Anak-Anak Jurang (3)
..
Namaku Sani.
Aku dibesarkan dari sunyi yang dijahit rapi oleh ibuku. Rumah kami hanya punya dua bingkai foto: satu adalah aku waktu TK, satu lagi adalah wajah laki-laki yang tak pernah kusebut ayah. Setiap kali kutanya, ibu hanya berkata, “Dia hilang saat sedang menari.”
Menari? Di mana? Panggung macam apa yang menelan orang sampai tak kembali?
Aku tumbuh dengan pertanyaan itu membusuk dalam kepalaku.
Sampai suatu hari, di loteng rumah nenek, aku menemukan sebuah kotak kayu yang tertutup debu dan sarang laba-laba. Di dalamnya ada seikat kertas berwarna coklat, potongan surat dengan tinta hampir pudar, sketsa wajah-wajah asing, dan sebuah foto tua: seorang laki-laki berdiri di depan rumah gadang, dengan tulisan spanduk di belakangnya: “Pementasan: Tanah Retak dan Langit Retak.”
Di balik foto itu tertulis:
“Ruang Saka – tempat api dinyalakan.”
Aku menggigil.
Beberapa hari kemudian aku naik angkutan umum ke Payakumbuh. Sendiri. Tak bilang siapa-siapa, termasuk ibu. Tak ada bekal kecuali rasa haus yang tak bisa kuterangkan.
Aku berjalan kaki dari pasar ke kaki bukit, menyusuri petunjuk samar dari tulisan di balik foto. Dan akhirnya, aku menemukannya: Ruang Saka.
Rumah gadang itu nyaris roboh. Tapi berdiri.
Terdapat jendela besar yang terbuka ke arah hutan, dan dari dalamnya terdengar suara yang tak asing: suara buku-buku dibalik, pena yang menari, dan dengungan bisu yang hanya ada di tempat yang menyimpan rahasia.
Di dalamnya, aku bertemu Mak Dila.
“Siapa namamu?” tanyanya tanpa senyum.
“Sani.”
Ia memandangku. Lama. Matanya tak berkedip, seperti menelusuri garis-garis wajahku dan menemukan seseorang di baliknya.
“Anak Samudra?”
Jantungku berhenti berdetak sejenak.
Samudra. Nama yang tak pernah disebut ibuku.
“Dulu, ayahmu berdiri di panggung ini,” katanya sambil menepuk-nepuk papan panggung yang mulai keropos. “Dengan tubuh gemetar dan suara lantang. Ia baca puisi seperti orang mengaduk laut.”
Ia mengajakku masuk ke sebuah ruang kecil penuh rak dan dus. “Ini peninggalan mereka. Orang-orang yang suaranya dipadamkan, tapi masih hidup dalam kertas.”
Aku menghabiskan tiga malam di situ. Membaca. Mencatat. Menangis diam-diam.
Puisi-puisi ayahku menyebut nama Raya berkali-kali. Dalam satu catatan, ia menulis:
“Jika aku tak bisa pulang, semoga anakku membaca ini. Maka aku tak hilang sia-sia.”
Aku menyalin semua yang bisa kusalin. Kukumpulkan jadi bundel. Kubawa pulang.
Di sekolah, aku meminta izin untuk membuat pameran bertajuk “Potret Orang Hilang.”
Ditolak.
“Ini terlalu sensitif,” kata kepala sekolah. “Jangan bawa hal-hal politis ke ruang belajar.”
Aku menunduk, pura-pura patuh.
Tapi kami tetap mencetak potret-potret itu: wajah-wajah dari arsip Mak Dila. Kami tempel di dinding belakang sekolah. Besoknya, semua ditutup dengan spanduk besar bertuliskan: “Belajar yang Tertib, Seni yang Positif.”
Tapi malamnya, gambar-gambar itu muncul kembali—di tiang listrik, halte, dinding WC, jendela ruang guru. Kami tak tahu siapa yang menggambar ulang. Anak-anak kelas lain mulai membantu. Mereka bawa cat sendiri. Mereka tanya, “Siapa wajah ini?” Dan setiap kali aku jawab, mereka diam lebih lama.
Ayahku bukan satu-satunya.
Kami semua punya ayah, ibu, paman, kakak, atau kawan yang hilang. Kadang secara fisik. Kadang secara suara.
Dan kini suara itu mulai kembali.
Aku kembali ke Ruang Saka, membawa bundel gambar dan satu surat dari ibuku. Isinya pendek.
“Maaf karena diam. Aku hanya takut kehilanganmu juga.”
Mak Dila menatapku dari ambang pintu. Ia tak tanya apa-apa. Hanya menyerahkan satu lembar kertas terakhir—surat yang tak pernah terkirim.
“Jika aku tak kembali, jangan tunggu. Tapi berjalanlah dengan suara kami.”
Aku keluar rumah gadang itu pelan-pelan. Di halaman, kabut turun dari gunung, pelan, dingin, dan sunyi. Tapi tidak mencekam.
Aku duduk di atas batu besar. Kertas kosong di pangkuanku. Kuambil pensil. Lalu kutarik satu garis wajah ayahku.
Lalu wajah Raya.
Lalu wajahku sendiri.
Di antara mereka.
Malam itu, dalam tubuh kabut, aku menulis kembali sejarah yang mereka coba kubur.
Dan aku bersumpah:
Selama tangan ini bisa menggambar, selama mulut ini bisa mengucap, selama kabut ini belum memakan seluruh gunung—maka kami tak akan diam.
____
Pernyataan
Cerita, tokoh, tempat, dialog, dan peristiwa yang terdapat dalam trilogi “Anak-Anak Jurang” sepenuhnya merupakan karya fiksi. Semua unsur di dalamnya lahir dari imajinasi penulis dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan atau mewakili individu, lembaga, atau peristiwa nyata secara langsung.
Apabila terdapat kemiripan nama tokoh, tempat, situasi, atau kejadian dengan kenyataan, hal tersebut adalah kebetulan semata dan bukan hasil dari niat atau maksud tertentu.
Cerita ini ditulis untuk kepentingan ekspresi sastra, refleksi sosial, dan pembacaan artistik atas ruang seni, perlawanan budaya, serta ingatan kolektif yang hidup di masyarakat. Harap dibaca dengan semangat apresiatif dan kritis sebagaimana layaknya karya fiksi.
_________
sungai | iniartchive
Anak-Anak Jurang (2)
..
Pagi itu, ketika aku masuk kantor dan membuka berkas ketiga dari atas tumpukan, aku nyaris terjatuh dari kursiku.
“Verifikasi Ruang Saka. Pengajuan menjadi Sanggar Kreatif Muda Payakumbuh.”
Ruang Saka. Tempat yang kutinggalkan tanpa pamit. Tempat di mana tawa kami dulu meledak di malam-malam tanpa listrik. Tempat Raya menari dengan rambut terurai dan kaki berdarah. Tempat puisi terasa seperti bom, dan cat tembok bisa dianggap makar. Tempat sejarah dibisikkan dengan tubuh.
Dan kini, nama itu ada di map kantor pemerintah.
Aku—Damar, mantan penyair panggung, kini jadi pejabat kecil di Dinas Kebudayaan—diminta memverifikasi apakah tempat itu “layak” dijadikan sanggar binaan.
Layak?
Aku menatap tulisan itu lama sekali, seperti menatap batu nisan yang tak tahu siapa yang dikubur di bawahnya.
Aku pergi ke sana diam-diam. Tak ingin staf melihatku menyelusuri jalan ke kaki Bukit Barisan. Tak ingin mereka tahu rumah gadang reyot itu masih berdiri, meski papan lantainya sudah berlumut dan cat muralnya mulai memudar.
Di halaman, ada seorang gadis. Kurus, rambutnya pendek, bajunya penuh noda tinta. Ia sedang menggantung seutas kain putih besar bertuliskan:
“LUKA JANGAN DIBINA, BIARKAN IA BICARA.”
Namanya Gina. Seorang koreografer muda yang katanya baru pulang dari kota.
“Kau dari dinas, ya?” tanyanya sambil mengikat ujung kain ke tiang kayu. “Mau pastikan kami layak dibina?”
Aku ingin menjelaskan bahwa aku bukan seperti pejabat lain. Tapi kalimat itu terlalu memalukan untuk keluar dari mulutku sendiri.
“Aku dulu bagian dari tempat ini,” ucapku akhirnya. “Aku teman Raya.”
Mata Gina menyipit. Ia memandangku lama, seolah menimbang apakah aku masih bagian dari kami—atau sudah berubah menjadi mereka.
“Raya yang puisinya dilarang itu?” katanya. “Yang naskahnya dicuri dan suaranya diredam?”
Aku menunduk.
“Aku temukan naskah aslinya di pasar loak. Dalam tumpukan sampah buku pemerintah. Aku akan pentaskan ulang. Judulnya: Burung-Burung di Atas Tembok.”
Aku menarik napas panjang. Nama itu—judul itu—menghantam dadaku seperti tonggak. Aku yang dulu menolak naskah itu dipentaskan karena dianggap terlalu berbahaya. Aku yang dulu berkata pada Raya: “Kita akan mati kalau terus mengutuk.”
Raya menjawab: “Lebih baik mati karena mengutuk, daripada hidup dengan mulut terjahit.”
Kini, naskah itu kembali. Di tangan generasi baru yang tidak mengenalku. Tapi aku mengenali mereka.
Beberapa hari kemudian, pertunjukan itu benar-benar berlangsung. Acaranya dimasukkan ke dalam rangka Festival Kebudayaan Daerah. Panggungnya megah, aula penuh, pejabat hadir. Bahkan media lokal datang meliput.
Di belakang panggung, Gina tak berhenti berjalan mondar-mandir. Matanya seperti bara. Satu-satunya yang ia katakan padaku sebelum naik panggung hanyalah:
“Jangan coba-coba padamkan kami kali ini.”
Lampu panggung menyala.
Lagu pembuka tidak memakai alat musik. Hanya suara napas dan hentakan kaki di lantai kayu. Penari masuk satu per satu, membawa papan-papan bertuliskan kutipan dari surat tahanan, memoar penyintas, hingga catatan polisi.
“Mereka bilang, aku bukan manusia. Aku adalah ancaman karena berpikir.”
“Kami ditahan bukan karena bersalah, tapi karena mengingat.”
Panggung memanas. Penonton resah. Pejabat menggeser duduk. Di baris terdepan, aku menahan napas.
Lalu Gina keluar. Ia berdiri di tengah panggung, menggenggam naskah lusuh. Dan dengan satu gerakan cepat, ia merobeknya di depan penonton.
“Tak ada kata yang cukup untuk menyebut pengkhianatan,” katanya lantang. “Tapi hari ini, kami memilih untuk tidak diam!”
Aula meledak. Beberapa orang berdiri dan pergi. Sebagian bertepuk tangan. Sebagian bingung.
Aku tetap duduk. Dalam diriku, ada sesuatu yang pecah. Dan itu bukan amarah. Itu adalah rasa malu yang tertunda bertahun-tahun.
Tiga hari kemudian, aku dipanggil atasan. Diminta klarifikasi. Diminta menulis laporan insiden.
Aku tidak menulisnya.
Malam itu, aku datang ke Ruang Saka. Gina sedang sendiri, melipat kain pentas. Aku menyerahkan amplop coklat berisi naskah asli Anak-Anak Jurang, puisi-puisi tangan Raya, dan surat yang dulu tak sempat dikirimkan.
“Kenapa kau beri aku ini?”
“Karena yang liar harus dibiarkan hidup,” kataku. “Dan aku terlalu tua untuk jadi penjinak.”
Gina menatapku lama. Lalu ia mengambil amplop itu. Memasukkannya ke dalam ranselnya.
Aku pulang malam itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, aku merasa seperti manusia kembali.
____
Pernyataan
Cerita, tokoh, tempat, dialog, dan peristiwa yang terdapat dalam trilogi “Anak-Anak Jurang” sepenuhnya merupakan karya fiksi. Semua unsur di dalamnya lahir dari imajinasi penulis dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan atau mewakili individu, lembaga, atau peristiwa nyata secara langsung.
Apabila terdapat kemiripan nama tokoh, tempat, situasi, atau kejadian dengan kenyataan, hal tersebut adalah kebetulan semata dan bukan hasil dari niat atau maksud tertentu.
Cerita ini ditulis untuk kepentingan ekspresi sastra, refleksi sosial, dan pembacaan artistik atas ruang seni, perlawanan budaya, serta ingatan kolektif yang hidup di masyarakat. Harap dibaca dengan semangat apresiatif dan kritis sebagaimana layaknya karya fiksi.
_________
sungai | iniartchive
Namaku Alif Syahdan. Seorang pelukis. Atau setidaknya, dulunya aku pelukis. Sekarang, aku lebih sering dianggap pengganggu. Penggerutu yang tua sebelum waktunya. Tapi jangan percaya semua kata orang. Mereka cuma takut pada orang-orang yang mengingat. Aku datang dari lubang waktu yang tertutup kabut dan kisah-kisah yang tak sempat selesai. Dan kisah ini adalah salah satunya.
Aku tiba di Payakumbuh dengan sepasang kanvas lusuh, satu gitar tua, dan kepala penuh amarah. Aku tak tahu aku mencari apa, hanya tahu aku tak bisa tinggal di kota yang terlalu rapi, terlalu bersih dari ingatan. Dan di sinilah aku bertemu mereka—anak-anak jurang.
Di kaki Bukit Barisan berdiri rumah gadang yang sudah kehilangan cat dan hormat. Dari jendela yang menganga, terdengar suara alat musik, diskusi panas, kadang tangisan, kadang ledakan tawa. Mereka menyebut tempat itu Ruang Saka. Dan penghuninya bukan keluarga adat, melainkan sekumpulan seniman muda yang keras kepala, miskin, dan nekat.
“Di sinilah seni bukan jadi pelarian,” kata seorang perempuan berkacamata yang menggambar mural dengan cat kaleng bekas. “Tapi jadi senjata.”
Namanya Raya. Wajahnya teduh, suaranya seperti serpih seruling bambu. Ia menarikan tubuhnya di antara patahan lantai dan mimpi-mimpi kolektif. Dia penyair, aktivis, penari, pencatat sejarah. Dia luka yang berdansa. Dan barangkali, ia juga nyala yang menulari kami semua.
Aku tinggal di loteng, tidur di atas papan reot dan kertas-kertas ide orang lain. Pagi-pagi, kami ngopi dengan ampasnya; malam-malam, kami menggambar dengan sisa tinta. Kadang kami lapar. Kadang kami gemetar. Tapi kami tak pernah berhenti membuat. Kami tahu kami sedang dikejar waktu.
Kami mengadakan pertunjukan teater tentang tanah ulayat yang dijual di bawah meja. Kami memamerkan potret ibu-ibu petani yang dikriminalisasi karena menolak tambang. Kami merekam lagu-lagu lama dari suku Mentawai yang hendak diganti suara mesin. Kami membacakan puisi-puisi yang tak akan dimuat koran mana pun. Di setiap pentas, selalu ada satu kursi kosong: untuk penonton yang takut datang.
Kami tahu kami sedang bermain-main di mulut api. Dan api itu benar-benar datang. Suatu malam, dinding rumah gadang dilumuri cat hitam. Sebuah mural tentang perjuangan digunting di tengah malam. Besoknya, dua orang laki-laki berjaket kulit datang, menawarkan “solusi damai”—yang berarti: bubar diam-diam.
Kami menolak. Kami bukan daun-daun tua yang siap luruh. Kami akar-akar kecil yang keras kepala. Raya berdiri di depan panggung dengan mata menyala. “Kalau kita diam, cerita kita akan ditulis oleh orang yang membenci kita.”
Beberapa minggu kemudian, Raya hilang. Begitu saja. Tak ada jejak. Hanya selendang tari yang ia tinggalkan tergantung di tiang panggung. Ada yang bilang dia kabur. Ada yang bilang dia dibawa paksa. Aku tidak percaya dua-duanya. Aku tahu dia tak pernah pergi. Ia tinggal di setiap kalimat yang kami teriakkan. Di setiap cat yang kami oleskan.
Malam-malam setelahnya aku menulis surat untuknya. Surat yang tak pernah kukirim. Surat tentang panggung yang retak, tentang potret wajahnya yang mulai pudar, tentang kabut yang tak mau pergi dari lereng bukit ini. Tapi juga tentang anak-anak baru yang datang. Anak-anak yang bahkan tak tahu siapa itu Raya, siapa itu Alif. Tapi mereka tahu satu hal: bahwa di Ruang Saka, mimpi bisa tumbuh meski akar penuh luka.
Sekarang aku duduk di jendela, memandang langit Payakumbuh yang selalu tampak muram. Tanganku tak lagi kuat untuk melukis, tapi aku masih bisa bercerita. Tentang ruang-ruang kecil yang melawan dilupakan. Tentang anak-anak jurang yang tak sudi diam. Tentang nyala yang tak padam, meski kabut terus turun dari gunung.
Di tiang utama Ruang Saka, tertulis kata-kata yang pernah diucapkan Raya:
“Jika kita tidak menuliskan sejarah kita sendiri, orang lain akan menuliskannya untuk kita—dan mereka akan lupa mencatat luka kita.”
Maka aku menulis ini, bukan untuk dikenang, tapi untuk mengingatkan: kesenian bukan milik galeri. Ia milik rakyat yang tak punya suara. Ia milik anak-anak jurang yang terus tumbuh, melawan arus, dan menulis bab baru sejarah kita.
____
Pernyataan
Cerita, tokoh, tempat, dialog, dan peristiwa yang terdapat dalam trilogi “Anak-Anak Jurang” sepenuhnya merupakan karya fiksi. Semua unsur di dalamnya lahir dari imajinasi penulis dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan atau mewakili individu, lembaga, atau peristiwa nyata secara langsung.
Apabila terdapat kemiripan nama tokoh, tempat, situasi, atau kejadian dengan kenyataan, hal tersebut adalah kebetulan semata dan bukan hasil dari niat atau maksud tertentu.
Cerita ini ditulis untuk kepentingan ekspresi sastra, refleksi sosial, dan pembacaan artistik atas ruang seni, perlawanan budaya, serta ingatan kolektif yang hidup di masyarakat. Harap dibaca dengan semangat apresiatif dan kritis sebagaimana layaknya karya fiksi.
_________
sungai | iniartchive