui jutaan cerita dari dunia.

Lapak buku dari Buku Mahardika, pensuplai buku-buku bacaan bagi mereka yang butuh suplai ditengah kesibukan dan kesulitan untuk mencari bahan bacaan. Selain dari buku mahardika, lapakan juga diisi oleh mereka yang bergerak dalam usaha membangun kesadaran literasi.
Penerbit mahima, penerbit yang berlokasi di bali utara yang aktif menerbitkan buku-buku sastra dan menjadi ruang untuk penulis-penulis muda dan mendorong mereka untuk berani menerbitkan buku mereka sendiri. Selain itu ada rak baca denpasar kolektif, sebuah perpustakaan zine yang aktif hadir dan membawa literasi ke acara-acara musik.
Lapakan dari perpustakaan jalanan denpasar dan NARMADA, gerakan anak muda yang membawa dan menghadirkan ruang baca dengan koleksi buku mereka ke tengah-tengah publik. Sebuah upaya yang militant untuk membangun dan mengambalikan kesadaran membaca (tidak hanya membaca pesan atau caption tentunya). Dan lapakan zine I Ni timpalkopi, media foto kopian abal-abal (tempat tulisan ini dimuat).
Selain lapakan ada sesi bincang buku, dimana buku dibicaran bukan oleh penulisnya tetapi oleh pembacanya. Ada Marmar (seniman ogoh-ogoh) dengan buku ….. arya IB Dharma Palguna, Savitri dengan buku …. Adi apriyanta dengan buku… candrawati (pengacara perempuan) dengan buku HOMODEUS karya windu dengan buku… JRX (musisi/SID) dengan buku 1984 karya gorge orwel dan Mami Siska (transgender) dengan buku bumi manusia karya Pramudia Ananta Toer.
Kehadiran mereka mereka menunjukkan bagaimana sebuah buku masuk tidak hanya mengisi meja-meja atau rak buku diruang tamu,tetapi juga mengisi ruang-ruang dalam kepala mereka. bagaimana sebuah buku hadir melampaui latar belakang profesi hingga mempengaruhi cara pandang mereka ketika hadir ditengah-tengah masyarakat. Bagaimana perbincangan buku dilakukan oleh mereka yang bersetubuh klimaks dengan buku tersebut, bukan oleh si pengarang, editor,penerbit atau akademisi yang mengulasnya dalam bentuk kritik-kritik karya sastra (misalnya).
Perbincangan yang menunjukkan bahwasanya ketika buku tersebut lahir kemudian hadir ketengah masyarakat, maka buku tersebut telah menjadi milik masyarakat dan diluar jangkauan si penulisnya. Masyarakat yang membacanya kemudian tentu saja punya hak untuk melakukan pembacaan dari buku yang telah dibacanya,pembacaan yang kemudian dihadirkan dalam bentuk perbincangan intim tentang bagaiaman kemudian sebuah buku berdampak pada mereka.
Mengikuuti bagaimana perbincangan sebuah buku dilakukan oleh orang-orang dengan berbagai latar belakang dan murni hanya sebagai pembaca menunjukkan seperti apa kuatnnya sebuah buku hingga bisa mempengaruhi sampai menginspirasi pembacanya.
Pesta baca menghadirkan sesuatu yang belakangan sering dilupakan bahwasanya obrolan tentang buku tidak hanya milik mereka hidup dari dunia itu (penciptaan atau kritikus buku) tetapi milik pembacanya, dan pembacanya bisa siapa saja. Jika buku diibaratkan sebuah makanan, maka tidak hanya koki yang berhak ngobrol tentang makanan tetapi orang awam yang makan dan kemudian menikmati makanan tersebut juga berhak untuk membicarakannya.
Perbincangan buku unu tanpa disadari mengenalkan buku yang sedang dibincangkan kepada pengnjung yang mengiti sesi tersebut, hingga bisa menjadi refrensi ketika seseorang hendak ingin tahu lebih dalam tentang buku atau topic yang dibicarakan dari buku yang ketika itu diperbincangkan.
Seperti halnya pesta-pesta secara umum, pesta baca bukanlah sebuah acara serius hingga pengunjung yang hadir dituntut untuk ikuut membaca atau berpikir hingga dahi berkerut. Pesta baca tetaplah sebuah pesta, keceriaan dan kegembiraan hadir secara intim dan tanpa sekat pembatas. Dentuman musik,tubuh bergoyang mengikuti irama juga dihadirkan secara cair mengalir. Barisan musisi ikut mengisi,dari …..
Pesta Baca Mengembalikan bahwasanya membaca bukan sesuatu yang berat, identik dengan kaca mata tebal dan lebel kutu buku dan dilakukan oleh oleh orang-orang serius yang hanya bisa bergaul dengan sesamanya. Pesta baca membuat membaca hanyalah sebuah aktivtas biasa,berlangsung setiap hari dan dilakukan oleh siapa saja,melampaui umur,status social,profesi bahakan alasan untuk membaca. Semua berbaur dengan cair,mengalir menghadirkan perjumpaan baru dan hubungan baru.
sebuah pesta yang unik, dimana membebaskan baca-membaca dari bentuk kaku dan dikemas kekinia tetapi tidak juga terperangkap dalam pesta,eforia yang berujung huru hara. kegembiraan pesta disajikan tanpa menelan esensi dari baca-membaca.
Pesta Baca juga menjadi ruang bagi kehadiran kata-kata yang dihadirkan dalam zine-zine (penerbitan mandiri) atau dalam terbitan-terbitan yang hadir dalam bentuk lapakan. Kata-kata yang dihadirkan tidak saja oleh nama-nama besar,tetapi juga oleh nama-nama kecil yang tidak akan ditemukan dalam catalog buku terbitan penerbit dengan modal besar macam KPG atau Gramedia, tidak pula akan hadir dirak-rak toko buku dengan modal besar seperti gramedia atau periplus.
Jika kata adalah senjata maka membaca adalah cara untuk mengasahnya,mengasah senjata untuk kemudian siap dipakai menerabas jalan panjang berliku yang dihamparkan hidup. Dan menulis dalah usaha untuk terus menghadirkan kata,memproduksi senjata. Pesta baca hadir,merayakan bagaimana kata telah menjadi senjata, bagaimana usaha untuk menghadirkan kata,memproduksi senjata terus berlangsung dan segala upaya untuk mengasah senjata-senjata tersebut juga hadir dan tumbuh (dilakoni komunitas-komunitas yang hadir melapak). Pesta baca menjadi runag untuk semua itu bertemu berkumpul dan bergembira.
Pepatah lama berujar, kita hari ini adalah apa yang kita baca dan siapa orang disekitar kita 10 tahun terakhir. Jika boleh ditambahkan, pesta apa yang kita ikuti sepertinya layak untuk membawa pepatah itu kekonteks kekinian, mengingat begitu banyak pesta yang digelar khususnya di Bali,pulau kecil dengan ikon pariwisatanya. Memasukkan Pesta Baca dalam daftar pesta yang hendak dihadiri tentu penting untuk memastikan kita juga merayakan kebiasaan kita membaca. Walau hanya membaca caption di media social tentunya.
8.5.19
l.taji

