Indira Laksmi hadir sebagai pelopor fashion Bali yang memadukan sentuhan klasik, etnik, dan kontemporer. Sejak berdiri pada tahun 2016, Indira Laksmi berkomitmen untuk menghidupkan kembali tradisi, budaya, dan adat istiadat melalui karya yang tak lekang oleh waktu. Lebih dari sekedar momen spesial, melainkan warisan yang abadi.

Dengan pandangan bahwa kecantikan sejati adalah keiklasan, Indira Laksmi terus berkarya menghadirkan busana yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyentuh jiwa.

Pada tanggal 30 Agustus 2025, Indira Laksmi menggelar pameran dengan tajuk “From Sketch To Soul” yang berlokasi di studio Indira Laksmi dan Tegal Temu Space. From Sketch To Soul adalah sebuah pameran kreatif dan pertemuan intim yang mengajak tamu untuk melihat lebih dekat perjalanan di balik setiap karya Indira Laksmi.

Pameran ini tidak hanya menampilkan hasil akhir berupa busana, tetapi juga membuka proses dibaliknya, mulai dari sketsa awal, inspirasi, hingga detail pengerjaan yang penuh makna. Melalui instalasi visual, sesi interaktif, hingga perbincangan santai bersama desainer, para tamu diajak memahami bagaimana sebuah sketsa sederhana dapat berkembang menjadi sebuah cerita visual. Lebih dari sekedar pameran, From Sketch To Soul adalah perayaan atas proses, kreativitas, dan jiwa yang tertuang dalam setiap garis, kain, dan cerita.

Pameran dimulai dengan sesi registrasi oleh pengunjung pada pukul 15.30 WITA, kemudian dilanjutkan dengan opening by MC, opening speech by Gung Ama. Setelah itu dilanjutkan dengan house tour di studio Indira Laksmi yang dimulai dari ruang depan yang dihiasi benang menjuntai dan dua manekin yang distyling dengan wardrobe Idup Panak, kemudian tamu digiring ke ruang wardrobe yang terpajang kain-kain milik Indira. Setelahnya tamu diajak menuju ruang make up, terdapat dinding yang dihiasi dengan foto-foto klien menggunakan kain dan make up Indira Laksmi. Terdapat Sketch Wall Installation yaitu showcase semua sketsa koleksi Indira Laksmi, dinding galeri berisi deretan sketsa arsip yang dibingkai. Sebagai background foto.

Setelah house tour pengunjung diarahkan untuk menuju teras Indira Laksmi, area interaktif tempat tamu dapat menambahkan coretan, catatan kecil / inspirasi mereka. Tamu diarahkan untuk mewarnai sketsa dengan cat warna bebas yang telah disediakan.

Dalam pameran ini juga terdapat talk sesion bersama Ayu Suma, designer & conceptor dari Indira Laksmi dengan Idon Pande sebagai moderator. Dalam sesi ini Ayu Suma menyampaikan bahwa pameran ini adalah perayaan untuk proses mereka di Indira Laksmi. “membuat acara ‘From Sketch To Soul’ ini adalah perayaan untuk proses kami, jadi merayakan perjalanan kami. Dari proses ini kami menceritakan bahwa di Pameran proses tadi, Indira Laksmi ini tidak hanya menciptakan suatu karya yang indah tapi juga memikirkan bagaimana karya ini bisa menyentuh jiwa dan emosi dari klien yang akan memakainya.” Jelas Ayu Suma dalam talk sesion pameran.

Ayu Suma menyampaikan tantangan selama berkarya adalah dalam memadukan rasa antara desainer, klien, dan photographer yang memiliki karakteristik yang berbeda karena Indira Laksmi berhubungan erat dengan ketiga elemen tersebut. “Sebenernya proses berkarya itu, kesulitannya adalah dalam menyatukan rasa antara kami yang mendesain, dengan klien, dan si photographer. Karena jujur Indira Laksmi, hubungannya dengan tiga hal itu.” Terang Ayu Suma. Hal tersebut menjadi tantangan untuk menghasilkan sebuah karya yang sempurna.

Ayu Suma juga menyampaikan bahwa sebuah sketsa dikatakan sudah layak diwujudkan ketika semua sudah satu rasa antara proporsi tubuh klien, estetika, warna, hingga perpaduan motif. Ketika elemen tersebut sudah satu rasa, maka sebuah sketsa dapat dikatakan layak untuk diwujudkan.

Beberapa tamu yang hadir juga menyampaikan kesan mereka selama mengikuti house tour. Nazmi salah satu tamu yang hadir mengatakan “saya pertama kali melihat Indira Laksmi dari Instagram, saya dari Tabanan datang ingin melihat bagaimana proses kreatif dari Indira Laksmi. Satu benang memiliki filosofi yang mendalam bagi saya”.

“saya benar-benar merasakan aura yang dikeluarkan dari sejarah kain. Dalam artian Indira Laksmi benar-benar menggali sejarah dari leluhur kita, trus dijadikan sebuah kain. Selain menjaga, Indira Laksmi juga membentuk kain baru seperti Bapang, Jatayu. Tidak semua orang bisa mengekspresikannya menjadi sebuah rasa.” Ujar Maha Made, salah satu tamu yang mengikuti pameran ini.

“Yang paling saya rasakan itu pertama kali, bangga banget sama Indira Laksmi. Melihat perkembangannya sangat pesat, saya selalu merasa disini sudah seperti rumah.” Ucap Nindi, salah satu tamu dari pameran Indira Laksmi dalam talk sesion yang membagikan kesannya.

Bagian yang paling dinantikan oleh Ayu Suma adalah respon dari para tamu yang hadir dan mengikuti pameran ini terhadap karya-karya Indira Laksmi. “sebenarnya yang paling saya nantikan adalah respon kalian terhadap karya-karya kami di atas, yang kami kerjakan bersama-sama, responnya apakah berhasil atau bagaimana.” Ungkap Ayu Suma.

Setelah talk sesion, dalam sesi Story Behind the Sketch, menampilkan kisah pendek tentang inspirasi di balik beberapa karya dengan ditayangkannya video dokumenter Idup Panak. Setelahnya dilanjutkan dengan Art perfoming by kitapoleng, live Sketching by Ayu Suma, dan digital mapping by Almarira & Kokoksaja, closing permomance dari pameran ini adalah penampilan live acoustic by Gung Doni & Friend.

Melalui pameran ini Ayu Suma ingin memperlihatkan kepada tamu bagaimana proses dari Indira Laksmi, merasakan bagaimana Indira Laksmi berproses. Bukan hanya menghasilkan karya yang indah, tapi juga melewati proses yang panjang. Dari penggambaran sketsa sampai dengan proses fitting dengan klien. Banyak warna dan aksesoris yang dipadukan untuk membuat klien terlihat cantik nan menawan.

“Halo, Aku adalah interpretasi dari apa yang kalian inginkan, dari warna, dari karakter, dari emosi yang kalian inginkan, dan aku siap jadikan kenyataan.” –Ayu Suma, saat menjawab pertanyaan “jika sketsa bisa bicara, cerita apa yang ingin mereka sampaikan?” []

G.A. Made Widiadnyani

PM Toh merupakan epitel panggung dari Agus Nur Amal, seorang penutur hikayat (pendongeng) tradisional aceh.

Hari itu PM Toh tampil menceritakan sebuah hikayat tentang tubuh. penampilan beliau merupakan rangkaian dari pameran photograpy Denny Arivin AL bertajuk “These Are The Archives of Life”.

Pertunjukan berlangsung pada
Senin, 12 November 2018

Maha Art Gallery

Jl. Merdeka, Denpasar-Bali.

(Sebuah Pengantar Pameran "Get In Touch with Prasi")

Prasi identik dengan  bentuk seni gambar diatas daun rontal. Gambar dalam karya prasi dihadirkan dengan teknik menoreh diatas daun rontal dengan pisau khusus bernama pengrupak1. Selanjutnya torehan tersebut digosok dengan pigmen yang dihasilkan dari minyak biji buah tingkih (kemiri).  Prasi pada mulanya identik sebagai bentuk karya seni yang berada dalam irisan antara sastra dan seni rupa. Karena struktur gambar yang naratif dengan karakter ilustratif, tak jarang pula didalam gambar – gambar diatas daun rontal tersebut terdapat teks aksara yang berasal dari kakawin ,kidung dan bentuk karya sastra tradisional lainya di Bali. Namun ada pula prasi yang tanpa tulisan (aksara), seperti prasi Kidung Dampati Lalangon yang justru tanpa tulisan2.

Soal penggunaan tulisan dalam prasi klasik ini dikenal dalam dua pakem . Yang pertama adalah grantang basa yakni teks yang ditulis adalah teks asli dari naskah naskah kakawin atau teks lainya yang biasanya memakai bahasa jawa kuno. Teks tersebut dikomposisikan sade- mikian rupa dengan gambar sebagai ilustrasinya, kerap kali antara teks yang satu dengan teks yang lainya dihubung- kan dengan garis garis putus putus untuk mempermudah pembaca dalam membaca teks tersebut. Pakem yang kedua adalah gancaran. Tak seperti pakem grantang basa yang menempatkan teks pada permukaan lontar yang digambar pakem gancaran ini menempatkan keterangan nama nama tokoh dan cerita dibalik permukaan lontar yang digambar tersebut3.

Tradisi menggambar di atas daun rontal ini ternyata tak hanya tumbuh dalam tradisi masyarakat Bali. Persebaran tradisi ini terjadi di Asia Selatan  dan Asia Tenggara. Hal ini misalnya terlihat dalam sebuah pameran yang bertajuk “Turning Over ; Palm Leaf Work From South And South East Asia” yang berlangsung di San Francisco pada bulan Oktober 2019 – Januari 2020, menampilkan karya – karya gambar diatas daun lontar dari India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand dan Indonesia khususnya Bali4. Di Bali sendiri persebaran tradisi menggambar diatas daun rontal ini menyebar di beberapa daerah seperti Karangasem dan Buleleng serta daerah daerah lainya di Bali.Dalam perkembanganya hari ini berbagai inovasi terjadi dalam karya Prasi. Karakter naratif dan ilustratif menjadi bukan lagi satu satunya karakter yang ada pada karya prasi. Hadirnya gambar gambar tunggal dalam karya bermaterialkan daun rontal ini serta adanya perluasan tematik dan cara presentasinya membuat karya prasi terus bergerak dan berkembang. . Hal ini memperlihatkan betapa prasi sebagai karya terus bergerak melampaui konvensi-konvensi yang tak kunjung usai dan menyisakan banyak pertanyaan atau luput dari perbincangan selama ini. Inilah salah satu problematika dalam dinamika perkembangan prasi yang sesungguhnya menarik dan memantik perbincangan lebih jauh.

Salah satu komunitas perupa muda Bali yang intens menggali dan mengeksplorasi Prasi  dalam berkarya adalah komunitas Oprasi. Komunitas yang terbentuk tahun 2018 ini juga diniatkan sebagai wadah bersama dalam mengeksplorasi berbagai kemungkinan dalam pengembangan karya Prasi, mulai dari tematik, teknik dan berbagai kemungkinan cara presentasinya.Selain dalam eksplorasi kekaryaan, dalam komunitas Oprasi juga mulai tumbuh kesadaran untuk berupaya belajar bersama – sama menggali dari berbagai sumber ihwal eksistensi karya Prasi dalam kebudayaan Bali. Disamping itu komunitas ini juga memiliki kesadaran untuk mengajak publik yang lebih luas untuk lebih dekat dengan karya Prasi. Maka tercetuslah sebuah pameran yang bertajuk “ Get In Toch With Prasi” yang bermakna lebih dekat dengan Prasi. Pameran yang berlangsung di Ruang Antara Studio ini diformat dengan cara yang berbeda dengan berupaya membangun kedekatan atau keintiman antara para pengunjung dengan karya prasi. Para pengunjung yang hadir (dengan reservasi ataupun undangan) akan diajak berbincang secara lebih akrab dengan para perupa, mulai dari menjelaskan tentang karya mereka hingga berbagai teknik dengan mengajak para pengunjung mencoba membuat karya prasi. Disamping itu akan pula diundang sejumlah tokoh yang berkompeten pada dan intens dengan karya  Prasi untuk berbincang dan membagi perspektif mereka tentang prasi dalam peristiwa dialogis yang cair dan penuh keakraban. Atas dasar pemikiran inilah pameran ini dihadirkan.

Melihat karya yang dihadirkan dalam pameran ini memperlihatkan keanekaragaman gagasan para anggota dari komunitas Oprasi. Secara pilihan karakteristik cara ungkap gambar misalnya sebagian peserta memperlihatkan cara ungkap gambar yang naratif dan ilustratif serta secara tematik masih khusuk menghadirkan narasi yang diambil dari epos Mahabarata dan Ramayana dan teks yang digali dari khasanah susastra Bali lainya. Lihatlah karya Agung Mandala, Astangga Wahyu, Susila, Wahyu, menghadirkan karya yang naratif setiap fragmen fragmen cerita ditampilkan diatas permukaan helai demi helai daun rontal. Sedangkan Nana Partha Wijaya menghadirkan karya yang tidak menampilkan kisah epos Mahabarata Ramayana dengan karakteristik rupa wayang , namun dari cerita rakyat  yang berkembang di Bali Utara yakni cerita Jaya Prana dan Layon Sari dengan karakter gambar realistik.

Sedangkan Kadek Wira Dinata, Putu Dika Pratama, dan Made Wijana menghadirkan karya naratif namun perlakuan mereka atas penyajian satu penggalan fragmen tertentu bukan dalam helai demi helai daun rontal. Mereka menyusun helaian rontal tersebut menjadi serupa bidang gambar yang melebar lalu digambar sesuai dengan narasi yang dihadirkan dalam karya mereka. Perlakuan mereka atas daun rontal dalam menyajikan aspek naratif serupa lukisan yang tidak menghadirkan aspek sekuential layaknya komik atau cerita bergambar. Sedangkan Putu Yoga Satyadi Mahardika menginterpretasi Pawukon5 dalam karyanya.

Kehadiran gambar gambar tunggal terlihat pada karya Putu Dudik Ariawan dan Mizanul Haq. Sedangkan karya Ida Bagus Sindu Prasetya dan Ema Kusmilawati menghadirkan material campuran antara daun rontal dan plat tembaga yang dietsa pada karya Sindu, serta material campuran antara daun rontal dan plat kuningan yang dibuat dengan teknik suntikan. Sedangkan Wayan Trisnayana khusuk dalam kegelisahan mengeksplorasi warna dalam karya – karyanya. Karya Kadek Joning Prayoga menghadirkan cara perlakuan yang berbeda diatas daun rontal Ia tak cukup menoreh daun rontal tapi memotong pinggiran – pinggiran gambarnya.

Demikianlah sekelumit pembacaan yang kami hadirkan atas pameran komunitas Oprasi ini. Sebagai sebuah komunitas, Oprasi menarik untuk dilihat sebagai sebuah komunitas yang secara khusus suntuk atas pilihan media yang spesifik yakni prasi yang bisa terus dikembangkan secara masif.

Gurat Art Project

7 Juni 2021

Catatan

  1. Sejenis pisau khusus dengan ujung yang runcing secara spesifik juga dipakai dalam tradisi nyurat atau menulis aksara diatas daun rontal.
  2. Wawancara komunitas Oprasi dengan peneliti dan akademisi sastra Bali , Gede Gita Purnama
  3. Wawancara komunitas Oprasi dengan praktisi prasi Gusti Bagus Sudiasta dari desa Bungkulan Singaraja
  4. Sebuah pameran yang digelar oleh San Francisco Center For The Book. Empat orang anggota kelompok Oprasi mendapat kesempatan dalam mengikuti pameran tersebut yakni Putu Dudik Ariawan, Putu Nana Partha Wijaya, Ida Bagus Komang Sindu Prasetya dan Wayan Trisnayana
  5. Pawukon adalah sistem perhitungan mingguan dalam sistem astrologi dan penanggalan bali.

Sebuah pameran seni telah diselenggarakan oleh kawan-kawan "Street Conection" pada tanggal 11 Juni sampai 18 Juni 2021, bertempat di Parigata Alternative Space, jl. Farigata, no. 13, Dauh Peken - Tabanan.

Pameran yang berlangsung selama seminggu ini merupakan sebuah pameran kelompok yang diikuti oleh 32 seniman, masing-masing seniman membawa satu buah karya seni dengan kanvas sebagai media utama, dengan tujuan untuk membangun koneksi antara sesama seniman, komunitas dan individu. Selain itu pameran ini juga membuka donasi yang ditujukan kepada salah satu ruang belajar didaerah Mambang, Selemadeg Timur yaitu Ruang Baca Kreatifitas Mambang.

Pameran dibuka pada tanggal 11 Juni 2021 dengan agenda hari pertama yaitu; bincang santai bersama seniman, kemudian akustik yang diisi oleh Lentera, Pandu Sukma, Badik Tilu dan Lizen, dan teatrikal puisi yang diisi oleh Devy Gita. Acara dibuka mulai pukul 16.00 Wita sampai pukul 22.00 Wita. Selain bincang santai dan akustik, ada juga tattoo colabs oleh Gede Rian, Erik Surya dan Agus Wijaya. Tentu pengunjung dihari pertama sebagai pembukaan pameran ini membludak luar biasa ramainya.

Pameran masih berlanjut di hari-hari berikutnya, guna memaksimalkan acara pameran, beberapa kegiatan pun dilakukan seperti dihari ke-2 pameran yaitu 12 Juni 2021 diisi dengan workshop "Paint & Drawing on Textile" yang diisi oleh Setiadi Nolep. Workshop kali ini menggunakan limbah tekstil (pakaian layak pakai) sebagai media, yang direspon oleh peserta workshop dengan cat lukis yang telah disediakan oleh pengisi workshop. Ada yang menggunakan topi sebagai media, baju bahkan hingga sepatu.

Dan hari ke-4, Senin 14 Juni diadakan nonton bareng film "Indonesia Merdeka" dan diskusi yang diisi oleh Made Argawa sebagai moderator dan I Gede Kamajaya sebagai pemantik diskusi, dengan tema "Soekarno Pacsa Kolonialisme". Acara berlangsung sangat intim, ditemani gorengan dan kopi.

Di hari ke-5, Selasa 15 Juni agenda masih sama, yaitu diisi dengan nonton bareng film "KPK EndGame" garapan watchdoc. Film ini menjadi salah satu pilihan agenda pameran dengan tujuan mengangkat isu upaya pelemahan KPK oleh pemerintah.

Selanjutnya, di hari ke-6, Kamis 17 Juni diisi dengan bincang santai "Tiba-tiba Bicara Arsip", yaitu bincang-bincang seputaran upaya pengarsipan bersama I Ni Ar(t)chive, yaitu bagaimana upaya kita mengarsipkan/membuat dokumentasi suatu hal baik itu karya seni, musik dan yang lain dalam bentuk foto, video maupun tulisan.

Itulah beberapa kegiatan yang diisi selama pameran berlangsung, dan hari terakhir, yaitu penutupan pameran, Jumat 18 Juni diisi dengan agenda ; Music Perform oleh Mantra, Live Painting/Mural diisi oleh Himawari, Lost Mind, Mahaguna, Ari Kiss, Indra Tattoo, dan Possed to Die, serta Tatto Trade yang diisi oleh Gede Rian, Erik Surya, Agus Wijaya, Nanda Art Tattoo, dan Anggi Ayuning. Tatto Trade kali ini tidak berbayar dengan uang melainkan dibarter dengan sembako.

Selama berlangsungnya acara tentu banyak hal yang didapat, terutama antusias para seniman, dan kawan-kawan yang melibatkan diri ambil andil dalam acara ini. Harapan mulai muncul, semangat membangun koneksi antara yang satu dengan yang lain tentunya mulai terbangun, lalu kemudian bagaimana semangat gotong royong pun tumbuh bersama melalui acara ini.

Kusuma Putra

27 Juni 2021

(Sebuah ingatan dari pameran These Are The Archives of life by Deny Arivin A.L a.k. Tarzan)

Kesibukan pramusaji, beberapa orang terlihat menghuni meja yang ditata yang diletakkan diluar ruangan, dikhususkan bagi pengunjung yang ingin menikmati asap tembakau, sambil mendengar alunan kendaraan yang memadati jalan merdeka, Denpasar. Beberapa orang lain menikamti kenyamanan AC dekat di meja dan kursi yang tertata di depan kasir.

Sebuah plang nama galeri memang terpasang di depan, MAHA Art. Plang nama tersebut masih terpasang bersanding dengan papan nama restoran yang juga menghuni area itu. Bagi orang yang belum pernah masuk untuk menghadiri sebuah acara di Maha Art pasti akan bingung mencari dimana sebenarnya lokasi galerinya.

Beberapa tahun lalu MAHA Art sempat menjadi ruang yang aktif digunakan oleh seniman muda untuk menggelar pameran, yang terlintas dengan cepat tentu sebuah acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Djamur dan satu lagi tentu saja pada tahun 2013 MAHA Art pernah digunakan untuk menjadi titik penyelenggaraan Bali yang Binal 5.

Dan setelah cukup lama tidak terdengar MAHA Art kembali menyelengarakan sebuah pameran foto. Jujur yang menarik keinginan untuk hadir kembali di MAHA Art bukan undangan pameran foto, melainkan sosok yang mengisi rangkaian acara pameran tersebut. PM Toh dengan teater tuturnya.

Setelah tim penyelenggara pameran sibuk berurusan dengan pemilik MAHA Art terkait birokrasi penyelengaraan pementasan PM Toh malam itu, akhirnya pementasan siap dilaksanakan setelah sekitar 2 batang rokok kretek habis terbakar ketika duduk menunggu di salah satu meja (tanpa memesan apapun).

Masuk melalui pintu kaca, melintasi meja kasir yang berdiri dengan komputer dan bill, kembali melewati pintu kaca sebelum masuk kedalam lorong penuh dengan aroma masakan yang membuat perut lapar. Setelah melalui semua itu baru akhirnya sebuah pintu kayu besar terbuka, mempersilahkan tamu malam itu untuk masuk ke dalam ruangan yang menyajikan sebuah proyektor diatas meja menetap dinding, barisan kaleng berdiri dalam jalinan instalasi listrk, dua buah foto yang menempel di tembok.

Mata hanya menangkap 2 buah foto yang tersaji di ruangan itu, selebihnya adalah instalasi kaleng dan proyektor. Bagi yang sempat membaca poster acara dan melihat dibubuhkannya label photography exhibition akan sedikit terkejut, kenapa sebuah pameran foto memajang lebih banyak kaleng daripada foto.

Tentu pertanyaan yang dipicu oleh pengalaman selama ini ketika menghadiri pameran foto, bahkan ketika foto yang tersebut tidak dicetak di kertas misalnya, foto tersebut disajikan sedemikian rupa hingga dengan mudah menarik mata hadirin yang datang.

Melihat 2 foto yang dengan mudah terlihat di dinding merupakan cara termudah untuk menikmati pameran tersebut. Satu foto seorang perempuan berkepala sapi, sedang duduk di pematang sawah dengan sebuah buku ditangannnya, sementara latarnya beberapa ekor kerbau menikmati keberadaannya dihamparan sawah hijau.

“Kumpul kebo” judul karya terebut, tentu banyangan yang terlitas apakah si pembuat karya sedang ingin memainkan istilah kumpul kebo, yang secara umum dipahami sebagai sebuah kegiatan yang cukup tabu dalam masyarakat.

Bahkan bayangan pertama muncul, “Baiklah, mewujudkan kumpul kebo dengan tampilan orang yang benar-benar berkumpul dengan kerbau,” lalu buku itu seolah menggambarkan sebuah masa, bukankah tidak jarang mereka yang berangkat dari kampungnya untuk alasan merantau sekolah. Dan di kota tempatnya menuntut ilmu kejadian kumpul kebo tersebut kemudian berlangsung, tapi entahlah itu bisa saja pandangan subjektif ketika melihat karya.

Sayangnya pandangan langsung sirna ketika kepala bergerak maju menuju gambar selanjutnya. Ketika kepala bergeser dan sudut melihat berubah ke arah sisi kanan bingkai foto, gambar tersebut berubah, gaunnya berganti pakaian minim, buku berganti laptop, dan kerbau menjadi yoga ball.

 

Tidak terasa kejutan tersebut cukup membuat bibir tersenyum, sebuah gerakan kepala mendorong perubahan sudut pandang, seolah menggabarkan perubahan waktu, “Kumpul kebo” seolah menggambarkan bagaimana kemajuan bergerak dan tidak bisa dihindari, mulai dari gaun elegan menjadi pakaian minim yang vulgar, buku menjadi laptop dari yang awalnya tangan hanya bisa memegang sebuah jendela dunia, kini dunia itu sendiri bisa berada dalam sebuah genggaman, dan yang lebih sial kerbau berubah menjadi yoga ball.

Bayangkan kerbau diganti dengan bola yang biasa digunakan untuk menjaga kesehatan dan bentuk tubuh. Begitu rakusnya manusia hingga pergeseran beberapa centimeter saja cukup untuk melahap semua kerbau, dan untuk memastikan apa yang dikonsumsi tersebut tidak merusak definisi akan kesehatan dan keindahan (kecantikan) dia menggantinya dengan yoga ball.

“Jangan-jangan mbaknya itu sedang menonton cara mengecilkan perut di youtube.” sekelebat komentar nyinyir tiba-tiba muncul di kepala.

Pembuat karya berhasil mengunakan tekhnik lektur untuk mengekspresikan pandangannya akan realita yang ditemuinya, secara vulgar dan gambalang.

Bergeser dari “Kumpul kebo” sebuah karya lain menunggu, sedikit datar, hanya celetukan kecil yang ada dikarya yang menarik, “Tarzan dislikes banana, but Warhol likes banana” dengan tampilan seorang perempuan memakai topeng monyet, berbikini bendera Amerika menggengam sebuah bunga matahari dan pisang.

Di Loe Bi

Proyektor masih belum menampilkan apapun selain cahaya yang menunjukkan bahwa ia siap untuk bekerja. Beberapa pengunjung yang lain asik menyambangi barisan kaleng satu persatu. Membungkukkan badannya, kemudian mendekatkan mata kedalam lubang kecil yang ada dalam kotak, menelisik apa yang ada didalam kotak.

Pengunjung dipaksa berinteraksi dengan kotak-kotak kaleng untuk bisa melihat kedalam kotak itu. untuk melihat apa yang diletakkan oleh si Tarzan dalam kotak instalasinya. Dan ketika kemudian mata mengintip melalui view door, maka akan terlihat barisan lampu-lampu kecil yang tursusun lurus menerangi sebuah foto. Foto yang di pajang dalam kotak menampilkan gadis dengan yang memperlihatkan organ intim mereka.

Pada sebuah kesempatan Tarzan menceritakan mengenai pilihan pengemasan penyajian karya Di Leo Bi. Karya yang disajikan dalam 50 kotak berukuran 20cm x 20cm memuat foto berukuran 10cm x 8,5cm, dan setiap foto yang diletakkan didalam kotak berasal dari model yang seluruhnya berbeda, itu artinya dia menggunakan 50 orang untuk menghasilkan karyanya,

50 foto perempuan yang berbeda disajikan dalam bentuk instalasi kotak juga untuk mencegah anak-anak yang (jika ada) menghadiri pameran tidak secara langsung melihat gambar-gambar tersebut, gambar yang masuk dalam kategori 18+ (menurut aturan penyiaran).

Mengintip satu persatu kotak, melihat konten dewasa yang disajikan seolah memunculkan kembali perasaan tarik menarik boleh-tidak-boleh dalam kepala, perdebatan ajaran moral yang dicekokkan dan mulai tumbuh melawan rasa ingin tahu sebagai naluri yang tidak kunjung jinak. Alhasil, kaki melangkah dari satu kotak ke kotak yang lainnya, tubuh membungkuk menempatkan mata tepat di depan lubang view door, mengintip ke dalam apa yang menjadi arsip dimiliki dan disembunyikan oleh si pemilik arsip dalam sebuah kotak.

Menarik kembali ke masa kanak-kanak dan keseruan mengintip apa yang mungkin tidak akan pernah diletakkan secara terbuka dan terang benderang, dan bukankah banyak pada akhirnya diketahui melalui kebiasaan yang tidak disarankan untuk dibiasakan (berdasarkan nasehat orang tua), mengintip dan menguping.

Di Loe Bi (dari DInosaurus; LOE (kamu, kata slang, merujuk lawan bicara); baBI) penyajian arisp paling intim dari pengalaman kehidupan si pemilik arsip, arsip yang bisa jadi oleh kebanyakan akan disimpan rapat-rapat, kalaupun keluar mungkin hanya berupa cerita pada sahabat terdekat.

Di Loe Bi yang jika dibaca menjadi di Lobi, sebuah ruang depan yang memberikan akses untuk masuk keruangan yang lebih dalam lagi, akses masuk menuju ke dalam arsip dan bagaimana arsip tersebut hadir. Bagaimana lobi yang dilakukan pemilik arsip (dalam hal ini Tarzan) hingga bisa mengarsipkan anggota tubuh paling intim dari 50 orang yang kemudian dihadirkan di ruangan dan bisa diintip hadirin datang ke pameran tersebut.

Dilobi tidak hanya tentang dinosaurus, kamu dan babi, tidak juga tentang ruang depan yang memunginkan terjadinya sebuah pertemuan, tetapi juga menunjukkan bagaimana proses lobi bekerja, bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain sehingga bisa memuluskan dan mengikuti dan mewujudkan orang yang melobi. Bahkan jika keinginan tersebut adalah untuk memiliki arsip terkait hal paling pribadi dari seseorang.

Belum lagi selesai, petualangan mengintip arsip harus segera diakhiri karena pertujukan utama malam itu, yaitu pertunjukan PM Toh akan segera dimulai. (cerita tentang pertunjukan di tulisan yang lain).

Sayangnya pemeran These Are The Archives of Life oleh Denny Arivin A.L a.k. Tarzan yang dikuratori oleh Frigidanto Agung sejatinya berlangsung 10-17 November 2018 harus berakhir lebih cepat. Tanggal 16 November karya-karyanya sudah diturunkan dari pemajangan, hal ini diakibatkan pihak MAHA Art sebagai lokasi pameran tiba-tiba menganggap pameran sudah berakhir tanggal 16 November dan hal itu tidak sesuai dengan perjanjian yang sebelumnya telah disepakati.

Tentu sikap MAHA Art tidak hanya mengecewakan si pemilik karya yang sedang berpameran, tetapi juga orang yang ingin melihat arsip kehidupan Tarzan. Sikap yang sangat disayangkan karena tentu saja memperlihatkan bagaimana cara MAHA Art memperlakukan seorang seniman dan menghormati karya yang berhasil diproduksi oleh seniman tersebut.

Diluar itu, sedikitnya perhatian publik Denpasar yang mengetahui pameran ini atau bahkan yang mengetahui MAHA Art (mungkin karena faktor publikasi), pameran ke-3 Tarzan di Bali (dua pameran lain sebelumnya berlangsung di Ubud, salah satunya di Luden Hause milik Gede Sayur pada tahun 2015) telah berlangsung, memberikan ruang bagi masyarakat Bali untuk melihat arsip kehidupannya, nazar untuk almarhum S. Teddy Darmawan (anggota taring padi) ditunaikan dan sebuah kutipan penutup sesi foto bersama setelah pertunjukan juga telah dipekikkan.

“Aku tarzan, kalian semua Binatang.” kutipan yang menggambarkan identitas si Tarzan, kemudian identitas yang terekam dalam arsip kehidupannya dipajang untuk bisa dilihat publik. Sebuah kejujuran untuk menunjukkan siapa Tarzan, Tarzan yang apa adanya, bagaimana dia melalui sebuah peristiwa dan bagaimana kemudian pengalaman-pengalam tersebut membetuk dirinya dan segala kemampuan dan cara pandangnya. Sebuah kejujuran bahwasanya di dunia Tarzan, yang ada hanya Tarzan, Binatang dan Jane, dan Tarzan menunjukan secara jujur bagaimana pertemuan dan usaha komunikasi untuk mengarsipkan Jane-Jane dalam hidupnya.

Sebagai penutup tulisan ini sebuah kata terima kasih pada Tarzan (Denny Arivin A.L) pengalaman mengintip arsip hidupnya dan selamat atas pameran yang berlangsung meski tempatnya telah mengecewakanmu. Semoga obrolan kita malam itu bersama arak tanpa Jane bisa memberikan sedikit penawar kekecewaan.

“Ya, loe dah yang Tarzan, gue mah hanya binatang.”

Salam dan sampai jumpa…

l.taji

19 November 2018

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz