
Indira Laksmi hadir sebagai pelopor fashion Bali yang memadukan sentuhan klasik, etnik, dan kontemporer. Sejak berdiri pada tahun 2016, Indira Laksmi berkomitmen untuk menghidupkan kembali tradisi, budaya, dan adat istiadat melalui karya yang tak lekang oleh waktu. Lebih dari sekedar momen spesial, melainkan warisan yang abadi.
Dengan pandangan bahwa kecantikan sejati adalah keiklasan, Indira Laksmi terus berkarya menghadirkan busana yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyentuh jiwa.
Pada tanggal 30 Agustus 2025, Indira Laksmi menggelar pameran dengan tajuk “From Sketch To Soul” yang berlokasi di studio Indira Laksmi dan Tegal Temu Space. From Sketch To Soul adalah sebuah pameran kreatif dan pertemuan intim yang mengajak tamu untuk melihat lebih dekat perjalanan di balik setiap karya Indira Laksmi.
Pameran ini tidak hanya menampilkan hasil akhir berupa busana, tetapi juga membuka proses dibaliknya, mulai dari sketsa awal, inspirasi, hingga detail pengerjaan yang penuh makna. Melalui instalasi visual, sesi interaktif, hingga perbincangan santai bersama desainer, para tamu diajak memahami bagaimana sebuah sketsa sederhana dapat berkembang menjadi sebuah cerita visual. Lebih dari sekedar pameran, From Sketch To Soul adalah perayaan atas proses, kreativitas, dan jiwa yang tertuang dalam setiap garis, kain, dan cerita.
Pameran dimulai dengan sesi registrasi oleh pengunjung pada pukul 15.30 WITA, kemudian dilanjutkan dengan opening by MC, opening speech by Gung Ama. Setelah itu dilanjutkan dengan house tour di studio Indira Laksmi yang dimulai dari ruang depan yang dihiasi benang menjuntai dan dua manekin yang distyling dengan wardrobe Idup Panak, kemudian tamu digiring ke ruang wardrobe yang terpajang kain-kain milik Indira. Setelahnya tamu diajak menuju ruang make up, terdapat dinding yang dihiasi dengan foto-foto klien menggunakan kain dan make up Indira Laksmi. Terdapat Sketch Wall Installation yaitu showcase semua sketsa koleksi Indira Laksmi, dinding galeri berisi deretan sketsa arsip yang dibingkai. Sebagai background foto.
Setelah house tour pengunjung diarahkan untuk menuju teras Indira Laksmi, area interaktif tempat tamu dapat menambahkan coretan, catatan kecil / inspirasi mereka. Tamu diarahkan untuk mewarnai sketsa dengan cat warna bebas yang telah disediakan.
Dalam pameran ini juga terdapat talk sesion bersama Ayu Suma, designer & conceptor dari Indira Laksmi dengan Idon Pande sebagai moderator. Dalam sesi ini Ayu Suma menyampaikan bahwa pameran ini adalah perayaan untuk proses mereka di Indira Laksmi. “membuat acara ‘From Sketch To Soul’ ini adalah perayaan untuk proses kami, jadi merayakan perjalanan kami. Dari proses ini kami menceritakan bahwa di Pameran proses tadi, Indira Laksmi ini tidak hanya menciptakan suatu karya yang indah tapi juga memikirkan bagaimana karya ini bisa menyentuh jiwa dan emosi dari klien yang akan memakainya.” Jelas Ayu Suma dalam talk sesion pameran.
Ayu Suma menyampaikan tantangan selama berkarya adalah dalam memadukan rasa antara desainer, klien, dan photographer yang memiliki karakteristik yang berbeda karena Indira Laksmi berhubungan erat dengan ketiga elemen tersebut. “Sebenernya proses berkarya itu, kesulitannya adalah dalam menyatukan rasa antara kami yang mendesain, dengan klien, dan si photographer. Karena jujur Indira Laksmi, hubungannya dengan tiga hal itu.” Terang Ayu Suma. Hal tersebut menjadi tantangan untuk menghasilkan sebuah karya yang sempurna.
Ayu Suma juga menyampaikan bahwa sebuah sketsa dikatakan sudah layak diwujudkan ketika semua sudah satu rasa antara proporsi tubuh klien, estetika, warna, hingga perpaduan motif. Ketika elemen tersebut sudah satu rasa, maka sebuah sketsa dapat dikatakan layak untuk diwujudkan.
Beberapa tamu yang hadir juga menyampaikan kesan mereka selama mengikuti house tour. Nazmi salah satu tamu yang hadir mengatakan “saya pertama kali melihat Indira Laksmi dari Instagram, saya dari Tabanan datang ingin melihat bagaimana proses kreatif dari Indira Laksmi. Satu benang memiliki filosofi yang mendalam bagi saya”.
“saya benar-benar merasakan aura yang dikeluarkan dari sejarah kain. Dalam artian Indira Laksmi benar-benar menggali sejarah dari leluhur kita, trus dijadikan sebuah kain. Selain menjaga, Indira Laksmi juga membentuk kain baru seperti Bapang, Jatayu. Tidak semua orang bisa mengekspresikannya menjadi sebuah rasa.” Ujar Maha Made, salah satu tamu yang mengikuti pameran ini.
“Yang paling saya rasakan itu pertama kali, bangga banget sama Indira Laksmi. Melihat perkembangannya sangat pesat, saya selalu merasa disini sudah seperti rumah.” Ucap Nindi, salah satu tamu dari pameran Indira Laksmi dalam talk sesion yang membagikan kesannya.
Bagian yang paling dinantikan oleh Ayu Suma adalah respon dari para tamu yang hadir dan mengikuti pameran ini terhadap karya-karya Indira Laksmi. “sebenarnya yang paling saya nantikan adalah respon kalian terhadap karya-karya kami di atas, yang kami kerjakan bersama-sama, responnya apakah berhasil atau bagaimana.” Ungkap Ayu Suma.

Setelah talk sesion, dalam sesi Story Behind the Sketch, menampilkan kisah pendek tentang inspirasi di balik beberapa karya dengan ditayangkannya video dokumenter Idup Panak. Setelahnya dilanjutkan dengan Art perfoming by kitapoleng, live Sketching by Ayu Suma, dan digital mapping by Almarira & Kokoksaja, closing permomance dari pameran ini adalah penampilan live acoustic by Gung Doni & Friend.
Melalui pameran ini Ayu Suma ingin memperlihatkan kepada tamu bagaimana proses dari Indira Laksmi, merasakan bagaimana Indira Laksmi berproses. Bukan hanya menghasilkan karya yang indah, tapi juga melewati proses yang panjang. Dari penggambaran sketsa sampai dengan proses fitting dengan klien. Banyak warna dan aksesoris yang dipadukan untuk membuat klien terlihat cantik nan menawan.
“Halo, Aku adalah interpretasi dari apa yang kalian inginkan, dari warna, dari karakter, dari emosi yang kalian inginkan, dan aku siap jadikan kenyataan.” –Ayu Suma, saat menjawab pertanyaan “jika sketsa bisa bicara, cerita apa yang ingin mereka sampaikan?” []
G.A. Made Widiadnyani
Sekelebat pertanyaan tiba-tiba muncul mana kala halaman demi halaman terbitan berkala Prabhajñāna saya buka. Pertanyaan yang mengusik saya sejak mengenal khazanah teks-teks Bali yang melimpah -- yang bagi saya tak cukup umur untuk mendalami semua khaznah itu. Bagi saya, mempelajarinya sudah seperti menemukan "pelukatan" untuk diri sendiri -- menemukan nutrisi hidup.
Pertanyaannya kemudian, apa sumbangan Ilmu-Ilmu Bali untuk jawaban hari ini dan hari depan Bali ? Pertanyaan ini tentu tak mudah dijawab. Tak mudah dijawab karena hampir sebagian dari kita menanggung bebab akut, diblokir sejumlah kesenjangan -- baik itu kesenjangan aksara dan kesenjangan bahasa.
Kita bisa membayangkan, apa arti terbitan Prabhajñāna di depan generasi yang mengalami dua kesenjangan akut itu? Mereka pasti mengalami keterasingan, mengingat jarak kultural, jarak historis, dan jarak tradisi teks adalah juga beban bagi mereka. Bila kondisi ini tak dijembatani, tentu membuat siapa saja jauh dari akar kebudayaan. Menjadi generasi tanpa identitas, terombang-ambing karena tak memiliki pegangan nilai-nilai. Terhanyut di samudera luas modernitas, dan di situ setiap orang pasti butuh pegangan -- sekecil apapun pegangan itu. Pegangan itu adalah nilai-nilai -- di dalamnya ada keyakinan dan norma-norma. Sama seperti orang terhanyut di samudera lepas, ia butuh semacam pelampung kecil, supaya mereka tak mudah terhanyut atau tenggelam.

Sekiranya kita tak ingin terombang-ambing, tergerus gelombang modernitas dangkal, apakah kemudian semua dari kita harus menjadi ahli sastra, mendalami teks-teks kuna dengan seksama?
Tentu tidaklah demikian strateginya, dan karena di sini, ranah ini kemudian menjadi tanggung jawab sarjana sastra -- ia menjadi timba, menjadi jembatan untuk menghidangkan "masakan lezat" teks-teks sastra guna menjadi nutrisi penguat nilai serta mudah dicerna khalayak pembaca. Ini adalah tugas humaniora yang tak bisa ditunda -- karena ia menjadi semacam penjaga benteng kemanusian kita. Kita boleh menguasai apa saja, mendalami bidang-bidang keilmuan yang beragam dan luas. Namun kita tetap butuh humaniora, jika tidak, kita akan mengalami keterasingan dan de-moralisasi. Jiwa-jiwa kering tanpa nutrisi rohani, robot-robot tanpa perasa.
Sampai di sini, tugas sarjana sastra tak cuma melulu menyajikan teks-teks itu secara akademis -- justru ia bisa menjadi penghidang piawai di tengah-tengah pilihan bacaan yang prural dan beragam. Di tengah-tengah banjir bah kebudayaan nirkabel; medsos, instagram, tiktok, dll. Kita butuh sesuatu yang baru dan segar tanpa kehilangan nilai-nilai. Seperti halnya pujangga Rabindranath Tagore, menghidangkan Gitanjali dengan apik di zamannya, menyajikan teks-teks tua dari kabut mistis Upanisad -- di mana sesungguhnya; Gitanjali atau mungkin juga Tukang Kebun tak cuma karya sastra, tapi Upanisad yang dibahasakan secara baru, menyala dengan bahasa bersinar.
Itulah contoh kongkrit, bagaimana teks-teks kuna itu dinyalakan dengan bahasa yang baru. Spirit dan semangat yang baru. Dan mungkin di situ kita bisa membangun suatu adab yang baru. Inilah salah satu tugas dari sarjana sastra. Tentu di pundaknya ada tugas-tugas yang sama beratnya -- setidaknya ia harus terbebas dari dua kesenjangan akut, yakni: kesenjangan bahasa dan kesenjangan aksara.
Hal paling ditakuti tentu adalah tugas-tugas filologis, karena tugas ini di samping memerlukan kesuntukan dan ketelitian, ia juga memerlukan kecintaan.Punagi dari seorang filolog adalah kecintaannya pada teks. Tanpa pengkajian teks dengan baik, mustahil pranata, sejarah, dan kebudayaan masa silam bisa diselami dengan baik. Mustahil membangun makna-makna baru dari situ. Tak banyak thesis dan disertasi yang menekuni bidang ini secara komperehensif dan boleh jadi ini studi yang paling menantang, menakutkan, sekaligus mengasykkan.
Namun hari ini kita layak berbesar hati, sejumlah sarjana sastra dari Unit Lontar Universitas Udayana dengan energi sedikit bersuntuk , sangat percaya diri menghadirkan hasil kajiannya dalam terbitan berkala bertajuk Prabhajñāna. Setidaknya kajian-kajian ini menunjukkan kita peta-peta kognitif perihal kekayaan khasanah sastra Bali yang amat berlimpah itu.
Dan sebagai peta kebudayaan yang utuh, Bali terang memiliki unicum tersendiri, suatu pandangan kosmos tersendiri pula. Di pulau kecil ini, di samping keunikan alamnya, memiliki empat danau berudara dingin, Bali memiliki tradisi yang unik pula, memiliki bahasa, aksara, dan susastra yang berbeda dengan tradisi Nusantara lainnya, terkecuali dalam garis genetik kultur Hindu Jawa klasik. Bahkan agama dan keyakinan-keyakinannya yang masih hidup pun terbilang amat sangat khusus -- sebagaimana kemudian dinyatakan budayawan anumerta I Gusti Bagus Sugriwa, menyebutnya sebagai "Hindu Bali".
Sebagai orang non akademis, saya berusaha melihat kajian-kajian yang disajikan dalam terbitan Prabhajñāna dengan kaca mata orang awam, dari dua sisi yang saling berkelindan, yakni dari cara hidup yang benar dan cara mati yang benar. Orang-orang terpelajar dalam teks lebih memahaminya sebagai Dharma Kahuripan dan Dharma Kepatian, tugas untuk hidup dan tugas untuk mati.
Jadi dengan amat sederhana, bila kita kelompokkan teks-teks Bali itu, kategorinya cuma ada dua. Pertama, adalah teks-teks yang berkaitan dengan cara hidup yang benar. Kedua, adalah teks-teks yang bertemali dengan cara mati yang benar. Itulah "agama" bagi orang Bali -- agama yang berkaitan dengan proses mengada dan proses meniada. Dua sisi yang biasanya disambut dan dilepas dengan meriah.
Lihatlah upacara manusa yadnya dari lepas awon hingga upacara pernikahan, sungguh dirayakan dengan meriah. Perhatikan juga upacara pitra yadnya, kadang menjadi upacara pelepasan begitu bergemuruh.

Menyebut beberapa nama, tulisan-tulisan dengan kategori Dharma Kahuripan, dengan lumayan jelas bisa kita simak dari tulisan Dr. I Wayan Suardiana [ Aji Pangintar Pantun: Teks Panduan Bercocok Tanam Padi di Sawah serta Siklus Upacaranya]. Kajian I Wayan Cika & Putu Eka Guna Yasa [ Bentuk Berubah Nilai Etiket Tetap: Transformasi Teks "Kakawin Putra Sasana" dalam "Geguritan Putra Sasana"]. Tulisan Putu Ari Suprapta Pratama [ Bhama Kretih: Pengetahuan Tradisional Tentang Pekarangan]. Tulisan Pande Putu Abadi Jaya [Makna Simbolis dan Suluh Kehidupan dari Peralatan Pandai Besi dalam Khazanah Lontar di Bali], tulisan Sri Jumaidah & Putu Widhi Kurniawan [ Memaknai Lontar Kanda Empat Bhuta: sebagai media Pembelajaran Seorang Ibu]. Tulisan I Made Suastika [Pengobatan Tradisional Bali], tulisan I Putu Eka Guna Yasa [Brata Amrétasnātaka dalam Sarasamuccaya: Dimensi Waktu dalam Seksualitas sebagai Penentu Generasi Berkualitas] dll.
Dalam tulisan I Wayan Suardiana, akhirnya kita tahu, bahwa Bali memiliki banyak teks perihal bagaimana bersawah dan merawat sawah dengan kesantunan-kesantunan agraris. Ini menunjukkan betapa pentingnya devosi "karma kanda" sebagai doa dalam tindakan tentang bagaimana tanah, badan wadag ibu bumi dimuliakan dalam kerja, dirawat, ditanami supaya menghasilkan amreta bagi hidup. Petani yang merawat tanah tanpa keluh dipastikan dianugerahi kesabaran, seperti juga ibu bumi lambang kesabaran itu.
Dan teks-teks yang disebut Wayan Suardiana [ di halaman delapan buku ini], semisal Usadha Sawah, Tingkah Makarya ring Prathiwi, Pratingkahing Wwang Magaga Sawah, Tingkahing Angawe Sawah, dan lain-lainnya bisa dipastikan adalah seperangkap ilmu-ilmu Bali yang ditulis dari pengalaman kerja.Bukan ditulis di atas meja. Dan pengalaman-pengalaman itu menghasilkan tehnik-tehnik mengolah tanah dengan benar,sebagaimana pengalaman orang Bali sendiri. Apa yang kemudian disebut kreta masa dalam bercocok tanam ala Bali misalnya, terang terbaca sebagai salah satu cara mengendalikan hama, di samping hal khusus soal hama yang diterangkan Usadha Sawah.
Tentu masih banyak naskah-naskah yang berkaitan dengan Dharma Kahuripan-- yang layak kita bahas di sini. Misalnya soal Pengobatan Tradisional sebagaimana kajian yang dilakukan Bapak Made Suastika. Ternyata dunia teks Bali menyediakan beragam cara soal bagaimana menangani penyakit -- mulai dari diagnosis sampai pronogsis. Kita juga menemukan teks-teks pengobatan yang bersifat spesialis, sebutlah misalnya soal Usadha Netra, Usadha Edan, Usadha Taru Pramana, Tetenger Wong Beling, Usadha Kecacar, Usadha Cetik, dan sebagainya. Teks-teks ini memerlukan studi yang komperehensif dan harus ditangani secara spesialis juga. Sebagai warisan ilmu pengobatan tradisional, Usadha Bali masih menyediakan lapangan pengkajian yang luas, studi yang sangat menantang -- yang sebagian sudah dikerjakan oleh Dr. Med. Wolfgang Weck. Dengan mempergunakan 256 lontar, mewawancarai 43 narasumber, Weck akhirnya menerbitkan buku yang nyaris menjadi magnum opus dengan judul Hilkunde und Volkstum auf Bali [Pengetahuan tentang Penyembuhan dan Pekerti Rakyat Bali]. Baru kemudian setelah beberapa dekade, buku Usada Bali (1993) karya Prof. Dokter Ngurah Nala terbit. Walau demikian teks-teks Usadha masih memerlukan sentuhan para filolog, guna menemukan, menyibak belantara istilah, serta norma-norma etik yang ada di belakang teks. Sekali lagi ini menjadi tugas sarjana sastra Bali dan Jawa Kuna.
Wilayah teks-teks dalam kategori Dharma Kahuripan sesungguhnya amat luas, di samping tentang ilmu bangunan, Kosala-Kosali, kita juga menemukan perihal teks-teks etik dengan tajuk sasana. Apa yang dibahas I Wayan Cika bersama Putu Eka Guna Yasa perihal transformasi teks Kekawin Putra Sasana dalam Geguritan Putra Sesana menunjukkan pada kita, bahwa Bali memiliki cara-cara mengedukasi secara melekat, di mana pertama-tama tanggung jawab itu menjadi tanggung jawab orangtua.
Soal bagaimana mengkondisikan generasi berkualitas, orang-orang modern memiliki tahap pendidikan pralahir yang disebut prenatal education, yakni usaha pasangan suami istri "mendidik' janin di dalam kandungan. Namun lebih awal dari "pendidikan janin" dalam kandungan, teks Sarasamuccaya malah mengawali proses itu dari dimensi waktu, kapan hari yang tepat dan dibolehkan berhubungan seks -- sebagaima bahasan menarik yang diasajikan Putu Eka Guna Yasa berdasarkan brata amrétasnātaka. Ini adalah hal sangat penting dibahas dalam sejumlah lontar seksologi Bali. Sebutlah misalnya lontar Smarakrida Laksana, Pameda Smara, Cumbana Sasana, dan lain sebagainya, menjabarkan etiket ini secara panjang lebar.
Sesungguhnya teks-teks dalam kategori Dharma Kahuripan dibetangkan layaknya kurikulum, menuju jalan meniada dengan cara yang benar -- suatu kepulangan di mana sang jiwa mereguk santapan sangupati, bekal kepulangan yang disebut amrétajiwa. Suatu bahasan menarik perihal topik ini disajikan Ida Bagus Anom Wisnu Pujana. Teks Swacandha Mārana yang dibahas penulis memang membentangkan jalan, pertanda, dan kemenangan atas kematian. Dikatakan oleh penulis, seorang yogi yang mengetahui dan menerapkan marga tiga saat menjelang kematiannya, ia dapat memilih nadi mana yang dijadikan jalan atma untuk berpulang, lepas dari badan wadahnya. Apabila anawaha sebagai jalan, atma akan menuju alam dewata. Jika rasawaha sebagai jalan, maka atma akan menuju alam pitra. Dan jika pranawaha sebagai jalan, maka sang yogi akan mencapai moksa.
Sebenarnya ada dua teks yang boleh kita dudukan sebagai teks dalam kategori risalah mistis Dharma Kepatian dalam buku ini. Selain Swacandha Mārana ada teks Dharma Sunya yang didekati dengan cara pandang filsafat stoik oleh Ni Made Ari Dwijayanti. Suatu bahasan menarik tentang bagaimana cara pandang Yunani itu membingkai, memformulasikan teks-teks kelepasan ala Bali. Namun di sisi lain pasti ada persinggungan-persingungan kategoris, bagaimana mensepadankan dunia Bali dan dunia Atena soal kematian yang benar. Pertanyaan kemudian, apakah akar dan motif dua dunia itu memang sama? Untuk lebih jelasnya, silakan baca tulisan Ni Made Ari Dwijayanti.
Sampai di sini, kita boleh meraba jawaban dari pertanyaan, apa sumbangan ilmu-ilmu Bali untuk hari ini dan hari depan? Lamat-lamat saya seperti mendengar cibiran. Kita adalah orang "kaya" yang keburu merasa miskin. Padahal kita memiliki kotak warisan di mana jawaban-jawaban itu tertulis. Mempelajarinya, mengalaminya, lalu membadankannya bisa jadi membuat setiap orang selalu rindu kembali, lalu pulang membawa bekal amretajiwa. Pihala bagi yang jaya atas kematian, mrityunjaya.
I Wayan Westa
Pakubuan Kusa Agra
Sugian Jawa, 29 Desember 2022
Note:
Materi ini disajikan dalam acara Peluncuran dan Diskusi Buku Prabhajñana: Mosaik Kajian Pustaka Lontar Universitas Udayana, tanggal 29 Desember 2022.
Tertanda:
Tim Unit Lontar Universitas Udayana.
Rekaman audio dari diskusi acara Temu Tenun: Temu, Kenal dan Diskusi Kesenian Tenun Bali
Berbincang tentang buku *Menenun Waktu* bersama :
1. Widayanti Arioka
2. Atiek Kurnianingsih
Dipandu oleh:
1. Tisha Sara
2. Wicitra P.
Berlangsung pada:
Kamis 7 Januari 2021
16.00- 20.00
Taman Baca Kesiman
Jl. Sedap Malam 234, Denpasar
audio rec. & edit: @iniartchive
musik: Saturn
produksi 2022
Rekaman audio diskusi dari acara Solidaritas Senja 03 yang menggelar diskusi dan screening film dengan tema:
"Perempuan dalam Cengkraman Kekerasan"
Narasumber:
Ni Putu Candra Dewi
(Advokat HAM)
Dhyta Caturani
(Purple Code Collective)
Agung Alit
(Pegiat Kesetaraan dan Keberagaman)
Moderator:
Ignatius M. Bernard
(Sanglah Institute)
Acara berlangsung pada:
Kamis, 28 Nopember 2019 pukul 19.00-23.00WITA.
Bertempat di Haluan Cafe and Space, Jl. Nangka Selatan no. 58, Denpasar-Bali.
audio rec. & edit: @iniartchive
musik: Saturn
produksi 2022
Rekaman diskusi di acara Solidaritas Senja 01 dengan tema "COALRUPTION: Tambang dalam Pusaran Korupsi"
menghadirkan pembicara:
Wayan "Gendo" Suardana (For Bali)
Ki Bagus Hadi Kusuma (JATAM)
Tata Mustasya (Greenpeace)
IGA Mas Rwa Jayantiari (Akademi Ilmu Hukum UNUD)
Moderator:
Arya Ganaris (ARAK Bali)
yang berlangsung pada:
Selasa,8 Oktober 2019
14.00-22.00
Taman Baca Kesiman
Jl. Sedap Malam 234 Denpasar. .
audio rec. & edit: @iniartchive
musik: Saturn
produksi 2022
Sebuah pameran seni telah diselenggarakan oleh kawan-kawan "Street Conection" pada tanggal 11 Juni sampai 18 Juni 2021, bertempat di Parigata Alternative Space, jl. Farigata, no. 13, Dauh Peken - Tabanan.
Pameran yang berlangsung selama seminggu ini merupakan sebuah pameran kelompok yang diikuti oleh 32 seniman, masing-masing seniman membawa satu buah karya seni dengan kanvas sebagai media utama, dengan tujuan untuk membangun koneksi antara sesama seniman, komunitas dan individu. Selain itu pameran ini juga membuka donasi yang ditujukan kepada salah satu ruang belajar didaerah Mambang, Selemadeg Timur yaitu Ruang Baca Kreatifitas Mambang.
Pameran dibuka pada tanggal 11 Juni 2021 dengan agenda hari pertama yaitu; bincang santai bersama seniman, kemudian akustik yang diisi oleh Lentera, Pandu Sukma, Badik Tilu dan Lizen, dan teatrikal puisi yang diisi oleh Devy Gita. Acara dibuka mulai pukul 16.00 Wita sampai pukul 22.00 Wita. Selain bincang santai dan akustik, ada juga tattoo colabs oleh Gede Rian, Erik Surya dan Agus Wijaya. Tentu pengunjung dihari pertama sebagai pembukaan pameran ini membludak luar biasa ramainya.
Pameran masih berlanjut di hari-hari berikutnya, guna memaksimalkan acara pameran, beberapa kegiatan pun dilakukan seperti dihari ke-2 pameran yaitu 12 Juni 2021 diisi dengan workshop "Paint & Drawing on Textile" yang diisi oleh Setiadi Nolep. Workshop kali ini menggunakan limbah tekstil (pakaian layak pakai) sebagai media, yang direspon oleh peserta workshop dengan cat lukis yang telah disediakan oleh pengisi workshop. Ada yang menggunakan topi sebagai media, baju bahkan hingga sepatu.
Dan hari ke-4, Senin 14 Juni diadakan nonton bareng film "Indonesia Merdeka" dan diskusi yang diisi oleh Made Argawa sebagai moderator dan I Gede Kamajaya sebagai pemantik diskusi, dengan tema "Soekarno Pacsa Kolonialisme". Acara berlangsung sangat intim, ditemani gorengan dan kopi.
Di hari ke-5, Selasa 15 Juni agenda masih sama, yaitu diisi dengan nonton bareng film "KPK EndGame" garapan watchdoc. Film ini menjadi salah satu pilihan agenda pameran dengan tujuan mengangkat isu upaya pelemahan KPK oleh pemerintah.
Selanjutnya, di hari ke-6, Kamis 17 Juni diisi dengan bincang santai "Tiba-tiba Bicara Arsip", yaitu bincang-bincang seputaran upaya pengarsipan bersama I Ni Ar(t)chive, yaitu bagaimana upaya kita mengarsipkan/membuat dokumentasi suatu hal baik itu karya seni, musik dan yang lain dalam bentuk foto, video maupun tulisan.
Itulah beberapa kegiatan yang diisi selama pameran berlangsung, dan hari terakhir, yaitu penutupan pameran, Jumat 18 Juni diisi dengan agenda ; Music Perform oleh Mantra, Live Painting/Mural diisi oleh Himawari, Lost Mind, Mahaguna, Ari Kiss, Indra Tattoo, dan Possed to Die, serta Tatto Trade yang diisi oleh Gede Rian, Erik Surya, Agus Wijaya, Nanda Art Tattoo, dan Anggi Ayuning. Tatto Trade kali ini tidak berbayar dengan uang melainkan dibarter dengan sembako.
Selama berlangsungnya acara tentu banyak hal yang didapat, terutama antusias para seniman, dan kawan-kawan yang melibatkan diri ambil andil dalam acara ini. Harapan mulai muncul, semangat membangun koneksi antara yang satu dengan yang lain tentunya mulai terbangun, lalu kemudian bagaimana semangat gotong royong pun tumbuh bersama melalui acara ini.
Kusuma Putra
27 Juni 2021
Dokumentasi penampilan
Dully Wave
( https://www.instagram.com/dullywave/?hl=id )
http://www.spotify.com/sinagagoatama
pada tanggal : 2 Mei 2017
di Tuck & Trap, Kedampang, Badung-bali
MatrixCollapse project berkolaborasi dengan Wukir Suryadi, dalam rangkain tour singkat yang berlangsung di beberapa titik di Bali.
Tour yang terjadi sebagai bentuk silaturahmi penampilan merespon kunjungan Wukir Suryadi (Senyawa) ke Bali ( Rumah Asah Tukad Abu)
Video ini diambil ketika mereka tampil pada tanggal 1 mei 2017 di Ubud, Bali, Indonesia.
( 26 Mei 2018)
Berikut merupakan penampilan
https://matajiwa.bandcamp.com/
https://www.instagram.com/matajiwaofficial/
dalam acara
sebuah perilisan album yang berlangsung:
Tanggal: 26 Mei 2018
Tempat: The Orchard, Bali.
Video mapping/art:
RATA (Ruang Asah Tukad Abu)
(Jonas Sastrakresna & bimo Dwipoalam)
video & edit: //ra
Sebuah dokumentasi kegiatan kolaboratif antara Luh De S. (sloka institut), Rudi W. (lingkara photo art) dan Peanut dog (komunitas pojok) dalam usaha mengkampanyekan penyelamatan garam amed yang terancam punah.