Sekelebat pertanyaan tiba-tiba muncul mana kala halaman demi halaman terbitan berkala Prabhajñāna saya buka. Pertanyaan yang mengusik saya sejak mengenal khazanah teks-teks Bali yang melimpah -- yang bagi saya tak cukup umur untuk mendalami semua khaznah itu. Bagi saya, mempelajarinya sudah seperti menemukan "pelukatan" untuk diri sendiri -- menemukan nutrisi hidup.
Pertanyaannya kemudian, apa sumbangan Ilmu-Ilmu Bali untuk jawaban hari ini dan hari depan Bali ? Pertanyaan ini tentu tak mudah dijawab. Tak mudah dijawab karena hampir sebagian dari kita menanggung bebab akut, diblokir sejumlah kesenjangan -- baik itu kesenjangan aksara dan kesenjangan bahasa.
Kita bisa membayangkan, apa arti terbitan Prabhajñāna di depan generasi yang mengalami dua kesenjangan akut itu? Mereka pasti mengalami keterasingan, mengingat jarak kultural, jarak historis, dan jarak tradisi teks adalah juga beban bagi mereka. Bila kondisi ini tak dijembatani, tentu membuat siapa saja jauh dari akar kebudayaan. Menjadi generasi tanpa identitas, terombang-ambing karena tak memiliki pegangan nilai-nilai. Terhanyut di samudera luas modernitas, dan di situ setiap orang pasti butuh pegangan -- sekecil apapun pegangan itu. Pegangan itu adalah nilai-nilai -- di dalamnya ada keyakinan dan norma-norma. Sama seperti orang terhanyut di samudera lepas, ia butuh semacam pelampung kecil, supaya mereka tak mudah terhanyut atau tenggelam.

Sekiranya kita tak ingin terombang-ambing, tergerus gelombang modernitas dangkal, apakah kemudian semua dari kita harus menjadi ahli sastra, mendalami teks-teks kuna dengan seksama?
Tentu tidaklah demikian strateginya, dan karena di sini, ranah ini kemudian menjadi tanggung jawab sarjana sastra -- ia menjadi timba, menjadi jembatan untuk menghidangkan "masakan lezat" teks-teks sastra guna menjadi nutrisi penguat nilai serta mudah dicerna khalayak pembaca. Ini adalah tugas humaniora yang tak bisa ditunda -- karena ia menjadi semacam penjaga benteng kemanusian kita. Kita boleh menguasai apa saja, mendalami bidang-bidang keilmuan yang beragam dan luas. Namun kita tetap butuh humaniora, jika tidak, kita akan mengalami keterasingan dan de-moralisasi. Jiwa-jiwa kering tanpa nutrisi rohani, robot-robot tanpa perasa.
Sampai di sini, tugas sarjana sastra tak cuma melulu menyajikan teks-teks itu secara akademis -- justru ia bisa menjadi penghidang piawai di tengah-tengah pilihan bacaan yang prural dan beragam. Di tengah-tengah banjir bah kebudayaan nirkabel; medsos, instagram, tiktok, dll. Kita butuh sesuatu yang baru dan segar tanpa kehilangan nilai-nilai. Seperti halnya pujangga Rabindranath Tagore, menghidangkan Gitanjali dengan apik di zamannya, menyajikan teks-teks tua dari kabut mistis Upanisad -- di mana sesungguhnya; Gitanjali atau mungkin juga Tukang Kebun tak cuma karya sastra, tapi Upanisad yang dibahasakan secara baru, menyala dengan bahasa bersinar.
Itulah contoh kongkrit, bagaimana teks-teks kuna itu dinyalakan dengan bahasa yang baru. Spirit dan semangat yang baru. Dan mungkin di situ kita bisa membangun suatu adab yang baru. Inilah salah satu tugas dari sarjana sastra. Tentu di pundaknya ada tugas-tugas yang sama beratnya -- setidaknya ia harus terbebas dari dua kesenjangan akut, yakni: kesenjangan bahasa dan kesenjangan aksara.
Hal paling ditakuti tentu adalah tugas-tugas filologis, karena tugas ini di samping memerlukan kesuntukan dan ketelitian, ia juga memerlukan kecintaan.Punagi dari seorang filolog adalah kecintaannya pada teks. Tanpa pengkajian teks dengan baik, mustahil pranata, sejarah, dan kebudayaan masa silam bisa diselami dengan baik. Mustahil membangun makna-makna baru dari situ. Tak banyak thesis dan disertasi yang menekuni bidang ini secara komperehensif dan boleh jadi ini studi yang paling menantang, menakutkan, sekaligus mengasykkan.
Namun hari ini kita layak berbesar hati, sejumlah sarjana sastra dari Unit Lontar Universitas Udayana dengan energi sedikit bersuntuk , sangat percaya diri menghadirkan hasil kajiannya dalam terbitan berkala bertajuk Prabhajñāna. Setidaknya kajian-kajian ini menunjukkan kita peta-peta kognitif perihal kekayaan khasanah sastra Bali yang amat berlimpah itu.
Dan sebagai peta kebudayaan yang utuh, Bali terang memiliki unicum tersendiri, suatu pandangan kosmos tersendiri pula. Di pulau kecil ini, di samping keunikan alamnya, memiliki empat danau berudara dingin, Bali memiliki tradisi yang unik pula, memiliki bahasa, aksara, dan susastra yang berbeda dengan tradisi Nusantara lainnya, terkecuali dalam garis genetik kultur Hindu Jawa klasik. Bahkan agama dan keyakinan-keyakinannya yang masih hidup pun terbilang amat sangat khusus -- sebagaimana kemudian dinyatakan budayawan anumerta I Gusti Bagus Sugriwa, menyebutnya sebagai "Hindu Bali".
Sebagai orang non akademis, saya berusaha melihat kajian-kajian yang disajikan dalam terbitan Prabhajñāna dengan kaca mata orang awam, dari dua sisi yang saling berkelindan, yakni dari cara hidup yang benar dan cara mati yang benar. Orang-orang terpelajar dalam teks lebih memahaminya sebagai Dharma Kahuripan dan Dharma Kepatian, tugas untuk hidup dan tugas untuk mati.
Jadi dengan amat sederhana, bila kita kelompokkan teks-teks Bali itu, kategorinya cuma ada dua. Pertama, adalah teks-teks yang berkaitan dengan cara hidup yang benar. Kedua, adalah teks-teks yang bertemali dengan cara mati yang benar. Itulah "agama" bagi orang Bali -- agama yang berkaitan dengan proses mengada dan proses meniada. Dua sisi yang biasanya disambut dan dilepas dengan meriah.
Lihatlah upacara manusa yadnya dari lepas awon hingga upacara pernikahan, sungguh dirayakan dengan meriah. Perhatikan juga upacara pitra yadnya, kadang menjadi upacara pelepasan begitu bergemuruh.

Menyebut beberapa nama, tulisan-tulisan dengan kategori Dharma Kahuripan, dengan lumayan jelas bisa kita simak dari tulisan Dr. I Wayan Suardiana [ Aji Pangintar Pantun: Teks Panduan Bercocok Tanam Padi di Sawah serta Siklus Upacaranya]. Kajian I Wayan Cika & Putu Eka Guna Yasa [ Bentuk Berubah Nilai Etiket Tetap: Transformasi Teks "Kakawin Putra Sasana" dalam "Geguritan Putra Sasana"]. Tulisan Putu Ari Suprapta Pratama [ Bhama Kretih: Pengetahuan Tradisional Tentang Pekarangan]. Tulisan Pande Putu Abadi Jaya [Makna Simbolis dan Suluh Kehidupan dari Peralatan Pandai Besi dalam Khazanah Lontar di Bali], tulisan Sri Jumaidah & Putu Widhi Kurniawan [ Memaknai Lontar Kanda Empat Bhuta: sebagai media Pembelajaran Seorang Ibu]. Tulisan I Made Suastika [Pengobatan Tradisional Bali], tulisan I Putu Eka Guna Yasa [Brata Amrétasnātaka dalam Sarasamuccaya: Dimensi Waktu dalam Seksualitas sebagai Penentu Generasi Berkualitas] dll.
Dalam tulisan I Wayan Suardiana, akhirnya kita tahu, bahwa Bali memiliki banyak teks perihal bagaimana bersawah dan merawat sawah dengan kesantunan-kesantunan agraris. Ini menunjukkan betapa pentingnya devosi "karma kanda" sebagai doa dalam tindakan tentang bagaimana tanah, badan wadag ibu bumi dimuliakan dalam kerja, dirawat, ditanami supaya menghasilkan amreta bagi hidup. Petani yang merawat tanah tanpa keluh dipastikan dianugerahi kesabaran, seperti juga ibu bumi lambang kesabaran itu.
Dan teks-teks yang disebut Wayan Suardiana [ di halaman delapan buku ini], semisal Usadha Sawah, Tingkah Makarya ring Prathiwi, Pratingkahing Wwang Magaga Sawah, Tingkahing Angawe Sawah, dan lain-lainnya bisa dipastikan adalah seperangkap ilmu-ilmu Bali yang ditulis dari pengalaman kerja.Bukan ditulis di atas meja. Dan pengalaman-pengalaman itu menghasilkan tehnik-tehnik mengolah tanah dengan benar,sebagaimana pengalaman orang Bali sendiri. Apa yang kemudian disebut kreta masa dalam bercocok tanam ala Bali misalnya, terang terbaca sebagai salah satu cara mengendalikan hama, di samping hal khusus soal hama yang diterangkan Usadha Sawah.
Tentu masih banyak naskah-naskah yang berkaitan dengan Dharma Kahuripan-- yang layak kita bahas di sini. Misalnya soal Pengobatan Tradisional sebagaimana kajian yang dilakukan Bapak Made Suastika. Ternyata dunia teks Bali menyediakan beragam cara soal bagaimana menangani penyakit -- mulai dari diagnosis sampai pronogsis. Kita juga menemukan teks-teks pengobatan yang bersifat spesialis, sebutlah misalnya soal Usadha Netra, Usadha Edan, Usadha Taru Pramana, Tetenger Wong Beling, Usadha Kecacar, Usadha Cetik, dan sebagainya. Teks-teks ini memerlukan studi yang komperehensif dan harus ditangani secara spesialis juga. Sebagai warisan ilmu pengobatan tradisional, Usadha Bali masih menyediakan lapangan pengkajian yang luas, studi yang sangat menantang -- yang sebagian sudah dikerjakan oleh Dr. Med. Wolfgang Weck. Dengan mempergunakan 256 lontar, mewawancarai 43 narasumber, Weck akhirnya menerbitkan buku yang nyaris menjadi magnum opus dengan judul Hilkunde und Volkstum auf Bali [Pengetahuan tentang Penyembuhan dan Pekerti Rakyat Bali]. Baru kemudian setelah beberapa dekade, buku Usada Bali (1993) karya Prof. Dokter Ngurah Nala terbit. Walau demikian teks-teks Usadha masih memerlukan sentuhan para filolog, guna menemukan, menyibak belantara istilah, serta norma-norma etik yang ada di belakang teks. Sekali lagi ini menjadi tugas sarjana sastra Bali dan Jawa Kuna.
Wilayah teks-teks dalam kategori Dharma Kahuripan sesungguhnya amat luas, di samping tentang ilmu bangunan, Kosala-Kosali, kita juga menemukan perihal teks-teks etik dengan tajuk sasana. Apa yang dibahas I Wayan Cika bersama Putu Eka Guna Yasa perihal transformasi teks Kekawin Putra Sasana dalam Geguritan Putra Sesana menunjukkan pada kita, bahwa Bali memiliki cara-cara mengedukasi secara melekat, di mana pertama-tama tanggung jawab itu menjadi tanggung jawab orangtua.
Soal bagaimana mengkondisikan generasi berkualitas, orang-orang modern memiliki tahap pendidikan pralahir yang disebut prenatal education, yakni usaha pasangan suami istri "mendidik' janin di dalam kandungan. Namun lebih awal dari "pendidikan janin" dalam kandungan, teks Sarasamuccaya malah mengawali proses itu dari dimensi waktu, kapan hari yang tepat dan dibolehkan berhubungan seks -- sebagaima bahasan menarik yang diasajikan Putu Eka Guna Yasa berdasarkan brata amrétasnātaka. Ini adalah hal sangat penting dibahas dalam sejumlah lontar seksologi Bali. Sebutlah misalnya lontar Smarakrida Laksana, Pameda Smara, Cumbana Sasana, dan lain sebagainya, menjabarkan etiket ini secara panjang lebar.
Sesungguhnya teks-teks dalam kategori Dharma Kahuripan dibetangkan layaknya kurikulum, menuju jalan meniada dengan cara yang benar -- suatu kepulangan di mana sang jiwa mereguk santapan sangupati, bekal kepulangan yang disebut amrétajiwa. Suatu bahasan menarik perihal topik ini disajikan Ida Bagus Anom Wisnu Pujana. Teks Swacandha Mārana yang dibahas penulis memang membentangkan jalan, pertanda, dan kemenangan atas kematian. Dikatakan oleh penulis, seorang yogi yang mengetahui dan menerapkan marga tiga saat menjelang kematiannya, ia dapat memilih nadi mana yang dijadikan jalan atma untuk berpulang, lepas dari badan wadahnya. Apabila anawaha sebagai jalan, atma akan menuju alam dewata. Jika rasawaha sebagai jalan, maka atma akan menuju alam pitra. Dan jika pranawaha sebagai jalan, maka sang yogi akan mencapai moksa.
Sebenarnya ada dua teks yang boleh kita dudukan sebagai teks dalam kategori risalah mistis Dharma Kepatian dalam buku ini. Selain Swacandha Mārana ada teks Dharma Sunya yang didekati dengan cara pandang filsafat stoik oleh Ni Made Ari Dwijayanti. Suatu bahasan menarik tentang bagaimana cara pandang Yunani itu membingkai, memformulasikan teks-teks kelepasan ala Bali. Namun di sisi lain pasti ada persinggungan-persingungan kategoris, bagaimana mensepadankan dunia Bali dan dunia Atena soal kematian yang benar. Pertanyaan kemudian, apakah akar dan motif dua dunia itu memang sama? Untuk lebih jelasnya, silakan baca tulisan Ni Made Ari Dwijayanti.
Sampai di sini, kita boleh meraba jawaban dari pertanyaan, apa sumbangan ilmu-ilmu Bali untuk hari ini dan hari depan? Lamat-lamat saya seperti mendengar cibiran. Kita adalah orang "kaya" yang keburu merasa miskin. Padahal kita memiliki kotak warisan di mana jawaban-jawaban itu tertulis. Mempelajarinya, mengalaminya, lalu membadankannya bisa jadi membuat setiap orang selalu rindu kembali, lalu pulang membawa bekal amretajiwa. Pihala bagi yang jaya atas kematian, mrityunjaya.
I Wayan Westa
Pakubuan Kusa Agra
Sugian Jawa, 29 Desember 2022
Note:
Materi ini disajikan dalam acara Peluncuran dan Diskusi Buku Prabhajñana: Mosaik Kajian Pustaka Lontar Universitas Udayana, tanggal 29 Desember 2022.
Tertanda:
Tim Unit Lontar Universitas Udayana.
Rekaman audio diskusi dari acara Solidaritas Senja 03 yang menggelar diskusi dan screening film dengan tema:
"Perempuan dalam Cengkraman Kekerasan"
Narasumber:
Ni Putu Candra Dewi
(Advokat HAM)
Dhyta Caturani
(Purple Code Collective)
Agung Alit
(Pegiat Kesetaraan dan Keberagaman)
Moderator:
Ignatius M. Bernard
(Sanglah Institute)
Acara berlangsung pada:
Kamis, 28 Nopember 2019 pukul 19.00-23.00WITA.
Bertempat di Haluan Cafe and Space, Jl. Nangka Selatan no. 58, Denpasar-Bali.
audio rec. & edit: @iniartchive
musik: Saturn
produksi 2022
Rekaman diskusi di acara Solidaritas Senja 01 dengan tema "COALRUPTION: Tambang dalam Pusaran Korupsi"
menghadirkan pembicara:
Wayan "Gendo" Suardana (For Bali)
Ki Bagus Hadi Kusuma (JATAM)
Tata Mustasya (Greenpeace)
IGA Mas Rwa Jayantiari (Akademi Ilmu Hukum UNUD)
Moderator:
Arya Ganaris (ARAK Bali)
yang berlangsung pada:
Selasa,8 Oktober 2019
14.00-22.00
Taman Baca Kesiman
Jl. Sedap Malam 234 Denpasar. .
audio rec. & edit: @iniartchive
musik: Saturn
produksi 2022
"Manambang Emas di Tanah Bencana" merupakan sebuah buku karya Ika Ningtyas yang bercerita bagaimana perjalanan sebuah tambang emas di ujung timur pulau jawa berdiri. Secara runut, buku ini menceritakan bagaimana Gunung Tumpang Pitu berubah menjadi sebuah tambang emas di tepi laut.
Diskusi menghadirkan:
Ika Ningtyas (penulis buku)
Wayan "Gendo"Suardana
Yoyok (Buku Mahardika)
dengan moderator: Roberto Hutabarat
Acara berlangsung:
Minggu, 7 April 2019
16.00 s/d 20.00
Taman Baca Kesiman
Jl. Sedap Malam 234, Denpasar-Bali
rec: I Ni artchive
Sebuah diskusi yang berlangsung setelah acara pemutaran film "Lakardowo Mencari Keadilan", sebuah film dokumenter panjang yang diproduksi oleh Paradoc film dan Ecoton yang membahas bagaimana pencemaran limbah B3 yang terjadi di sebuah Desa Lakardowo, Jawa Timur.
Diskusi dihadiri langsung oleh Mada Ariya (Pembuat film lakar dowo) dengan Penanggap Erick Est (pembuat film) sebagai penanggap.
Acara berlangsung Rabu, 24 April 2019 pada pukul 18.00 wita di Taman Baca Kesiman, Jl. Sedap Malam 234, Denpasar-Bali.
rec: I Ni artchive