hello world!
Juni 25, 2021
foto oleh Gus GSartculture

Penyembuh dari Bukit Sibetan

||Ia “dokter tradisonal” yang setia pada janji diri. Melakoni ketat bagaimana etik seorang balian (dukun), yakni: mengembalikan kondisi seseorang pada kodrat hakiki, suci bersih tanpa cela.||

Setelah beberapa kali tersesat, terperosok di jalan-jalan sempit, terkurung pada hamparan kebun salak di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Karangasem, pondok Made Degung, penekun usada Bali dan penulis sejumlah karya sastra kawi akhirnya ditemukan jua. Melintasi kebun –kebun salak nan hijau, dipagari pelepah pokok salak berduri tajam, betapa lawatan ini mesti dilakukan penuh hati-hati. Tergelincir sedikit saja, duri-duri salak itu siap mencakar tubuh.

Bersyukur, ketika SARAD hampir putus asa, nyaris kehilangan jejak, seorang wanita renta begitu ramah memberi petunjuk. “Rurunge niki tuut, beneng kelod, wenten leci ageng, biluk kangin akidik, nika sampun pondokne. Turuti jalan ini, lurus ke Selatan, ada pokok leci besar, belok ke Timur sedikit, itulah pondoknya.”

Ya, pohon leci tua dan besar akhirnya ditemukan. Pondok kusam di tengah hutan salak terlihat mencolok, jauh dari kesan rapi dan mentereng. Dikitari pokok-pokok salak dan pohon-pohon tinggi, pondok ini pun betul-betul terisolasi, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan yang semraut, bising membebalkan. Ke mana saja arah mata memandang hanya hutan salak terhampar, warna hijau kebiru-biruan cukup memanjakan pemandangan. Udara sejuk, bersih dan segar.

Pondok Made Degung terlihat sepi. Sesekali hanya lengking kicau burung terdengar. Ketika itu matahari tepat di atas kepala. Saat memasuki pekarangan, seekor anjing tiba-tiba menyalak. Anjing tiba-tiba melengos manakala tuan rumah keluar dari dalam pondok. Didatangi tamu tanpa wangsit, tuan rumah dibuat terperangah. Untung suasana cepat cair, lelaki kurus dengan rambut sebagain telah memutih mempersilakan tim SARAD duduk di lantai pondok yang cupit, dialasi karpet kumal, diseraki sobekan-sobekan kertas sisa permainan anak-anak.

Pondok yang tidak begitu luas ini tak ubahnya pertapaan, tempat seorang pengabdi kemanusiaan berdiam - tempat di mana seluruh penghuni akrab menyatu dengan alam. Orang-orang kota yang sok modern, terbiasa tampil bersih dengan rumah menyalang rapi, pasti mengejek kondisi ini sebagai keluarga miskin. Ini lantaran kekayaan kerap dipandang dari seberapa banyak orang menguasai materi, berkelimpahan segala. Ini tentu penilaian yang salah, karena mata hati sering silau pada yang serba gemerlap.

foto oleh Gus GSartculture

Bayangkan, hanya ada tiga rumbai pondok kecil. Satu bale tempat tidur keluarga, satu buah dapur, dan satu pondok reot tempat menyimpan ratusan lontar dan racikan obat-obatan. Tapi bagi mereka yang mengerti kedalaman makna hidup, pondok itu jelas bukan rumah seorang miskin. Sebaliknya merupakan rumah seorang penyembuh, pondok seorang penolong yang bersahaja, karenanya ia tidak pernah merasa kurang.

“Inggih, kanggeang tan wenten genah, maafkan tidak ada tempat,” ini kata pembuka yang kelak menyibakkan percakapan panjang dengan Made Degung, pengobat tradisional, sastrawan Bali klasik yang sampai saat ini tetap melakukan upacara diri dengan menulis karya sastra. Mulanya, ayah dua anak ini menolak hendak dipublikasikan. Ia seakan punya janji, bahwa teladan dan perbutan baik tidak layak digembar-gemborkan - apalagi diobral semata demi meninggikan harga diri. Toh, dengan niat tulus hendak berbagi pengalaman, suami Ni Ketut Sutarmi ini mengamini, akhirnya.

Mantan penari gambuh ini tampaknya seorang pembelajar serius. Nyatanya, ia tak cuma menguasai spesialisasi-spesialisai teks usada Bali yang beragam dan berlimpah itu. Namun Degung juga paham banyak bidang “keilmuan” dalam ruang kecendekiawanan tradisi Bali. Mulai dari tatwa, agama, wariga, arsitektur, sasana, canda (aturan guru lagu), teks-teks mistik semisal krakah, hingga teks-teks upacara yang pragmatis dan jelimet.

Guru Degung, demikian dia akrab disapa. Tampaknya sosok yang bersahaja, polos, apa adanya. Panggilan sebagai pengobat tradisional dijalani sejak usia sangat muda, kurang lebih 40 tahun silam. Tak peduli siang atau malam, hari hujan atau terang, jauh atau dekat, bila yang datang hendak meminta tolong, Guru Degung pasti datang memberi bantuan. “Ya karena kita sudah memilih jalan ini, tanggung jawab mesti dijalani dengan ketetapan hati. Sedikitpun kita tidak boleh menjadi peragu,” ujarnya ramah.

Bercakap dengan lelaki yang usianya kini genap 60 tahun sungguh bagai menghapus dahaga di air telaga. Tutur kata santun, menyejukan, tak suka pamer atau mengada-ada. Kerap dari kata-katanya tersimak pemahaman yang dalam apa arti hidup bagi sesama. Menurutnya, etik paling tinggi seorang penyembuh tak lain merawat hidup demi hidup itu sendiri. Karena mereka yang tidak menghargai hidup akan dijauhkan dari niat menjadi penyembuh. Ini pula makna balian (dukun) paling hakiki, menjauhkan segala pamerih dari urusan jual-beli.

Degung adalah drama lain dari kisah hidup manusia Bali, yang kadang terasa tragis. Dilahirkan hari Jumat Kliwon 1946. Tradisi telah menghukum dirinya menjadi seorang astra, “tereliminasi tidak diakui” sebagai kerabat yang berdarah brahmana. Sang ayah, Ida Made Gunung adalah keturunan Brahmana dari Geria Tengah Budakeling. Di masa muda, pesta cinta Ida Made Gunung dengan Ni Nyoman Cenik dari Banjar Tiingan, Bebandem secara langsung mentakdirkan bayi merah Made Degung menjadi seorang astra. Alasannya disamping sangat dirahsiakan menjadikan sang anak sebagai astra juga kehendak sang ayah sendiri, bukan kehendak keluarga besar. Mungkin begitulah cara Ida Made Gunung menghukum dirinya, tinggal di belantara hutan salak, di bukit-bukit yang jauh dari keramaian. Seperti juga laku tapa, yang membiarkan sang anak kehilangan hak-hak sebagai trah brahmana Boda. Tapi persoalannya tidak segampang yang kita amati dengan pikiran biasa, membuang semua atribut kulit pasti memerlukan keberanian tak tanggung-tanggung.

Ida Made Gunung, ayah Made Degung ternyata seorang pecinta setia. Sejak mengotori “aturan suci” geria ia jarang pulang ke Budekeling. Bersepakat hidup bersama istri tercinta Ni Nyoman Cenik di Desa Sibetan, di sebuah tegalan bersemak milik seorang Pedanda Siwa dari Geria Kawan Sibetan. Di tegalan ini Ida Made Gunung menghukum diri sembari tetap menjalani hidup sebagai balian (dukun) tersohor. Di perbukitan yang kini dirimbuni pokok-pokok salak inilah Made Degung dilahirkan. Made sendiri anak kedua dari pasangan yang terkena sanksi astra ini.

Memasuki usia kanak-kanak Degung dibenamkan pada dunia yang mengantar dirinya menjadi seorang penekun usada. Gen seorang pengobat mengalir dari leluhur. Sang kakek, Ida Wayan Oka Tangi adalah seorang balian usada ternama di Karangasem. Kelak kemampuan ini pun menurun pada sang ayah, di mana kini juga mengalir kepada dirinya. Ratusan cakep lontar yang tersimpan rapi di pondok merupakan kepustakaan penting bagi perjalanan kecendekiawanan Made Degung. “Ayah mewariskan banyak lontar di pondok, meliputi banyak hal perihal “keilmuan” Bali. Dari tinggalan itu kami belajar tentang dunia Bali,” tukas Made Degung.

Kendati ditimbuni perpustakaan lontar melimpah, toh Degung tak hendak ketinggalan sekolah formal. Demikian, tahun 1961 ia tamat Sekolah Rakyat di Desa Sibetan. Apa lacur, begitu naik kelas III SMP Gunakarya tahun 1963 di Sibetan, sekolah keburu bubar. Kondisi politik, pecahnya gerakan Gestapu (Gerakan 30 September) 1965, menggiring Made Degung terkondisi gerakan politik massa. Cita-cita meneruskan pendidikan lebih tinggi gagal.

Inilah puncak hidup paling mengerikan sempat dialami. Ia menyaksikan pembunuhan keji dilakukan orang-orang Bali terhadap sesama. Menyaksikan dengan hati teriris gelimpangan mayat-mayat membusuk di Tukad Banjar Kreteg, Sibetan. Di antaranya ada yang tercabik-caabik anjing. Mayat-mayat ini harus digotong untuk dikebumikan di kuburan.

Dengan perasaan tertekan, perut mual akibat tak kuat mengendus bau busuk, Degung ikut menggotong mayat-mayat yang sudah kaku itu. “Ini pemandangan paling mengiris hati, tentu. Drama yang mengendapkan trauma panjang seorang pencinta hidup. “Bau busuk itu sampai kini tidak bisa saya lupakan. Tapi terpaksa, jenazah itu mesti dikubur seadanya,” kenang Made Degung.

foto oleh Gus GSartculture

Pasca hiruk-pikuk politik tahun 1965 menyadarkan Made Degung untuk tidak terbenam pada tragik zaman yang menyayat. Ia kemudian menjadi manusia “kamar,” membolak-balik lontar-lontar peninggalan orangtua. Belajar bahasa kawi secara teliti dari sang ayah, mulai membuka teks-teks kawi dengan gairah hendak mendalami isinya. Dengan demikian hampir semua teks Bali dan teks kawi ia baca satu persatu.

Tak terkira, di masa muda itu Degung mencapai puncak pembelajaran paling intens. Guna mencocokan kelebihan dan kekurangan suatu teks, tak jarang Degung terpaksa mengejar teks-teks itu dari satu geria ke geria lain. “Ya kalau tidak menguasai teks secara menyeluruh saya tidak merasa tenang, kesangsian senantiasa ada. Mengingat teks-teks itu disalin terus-menerus, kesalahan dan tafsir berbeda pasti terjadi” tukas Made Degung.

Dalam pembelajaran hidup, dua guru senantisa dikenang Made Degung, yakni: ayah dan paman sendiri. Tapi ia mengaku sangat mengagumi sosok pamannya, Ida Wayan Kompyang, pragina gambuh, Ketua Parisada Hindu Bali pertama di Karangasem, Prebekel Desa Budakeling yang buta huruf latin. Namun sangat terpelajar dalam peradaban keberaksaraan Bali. Tokoh ini terbilang guru besar dalam penguasaan teks-teks Bali, seorang mistikus sekaligus penghayat kebatinan yang intens. Kelak setelah didiksa (disucikan) mengambil nama Ida Pedanda Gede Wayan Jelantik Sidemen. Pada tokoh inilah Degung berguru abadi, mendalami sekaligus melakoni petunjuk-petunjuknya.

Dari tempaan dua guru ini, dalam usia tergolong muda, umur 20 tahun dalam status masih bujang, Made Degung “diwisuda,” disucikan menjadi balian, “dokter tradisional” Bali. Namun demikian di awal profesinya ia tetap dalam pengawasan sang ayah, konsultasi intensif senantiasa dilakukan. Bila pasien yang datang berlebih, tak jarang sang ayah harus berbagai tugas dengan Made. Demikian setelah menenetapkan diri menjadi dukun ia sangat hati-hati menjalani profesi, etik sebagai seorang “dokter tradisional” dipegang ketat.

Justru itulah Made Degung senantiasa ketat memegang ajaran Sang Bodha Kacapi, terutama menyangkut etik, aturan moral bagi seorang dukun. Pemahaman tentang asal-usul penyakit, asal-usul balian, serta asal-usul obat merupakan kompetensi dasar mesti dipenuhi. Para dukun kerap menyebut tiga kompetensi ini sebagai Sang Tiga Suwari – dalam bahasa medis boleh jadi diterjemahkan sebagai diagnosis, pronogsis, dan terapi. Sedikit beda dari pembelajaran dokter modern, seorang balian juga dituntut memahami manfaat rerajahan atau gambar magis sebagai sarana penolak, pencegahan penyakit.

Terlalu luas memang cakupan ilmu usada itu, penyakit tak saja dipahami secara teoritis melalui spesialisasinya, semisal pemilahan berjenis-jenis usada. Sebutlah Usada Netra, bidang penyakit mata. Usada Dalem, bidang penyakit dalam. Usada Kulit, bidang penyakit kulit, Usada Sasah Bebai, bidang penyakit mental, dan lain sebagainya.

Karenanya diperlukan tak semata kecerdasaan pikir. Kemampuan ekstra ketat menyangkut disiplin dalam, yang kelak akan menumbuhkan kecerdasan batin. Justru itu Made Degung kemudian menjalani retret diri, dengan hidup tanpa daging. Hal ini sejak lama dilakoni sebelum orang banyak mengembar-gemborkan hidup vegetarian. Degung percaya, penyembuh yang tidak menghargai sang mahahidup, kelak ditinggalkan energi sang maha penghidup.

Begitu banyak kelebihan dimiliki Made Degung. Tapi sebagai anak manusia ia tetap bersahaja, sederhana, rukun pada sesama. Ia bahagia jika setiap yang datang tersembuhkan. Karena upah paling utama seorang penyembuh tentu mendapat kesempatan menolong, alih-alih bisa menyembuhkan. Ini pula hakikat seorang balian, mengembalikan kondisi seseorang pada kodratnya yang hakiki, suci bersih tanpa cela.

I Wayan Westa

Artikel ini  telah di upload di:  https://www.facebook.com/wayan.westa

Nb. Catatan ini ditulis kurang lebih 18 tahun lalu dimuat di Majalah Gumi Bali SARAD.

Foto Gus GSartculture

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz
chevron-leftchevron-right