Ada banyak orang yang paham kalau manusia mesti menanam kesabaran. Bahkan kesabaran harus dipupuk sejak dini agar tumbuh seperti beringin. Beringin kesabaran itu yang meneduhkan penanamnya dan orang yang mau berteduh di bawahnya nanti. Untuk memupuk kesabaran, para ahli sastra jaman dulu membikin cerita tentang Dharma Wangsa yang sangat sabar. Barangkali tokoh ini sedang meniru pertiwi yang sangat sabar juga, meski diperlakukan dengan kejam. Bumi dikeruk tanahnya, diambil batu-batu mulianya, disedot minyak-minyaknya, diinjak-injak badannya, tapi bumi tidak pernah marah.

Dharma Wangsa pun begitu. Meski kerajaannya dirampas, kehormatannya ditindas, istrinya ditelanjangi, dia tetap pada pendiriannya yang sabar. Tetapi kita musti mau mengakui bahwa Dharma Wangsa hanya tokoh ideal yang dihadirkan pengarang untuk menunjukkan, menerangkan, mencontohkan ciri-ciri manusia penyabar. Selebihnya, manusia cenderung kalah dari ketidaksabaran.

Salah satu alat ukur kesabaran yang dimiliki oleh orang Bali adalah upacara. Di dalam upacara apa pun, terkandung beberapa hal yang bisa dimanfaatkan untuk mengukur kesabaran. Bila kesabaran tidak cukup, kita sebut saja keuletan, dedikasi.

Apa cirinya bahwa kita kehilangan kesabaran saat berupacara? Pertama, kita abai kepada wariga. Padahal wariga memberi kesempatan untuk menunggu, sambil menyiapkan segala sesuatunya agar maksimal. Di titik ini, kita sudah kalah melawan ketidaksabaran. Ada banyak aturan tentang upacara menurut pustaka yang dilanggar, karena kita dituntut serba cepat. Kalau tidak cepat, bisa-bisa akan digilas oleh kepentingan lainnya di luar upacara.

Kepentingan yang dimaksud, berupa kepentingan untuk bertahan secara ekonomi semisal pekerjaan yang dituntut selesai dengan cepat. Perubahan pola kerja sangat mempengaruhi cara berupacara. Malah perubahan ini merupakan penyebab yang paling kentara. Sangat mudah mengidentifikasi kebiasaan kita yang berubah karena pola kerja berubah.

Selain ekonomi, teknologi dan industri juga andil dalam perubahan itu. Contohnya, kita tidak lagi berpikir kalau panampahan Galungan digeser maju sehari akan memberi masalah pada kualitas daging karena sudah dibantu lemari es. Masuknya daging ke lemari es, merupakan bukti kalau pola hidup dan upacara memang sudah berubah.

Kedua, tekhnik menyiapkan kelengkapan upacara yang berubah. Untuk kasus ini, kita ambil contoh cara memasak. Ada banyak cara untuk memasak kelengkapan upacara yang dikenal di Bali. Entah itu menggoreng, merebus [lablab], mengukus [ngukus], membakar [ngebek, panggang], dan seterusnya. Meskipun semuanya dimasak dengan api, alat bantunya yang berbeda-beda. Ada alat bantu berupa minyak, ada air, dan ada bara.

Bila orang-orang percaya bahwa leluhurnya adalah manusia cerdas dan bijak, perubahan cara masak ini tidak akan terjadi. Sebab, beda cara masak, beda penyebutan. Beda penyebutan, beda barang. Beda barang berarti beda simbol. Karena simbol berbeda, maka maknanya pun berbeda. Hal ini sekaligus membuktikan, kebanyakan dari kita memang sudah berubah. Barangkali di antara kita yang berubah ini, ada kaum-kaum yang memasukkan dirinya sebagai kelompok konservatif yang menolak perubahan. Kaum-kaum yang menurut pandangannya sendiri menjaga keajegan tata upacara ala Bali.

Memang terkesan menyedihkan. Namun inilah kenyataan yang mesti diterima dengan lapang dada. Di tingkat paling luar dari agama Hindu-Bali, yakni upacara, kita sudah banyak berubah. Meski begitu, kita tidak perlu larut dalam kesedihan. Yang terpenting sekarang adalah bahwa kita mesti menyadari kita perlu lebih bersabar. Kesabaran adalah Dharma. Bila tidak punya kesabaran, sama artinya tidak punya Dharma. Bila Dharma saja tidak punya, mana mungkin merayakan kemenangannya. [*]

IGA Darma Putra

09.07.2022

 

Jalur lalu lintas Selat-Muncan, Karangasem macet pada hari Minggu,3 September 2017. Tampak iring-ringan masyarakat adat Selat Baledan (dahulu bernama Kanyuruhan) memenuhi jalur lalu lintas. Jalan yang setiap harinya didominasi truk pasir dan sepeda motor kini harus menyerahkan jalur mereka pada pejalan kaki yang yang berjalan mengenakan pakaian adat.

Mendung menggantung, disertai gerimis kecil, membuat siang tidak sepanas hari sebelumnya. Warga mengenakan pakaian adat berjalan beriringan dengan aparat Pakraman Adat  yang ditugaskan  mundut Ida Batara untuk melakukan perjalanan penyucian.

Seluruh Batara yang dipuja di Pekraman Selat Baledan turut serta dalam upacara Batara Lunga, baik dari pura desa, pura Merajan Panti/ Dadia. Tidak hanya itu, sesuhunan dari desa kekuub juga turut Lunga. “Desa-desa kekuub yang turut serta dalam Betara Lunga adalah Sebudi, Sogra, Presana dan Tegeh. Hal ini karena dahulunya  desa tersebut menjadi satu dengan desa Selat Baledan” kata Jro Mangku Wayan Gede Mustika memberikan penjelasan tentang Ida Betara yang ikut dalam Betara Lunga.

Betara Lunga sebenarnya mirip dengan upacara melasti yang umum dilakukan oleh masyarakat adat di Bali. Jika upacara Melasti biasanya dilaksanakan menjelang perayaan Hari Raya Nyepi (Tilem Kesange) maka di Pakraman Selat Baledan upacara ini dilaksanakan menjelang purnama ketiga. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan bahwa purnama ketiga merupakan purnama pertama dalam rangkaian sasih miik, bulan harum dimana berbagai upacara Dewa Yadnya akan dilaksanakan.

Upacara Betara Lunga yang diikuti oleh sebagian besar warga Pakraman mulai dari anak-anak, remaja, tua muda, bahkan beberapa warga di perantauan menyempatkan diri untuk hadir. Upacara yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun ini diselenggarakan di Toye Sah yang terletak di Pakraman Muncan yang berjarak sekitar 5,8 KM di barat Pakraman Selat Baledan.

Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki, dengan kesadarannya warga bergantian menghaturkan ayah untuk mundut Ida Batara. Pemandangan perumahan, sawah, sesekali gerimis menjadi lebat, menghiasi perjalanan, tidak ada wajah-wajah lelah yang tampak, mereka melangkah dengan suka cinta seolah sedang merayakan sebuah kemenangan.

             

Mendung dan udara dingin menjadi berkah yang mendukung perjalanan tersebut, seolah menjadi restu dari semesta sehingga perjalanan tidak akan seberat ketika dilakukan di tengah siang hari bolong yang panas.

Udara dingin yang membawa sedikit efek, rasa lapar yang menjadi semakin kentara ketika kalori dibakar. Beberapa orang mulai mengeluh rasa lapar yang datang meski perjalanan masih jauh dari lokasi yang dituju. Keluar dari wilayah jalan provinsi yang telah padat oleh rumah-rumah penduduk, pemandangan menjadi berubah ketika memasuki jalan desa yang semakin sempit, rimbun perdu bambu mengiringi  lintasan menurun yang kemudian disambut oleh hamparan sawah dan sebuah area suci yang lapang, tempat lokasi prosesi penyucian akan dilaksanakan.

Prosesi penyucian yang berlangsung rutin setiap tahunnya menjelang purnama ketiga serta menjadi rangkaian Ngusabe Emping. Tiap tahunnya lokasi upacara dilaksanakan di Toya Sah, baru pada tahun ke lima (setiap lima tahun) Ida Batara Lunga ke Segara. Seperti yang disampaikan Jro Mangku Wayan Gede Mustika “Setiap tahun memang ke Toya Sah, setiap 5 tahun sekali baru ke Buitan (pantai di Desa Buitan, Kecamatan Manggis, Karangasem) kalau di awal Batara Lunga ke pantai malah setiap 10 tahun sekali”.

Setelah prosesi penyucian selesai, Ida Batara kembali melalui jalur yang sama. Batara Ulun Desa akan disetanakan di Pura Puseh, pura dimana upacara Ngusabe Emping akan berlangsung. Sementara Ida Batara sesuhunan Merajan-panti-Dadia akan kembali ke pura Merajan-panti-Dadia masing-masing.

//l.t./

4 september 2017.

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz