
Pada hari Kamis, 30 Nopember 2023, Teater Api Indonesia menampilkan karya produksi teranyar mereka sekaligus nanandai perjalanan 30 tahun Teater Api Indonesia. Karya yang diberi judul "Dinasti Bulldog" dipertontokan di Geoks Art Space, Singapadu, Gianyar Bali. penampilan kembali setelah terakhir kali pentas di Geoks pada tahun 2011.
Berikut merupakan foto-foto pementasan "Dinasti Bulldog" yang diabadikan oleh Luciana Ferrero
DINASTI BULLDOG
Karya: Teater Api Indonesia (https://teaterapiindonesia.com/ )
Sinopsis :
Bulldog adalah salah satu anjing ras tertua di dunia yang dikenal sebagai anjing petarung yang agresif dan tangguh. Anjing galak ini hanya patuh pada Tuan pemeliharanya yang telah memberinya kekuasaan untuk menjaga aset dan wilayahnya. Oleh karenanya untuk melanggengkan kekuasaannya, anjing jenis ini selalu menurunkannya pada keluarga dan kerabat terdekatnya : sebuah dinasti kekuasaan yang masif, dibangun dengan spirit yang brutal dan beringas.
Dinasti Bulldog hanyalah suatu analogi tentang dinasti yang tidak akan pernah mati karena runtuhnya abad kerajaan - kerajaan. Dia akan bermetamorfosis dan mewujud menjadi dinasti - dinasti baru pada industri - industri kapitalis, praktik - praktik kekuasaan pada pemerintahan, dsb.
Pertunjukkan ini terinspirasi dari naskah Die Hamletmachine, karya : Heinner Muller tahun 1977, dengan memulai babaknya di tengah reruntuhan Eropa, sebagai gambaran hancurnya sistem monarki ( dinasti ) yang peralihannya diganti zaman baru yakni abad kapitalisme industri : sebuah dinasti abad mesin - mesin, cerobong asap yang mengubur buruh - buruh pabrik dalam kubangan limbah - limbah pabrik.
Hegemoni sejarah dinasti yang tak akan pernah mati.
Sutradara: Luhur Kayungga
Aktor: M. Soleh, Slamet Gaprax, Wiji Utomo, Dedi Obenk, Naryo Pamenang, Estercita Golgota, Ridho
Pimpinan Produksi: Endang Pergiwati
Artistik: Akhmad Mansur
Tata Panggung: Mas Bro Dayat
Tata Lampu: Supriono
Musik: Mahamini Paksi
Dokumentasi: Taufiq Sholekhuddin
Orgeniser: RATA (Ruang Asah Tukad Abu)
Leviathan Lamalera adalah pertunjukan teater multimedia baru (teks, gambar, animasi, video interaktif, skenografi) yang melibatkan pelaku dari berbagai disiplin ilmu berbeda.
Laviathan Lamalera merupakan salah satu bagian dari rangkaian Prehistoric Soul.
Prehistoric Soul yang dihadirkan oleh Jonas Sestrakresna adalah sebuah konsep pertunjukan seni yang merekonstruksi kehidupan prasejarah melalui multimedia dan berbagai disiplin ilmu, untuk mengingatkan masyarakat akan kebutuhan dasar untuk tidak mengeksploitasi alam.
Info Laviathan Lamalera: http://www.prehistoricsoul.net/category/leviathan-lamalera/
Video berikut merupakan pementasan Laviathan Lamalera pada acara TEDx Ubud di tahun 2018
PM Toh merupakan epitel panggung dari Agus Nur Amal, seorang penutur hikayat (pendongeng) tradisional aceh.
Hari itu PM Toh tampil menceritakan sebuah hikayat tentang tubuh. penampilan beliau merupakan rangkaian dari pameran photograpy Denny Arivin AL bertajuk “These Are The Archives of Life”.
Pertunjukan berlangsung pada
Senin, 12 November 2018
Maha Art Gallery
Jl. Merdeka, Denpasar-Bali.
Hidup adalah restoran yang sangat besar dengan sajian banyak menu. Ada yang bisa memilih menu yang diinginkan. Ada yang memang dipilihkan. Namun ada juga yang tidk punya pilihan.
Maka mari datang. Merasakan tiga menu masa depan yang disajikan oleh tiga perempuan. Sambil menerka-nerka dalam hati, “menu apa yang tersaji untuk saya?”
Pementasan Monolog “Menu Masa Depan”
oleh Komunitas Mahima X Guntur Corner
Jumat, 29 Juni 2018
Jl. Buluh Indah, Denpasar-Bali
Team Produksi:
Pimpro: Desi Nurani
Sutradara: Wulan Saraswati
Naskah: Putri Adityarini & Mirah Aryani
Pemain: Devy Gita, Ernawati & Putri Puspita
Artistik/poster: Virginia H.
Ilustrasi Musik: Akar Narwastu & Candra Puspita
Video Ilustrasi: Dea Chessa & Rina Wijayanti
Publikasi: Candra Puspita & Devy Gita
Logistik: Ernawati & Putri Puspita
Video: //ra
I Ni Ar(t)chive 2021
Tulisan pengantar diambil dari unggahan poster di akun Instagram @komunitasmahima
Blue Is The Colour of Love
DarahRouge dikenal karena teater canggihnya yang mengangkat isu-isu kontemporer seperti pertunjukan “Menjahit Marat Sade” “cooking and Murder” “Bule”, “Transisi” dan pertunjukan terbarunya “Blou is The Colour of Love” yang akan ditampilkan di Bali, Bandung dan Jakarta pada bulan Juni 2018.
Disutradarai oleh seniman pertunjukan dan penyair yang bernama imang susu dan dikembangkan bersaman actor bernama Karensa Dewantoro, “Blue Is The Colour Of Love” adalah dialog yang perlu kita perbincangkan tentang isu-isu budaya pernikahan di Indonesia, dating-app, dan dunia perkencanan.
Ini adalah sebuah pertunjukan yang memadukan cabaret sopan, sirkus dan teater absurd. Mengeksplorasi bagaimana orang-orang melukai diri mereka sendiri, serta cara masyarakat menyakiti orang lain: pernikahan terlalu rumit untuk diterjemahkan dan ditafsirkan oleh masyarakat tersebut.
Cinta itu sangat sederhana, tapi bisa dengan mudah berubah menjadi kebencian. Kita hidup di dunia yang mana tampaknya cinta adalah satu-satunya sumber dari segala bentuk kejahatan.
Ini adalah perjalanan rollercoaster lucu melalui cinta, penolakan dan pengampunan, serta memunculkan pertanyaan tentang arah masyarakat kita.
“Blue Is The Colour Of Love” sebelumya dan untuk pertama kalinya di Universitas Islam 45, Bekasi, pada tanggal 28 April 2018.
Kali ini (itu),pertunjukan “Blue Is The Colour Of Love” akan hadir pada:
selasa, 12 Juni 2018
20.00 wita
Taman Baca Kesiman
Jl. Sedap Malam 234, Denpasar-Bali.
Tulisan pengantar diambil dari unggahan poster di akun Instagram @tamanbacakesiman
"Time Zone" sebuah karya seni pertunjukan (performance art) yang memadukan tari dan visual (video) mapping. Sebuah karya yang dibuat dan dipentaskan secara kolaboratif antara Komang Adi Pranata (dari Komunitas Manubada) berkolaborasi dengan GVNGARIK (visual mapping).
"Time Zene" di pentaskan pada pameran Time Zone Exhibition yang berlangsung pada:
tanggal: 4 Maret 2021
tempat: Ubud, Gianyar-Bali. '
video: //ra.
(1 Mei 2018)
Bicara tetang acara ini harus dimulai dengan Kulidan Kitchen, lokasi berlangsungnya acara. Kulidan memiliki sebuah halaman yang luas dan sebuah gedung dengan dua lantai.
Perempuan mahima sebagai kelompok teater yang malam itu mementaskan naskah berjudul “Malala” kemudian membagi ketiga ruang tersebut dengan 3 buah monolog yang (sebenarnya bisa) berdiri sendiri sekaligus mewakili tiga masa dan ketika dirangkai menjadi sebuah pementasan utuh.
Sebuah pementasan yang menggambarkan kepekaan dalam memanfaatkan ruang untuk membangun sebuah cerita. Cerita Malala yang dipentaskan malam itu menjadi menarik ketika bagaimana konteks Malala diterjemahkan oleh Perempuan Mahima (yag berlatar belakang pendidik) dan ditarik kedalam konteks perempuan Bali dengan segala tantangannya hari ini.
Sebuah cerita reflektif, mungkin itu yang bisa menggambarkan acara malam itu.
Berikut video penampilan mereka: