Michael Giacchino – The Batman: Original Motion Picture Soundtrack

Satu dari dua soundtrack film yang saya dengarkan secara intens, album ini adalah karya Michael Giacchino paling gelap yang pernah saya dengar.

Album ini memperdengarkan gaya khas beliau dalam membangun atmosfir menggunakan kombinasi perkusi dan string sustain yang kali ini dikawinkan dengan progresi epik nan depresif; intense, gritty, brutal tapi tetap elegan.

Saat dikombinasikan dengan sinematografi Matt Reeves, tidak mengherankan The Batman berhasil menggoyang podium The Dark Knight Trilogy Christopher Nolan.

Track Sorotan: Highway to the Anger Zone & Meow and You and Everyone We Know

Tips: Cocok diputar saat bekerja untuk zoning dan mencapai keadaan fokus yang cepat

 

 

 

Absent in Body – Plague God

Sebuah album yang mungkin menjadi kanal final Scott Kelly untuk memproyeksikan semua emosi negatifnya pasca didepak dari Neurosis dan pensiun; dalam statemen di facebook bulan Agustus lalu, beliau mengaku telah menganiaya istri dan anaknya selama bertahun-tahun sebelum memutuskan untuk pensiun dari musik.

Plague God adalah Scott Kelly menghancurkan pita suaranya diiringi riff abrasif Sludge/Doom dari Mathieu J. Vandekerckhove (Amenra) yang dikunci permainan tribal mid tempo khas Iggor Cavalera (Sepultura) dan Colin H. Van Eeckhout (Amenra) yang sesekali ikut bernyanyi merdu, memberikan warna Post-Metal; merefleksikan kebencian, keputusasaan dan penyesalan hidup.

Saya hampir selalu membenci diri sendiri setiap kali memutar album ini; terimakasih Scott Kelly sudah berani menjadi contoh yang buruk, semoga engkau menemukan apapun yang kau cari.

Track Sorotan: Rise from Ruins & The Half Rising Man

Tips: Baca liriknya sambil mendengar musik

 

 

Meshuggah – Immutable

Meshuggah belum pernah menghasilkan album buruk, karena mereka bermain di kelas yang mereka ciptakan sendiri dengan membalik analogi bagaimana seharusnya "metal" dimainkan, unkonvensional; elitis sejati.

Saya masih ingat pertama kali mendengar "The Demon's Name Is Surveillance" dari album Koloss dan berpikir "what the fuck i just heard?"; brutal level Gojira dengan tema lagu pandelengan, gila tingkat luar angkasa sesuai nama mereka.

Immutable adalah upaya ke 9 Meshuggah untuk memvisualisasikan gaya bermusik mereka, kali ini dengan tempo menengah yang lebih dapat diakses dalam sekali dengar; tidak sebrutal Koloss atau Catch Thirtythree; lebih melodis dengan time signature sakit jiwa yang menjadi tulang punggung groove mereka.

Track Sorotan: Broken Cog & I Am That Thirst

Tips: Untuk menikmati groove, fokus pada suara snare. Thank me later.

 

 

 

Carpenter Brut – Leather Terror

Leather Terror adalah Darksynth bernuansa Black Metal; direncanakan menjadi album ke 2 dari Leather Teeth Trilogy yang dibuka dengan rilisan tahun 2018.

Track Sorotan: Straight Outta Hell, Color Me Blood & Leather Terror

Trivia: Saya mulai mengikuti musik Carpenter Brut sejak EP I tahun 2012 karena kesukaan saya terhadap film Giallo, musik John Carpenter serta disko 80'an.

 

 

 

 

 

Rammstein – Zeit

Album kejutan dari Rammstein setelah album tanpa nama yang diluncurkan tahun 2019 lalu; Zeit tercipta dari sesi studio yang dilatarbelakangi lockdown saat mereka seharusnya melakukan tur.

Saya mengikuti Rammstein sejak Rosenrot, Mendengar "Benzin" pertama kali langsung membuat saya klik dengan formula musik mereka; simpel, operatic, to the point yang saat dikombinasikan dengan aksi panggung atau visual mereka yang megah nan mahal akan menggetarkan lutut menuntut takluk.

Chemistry mereka yang melegenda dan banyaknya waktu untuk fokus dengan musik sukses melahirkan album yang berkualitas setara pendahulunya.

I envy them so much; long live Neue Deutsche Härte!

Track Sorotan: Zick Zack, OK (Ohne Kondom) & Adieu

Trivia: Ray, gitaris dan direktur rekam GEEKSSMILE  memasukkan unsur synthesizer pada bagian reff lagu Sword of Sound setelah mendengar Zick Zack.

 

 

Diamanda Galás – Broken Gargoyles

Hanya ada segelintir penyanyi wanita yang saya sebut diva; dalam ranah eksperimental ada Diamanda Galás.

 

Broken Gargoyles adalah 2 bagian experimental penuh teror dan kengerian, komposisi vokal Avant-garde yang menurut saya cocok untuk dipadukan atau menjadi musik pengiring pertunjukan seni artis macam Marina Abramović.

 

Tips: Dengarkan di ruang gelap dengan jeda 30 menit untuk setiap bagian; maximum haunting effect.

 

 

 

 

Dealer of Death – DIRRG

DIRRG adalah oplosan Oldskool Death Metal/Crust dengan topping breakdown Heavy Hardcore dan D-Beat yang digonggong manusia gua kanibal; spesies purba nan langka di skena.

Perjalanan sonik bawah tanah saya mengedepankan beberapa aspek pengalaman; pilihan subgenre, sound, tema lagu sampai faktor terpenting yaitu performa langsung yang dipenuhi DOD dengan baik.

Saya cukup beruntung bisa menyaksikan mereka secara langsung beberapa kali, pengalaman pertama saya mendengar mereka seperti mendengarkan High on Fire dengan blast beat; raw and delicious.

Tingkat kultus DOD yang terbilang baru di skena sudah setara dengan Woundeath dan Ranjau; mereka melakukan split adalah angan-angan saya.

Hail to the barbarian shock troops!

Track Sorotan: Sabda Api dan Dirrg Deddra Dillia

Tips: Putar dengan volume keras.

 

 

Pure Wrath – Hymn to the Woeful Hearts

"Whosoever is delighted in solitude is either a wild beast or a god." ~Aristotle

Cukup sulit untuk membayangkan mengkomposisi dan merekam album penuh se-epik ini sendirian; dari kutipan diatas banyak orang yang sukses melakukannya minimal akan mengklaim dirinya nabi, atau dalam konteks seorang Aquarian yang hidup di akhir Kali Yuga minimal harus membunuh seseorang untuk menunjukkan kesejatian.

Saya berbicara dari sudut pandang seorang musisi dan seorang Aquarian; friksi dengan individu lain dengan konteks menghasilkan karya adalah hal yang terkadang menguji kesabaran, yang hanya bisa diselamatkan dengan cinta pada musik lalu mengkomposisi resolusi dengan menganggap karya sebagai keturunan atau warisan yang bernyawa.

Jika Ascetic Eventide, album penuh perdana Pure Wrath membahas alam dengan depresif ala Atmospheric Black Metal umumnya, Hymn to the Woeful Hearts dengan indah dan berani membahas sebab akibat periode 65, saat samsara bangsa ini direkalibrasi oleh Orba dengan membantai 6,5 juta nyawa. True Masterpiece.

Track Sorotan: Years of Silence dan Footprints of the Lost Child

Trivia: Lagu-lagu di album penuh ini adalah salah satu nyanyian pengantar tidur favorit saya, setelah De Mysteriis Dom Sathanas Alive

 

Hans Zimmer – Dune: Original Motion Picture Soundtrack

Terkait dengan produksi musik GEEKSSMILE, saya sedang rajin mendengarkan komposisi yang menggunakan ketukan, progresi akord dan instrumen unkonvensional dalam aransemennya dengan tujuan untuk mendapatkan lebih banyak referensi dalam membentuk dinamis dan atmosfer pada lagu demi definisi visual tema yang lebih tinggi.

Parameter ini membuat saya menjelajah banyak album soundtrack film dalam 2 tahun terakhir, dan dari 10 album soundtrack, 3 diantaranya merupakan karya Hans Zimmer.

Album ini memenuhi seluruh parameter yang saya ciptakan, salah satu alas an dia bertahan selama 2 tahun; selain itu saya memutarnya hampir setiap pagi saat bekerja untuk mencapai keadaan fokus.

Track Sorotan: Gom Jabbar, Leaving Caladan & Burning Palms

Trivia: Masih banyak sekali aspek di album ini yang belum saya analisa secara mendalam, salah satunya adalah frekuensi suara yang dihasilkannya; pengalaman sama saya dapatkan saat memutar Big Church [Megszentségteleníthetetlenségeskedéseitekért] dari album Monoliths & Dimensions milik SUNN O)))

 

Prima Yudhistira

30 .12.2022

 

*Daftar pada tulisan ini dibuat dengan parameter berikut:

1. Data diambil dari media player di Inner Sanctum dan streaming service.

2. Urutan pada daftar tidak merepresentasikan peringkat.

3. Rilisan berbentuk LP, EP, Single dan album berisi materi penampilan langsung.

4. Tidak semua musik dirilis tahun 2022, beberapa rilisan yang bertahan padas daftar ini dirilis sejauh tahun 2016.

5. Daftar lengkap akan diunggah di "The Vault"; silakan cek secara berkala.

 

oleh Putu Septa & Sanggar Nata Swara

Penampilan Putu Septa dan Sanggar Nata Swara membawakan komposisi berjutul "Kedok 3" di Wantilan Museum Purbakala "Gedong Arca" BPCB Bali sebagai rangkaian dari Pameran Video Imersif yang berlangsung 29 Nopember s/d 4 Desember 2022 di BPCB Bali.

Visual: Serangga Collective

Organized: RATA (Ruang Asah Tukad Abu)

tukang rekam: Arimbawa @tokek419 //ra

I Ni artchive 2022

#pameranimersif #sanggarnataswara #putusepta #rata #ruangasahtukadabu #iniartchive #iniartchive2022

MUSIK13 merupakan acara musik berkala yang diselenggarakan oleh Ruang Asah Tukad Abu (RATA).

MUSIK13 diselenggarakan secara berkala setiap tanggal 13.

Pada MUSIK13 edisi Desember 2018 menampilkan:

1. Joseph Lamont

2.Wayang Sukuraga ft Matrix Collapse

3. Kelompok Burung Hitam

4. Kuncup Mekar

5. Rollfast Visual mapping oleh Ape Motion

Sound oleh Rockness Musik

Lokasi acara: Rumah Asah Tukad Abu Jl. Cekomaria, Denpasar-Bali

video: //ra

Barak itu mirip zal tahanan, berukuran 3 x 4 meter persegi. Itulah dapur Banjar Kerandan yang pengap. Di atas dua jalikan (tungku api) batako, terserak sisa-sisa obat nyamuk. Di bibir tungku api, tergeletak puluhan potongan bambu, berjajar sejumlah bakalan seruling. Siap dikerjakan bila ada pesanan. Zal ini menjadi bengkel Pekak Made Dana, sekaligus tempat istirahat sehari-hari. Dari tempat inilah suling-suling itu dilahirkan dalam suasana kesendirian. Kini juru suling kasub itu tengah dibekap radang asma dan terbatuk-batuk. Suaranya serak dan lemah. Bila letih ia segera menuju dipan, kepalanya teronggok begitu saja di bantal kayu, hanya beralaskan sebidang tikar pandan, diterangi lampu 30 watt.

Saat hujan turun dingin akan mengerayangi sekujur tubuh, menusuk tulang. Sudah 9 tahun ia membenamkan mimpi-mimpinya di ruangan ini, merenung sembari mengeja rasa batin. Ia seperti tak terusik suara gaduh, lalu lalang kendaraan. Krama Banjar Krandan memilih Pekak Dana sebagai tukang sapuh, dengan tugas melaporkan semua kerusakan fisik bale banjar. Karena itu ia diijinkan tinggal, menetap di bale banjar. Ternyata Dana senang pilihan itu. Tak pernah sekalipun ia mengeluh atau merasa kesepian. Justru ia merasa bebas bersama bambu-bambunya - menganyam nada, coba melantunkan tembang dangdang gula yang lirih. Tembang yang kerap membuat orang tersedu pilu.

Pekak Dana tak pernah membuka bengkelnya di rumah, memang. Malu menggangu keponakan-keponakannya. Bila kruang-kruing di rumah, nanti cucu tiang bisa ngedesem (cemberut). Ya jadinya serba tak enak. Lebih baik tiang ngalah. Tiang hormati, bahwa tiap orang punya kesukaan beda. Supaya tak merepotkan, justru tiang pilih bekerja di bale banjar. Maka saban ada yang datang hendak dibuatkan suling pasti datang ke banjar. “Dulu sebelum tinggal di sini, suling-suling itu tiang buat di tempat sepi, jauh dari keramainan. Ke mana –mana tiang selalu membawa pengutik (pisau tajam) dan sepotong bambu,” imbuh Pekak Dana polos.

Ternyata ia seorang buta huruf, tampaknya. Tapi dia-lah sebuah teks yang hidup. Darinya senantiasa berhembus nada batin nan lembut, suara yang selalu menyeka rongga hati. Agaknya menjadi sesuatu yang tak biasa – bahwa keindahan bisa lahir dari kekumuhan, kotor, renta, terkucil, serta sakit-sakitan. Tak banyak yang tergoda karena tanda-tanda fisik itu. Hanya segelintir dari mereka yang dibekali kepekaan intuitif menjadikan kehadirannya penuh arti. Walau kita tahu, keindahan tak pernah memburu arti - ia hanya memburu keabadian. Inilah alamat paling tepat ditujukan untuk Pekak Made Dana, sosok hampir terlupakan, pengabdi seni yang tulus, juru suling tiga zaman dari Banjar Kerandan, Desa Pamecutan, Denpasar- Barat.

Kendati namanya sedikit terdengar sayup, tapi pengabdiannya di jagat kesenian sudah demikian panjang dan berliku. Pekak Dana, begitu dia akrab dipanggil, tak pernah tahu kapan hari lahirnya. Ia seperti menafikan penanda waktu. Yang penting dia hadir dan meruang di dalam waktu. Tak pernah terbayang bagaimana wajah kedua orang tuanya. Sejak kecil ia ditakdirkan menjadi piatu, ditinggal ayah-ibu. Karena merasa diri ubuh (yatim piatu), Dana muda malu mendekati perempuan. Justru itulah sampai kini ia memilih tidak kawin , di samping seumur hidup tergoda suling. Walau dilahirkan sebagai juru suling piawai, Dana tak seperti lelaki lain, jago memikat wanita lewat alunan buluh perindu itu. Ia tak mengerti mengapa dirinya bisa begitu pemalu. “Minab sampun pedum tiang (mungkin sudah takdir saya),” urainya pendek sembari terbatuk.

Menurut penuturannya, sebagai juru suling, Dana mulanya berangkat dari sekadar merasakan, hanya merasakan. Kanal intuitifnya lebih suka menghayati tinimbang mengapal notasi nada. “Semuanya berangkat dan terukur dari rasa hati,” tuturnya pelan. Dan ia sendiri mengaku tidak bisa megambel. Walau beratahun-tahun ia aktif di sekaa gong Puri Pamecutan, gamelan milik Pura Tambangan , Badung. Seumur-umur Dana hanya tampil sebagai juru suling. Ya, cuma juru suling.

Tapi untuk tiupan suling, anak nomor dua pasangan I Made Lempung dan Ni Nyoman Ripig ini tak kuasa ditandingi, apa lagi diungguli. Almarhum I Mede Ebuh, juru suling terkenal dari Banjar Gelogor mengaku sempat belajar tehnik ngunjal angkihan padanya. Ebuh memuji Dana sebagai juru suling yang tipikal, tehniknya sukar dijiplak. Justru itu, Pekak Dana dengan rendah hati mengaku tak pernah mengajar siapa-siapa. Ia cuma sekadar ditanya, tak pernah jadi guru beneran. Pada sesama penabuh ia memang sering bertukar pikiran, menunjukkan beberapa tehnik, tetekep manis dan tetekep lebeng. Selebihnya ia mengaku tidak tahu apa- apa. Kecuali mengukur dengan kedalaman hati.

“Tiang memang senang magending dan tergoda suling sejak usia enam tahun,” akunya lurus. Dulu, sembari mengembala sapi-sapi ia suka membunyikan pepetan, terompet dari bulir batang padi. Di pematang sawah, terompet ini senantiasa ia tiup. Kadang sambil berteduh di bawah pohon turi. Tak jarang ia sampai terpulas , dan sapi-sapi itu melunta jauh, meninggalkan pembimbingnya. Pernah suatu hari ia susah mencari batang padi, karena di sawah baru saja usai panen, semua batang padi telah jadi jerami kering. Dana seperti gelisah hendak meniup pepetan. Ia terpaksa gantikan pepetan itu dengan lipatan daun pandan, diisi sompe daun kelapa (selepan) - maka jadilah terompet bersuara besar. Tapi suaranya tak senyaring terompet bulir padi.

Dari pepeten, Dana remaja lalu coba membuat suling. Begitu beberapa kali ia gagal, sembari terus mencoba. Suatu hari ia berhasil. Betapa riang hatinya. Suling itu dibawa serta ke mana pergi. Lalu saban ngangon (mengembala) ia tak lagi membunyikan pepetan. Suling bambu itulah yang senantiasa menghibur sapi-sapi tengah merumput. Karenanya, Dana sang yatim ini tak jarang mendapat juluklan : rere angon dari Banjar Kerandan. Tak aneh memang julukan itu. Begitulah gambaran rare angon dalam mitologi Siwaistis di Bali. Gembala yang senantiasa meniup seruling, setia menemani sapi merumput di padang luas.

Berkat suling-lah Dana memilih jalan hidup. Dan beberapa lama setelah memasuki masa remaja, ikut masuk anggota sekaa gamelan Puri Pamecutan. Dengan begitu ia memulai satu babakan hidup - di mana ia mencemplungkan diri di kanal kesenian. Di sini Dana muda tampil sebagai juru suling memukau, serta –merta dengan kedalaman rasa susah diukur dengan ketrampilan teknis semata. Ia dipuji sahabat-sahabatnya.

Karena punya kemampuan mengiringi berbagai macam tabuh dengan manis dan terukur. Gaya dan langgam tiupan sulingnya sering dicontek orang, tapi selalu gagal menyamai seorang Made Dana. Satu cara mudah dilakukan sekaa gamelan di Denpasar adalah, “merampok” Made Dana bergabung. Ini sebabnya ia menjadi sosok juru suling yang laris manis. Untuk itu, beberapa lama ia ikut menjadi juru suling pada Seka Gong Banjar Geladag, Desa Pedungan, Denpasar Selatan. Sekaa Gong Geladag, sejak lama telah memiliki pamor, memang. Masuk menjadi anggota sekaa ini berarti sebuah prestise, sekaligus suatu pengakuan. Dari sini Dana akhirnya melanglang seluruh Bali, tampil sebagai juru suling bon-bonan. Dalam waktu beberapa lama, Dalang Buduk pun dibuat kepincut - diminta mengiringi gamelan bebatelan saban sang dalang ngwayang.

Kini kurang lebih 67 tahum usianya, “rare angon” kembali rindu padang nan luas. Sayang, kini ia dipenjara usia kian menua, sakit-sakitan, dan ingatannya sedikit tergangu. Untunglah ada seniman tabuh I Wayan Sinti yang selalu datang menghibur, memberi sela mereguk kedalaman rasa – ia senantiasa diikutkan dalam pembinaan sekaa gamelan ke desa-desa.

Wayan Sinti sendiri tetap mengakui, juru suling yang tipikal ini tetaplah seorang guru. Kendati, Wayan Dana sendiri merasa disiksa oleh julukan seperti itu. Karena sekali lagi, menurut pengakuannya, sejujurnya ia tak pernah merasa menggurui siapa-siapa. Dan ia sendiri pun tak pernah berguru kepada siapa-siapa, kecuali pada dirinya sendiri. Terkadang betapa ia tak enak mengaku, bahwa di pusat batinnya, seperti ada “anakan” (mata air) yang tetap menggenang, di mana mata air itu selalu ingin merembes ke luar lewat alunan suling. Baginya, itulah guru utama - nada batin asali yang senantiasa menggoda – mengantarkan dirinya meretas zaman.

Dan sang kakek yang tak pernah menjamah perempuan ini menjadi satu perkecualian, bahwa peniup seruling boleh jadi merupakan tindakan pranayama, olah nafas, kapasitas inti dari sikap yoga. “Jika tak begitu mungkin dulu saya sudah meninggal, apalagi tiang terjangkit asma. (Yan ten kenten mirib dumum tiang sampun padem, napi malih tiang ngraksa sakit dekah),” paparnya pelan. Betul, memang. Dalam latihan meniup seruling, ngunjal angkihan jadi prasyarat paling berat, proses yang mesti dilewati. Memerlukan penguasan tehnik dan latihan serius. Bagaimana udara dari ruang perut bawah mengalir ke luar, lalu menghirup udara dari alam bebas, tanpa harus berhenti meniup suling. Orang Bali menamai tehnik ini sebagai "ngunjal angkihan".

Suling bagi Pekak Dana menjadi sejenis terapi nada. Saban pikirannya kalut, jiwanya goncang, truna lingsir ini pasti meniup seruling. Ibarat komputer yang harus "dideprag", susunanan memorinya pun kembali normal. Demikian pula suasana hati, bisa ditenangkan ulang lewat nada dan suara.

Susah memang membuktikan hal ini, namun Pekak Dana sendiri sudah melakoni “ibadah” itu lebih dari 40 tahun. Ia merasakan sekali faedahnya. Betapa suara atau nada yang murni merupakan musik semesta, suara muasal nan bening. “ Minab tan iwang penampen sang wikan, gumanti nada punika wantah pralingga Iswara , mungkin tak salah pemahaman para bijak, bahwa nada itu merupakan lingga Iswara,” papar Pekak Dana berterus terang, sembari tak lupa menyatakan, bahwa pemahaman itu juga didapat dari ngoping, mendengar dari orang lain.

Usia senja kini menjenguk juru suling piawai ini. Penyakit yang menggerogoti raganya seperti mempercepat jalannya waktu. Menjadi tua, sebagaimana hari-hari dijalani Made Dana sungguh tidak membahagiakan, memang. Ibarat menanti penjara panjang dengan rasa gelisah. Tampaknya ia tak sebahagia orang lain – tak punya teman hidup, seperti kebanyakan orang tua, lega dirawat menantu dan anak. Sebatang kara ia tertatih di lorong gelap, cuma suling jadi lentara penerang, menemani kisah hidup panjang melelahkan. Kendati ia buta huruf, untuk segenap cita rasa keindahan, tak salah, Made Dana-lah seonggok teks yang hidup – darinya dapat dibaca pengembaraan batin tanpa aksara.

Takut Kehilangan Gigi

Sudah dua bulan lelaki berkulit legam ini tak lagi meniup seruling. Juga belum bisa pergi jauh. Gusinya ngilu, dua gigi di rahang bawah mulai ocel. Sedikit saja gigi itu tersentuh lidah rasa perih terasa sampai ke otak. Gigi penting buat kesempurnaan tiupan seruling. Membantu hembusan angin keluar dari mulut tidak sempyar. Bagi Pekak Dana kehilangan gigi membuatnya takut. Dengan begitu, riwayatnya sebagai juru suling tenar tamat. Sesungguhnya gigi palsu bisa saja dibeli, namun untuk membeli gigi anyar, jelas beban. Di samping karena tidak punya beaya, ia malu dianggap beger.

Bila dalam kedaan normal, tidak sakit, Pekak Dana merupakan sosok yang rajin. Jam 5 pagi sudah terbangun dari zalnya di Bale Banjar Kerandan. Tugas pertamanya adalah bersih-bersih, menyapu halaman, menguras saluran air. Sampah-sampah ditempatkan pada sebuah gerobak, bila penuh, sampah diangkut ke tempat pembuangan. Ia bertanggung jawab atas semua barang milik banjar. Saban hari harus mengeceknya. Tiap ada kerusakan di bale banjar, Pekak Dana berkewajiban melapor kepada kelian banjar. Ini tugas sehari-hari yang dilakukan.

Di banjar ia tidak mendapat honor. Tugas sebagai juru sapuh (sapu) diambil sebagai pengganti leluputan sang keponakan, I Wayan Sudirta. Selain juru sapuh, Pekak Dana hampir tidak ada pekerjaan lainnya. Terkecuali sesekali diminta membuatkan suling. Untuk suling-susling itu tak pernah ia menjualnya. Berapa pun orang memberinya uang diterima penuh syukur. Tampaknya dia tetap suka melakukan itu. Untuk makan ia minta pada keponakan-keponakannya. Bila kebetulan ada uang nasi pun kadang dibeli. Merasa malu jika meminta terus. “Lek atine natakang lima dogen (malu rasanya bila meminta terus),” urainya merendah. **

Wayan Westa

Catatan: Pernah dimuat di Majalah SARAD, No 26 Mei 2002

#musik13 #video #documentary

 

MUSIK13 merupakan acara musik berkala yang diselenggarakan oleh Ruang Asah Tukad Abu (RATA). MUSIK13 diselenggarakan secara berkala setiap tanggal 13.

 

Pada MUSIK13 edisi Juni 2019 menampilkan:

  1. Planet Bamboo & Sako
  2. Eko Protojoyo ft Jane Chan
  3. Misbach Bilok
  4. Sandrayati Fay

 

Visual mapping oleh Ape Motion

Sound oleh Rockness Musik

 

Lokasi acara:

Rumah Asah Tukad Abu

Jl. Cekomaria, Denpasar-Bali

 

video:

//ra

MatrixCollapse project berkolaborasi dengan Wukir Suryadi, dalam rangkain tour singkat yang berlangsung di beberapa titik di Bali.

Tour yang terjadi sebagai bentuk silaturahmi penampilan merespon kunjungan Wukir Suryadi (Senyawa) ke Bali ( Rumah Asah Tukad Abu)

Video ini diambil ketika mereka tampil  pada tanggal  1 mei 2017 di Ubud, Bali, Indonesia.

( 26 Mei 2018)

Berikut merupakan penampilan

Matajiwa

https://matajiwa.bandcamp.com/

https://www.instagram.com/matajiwaofficial/

 

dalam acara

"Alam Racikan Release Party"

sebuah perilisan album yang berlangsung:

Tanggal:  26 Mei 2018

Tempat:  The Orchard, Bali.

 

Video mapping/art:

RATA (Ruang Asah Tukad Abu)

(Jonas Sastrakresna & bimo Dwipoalam)

video & edit: //ra

Penampilan para guitaris yang tergabung dalam Advant guitar tour 2016 di acara Musik 13, Ruang asah Tukad Abu, Denpasar, Bali. 13 Nopember 2016.

 

Ikbal Lubis

Darma ft Asger Thomsen

YNGEL

 

Advant Guitar Tour 2016-Kolaborasi

 

Dokumentasi Music 13,

Hari: Jumat 13 Januari 2017

Program oleh: Ruang Asah Tukad Abu (RATA)

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz