Rekaman audio dari diskusi acara Temu Tenun: Temu, Kenal dan Diskusi Kesenian Tenun Bali

Berbincang tentang buku *Menenun Waktu* bersama :
1. Widayanti Arioka
2. Atiek Kurnianingsih
Dipandu oleh:
1. Tisha Sara
2. Wicitra P.

 

Berlangsung pada:

Kamis 7 Januari 2021
16.00- 20.00
Taman Baca Kesiman
Jl. Sedap Malam 234, Denpasar

audio rec. & edit: @iniartchive

musik: Saturn

produksi 2022

Rekaman audio diskusi dari acara Solidaritas Senja 03 yang menggelar  diskusi dan screening film dengan tema:
"Perempuan dalam Cengkraman Kekerasan"

Narasumber:
Ni Putu Candra Dewi
(Advokat HAM)
Dhyta Caturani
(Purple Code Collective)
Agung Alit
(Pegiat Kesetaraan dan Keberagaman)
Moderator:
Ignatius M. Bernard
(Sanglah Institute)

Acara berlangsung pada:
Kamis, 28 Nopember 2019 pukul 19.00-23.00WITA.
Bertempat di Haluan Cafe and Space, Jl. Nangka Selatan no. 58, Denpasar-Bali.

audio rec. & edit: @iniartchive

musik: Saturn

produksi 2022

Rekaman Audio dari Diskusi Solidaritas Senja 02 dengan topik "Air untuk Semua, Diskursus UU SDA dan Tata Kelola Air"

Diskusi:
1. Sigit Karyadi Budiono
(KRUHA)
2. I Made Juli Untung Pratama (WALHI Bali)
3. I Made Karyawan (Dewan Pengawas PDAM Kota Denpasar)
Moderator:
K. Arya Ganaris

berlangsung pada:
Kamis,17 Oktober 2019
16.00-21.00
Kubu Kopi
Jl. Hayam wuruk no 111 Denpasar, Bali

audio rec. & edit: @iniartchive

musik: Saturn

produksi 2022

Sebuah diskusi yang berlangsung setelah acara pemutaran film "Lakardowo Mencari Keadilan", sebuah film dokumenter panjang yang diproduksi oleh Paradoc film dan Ecoton yang membahas bagaimana pencemaran limbah B3 yang terjadi di sebuah Desa Lakardowo, Jawa Timur.

Diskusi dihadiri langsung oleh Mada Ariya (Pembuat film lakar dowo) dengan Penanggap Erick Est (pembuat film) sebagai penanggap.

Acara berlangsung Rabu, 24 April 2019 pada pukul 18.00 wita di Taman Baca Kesiman, Jl. Sedap Malam 234, Denpasar-Bali.

rec: I Ni artchive

Acara berlangsung pada Selasa, 23 April 2019, pukul 18.00 sampai dengan selesai. Bincang sore diselenggarakan di Taman Baca Kesiman, Jl. Sedap Malam 234, Denpasar-Bali.

Dipandu oleh Dwi S. Wibowo sebagai moderator dengan narasumber  Seniman Perempuan Arahmaiani.

Bincang sore ketika itu membahas bagaimana proses  kekaryaan dari Arahmaiani dan berbagi perspectif dan harapan.

rec: I Ni artchive

Sebuah acara diskusi untuk merayakan pelunjuran Majalah Batur. Tema diskusi yang diangkat adalah "Batur, Jejak Peradaban dan gerakan Literasi".

Menghadirkan narasumber:

Sucita Maiva Utama seorang planolog dan ketua tim penulis buku jejak peradaban di kaki Gunung Batur.

Jro Adit Alamsta seorang penulis muda dan juga pemangku di Pura Ulun Danu Batur.

Diskusi dimoderatori oleh: Ngurah Suryawan, seorang Antripholog.

Acara berlangsung pada:

Jum'at, 05 April 2019

18.00 s/d Selesai

di Taman Baca Kesiman

Jl. Sedap Malam 234, Denpasar-Bali.

rec: I Ni artchive

Sebuah kolaborasi mural antara Animal Friends Jogja dengan Peanut Dog yang dilaksanakan pada 25-26 Januari 2022.  Mural berlokasi di area Banjar Tegeh Sari, Denpasar, Bali.

Mural mengambil tema Kandang Batrai Kejam, sebagai sebuah sikap maraknya penggunaan kandang batrai untuk memproduksi kebutuhan protein ayam.

video:

Design Mural: Animal Friends Jogja

Mural: Peanut Dog

Musik Video: SATURN

 

Kamera: Tokek419 & //ra

Video Editing: //ra

Perayaan hari tani di Luden House, Br. Junjungan,Ubud. Perayaan melibatkan seniman,musisi,penggiat sosial dan masyarakat.

Musik: Made Mawut

Street art: la.war

Wayang: genetik

Exhibition: Gd. Sayur. Puisi:

Pt. Bonus All.

(Sebuah ingatan dari pameran These Are The Archives of life by Deny Arivin A.L a.k. Tarzan)

Kesibukan pramusaji, beberapa orang terlihat menghuni meja yang ditata yang diletakkan diluar ruangan, dikhususkan bagi pengunjung yang ingin menikmati asap tembakau, sambil mendengar alunan kendaraan yang memadati jalan merdeka, Denpasar. Beberapa orang lain menikamti kenyamanan AC dekat di meja dan kursi yang tertata di depan kasir.

Sebuah plang nama galeri memang terpasang di depan, MAHA Art. Plang nama tersebut masih terpasang bersanding dengan papan nama restoran yang juga menghuni area itu. Bagi orang yang belum pernah masuk untuk menghadiri sebuah acara di Maha Art pasti akan bingung mencari dimana sebenarnya lokasi galerinya.

Beberapa tahun lalu MAHA Art sempat menjadi ruang yang aktif digunakan oleh seniman muda untuk menggelar pameran, yang terlintas dengan cepat tentu sebuah acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Djamur dan satu lagi tentu saja pada tahun 2013 MAHA Art pernah digunakan untuk menjadi titik penyelenggaraan Bali yang Binal 5.

Dan setelah cukup lama tidak terdengar MAHA Art kembali menyelengarakan sebuah pameran foto. Jujur yang menarik keinginan untuk hadir kembali di MAHA Art bukan undangan pameran foto, melainkan sosok yang mengisi rangkaian acara pameran tersebut. PM Toh dengan teater tuturnya.

Setelah tim penyelenggara pameran sibuk berurusan dengan pemilik MAHA Art terkait birokrasi penyelengaraan pementasan PM Toh malam itu, akhirnya pementasan siap dilaksanakan setelah sekitar 2 batang rokok kretek habis terbakar ketika duduk menunggu di salah satu meja (tanpa memesan apapun).

Masuk melalui pintu kaca, melintasi meja kasir yang berdiri dengan komputer dan bill, kembali melewati pintu kaca sebelum masuk kedalam lorong penuh dengan aroma masakan yang membuat perut lapar. Setelah melalui semua itu baru akhirnya sebuah pintu kayu besar terbuka, mempersilahkan tamu malam itu untuk masuk ke dalam ruangan yang menyajikan sebuah proyektor diatas meja menetap dinding, barisan kaleng berdiri dalam jalinan instalasi listrk, dua buah foto yang menempel di tembok.

Mata hanya menangkap 2 buah foto yang tersaji di ruangan itu, selebihnya adalah instalasi kaleng dan proyektor. Bagi yang sempat membaca poster acara dan melihat dibubuhkannya label photography exhibition akan sedikit terkejut, kenapa sebuah pameran foto memajang lebih banyak kaleng daripada foto.

Tentu pertanyaan yang dipicu oleh pengalaman selama ini ketika menghadiri pameran foto, bahkan ketika foto yang tersebut tidak dicetak di kertas misalnya, foto tersebut disajikan sedemikian rupa hingga dengan mudah menarik mata hadirin yang datang.

Melihat 2 foto yang dengan mudah terlihat di dinding merupakan cara termudah untuk menikmati pameran tersebut. Satu foto seorang perempuan berkepala sapi, sedang duduk di pematang sawah dengan sebuah buku ditangannnya, sementara latarnya beberapa ekor kerbau menikmati keberadaannya dihamparan sawah hijau.

“Kumpul kebo” judul karya terebut, tentu banyangan yang terlitas apakah si pembuat karya sedang ingin memainkan istilah kumpul kebo, yang secara umum dipahami sebagai sebuah kegiatan yang cukup tabu dalam masyarakat.

Bahkan bayangan pertama muncul, “Baiklah, mewujudkan kumpul kebo dengan tampilan orang yang benar-benar berkumpul dengan kerbau,” lalu buku itu seolah menggambarkan sebuah masa, bukankah tidak jarang mereka yang berangkat dari kampungnya untuk alasan merantau sekolah. Dan di kota tempatnya menuntut ilmu kejadian kumpul kebo tersebut kemudian berlangsung, tapi entahlah itu bisa saja pandangan subjektif ketika melihat karya.

Sayangnya pandangan langsung sirna ketika kepala bergerak maju menuju gambar selanjutnya. Ketika kepala bergeser dan sudut melihat berubah ke arah sisi kanan bingkai foto, gambar tersebut berubah, gaunnya berganti pakaian minim, buku berganti laptop, dan kerbau menjadi yoga ball.

 

Tidak terasa kejutan tersebut cukup membuat bibir tersenyum, sebuah gerakan kepala mendorong perubahan sudut pandang, seolah menggabarkan perubahan waktu, “Kumpul kebo” seolah menggambarkan bagaimana kemajuan bergerak dan tidak bisa dihindari, mulai dari gaun elegan menjadi pakaian minim yang vulgar, buku menjadi laptop dari yang awalnya tangan hanya bisa memegang sebuah jendela dunia, kini dunia itu sendiri bisa berada dalam sebuah genggaman, dan yang lebih sial kerbau berubah menjadi yoga ball.

Bayangkan kerbau diganti dengan bola yang biasa digunakan untuk menjaga kesehatan dan bentuk tubuh. Begitu rakusnya manusia hingga pergeseran beberapa centimeter saja cukup untuk melahap semua kerbau, dan untuk memastikan apa yang dikonsumsi tersebut tidak merusak definisi akan kesehatan dan keindahan (kecantikan) dia menggantinya dengan yoga ball.

“Jangan-jangan mbaknya itu sedang menonton cara mengecilkan perut di youtube.” sekelebat komentar nyinyir tiba-tiba muncul di kepala.

Pembuat karya berhasil mengunakan tekhnik lektur untuk mengekspresikan pandangannya akan realita yang ditemuinya, secara vulgar dan gambalang.

Bergeser dari “Kumpul kebo” sebuah karya lain menunggu, sedikit datar, hanya celetukan kecil yang ada dikarya yang menarik, “Tarzan dislikes banana, but Warhol likes banana” dengan tampilan seorang perempuan memakai topeng monyet, berbikini bendera Amerika menggengam sebuah bunga matahari dan pisang.

Di Loe Bi

Proyektor masih belum menampilkan apapun selain cahaya yang menunjukkan bahwa ia siap untuk bekerja. Beberapa pengunjung yang lain asik menyambangi barisan kaleng satu persatu. Membungkukkan badannya, kemudian mendekatkan mata kedalam lubang kecil yang ada dalam kotak, menelisik apa yang ada didalam kotak.

Pengunjung dipaksa berinteraksi dengan kotak-kotak kaleng untuk bisa melihat kedalam kotak itu. untuk melihat apa yang diletakkan oleh si Tarzan dalam kotak instalasinya. Dan ketika kemudian mata mengintip melalui view door, maka akan terlihat barisan lampu-lampu kecil yang tursusun lurus menerangi sebuah foto. Foto yang di pajang dalam kotak menampilkan gadis dengan yang memperlihatkan organ intim mereka.

Pada sebuah kesempatan Tarzan menceritakan mengenai pilihan pengemasan penyajian karya Di Leo Bi. Karya yang disajikan dalam 50 kotak berukuran 20cm x 20cm memuat foto berukuran 10cm x 8,5cm, dan setiap foto yang diletakkan didalam kotak berasal dari model yang seluruhnya berbeda, itu artinya dia menggunakan 50 orang untuk menghasilkan karyanya,

50 foto perempuan yang berbeda disajikan dalam bentuk instalasi kotak juga untuk mencegah anak-anak yang (jika ada) menghadiri pameran tidak secara langsung melihat gambar-gambar tersebut, gambar yang masuk dalam kategori 18+ (menurut aturan penyiaran).

Mengintip satu persatu kotak, melihat konten dewasa yang disajikan seolah memunculkan kembali perasaan tarik menarik boleh-tidak-boleh dalam kepala, perdebatan ajaran moral yang dicekokkan dan mulai tumbuh melawan rasa ingin tahu sebagai naluri yang tidak kunjung jinak. Alhasil, kaki melangkah dari satu kotak ke kotak yang lainnya, tubuh membungkuk menempatkan mata tepat di depan lubang view door, mengintip ke dalam apa yang menjadi arsip dimiliki dan disembunyikan oleh si pemilik arsip dalam sebuah kotak.

Menarik kembali ke masa kanak-kanak dan keseruan mengintip apa yang mungkin tidak akan pernah diletakkan secara terbuka dan terang benderang, dan bukankah banyak pada akhirnya diketahui melalui kebiasaan yang tidak disarankan untuk dibiasakan (berdasarkan nasehat orang tua), mengintip dan menguping.

Di Loe Bi (dari DInosaurus; LOE (kamu, kata slang, merujuk lawan bicara); baBI) penyajian arisp paling intim dari pengalaman kehidupan si pemilik arsip, arsip yang bisa jadi oleh kebanyakan akan disimpan rapat-rapat, kalaupun keluar mungkin hanya berupa cerita pada sahabat terdekat.

Di Loe Bi yang jika dibaca menjadi di Lobi, sebuah ruang depan yang memberikan akses untuk masuk keruangan yang lebih dalam lagi, akses masuk menuju ke dalam arsip dan bagaimana arsip tersebut hadir. Bagaimana lobi yang dilakukan pemilik arsip (dalam hal ini Tarzan) hingga bisa mengarsipkan anggota tubuh paling intim dari 50 orang yang kemudian dihadirkan di ruangan dan bisa diintip hadirin datang ke pameran tersebut.

Dilobi tidak hanya tentang dinosaurus, kamu dan babi, tidak juga tentang ruang depan yang memunginkan terjadinya sebuah pertemuan, tetapi juga menunjukkan bagaimana proses lobi bekerja, bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain sehingga bisa memuluskan dan mengikuti dan mewujudkan orang yang melobi. Bahkan jika keinginan tersebut adalah untuk memiliki arsip terkait hal paling pribadi dari seseorang.

Belum lagi selesai, petualangan mengintip arsip harus segera diakhiri karena pertujukan utama malam itu, yaitu pertunjukan PM Toh akan segera dimulai. (cerita tentang pertunjukan di tulisan yang lain).

Sayangnya pemeran These Are The Archives of Life oleh Denny Arivin A.L a.k. Tarzan yang dikuratori oleh Frigidanto Agung sejatinya berlangsung 10-17 November 2018 harus berakhir lebih cepat. Tanggal 16 November karya-karyanya sudah diturunkan dari pemajangan, hal ini diakibatkan pihak MAHA Art sebagai lokasi pameran tiba-tiba menganggap pameran sudah berakhir tanggal 16 November dan hal itu tidak sesuai dengan perjanjian yang sebelumnya telah disepakati.

Tentu sikap MAHA Art tidak hanya mengecewakan si pemilik karya yang sedang berpameran, tetapi juga orang yang ingin melihat arsip kehidupan Tarzan. Sikap yang sangat disayangkan karena tentu saja memperlihatkan bagaimana cara MAHA Art memperlakukan seorang seniman dan menghormati karya yang berhasil diproduksi oleh seniman tersebut.

Diluar itu, sedikitnya perhatian publik Denpasar yang mengetahui pameran ini atau bahkan yang mengetahui MAHA Art (mungkin karena faktor publikasi), pameran ke-3 Tarzan di Bali (dua pameran lain sebelumnya berlangsung di Ubud, salah satunya di Luden Hause milik Gede Sayur pada tahun 2015) telah berlangsung, memberikan ruang bagi masyarakat Bali untuk melihat arsip kehidupannya, nazar untuk almarhum S. Teddy Darmawan (anggota taring padi) ditunaikan dan sebuah kutipan penutup sesi foto bersama setelah pertunjukan juga telah dipekikkan.

“Aku tarzan, kalian semua Binatang.” kutipan yang menggambarkan identitas si Tarzan, kemudian identitas yang terekam dalam arsip kehidupannya dipajang untuk bisa dilihat publik. Sebuah kejujuran untuk menunjukkan siapa Tarzan, Tarzan yang apa adanya, bagaimana dia melalui sebuah peristiwa dan bagaimana kemudian pengalaman-pengalam tersebut membetuk dirinya dan segala kemampuan dan cara pandangnya. Sebuah kejujuran bahwasanya di dunia Tarzan, yang ada hanya Tarzan, Binatang dan Jane, dan Tarzan menunjukan secara jujur bagaimana pertemuan dan usaha komunikasi untuk mengarsipkan Jane-Jane dalam hidupnya.

Sebagai penutup tulisan ini sebuah kata terima kasih pada Tarzan (Denny Arivin A.L) pengalaman mengintip arsip hidupnya dan selamat atas pameran yang berlangsung meski tempatnya telah mengecewakanmu. Semoga obrolan kita malam itu bersama arak tanpa Jane bisa memberikan sedikit penawar kekecewaan.

“Ya, loe dah yang Tarzan, gue mah hanya binatang.”

Salam dan sampai jumpa…

l.taji

19 November 2018

Deburan ombak mengisi keheningan malam, satu persatu sampan dengan nyala lampu menepi, nelayan yang turun dari sampan disambut beberapa rekan untuk kemudian membantunya mendorong sampan hingga sampai keatas pasir.

"Zonk... malam ini zonk." kalimat yang keluar dari nelayan yang dari selepas magrib telah menerangi pantai celukan bawang.

Kalimat kekecewaan akibat tidak ada ikan yang bisa di jala, menjadi rejeki untuk dibawa pulang setelah seharian tidak melaut akibat cuaca yang tidak bersahabat.

Malam semakin larut, cahaya benderang di pantai pun perlahan padam, hanya menyisakan benderang pembangkit listrik yang masih sibuk memindahkan batubara dari kapal tongkang ke dalam pembangkit listrik. Sementara PLTU Celukan Bawang terus memproduksi pundi-pundi rupiah, nelayan malam itu harus kembali pulang dengan tangan hampa.

Nelayan-nelayan ini seolah sedang terjepit diantara cuaca ekstrem yang membatasi ruang gerak mereka dalam melaut dan ikan-ikan yang kini (semenjak keberadaan PLTU) seolah enggan mampir ke pinggir.

Sebuah tanda tiba-tiba muncul dari dua buah sampan yang bergerak beriringan ke timur menjauhi PLTU dan garis pantai tempat nelayan Celukan Bawang biasa menambatkan perahunya. Tanda yang membuat sekelompok nelayan lain yang sendari tadi sabar menunggu bergegas berlarian menuju sampan yang bergerak perlahan semakin ke timur, mencari posisi yang strategis untuk memojokkan kerumunan ikan, kemudian menariknya.

Sekitar sepuluh laki-laki masuk kedalam air, menerobos ombak yang malam itu cukup tinggi, mereka mengerahkan tenaganya untuk menarik jala.

Jala terus ditarik di tengah gulungan ombak, sampan yang sebelumnya menebar jalan perlahan menepi, mematikan lampu dan ditarik ke pantai. Sementara sampan satunya masih terang dengan cahaya lampu dari mesin diselnya, berusaha menjaga keseimbangan agar tetap bisa mengarahkan ikan tidak keluar dari jala yang terus ditarik.

Jalan semakin menepi dan dibawa ke pantai, sebuah blek (ember cat 16 kg) datang menghampiri, ember yang menjadi alat ukur berapa jumlah ikan yang bisa mereka tangkap malam itu.

Tak ada yang tahu seberapa banyak dan apa isi jala, ikan-ikan kecil yang berkilau terkena cahaya lampu di permukaan bisa jadi tidak sebanyak ketika mereka masih berenang bergerombol mendatangi dan mengikuti sumber cahaya. Susahnya jala ditarik bisa jadi akibat arus gelombang, bukan karena penuh oleh ikan yang berhasil dijala.

Dengan harap-harap cemas sekelompok nelayan tersebut membuka jala, gemerlap ikan terlihat memantulkan cahaya senter salah seorang nelayan. Tampak selah polo, cotek saling berhimpitan diantara lele pantai yang terlihat lebih mendominasi karena ukuran mereka yang besar.

"Ikan jelek semua." salah seorang nelayan yang telah basah kuyup oleh air laut berteriak, kecewa.

Kekecewaan yang timbul setelah melihat ikan yang masuk ke dalam jala dan jumlah yang tidak seberapa. Ikan-ikan dari jala kemudian dipindah kedalam blek, tidak penuh.

1 blek ikan menjadi tidak seberapa karena nantinya ikan tersebut harus dibagi ke semua yang terlibat menangkapnya. Kekecewaan yang timbul karena sedari pagi mereka belum berani melaut akibat cuaca yang sedang tidak bersahabat, dan harapan terakhir hanya untuk mendapat rejeki hanya cukup untuk payu me be (sekedar ada lauk).

Ikan-ikan yang oleh nelayan dikenal dengan lele pantai (lele laut) disingkirkan. "Hati-hati,sengatannya bisa bikin pingsan." kata salah seoarang nelayan mengingatkan rekannya. Lele pantai tersebut nantinya akan dibuang, karena selain tidak laku untuk dijual juga membahayakan pengunjung yang melewati senja dengan mandi di pantai Celukan Bawang.

Hanya selah polo dan cotek yang dibiarkan dalam blek, salah seorang pemuda yang ikut menarik jala mencoba mengaduk-aduk blek, mendapati beberapa ekor cumi yang terselit di dalam timbunan ikan, mengobati rasa kecewa dan berhasil membuatnya sedikit tersenyum.

"Udah bagi aja." Ivan, nelayan yang tadi menebar jala berkata.

"Tidak dijual saja untuk beli rokok." rekannya mengusulkan.

"Bagikan saja." Ivan menjawab usulan rekannya.

Jumlah tangkapan yang hanya satu blek serta jenis ikan yang bercampur membuat harganya jatuh dan tidak seberapa, sementara jumlah anggota yang ngoncor cukup banyak sehingga jika di jual, uang yang dibagi tidak akan seberapa. Jadi menurut Ivan lebih baik dibagi ikan saja.

"Ini tidak ada hasil namanya, kalau orang sini bilangnya aebean, artinya hanya cukup untuk mebe (lauk)." rekan Ivan yang malam itu ikut ngoncor menjawab ketika disinggung terkait tangkapan mereka malam itu.

"Dahulu sebelum ada ini (PLTU) bisa mencari ikan sampai kesana (area PLTU)." Ivan menceritakan pengalamannya, asap rokok keluar dari bibirnya, tatapannya jauh kearah gemerlap PLTU yang kini berdiri, memaksa diterima menjadi tetangganya.

Lelaki yang sejak kecil telah menggantungkan hidupnya dari hasil laut ini sangat merasakan dampak dari keberadaan PLTU. melanjutkan ceritanya Ivan menjelaskan bahwa kini dia dan rekan-rekan nelayannya harus berlayar lebih jauh untuk menemukan ikan. Meskipun kadang ada ikan yang mau kepinggir tetapi itu sangat jarang terjadi, tidak sebanyak dahulu. Hanya sewaktu-waktu ada ikan yang mau kepinggir.

"Tidak seperti dulu, jika dulu sekalinya ikan kepinggir bisa sampai harus dikeringkan." lanjut Ivan.

ikan-ikan kecil seperti selah polo, selah gerang, cotek dan bandrangan memang akrab dengan nelayan Celukan Bawang. Ikan-ikan yang ditangkap dengan cara ngoncor begitu melimpah, bahkan para nelayan pernah merasakan hasil tangkapan berblek-blek hingga memenuhi 3 mobil (pick-up yang biasa digunakan untuk mengangkut ikan). Cerita Ivan yang hingga harus mengeringkan ikan kecil hasil tangkapannya tentu bisa menjadi bukti banyaknya ikan yang berhasil ditangkap melebihi kebutuhan pasar hingga membuat mereka perlu mengawetkan ikan dengan cara mengeringkannya.

Sayangnya jangankan bisa kembali ke masa-masa ketika hasil tangkapan begitu melimpah hingga sampai harus dikeringkan, bisa mendapat beberapa blek ikan selah polo akan sangat berarti bagi nelayan Celukan Bawang. Harga ikan selah polo yang bisa mencapai harga Rp.700.000 per blek tentu menajdi rejeki bag nelayan, terutama ketika mereka tidak bisa melaut lebih jauh akibat cuaca yang sedang tidak bersahabat.

Sayang melimpahnya hasil laut bagi warga Celukan Bawang kini seolah hanya sebuah nostalgia romantis, ikan-ikan kecil yang biasanya bisa didapatkan dengan mudah seolah melintas pun enggan.

Ivan dan rekan-rekan satu kolompoknya melangkah menyusuri pantai yang gelap. Membawa satu blek campuran ikan selah polo dan ikan cotek yang berhasil dijalanya. Ivan dan kelompoknya malam itu menjadi satu-satunya kelompok pengoncor yang cukup sabar dan beruntung menemukan kerumunan ikan kecil yang sedang melintas, sementara nelayan lain telah pergi meninggalkan pantai Celukan Bawang, pulang dengan kenyataan tak ada ikan yang bisa dioncor dan harapan semoga cuaca besok memungkinkan untuk mereka melaut lebih jauh.

***

Matahari bersinar cukup terik walau hari belum berada ditengah, angin bertiup kencang, perahu-perahu tertambat dipantai, hanya beberapa perahu tampak kecil di lautan yang berwarna kelabu muram.

Baidi sedang duduk di teras rumahnya, dua ekor burung menempati sangkar masing-masing menggantung diatas teras.

"Cuaca masih ekstrim, belum berani untuk melaut jauh ke tengah." kata Baidi ketika ditanya apakah dia melaut dini hari tadi, "Hanya dipinggir saja mencari tongkol, itu pun hanya dapat beberapa ekor." lanjutnya.

Baidi merupakan ketua kelompok nelayan Bakti Kosgoro, salah satu kelompok nelayan di Desa Celukan Bawang. Lebih lanjut dia menceritakan, ketika cuaca buruk seperti bulan-bulan sekarang, nelayan tidak berani melaut terlalu jauh ketengah, kalau pun melaut paling hanya mencari ikan tongkol di pinggir. keselamatan menjadi alasan utama nelayan, gelombang dan angin kencang bisa saja menghantam mereka ketika memaksakan untuk masuk melaut lebih dalam.

Pada situasi seperti ini selain mencari tongkol (yang juga tidak seberapa jumlahnya), ngoncor menjadi cara yang secara turun temurun dilakukan nelayan untuk bisa tetap mendapatkan ikan-ikan kecil yang hadir ke pinggir perairan celukan bawang.

Ikan-ikan seperti selah polo, selah gerang, ikan cotek dan bandrangan banyak muncul di wilayah perairan Celukan Bawang. Mereka akan muncul bergiliran , banyak dan tidak pernah kosong,

"Sekarang ini ikan-ikan itu naiknya di sanggalangit, jika dulu-dulu ikan-ikan itu biasanya naiknya disini." Baidi menceritakan bagaimana susahnya menangkap ikan-ikan kecil  yang menjadi sasaran nelayan ngoncor itu sekarang.

Ngoncor merupakan cara menangkap ikan dengan sistem berkelompok. Satu kelompok bisa mencapai sekitar 10 orang, satu-dua sampan akan berangkat menggunakan penerangan dari mesin disel untuk melihat apakah ada ikan kecil yang mengerubungi penerangan yang digantung di ujung sampan.

Sampan akan menyusuri pesisir, mencari dimana gerombolan ikan berada, berlayar perlahan berputar-putar dengan mata terus memperhatikan permukaan air laut yang diterangi lampu.

"Dulu ngoncor pakai petromak, namun semenjak sekitar tahun 2013 satu dua kapal mencoba pakai lampu dengan disel, karena minyak tanah susah dan mahal. Sekarang semua sampan pakai lampu dengan disel, selain untuk ngoncor juga untuk pergi ke tengah." kata Baidi menerangkan sumber cahaya yang digunakan dalam ngoncor.

Setelah sampan pengoncor menemukan ikan, baru kemudian jala ditebar, anggota kelompok yang lain akan bersiap menarik dari bibir pantai. Sementara jala ditarik dari bibir pantai, sampan bergerak perlahan, menggiring ikan untuk terus mengikuti lampu dan masuk ke dalam jala.

Jala terus ditarik hingga akhirnya sampai di pantai, butuh banyak orang dan tenaga yang besar untuk menarik jala ditengah gulungan ombak yang besar.

Ikan yang berhasil terperangkap di jala kemudian dibagi, setengah untuk pengoncor, sampan dengan penerangan yang bergerilya mencari ikan dan sebagian lagi dibagi oleh masing-masing orang yang ikut menarik jala.

Sayangnya keberadaan PLTU Batubara yang berada di area tangkapan nelayan mengurangi jumlah ikan yang bisa ditangkap dari mengoncor. Selain akibat garis pantai yang mengecil akibat keberadaan bangunan dan dermaga kapal tongkang PLTU, titik lokasi berdirinya PLTU merupakan tempat dimana ikan-ikan kecil biasanya berada. Semenjak keberadaan PLTU, otomatis jumlah ikan tersebut berangsur-angsur berkurang.

“Malam Jum’at kemarin masih dapat 4 blek.” kata Baidi ,"tapi dua malam kemarin tidak ada ikan yang datang."

Selah gerang yang malam Jum’at kemarin masih bisa ditangkap, dua malam setelahnya praktis lenyap. Hanya satu kelompok pengoncor yang berhasil menjala, itu pun hanya satu blek dengan komposisi ikan yang bercampur dengan lele laut. Jumlah yang relatif sedikit untuk dijual, kemudian dibagi oleh anggota kelompok pengoncor.

Ketika kapal-kapal nelayan Celukan Bawang tertahan di pantai oleh cuaca yang tidak bersahabat, kapal tongkang memuat batubara terus keluar masuk perairan wilayah tangkapan mereka untuk memberikan persediaan demi keberlangsungan PLTU Batubara yang beberapa tahun terakhir menjadi tetangga yang tak diundang.

Debu batubara yang tertiup angin kemudian jatuh ke perairan ketika proses pemindahan dari tongkang menuju ke dalam PLTU kemudian akan menghitamkan air. Ketika arus sedang bergerak ke arah timur, secara otomatis akan memasuki area pesisir timur wilayah tangkapan nelayan.

Hal itu yang kemudian ditenggarai menyebabkan ikan-ikan kecil seperti selah polo dan selah gerang tidak lagi melimpah di pesisir wilayah tangkapan mereka.

Ikan-ikan yang sebelum keberadaan PLTU Celukan Bawang begitu mudah didapat dengan ngoncor kini seolah menjadi ikan yang langka. Sering kali nelayan hanya berputar-putar dengan lampu tanpa berhasil menemukan ikan yang mereka sasar. Ikan kecil yang dahulu menjadi andalan nelayan Celukan Bawang ketika cuaca ekstrim yang membuat mereka tidak bisa melaut ke tengah, kini pun tidak ada lagi. Seandainya ada itu tidak akan sebanyak dahulu.

Bagi nelayan Celukan Bawang setiap ikan yang mampir ketepian tentu merupakan rejeki, sayangnya rejeki seolah semakin ke tengah lautan, semakin jauh dan enggan menepi. Semakin susah diraih, semakin tidak menentu. Dan ketika cuaca kemudian menjadi kendala, rejeki yang bisa mereka tangkap pun semkin sedikit.

"Biasanya tidak pernah seperti ini, selalu ada saja ikan ke pinggir. Habis selah polo datang selah gerang, setelahnya datang cotek, cotek habis diganti bandrangan." Baidi menceritakan.

Lelaki yang telah bertahun-tahun menjadi nelayan di Celukan Bawang ini merasakan sekali bagaimana susahnya mencari ikan saat ini. Saat cuaca yang tidak bersahabat, mencari ikan-ikan yang berenang ke pinggir menjadi pilihan yang aman untuk tetap memnuhi kebutuhan keluarganya.

"Dahulu di PLTU itu tempat ikan-ikan mati (titik mati)." Baidi mengenang.

Lokasi dermaga PLTU Celukan bawang merupakan titik mati bagi ikan, nelayan akan menggiring ikan-ikan kecil menggunakan lampu, kemudian menebar jala dan menarik jalanya dari pantai yang kini telah telah menjadi dermaga yang sibuk dengan tongkang batubara.

Baidi, Ivan dan nelayan Celukan Bawang lainnya yang telah merasakan bagaimana PLTU Celukan Bawang yang menggunakan bahan batubara telah merusak hasil tangkapan ikan dan menyerobot ruang penghidupan mereka ketika kebutuhan semakin hari semakin meningkat. Nelayan tradisional dibuat terjepit antara cuaca yang semakin tidak bisa diprediksi nan ekstrim dan area tangkapan yang semakin sempit sehingga ikan yang enggan menghampiri mereka ke pinggir, mau tidak mau mereka harus berlayar semakin ketengah dengan biaya dan resiko yang terus bertambah.

Dampak yang mereka rasakan dan sadari akan semakin bertambah buruk menjadi salah satu alasan kenapa mereka kemudian membulatkan tekad untuk menolak pembangunan PLTU Celukan Bawang (berbahan bakar batubara) tahap ke-2.

l.taji

03.01 2019.

I NI Ar(t)chive

Adalah ruang pengarsipan bersama yang bersifat partisipatif publik untuk mendokumentasikan narasi-narasi kecil dalam beragam bentuk (media) dari setiap peristiwa sosial-budaya yang terjadi.
Jangan ragu untuk berpartisipasi dalam mengisi dan memperkaya perspektif ruang pengarsipan ini.
tupzz
tupzz