Saya baru berkesempatan mendengar kembali Minatory saat Noerdy mengirimkan tautan videoklip "Intoleransi", respon pertama saya adalah "wow, they're still around, that's kool!" lalu bergegas menonton dan kaget dengan evolusi musik mereka; Intoleransi adalah lagu dengan riff berbasikan Blues lead menunggangi beat oldskool ala Overkill dengan ambang batas atas BPM.
Pengalaman pertama saya mendengar Minatory lewat ReverbNation sekitar tahun 2012-2013.
Saya masih ingat mengunduh "The Struggle for Victory" untuk playlist menyetir dan intens mendengarkan "Rebirth of Achilles" yang menjadi favorit saya; sebuah Metalcore modern yang menjadi soundtrack hidup di awal fase konsekuensi.

Karena itu pada saat Gus Wira menghubungi saya mengajak GEEKSSMILE berpartisipasi dalam launching LP perdana mereka Life Racer saya tidak berpikir panjang, hanya mengecek jadwal personnel yang lain untuk memastikan kesiapan mereka. Saya masih ingat membalas pesannya dengan "OK, let's make a great show Gus!"
Secara tematis, Life Racer menganalogikan hidup sebagai sebuah balapan roda 2 yang mengedepankan kecepatan sebagai faktor utama; sebuah tema yang secara kontras dipinjam dari Seringai; faktanya, album ini adalah contoh Seringai worship paling lugas yang pernah saya dengar.
Sebagai seorang Serigala Militia yang taat, saya bisa dengan akurat menyebutkan referensi riff maupun pola yang digunakan Minatory dalam tiap lagu dalam album ini, tapi tulisan pendek ini bukanlah sebuah ulasan melainkan sebuah apresiasi atas sebuah karya, persahabatan dan perjalanan; karena itu saya akan lebih banyak memberi masukan dengan harapan mereka akan terus berkarya.
Dalam konteks album perdana, Minatory mengeksekusinya dengan sangat baik; mereka melakukan evolusi secara musikal dengan tema yang sesuai dengan output. Tema balapan yang mereka usung sangat solid dan masih bisa dieksploitasi lebih dalam untuk rilisan selanjutnya. Contohnya, mereka bisa mengeksplorasi tema baru; touring yang saat diterjemahkan akan menjadi sebuah rilisan yang berisi satu lagu multi chapter dengan durasi 15-30 menit yang membahas aspek-aspek touring mulai dari nama tour, persiapan, nama motor yang digunakan, situasi dijalanan sampai perjalanan pulang; seperti versi mikro Dopesmoker.
Secara musikalitas, Life Racer sudah sangat keren; Minatory memiliki kemampuan menulis lagu yang sangat baik, ditunjang dengan skill masing-masing personel yang juga diatas rata-rata. Personally saya suka dengan permainan drum dan bass track di album ini; dapur pacu yang sangat solid dengan track bass yang berani. Sang vokalis memiliki karakter yang mudah dikenali dan bisa bernyanyi balada di "Suara yang Nyata", ini nilai plus disamping kemampuannya menggonggong di hampir semua lagu. Formasi gitar ganda masih bisa dimaksimalkan, terutama dalam sektor sound dan peran dalam mengisi bagian lagu. Saya hanya kurang sreg dengan hasil masteringnya saja, tapi lagi-lagi ini selera personal; mungkin saya terlalu banyak mendengar Black Metal.
Lagu sorotan: Melawan Depresi, Suara yang Nyata dan Tanked for You
Semoga tulisan ini memantik rasa penasaranmu mendengar Life Racer.
#MinatoryBali
Prima Yudhistira
12.02.2023
Michael Giacchino – The Batman: Original Motion Picture Soundtrack
Satu dari dua soundtrack film yang saya dengarkan secara intens, album ini adalah karya Michael Giacchino paling gelap yang pernah saya dengar.

Album ini memperdengarkan gaya khas beliau dalam membangun atmosfir menggunakan kombinasi perkusi dan string sustain yang kali ini dikawinkan dengan progresi epik nan depresif; intense, gritty, brutal tapi tetap elegan.
Saat dikombinasikan dengan sinematografi Matt Reeves, tidak mengherankan The Batman berhasil menggoyang podium The Dark Knight Trilogy Christopher Nolan.
Track Sorotan: Highway to the Anger Zone & Meow and You and Everyone We Know
Tips: Cocok diputar saat bekerja untuk zoning dan mencapai keadaan fokus yang cepat
Absent in Body – Plague God
Sebuah album yang mungkin menjadi kanal final Scott Kelly untuk memproyeksikan semua emosi negatifnya pasca didepak dari Neurosis dan pensiun; dalam statemen di facebook bulan Agustus lalu, beliau mengaku telah menganiaya istri dan anaknya selama bertahun-tahun sebelum memutuskan untuk pensiun dari musik.

Plague God adalah Scott Kelly menghancurkan pita suaranya diiringi riff abrasif Sludge/Doom dari Mathieu J. Vandekerckhove (Amenra) yang dikunci permainan tribal mid tempo khas Iggor Cavalera (Sepultura) dan Colin H. Van Eeckhout (Amenra) yang sesekali ikut bernyanyi merdu, memberikan warna Post-Metal; merefleksikan kebencian, keputusasaan dan penyesalan hidup.
Saya hampir selalu membenci diri sendiri setiap kali memutar album ini; terimakasih Scott Kelly sudah berani menjadi contoh yang buruk, semoga engkau menemukan apapun yang kau cari.
Track Sorotan: Rise from Ruins & The Half Rising Man
Tips: Baca liriknya sambil mendengar musik
Meshuggah – Immutable
Meshuggah belum pernah menghasilkan album buruk, karena mereka bermain di kelas yang mereka ciptakan sendiri dengan membalik analogi bagaimana seharusnya "metal" dimainkan, unkonvensional; elitis sejati.

Saya masih ingat pertama kali mendengar "The Demon's Name Is Surveillance" dari album Koloss dan berpikir "what the fuck i just heard?"; brutal level Gojira dengan tema lagu pandelengan, gila tingkat luar angkasa sesuai nama mereka.
Immutable adalah upaya ke 9 Meshuggah untuk memvisualisasikan gaya bermusik mereka, kali ini dengan tempo menengah yang lebih dapat diakses dalam sekali dengar; tidak sebrutal Koloss atau Catch Thirtythree; lebih melodis dengan time signature sakit jiwa yang menjadi tulang punggung groove mereka.
Track Sorotan: Broken Cog & I Am That Thirst
Tips: Untuk menikmati groove, fokus pada suara snare. Thank me later.
Carpenter Brut – Leather Terror

Leather Terror adalah Darksynth bernuansa Black Metal; direncanakan menjadi album ke 2 dari Leather Teeth Trilogy yang dibuka dengan rilisan tahun 2018.
Track Sorotan: Straight Outta Hell, Color Me Blood & Leather Terror
Trivia: Saya mulai mengikuti musik Carpenter Brut sejak EP I tahun 2012 karena kesukaan saya terhadap film Giallo, musik John Carpenter serta disko 80'an.
Rammstein – Zeit
Album kejutan dari Rammstein setelah album tanpa nama yang diluncurkan tahun 2019 lalu; Zeit tercipta dari sesi studio yang dilatarbelakangi lockdown saat mereka seharusnya melakukan tur.

Saya mengikuti Rammstein sejak Rosenrot, Mendengar "Benzin" pertama kali langsung membuat saya klik dengan formula musik mereka; simpel, operatic, to the point yang saat dikombinasikan dengan aksi panggung atau visual mereka yang megah nan mahal akan menggetarkan lutut menuntut takluk.
Chemistry mereka yang melegenda dan banyaknya waktu untuk fokus dengan musik sukses melahirkan album yang berkualitas setara pendahulunya.
I envy them so much; long live Neue Deutsche Härte!
Track Sorotan: Zick Zack, OK (Ohne Kondom) & Adieu
Trivia: Ray, gitaris dan direktur rekam GEEKSSMILE memasukkan unsur synthesizer pada bagian reff lagu Sword of Sound setelah mendengar Zick Zack.
Diamanda Galás – Broken Gargoyles
Hanya ada segelintir penyanyi wanita yang saya sebut diva; dalam ranah eksperimental ada Diamanda Galás.

Broken Gargoyles adalah 2 bagian experimental penuh teror dan kengerian, komposisi vokal Avant-garde yang menurut saya cocok untuk dipadukan atau menjadi musik pengiring pertunjukan seni artis macam Marina Abramović.
Tips: Dengarkan di ruang gelap dengan jeda 30 menit untuk setiap bagian; maximum haunting effect.
Dealer of Death – DIRRG
DIRRG adalah oplosan Oldskool Death Metal/Crust dengan topping breakdown Heavy Hardcore dan D-Beat yang digonggong manusia gua kanibal; spesies purba nan langka di skena.

Perjalanan sonik bawah tanah saya mengedepankan beberapa aspek pengalaman; pilihan subgenre, sound, tema lagu sampai faktor terpenting yaitu performa langsung yang dipenuhi DOD dengan baik.
Saya cukup beruntung bisa menyaksikan mereka secara langsung beberapa kali, pengalaman pertama saya mendengar mereka seperti mendengarkan High on Fire dengan blast beat; raw and delicious.
Tingkat kultus DOD yang terbilang baru di skena sudah setara dengan Woundeath dan Ranjau; mereka melakukan split adalah angan-angan saya.
Hail to the barbarian shock troops!
Track Sorotan: Sabda Api dan Dirrg Deddra Dillia
Tips: Putar dengan volume keras.
Pure Wrath – Hymn to the Woeful Hearts
"Whosoever is delighted in solitude is either a wild beast or a god." ~Aristotle

Cukup sulit untuk membayangkan mengkomposisi dan merekam album penuh se-epik ini sendirian; dari kutipan diatas banyak orang yang sukses melakukannya minimal akan mengklaim dirinya nabi, atau dalam konteks seorang Aquarian yang hidup di akhir Kali Yuga minimal harus membunuh seseorang untuk menunjukkan kesejatian.
Saya berbicara dari sudut pandang seorang musisi dan seorang Aquarian; friksi dengan individu lain dengan konteks menghasilkan karya adalah hal yang terkadang menguji kesabaran, yang hanya bisa diselamatkan dengan cinta pada musik lalu mengkomposisi resolusi dengan menganggap karya sebagai keturunan atau warisan yang bernyawa.
Jika Ascetic Eventide, album penuh perdana Pure Wrath membahas alam dengan depresif ala Atmospheric Black Metal umumnya, Hymn to the Woeful Hearts dengan indah dan berani membahas sebab akibat periode 65, saat samsara bangsa ini direkalibrasi oleh Orba dengan membantai 6,5 juta nyawa. True Masterpiece.
Track Sorotan: Years of Silence dan Footprints of the Lost Child
Trivia: Lagu-lagu di album penuh ini adalah salah satu nyanyian pengantar tidur favorit saya, setelah De Mysteriis Dom Sathanas Alive
Hans Zimmer – Dune: Original Motion Picture Soundtrack
Terkait dengan produksi musik GEEKSSMILE, saya sedang rajin mendengarkan komposisi yang menggunakan ketukan, progresi akord dan instrumen unkonvensional dalam aransemennya dengan tujuan untuk mendapatkan lebih banyak referensi dalam membentuk dinamis dan atmosfer pada lagu demi definisi visual tema yang lebih tinggi.

Parameter ini membuat saya menjelajah banyak album soundtrack film dalam 2 tahun terakhir, dan dari 10 album soundtrack, 3 diantaranya merupakan karya Hans Zimmer.
Album ini memenuhi seluruh parameter yang saya ciptakan, salah satu alas an dia bertahan selama 2 tahun; selain itu saya memutarnya hampir setiap pagi saat bekerja untuk mencapai keadaan fokus.
Track Sorotan: Gom Jabbar, Leaving Caladan & Burning Palms
Trivia: Masih banyak sekali aspek di album ini yang belum saya analisa secara mendalam, salah satunya adalah frekuensi suara yang dihasilkannya; pengalaman sama saya dapatkan saat memutar Big Church [Megszentségteleníthetetlenségeskedéseitekért] dari album Monoliths & Dimensions milik SUNN O)))
Prima Yudhistira
30 .12.2022
*Daftar pada tulisan ini dibuat dengan parameter berikut:
1. Data diambil dari media player di Inner Sanctum dan streaming service.
2. Urutan pada daftar tidak merepresentasikan peringkat.
3. Rilisan berbentuk LP, EP, Single dan album berisi materi penampilan langsung.
4. Tidak semua musik dirilis tahun 2022, beberapa rilisan yang bertahan padas daftar ini dirilis sejauh tahun 2016.
5. Daftar lengkap akan diunggah di "The Vault"; silakan cek secara berkala.