PM Toh merupakan epitel panggung dari Agus Nur Amal, seorang penutur hikayat (pendongeng) tradisional aceh.
Hari itu PM Toh tampil menceritakan sebuah hikayat tentang tubuh. penampilan beliau merupakan rangkaian dari pameran photograpy Denny Arivin AL bertajuk “These Are The Archives of Life”.
Pertunjukan berlangsung pada
Senin, 12 November 2018
Maha Art Gallery
Jl. Merdeka, Denpasar-Bali.
Sebuah dokumentasi kegiatan kolaboratif antara Luh De S. (sloka institut), Rudi W. (lingkara photo art) dan Peanut dog (komunitas pojok) dalam usaha mengkampanyekan penyelamatan garam amed yang terancam punah.
(Sebuah ingatan dari pameran These Are The Archives of life by Deny Arivin A.L a.k. Tarzan)
Kesibukan pramusaji, beberapa orang terlihat menghuni meja yang ditata yang diletakkan diluar ruangan, dikhususkan bagi pengunjung yang ingin menikmati asap tembakau, sambil mendengar alunan kendaraan yang memadati jalan merdeka, Denpasar. Beberapa orang lain menikamti kenyamanan AC dekat di meja dan kursi yang tertata di depan kasir.
Sebuah plang nama galeri memang terpasang di depan, MAHA Art. Plang nama tersebut masih terpasang bersanding dengan papan nama restoran yang juga menghuni area itu. Bagi orang yang belum pernah masuk untuk menghadiri sebuah acara di Maha Art pasti akan bingung mencari dimana sebenarnya lokasi galerinya.
Beberapa tahun lalu MAHA Art sempat menjadi ruang yang aktif digunakan oleh seniman muda untuk menggelar pameran, yang terlintas dengan cepat tentu sebuah acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Djamur dan satu lagi tentu saja pada tahun 2013 MAHA Art pernah digunakan untuk menjadi titik penyelenggaraan Bali yang Binal 5.
Dan setelah cukup lama tidak terdengar MAHA Art kembali menyelengarakan sebuah pameran foto. Jujur yang menarik keinginan untuk hadir kembali di MAHA Art bukan undangan pameran foto, melainkan sosok yang mengisi rangkaian acara pameran tersebut. PM Toh dengan teater tuturnya.

Setelah tim penyelenggara pameran sibuk berurusan dengan pemilik MAHA Art terkait birokrasi penyelengaraan pementasan PM Toh malam itu, akhirnya pementasan siap dilaksanakan setelah sekitar 2 batang rokok kretek habis terbakar ketika duduk menunggu di salah satu meja (tanpa memesan apapun).
Masuk melalui pintu kaca, melintasi meja kasir yang berdiri dengan komputer dan bill, kembali melewati pintu kaca sebelum masuk kedalam lorong penuh dengan aroma masakan yang membuat perut lapar. Setelah melalui semua itu baru akhirnya sebuah pintu kayu besar terbuka, mempersilahkan tamu malam itu untuk masuk ke dalam ruangan yang menyajikan sebuah proyektor diatas meja menetap dinding, barisan kaleng berdiri dalam jalinan instalasi listrk, dua buah foto yang menempel di tembok.
Mata hanya menangkap 2 buah foto yang tersaji di ruangan itu, selebihnya adalah instalasi kaleng dan proyektor. Bagi yang sempat membaca poster acara dan melihat dibubuhkannya label photography exhibition akan sedikit terkejut, kenapa sebuah pameran foto memajang lebih banyak kaleng daripada foto.
Tentu pertanyaan yang dipicu oleh pengalaman selama ini ketika menghadiri pameran foto, bahkan ketika foto yang tersebut tidak dicetak di kertas misalnya, foto tersebut disajikan sedemikian rupa hingga dengan mudah menarik mata hadirin yang datang.
Melihat 2 foto yang dengan mudah terlihat di dinding merupakan cara termudah untuk menikmati pameran tersebut. Satu foto seorang perempuan berkepala sapi, sedang duduk di pematang sawah dengan sebuah buku ditangannnya, sementara latarnya beberapa ekor kerbau menikmati keberadaannya dihamparan sawah hijau.
“Kumpul kebo” judul karya terebut, tentu banyangan yang terlitas apakah si pembuat karya sedang ingin memainkan istilah kumpul kebo, yang secara umum dipahami sebagai sebuah kegiatan yang cukup tabu dalam masyarakat.
Bahkan bayangan pertama muncul, “Baiklah, mewujudkan kumpul kebo dengan tampilan orang yang benar-benar berkumpul dengan kerbau,” lalu buku itu seolah menggambarkan sebuah masa, bukankah tidak jarang mereka yang berangkat dari kampungnya untuk alasan merantau sekolah. Dan di kota tempatnya menuntut ilmu kejadian kumpul kebo tersebut kemudian berlangsung, tapi entahlah itu bisa saja pandangan subjektif ketika melihat karya.
Sayangnya pandangan langsung sirna ketika kepala bergerak maju menuju gambar selanjutnya. Ketika kepala bergeser dan sudut melihat berubah ke arah sisi kanan bingkai foto, gambar tersebut berubah, gaunnya berganti pakaian minim, buku berganti laptop, dan kerbau menjadi yoga ball.
Tidak terasa kejutan tersebut cukup membuat bibir tersenyum, sebuah gerakan kepala mendorong perubahan sudut pandang, seolah menggabarkan perubahan waktu, “Kumpul kebo” seolah menggambarkan bagaimana kemajuan bergerak dan tidak bisa dihindari, mulai dari gaun elegan menjadi pakaian minim yang vulgar, buku menjadi laptop dari yang awalnya tangan hanya bisa memegang sebuah jendela dunia, kini dunia itu sendiri bisa berada dalam sebuah genggaman, dan yang lebih sial kerbau berubah menjadi yoga ball.
Bayangkan kerbau diganti dengan bola yang biasa digunakan untuk menjaga kesehatan dan bentuk tubuh. Begitu rakusnya manusia hingga pergeseran beberapa centimeter saja cukup untuk melahap semua kerbau, dan untuk memastikan apa yang dikonsumsi tersebut tidak merusak definisi akan kesehatan dan keindahan (kecantikan) dia menggantinya dengan yoga ball.
“Jangan-jangan mbaknya itu sedang menonton cara mengecilkan perut di youtube.” sekelebat komentar nyinyir tiba-tiba muncul di kepala.
Pembuat karya berhasil mengunakan tekhnik lektur untuk mengekspresikan pandangannya akan realita yang ditemuinya, secara vulgar dan gambalang.
Bergeser dari “Kumpul kebo” sebuah karya lain menunggu, sedikit datar, hanya celetukan kecil yang ada dikarya yang menarik, “Tarzan dislikes banana, but Warhol likes banana” dengan tampilan seorang perempuan memakai topeng monyet, berbikini bendera Amerika menggengam sebuah bunga matahari dan pisang.

Di Loe Bi
Proyektor masih belum menampilkan apapun selain cahaya yang menunjukkan bahwa ia siap untuk bekerja. Beberapa pengunjung yang lain asik menyambangi barisan kaleng satu persatu. Membungkukkan badannya, kemudian mendekatkan mata kedalam lubang kecil yang ada dalam kotak, menelisik apa yang ada didalam kotak.
Pengunjung dipaksa berinteraksi dengan kotak-kotak kaleng untuk bisa melihat kedalam kotak itu. untuk melihat apa yang diletakkan oleh si Tarzan dalam kotak instalasinya. Dan ketika kemudian mata mengintip melalui view door, maka akan terlihat barisan lampu-lampu kecil yang tursusun lurus menerangi sebuah foto. Foto yang di pajang dalam kotak menampilkan gadis dengan yang memperlihatkan organ intim mereka.
Pada sebuah kesempatan Tarzan menceritakan mengenai pilihan pengemasan penyajian karya Di Leo Bi. Karya yang disajikan dalam 50 kotak berukuran 20cm x 20cm memuat foto berukuran 10cm x 8,5cm, dan setiap foto yang diletakkan didalam kotak berasal dari model yang seluruhnya berbeda, itu artinya dia menggunakan 50 orang untuk menghasilkan karyanya,
50 foto perempuan yang berbeda disajikan dalam bentuk instalasi kotak juga untuk mencegah anak-anak yang (jika ada) menghadiri pameran tidak secara langsung melihat gambar-gambar tersebut, gambar yang masuk dalam kategori 18+ (menurut aturan penyiaran).
Mengintip satu persatu kotak, melihat konten dewasa yang disajikan seolah memunculkan kembali perasaan tarik menarik boleh-tidak-boleh dalam kepala, perdebatan ajaran moral yang dicekokkan dan mulai tumbuh melawan rasa ingin tahu sebagai naluri yang tidak kunjung jinak. Alhasil, kaki melangkah dari satu kotak ke kotak yang lainnya, tubuh membungkuk menempatkan mata tepat di depan lubang view door, mengintip ke dalam apa yang menjadi arsip dimiliki dan disembunyikan oleh si pemilik arsip dalam sebuah kotak.

Menarik kembali ke masa kanak-kanak dan keseruan mengintip apa yang mungkin tidak akan pernah diletakkan secara terbuka dan terang benderang, dan bukankah banyak pada akhirnya diketahui melalui kebiasaan yang tidak disarankan untuk dibiasakan (berdasarkan nasehat orang tua), mengintip dan menguping.
Di Loe Bi (dari DInosaurus; LOE (kamu, kata slang, merujuk lawan bicara); baBI) penyajian arisp paling intim dari pengalaman kehidupan si pemilik arsip, arsip yang bisa jadi oleh kebanyakan akan disimpan rapat-rapat, kalaupun keluar mungkin hanya berupa cerita pada sahabat terdekat.
Di Loe Bi yang jika dibaca menjadi di Lobi, sebuah ruang depan yang memberikan akses untuk masuk keruangan yang lebih dalam lagi, akses masuk menuju ke dalam arsip dan bagaimana arsip tersebut hadir. Bagaimana lobi yang dilakukan pemilik arsip (dalam hal ini Tarzan) hingga bisa mengarsipkan anggota tubuh paling intim dari 50 orang yang kemudian dihadirkan di ruangan dan bisa diintip hadirin datang ke pameran tersebut.
Dilobi tidak hanya tentang dinosaurus, kamu dan babi, tidak juga tentang ruang depan yang memunginkan terjadinya sebuah pertemuan, tetapi juga menunjukkan bagaimana proses lobi bekerja, bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain sehingga bisa memuluskan dan mengikuti dan mewujudkan orang yang melobi. Bahkan jika keinginan tersebut adalah untuk memiliki arsip terkait hal paling pribadi dari seseorang.
Belum lagi selesai, petualangan mengintip arsip harus segera diakhiri karena pertujukan utama malam itu, yaitu pertunjukan PM Toh akan segera dimulai. (cerita tentang pertunjukan di tulisan yang lain).
Sayangnya pemeran These Are The Archives of Life oleh Denny Arivin A.L a.k. Tarzan yang dikuratori oleh Frigidanto Agung sejatinya berlangsung 10-17 November 2018 harus berakhir lebih cepat. Tanggal 16 November karya-karyanya sudah diturunkan dari pemajangan, hal ini diakibatkan pihak MAHA Art sebagai lokasi pameran tiba-tiba menganggap pameran sudah berakhir tanggal 16 November dan hal itu tidak sesuai dengan perjanjian yang sebelumnya telah disepakati.
Tentu sikap MAHA Art tidak hanya mengecewakan si pemilik karya yang sedang berpameran, tetapi juga orang yang ingin melihat arsip kehidupan Tarzan. Sikap yang sangat disayangkan karena tentu saja memperlihatkan bagaimana cara MAHA Art memperlakukan seorang seniman dan menghormati karya yang berhasil diproduksi oleh seniman tersebut.
Diluar itu, sedikitnya perhatian publik Denpasar yang mengetahui pameran ini atau bahkan yang mengetahui MAHA Art (mungkin karena faktor publikasi), pameran ke-3 Tarzan di Bali (dua pameran lain sebelumnya berlangsung di Ubud, salah satunya di Luden Hause milik Gede Sayur pada tahun 2015) telah berlangsung, memberikan ruang bagi masyarakat Bali untuk melihat arsip kehidupannya, nazar untuk almarhum S. Teddy Darmawan (anggota taring padi) ditunaikan dan sebuah kutipan penutup sesi foto bersama setelah pertunjukan juga telah dipekikkan.

“Aku tarzan, kalian semua Binatang.” kutipan yang menggambarkan identitas si Tarzan, kemudian identitas yang terekam dalam arsip kehidupannya dipajang untuk bisa dilihat publik. Sebuah kejujuran untuk menunjukkan siapa Tarzan, Tarzan yang apa adanya, bagaimana dia melalui sebuah peristiwa dan bagaimana kemudian pengalaman-pengalam tersebut membetuk dirinya dan segala kemampuan dan cara pandangnya. Sebuah kejujuran bahwasanya di dunia Tarzan, yang ada hanya Tarzan, Binatang dan Jane, dan Tarzan menunjukan secara jujur bagaimana pertemuan dan usaha komunikasi untuk mengarsipkan Jane-Jane dalam hidupnya.
Sebagai penutup tulisan ini sebuah kata terima kasih pada Tarzan (Denny Arivin A.L) pengalaman mengintip arsip hidupnya dan selamat atas pameran yang berlangsung meski tempatnya telah mengecewakanmu. Semoga obrolan kita malam itu bersama arak tanpa Jane bisa memberikan sedikit penawar kekecewaan.
“Ya, loe dah yang Tarzan, gue mah hanya binatang.”
Salam dan sampai jumpa…
l.taji
19 November 2018