hello world!
Juni 11, 2021

Aku dan Sampan

Ndak usah berangkat,” suara itu masih terngiang di kepalaku. Suara perempuan yang baru dua bulan lalu melahirkan anakku. Harusnya aku mendengarkan sarannya dan mengurungkan diri berangkat, dan mungkin aku sedang menikmati malam sambil melihat wajah anakku.

“Ayo menyala,” tanganku menarik tuas mesin dan sialnya tak ada sedikitpun bunyi dari mesin yang telah kuyup oleh air. Sama sekali tidak ada, hanya bunyi tali seling tertari yang samar oleh angin dan riak laut.

Semua gelap dan hanya ada air, hujan lebat menyisakan gerimis halus dan rapat, membatasi jarak pandangku dan memang tidak ada satu sumber cahaya yang tampak, entah dari daratan yang entah di mana atau dari sampan lain yang kebetulan nekad juga untuk pergi melaut. Sayangnya tidak ada satu cayahapun, satu-satunnya cahaya malam itu hanya dari sampanku, sementara di sekitarku semua gelap.

Aku kembali mencoba menyalakan dua mesin yang membawaku ke tengah, menarik tuasnya, mengutak-atik cock, memukulnya, dan tetap saja tidak ada bunyi tanda mesin itu bisa bekerja mengantarku pulang. Mereka berdua mengkhianatiku, mengantarku ke tengah laut dan pergi meninggalkanku di sana. Mesin-mesin yang begitu aku percayai dan aku rawat dengan begiu teganya tiba-tiba mati dan tidak mau bekerja sama mengantarku pulang.

Aku hanya bisa duduk, menyandarkan tubuh pada tiang, membiarkan gelombang kecil yang tersisa mengombang-ambing sampan. Apa yang bisa aku lakukan, mesin-mesin telah mati, tak ada cahaya yang bisa aku tuju dan daratan entah di mana. Apalagi yang bisa aku lakukan selain duduk, mendapati keadaan yang tak berpihak padaku, mendapati seluruh tubuhku basah oleh hujan dan percikan air laut dari gelombang tinggi yang menghantam sampanku sebelumya. Mendapati gerimis yang jatuh ke dalam sampan, menyaksikan gerimis terserap serat pakaian yang aku kenakan, membuatnya lebih berat dan lebih dingin.

Menatap kotak ikan, tanpa sadar aku mukulnya, marah gara-gara kotak ini aku harus melaut jauh sampai ke tengah. Ya, gara-gara kotak putih tempatku menampung ikan yang bisa aku tangkap. Kotak sialan yang terus dan terus meminta untuk dipenuhi.

“Kotak sialan,” aku ingat ketika kemudian aku melemparkan kotak dan ikan yang berhasil aku tangkap.

Aku melemparnya ke lautan, “Sana cari sendiri, cari sendiri ikan-ikanmu, kotak sialan.” Aku menaahkannya, keasyikan memenuhi kotak itu membuatku lupa, harusnya aku pulang sampai jam 10 seperti janjiku, dan kini entah sudah jam berapa, aku tidak tahu, HP ku mati, semua seolah sepakat mengkhianatiku. Meninggalkanku di sini sendirian hanya berbekal sebuah bohlam dan mesin disel yang berbunyi dan enggan megikuti irama laut.

Lalu apa yang terjadi. Asyik memenuhi kotak putih itu dengan ikan, aku lupa waktu, lupa diri, dan terus menarik ikan-ikan itu, melemparnya ke dalam kotak putih sialan itu. Jangankan mengambil HP dan melihat jam, aku bahkan tidak sadar ketika matahari turun tenggelam dan senja terlewat begitu saja. Terlalu sayang untuk melewatkan ikan-ikan yang hari ini begitu mudah aku tarik dengan kail. Hal yang jarang terjadi pada bulan-bulan dengan cuaca buruk seperti sekarang ini. Jadi, ketika kesempatan itu dating, aku ingin memanfaatkannya dengan memenuhi kotak putih dan membawa pulang ikan sebanyak mungkin. Siapa yang peduli pada senja apalagi jam yang berdenyut ketika itu.

Sialnya, keasyikan itu terus berlangsung hingga tiba-tiba hujan turun, lebat. Tiba-tiba, karena aku tidak melihat mendung sebelumnya, atau mungkin aku mengabaikannya akibat terlalu fokus pada kail, ikan, dan kotak putih dalam sampan. Hujan yang datang bersama petir dan gemuruh, lebat hingga untuk sekedar membuka mata butuh perjuangan.

Angin kencang menyusul, mengubah arah hujan yang jatuh, meninggikan gelombang yang mengombang-ambing sampan kecil yang kukendarai. Aku melepas kail, memilih memegang kemudi, menyalakan mesin dan mulai mengatur arah putaran. Bertahan dengan mengikuti arah gelombang, menjaga agar tetap terombang-ambing. Hujan lebat, gemuruh langit bersama petir, angin, dan gelombang, apa yang lebih mengancam sampan kecil di tengah laut daripada ketika itu semua datang bersamaan.

Duar,” sura yang terdengar memekikkan telinga, disusul kilatan yang begitu jelas di dekat sampan. Saat seperti itu bagaimana memikirkan kail dan ikan?

Aku hanya mengarahkan kemudi, menggerakkan ke kanan atau ke kiri, menurunkan gas, berusaha lari dengan menerobos gelombang tinggi hanya akan membuat sampanku terbalik. Bergerak hanya untuk mengikuti ritme gelombang, sementara angin entah menggiring sampan ini ke mana. Aku tidak peduli, aku hanya ingin bertahan tidak terbalik dan tenggelam.

Berharap seseorang akan membantumu? Itu kesalahan terbesar. Kami nelayan kecil terbiasa melaut dengan sampan masing-masing, bertahan dengan sampan masing-masing, berjuang dengan sampan masing-masing, dan menghadapi situasi seperti ini pula dengan sampan masing-masing. Dan sialnya, ketika itu aku menghadapinya sendirian, tidak ada sampan lain yang mengalami hal yang sama. Hanya ada aku, sampan, laut, dan cuaca yang memerangkapku.

Tidak ada buku panduan untuk keluar dari cuaca buruk. Tidak ada pelatihan untuk keluar dari gelombang tinggi, hujan lebat berpetir, dan angin kencang yang pernah dajarkan padaku. Yang diajarkan hanya bagaimana bisa menangkap ikan dan memenuhi kotak putih yang menjadi wadah ikan-ikan untuk dibawa ke pengepul.

Lalu bagaimana aku harus keluar dari perangkap itu? Aku pun tidak tahu jawabannya. Yang aku tahu hanya mengendalikan mesin sambil merapal, “Jangan terbalik.... Jangan terbalik.” Sementara gelombang terus mengangkat sampanku dan hujan terus jatuh mengantarkan petir yang menjilat permukaan laut.

Wajah anakku muncul diikuti ketakutan pertanyaan-pertanyaan yang mengikuti. Bagaimana jika petir itu menyambarku? Bagaimana jika sampan ini kebalik? Bagaimana jika arus membawaku terus ke tengah?  Tidak ada pertanyaan yang mendukung, mereka menggerogoti keyakinanku.

Rambutku telah kuyup, pakaian sudah menempel lekat dengan kulit, sesekali gelombang air laut menamparku, air masuk ke dalam sampan. Sambil memegang tuas kendali, aku coba mengeluarkan air agar tidak semakin banyak menggenang. Sumpah, aku menyesal memilih untuk melaut. Apa gunanya ikan-ikan ini jika akhirnya aku hanyut dan tak bisa pulang, pikirku ketika itu.

Hari semakin gelap. Tanda-tanda cuaca akan membaik belum juga muncul ketika tiba-tiba mesinku mati. Hujan dan deburan gelombang sepertinya telah masuk. Cetok yang aku gunakan untuk mengeluarkan air yang masuk aku sampan aku taruh, aku berusaha menghidupkan mesin. “Bagaimana aku pulang jika mesin ini mati?” tanyaku. Semua menjadi lebih buruk. Aku berusaha menarik tuas untuk menyalakannya kembali. Sialnya, mesin itu tak menyala. Aku yakin bensin dalam tangki masih penuh, tapi aku buka, siapa tahu ternyata bensin yang habis yang membuat mesin mati, sehingga lebih mudah untuk menyalakannya kembali karena aku masih menyimpan bensin cadangan. Sialnya, mesin dalam tangki masih banyak, tetapi mesin tak juga kunjung menyala. Lengkap, aku tidak bisa pulang sekarang. Aku tak bisa selamat tak ada lautan tak ada cahaya.

Mesin, satu-satunya hal yang bisa aku pegang dan andalkan untuk menjagaku melalui situasi ini dan mengantarku pulang juga mati akibat cuaca ekstream itu,lalu apa lagi yang bisa aku harapkan? Ketika mencoba berkali-kali, dan mesin itu juga tak kunjung menyala, aku menyerah. Melemparkan badanku di pojokan sampan dann membiarkan apapun yang terjadi. Membiarkan gelombang itu menghantam sampan, melemparkannya membiarkan angin yang bertiup mengombang-ambing ku, membiarkan hujan dan petir itu sesukanya.

Aku memutuskan untuk menerimanya sambil mengingat wajah anak dan istriku. Membayangkan wajah mungil putra pertamaku sambil berkata, “Maaf, Nak, bapak tak bisa menyaksikanmu tumbuh besar.”

Aku sudah berpikir akan mati malam itu, menjadi sesaji yang dipilih samudra karena aku terlalu rakus mengambil ikan mereka selama bertahun-tahun. Air mata menetes di antara hujan yang mengalir, bercampur, ketika bayangan wajah mereka terus dan semakin jelas muncul di kepalaku.

“Maaf, Nak, bapak tidak tahu apa akan bisa pulang atau tidak malam ini,” kataku dalam hati saat itu. “Pak, Ibu, titip cucumu,” lanjutku. Aku tidak tahu harus melakukan apa.

Aku tidak tahu sedang berada di mana sekarang. Yang aku tahu hanya sinyal lampu mulai meredup, mesin tak mau menyala, hujan deras angin kencang, dan di mana-mana air yang bergejolak tidak karuan. Aku menangis, aku meraung, tetapi tidak ada yang mendengar. Siapa pula yang akan mendengar? Siapa orang bodoh yang keras kepala akan mencari ikan demi memenuhi kotak putih untuk bisa dijual dan mengabaikan peringatan bahwa cuaca lagi tidak menentu?

Lalu apa yang bisa lagi aku lakukan, selain membiarkan itu semua terjadi dan membiarkan hidup menjalankan kehidupannya. Tak ada doa untuk menghentikan hujan, tak jua untuk mencegah angin datang atau mengusir gelombang. Tak ada. Saat itu aku belajar, tidak ada itu. Seberapa doa yang diucapkan tidak akan menghilangkanmu dari kemalangan untuk menghadapi situasi itu, situasi yang aku cari sendiri.

Doa-doa itu mungkin sedikit membangunkan harapan, memperteguh keyakinan. Setidaknya itu sedikit kurasakan sebelum mesin-mesin itu mati. Hujan tetap bercucuran, angin tetap berhembus kencang. Demikian juga petir dan gelombang. Mereka tidak berhenti, tidak pula kemudian aku bisa keluar dengan sampanku dari situasi itu. Malah yang terjadi seperti yang aku ceritakan, mesin-mesinku mati. Jadi apa yang harus aku lakukan? Aku masih berada dalam situasi ini bersama dua buah kotak sialan di atas sampan yang terus terombang-ambing tak menentu arah. Sampan tanpa tenaga yang mendorongnya mencapai tujuan.

Seorang lelaki termangu di atas sampan. Pandangannya menembus gelap malam. Riak gelombang dan hujan yang mengguyurnya tidak membuatnya bergeming. Dia hanya duduk diam dan membiarkan air mata mengalir bersama hujan.

“Sebentar saja, sampai jam 10 saja,” kalimat yang aku ucapkan kembali terngiang di kepalaku, lengkap dengan wajah istriku yang cemas sambil menggendong putraku. Menyusul wajah bayi mungil yang tersenyum menatapku. Jari kasarku merasakan bagaimana lembut jemari mungil ketika aku menyentuhnya. Jemari mungil yang bahkan belum bisa memanggilku. Senyum lembut yang hanya bisa menangis ketika lapar tiba.

Hari bertambah gelap. Sampan yang kutumpangi tak juga kunjung karam. Hujan lebat hanya menyidaan gerimis tanpa suara petir yang menggelegar. Aku berdiri, meraba saku, dan menemukan rokokku yang telah hancur oleh air.

“Aku tak bisa diam di sini, aku sudah janji pulang,” pekikku dalam hati.

Aku melangkah kembali menuju mesin yang masih menempel di ekor sampan,  berusaha menarik tali untuk memutar mesin, menyalakannya, mmemanfaatkan situasi yang mulai tenang.  Menariknya, menggoyangnya, memukulnya, mencoba segala cara untuk membantuku kembali ke daratan.

“Ayolah, kali ini saja, menyalalah,” pekikku yang ditelan berisik air laut.

Namun sial, tetap saja mesin itu tak menunjukkan niatnya untuk mengabulkan permintaanku. “Tolonglah, menyalalah,” kembali aku bicara pada mereka dan mereka tetap diam tak bergeming.

“Persetan dengan kalian,” ucapku sambil memukul mesin yang telah mengkhianatiku.

“Aku harus pulang, menepati janjiku untuk pulang.”

Mesin-mesin bisa mati, tapi niat untuk pulang yang kembali muncul mendorongku untuk menggeledah dasar sampan, mencoba mencari apapun yang tertinggal dan bisa aku gunakan untuk membantuku pulang. Sebuah dayung tergeletak, basah oleh air yang sempat menggenangi sampan.

Hujan masih turun halus. Aku tak tahu arah, semua masih gelap. Tak ada bulan, tak ada bintang yang bisa menuntun, tak juga ada kompas yang bisa menunjukkan. Hanya malam, aku, sampan, dan niat pulang yang membawa serta dayung bersamanya.

Aku tidak tahu di mana pantai yang menjadi halaman rumahku. Semua yang terlihat hanya air, tak ada lampu atau kerlip mercusuar di kejauhan sebagai penanda daratan. Ketika aku coba mencari ke mana arah yang harus kutuju, mengatur dayung, mengarahkan sampan, yang terlihat hanya air dan air.

“Yang penting sampai daratan, di manapun itu pasti bisa pulang,” kataku meyakinkan diri.

Keyakinan yang kembali kudapatkan setelah janji yang kuucapkan mengingatkanku pada mereka. Perempuan dan bayi mungil yang menungguku dengan senyum dan tangisannya.

“Sampai di darat, sampai daratan,” hanya itu yang aku rapalkan sambil lengan terus mendayung sampan menuju arah yang terbentang di hadapanku.

Aku tak lagi memedulikan mesin yang kini mengekor mengikuti arah ke mana sampan aku dayung. Tak peduli apa gerimis masih turun. Gelombang tidak lagi setinggi sebelumnya, demikian juga dengan petir. Aku terus mendayung sampan entah akan terdampar di mana yang penting aku menemukan daratan dahulu. Setelah sampai di darat, baru aku pikirkan bagaimana cara sampai di rumah.

“Sampai di darat,... aku pulang.... Sampai di darat,... aku pulang...,” hanya itu saja yang terus kuucapkan sambil mendayung sampan menerobos gelap malam.

***

“Pak Hamid belum pulang,” seorang perempuan memberi tahu lelaki tua yang membuka pintu, terbangun setelah mendengar suara pintu diketok dan namanya dipanggil berulang kali.

“Jam berapa sekarang?” lelaki tua itu bertanya pada perempuan yang membangunkannya, seorang bayi tampak terlelap di dalam gendongannya.

“Sudah jam 2, Pak,” perempuan itu menjawab.

“Dari sore tadi dia belum kembali?”

“Iya, Pak,” perempuan itu menjawab. “Perasaan saya tidak enak, Pak. Mana Ahmad dari tadi nangis terus, ini baru mau tidur,” lanjut perempuan itu.

Hari masih gelap, angin bertiup kencang, langit gelap tanpa bintang atau bulan yang menghiasi.

“Ya sudah, kamu istirahat di sini saja,” kata lelaki tua itu.

Seorang perempuan tua keluar dari kamar. Matanya masih terlihat enggan terbuka. “Sini, Ndah,” ia mengajak perempuan dan bayinya masuk ke dalam rumah.

“Sini, ibu yang gendong. Kamu istirahat sana,” perempuan itu mengambil bayi dalam gendongan Endah. “Bapak mau ke mana?” lanjutnya ketika melihat lelaki tua itu mengganti pakaian yang dikenakannya tidur.

“Bapak coba cari ke pantai,” lelaki tua itu menjawab sambil bergegas keluar rumah.

“Hati-hati, Pak,” kata kedua perempuan itu nyaris berbarengan.

“Kamu tidur aja dulu, Ndah,” perempuan tua itu menyarankan menantunya, “Biar dapat istirahat walau sebentar.”

“Perasaan saya tidak enak, Bu. Mas Hamid tidak penah pulang pagi,” jawab Endah. “Saya takut ada apa-apa menimpa Mas Hamid”

“Jangan mikir macam-macam, mungkin dia keasyikan ngobrol di pantai,” jawab perempuan tua itu.

Cahaya tiba-tiba muncul di halaman, diikuti bunyi mesin sepeda motor yang bergerak menjauhi rumah, melewati gang kecil yang diimpit pagar.

“Mas Hamid tidak pernah tidak pulang sampai selarut ini,” Endah tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, “Apalagi setelah kelahiran Ahmad.”

“Iya, ibu tahu. Kita berdoa saja semoga dia baik-baik saja,” perempuan tua itu coba menenangkan Endah, coba menyembunyikan kekhawatiran akan putranya yang disembunyikan di balik keriput dan temaram nyala lampu yang menggantung di langit-langit. “Atau ambil bantal dan berbaring di sini,” lanjutnya.

Endah melangkah masuk ke kamar dan keluar dengan sebuah bantal yang diletakkannya di sebuah kursi bambu panjang. Dilihatnya tubuh mungil dalam gendongan mertuanya menggeliat.

“Ssstt…sssttt…ssttt…, bobok, Nduk, masih malam,” kalimat keluar dari perempuan tua sambil menggoyangkan cucu dalam gendongannya dengan lembut.

Suara kursi bambu berdenyit menerima tubuh Endah yang berbaring di atasnya. Perempuan tua itu masih berdiri, menggoyangkan gendongannya, dan sesekali memandangi wajah cucu pertama yang kini sedang terlelap dalam gendongannya.

***

Gelap masih menyelimuti pantai. Sampan-sampan berjajar di atas pasir, ditinggal pemiliknya yang sedang lelap mencari mimpi di bawah langit-langit penuh laba-laba dan tikus yang tak tahu berkeliaran keluar masuk ruangan.

Sebuah nyala sepeda motor menerobos gelap sebelum akhirnya diganti langkah kaki lelaki tua menyusuri pantai, berharap menemukan seseorang masih terjaga di sana.

“Mau turun?” seorang lelaki tiba-tiba menyapa dari dalam gubuk.

Ndak,” lelaki tua menjawab. “Han, kamu ada lihat Hamid?”

“Lihat siang tadi,” jawab Johan, “Ada apa?”

“Dia belum pulang.”

“Dia turun kayaknya,” Johan berkata ragu.

“Iya, istrinya bilang dia turun tadi siang,” lelaki tua itu membenarkan. “Sudah tahu cuaca masih seperti ini tapi nekat turun,” lanjutnya.

“Coba lihat sampannya,” Johan mengusulkan.

Dua lelaki itu menyusuri pantai, menelisik setiap sampan yang termangu di atas pasir.

“Siapa saja yang turun tadi?” lelaki tua itu bertanya pada Johan.

Ndak banyak, hanya di pingggir saja. Tidak ada yang berani ke tengah dan mereka sudah balik semua,” jawab Johan. “Itu sampan mereka,” lanjut Johan sambil menunjuk sampan berwarna cat biru dengan mesin terbungkus terpal hitam.

“Sial, ke mana dia,”  lelaki tua itu menggerutu.

“Sepertinya dia belum balik, kamu mau mencarinya ke tengah?”

“Di tengah mau dicari ke mana?” lelaki tua itu menanggapi pertanyaan Johan.

“Lagi pula, cuaca masih seperti ini.”

Mereka kemudian duduk di sebuah amben yang diletakkan di atas pasir di bawah pohon ketapang yang telah menggugurkan daunnya.

“Kamu sudah coba meneleponnya?” Johan memecah keheningan.

“Sudah, tetapi tidak aktif.”

Kembali sepi menghampiri. Johan menatap raut khawatir rekan yang duduk di sebelahnya, “Kamu mau melaporkannya?”

“Jam berapa sekarang?” pertanyaan dilontarkan pada Johan.

“Sudah hampir jam 3,” jawabnya, “Kamu mau menyusulnya?”

“Aku tidak tahu,” lelaki tua itu menjawab. “Ke mana mau dicari.”

Sebuah sampan dengan cahaya yang begitu redup bergoyang-goyang menepi.

“Lihat itu,” Johan menunjuk sampan di kejauhan.

Lelaki tua itu menoleh dan bergegas belari ke arah sampan itu menepi. Johan berlari mengikutinya.

***

Seorang lelaki tampak menikmati matahari pagi di halaman. Senyum terpancar menatap bayi mungil yang sedang digendongnya. Sebuah kopi dalam gelas menunggu di meja yang setia menemani beranda menerima tumpahan lelah, gelisah, risau, dan segala rasa yang harus dialami penghuninya.

“Mid...,” sebuah suara diikuti sosok lelaki tua muncul dari belakang rumah.

Suara itu membuat lelaki yang sedang menikmati pagi bersama buah hatinya itu segera berpaling. “Ya...”

“Sampanmu sudah laku,” lelaki tua itu menyampaikan.

“Kenapa dijual?” Hamid bertanya, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.  “Lalu aku pakai apa?”

“Kita cari lagi yang baru. Sementara belum ada gantinya, kamu pakai sampan Bapak saja,” lelaki tua itu menjawab.

“Tetapi kenapa harus dijual?”

“Sampan itu bawa sial. Kamu hampir hilang gara-gara sampan itu,” lelaki itu menjawab.

l.taji//18.2.19

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz
chevron-leftchevron-right