Saya baru berkesempatan mendengar kembali Minatory saat Noerdy mengirimkan tautan videoklip "Intoleransi", respon pertama saya adalah "wow, they're still around, that's kool!" lalu bergegas menonton dan kaget dengan evolusi musik mereka; Intoleransi adalah lagu dengan riff berbasikan Blues lead menunggangi beat oldskool ala Overkill dengan ambang batas atas BPM.
Pengalaman pertama saya mendengar Minatory lewat ReverbNation sekitar tahun 2012-2013.
Saya masih ingat mengunduh "The Struggle for Victory" untuk playlist menyetir dan intens mendengarkan "Rebirth of Achilles" yang menjadi favorit saya; sebuah Metalcore modern yang menjadi soundtrack hidup di awal fase konsekuensi.

Karena itu pada saat Gus Wira menghubungi saya mengajak GEEKSSMILE berpartisipasi dalam launching LP perdana mereka Life Racer saya tidak berpikir panjang, hanya mengecek jadwal personnel yang lain untuk memastikan kesiapan mereka. Saya masih ingat membalas pesannya dengan "OK, let's make a great show Gus!"
Secara tematis, Life Racer menganalogikan hidup sebagai sebuah balapan roda 2 yang mengedepankan kecepatan sebagai faktor utama; sebuah tema yang secara kontras dipinjam dari Seringai; faktanya, album ini adalah contoh Seringai worship paling lugas yang pernah saya dengar.
Sebagai seorang Serigala Militia yang taat, saya bisa dengan akurat menyebutkan referensi riff maupun pola yang digunakan Minatory dalam tiap lagu dalam album ini, tapi tulisan pendek ini bukanlah sebuah ulasan melainkan sebuah apresiasi atas sebuah karya, persahabatan dan perjalanan; karena itu saya akan lebih banyak memberi masukan dengan harapan mereka akan terus berkarya.
Dalam konteks album perdana, Minatory mengeksekusinya dengan sangat baik; mereka melakukan evolusi secara musikal dengan tema yang sesuai dengan output. Tema balapan yang mereka usung sangat solid dan masih bisa dieksploitasi lebih dalam untuk rilisan selanjutnya. Contohnya, mereka bisa mengeksplorasi tema baru; touring yang saat diterjemahkan akan menjadi sebuah rilisan yang berisi satu lagu multi chapter dengan durasi 15-30 menit yang membahas aspek-aspek touring mulai dari nama tour, persiapan, nama motor yang digunakan, situasi dijalanan sampai perjalanan pulang; seperti versi mikro Dopesmoker.
Secara musikalitas, Life Racer sudah sangat keren; Minatory memiliki kemampuan menulis lagu yang sangat baik, ditunjang dengan skill masing-masing personel yang juga diatas rata-rata. Personally saya suka dengan permainan drum dan bass track di album ini; dapur pacu yang sangat solid dengan track bass yang berani. Sang vokalis memiliki karakter yang mudah dikenali dan bisa bernyanyi balada di "Suara yang Nyata", ini nilai plus disamping kemampuannya menggonggong di hampir semua lagu. Formasi gitar ganda masih bisa dimaksimalkan, terutama dalam sektor sound dan peran dalam mengisi bagian lagu. Saya hanya kurang sreg dengan hasil masteringnya saja, tapi lagi-lagi ini selera personal; mungkin saya terlalu banyak mendengar Black Metal.
Lagu sorotan: Melawan Depresi, Suara yang Nyata dan Tanked for You
Semoga tulisan ini memantik rasa penasaranmu mendengar Life Racer.
#MinatoryBali
Prima Yudhistira
12.02.2023
Sekelebat pertanyaan tiba-tiba muncul mana kala halaman demi halaman terbitan berkala Prabhajñāna saya buka. Pertanyaan yang mengusik saya sejak mengenal khazanah teks-teks Bali yang melimpah -- yang bagi saya tak cukup umur untuk mendalami semua khaznah itu. Bagi saya, mempelajarinya sudah seperti menemukan "pelukatan" untuk diri sendiri -- menemukan nutrisi hidup.
Pertanyaannya kemudian, apa sumbangan Ilmu-Ilmu Bali untuk jawaban hari ini dan hari depan Bali ? Pertanyaan ini tentu tak mudah dijawab. Tak mudah dijawab karena hampir sebagian dari kita menanggung bebab akut, diblokir sejumlah kesenjangan -- baik itu kesenjangan aksara dan kesenjangan bahasa.
Kita bisa membayangkan, apa arti terbitan Prabhajñāna di depan generasi yang mengalami dua kesenjangan akut itu? Mereka pasti mengalami keterasingan, mengingat jarak kultural, jarak historis, dan jarak tradisi teks adalah juga beban bagi mereka. Bila kondisi ini tak dijembatani, tentu membuat siapa saja jauh dari akar kebudayaan. Menjadi generasi tanpa identitas, terombang-ambing karena tak memiliki pegangan nilai-nilai. Terhanyut di samudera luas modernitas, dan di situ setiap orang pasti butuh pegangan -- sekecil apapun pegangan itu. Pegangan itu adalah nilai-nilai -- di dalamnya ada keyakinan dan norma-norma. Sama seperti orang terhanyut di samudera lepas, ia butuh semacam pelampung kecil, supaya mereka tak mudah terhanyut atau tenggelam.

Sekiranya kita tak ingin terombang-ambing, tergerus gelombang modernitas dangkal, apakah kemudian semua dari kita harus menjadi ahli sastra, mendalami teks-teks kuna dengan seksama?
Tentu tidaklah demikian strateginya, dan karena di sini, ranah ini kemudian menjadi tanggung jawab sarjana sastra -- ia menjadi timba, menjadi jembatan untuk menghidangkan "masakan lezat" teks-teks sastra guna menjadi nutrisi penguat nilai serta mudah dicerna khalayak pembaca. Ini adalah tugas humaniora yang tak bisa ditunda -- karena ia menjadi semacam penjaga benteng kemanusian kita. Kita boleh menguasai apa saja, mendalami bidang-bidang keilmuan yang beragam dan luas. Namun kita tetap butuh humaniora, jika tidak, kita akan mengalami keterasingan dan de-moralisasi. Jiwa-jiwa kering tanpa nutrisi rohani, robot-robot tanpa perasa.
Sampai di sini, tugas sarjana sastra tak cuma melulu menyajikan teks-teks itu secara akademis -- justru ia bisa menjadi penghidang piawai di tengah-tengah pilihan bacaan yang prural dan beragam. Di tengah-tengah banjir bah kebudayaan nirkabel; medsos, instagram, tiktok, dll. Kita butuh sesuatu yang baru dan segar tanpa kehilangan nilai-nilai. Seperti halnya pujangga Rabindranath Tagore, menghidangkan Gitanjali dengan apik di zamannya, menyajikan teks-teks tua dari kabut mistis Upanisad -- di mana sesungguhnya; Gitanjali atau mungkin juga Tukang Kebun tak cuma karya sastra, tapi Upanisad yang dibahasakan secara baru, menyala dengan bahasa bersinar.
Itulah contoh kongkrit, bagaimana teks-teks kuna itu dinyalakan dengan bahasa yang baru. Spirit dan semangat yang baru. Dan mungkin di situ kita bisa membangun suatu adab yang baru. Inilah salah satu tugas dari sarjana sastra. Tentu di pundaknya ada tugas-tugas yang sama beratnya -- setidaknya ia harus terbebas dari dua kesenjangan akut, yakni: kesenjangan bahasa dan kesenjangan aksara.
Hal paling ditakuti tentu adalah tugas-tugas filologis, karena tugas ini di samping memerlukan kesuntukan dan ketelitian, ia juga memerlukan kecintaan.Punagi dari seorang filolog adalah kecintaannya pada teks. Tanpa pengkajian teks dengan baik, mustahil pranata, sejarah, dan kebudayaan masa silam bisa diselami dengan baik. Mustahil membangun makna-makna baru dari situ. Tak banyak thesis dan disertasi yang menekuni bidang ini secara komperehensif dan boleh jadi ini studi yang paling menantang, menakutkan, sekaligus mengasykkan.
Namun hari ini kita layak berbesar hati, sejumlah sarjana sastra dari Unit Lontar Universitas Udayana dengan energi sedikit bersuntuk , sangat percaya diri menghadirkan hasil kajiannya dalam terbitan berkala bertajuk Prabhajñāna. Setidaknya kajian-kajian ini menunjukkan kita peta-peta kognitif perihal kekayaan khasanah sastra Bali yang amat berlimpah itu.
Dan sebagai peta kebudayaan yang utuh, Bali terang memiliki unicum tersendiri, suatu pandangan kosmos tersendiri pula. Di pulau kecil ini, di samping keunikan alamnya, memiliki empat danau berudara dingin, Bali memiliki tradisi yang unik pula, memiliki bahasa, aksara, dan susastra yang berbeda dengan tradisi Nusantara lainnya, terkecuali dalam garis genetik kultur Hindu Jawa klasik. Bahkan agama dan keyakinan-keyakinannya yang masih hidup pun terbilang amat sangat khusus -- sebagaimana kemudian dinyatakan budayawan anumerta I Gusti Bagus Sugriwa, menyebutnya sebagai "Hindu Bali".
Sebagai orang non akademis, saya berusaha melihat kajian-kajian yang disajikan dalam terbitan Prabhajñāna dengan kaca mata orang awam, dari dua sisi yang saling berkelindan, yakni dari cara hidup yang benar dan cara mati yang benar. Orang-orang terpelajar dalam teks lebih memahaminya sebagai Dharma Kahuripan dan Dharma Kepatian, tugas untuk hidup dan tugas untuk mati.
Jadi dengan amat sederhana, bila kita kelompokkan teks-teks Bali itu, kategorinya cuma ada dua. Pertama, adalah teks-teks yang berkaitan dengan cara hidup yang benar. Kedua, adalah teks-teks yang bertemali dengan cara mati yang benar. Itulah "agama" bagi orang Bali -- agama yang berkaitan dengan proses mengada dan proses meniada. Dua sisi yang biasanya disambut dan dilepas dengan meriah.
Lihatlah upacara manusa yadnya dari lepas awon hingga upacara pernikahan, sungguh dirayakan dengan meriah. Perhatikan juga upacara pitra yadnya, kadang menjadi upacara pelepasan begitu bergemuruh.

Menyebut beberapa nama, tulisan-tulisan dengan kategori Dharma Kahuripan, dengan lumayan jelas bisa kita simak dari tulisan Dr. I Wayan Suardiana [ Aji Pangintar Pantun: Teks Panduan Bercocok Tanam Padi di Sawah serta Siklus Upacaranya]. Kajian I Wayan Cika & Putu Eka Guna Yasa [ Bentuk Berubah Nilai Etiket Tetap: Transformasi Teks "Kakawin Putra Sasana" dalam "Geguritan Putra Sasana"]. Tulisan Putu Ari Suprapta Pratama [ Bhama Kretih: Pengetahuan Tradisional Tentang Pekarangan]. Tulisan Pande Putu Abadi Jaya [Makna Simbolis dan Suluh Kehidupan dari Peralatan Pandai Besi dalam Khazanah Lontar di Bali], tulisan Sri Jumaidah & Putu Widhi Kurniawan [ Memaknai Lontar Kanda Empat Bhuta: sebagai media Pembelajaran Seorang Ibu]. Tulisan I Made Suastika [Pengobatan Tradisional Bali], tulisan I Putu Eka Guna Yasa [Brata Amrétasnātaka dalam Sarasamuccaya: Dimensi Waktu dalam Seksualitas sebagai Penentu Generasi Berkualitas] dll.
Dalam tulisan I Wayan Suardiana, akhirnya kita tahu, bahwa Bali memiliki banyak teks perihal bagaimana bersawah dan merawat sawah dengan kesantunan-kesantunan agraris. Ini menunjukkan betapa pentingnya devosi "karma kanda" sebagai doa dalam tindakan tentang bagaimana tanah, badan wadag ibu bumi dimuliakan dalam kerja, dirawat, ditanami supaya menghasilkan amreta bagi hidup. Petani yang merawat tanah tanpa keluh dipastikan dianugerahi kesabaran, seperti juga ibu bumi lambang kesabaran itu.
Dan teks-teks yang disebut Wayan Suardiana [ di halaman delapan buku ini], semisal Usadha Sawah, Tingkah Makarya ring Prathiwi, Pratingkahing Wwang Magaga Sawah, Tingkahing Angawe Sawah, dan lain-lainnya bisa dipastikan adalah seperangkap ilmu-ilmu Bali yang ditulis dari pengalaman kerja.Bukan ditulis di atas meja. Dan pengalaman-pengalaman itu menghasilkan tehnik-tehnik mengolah tanah dengan benar,sebagaimana pengalaman orang Bali sendiri. Apa yang kemudian disebut kreta masa dalam bercocok tanam ala Bali misalnya, terang terbaca sebagai salah satu cara mengendalikan hama, di samping hal khusus soal hama yang diterangkan Usadha Sawah.
Tentu masih banyak naskah-naskah yang berkaitan dengan Dharma Kahuripan-- yang layak kita bahas di sini. Misalnya soal Pengobatan Tradisional sebagaimana kajian yang dilakukan Bapak Made Suastika. Ternyata dunia teks Bali menyediakan beragam cara soal bagaimana menangani penyakit -- mulai dari diagnosis sampai pronogsis. Kita juga menemukan teks-teks pengobatan yang bersifat spesialis, sebutlah misalnya soal Usadha Netra, Usadha Edan, Usadha Taru Pramana, Tetenger Wong Beling, Usadha Kecacar, Usadha Cetik, dan sebagainya. Teks-teks ini memerlukan studi yang komperehensif dan harus ditangani secara spesialis juga. Sebagai warisan ilmu pengobatan tradisional, Usadha Bali masih menyediakan lapangan pengkajian yang luas, studi yang sangat menantang -- yang sebagian sudah dikerjakan oleh Dr. Med. Wolfgang Weck. Dengan mempergunakan 256 lontar, mewawancarai 43 narasumber, Weck akhirnya menerbitkan buku yang nyaris menjadi magnum opus dengan judul Hilkunde und Volkstum auf Bali [Pengetahuan tentang Penyembuhan dan Pekerti Rakyat Bali]. Baru kemudian setelah beberapa dekade, buku Usada Bali (1993) karya Prof. Dokter Ngurah Nala terbit. Walau demikian teks-teks Usadha masih memerlukan sentuhan para filolog, guna menemukan, menyibak belantara istilah, serta norma-norma etik yang ada di belakang teks. Sekali lagi ini menjadi tugas sarjana sastra Bali dan Jawa Kuna.
Wilayah teks-teks dalam kategori Dharma Kahuripan sesungguhnya amat luas, di samping tentang ilmu bangunan, Kosala-Kosali, kita juga menemukan perihal teks-teks etik dengan tajuk sasana. Apa yang dibahas I Wayan Cika bersama Putu Eka Guna Yasa perihal transformasi teks Kekawin Putra Sasana dalam Geguritan Putra Sesana menunjukkan pada kita, bahwa Bali memiliki cara-cara mengedukasi secara melekat, di mana pertama-tama tanggung jawab itu menjadi tanggung jawab orangtua.
Soal bagaimana mengkondisikan generasi berkualitas, orang-orang modern memiliki tahap pendidikan pralahir yang disebut prenatal education, yakni usaha pasangan suami istri "mendidik' janin di dalam kandungan. Namun lebih awal dari "pendidikan janin" dalam kandungan, teks Sarasamuccaya malah mengawali proses itu dari dimensi waktu, kapan hari yang tepat dan dibolehkan berhubungan seks -- sebagaima bahasan menarik yang diasajikan Putu Eka Guna Yasa berdasarkan brata amrétasnātaka. Ini adalah hal sangat penting dibahas dalam sejumlah lontar seksologi Bali. Sebutlah misalnya lontar Smarakrida Laksana, Pameda Smara, Cumbana Sasana, dan lain sebagainya, menjabarkan etiket ini secara panjang lebar.
Sesungguhnya teks-teks dalam kategori Dharma Kahuripan dibetangkan layaknya kurikulum, menuju jalan meniada dengan cara yang benar -- suatu kepulangan di mana sang jiwa mereguk santapan sangupati, bekal kepulangan yang disebut amrétajiwa. Suatu bahasan menarik perihal topik ini disajikan Ida Bagus Anom Wisnu Pujana. Teks Swacandha Mārana yang dibahas penulis memang membentangkan jalan, pertanda, dan kemenangan atas kematian. Dikatakan oleh penulis, seorang yogi yang mengetahui dan menerapkan marga tiga saat menjelang kematiannya, ia dapat memilih nadi mana yang dijadikan jalan atma untuk berpulang, lepas dari badan wadahnya. Apabila anawaha sebagai jalan, atma akan menuju alam dewata. Jika rasawaha sebagai jalan, maka atma akan menuju alam pitra. Dan jika pranawaha sebagai jalan, maka sang yogi akan mencapai moksa.
Sebenarnya ada dua teks yang boleh kita dudukan sebagai teks dalam kategori risalah mistis Dharma Kepatian dalam buku ini. Selain Swacandha Mārana ada teks Dharma Sunya yang didekati dengan cara pandang filsafat stoik oleh Ni Made Ari Dwijayanti. Suatu bahasan menarik tentang bagaimana cara pandang Yunani itu membingkai, memformulasikan teks-teks kelepasan ala Bali. Namun di sisi lain pasti ada persinggungan-persingungan kategoris, bagaimana mensepadankan dunia Bali dan dunia Atena soal kematian yang benar. Pertanyaan kemudian, apakah akar dan motif dua dunia itu memang sama? Untuk lebih jelasnya, silakan baca tulisan Ni Made Ari Dwijayanti.
Sampai di sini, kita boleh meraba jawaban dari pertanyaan, apa sumbangan ilmu-ilmu Bali untuk hari ini dan hari depan? Lamat-lamat saya seperti mendengar cibiran. Kita adalah orang "kaya" yang keburu merasa miskin. Padahal kita memiliki kotak warisan di mana jawaban-jawaban itu tertulis. Mempelajarinya, mengalaminya, lalu membadankannya bisa jadi membuat setiap orang selalu rindu kembali, lalu pulang membawa bekal amretajiwa. Pihala bagi yang jaya atas kematian, mrityunjaya.
I Wayan Westa
Pakubuan Kusa Agra
Sugian Jawa, 29 Desember 2022
Note:
Materi ini disajikan dalam acara Peluncuran dan Diskusi Buku Prabhajñana: Mosaik Kajian Pustaka Lontar Universitas Udayana, tanggal 29 Desember 2022.
Tertanda:
Tim Unit Lontar Universitas Udayana.
Vi veri universum vivus vici
Dengan Rahmat Semesta, Kami Merilis "Sword of Sound"
Satu lagi upaya dalam memanifestasikan konsep musikal yang kami sebut #indorock; Sword of Sound (SOS) adalah gegaman sonik termutakhir dari gudang senjata GEEKSSMILE.
Sebuah pedang berbilah gelombang suara; dengan ketajaman frekuensi dan dentuman groove yang membangkitkan hasrat mendansakan revolusi.
Secara tematik, lirik SOS bercerita tentang proses penciptaan dirinya; proses formasi MKIII menempa sebuah gegaman (senjata sakti), khusus bagi mereka yang sedikit dan berbahaya; pendengar setia.
Persembahan formasi MKIII dalam mengemulasi nostalgi era keemasan musik rock nusantara dekade 70 sampai 80an yang didominasi juara arus utama; God Bless, Giant Step, Duo Kribo, Rhoma Irama sampai legenda daerah macam The Destroyers (Medan)
Konsep pendekatan nostalgi dipilih kembali setelah diterapkan sebelumnya pada "Warna Generasi" yang menjadi persembahan untuk " dekade musik alternatif nusantara" di era 90an.
Klik tautan dibawah ini untuk mendengar Sword of Sound.
Gegaman Sonik ini dirancang untuk dimainkan dengan tingkat suara maksimum.
Selamat mendengarkan!
Denpasar, 24 Juli 2022
GEEKSSMILE MKIII
Made ‘”Metronome’” Nurdianta
Prima ‘”Imperator’” Yudhistira
Nyoman “‘Ray” Febriady
I Nyoman ‘”Omen’” Tri Utama Putra
KREDIT LAGU
•- Musik oleh GEEKSSMILE, direkam, mix dan mastering di House Studio tahun 2022, teknisi suara oleh Nyoman Ray Febriady
•- Lirik dan vokal oleh Prima Yudhistira
- Genderang oleh Made Nurdianta
- Bass oleh I Nyoman Tri Utama Putra
- Gitar oleh Nyoman Ray Febriady
•- Vokal Latar oleh GEEKSSMILE & Dragged Deep Down
•- Desain Grafis oleh Bayu Prayoga
•- Direksi Seni dan finalisasi desain oleh Prima Yudhistira
- Foto band oleh I Made Gangga Dyandika Prajnadipta, diambil di Electrohell Warehouse saat sesi Hellcast: Sound from Hell Tahun 2022
#geekssmile #indorock
Rekaman audio dari diskusi acara Temu Tenun: Temu, Kenal dan Diskusi Kesenian Tenun Bali
Berbincang tentang buku *Menenun Waktu* bersama :
1. Widayanti Arioka
2. Atiek Kurnianingsih
Dipandu oleh:
1. Tisha Sara
2. Wicitra P.
Berlangsung pada:
Kamis 7 Januari 2021
16.00- 20.00
Taman Baca Kesiman
Jl. Sedap Malam 234, Denpasar
audio rec. & edit: @iniartchive
musik: Saturn
produksi 2022
Rekaman audio diskusi dari acara Solidaritas Senja 03 yang menggelar diskusi dan screening film dengan tema:
"Perempuan dalam Cengkraman Kekerasan"
Narasumber:
Ni Putu Candra Dewi
(Advokat HAM)
Dhyta Caturani
(Purple Code Collective)
Agung Alit
(Pegiat Kesetaraan dan Keberagaman)
Moderator:
Ignatius M. Bernard
(Sanglah Institute)
Acara berlangsung pada:
Kamis, 28 Nopember 2019 pukul 19.00-23.00WITA.
Bertempat di Haluan Cafe and Space, Jl. Nangka Selatan no. 58, Denpasar-Bali.
audio rec. & edit: @iniartchive
musik: Saturn
produksi 2022
Rekaman Audio dari Diskusi Solidaritas Senja 02 dengan topik "Air untuk Semua, Diskursus UU SDA dan Tata Kelola Air"
Diskusi:
1. Sigit Karyadi Budiono
(KRUHA)
2. I Made Juli Untung Pratama (WALHI Bali)
3. I Made Karyawan (Dewan Pengawas PDAM Kota Denpasar)
Moderator:
K. Arya Ganaris
berlangsung pada:
Kamis,17 Oktober 2019
16.00-21.00
Kubu Kopi
Jl. Hayam wuruk no 111 Denpasar, Bali
audio rec. & edit: @iniartchive
musik: Saturn
produksi 2022
Rekaman diskusi di acara Solidaritas Senja 01 dengan tema "COALRUPTION: Tambang dalam Pusaran Korupsi"
menghadirkan pembicara:
Wayan "Gendo" Suardana (For Bali)
Ki Bagus Hadi Kusuma (JATAM)
Tata Mustasya (Greenpeace)
IGA Mas Rwa Jayantiari (Akademi Ilmu Hukum UNUD)
Moderator:
Arya Ganaris (ARAK Bali)
yang berlangsung pada:
Selasa,8 Oktober 2019
14.00-22.00
Taman Baca Kesiman
Jl. Sedap Malam 234 Denpasar. .
audio rec. & edit: @iniartchive
musik: Saturn
produksi 2022
"Manambang Emas di Tanah Bencana" merupakan sebuah buku karya Ika Ningtyas yang bercerita bagaimana perjalanan sebuah tambang emas di ujung timur pulau jawa berdiri. Secara runut, buku ini menceritakan bagaimana Gunung Tumpang Pitu berubah menjadi sebuah tambang emas di tepi laut.
Diskusi menghadirkan:
Ika Ningtyas (penulis buku)
Wayan "Gendo"Suardana
Yoyok (Buku Mahardika)
dengan moderator: Roberto Hutabarat
Acara berlangsung:
Minggu, 7 April 2019
16.00 s/d 20.00
Taman Baca Kesiman
Jl. Sedap Malam 234, Denpasar-Bali
rec: I Ni artchive
Acara berlangsung pada Selasa, 23 April 2019, pukul 18.00 sampai dengan selesai. Bincang sore diselenggarakan di Taman Baca Kesiman, Jl. Sedap Malam 234, Denpasar-Bali.
Dipandu oleh Dwi S. Wibowo sebagai moderator dengan narasumber Seniman Perempuan Arahmaiani.
Bincang sore ketika itu membahas bagaimana proses kekaryaan dari Arahmaiani dan berbagi perspectif dan harapan.
rec: I Ni artchive
//Datanglah padanya dengan kesungguhan hati, akan menjadi kunci Anda mendapatkan sesuatu di sana. Jika pertanyaan Anda tidak berkualitas, atau sekadar bertanya, jangan harap sang wiku mau buka mulut//
Di Penatih, sebuah desa di bilangan Kecamatan Denpasar Timur, orang bisa lewat begitu saja. Tak ada keajaiban di sana, kecuali huma kian menyempit.Tak terdengar lagi lenguh sapi dipecut petani. Orang-orang sibuk untuk diri sendiri. Larut dalam hingar – bingar zaman. Suasana dukuh ibarat pergulatan yang tak pernah usai. Deru kendaraan, gemuruh lalulintas beradu dentingan hening genta. Di pagi buta, suara itu bagai menghadirkan fajar baru, bahwa hidup mesti disegarkan senantiasa.
Tengoklah di pagi lengang , di Geria Pinatih, seorang pendeta tua seperti hendak berlomba dengan waktu. - suntuk memuja surya – sang maha cahaya. Puja dan mantra terdengar sayup. Hidup dirasakan begitu singkat, layaknya kilatan petir. Dan kemudian, doa pun punya arti, sebagai penyangga hidup yang singkat . Ya, dialah sang pendeta tua Rsi Agung Pinatih. Seorang suci yang senantiasa mengaku diri bodoh dan dusun – belog tani ngun-ngun. Namun di balik itu semua , sang Rsi-lah sesungguhnya manusia Bali utuh. Seorang arsitek, pemahat, pencinta sastra, ahli wariga, petani, sekaligus wiku senior yang menjalani hidup dengan amat sederhana.
Sang wredha pandita subrata, pendeta tua yang teguh pada janji diri. Inilah pujian yang paling pantas buatnya. Kini memasuki usia 95 tahun, Rsi Agung masih sanggup melayani umat. Sudah 61 tahun ia meniti jalan sunyi itu , menjadi pelayan, membasuh dahaga umat sampai nun jauh menyusuri pelosok desa-desa sajebag Bali. Kadang menyeberang arungan (laut), menembus kabut pedalaman desa-desa Jawa. Orang tak akan pernah mendegar kata letih dari pendeta tua ini. Sang Rsi memang tidak membiarkan fisiknya lapuk begitu saja. Atau tunduk dimakan sang waktu begitu lalu. Hari-hari bagi sang Rsi adalah memuja dan bekerja. Hanya dengan inilah waktu dapat “ditundukkan”. Hanya dengan melayani hidup ditinggikan. Hanya dengan pengabdi hidup diringankan.
Lahir tahun 1906, dengan nama welaka I Gusti Ngurah. Tak ada keajaiban dan tanda istimewa pada hari lahiranya. Hanya masa sulit yang membelit. Bali tengah ditekuk kolonialisme. Ekspedisi Belanda membuat raja-raja Bali bersungut, tunduk hormat pada Sang Ratu Wilhelmina. Keris kesatria Bali yang elok itu tak berarti apa-apa dihadapan meriam dan intrik kolonial. Demikianlah sebuah zaman melintas, turut membesarkan bayi merah yang akrab dipanggil Ngurah Gde. Tak ia rasakan senyum ibu di pangkuan, dalam dekapan hangat gending-gending rare.
Memasuki usia 8 tahun buat pertama kali Ngurah Gde mengeyam pendidikan formal di sekolah rakyat. Tampaknya tak banyak prestasi pada setiap pelajarannya, Ngurah Gde kecil ternyata lebih memiliki kepekaan intuitif tinimbang rumus-rumus pelik. Selepas sekolah rakyat, Ngurah Gde lebih tergoda tapel barong, memulas, menakik kayu sebagai kegiatan walatanda (ketrampilan tangan). Kegiatan yang ditekuni nyaris sepanjang hidup. Tak ada pilihan kecuali harus dijalani. Bakat telah menuntunnya sedemikian jauh. Karena hidup memang tak hendak untuk dipilih. “Kita mesti menjalani,” tukas Rsi Agung rendah.
Tak pernah terbetik dibenak bahwa kelak ia akan menjadi pendeta. Tak pernah terpikirkan bahwa Siwa Upakarana (alat-alat pemujaan pendeta Siwa) yang tersimpan berabad-abad di mrajan-nya menjadikan arah hidupnya lain – terpanggil menjadi wiku. Konon Siwa upakarana itu warisan leluhurnya dari Jawa. Memang di tanah Jawa, di zaman raja-raja Jawa leluhurnya seorang wiku, Mpu Sedah namanya. Beberapa abad setelah mengungsi ke Bali generasinya tak melanjutkan tugas itu. Inilah alasannya kenapa Gusti Ngurah Gde kelak kembali melanjutkan tradisi leluhurnya, menyambung alir kependetaan yang putus.
“Dini di Penatih panyaman Bapa mula tusing taén buin nyemak sasana kawikon, kesahé rarud uling Jawa metu tan éling malih, ento mawinan keni kareredan. Jani Bapa buin ngingetang, sakasidan malajahang déwek tekén gumi. (Di sini di Penatih, keluarga Bapa memang tidak lagi ingat pada sasana kawikon, sepeninggal dari Jawa tidak sadar lagi, itu sebabnya surut. Kini kembali Bapa ingat, sebisanya membelajarkan diri kepada masyarakat,” papar Sang Wiku pelan.
Di Penatih, di lingkungan keluarga besarnya, Gusti Ngurah Gde tak pelak merupakan generasi pertama yang kembali menjalani hidup sebagai wiku. Justru setelah berabad-abad terputus. “Dini Bapa mula anak tiwas tusing ada apa, panyaman Bapa makejang babotoh, mamiyut. Bapa simalu ané ngarepang nyaluk sasananing kawikon dini, nuur pamargin kawitané nguni (Bapa di sini memang orang miskin, keluarga Bapa semuanya penjudi, tak karuan. Bapa yang pertama menjalankan sasana kawikon, menjadi sulinggih,”) kenang Rsi Agung datar.

Menyadari ini semua, memasuki usia 30 tahun, Gusti Ngurah Gde berketetapan hati menapak jalan sunyi itu. Bersiap-siap menjadi pendeta. Sadar bahwa jalan ini begitu berat, begitu terjal. Ini keputusan begitu berani, memang. Banyak sejawatnya mengurut dada. Orang boleh sangsi dan mencemoh kesanggupan itu. Bayangkan, dalam usia sebelia itu, pilihannya kukuh akan menjalani masa panjang - hidup sebagai seorang wiku. Sebuah pilihan yang tak boleh dianggap main-main. Demikianlah, seorang diri Gusti Ngurah Gde muda menghadap sang calon nabe (guru diksa) Ida Pedanda Gde Rai, di Geria Kutri, Gianyar.
Calon guru nabe, Ida Pedanda Gde Rai tampaknya bersambut. Tapi dengan satu syarat Ngurah Gde mesti digembleng dulu seorang guru waktra (guru pemblajaran). Bila lulus dari gemblengan itu hendaknya ia bisa didiksa menjadi sulinggih. Demikianlah, Ida Pedanda Rai memohon pada Ida Pendanda Made Sidemen, pendeta dan sastrawan besar Bali dari Geria Intaran , Sanur untuk mengajar calon sulinggih Gusti Ngurah Gde. Jalan lempang telah membentang di hadapannya. Masih terbayang jelas kejadian itu, di pagi-pagi buta, dari Penatih yang masih subur sawah hijau, Ngurah Gde berjalan dengan kaki telanjang menuju desa Sanur, anyuun pada, mengahadap guru waktra, Ida Pedanda Made Sidemen.
Demikianlah proses aguron-guron terjadi antara I Gusti Ngurah Gde dengan guru waktra, Ida Pedanda Made Sidemen. Ngurah Gde tak hanya memperoleh ilmu tentang kependetaan, tapi juga prihal guna dusun, yakni memperdalam asta kosala-kosali, membuat sukat, menakik tapel, pratima, dan sebagainya. Ida Pedanda Sidemen telah menjadikan Ngurah Gde seorang anak manusia yang mandiri merdeka, bahwa badan inilah sesungguh sawah. Ketergantungan pada yang lain akan membuat bandan ini kerontang, tandus. Tak mungkin bisa melahirkan kreatifitas. Apa lagi keunggulan batiniah. “Yaning mungguing guna gina wantah mula tumbuh saking dewek,” ingat Rsi Agung sembari terpejam.
“ Patitise masih apang melah, anut teken kadarman, eda pamerih, pastika nemuang rahayu”, imbuh Rsi Agung yakin. Memang tujuan itulah harus jelas, tanpa pamerih, dengan begitu kerahayuan ditemukan. Dengan keyakinan inilah di tahun 1940, Ngurah Gde kembali menghadap guru nabe Ida Pedanda Gede Rai di Geria Kutri. Menyatakan kesiapannya untuk hidup “bersunyi diri, menjadi sulinggih menjalankan amanat Rsi Sasana. Dan pada tahun yang sama Ngurah Gde resmi menjadi sulinggih dengan amari aran (berganti nama) Ida Rsi Agung Pinatih. Air mata menitik ketika Rsi Agung meninggalkan Geria Kutri. Inilah awal sang Rsi mengalami kehidupan baru. Kendati umurnya baru 34 tahun, sang Rsi telah melempangkan harapan-harapan baru bagi generasi mendatang. Rsi Agung kini tak lagi milik keluarga besar Pinatih, namun telah menjadi milik semua orang.
Enam puluh satu tahun jalan sunyi itu telah bersamanya. Jarak yang cukup panjang, memang. Banyak ketegangan dan onak dirasa. “Yaning pajalane ke suwung anak mula srebi, tuah galange padidi patut anggon suluh (Jalan menuju sepi memang lengang menakutkan, sinar diri itulah sepatutnya dipakai penerang),” papar sang Rsi sembari terpejam. Memang sebagaimana anggapan Rsi Agung bahwa yang paling sulit dilakukan adalah belajar menjadi bodoh. “Sengka malajahin belog ”. Karena kini amat banyak orang yang pura-pura pintar, atau ada juga pintar tapi jahat (pradnyan jahat). Bagi Rsi Agung, dua watak orang ini sama bahayanya. Dua-duanya memendam bisa dikepala. Benar memang, seekor ular cuma memendam racun di kepala. Tapi racun manusia jahat, menggenangi seluruh tubuhnya.
Kendati tokoh lingsir ini terdengar sayup, jarang dirujuk orang, namanya tak bisa dilepaskan dari pergerakan umat sejak awal. Pada tahun 23 – 11 – 1959, ia didudukan dalam keanggotaan Paruman Sulinggih Parisada Hindu Bali (nantinya menjadi Parisada Hindu Indonesia) yang beranggotakan 11 orang sulinggih. Memang begitu populis keanggotaan itu, tak hanya melibatkan para Pedanda, tapi juga para Mpu, Rsi, Dukuh, dan Bhagawan. Tugas para sulinggih ini adalah menyusun tafsir, menata kehidupan agama dan mengeluarkan bhisama bila mana perlu. Tercatat sampai tahun 1980-an Rsi Agung masih aktif di Paruman Sulinggih itu.
Barangkali tak banyak dicatat, dibidang penataan agama, Rsi Agung sejak awal telah melakukan perubahan secara nyata, yakni menyakut esensialisi yadnya. Misalnya, sejak tahun 1950-an, Rsi Agung sudah mendatangi 95 setra di seluruh Bali guna memimpin upacara “ngaben panerus”. Ngaben jenis ini tak perlu ada upacara di rumah. Semua cukup dan selesai dilakukan di setra. Tanpa upacara besar, tanpa usungan wadah megah, irit beaya dan waktu.
Menurut Rsi Agung, ngaben ini memang berbeda dengan Ngaben Tumandang Mantri atau Ngaben Nglanus, misalnya. Perombakan ini awalnya banyak dikritik orang. Tapi orang jadi mafum, bahwa dosa dan kesalahan tak bisa ditebus dengan ngaben gede, dengan bertruk-truk babanten. Semua berpulang ke esensi dan karma masing-masing. Inilah jasa besar Rsi Agung yang perlu diteruskan.
Rsi Agung Pinatih, boleh jadi sulinggih paling tua kini di Bali dan sangat dekat dengan kesederhanaan. Sungguh betapa sering sang rsi mewanti-wanti: “Eda nganistaang paican Widhi”. Jangan remehkan yang kecil dan hina dina, menilai sesuatu dari penampakan fisik semata. Inilah pesannya pada semua warga, pada kecenderungan yang berlaku kini, karena orang sering terpukau pada yang glamor dan megah. Pesan ini terdengar latah memang. Tapi, sepanjang hayat benar adanya. Landasan inilah yang kini pupus di benak orang. Menganggap hal kecil dan sederhana itu tanpa makna. Pada hal itulah sesungguhnya kemurnian.
Sejujurnya, menurut Rsi Agung tak pernah menyuruh orang berupacara sebagai satu-satunya solusi hidup. “Bapa tusing taén ngongkon anak maupacara, macaru apa luiré. Anak tusing kena baan, nyak nyen slamet anaké ané tundén, dilepete Bapa ngelah alané. Nah sajabaning nyén ia matakon indik upakara mai, ditu Bapa mapeseken (Bapa tak pernah menyuruh orang berupacara, macaru apa lagi. Karena tak bisa terkirakan, apakah bisa rahayu orang yang disuruh, bila katiben musibah, Bapa yang salah. Nah, terkecuali ia datang bertanya ke sini, saat itu Bapa mengingatkan),”
Dalam masa hidup yang panjang, 95 tahun, sosok Rsi Agung memang lebih dekat dengan kedalaman dan kebeningan Ibarat sumur berair jernih. Teks yang tak mudah kita jamah karena keluasan dan kedalamannya. Sang rsi tak akan menjawab bila tak ditanya. Dengan begitu ia jauh dari kesan menggurui, walau sesungguhnya dia-lah sang guru sejati.

“Tuah Abot Ngaba Bisa”
Banyak yang dapat diteladani dari pribadinya. Terutama kesederhanaanya. Secara fisik sulinggih yang satu ini tampak renta, memang. Tetapi ia masih kuat melakukan perjalanan jauh. Dari pagi hingga malam masih gesit melayani umat. Anehnya, Rsi Agung tetap dalam keadaan segar, tak sekali pun merasa letih. Sesekali ia masih suka menabuh gender, sembari menyanyikan bait-baik karya sastra.
Bila Anda kebetulan tangkil di geria-nya yang luas di Penatih, Anda pasti terkesima dengan ketenangannya. Tatapannya begitu teduh, lalu menyapa hangat. Bicara pelan, seperlunya, lalu diam. Orang kebanyakan pasti mengira pendeta ini tuli. Tapi tidak begitu nyatanya. Jika ingin menanyakan sesuatu Anda mesti pandai-pandai mebahasakannya. Datanglah padanya dengan kesungguhan hati, akan menjadi kunci Anda mendapatkan sesuatu di sana. Jika pertanyaan Anda tidak berkualitas, atau sekadar bertanya, jangan harap sang wiku mau buka mulut.
Orang mungkin tak bisa diteladani begitu saja dari kata-katanya. Mereka mesti dipahami dari apa yang mereka lalukan. Inilah sebentuk pertanggunjawaban pribadi Rsi Agung Pinatih. “Bapa mula tusing pati bisa ngraos, ulian jejeh kasengguh bisa. Anak tuah abot ngaba bisa (Bapa memang tidak bisa bicara, karena takut disebut pintar. Karena betapa berat membawa kepintaran,” papar Rsi Agung lemah.
Mungkin rasa rendah hati inilah kini hilang di benak banyak orang. Perang kepintaran sungguh jelas dipertontonkan. “Jadmane jadi demen macokrah, saling sikut tan gigisan, mrebutin raos puyung, saling paduegin (Orang kini senang bertengkar, saling cerca kelewat batas, berebut kata-kata kosong, saling minteri),”. Dan Rsi Agung juga berpesan: jangan habiskan usia untuk hal yang sia-sia.
Waktu akan mengalir terus, lima tahun lagi usia Rsi Agung akan genap satu abad, usia yang tidak semua orang dapat meraihnya. Semoga pengabdiannya menjadi doa bagi kita bersama. ***
Catatan:
Ida Rsi meninggal 23 Nomper 2003, dalam usia 97 tahun
I Wayan Westa
Penulis/Pekerja Kebudayaan