
Indira Laksmi hadir sebagai pelopor fashion Bali yang memadukan sentuhan klasik, etnik, dan kontemporer. Sejak berdiri pada tahun 2016, Indira Laksmi berkomitmen untuk menghidupkan kembali tradisi, budaya, dan adat istiadat melalui karya yang tak lekang oleh waktu. Lebih dari sekedar momen spesial, melainkan warisan yang abadi.
Dengan pandangan bahwa kecantikan sejati adalah keiklasan, Indira Laksmi terus berkarya menghadirkan busana yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyentuh jiwa.
Pada tanggal 30 Agustus 2025, Indira Laksmi menggelar pameran dengan tajuk “From Sketch To Soul” yang berlokasi di studio Indira Laksmi dan Tegal Temu Space. From Sketch To Soul adalah sebuah pameran kreatif dan pertemuan intim yang mengajak tamu untuk melihat lebih dekat perjalanan di balik setiap karya Indira Laksmi.
Pameran ini tidak hanya menampilkan hasil akhir berupa busana, tetapi juga membuka proses dibaliknya, mulai dari sketsa awal, inspirasi, hingga detail pengerjaan yang penuh makna. Melalui instalasi visual, sesi interaktif, hingga perbincangan santai bersama desainer, para tamu diajak memahami bagaimana sebuah sketsa sederhana dapat berkembang menjadi sebuah cerita visual. Lebih dari sekedar pameran, From Sketch To Soul adalah perayaan atas proses, kreativitas, dan jiwa yang tertuang dalam setiap garis, kain, dan cerita.
Pameran dimulai dengan sesi registrasi oleh pengunjung pada pukul 15.30 WITA, kemudian dilanjutkan dengan opening by MC, opening speech by Gung Ama. Setelah itu dilanjutkan dengan house tour di studio Indira Laksmi yang dimulai dari ruang depan yang dihiasi benang menjuntai dan dua manekin yang distyling dengan wardrobe Idup Panak, kemudian tamu digiring ke ruang wardrobe yang terpajang kain-kain milik Indira. Setelahnya tamu diajak menuju ruang make up, terdapat dinding yang dihiasi dengan foto-foto klien menggunakan kain dan make up Indira Laksmi. Terdapat Sketch Wall Installation yaitu showcase semua sketsa koleksi Indira Laksmi, dinding galeri berisi deretan sketsa arsip yang dibingkai. Sebagai background foto.
Setelah house tour pengunjung diarahkan untuk menuju teras Indira Laksmi, area interaktif tempat tamu dapat menambahkan coretan, catatan kecil / inspirasi mereka. Tamu diarahkan untuk mewarnai sketsa dengan cat warna bebas yang telah disediakan.
Dalam pameran ini juga terdapat talk sesion bersama Ayu Suma, designer & conceptor dari Indira Laksmi dengan Idon Pande sebagai moderator. Dalam sesi ini Ayu Suma menyampaikan bahwa pameran ini adalah perayaan untuk proses mereka di Indira Laksmi. “membuat acara ‘From Sketch To Soul’ ini adalah perayaan untuk proses kami, jadi merayakan perjalanan kami. Dari proses ini kami menceritakan bahwa di Pameran proses tadi, Indira Laksmi ini tidak hanya menciptakan suatu karya yang indah tapi juga memikirkan bagaimana karya ini bisa menyentuh jiwa dan emosi dari klien yang akan memakainya.” Jelas Ayu Suma dalam talk sesion pameran.
Ayu Suma menyampaikan tantangan selama berkarya adalah dalam memadukan rasa antara desainer, klien, dan photographer yang memiliki karakteristik yang berbeda karena Indira Laksmi berhubungan erat dengan ketiga elemen tersebut. “Sebenernya proses berkarya itu, kesulitannya adalah dalam menyatukan rasa antara kami yang mendesain, dengan klien, dan si photographer. Karena jujur Indira Laksmi, hubungannya dengan tiga hal itu.” Terang Ayu Suma. Hal tersebut menjadi tantangan untuk menghasilkan sebuah karya yang sempurna.
Ayu Suma juga menyampaikan bahwa sebuah sketsa dikatakan sudah layak diwujudkan ketika semua sudah satu rasa antara proporsi tubuh klien, estetika, warna, hingga perpaduan motif. Ketika elemen tersebut sudah satu rasa, maka sebuah sketsa dapat dikatakan layak untuk diwujudkan.
Beberapa tamu yang hadir juga menyampaikan kesan mereka selama mengikuti house tour. Nazmi salah satu tamu yang hadir mengatakan “saya pertama kali melihat Indira Laksmi dari Instagram, saya dari Tabanan datang ingin melihat bagaimana proses kreatif dari Indira Laksmi. Satu benang memiliki filosofi yang mendalam bagi saya”.
“saya benar-benar merasakan aura yang dikeluarkan dari sejarah kain. Dalam artian Indira Laksmi benar-benar menggali sejarah dari leluhur kita, trus dijadikan sebuah kain. Selain menjaga, Indira Laksmi juga membentuk kain baru seperti Bapang, Jatayu. Tidak semua orang bisa mengekspresikannya menjadi sebuah rasa.” Ujar Maha Made, salah satu tamu yang mengikuti pameran ini.
“Yang paling saya rasakan itu pertama kali, bangga banget sama Indira Laksmi. Melihat perkembangannya sangat pesat, saya selalu merasa disini sudah seperti rumah.” Ucap Nindi, salah satu tamu dari pameran Indira Laksmi dalam talk sesion yang membagikan kesannya.
Bagian yang paling dinantikan oleh Ayu Suma adalah respon dari para tamu yang hadir dan mengikuti pameran ini terhadap karya-karya Indira Laksmi. “sebenarnya yang paling saya nantikan adalah respon kalian terhadap karya-karya kami di atas, yang kami kerjakan bersama-sama, responnya apakah berhasil atau bagaimana.” Ungkap Ayu Suma.

Setelah talk sesion, dalam sesi Story Behind the Sketch, menampilkan kisah pendek tentang inspirasi di balik beberapa karya dengan ditayangkannya video dokumenter Idup Panak. Setelahnya dilanjutkan dengan Art perfoming by kitapoleng, live Sketching by Ayu Suma, dan digital mapping by Almarira & Kokoksaja, closing permomance dari pameran ini adalah penampilan live acoustic by Gung Doni & Friend.
Melalui pameran ini Ayu Suma ingin memperlihatkan kepada tamu bagaimana proses dari Indira Laksmi, merasakan bagaimana Indira Laksmi berproses. Bukan hanya menghasilkan karya yang indah, tapi juga melewati proses yang panjang. Dari penggambaran sketsa sampai dengan proses fitting dengan klien. Banyak warna dan aksesoris yang dipadukan untuk membuat klien terlihat cantik nan menawan.
“Halo, Aku adalah interpretasi dari apa yang kalian inginkan, dari warna, dari karakter, dari emosi yang kalian inginkan, dan aku siap jadikan kenyataan.” –Ayu Suma, saat menjawab pertanyaan “jika sketsa bisa bicara, cerita apa yang ingin mereka sampaikan?” []
G.A. Made Widiadnyani
“The Brick” adalah sebuah karya inovasi unik yang menggabungkan fungsi teknologi modern dengan elemen seni tradisional. Karya ini berupa speaker tradisional yang terbuat dari bahan terakota (tanah liat). “The Brick” sendiri dipilih sebagai sebagai judul karya merujuk pada bentuk dan tekstur karya yang menyerupai bata, namun dihiasi dengan sentuhan estetika khas yang mencerminkan kreativitas tinggi.
Karya ini diciptakan oleh S. Devita Makkasang, seorang seniman yang dikenal karena kemampuannya menggabungkan konsep seni kontemporer dengan elemen tradisional. Dalam setiap karyanya, termasuk "The Brick," ia berhasil memadukan keindahan visual dan fungsi praktis melalui medium tanah liat.
Dalam proses penciptaan “The Brick”, S. Devita Makkasang melakukan periode eksplorasi terhadap tema keterhubungan antara manusia, bumi, dan suara. Hal ini mencerminkan tren seni kontemporer yang sering kali berfokus pada isu keberlanjutan, hubungan dengan alam, dan identitas budaya.
Speaker ini dibuat menggunakan bahan tanah liat, yang mencerminkan akar lokalitas dan elemen tradisional. Proses pembuatannya melibatkan beberapa tahap penting, seperti pengolahan tanah liat, pembentukan sesuai desain, hingga pembakaran pada suhu tinggi. Setiap detail, termasuk tekstur bata yang mendominasi, dikerjakan dengan cermat untuk memberikan karakter unik pada karya ini.
Suara dari Bumi
Tema "Suara dari Bumi" yang diusung karya ini bertujuan untuk menggambarkan keterhubungan manusia dengan elemen alam. Penggunaan bahan tanah liat merepresentasikan unsur bumi yang autentik, sementara bentuk speaker menjadi metafora untuk menyampaikan suara alam yang sering kali terlupakan dalam kehidupan modern.
Karya ini juga mencerminkan harmoni antara teknologi, seni, dan alam. Dengan mengolah bahan tradisional menjadi objek yang relevan secara teknologi, "The Brick" mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan modern dan warisan budaya.
"The Brick" dibuat di studio Pintu Saren Art Space tempat dimana sang seniman berproses membuat karya bersama dengan teman-teman seniman. Tempat di mana bahan tanah liat diolah dengan teknik terakota. Secara konseptual, karya ini sangat cocok untuk dipamerkan di galeri seni kontemporer, ruang budaya, atau pameran seni yang menyoroti isu keberlanjutan dan hubungan manusia dengan alam.
Melalui "The Brick," S. Devita Makkasang menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya harmoni antara teknologi, seni, dan alam. Karya ini mengingatkan kita bahwa meskipun teknologi terus berkembang, kita tidak boleh melupakan akar budaya dan hubungan kita dengan bumi. Speaker dari tanah liat ini menjadi simbol yang kuat akan kolaborasi antara tradisi dan inovasi, menciptakan sebuah karya seni yang tidak hanya indah secara visual tetapi juga bermakna secara filosofis.
"The Brick" adalah sebuah perwujudan seni yang menginspirasi, membuktikan bahwa teknologi dan seni tradisional dapat berkolaborasi untuk menciptakan sesuatu yang unik dan bermakna.

Pada hari Kamis, 30 Nopember 2023, Teater Api Indonesia menampilkan karya produksi teranyar mereka sekaligus nanandai perjalanan 30 tahun Teater Api Indonesia. Karya yang diberi judul "Dinasti Bulldog" dipertontokan di Geoks Art Space, Singapadu, Gianyar Bali. penampilan kembali setelah terakhir kali pentas di Geoks pada tahun 2011.
Berikut merupakan foto-foto pementasan "Dinasti Bulldog" yang diabadikan oleh Luciana Ferrero
DINASTI BULLDOG
Karya: Teater Api Indonesia (https://teaterapiindonesia.com/ )
Sinopsis :
Bulldog adalah salah satu anjing ras tertua di dunia yang dikenal sebagai anjing petarung yang agresif dan tangguh. Anjing galak ini hanya patuh pada Tuan pemeliharanya yang telah memberinya kekuasaan untuk menjaga aset dan wilayahnya. Oleh karenanya untuk melanggengkan kekuasaannya, anjing jenis ini selalu menurunkannya pada keluarga dan kerabat terdekatnya : sebuah dinasti kekuasaan yang masif, dibangun dengan spirit yang brutal dan beringas.
Dinasti Bulldog hanyalah suatu analogi tentang dinasti yang tidak akan pernah mati karena runtuhnya abad kerajaan - kerajaan. Dia akan bermetamorfosis dan mewujud menjadi dinasti - dinasti baru pada industri - industri kapitalis, praktik - praktik kekuasaan pada pemerintahan, dsb.
Pertunjukkan ini terinspirasi dari naskah Die Hamletmachine, karya : Heinner Muller tahun 1977, dengan memulai babaknya di tengah reruntuhan Eropa, sebagai gambaran hancurnya sistem monarki ( dinasti ) yang peralihannya diganti zaman baru yakni abad kapitalisme industri : sebuah dinasti abad mesin - mesin, cerobong asap yang mengubur buruh - buruh pabrik dalam kubangan limbah - limbah pabrik.
Hegemoni sejarah dinasti yang tak akan pernah mati.
Sutradara: Luhur Kayungga
Aktor: M. Soleh, Slamet Gaprax, Wiji Utomo, Dedi Obenk, Naryo Pamenang, Estercita Golgota, Ridho
Pimpinan Produksi: Endang Pergiwati
Artistik: Akhmad Mansur
Tata Panggung: Mas Bro Dayat
Tata Lampu: Supriono
Musik: Mahamini Paksi
Dokumentasi: Taufiq Sholekhuddin
Orgeniser: RATA (Ruang Asah Tukad Abu)
//Jauh sebelum kapitalisme menguasai tanah Bali, sang wiku, Ida Pedanda Made Sidemen telah berhitung prinsip, membalik arus kesadaran, dari fenomena fisik geografis (karang-sawah) ke fenomena psikis jagad diri (karang awak)//
Senyap dan lengang. Itulah kesan pertama memasuki Geria Taman Sari, Sanur. Tak terlihat balai megah berukir, pun tak tampak mrajan mentereng didapuk prada emas. Hanya loji tua nyaris tak terawat - di mana ratusan rontal kini tersimpan. Ruangan loji sedikit pengap, buram dan gelap - sinar matahari tak cukup menembusnya. Sang penghuni, Ida Pedanda Made Sidemen, pendeta dan pengarang besar Bali abad ke- 21 telah berpulang, meninggalkan geria ini 20 tahun silam. Namun sejarah tetap mengenangnya. Sang pelaku utuh karma kanda dan jnana kanda ini ibarat fajar zaman - guru jagat tak terlupakan – sosok yang sanggup menyatupadukan kerja, pengetahuan, dan bakti jadi ketunggalan total - utuh menyeluruh jadi puja kehadapan Sang Mahakerja.
Datang ke geria ini setelah 20 tahun sang pendeta berpulang, terasa ada semangat tetap bisa diteladani kini – kendati sayup dan lamat, toh jejak sang pendeta masih bisa disentuh. Saat memasuki halaman mrajan yang tak seberapa luas itu - kesederhanaan tiba-tiba menyajikan sesuatu yang indah. Orang lalu dibuat tercenung, betapa di pengujung zaman kini, peradaban masa lalu itu kian menjauh, silam dan nyaris tak terjamah. Di sini “teks” hidup jadi lebih otentik tinimbang aksara dalam keropak. Karena jejak tulisan saat dituturkan ulang sungguh mudah membias. Bahkan tak jarang jadi kultus. Dan teks otentik itu kini telah menjadi milik masa silam. Mungkin juga milik dunia lain. Ia tak lagi menjadi teks hidup. Sementara ratusan teks yang kini terpejam beku di ruang loji tak mudah lagi dibaca. Ibarat mumi yang dingin. Hanya orang yang mengantongi “sim peradaban aksara” bisa “berdialog” dengannya. Agak tragis, memang. Walau, diam-diam teks yang tak bicara itu, telah melahirkan puluhan sarjana. Maklum begitulah kecenderungan teks tua mengalir kini, yang cuma jadi kajian akademis, kering dan nyaris terasa hambar.
Tercenung di halaman merajan, sembari memandang patung Ida Pedanda Made tengah duduk bersila – menatap dingin tanpa ekspresi. Orang segera diyakinkan bahwa, betapa kesederhanaan tidak mudah diwujudkan dalam kata-kata. Dan Ida Pedanda Made jelas tidak mewujudkan kesederhanaan itu dengan kata-kata. Patung Ida Pedanda Made karya sang murid, Ida Bagus Alit Pidada yang kini disucikan di pamerajan Geria Taman, seperti tak hendak menghapus ingatan zaman – bahwa Ida Pedanda sejatinya adalah seorang yogi, wiku yang senantiasa merealiasikan dirinya dengan kerja. Hanya dengan kerja kaki Tuhan kuasa disentuh. Kemandirian menjadi kunci hidup paling hakiki. Kemandirian mendorong orang menemu maharddhika.
Ada jejak tak bisa dilupakan saban memasuki merajan Geria Taman. Di tempat inilah Ida Pedanda Made menghabiskan hari tuanya – sebelum akhirnya dewa kematian menjemput. Amben di belakang bale piyasan tempat sehari-hari sang wiku beristirahat masih teronggok utuh. Ukurannya kira-kira 2 x 1,5 meter, beratap genting, terserung gedek nyaris lapuk. Di amben inilah Ida Pedanda saban hari berbaring, berbantalkan kayu gelondongan – tanpa baju, tak hirau hari hujan dan panas. Subuh, sebelum kokok ayam pertama bertalu menyapa pagi, Ida Pendada kerap terbangun, tidur terasa dicukupkan. Kesenyapan tiba-tiba pecah, manakala sang pendeta membangunkan abdinya I Tekek – lalu bersama-sama mengalunkan bait-bait Kakawin Ramayana. Sesekali dengan cermat Ida Pedanda memperbaiki terjemahan I Tekek yang salah. “Inilah kegemaran saban subuh dilakukan Ida Pedanda”, terang Ida Bagus Dupem, cicit angkat sang wiku yang kini merawat seluruh tinggalan “rohani” di Geria Taman.
Sayang, di pagi buta, dalam usia 126 tahun, tepatnya tanggal 10 September 1984, tepat di purnama kapat, suara parau yang kerap memecah sunyi subuh itu tidak terdengar lagi. Pagi betul-betul jadi senyap, bait-bait Kakawin Ramayana tak terdengar dilantunkan kembali. Dewa ajal telah menjemput pendeta tua ini. Hanya sang abdi bernama I Tekek duduk merunduk di samping jenazah. Di pagi indah itu, saat bunga-bunga mekar, Ida Pedanda berpulang buat selamanya. Kesedihan menggelayut di bubungan merajan. Deburan ombak di Pantai Sanur masih nyaring terdengar- seperti menyambut roh Ida Pedanda. Pokok naga sari yang tumbuh dekat sumur merajan tiba-tiba meluruh. Teringat hari-hari saat sang pendeta masih bugar - sang kawi wiku (pendeta pengarang) kerap datang memetiknya, menyuntingkannya di telinga sesaat usai memuja Siwa Raditya, sang mahaenergi.
Namun di pagi itu pokok bunga naga sari seperti gelisah, tak sabar menunggu datangnya seorang taruna. Sayang sang taruna tak pernah kembali lagi. Sang pujaan keburu menghadap dewa keindahan, kekasihnya yang abadi. Sejarah hidup Ida Pedanda Made Sidemen pun ditutup dipengujung pagi. Ia pergi setelah mempersiapkan seluruh sarana upakara kematiannya.

Tentu banyak orang merasa kehilangan manakala Ida Pedanda pamit dari dunia ini. Menghadapi tokoh ini tak ubahnya menyelam di samudera luas. Sosok yang dalam hidupnya terakumulasi sejumlah peran dan kwalitas. Seorang wiku, pengarang, ahli arsitektur tradisional Bali, dan ahli pembuat tapel, walatanda. Justru itu tak berlebihan bila Ir. Robi Sularto, arsitek senior yang dikenal dekat dengan beliau memuji Ida Pendanda sebagai ilmuwan terakhir abad tradisional. Seorang pandita yang telah memecahkan arsitektur tradisional Bali secara komperehensif, seorang ilmuwan Timur yang komplit”. Sementara Antropolog Universitas Udayana, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus (almarhum) menyatakan, “Dia mengingatkan saya kepada ahli pikir India abad ke- 8, Sankara, yang melaksanakan agama melalui ilmu pengetahuan. Dia adalah ilmuwan Bali terbesar yang saya kenal. Orang suci yang mengabdikan segenap kemampuannya bagi kebajikan masyarakat”.
Dilahirkan dari keluarga Brahmana pada hari Selasa Wage, Wuku Dungulan, Saka 1800 atau 1878 M di Geria Taman Sari, Sanur. Semasih welaka, saat mana belum didiksa, disucikan jadi pendeta, Ida Pedanda Made bernama Ida Ketut Aseman. Menginjak taruna ia menyunting Ida Ayu Rai dari Geria Sindu, Sanur. Sayang bahtera rumah tangga tidak bisa diteruskan, karena sang istri menolak menjalani hidup sebagai wiku, di mana dalam usia muda harus menjalani upacara diksa. Pedanda Made pun memberi kebebasan Ida Ayu Rai. Bahtera rumah tangga tak bisa dipertahankan. Ida Ketut Aseman mengambil sikap berpisah. Dari perkawinan ini beliau melahirkan seorang putri bernama Ida Ayu Pidin. Selang bebarapa lama, Ida Ketut Aseman menyunting istri kedua, setelah madiksa bernama Pedanda Istri Made, dari Geria Puseh, Sanur. Dari perkawinan kedua ini lahir seorang putri bernama Ida Ayu Siti.
Merasa diri sebagai orang yang menambah padatnya penduduk (pangresek jagat), tidak berguna miskin dan malas, yang hanya bisa bicara, bagai suara burung di pagi hari. Menginjak usia 27 tahun Ida Ketut Aseman pergi meninggalkan orangtua (maninggalin yayah bibi). Bersama kekasih hati, mengembara menyusuri desa-desa. Kegelapan seakan menyelimuti hati, akhirnya Ida Aseman menetapkan pikiran: hendak berguru menghadap sang nabe di Geria Mandara, Sidemen, Karangasem.
Bersama istri yang setia, Ida Ketut Aseman kukuh menentukan sikap. Ia hendak mengembara ke peradaban batin. Pilihan itu dinyatakan pada sang istri dengan penuh kesungguhan: “idep beliné mangkin makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awaké tandurin, guna dusu né kanggo ring désa-désa . Keinginan kakanda kini, coba melepas keterikatan dunia, tiada punya tanah sawah, hendaknya badan ini ditanami, dengan keterampilan hidup, sebagaimana panggilan orang-orang desa itu.” Inilah kunci kemandirian Ida Pedanda Made. Bahwa titik pusat kreatifitas, tidaklah terletak pada hal-hal fisik. Semestinya sumber diri itulah sepatutnya diberdayakan, dibor guna melahirkan generasi mandiri. Dari “tanah” yang terhampar di pusat diri ini seyogyanya diri ditanami kecerdasan dan keterampilan. Hanya dengan semangat seperti itu orang bisa mandiri, merdeka dalam menentukan diri sendiri.
Tak terpeleset, memang. Nyatanya, penghayatan pada “guna dusun” itu mengantarkan Ida Ketut Aseman tak cuma menjadi seorang pendeta besar. Namun sekaligus juga seorang petani yang saban hari memuja ibu bumi dengan tambah, menerjemahkan puja dengan kerja. Lalu kian hari tumbuh menjadi seorang arsitek yang paham filosofi rancang bangun, pasih dalam ilmu mengukur tanah, menguasai keterampilan hidup begitu luas: menakik tapel, mengukir arca pralingga, membuat kulkul [kentongan], pemulas warna, sekaligus pengarang besar yang dihormati - perancang candi bahasa ternama. Atas pilihan hidup itu, ratusan teks keagamaan disalin ulang, puluhan karya satra diciptakan.
Sebagai ahli sastra - sebagaimana tersurat dalam cacatan otobiografis geguritan Salampah Laku, terang dicatatkan bahwa, Ida Ketut Aseman pertama kali belajar sastra dari Ida Bagus Jelantik di Geria Somawati. Begini antara lain Ida Pedanda menuliskan semangatnya: Sun anut solahing guru, sang wonten ring Somawati, juru kawi Bali kuna, pratama guru mangaji, maguru lagu len tembang, nama Ida Bagus Jelantik [Saya mengikuti jejak guru, berumah di Somawati, pengarang Bali Kuna, pertama belajar pada guru, mendalami lagu dan tembang, Ida Bagus Jelantik nama beliau. Namun bersama-sama dengan I Gusti Made Agung, Raja Badung yang gugur dalam perang puputan, Ida Aseman juga belajar sastra pada seorang pendeta dari Geria Sindu, Sanur. Sudah tentu pembelajaran bertahun-tahun di Geria Sidemen dan Budakeling, Karangasem merupakan pembelajaran panjang - kelak membentuk prototipe-nya sebagai pendeta besar.
Sementara keterampilan menakik tapel beliau pelajari dari seorang guru di Puri Gerenceng, Denpasar. Bakat beliau dibidang sastra diterima dari garis ayah. Sementara bakat arsitektur diterimanya dari garis ibu. Maka jadilah Ida Pedanda Sidemen pengabdi hidup di jalan kerja dan pengetahuan. Melakoni hidup di jalur kreatifitas religius disebut sebagai bhasma sesa dan gandha sesa. Bhasma sesa adalah jalan pengetahuan mengikuti jejak Bhagawan Byasa. Sedangkan gandha sesa, merupakan kreatifitas kearsitekturan, guna gina Bali mengikuti jejak Bhagawan Wiswakarma. Inilah ketunggalan kerja yang komplit, utuh menyeluruh. Suatu sikap dan pilihan di mana kelak membentuk diri jadi kreatif dan inovatif - mandiri dan merdeka. Pendeknya, pilihan itu ditransformasikan ke bidang kehidupan lebih luas. Di situ ilmu tak jadi keramat, ia teraplikasi penuh dalam hidup sehari-hari.
Memasuki usia paro baya beliau mengaku baru berguru dua kali. Dan sang calon pendeta berkeinginan kembali ke Mandaragiri (makasudnya Geria Mandara, Sidemen) menghadap sang guru - untuk berguru buat ketigakalinya. Mangungsi Mandari Giri, puput maguru ping telu, malih amari wara, ngusap suku sang resi, gawe ayu dadi jejek sang pandita [Menuju Mandara Giri, setelah tiga kali berguru, kembali memohon pensucian, mengusap kaki sang rsi, jalan mulia menjadi pendeta].
Demikianlah, di pagi buta, Ida Ketut Aseman berangkat di pagi hari ditemani sang istri menyusuri pantai selatan Pulau Bali. Setiba di Mandara, sang pandita guru menerima Ida Aseman sebagai murid paling bungsu. Seterusnya melewati proses diksa (disucikan) Ida Ketut Aseman berganti nama menjadi Ida Pedanda Made Sidemen.
Dua puluh tahun Ida Pedanda Made Sidemen telah berpulang. Namun di tengah-tengah dunia yang tengah sakit ini ada hal penting senantiasa perlu dicamkan dari sikap hidup Ida Pedanda Made. Dalam arus zaman yang kian memadat, jauh sebelum kapitalisme menguasai tanah Bali, bukankah sang wiku telah berhitung prinsip? Membalik arus kesadaran, dari fenomena fisik geografis (karang-sawah) ke fenomena psikis jagad diri (karang awake tandurin). Bahwa badan manusia Bali-lah sesungguhnya tanah yang paling menentukan masa depan Bali. Untuk itu pilihan pencerdasan, pembelajaran diri, mengasah “guna dusun” dalam konteks modern menjadi komitmen penting strategi Bali masa depan. Sebab, badan inilah benteng terakhir manakala gelombang globalisasi merambah “tanah” dan “natah” Bali.
Iya, pendeta yang memilih jalan sunyi sejak usia muda itu memang telah pergi meninggalkan jazadnya, tapi ajarannya, pesan-pesanya masih bisa kita simak dalam guratan-guratan lontar yang bertumpuk, pesan itu mesti dialirkan, ke kanal-kanal baru, ke telaga-telaga jiwa peradaban batin Bali. Ketika kanal peradaban mulai keruh, saat agama, upacara, ilmu tak kuasa memberi nyala hidup kembali, yang silam tak mesti ditinggalkan, yang lampau harus hadir dengan kesegaran baru. Yang silam harus hadir mengisi nutrisi jiwa yang baru, maka senantiasa peradaban batin itu menyala, bagai gni sakunang, nyala yang menyejukkan. ***
Catatan: Pendeta ini lebar 10 -9-1984
I Wayan Westa,
penulis, pekerja kebudayaan
oleh Putu Septa & Sanggar Nata Swara
Penampilan Putu Septa dan Sanggar Nata Swara membawakan komposisi berjutul "Kedok 3" di Wantilan Museum Purbakala "Gedong Arca" BPCB Bali sebagai rangkaian dari Pameran Video Imersif yang berlangsung 29 Nopember s/d 4 Desember 2022 di BPCB Bali.
Visual: Serangga Collective
Organized: RATA (Ruang Asah Tukad Abu)
tukang rekam: Arimbawa @tokek419 //ra
I Ni artchive 2022
#pameranimersif #sanggarnataswara #putusepta #rata #ruangasahtukadabu #iniartchive #iniartchive2022
Rekaman audio dari diskusi acara Temu Tenun: Temu, Kenal dan Diskusi Kesenian Tenun Bali
Berbincang tentang buku *Menenun Waktu* bersama :
1. Widayanti Arioka
2. Atiek Kurnianingsih
Dipandu oleh:
1. Tisha Sara
2. Wicitra P.
Berlangsung pada:
Kamis 7 Januari 2021
16.00- 20.00
Taman Baca Kesiman
Jl. Sedap Malam 234, Denpasar
audio rec. & edit: @iniartchive
musik: Saturn
produksi 2022
Rekaman audio diskusi dari acara Solidaritas Senja 03 yang menggelar diskusi dan screening film dengan tema:
"Perempuan dalam Cengkraman Kekerasan"
Narasumber:
Ni Putu Candra Dewi
(Advokat HAM)
Dhyta Caturani
(Purple Code Collective)
Agung Alit
(Pegiat Kesetaraan dan Keberagaman)
Moderator:
Ignatius M. Bernard
(Sanglah Institute)
Acara berlangsung pada:
Kamis, 28 Nopember 2019 pukul 19.00-23.00WITA.
Bertempat di Haluan Cafe and Space, Jl. Nangka Selatan no. 58, Denpasar-Bali.
audio rec. & edit: @iniartchive
musik: Saturn
produksi 2022
Rekaman Audio dari Diskusi Solidaritas Senja 02 dengan topik "Air untuk Semua, Diskursus UU SDA dan Tata Kelola Air"
Diskusi:
1. Sigit Karyadi Budiono
(KRUHA)
2. I Made Juli Untung Pratama (WALHI Bali)
3. I Made Karyawan (Dewan Pengawas PDAM Kota Denpasar)
Moderator:
K. Arya Ganaris
berlangsung pada:
Kamis,17 Oktober 2019
16.00-21.00
Kubu Kopi
Jl. Hayam wuruk no 111 Denpasar, Bali
audio rec. & edit: @iniartchive
musik: Saturn
produksi 2022
Acara berlangsung pada Selasa, 23 April 2019, pukul 18.00 sampai dengan selesai. Bincang sore diselenggarakan di Taman Baca Kesiman, Jl. Sedap Malam 234, Denpasar-Bali.
Dipandu oleh Dwi S. Wibowo sebagai moderator dengan narasumber Seniman Perempuan Arahmaiani.
Bincang sore ketika itu membahas bagaimana proses kekaryaan dari Arahmaiani dan berbagi perspectif dan harapan.
rec: I Ni artchive
Curator Talk merupakan sebuah program dai rangkaian penyelenggaraan Art Bali pada akhir 2019 hingga awal 2020. Berlangsung di gedung ABBC Building yang berada di kawasan elit Nusa Dua, Badung, Bali-Indonesia.
Curator Talk menghadirkan dua sesi dipandu oleh Marlow Bandem.
Pada sesi pertama menghadirkan sosok Wilko Austermann, seorang kurator asal Jerman.
(anchor fm)
(spotify)
Pada sesi ke-2, merupakan sesi yang ditunggu dan menarik karena menghadirkan tema "Documenta Fifteen: Lumbung" dengan pembicara Ruang Rupa, sebuah kolektif asal ibu kota yang menjadi kurator gelaran Documenta Fifteen.
(anchor fm)
(spotify)
Acara berlangsung pada hari Minggu, 12 Januari 2020 pukul 17.30 wita.
rec: iniartchive