Empat orang lelaki blingsatan di dalam air, dengan google dan snorkle yang terpasang dikepalanya tampak bergerak lihai, mengarahkan dan menggiring jala menjauhi titik awal mereka turun, bergerak ke arah barat sebelum akhirnya menikung ke tepian.
Perlahan dua orang lelaki tampak keluar dari air, mengangkat jala yang telah mreka tebarkan, diikuti dua orang yang berjalan mengiringinya. Satu tangan erat menggenggam jala, sedangkan tangan lainnya menggenggam perlengkapan snorkling. Mereka melangkah ketepian, melewati pantai penuh batu, menuju pohon yang telah menunggu dengan kerindangan yang disajikan lengkap dengan hembusan angin yang cukup membuat daun-daunnya bergoyang.
Sekilas jala yang dibawa para lelaki itu tidak tampak memuat seekor ikan pun, tetapi rasa puas yang terlihat dari ekspresi dan langkah mereka yang penuh semangat menarik untuk ditelisik lebih jauh.
Sebuah terpal biru telah menunggu dibawah kerindangan pohon dan disebelahnya sebuah baskom besar berisi air menunggu ditemani dua laki-laki tua dengan tubuh hitam liat.
Tanpa aba-aba, dua orang yang membawa jala langsung menggelar jala diatas terpal biru, terlihat jelas ikan-ikan sebesar kelingking seoarang bocah telah terjerat, melekat tidak bisa lepas, tidak bertenaga bahkan beberapa diantaranya sobek tak bernyawa.

Jari-jari tua yang sedari tadi menunggu jala tiba, tampak dengan cekatan melepaskan satu-persatu ikan-ikan yang melekat pada jala dan memasukkannya kedalam baskom yang berisi air yang telah memerah oleh darah dari sobekan luka-luka kecil si ikan kecil, sementara beberapa ikan lain berjatuhan di atas terpal biru, berjatuhan seperti daun kering yang tidak lagi diharapkan oleh sang ranting.
“Dari pada kita beli ikan, lebih baik ke laut nyari ikan, gratis” kata Made Jon, lelaki dengan postur gempal dan snorkling masih terpasang di dahinya.
“Sudah hampih satu bulan ini tidak ada tamu jadi tidak ada order” dia melanjutkan.
“Banyak wisatawan yang cancel karena status Gunung Agung, walau Amed tidak berpengaruh secara langsung, tetapi informasi yang beredar diluar Amed menakut-nakuti wsatawan yang ingin datang ke Amed” lanjutnya.
“Nyari ikan karena tidak ada kegiatan lain, sabar aja” Made Jon yang selama ini berprofesi sebagai freelance driver menjelaskan.
Peningkatan status Gunung Agung dari waspada menjadi awas ternyata berpengaruh juga pada kunjungan wisatawan ke wilayah Amed. Hal bisa terlihat dari jumlah wisatawan yanga ada dipantai. Area pantai yang biasanya penuh oleh wisatawan yang hendak menikmati Japanese wreck kini terlihat lengang. Hanya tampak beberapa turis asing yang masuk dalam aliran turis “I dont care” terhadap isu panas yang beredar. Suasana lengang yang akhirnya membuat para pelaku dunia wisata yang biasanya sibuk ikut berebut kue pariwisata, harus kembali ke halaman permaianan masa kecil mereka, pesisir.
Halaman rumah yang tentunya selama ini sudah tidak asing karena letaknya yang tinggal beberapa meter dari rumah mereka. Halaman rumah yang mereka tinggalkan karena kue pariwisata ternyata menawarkan hasil yang lebih menggiurkan dibandingkan mengarungi laut seperti yang dilakukan oleh orang tua mereka sebelumnya.

Beruntung, industri pariwisata ternyata tidak membuat mereka lupa akan pantai yang menjadi halaman bermain mereka. Ini terbukti mereka masih bisa melihat kapan saat yang tepat untuk menebar jala, menangkap ikan-ikan teri yang berenang bergerombol di tepian. Ingatan yang ternyata berguna ketika industri pariwisata kolaps akibat perubahan alam.
Sebuah ironi, ketika mereka kembali berpaling pada alam, mengingat kembali bahwa mereka bisa makan dari alam tepat ketika alam di utara, tepat ketika gunung yang menjulang di barat, gunung yang memberikan suasana eksotis sunset yang membuat para wisatawan datang, kini sedang bergejolak dan bersiap memuntahkan isi perutnya.
***
Seorang wanita datang menghampiri lelaki tua yang bertelanjang dada, kemudian menyerahkan sebuah mangkok dan kantung plastik kecil pada lelaki tersebut. Mangkok yang digunakan sebagai alat ukur, berapa jumlah ikan yang nantinya dimasukkan dalam satu kantong plastik, yang nantinya akan dihargai Rp. 5000,- untuk setiap mangkoknya.
Ikan-ikan kecil yang biasanya muncul di musim penghujan ini bisa menjadi pendapatan tambahan ketika pekerjaan utama yang menjadi bahan bakar asap dapur tetap bisa mengepul ternyata tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.
“Biasanya ikan teri ini muncul saat bulan-bulan hujan, tetapi sekarang hujan jarang turun” kata seorang lelaki paruh baya. Dia menjelaskan tentang pola ikan teri yang berenang ketepian laut.
“Sekarang bulan ikan sudah tidak bisa ditebak” lanjut lelaki tua yang bernama Pak Nyoman Sludir.
Lelaki yang dahulunya bekerja sebagai nelayan, mengarungi lautan hanya bermodalkan dua puncak gunung, puncak Gunung Agung dan puncak Gunung Rinjani.
“Sekarang anak saya hobi mancing, tetapi kerjanya hanya mengelola penginapan”. Pak Nyoman Sludir menceritakan kegemaran anaknya, sambil tangan liatnya sibuk menakar ikan yang ada didalam baskom dan memasukkannya kedalam kantung plastic. Ikan yang sudah dipesan oleh seorang chef lokal.
Pergeseran mata pencaharian terjadi dengan cepat, nelayan yang pada generasinya merupakan mata pencaharian utama yang dahulu digelutinya, kini hanya menjadi hobi bagi putranya. Banyaknya pilihan pekerjaan yang lebih aman, bersih dan menjanjikan penghasilan tetap membuat profesi nelayan seperti halnya petani menjadi tidak populer.

Profesi nelayan yang membuatnya melintasi Selat Lombok untuk mencari ikan, mengarungi lautan tanpa berbekal alat navigasi, tapi hanya bermodalkan citra dua titik tertinggi di masing-masing pulau yang menjadi penuntunnya untuk berangkat dan kembali pulang. Dua titik tertinggi yang masih berhubungan, Gunung Agung di pulau Bali dan Gunung Rinjani di pulau Lombok. Titik navigasi yang akan hilang ketika hujan datang bersama angin atau kabut dan membuat jarak pandang menjadi lebih terbatas.
Profesi yang tidak mudah, membutuhkan penyerahan diri pada alam.
“Kalau kabut datang lebih baik berhenti di tengah” Kata Pak Nyoman Sludir.
“Pernah tersesat di dalam kabut, tiba-tiba hujan lebat dan angin, tidak bisa melihat apa-apa. Sampai sekitar dekat nusa, bayangan Gunung Agung terlihat, dan itu yang saya pakai patokan untuk kembali” Nyoman Sludir melanjutkan.
Kehidupan sebagai nelayan yang bergantung pada alam yang tidak menentu menjadi pilihan terakhir ketika pekerjaan lain sudah tidak ada lagi. Pekerjaan yang lebih memberikan jaminan keselamatan dan keamanan pendapatan menjadi pilihan yang logis, mengingat bagaimana di era modern perhitungan logika untung dan rugi menjadi sesuatu yang utama, setiap usaha atau pekerjaan sebisa mungkin membawa keuntungan, walau keuntungan itu lebih berupa keuntungan keselamatan.
Hal itu juga yang ditawarkan oleh industri pariwisata, pekerjaan dengan hasil yang tinggi dengan tingkat resiko bahaya yang lebih rendah. Sayangnya industri ini juga memiliki kerentanan yang tidak kalah rendah. Bencana alam hanya salah satu faktor yang membuat industri ini lesu, faktor yang membuat mereka yang biasanya bisa bersembunyi dari matahari yang terik atau membuat tangan mereka sedikit lebih halus karena tidak lagi menarik jala yang berat yang akhirnya membuat mereka harus kembali melihat bahan makanan yang disediakan alam.

Melihat kembali permukaan air laut di pantai, melihat apakah ikan-ikan teri ini sedang bergerombol berenang di pesisir. Jika tanda dipermukaan tidak juga kunjung bisa dilihat, maka salah seorang harus masuk ke dalam untuk melihat apakah ada ikan teri yang bisa dijala dan dibawa pulang, agar pengeluaran bisa ditekan ketika pemasukan dari industri pariwisata tersendat.
Ketika industri pariwisata sebagai bangunan ekonomi dan hajat hidup buatan manusia, yang semakin memperpanjang dan menjauhkan hubungan manusia dengan alam tersendat, pada akhirnya manusia akan kembali pada cara awal mereka bertahan hidup, berhubungan langsung dan makan dari alam, dengan resiko dan pola yang tidak bisa diprediksi, atau dalam memprediksinya tidak semudah memprediksi rendahnya kunjungan wisatawan di musim sepi (low season) setiap tahunnya.
Ketika turis dengan banyak rupiah yang dijanjikan oleh industri pariwisata tidak bisa dijala, maka yang bisa dilakukan hanya kembali menjala ikan-ikan teri yang masih berenang di lautan.
l.taji//29 okt 2017